Disclaimer : Hetalia punya Hidekazu Himaruya. I Saw Her Standing There dan I Me Mine punya The Beatles
Ringkasan
Ketika aku melihat gadis itu berdiri sendiri, menarik pandangan semua pria, menolak semua ajakan untuk berdansa, aku langsung tahu bahwa aku jatuh hati padanya. Aku langsung tahu bahwa ia akan menghilangkan kesedihanku. Aku langsung tahu bahwa ia sanggup menjadi pelipur lara bagiku, menjadi pengganti dari teman-temanku yang dulu –aku, diriku, dan milikku.
Catatan Penulis
YEAH! Setelah lama menelantarkan (?) fic ini, akhirnya saya sanggup menuangkan ide lagi! Saya baru paham bahwa memasukkan lirik lagu ke dalam fic adalah suatu kesalahan yang sebenarnya tidak boleh dilakukan. Karena itu, saya mencoba membuat songfic tanpa memasukkan lirik asli. Terima kasih sudah mau berkunjung!
Selamat Membaca!
Aku memilih naik tangga karena malas menunggu elevator gedung naik-turun. Rapat sudah dimulai lima belas menit yang lalu. Sudut bibirku meringis sesekali ketika aku menaiki anak tangga. Aduh, kakiku serasa kebas. Padahal sudah tiga hari terlewat sejak pesta natal laknat itu diadakan, tetapi betisku masih pegal. Oh iya, ini tidak berhubungan dengan masalah umurku –ini gara-gara pesta itu!
Kuputuskan untuk mengistirahatkan tungkaiku sejenak dengan memutar-mutarkan pergelangan kakiku. Padahal kemarin aku sudah merasa sehat dan mampu menemani Mei belanja di pasar. Dua hari yang lalu, Kiku memberikan aku obat salep dan memijat kakiku sedikit. Tiga hari yang lalu, tepatnya pada malam natal, aku sama sekali tidak tahu bahwa nanti aku akan mengalami hal seperti ini.
Semua masalah berakar pada Alfred yang menyebutkan pada undangan pesta bahwa para tamu diharapkan memakai kostum kabaret atau sejenisnya (yang tidak monoton). Aku tidak mengerti kenapa dia menuruti saran Francis –kupikir itu hanya candaan. Sudah kusiapkan kostum tradisional yang cocok kupakai pada pesta-pesta zaman Dinasti Han, tetapi rupanya Mei, Li, dan Yong Soo punya ide lain. Mereka mencegatku dan memaksaku memakai cheongsam wanita.
Pakaian, penyumpal dada, atau model rambut yang kugunakan pada malam itu sebenarnya tidak terlalu membuatku sebal (karena –sebenarnya aku malu mengakui ini– aku terlihat cantik). Mei juga tidak memoles make up terlalu tebal di wajahku. Hanya saja, aku benci sepatu berhak tinggi yang kupakai semalam! Gila, semalaman aku memakai selop merah mengerikan itu... penderitaanku bertambah ketika acara berdansa bebas dimulai. Aku tidak percaya, tidak ada yang menyadari bahwa aku ini Yao. Semua menanyakan siapa namaku dan aku tak menjawab. Cukup banyak orang yang memintaku berdansa bersama, tetapi kutolak. Namun, aku tak bisa (tepatnya sih tidak berani) mengabaikan ajakan pemuda terakhir.
"Yao! Kamu terlambat ikut rapat juga, da?"
"Hai Ivan," aku menahan diri untuk bergidik ngeri, "aku... yah, ada masalah transportasi aru."
Pemuda tinggi itu berlari menghampiriku di tangga. Aku berusaha bersikap normal dan menunggunya sampai. Aduh, kenapa dia harus telat juga dan bertemu aku di sini...
"Aku sudah katakan pada Alfred bahwa aku akan terlambat hari ini," jelasnya sambil tersenyum, "ayo, kita naik bersama."
"Tidak perlu repot-repot, aku..." Sebelum aku membereskan kalimatku, dia mendadak tertawa dan menghadangku dengan ceria.
"Aku tahu! Yao ingin bolos rapat hari ini, da! Sudahlah, tak apa kita absen, aku juga punya firasat bahwa rapat hari ini tidak akan seru!"
"Bu –bukan– Ivan aru!"
Ia menarik tanganku dengan semangat dan –kakiku dipaksa untuk mengimbangi langkahnya. Daripada jatuh dari tangga! Aku berteriak-teriak memintanya berhenti. Dia bersenandung ceria sambil membawaku berlari keluar gedung. Pada akhirnya, aku cuma bisa duduk dengan tegang di dalam mobilnya sementara di sisiku, Ivan menyetir santai.
Entah mau dibawa ke mana aku, demi Raja Shih Huang Ti* dan temboknya, aku cuma bisa pasrah. Seperti yang kalian ketahui, ada faktor-faktor 'X' yang membuatku tak bisa melarikan diri dari dia. Marah-marah padanya hanya sia-sia belaka, ganjarannya cuma sangkalan manis atau bisa jadi tawa plus aura horor. Dari jendela mobil, aku bisa tahu bahwa kami melintasi beberapa batas antar negara, daerah perkotaan kuno, perkampungan, dan bangunan-bangunan bersalju tebal. Kami memasuki sebuah komplek perumahan tanpa nama yang bergerbang besar. Di balik gerbang berpos satpam itu ada halaman komplek yang sangat luas ditutupi lapisan salju. Hanya ada satu jalan yang bisa dilalui oleh mobil ini -jalan ini bahkan cukup dilewati dua mobil. Aku melihat satu paviliun kecil yang sepertinya berisi peralatan berkebun, satu gudang, dan...
Itu bukan komplek perumahan. Aku baru menyadari hal ini ketika ia memarkir mobil di garasi. Di ujung jalan itu hanya ada satu rumah, rumah yang luar biasa besar. Aku berusaha untuk tidak terlihat bingung -sumpah, garasinya bahkan dapat memuat beberapa mobil. Dia mematikan mesin, turun dari mobil, dan membukakan pintuku. Aku berterima kasih dan turun hati-hati dari mobil. Kami meninggalkan garasi bersama, menuju ke pintu utama rumah besar itu. Dia membuka kuncinya, kembali membuka pintu, dan mempersilakan aku masuk dengan sopan.
"Terima kasih aru," kemudian aku terkejut ketika melangkah ke dalam.
Ruang tamu mewah itu menyambutku dengan manis. Sofa dan kursi-kursi empuk mengelilingi meja tamu bertaplak rajutan (yang kelihatan berkelas). Pilar-pilar penyangga rumah berdiri kokoh di sisi tangga pualam. Astaga -lantainya juga bukan sembarang ubin! Aku tertarik pada lemari-lemari kaca berisi koleksi cinderamata. Arsitektur dan interior yang begitu bagus... rumahku juga besar, tetapi tak terdekorasi dengan gaya begini. Aku melirik Ivan yang berdiri bersandar pada salah satu pilar di tangga. Sepertinya ia tersenyum padaku.
Bagaimanapun juga, rumah ini terlalu besar untuk ditinggali Ivan sendirian.
"Aku akan lebih senang jika kita mengobrol di perpustakaan pribadiku."
Astaga, perpustakaan pribadi, batinku takjub. Aku menghampirinya dan mengangguk sambil mendelik pada tangga. Kupikir dia akan menapak anak tangga itu, tetapi syukurlah –ternyata tidak. Perpustakaan itu ada di lantai satu dan kami tak perlu melewati semua lorong di rumah itu untuk menemukannya.
Benar sekali, pikirku lagi seiring ia membukakan pintu ruangan untukku, tidak mungkin dia tinggal sendiri di sini. Pintu-pintu yang kami lewati tadi pastinya mengarah pada kamar-kamar tidur, 'kan? Maksudku –mana mungkin dia mengepel semua lantai rumah ini sendiri? Aku mengamatinya sibuk menyalakan perapian sebelum duduk di salah satu kursi empuk yang mengelilingi meja di depan perapian itu. Suhu ruangan berubah menjadi lebih bersahabat, aku menghela napas sembari menghenyakkan tubuhku di kursi lainnya.
"Aku tidak pernah suka musim dingin," katanya sambil memandang keluar jendela, "tetapi tanpa musim dingin, perapian hangat ini tidak ada artinya."
"Apakah negaramu selalu diselimuti salju aru?" Aku mencoba menjadi tamu yang baik.
Ivan mengangguk, "Namun akhir-akhir ini salju itu mulai menipis, bahkan mencair. Kau tahu, gara-gara pemanasan global."
Pembicaraan kami terhenti karena mendadak aku tak punya topik lanjutan untuk dibahas. Mataku terus-terusan memandang api itu, sambil sesekali melirik foto-foto yang ada di bagian atas perapian. Aku mengenali bocah berambut pirang pucat itu sebagai Ivan, dan dua gadis lainnya adalah kakak dan adiknya. Lalu ada foto Toris, Raivis, dan Eduard yang terlihat ketakutan. Ada foto Ivan bersama Alfred, Arthur, Francis, dan aku. Foto paling pinggir adalah foto seseorang yang berkostum panda dan aku yang memeluknya dengan wajah sangat bahagia.
Astaga –kapan foto itu diambil?!
"Hmm," kudengar pemuda bersyal itu bergumam, "kau terlihat terkejut, ada apa da?"
"Tidak ada apa-apa aru!"
Rasa ingin tahunya terekspos dalam ekspresinya, "Yao, kau benar tidak apa-apa?"
Buru-buru aku mencari alasan yang bagus, "Aiyaa, a -aku baik... aku hanya penasaran, kenapa sepertinya rumahmu sepi sekali aru?"
Seketika aku menangkap ekspresi suram yang segera disembunyikannya dengan senyuman.
"Mereka semua pergi, aku tinggal sendiri di sini."
"Oh," sekejap aku merasa simpati padanya, "apa... tidak kesepian aru?"
Tawa pendek terdengar dari bibirnya, "Biasa saja. Aku punya sahabat di luar sana. Dia mengirimiku e-mail secara rutin, karena itu aku tak pernah merasa sendiri."
Aku percaya saja dengan kata-katanya. Dia tak terlihat berbohong. Jika nyatanya ia tidak jujur, aku tak merasa heran karena dia memang terlihat seperti itu selama kami saling kenal. Dia selalu terlihat seperti itu, tak pernah memiliki seorang pun yang selalu ada di sekelilingnya.
Dia hanya bicara seperlunya saat rapat. Dia hampir tak pernah meluangkan sedikit waktunya untuk berbincang dengan kawan-kawan. Dia lebih memilih tersenyum dibandingkan ikut serta dalam debat dan cekcok di antara kami. Namun, jika suara jernih dan polosnya telah bicara, seluruh ruangan akan segan memotong kata-katanya.
Aku sendiri tidak berani dekat-dekat dengan dia walaupun kesendiriannya kadang melintasi pikiranku. Aku tak tahu bagaimana pemikiran teman-teman, tetapi aku yakin bahwa pandangan kami terhadap dia selalu sama. Ivan yang selalu sendiri, Ivan yang hanya memiliki dirinya untuk berbagi dengan dirinya sendiri pula.
"...Yao? Kau mendengarku?"
Aku melamun. Syal Ivan melambai-lambai di depan wajahku, aku menoleh padanya dengan bingung. Ia tersenyum lebar dan mengatakan bahwa wajahku terlihat berpikir keras. Kutahan habis-habisan rasa terkejutku karena ekspresinya saat menungguku sulit didefinisikan –entah lucu atau malah mengerikan.
"Eh –maaf, aku tadi..."
"Begini," lagi-lagi dia memotong kalimatku, "Yao ingat pesta natal beberapa hari lalu, 'kan? Aku ingin bercerita padamu tentang sesuatu yang tak mungkin kujelaskan kepada sahabatku itu."
Sejujurnya, aku sangat tidak mau membicarakan ini lagi. Namun karena yang mengajakku membahasnya adalah Ivan... tidak apa-apa deh. Dari sikap dan cara bicaranya aku langsung tahu bahwa dia sangat jarang mengutarakan permasalahannya kepada orang lain. Aku mengangguk kepadanya, mata ungunya berpindah menatap api.
Aku mendengarnya menghela napas sesaat sebelum ia bicara, "Menurut perasaanku, dia... masih berada dalam usia tujuh belas tahunnya yang ceria."
Nyaris saja aku tergelak. Maksudku –apakah ini benar dia, Ivan, yang selalu mengajak orang-orang bersatu dengannya? Aku mengerti benar apa yang ia katakan. Dia menyadari kekagetanku hingga menoleh padaku, tetapi aku tak memandangnya.
"Kau pasti mengerti maksudku 'kan, Yao?"
"Ya," aku memutar mataku seolah ini perkara biasa bagiku, "wanita, aru."
Ivan kembali menghela napas dan tersenyum samar, "Gadis itu adalah satu-satunya yang menarik perhatianku pada malam itu –tak ada yang bisa menyaingi dia. Ketika aku tak sengaja melihatnya berdiri di sana –seberang ruangan, aku tak bisa melepas mataku darinya lagi."
Oh. Gadis hebat yang malang. Aku belum pernah melihat ada perempuan yang mampu membuat pemuda tinggi itu takluk. Sayang sekali, kulitnya akan segera tercabik oleh pisau Natalia Arlovskaya.
Meski bibirku hampir tak memberikan komentar apapun selama ia berkisah, sebenarnya hatiku bertanya-tanya siapakah gadis yang dibicarakan olehnya. Entahlah, mungkin karena aku adalah orang yang selalu diikuti olehnya, aku jadi penasaran. Aku tak memaksanya bicara langsung, kupikir ia malah akan enggan menjawab. Aku hanya ingin tahu.
"Apakah," aku berhati-hati memilih pertanyaan, "dia pandai berdansa aru?"
"Hmm, kurasa tidak terlalu. Terutama ia terlihat tak begitu nyaman dengan sepatu hak tinggi merahnya yang seksi. Ah, padahal tanpa sepatu itu juga, dia terlihat begitu ramping... kau tahu, aku tak begitu suka wanita berdada besar seperti kakakku, da."
Pembicaraan semakin menarik nih. Aku jadi bersemangat untuk menebak. Kupanggil kembali ingatanku tentang daftar perempuan yang memakai sepatu hak tinggi merah ketika pesta natal itu berlangsung.
Ivan tersenyum lebih lembut sembari menerawang, "Kau harus tahu betapa manisnya dia ketika dalam jarak yang cukup jauh itu, kami bertemu mata. Rasanya hatiku meledak."
'Mungkin karena reaktor nuklirmu disabot,' batinku menahan tawa.
"Kau mendengarkan aku, 'kan, Yao?"
Buru-buru aku menjawab sebelum auranya berubah, "Y –ya, ya, ya aru. Hmm –jadi kalian saling menatap, aru?"
Dia mengangguk dan tersenyum kembali, "Matanya membuatku langsung suka padanya. Satu hal yang lebih kusukai darinya adalah dia menjauhi kerumunan pria dan menolak ajakan berdansa dari siapapun. Oh, wanita kelas tinggi... bisakah kau menunggu sebentar, Yao? Aku hendak membalas e-mail dari sahabatku, kurasa dia mengirim sesuatu."
Aku mengangguk. Dia mengatakan bahwa komputer yang ia pakai ada di perpustakaan ini, maka dia takkan lama. Sosok itu pergi dari perapian ini dan menghilang di antara rak-rak buku.
Omong-omong, Ivan jatuh cinta! Ini kejadian yang cukup langka, bukan? Seandainya aku tahu siapa gadis yang ia cari, aku akan membantunya seratus persen. Pertama, karena gadis itu mampu menghentikan Ivan membuntutiku terus. Kedua, karena aku agak miris melihat Ivan yang selalu sendirian. Memang kadang aku yang menjadi teman bicaranya, tetapi aku tak bisa selalu bersama dia.
Cuma, ada satu masalah dengan kisah Ivan ini. Sikap gadis itu sama seperti sikapku saat menghadiri pesta dengan dandanan sial itu. Dia bertemu mata dengan Ivan. Aku juga sempat saling berpandangan dari jauh dengan seorang pria tinggi berkostum assassin yang tak kukenal -dan aku langsung berpaling ngeri. Kemudian, gadis itu menolak berdansa dengan beberapa pria. Di tengah-tengah rasa nyeri di kakiku akibat sepatu hak tinggi yang kupakai, aku juga menolak ajakan dansa dari Francis, Alfred, Mathias, dan Feli. Ya ampun, aku punya firasat buruk.
"Kuharap kamu tidak lama menunggu," Ivan kembali duduk di tempatnya dan hendak melanjutkan kisahnya.
"Tidak aru."
Dia menghela napas, "Jadi, setelah itu aku melangkah dari tempatku ke seberang ruangan. Aku menghampirinya dan dia tidak menyadari itu karena aku terhalang orang-orang. Ketika aku sudah ada di hadapannya, matanya terlihat terkejut sekali... aku bersikap agak berbeda dengan laki-laki lain yang sebelum ini mengajaknya, aku membungkuk dan mencium tangannya sebagai tanda bahwa aku hormat sekaligus kagum padanya."
Oke, waktu itu pria yang setengah wajahnya tertutup hoodie kostum assassin**-nya datang padaku dan melakukan hal yang sama seperti ia sebutkan.
"Aku tersenyum padanya. Ia tak memperlihatkan bahwa ia merasa terganggu dengan tanganku yang masih memegangnya. Perlahan aku membimbingnya pergi dari tempat ia berdiri. Ia tak menolak saat aku membawanya ke lantai dansa dan meminta izin untuk menari dengannya."
Aku sendiri tidak mengatakan apa-apa saat assassin itu menarikku ke tengah orang-orang yang siap berdansa –karena aku takut dia akan mengeluarkan tomahawk***-nya bila aku menolak.
"Umm –biar kutebak," kataku tiba-tiba, "lalu kalian menjadi pusat perhatian di pesta itu, aru?"
"Benar sekali da!" Ujar Ivan senang, "Semua melihat kami dengan terpukau, seolah kami adalah pasangan luar biasa. Rasanya semua yang menari langsung berhenti dan memerhatikan aku bersamanya. Padahal sepertinya dia tak begitu mahir berdansa, kakinya sekali waktu menginjak kakiku."
Pada saat mereka menjadi pusat perhatian, aku berkali-kali mendaratkan sepatuku di atas sepatu botnya. Itu membuatku semakin takut –dari balik hoodie-nya aku bisa melihat bibir tipis pria itu tersenyum lebar. Sesekali ia membisikkan bahwa ia tak apa-apa seiring aku bergerak dan berputar. Oh ya, Francis adalah orang yang membelalakkan matanya paling lebar kepadaku –mungkin dia berpikir bahwa seorang gadis oriental kurus sangat tidak cocok berdansa dengan assassin misterius bertubuh tinggi.
"Ketika sepatu hak tingginya membuat dia hilang keseimbangan dan nyaris jatuh, aku segera menangkapnya. Kurasa itu lebih bisa disebut sebagai memeluk, sih… tubuhnya hangat sekali. Aku menggendongnya dan membawanya pergi dari ruangan pesta. Kami duduk berdua di bangku taman malam itu, tidak bicara apa-apa. Aku meminta maaf karena tiba-tiba membawanya pergi keluar. Dia tidak menjawab. Ketika aku menanyakan siapa namanya dan dari mana ia berasal, dia hanya diam."
Aku ingin segera memotong cerita Ivan dan menyambungkannya dengan kisahku dengan si assassin pada malam itu, tetapi aku tidak sanggup –perasaanku jadi campur aduk.
"Ah, kau mau minum, Yao?"
"Apa aru?"
"Kita mengobrol cukup lama," katanya lagi, "kurasa aku bukanlah tuan rumah yang baik bila tak menyuguhimu apa-apa. Tunggulah sebentar, aku buatkan sesuatu untukmu dan aku."
Sekali lagi, Ivan meninggalkan aku sendiri di perpustakaan pribadinya. Kisahnya tadi masih terbayang jelas dalam benakku. Pria berkostum assassin… sampai aku pulang ke rumah dan melepas semua atribut wanita yang melekat di tubuhku, aku masih bertanya-tanya siapakah dia sebenarnya. Lalu wanita berbaju merah yang diceritakan Ivan. Memang ada beberapa tamu wanita yang memakai baju merah, tetapi aku tak ingat jelas siapa yang berdansa dengannya. Aku bahkan tak melihat Ivan sepanjang pesta itu.
Mumpung aku di sini, aku jadi ingin tahu koleksi buku seperti apa yang ia letakkan di dalam rak perpustakaan pribadinya. Lupakan sejenak soal orang-orang misterius itu, batinku. Aku bangkit dari kursi empuk yang kududuki dan mulai berkeliling.
Beberapa rak berisi buku-buku sejarah dunia yang menarik untuk dibaca. Ada pula rak berisi buku sastra bahasa asing. Ensiklopedia, kamus, dan buku-buku tebal lainnya banyak kutemukan di rak yang agak jauh dari perapian.
Kemudian tanpa sengaja aku melihat meja pribadi Ivan di sudut ruangan. Meja dan kursi terletak membelakangi jendela yang ditutup korden. Aku suka sekali tempat ini, benar-benar terhindar dari kebisingan. Di atas meja tanpa taplak itu, komputer Ivan menyala.
"Aku jadi ingin tahu," gumamku sambil melangkah ke sisi kursi, "siapa orang yang rajin ia kirimi e-mail aru."
Kuklik kiri mouse komputer. Layar gelap itu seketika terang kembali, menunjukkan halaman akun Ivan di situs yang langsung memperlihatkan mailbox-nya. Ia tak mendapat pesan baru dari siapa pun. Aku mengecek percakapan yang ia lakukan sejauh ini –dan mendadak hatiku merasa miris.
'Sudahlah. Pergi saja ke pesta itu. Siapa tahu kau akan bertemu teman baru.'
'Aku tidak butuh teman baru, Ivan. Aku cuma ingin seseorang yang bisa diajak curhat sepertimu.'
'Itu berarti kau butuh, Ivan. Kau bisa gila bila begini terus!'
'Tidak, aku tak akan seperti itu, Ivan! Kau saja sudah cukup!'
'Yao datang. Sampai jumpa, Ivan.'
'Aku tahu, dia duduk di perpustakaanmu, 'kan.'
'Perpustakaanmu juga perpustakaanku, bodoh.'
Dia bukan berkirim e-mail dengan orang lain yang juga bernama Ivan. Dia berkirim pesan dengan dirinya sendiri. Aku tahu itu dari melihat nama dan alamat pengirim pesan. Aku tidak pernah tahu bahwa ia begitu kesepian…
"Yao, kenapa kau di sini?"
Rasanya aku kaget setengah mati ketika mendadak ia ada di depanku. Suara dan ekspresinya berubah menjadi sangat dingin. Alis pirangnya menurun tajam kepadaku. Aku buru-buru menyingkir dari sisi kursi itu. Dia kelihatannya marah sekali.
Aku mendekatinya hendak meminta maaf, "Ivan –"
"Sejak mereka pergi dari rumahku, aku tidak pernah punya siapa-siapa lagi untuk diajak bicara."
"Maaf," aku bicara perlahan, "aku tidak bermaksud untuk… aku hanya berkeliling dan –"
"Setiap aku mendekati siapa saja, mereka pasti menghindar. Takut. Ngeri. Mereka tak pernah tahu bahwa aku tidak mau ditakuti. Aku tidak mau dijauhi. Semua menganggapku sebagai monster berbahaya…"
Mata ungu itu sekilas terlihat semakin kelam dan menderita. Ia melewatiku, melangkah menghampiri jendela. Dilepasnya syal yang ia pakai dan diletakkan di atas meja dengan asal. Seiring ia terus berjalan membelakangiku hingga akhirnya ada di sisi jendela, aku melihat bekas-bekas luka di bagian lehernya yang selalu tertutup syal itu. Aku tidak pernah melihat bekas itu, Ivan selalu menutupinya dengan syalnya.
"…padahal, aku tidak selalu seperti itu."
"Aku percaya kau tidak seperti itu aru."
"Terima kasih, itu sangat menghibur."
Kuambil syal di atas meja karena menurutku aku akan membutuhkannya. Aku mendekatinya dan berdiri di sisinya. Dari jendela yang tak tertutup korden, kami bisa melihat halaman rumah Ivan yang luar biasa besar. Taman itu seluruhnya berwarna putih tertutup salju.
"Kau…" Aku menghela napas, "…boleh datang ke rumahku kapan pun kau mau, aru."
"Tidak," ia menggeleng, "adik-adikmu tidak akan suka."
"Aku tidak tahan melihatmu kesepian sendiri –"
"Siapa yang mengatakan bahwa aku sendiri?" Sanggahnya sambil tersenyum kepadaku, "Aku tidak sendiri, Yao. Ada aku, diriku, dan milikku."
Aku berjinjit di sisinya dan memasang syal itu kembali di lehernya. Ia terlihat terkejut. Dihadapkannya tubuhnya kepadaku hingga aku bisa bicara sembari menatap matanya, "Jangan bodoh –kau tidak sendiri karena aku ada di sini, aru."
Napasnya berhembus pelan menjadi kabut tipis. Ia membenarkan letak syalnya kembali hingga menutupi lehernya seperti biasa. Aku mengeluarkan ponselku dan menghubungi nomornya. Terdengar getaran di meja laptopnya dan aku tahu bahwa ia meletakkan ponselnya di sana. Kuakhiri panggilanku dan kutunjukkan layar ponselku kepadanya.
"Lihat," kataku, "aku baru saja meneleponmu, kau boleh menghubungiku sesukamu –asal jangan terlalu malam aru."
Pandangan matanya berubah. Raut wajahnya yang awalnya begitu sedih, perlahan menunjukkan secercah kebahagiaan sekaligus ketidakpercayaan bahwa aku serius peduli padanya. Mata ungu itu memandangku lebih lembut. Bibir tipisnya mengembangkan sebuah senyum manis yang sangat familiar di mataku.
"Terima kasih, Yao."
Ketika ia memelukku erat, aku terkejut setengah mati. Harum permen mint yang entah kapan ia kunyah mengudara tiba-tiba. Aku tak membalas pelukannya karena tidak sabar untuk mengajukan kepadanya sebuah pertanyaan.
Sepanjang aku bersama assassin itu, hanya ada bau mint segar yang melekat pada tubuhnya.
"Ivan," kataku saat ia melepasku dan menahan kedua lenganku dengan tangannya, "kau… datang ke pesta natal itu, aru."
Ia mengangguk, "Aku tidak melihatmu datang."
"Aku –" nyaris aku mengutarakan apa yang terjadi padaku waktu itu. Buru-buru aku bertanya padanya ragu-ragu, "Pada pesta itu, kau… memakai kostum assassin aru?"
"Bagaimana kamu tahu," jawabnya sambil melirik ke arah lain, "aku menahan tangan gadis itu saat ia hendak membuka hoodie-ku agar aku tetap tidak dikenali. Aku takut ia akan segera ketakutan dan lari saat tahu dengan siapa ia menghabiskan malam."
Cocok seratus persen. Aku yang ingin tahu siapa pria itu sebenarnya tiba-tiba menyentuh hoodie si assassin ketika kami duduk berdua, dan dia langsung mencegahku. Satu jari telunjuknya ada di bibirnya, mengisyaratkan agar aku diam –tak mengulangi itu lagi. Kali ini, akulah yang menghindari pandangan matanya seiring pipiku memanas –aku tak percaya akan mengatakan ini pada akhirnya.
"Aku adalah gadis dengan cheongsam itu aru."
Akhir dari The Beatledrama, Aku Lihat Dia Berdiri di Sana.
KETERANGAN
*Raja Shih Huang Ti : raja Dinasti Chin yang membangun Tembok Raksasa.
**Assassin : mengacu pada game Assassin's Creed.
***Tomahawk : senjata berupa kapak kecil ringan yang tajam pada game Assassin's Creed.
