Second Stage

Disclaimer:

Mizu bukan owner personality of DB5K namun fict ini milik Mizu ne

Cast:

YunJaeYooSuMin

Genre:

Drama n Family

Warning:

Sho-ai, MxM, AU, Rush

Part 2 of 3(?)

.

.

.

Jaejoong menyisir pelan rambutnya yang terlihat makin panjang. Ini sudah memasuki bulan kelima kehamilannya. Perutnya terlihat semakin membesar bahkan beberapa bajunya sudah terlihat terlalu kecil untukknya.

"Apa aku harus belanja lagi?" tanya Jaejoong pelan, sebenarnya ia sedang malas untuk kemana-mana. Sejak beberapa hari yang lalu namja cantik itu hanya mengurung diri dikamarnya. Semua kebutuhannya bahkan selalu diantarkan Junsu ke kamar.

"Jun-chan, aku lapar antarkan ramen untukku, ne."

Jaejoong mematikan handphonenya tanpa membiarkan Junsu untuk berbicara sedikit pun. Dan pastinya ia tahu kalau namja imut itu pasti berteriak kencang saat ini, salahkan sifat malasnya yang bahkan tak mau bergerak dari kasurnya yang sangat nyaman.

Duak

Suara pintu yang baru saja terbuka—dengan cara dibanting—membuat Jaejoong mengalihkan perhatiannya pada sosok namja yang sepertinya akan mulai menceramahinya.

"Ya, Jaejoong hyung bisakah kau tak memerintahku seenaknya? Apa kau tahu baru lima belas menit yang lalu kau meminta sukiyaki, dua puluh lima menit yang lalu sashimi, tiga puluh menit yang lalu Sushi, dan satu jam yang lalu Yakiniku dan sekarang ramen. Apa kau mau membuat kaki patah bolak-balik ke kamarmu?"

"Jun-chan~"

"Apa?" delik Junsu galak.

"Aku lapar, kemarikan makanannya." Jaejoong mengambil paksa makanan di tangan Jaejoong. Meletakkanya di meja nakas, melepaskan headset di telinganya lalu makan dengan santainya.

"Ya hyung jadi dari tadi kau tak mendengarkanku?" Junsu menatap tak percaya pada Jaejoong yang sekarang asyik menikmati ramennya. Namja imut itu akhirnya pundung di pojok kamar Jaejoong—menggambar tulisan-tulisan kasat mata.

"Jun-chan, arigatou."

Senyuman tulus Jaejoonglah yang akhirnya membuat Junsu kembali ke dunianya.

"Douita, hyung. Aku ke bawah dulu. Kalau kau butuh apa-apa panggil saja aku," ujar Junsu beranjak meninggalkan Jaejoong. Walau bagaimana pun ia tak akan pernah bisa marah pada hyung cantiknya itu, ia terlalu menyayangi Jaejoong apa pun ulah namja cantik ia akhir-akhir ini.

"Matte, Jun-chan," panggil Jaejoong membuat Junsu yang hampir menutup pintu kamar Jaejoong berhenti, bertanya melalui tatapan matanya.

"Tolong bawakan Ocha dan pudding ne untuk makanan penutup," ujar Jaejoong tersenyum manis.

Blam

Junsu menutup keras pintu kamar Jaejoong, mengumpat kesal.

"Aku menarik kata-kataku tadi, kau menyebalkan Jaejoong hyung!"

Namun sepertinya Jaejoong tak mendengarkan apa pun saat namja cantik itu malah kembali asyik mendengarkan musik dari ipodnya. Mengacuhkan seorang dolphin yang tengah mengamuk di depan pintu kamarnya.

"Hihihi ... kau ingin membuat umma gendut ne baby?" tanya Jaejoong sembari mengelus perutnya sayang, "kau lihat kau bahkan membuat Jun-chan henshin jadi akuma."

"Ne?" tanya Jaejoong merasakan pergerakan sang baby yang semakin aktif, "hihihi kau benar, makanan itu memang paling lezat kalau dibuat dengan cinta. Umma juga tahu kalau Jun-chan menyayangi kita. Saat kau lahir nanti kau harus menyanyangi dan berterima kasih pada Jun-chan, ok?" ujar Jaejooong berbicara dengan baby dikandungannya seakan sang aegya bisa berbicara dan mengerti ucapannya. Namun semua tahu seorang ibu pasti bisa mengerti anaknya walau sang anak masih di dalam kandungan.

.

.

.

Sudah dua bulan lamanya Yunho tak pernah lagi berkunjung bahkan hanya sekedar mampir ke cafe yang selalu didatanginya hampir setiap hari.

Sebuah pernyataan mengejutkan Jaejoong kemarin membuatnya masih belum tahu dengan wajah seperti apa ia menghadapi Jaejooong nanti.

Walau terdengar aneh kalau seorang namja bisa hamil bahkan mungkin memiliki anak. Namun tak sedikit pun ada rasa jijik di dalam perasaanya. Malah Yunho semakin ingin melindungi namja cantik itu, hanya saja benarkah ia bisa mengatakan semuanya. Benarkan semua ini benar adanya?

Yunho tahu ia sudah telalu jatuh ke dalam pesona seorang Kim Jaejoong. Namja cantik yang pada pertemuan pertamanya sudah berhasil meluluhkan hati eksekutif muda Jung itu. Bahkan tak ada seorang pun yeoja yang bisa membuatnya seperti ini.

Bahkan Yunho berulang kali berpikir tak percaya saat menyadari dimana dirinya saat ini. Di sebuah mall besar di ginza. Berjarak lima puluh meter dari seorang namja cantik yang kelihatan kesusahan membawa belanjaannya. Ingin rasanya ia menggantikan tangan rapuh itu membawa kantung belanjaan itu.

"Kemana Junsu? Mengapa ia membiarkan Jaejoong seorang diri?" tanya Yunho heran saat mendapati kalau Jaejoong berjalan seorang diri. Bahkan tak seorang pun membantunya saat beberapa kantung belanjaanya berceceran.

"Sial."

Yunho tak tahan lagi saat namja berbusana yeoja—yang pastinya disangka orang-orang yeoja—itu kesusahan meraih kantung terakhir yang masih berada di jalanan.

"Biar kubawakan," ujar Yunho meraih semua kantung milik Jaejoong dalam satu genggaman tangannya, menarik tangan Jaejoong dengan tangannya yang lain yang bebas.

"Kenapa?"

Yunho menghentikan langkahnya, berbalik dan memandangan sayang pada Jaejoong.

"Sayangnya aku tak bisa menghentikan semua ini, Jaejoong-san. Aku tak bisa membiarkanmu seorang diri."

"Tapi aku—"

"Sssstttt, aku tak perduli. Asal kau mengizinkan, aku ingin mengenalmu lebih jauh."

Jaejoong tersenyum kecil melihat niat tulus Yunho padanya. Mungkin saat ini orang-orang memandang mereka dengan tatapan kagum mlihat sepasang suami istri yang sangat cantik dan tampan—melihat Jaejoong yang tengah hamil besar. Namun jika tahu keadaanya sesungguhnya akankah mereka mengulurkan tangan sama seperti yang Yunho lakukan.

"Arigatou, kalau kau tak keberatan berteman dengan orang aneh sepertiku."

"kau tidak aneh, kau cantik Jaejoong-san. Bahkan tak ada seorang pun yang bisa menyainginya sekali pun seorang gadis."

"Ya, jangan menggombaliku Yunho-ah. Pabbo."

Yunho menatap heran mendengar ucapan Jaejoong yang terdengar bukan bahasa Jepang untuknya.

"Aku bukan berasal dari kota ini, Korea itulah tanah kelahiranku," ujar Jaejoong pelan sembari menarik tangan Yunho menjauh dari kerumunan orang yang semakin tertarik dengan keduanya.

"Apa kau mau mendengar semua tentangku, Yunho-ah?"

"Tentu saja, aku sangat ingin mendengarkanmu bahkan mungkin semua hal tentangmu termasuk—" Yunho menghentikan bicaranya saat melihat wajah sendu Jaejoong dikala dirinya melirik perut Jaejoong.

"Gomen a—aku tak bermaksud terlalu jauh, Jaejoong-san."

"Daijoubu, ini bukan masalah besar mungkin akan sedikit lebih baik bila berbagi dengan seseorang, kurasa aku tak keberatan bila kau orangnya Yunho-ah. Dan hentikan sufiks –san dinamaku, kau bisa memanggilku Jae."

"Ne, Jae-chan."

"Ya, hentikan itu Yun, aku bukan yeoja."

"Eh, tapi kau tak pernah marah saat Ayumi memanggilmu begitu?" tanya Yunho heran, beberapa kali ia bertemu dengan Ayumi, dan beberapa kali ia mendengar yeoja cantik itu memanggil Jaejoong dengan panggilan Jae-chan.

"Ituu ... ah, hentikan aku malu mengatakannya."

"Hahaha, wajahmu memerah Jae-chan."

Plak

"Jangan mentertawakanku, Yun." Jaejoong mendelik kesal pada Yunho yang tak bisa tertawa melihat wajahnya, membuat Jaejoong mempoutkan bibirnya kesal.

"Gomen, gomen habis wajahmu lucu, Jae-chan. Lagi pula kurasa tak ada salahnya kan dengan panggilan –chan toh cocok untukmu."

Tanduk di kepala Jaejoong muncul mendengar perkataan Yunho. Coret Ayumi dari orang-orang yang diperbolehkannya memanggil dengan panggilan terlalu imut itu, karena ia tahu tak bisa menentang gadis berkedok iblis di wajah malaikat itu.

"Kau dilarang mendekati mulai saat ini, Jung Yunho. Titik."

"Matte, Jae ..."

Yunho mengejar Jaejoong yang sepertinya mulai badmood bahkan ia membiarkan Yunho mengejarnya sembari membawa barang belanjaanya yang terlalu banyak. Sepertinya mood swingnya juga berpengaruh saat ini.

"Hosh, hosh ..." Yunho menarik napas lelah setelah mengejar Jaejoong yang ternyata sudah duduk manis di mobil miliknya entah bagaimana caranya ia masuk. Apa ibu—namja—hamil memiliki stamina sekuat ini.

"Antarkan aku pulang," titah Jaejoong tanpa melihat Yunho yang masuk setelah meletakkan barang bawaannya di belakang.

"Baik princess," ujar Yunho tak bosan menggoda Jaejoong dan membuat bibir itu semakin mengerucut.

"Aku tak perduli dengan statusmu saat ini, Jae. Aku hanya ingin selalu di sisimu, melindungimu," bathin Yunho melajukan mobilnya di kerumunan orang-orang.

Mungkin saat ini mereka tak memiliki ikatan apa-apa namun Yunho tak perduli. Cukup melihat senyuman seorang Kim Jaejoong seperti saat ini saja dunianya sudah terasa utuh.

Selama ini ia tak pernah melihat sosok pendamping Jaejoong, bolehkan ia berharap kalau ia bisa kelak menjadi pendamping namja cantik ini. Walau butuh berapa lama pun Yunho tak perduli karena ia bisa mengenal Jaejoong perlahan-lahan bahkan mungkin semua perasaan in akan semakin besar.

"Yun berhenti."

Yunho terpaksa menghentikan mendadak mobilnya sesaat Jaejoong berteriak.

"Doushita no?"

Namja cantik itu tersenyum kecil menunjuk sebuah stand di tepi jalan, "Takoyaki. Belikan sana, aku mau dua kotak."

Yunho menggeleng melihat mood Jaejoong yang terlalu berubah-ubah bukankah baru sesaat tadi namja cantik itu tengah marah pada Yunho. Apa mungkin bawaaan bayi dan sepertinya sekarang seorang Jung Yunho juga menjadi korban masa-masa ngidam seorang Kim Jaejoong selain Kim Junsu.

Lima belas menit kemudia Yunho kembali dengan dua kotak takoyaki di tangannya. Memberikannya pada Kim Jaejoong yang dengan segera menghabiskan makanan dari gurita itu.

"Kau mau Yun?"

"Iie. Melihat kau makan dengan lahap begini saja sudah membuatku kenyang," ujar Yunho tersenyum, menghapus sudut bibir Jaejoong yang belepotan saus takoyaki.

"Ya sudah, awas saja kalau kau minta nanti."

"Tidak akan," ujar Yunho mengacak pelan rambut pirang Jaejoong yang terasa halus. Baru kali ini ia menyentuh rambut tanpa wig itu. Karen selama ini Jaejoong selalu keluar dengan penyamaran yeojanya lengkap dengan wig panjangnya.

"Kenapa Junsu tak menemanimu?" tanya Yunho di tengah berjalanan mereka menuju cafe Jaejoong.

"Bocah dolphin itu sedang ngambek karena kuminta membuatkan makanan."

"Apa ada yang aneh dengan itu?"

"Tidak kalau kau tak memintanya dalam kurun waktu tiga jam dengan durasi lima belas menit sekali."

Namja Jung itu tertawa, ia bisa memastikan kalau Junsu pasti ngamuk besar dan membuat orang-orang menutup telinga karena suaranya yang melengking.

"Apa perutmu tak sakit makan sebanyak itu?"

"Tidak, karena sepertinyanya ageyaku benar-benar suka makan."

Yunho tabjub melihat manik penuh kasih sayang itu mengelus pelan perutnya yang terlihat besar. Jaejoong pasti sangat menyayanginya, lalu bagaimana dengan tou-san bayi itu. Yunho benar-benar penasaran namun Yunho tahu ia harus bersabar kalau ia tak ingin Jaejoong malah berbalik menjauhinya.

"Aku menyukaimu."

Jaejoong menghentikan gerakan tangannya, menatap dari mana kalimat ambigu itu datang. Menatap tak percaya pada Yunho.

Di saat Jaejoong keheranan dengan ulahnya, Yunho malah mengutuk mulutnya yang terlalu bebas berbicara. Mengapa kalimat sakral itu terlalu cepat meluncur. Hanya karena melihat sosok Jaejoong yang penuh kasih terhadap bayinya.

"Ah? Hahaha kau lucu Yunho-ah."

Tawa Jaejoonglah yang akhirnya membangunkan Yunho dari lamunannya.

"Gomen, aku tak bermaksud mentertawakanmu, hanya saja tidakah ini lucu menurutmu. Baru saja kita mulai berteman namun kau sudah menawarkan sebuah ilusi untukku."

"Aku tidak main-main Jaejoong." Namja musang itu memegang erat tangan Jaejoong membuat Jaejoong sedikit meringis padanya.

"Aku mengerti. Demo, gomen kita masih butuh waktu untuk itu. Dan satu hal yang kau harus tahu Yunho-ah, aku masih mencintai suamiku."

Cklek

Jaejoong membuka pintu mobil Yunho, keduanya memang sudah sampai beberapa menit yang lalu. Setelah mengambil semua belanjaannya Jaejoong membungkuk mengucapkan terima kasih lalu berlalu meninggalkan Yunho dengan kalimat yang untuk kedua kalinya membuat namja Jung itu shock berat.

"Kau pasti bercanda, Kami-sama."

.

.

.

Go to next chapter