"SASUKE! AWAS!"
"AAAAAAAARGH."
BRAAK!
Pemuda itu terbangun dengan nafas tersengal-sengal. Keringat telah membasahi wajahnya yang rupawan. Ia mengusap kasar wajahnya saat merasa matanya mulai berkaca-kaca. Sejenak oniks itu terpejam, berusaha menenangkan dirinya dari bayang-bayang mimpi buruk yang baru saja ia alami.
"Maaf... Kakak." lirihnya.
.
.
.
.
.
Naruto © Masashi Kishimoto
Story © Lyandraff
Warning!
AU, OOC, mainstream, typo, abal, EYD berantakan, dan sejenisnya.
.
.
.
.
.
.
Semilir angin menerbangkan helaian merah mudanya dengan lembut. Daun-daun yang berguguran di sekitarnya tak luput dari penglihatannya. Jauh di depan sana tampak gunung-gunung yang dihiasi kabut putih. Burung-burung terbang bergerombol menjauh di atas langit yang cerah. Perlahan senyumnya merekah, merasa damai dan tenang dengan keindahan alam yang tersajikan di depan mata.
"Sakura, ayo."
Sakura berbalik, mendapati seorang gadis pirang berdiri disana.
"Ino, ayo kita berfoto dulu."
"Kita sudah berfoto ribuan kali tadi."
Sakura merengut. "Ayolah, ini untuk koleksi pribadi."
Gadis cantik disana tampak menghela nafas sebelum bergerak mendekat ke arahnya.
Sakura nyegir lebar. Ia mengerti jika sahabat pirangnya itu kelelahan, tapi ia tidak mau melewatkan berselfie dengan pemandangan sebagus ini.
Kamera menyala dan ia mulai menghitung. "Satu. Dua. Tiga."
Cekrek.
"Sakura, Ino."
Keduanya menoleh, terlihat didepan mereka seorang pria dewasa bersurai kelabu dan berkacamata. Di lehernya tampak menggantung sebuah kamera yang Sakura tahu harganya sangat mahal. Sakura dan Ino membungkukkan badannya sopan.
"Terima kasih untuk hari ini. Kalian sudah bekerja keras dan tampak luar biasa seperti biasanya. Aku yakin foto-foto kalian akan menjadi trending di Jepang setelah dirilis nanti."
"Kau terlalu berlebihan, paman." Ino berkata disertai kekehan di bibirnya.
"Tidak. Aku hanya berpikir kalian sangat berbakat. Sikap kalian pun sangat rendah hati. Kalian pasti mudah dicintai banyak orang."
Sakura tersenyum tipis. Entah kenapa kalimat terakhir pria itu terasa sangat mengusiknya.
"Terima kasih, paman. Kau sangat pandai memuji." kini giliran Sakura membuka suara. Senyuman tak luput dari bibir mungilnya. "Kalau begitu kami permisi."
.
.
.
.
.
.
.
.
"Sasuke, cepatlah kau harus menjemput Sakura!"
Sasuke bergumam malas menanggapi teriakan ibunya. Telinganya seakan panas mendengar perintah yang sama dari ibunya setiap kali ia hendak berangkat ke sekolah. Sasuke merasa heran mengapa ibunya sering memerintahkan hal yang menurutnya tak penting itu. Apakah menjemput tunangan sendiri sudah menjadi suatu kewajiban sekarang? Ayolah, ia bukan supir siapa-siapa disini.
Sasuke berhenti di depan mobilnya. Ia mengumpat mendapati tangannya bergetar ketika hendak meraih pintu mobil. Namun ia berusaha menenangkan diri. Dengan satu tarikan napas dalam ia pun membuka pintu mobil dengan mantap. Ia memasang sabuk pengaman dengan tenang, merasa tak perlu repot-repot menjemput Sakura. Lagipula gadis merah muda itu selalu kedapatan berangkat lebih dulu darinya.
Sasuke menghirup napas dalam, menatap lurus ke depan dan mulai melajukan mobilnya dengan pelan.
.
.
.
.
.
.
Siapa yang tidak mengenal Haruno Sakura, seorang murid pindahan dari Rusia yang dikenal dengan rambut merah mudanya yang unik. Sejak kedatangannya ke Jepang, ia sudah menjadi sorotan banyak orang. Berita tentang seorang anak konglomerat yang merintis karir di dunia permodelan itu telah tersebar seantero Jepang.
Gadis yang identik dengan musim semi itu memulai karirnya di dunia permodelan sejak usia 14 tahun. Ketertarikannya bermula ketika ia mengikuti lomba peragaan busana di sekolahnya dulu. Bukan perlombaan yang besar dan bergengsi memang. Namun ia sangat bangga ketika memenangkan perlombaannya. Ia menyukai sensasi berjalan di atas catwalk. Saat-saat dimana ia merasakan tatapan seluruh orang tertuju hanya padanya, menjadikannya sebagai satu-satunya pusat perhatian mereka.
Sakura menyukai momen dimana dirinya tampak seperti seorang putri yang mendapat begitu banyak perhatian dan dikagumi banyak orang.
Namun sekarang gadis itu merasa popularitasnya bukan sesuatu yang berarti lagi baginya. Hal itu tak lagi berarti semenjak ia bertemu seseorang yang entah mengapa begitu ia inginkan berada disisinya. seseorang yang ia harapkan dapat memberinya begitu banyak cinta, menjadikan ia satu-satunya pusat kebahagiaan dan kehangatan pemuda itu. Ia ingin menjadi satu-satunya perempuan yang berarti dalam hidup orang itu. Hanya dia, bukan gadis lain.
Tapi kenyataan menamparnya begitu keras.
Sakura berdiri di tengah-tengah kantin yang semakin ramai semenjak kedatangannya. Tak dipedulikannya tatapan orang-orang di sekelilingnya. Emeraldnya hanya terfokus pada kedua remaja yang tengah menyantap makanannya dengan santai. Mereka terlihat asik mengobrol, bergurau bahkan kini si gadis tampak tersipu.
"Perasaanku saja atau bagaimana ya, Uchiha-san terlihat lebih sering bersama sahabatnya daripada tunangannya sendiri.
"Lihatlah, bahkan Uchiha-san tak menyadari Haruno-san ada disini."
"Kau benar. Uchiha-san bahkan terlihat sibuk dengan gadis miskin itu."
"Hey. Jangan berkata sembarangan. Kau bisa dicekik Uchiha-san jika dia tahu."
"Ck. Aku hanya heran, bagaimana bisa dia berteman dengan gadis menyedihkan itu. Bukankah itu akan merusak citra keluarganya?"
"Itu bagus. Berarti Uchiha-san tak pandang bulu dalam berteman."
"Terserah. Yang jelas jika aku jadi dia, aku tak akan membiarkan diriku bersama golongan rendahan seperti itu."
"Ya ampun aku baru sadar jika mereka sedekat itu."
"Kasihan Haruno-san. Dia pasti cemburu."
Penglihatannya seketika berubah gelap. Ia tak bisa melihat apapun karena matanya tertutupi lengan seseorang. Ia memberontak. Dengan sekuat tenaga berusaha menyingkirkan lengan besar itu. Dan berhasil. Di depannya kini terlihat seorang pemuda berkulit pucat dengan senyuman anehnya.
"Sudah kuduga itu kau."
"Wah bagaimana bisa kau tau ini aku. Kau pasti seorang cenayang."
Sakura memutar bola mata. "Aku tahu karena tingkahmu itu kekanakan dan menyebalkan."
Lelaki itu terkekeh polos, membuat Sakura semakin dongkol melihatnya.
"Omong-omong kau sendirian? Dimana Ino?"
"Pacarmu sedang memesan makanan."
"Kau sendiri tidak memesan?"
"Aku bawa bekal." Sakura mengangkat tangannya sejajar dengan wajah lelaki itu, memperlihatkan bekal yang dibawanya.
"Aku yakin itu bekal buatan ibumu."
Sakura mengernyit merasa tak terima. "Ini bekal buatanku, tahu!"
Lelaki itu terdiam sejenak. Sakura menyipitkan mata merasa aneh.
"Kau tahu? Jika seseorang bertekad membuat sesuatu, sebenarnya dibalik itu dia ingin orang lain juga menikmati hasil buatannya." tatapan serius ditunjukkan padanya membuat Sakura terkejut. "Kau tidak akan menghabiskan bekalmu sendiri, kan?"
Sakura terenyak, tiba-tiba saja merasa tersinggung akan sesuatu. "Tentu saja aku akan. Bekal ini punyaku."
"Hai kalian berdua. Sedang membicarakan aku ya? Ayo makan. Sai-kun sudah makan?"
"Belum sayang. Kebetulan aku sangat lapar. Nanti suapi aku ya." Sakura mengernyit jijik melihat Sai bermanja pada Ino.
Ino memutar bola mata. "Kau bukan bayi lagi Sai-kun." Sai mengerucutkan bibirnya terlihat merajuk, membuat Sakura ingin muntah seketika.
"Hey, calon suami si jelek ada disana. Mau bergabung dengannya?"
Ino mengikuti arah pandang kekasihnya. Raut wajahnya berubah gelap seketika. "Mereka akrab sekali." cibirnya, beralih melirik Sakura. "Tidakkah kau berpikir ada sesuatu diantara mereka?"
Sakura terdiam. Merasa tak ambil pusing dengan perkataan Ino. Namun tak ia pungiri, terkadang melihat interaksi manis keduanya selama ini membuat pikirannya kalut. Perlakuan Sasuke yang begitu berbeda pada gadis itu. Berbanding terbalik dengan apa yang Sasuke lakukan padanya. Sejujurnya ia pun mencurigakan hal yang sama. Ia meyakini mereka memiliki hubungan yang lebih dari sekedar sahabat. Namun dibandingkan Hinata, ia hanyalah orang baru di kehidupan Sasuke. Ia belum mengenal lelaki itu dengan cukup baik. Dibandingkan Hinata, ia hanyalah orang yang kehadirannya tak benar-benar dibutuhkan lelaki itu.
Ia adalah satu-satunya orang yang sangat ingin lelaki itu hindari. Sakura tahu itu.
"Aku mau ke kelas." ujarnya datar, tanpa sadar melangkah dengan cepat.
"Dasar anak itu."
Sai melirik Sasuke melalui ekor matanya. Ia bisa merasakan tatapan menusuk seseorang dari sana.
.
.
.
.
Tbc
.
.
.
Hallo akhirnya update. Terima kasih sudah membaca. Mau bales review dulu aah. Hehe
.
Mesailes : Terima kasih sudah suka fic saya. I love you :*
Aimore : Saya juga suka Sakura yang strong gini. Anti lembek-lembek club saya tuh wkwk. Terima kasih review dan semangatnya.
NNNN : Waah saya suka semangatmu untuk bermaso hehe. Yosh lanjutkan wkwk. Terima kasih sudah review.
Guest : 'lagi dan lagi'? hmm apakah di setiap fanfik saya karakter Sakura dibuat seperti apa yang kamu bilang? Btw dalam momen tertentu saya suka seseorang yang terlihat seperti 'hilang urat malu.' Orang-orang itu hebat karena memiliki kepercayaan diri yang tinggi. Terima kasih sudah baca dan menuliskan kekecewaanmu di kolom review :)
.
Btw disini saya membuat karakter Sakura yang ambisius, sedikit antagonis namun terkesan gemesin(?) hehe apakah sudah terlihat? Dan mengenai perasaan Sasuke saya mungkin ga akan menjelaskannya secara gamblang. Karena saya ingin readers terfokus sama perkembangan karakter Sakura. Selain itu, teka-tekinya ada di Sasuke. Semuanya akan terungkap dari sudut pandang Sakura.
Last, terima kasih sudah membaca. Sampai jumpa di chapter selanjutnya. Bye bye.
Salam sayang,
Lyandraff
