Chapter 2, makhluk hidup itu peka terhadap rangsangan, kalau nggak, mungkin dia alien…
Dot
Dot
Dot
"Terima kasih sudah datang tuan,"
Dan dengan begitu, keluarlah sudah pelanggan terakhir dari lunch rush yang datang tanpa diundang. Amuro dan Azusa seketika terkapar di tempat. Astaga, dosa apa lagi aku hari ini? Batin Amuro yang terkapar di meja counter. Pelanggan yang banyak itu memang sebuah berkah untuk perusahaan, tapi kalau yang melayani cuma dua orang? Tewas di tempat adanya.
"Amuro-san, kau tidak apa-apa?" Tanya Azusa kepada teman seperjuangannya itu dengan nada yang terdengar sangat, sangat, sangat kuadrat capeknya. Amuro hanya pasang fake smile yang nggak pas banget dipake pada saat itu. "Everything OK," Jawabnya sok Inggris.
Bohong itu dosa ya kawan-kawan.
Kedua pegawai setia Poirot itu berdiam diri sejenak, mencoba cari tahu dosa apa yang mereka perbuat sampe jadi begini. Mungkin bukan Azusa, tapi Amuro yang kebanyakan dosa.
Namun, ditengah-tengah pengheningan cipta itu, datanglah segerombolan anak-anak SMA putri dengan tampang yang siap bunuh orang. Amuro merasa déjà vu. Segerombolan anak-anak putri itu membuka pintu dengan kasarnya, membuat kedua makhluk yang berada di kafe itu terkena sport jantung.
Amuro punya feeling buruk.
"Selamat datang," Sapa Azusa kepada anak-anak itu. Namun sayang sapaannya tidak digubris sama sekali. Disitu kadang saya merasa sedih.
Tanpa senyum, tanpa berkata-kata, dan tanpa salam, keempat murid perempuan itu langsung menduduki salah satu meja yang tersedia. Kedua pegawai Poirot itu hanya bisa merinding melihat tampang-tampang serial killer di muka mereka. Dikatakan jika tatapan itu dapat membunuh, mungkin mereka berdua udah tinggal nama daritadi. Sebagai gentleman, Amuro berkata kepada Azusa bahwa dia yang akan mengurusi mereka. Jaga image ceritanya.
"Ran-san, Kazuha-san, Aoko-san, dan Akako-san, apa yang ingin kalian pesan?" Tanyanya kepada keempat perempuan itu. Jika seminggu yang lalu dia dipertemukan dengan empat lelaki SMA yang terlihat siap mati, sekarang dia dipertemukan dengan empat perempuan SMA yang siap buat orang mati.
"Aqua dingin," Kata Ran. Amuro hanya mengangguk, kalau yang begini gak usah ditulis. "Lemon tea," Kata Aoko. Nah, yang ini baru ditulis. "Coca-cola," Kata Kazuha. Amuro tulis lagi. "Whiskey," Kata Akako. Amuro tul—
Eh
Amuro mengerjapkan matanya, harap-harap dia salah dengar. Namun rupanya sang murid tidak menerima 'kode'nya. Ah, mungkin maksudnya aqua batin si pelayan ngasal akhirnya. Ntah darimana dia punya pikiran semacam itu, memang miripnya aqua sama whiskey itu apa? Mungkin karna sama-sama air?
Balik ke cerita.
Begitu Amuro sampai di balik counter, ia mendengar Ran berkata. "Pak Amuro," Dengan instan, Amuro menoleh. "Boleh curhat gak pak?"
Déjà vu kuadrat.
Tanpa persetujuan dari yang disasarin sebagai teman curhat, Ran mulai mencurahkan isi hatinya. "Pak Amuro tau Shinichi kan? Itu loh, bocah yang ngaku-ngaku jadi detektif cilik?" Tanyanya dengan nada yang terdengar sinis. Amuro sudah kenal betul dengan Ran (meski tidak sesempurna teman semasa kecilnya itu) karena dia merupakan 'murid' dari si detektif 'jenius' Mouri Kogoro. Jadi, kalau Ran sudah pakai kata-kata seperti 'bocah' dengan nada garang, itu tanda-tanda kiamat.
Amuro mengangguk, takut-takut nanti dia malah jadi sasaran latihan karate si Ran. "Nah, bapak tau gak kalau dia itu manusia atau bukan?" Tanyanya lagi. Amuro menaikkan sebelah alis, heran. Bisa-bisanya seseorang yang sudah dia anggap sebagai teman dari jaman jahiliyah dikira alien? "Loh, memangnya kenapa Ran-san?"
"Ih, masa bapak gak tau sih?!"
Ya emang kagak tau, say. Cerita aja belom, kira gua dukun beranak?
"Si Shinichi itu pak, gak PEKA! Pake BANGET plus TITIK!" Dan keluarlah jiwa preman sang perempuan yang Vermouth sebut-sebut Angel. Amuro hanya bisa kicep, dia memang tak tahu tindakan idiot apa yang telah dilakukan oleh Shinichi, tapi bisa disimpulkan kalau apapun hal itu sudah melewati batas wajar. "Kalau boleh tau, memangnya Kudo-kun melakukan apa?"
"Itu loh pak! Saya bilang 'Gue suka gaya lu' terus dia jawab cuma pake 'O' aja! Dikira ini LINE atau gimana?!" Jelas Ran yang sudah mencak-mencak, Amuro takut sebentar lagi satu kebun binatang keluar dari mulutnya. Ternyata, mendengar curahan hati Ran, ketiga teman yang lainnya ikut-ikutan komplen. "Iya tuh pak Amu, Heiji juga! Tadi kan kita lagi ngobrol tentang apa itu, saya lupa. Pokoknya dia jawab cuma pake 'oh gitu' atau 'hooh' atau sejenisnya lah!" Kata Kazuha. Kedua tangannya dikepal dengan erat, mungkin sebentar lagi akan berubah jadi super Saiyan.
Amuro hanya tertawa garing, mungkin itu efek samping selesai UNBK. "Terus Kaito juga tuh pak! Nyebelin banget! Masa dia bilang kalau Kaito KID itu gak bakal pernah ditangkep mau sama ayah saya atau sama saya sendiri, kan ngajak ribut banget!"
Nah, kalau ini sih emang bener kurang ajarnya. Si terang bulan, seneng banget ngerendahin polisi, gue sikat muka lu baru tau rasa.
Amuro hanya tersenyum simpul untuk menanggapi Aoko, menyembunyikan hawa-hawa negatif yang mulai bermunculan. Dan sekarang giliran Akako. "Ada juga nih si Hakuba, udah tau saya gak ngerti Bahasa Inggris. Masa dia ngobrol sama saya terus saya disalahin melulu gara-gara tata bahasanya amburadul." Dengus si penyihir cilik. Si pelayan muka tiga hanya bisa mengangguk, mengerti betul dengan perasaannya. Pernah juga dia diajak bicara dengan Akai pake Bahasa Inggris, eh malah diketawain, kan nyebelin.
"Oh terus itu juga pak! Masa nyebelin banget! Kan saya bilang kalau mau ikutan bantu cari pelaku pembunuhan tadi siang di sekul, eh Shinichi malah bilang 'jangan, nanti pelakunya malah takut sama lu'. Ya udah saya tendang aja 'itu'nya biar tau rasa." Jelas Ran. Amuro hanya bisa berdoa untuk keselamatan dunia dan akhirat kepada Kudo Shinichi yang mungkin sudah kehilangan secercah cahaya masa depannya. Yah, salah sendiri sih. Ngomong asal ceplos, karmanya cepet juga datangnya.
Dan berlanjutlah pendiskusian (demo) keempat lelaki yang minggu kemarin udah keliatan siap gantung diri. Sementara keempat perempuan itu marah-marah sambil gedor-gedor meja yang udah keliatan mau ancur, Amuro hanya bisa menghela napas secara batin. Apakah ini bayaran untuk kebanyakan boong?
Satu jam lewat dengan berbagai macam curahan hati beserta kebun binatang dilontarkan kepada si polisi-nyamar-jadi-pelayan. Akhirnya keempat siswi itu merasa puas dan menyelonong keluar dengan muka sumringah, meninggalkan Azusa yang daritadi cuma bisa cengo dan Amuro yang tersiksa lahir batin. Begitu keadaan sudah sepi lagi, Amuro mengambil smartphone-nya dari kantong celana.
Dicarilah olehnya kontak seseorang, setelah ketemu, dia beri pesan singkat.
To: Kudo-kun
From: Tooru
Tolong jangan lakukan hal-hal idiot lagi. Saya sudah lelah.
Selang beberapa menit kemudian, datanglah balasan dari Shinichi.
To: Tooru
From: Kudo-kun
Hah? Apaan pak?
Dot
Dot
Dot
Ampuni hambamu ini ya tuhaan…
