Sang pengirim surat, Air, menyodorkan surat yang digenggamnya ke salah satu gadis cantik di hadapannya. Keduanya secara bersamaan membuka mata sedikit, penasaran siapa yang disodorkan surat oleh adik dari Halilintar.

DHEG

Seharusnya ia tak membuka matanya.

.

.

.


Disclaimer : Characters ©Monsta and Story ©ChuChocho

Genre : Romance, Hurt/Comfort, dan sisanya tambahkan sendiri

Warning : female!Taufan, female!Fang, no sho-ai, OOC, typo, alur kecepetan?, de el el

RnR?


.

.

.

"Taufan, kau serius mau melakukannya?" tanya seorang gadis mungil berkacamata bundar. Si pemilik nama Taufan mengangguk mantap.

"Tentu!" ia lalu menyelipkan sebuah kotak kecil yang berisi hadiah didalam tas seseorang yang disukainya. "Awas kalau kalian ngasih tau Hali! Aku pukul satu-satu!" nadanya terdengar serius, namun teman-temannya tahu kalau ia hanya bercanda.

Taufan kemudian berjalan kembali ke kumpulan teman-temannya. Gadis dengan jilbab merah muda hanya menggeleng-gelengkan kepalanya. Sementara seorang lainnya yang bersurai biru gelap tersenyum penuh makna. Hanya seorang gadis penyandang nama Ying yang berekspresi lain. Khawatir? Iya. Apa maknanya? Entahlah.

"Hei, kalau dia gak nerima hadiahmu, kamu jangan nangis lho ya~" ejek seorang gadis lainnya. Taufan tetap teguh dengan kepercayaan dirinya.

Hanya ada tujuh kaum hawa di kelas 3 SD Pulau Rintis ini. Enam belas sisanya merupakan lawan jenis. Dan kini para kaum hawa tengah menunggu kehadiran kaum adam di kelas.

Sebenarnya sekarang ini adalah pelajaran olahraga. Jadi seisi kelas seharusnya berlatih diluar. Namun karena para murid perempuan memiliki rencana lain, mereka bersikeras memohon kepada wali kelas untuk berdiam diri di kelas. Awalnya sang wali kelas enggan menyetujui sampai akhirnya tujuh kaum hawa itu menggunakan puppy eyes no jutsu. Alhasil kini kaum hawa itu mendapat izin.

Waktu yang telah dinanti-nantikan akhirnya datang juga. Para kaum adam, yang terlihat lelah akibat bermain sepak bola, kembali ke kelas. Pada awalnya tak ada masalah. Melihat itu Taufan tersenyum riang. Ketika Halilintar, seseorang yang diharapkan kedatangannya oleh Taufan, mendekati bangku miliknya, masalah pun terjadi.

"Hali! Lihat isi tasmu! Taufan ngasih kamu hadiah lho!" Fang berseru, entah apa alasannya. Seruan Fang langsung menuai deathglare dari Taufan.

Kita semua tahu apa yang akan pertama kali terucap dari kaum adam yang lain begitu mendengar seruan Fang.

"Cieeeeee!" seru mereka kompak.

Halilintar menatap tajam Taufan. Dengan cepat ia (yang sudah dekat dengan tasnya) menyambar hadiah dari Taufan dan membantingnya ke tanah. Ia benar-benar kesal dipermalukan seperti itu.

Taufan tersenyum pilu melihatnya. Fang, biang dari semuanya, juga menatap heran sikap Halilintar. Hal itu semakin membuat Taufan bingung.

Apa Fang tidak sengaja berseru seperti itu atau ada makna lain di dalamnya?

Entahlah. Yang kini dikhawatirkannya adalah keheningan seisi kelas menyaksikan kemarahan Halilintar. Lalu pandangan mereka beralih ke Taufan yang masih tersenyum, namun senyumnya berbeda. Ia tersenyum senang.

Tunggu dulu! Apa? Tersenyum senang?!

Tak apalah. Itu malah mencerminkan sosok Taufan yang sebenarnya.

Ying menepuk pelan bahu sahabatnya itu. Taufan menengok ke arah Ying, lalu ia segera menuju bangkunya. Ying menatap tajam Halilintar, namun ia tak dapat melakukannya lama-lama diakibatkan oleh tatapan sadis dari sang empunya iris crimson.

Kejadian itu membuat hidup Taufan di kelas tiga SD berubah drastis. Dahulu ia selalu bermain dengan Halilintar dan teman-temannya. Tak bisa dibilang kalau ia menjauhi Halilintar sepenuhnya. Tidak. Ia masih dekat dengannya meskipun setelahnya ia lebih menyukai bermain dengan Gempa.

~oOo~

Kejadian kecil yang dibesar-besarkan dapat membuat hidup seseorang berubah drastis. Perubahan itu juga dapat mempengaruhi orang di sekitarnya. Tak jarang pula ada yang memanfaatkan perubahan itu. Baik itu untuk kebaikan ataupun keburukan. Itu semua bergantung kepada si pencuri kesempatan itu sendiri.

Ying merebahkan dirinya diatas kasur bermotif polkadot dengan paduan warna putih dan kuning. Dirinya terus disibukkan oleh surat Halilintar yang kemungkinan salah sasaran. Ia sudah menceritakan tentang surat itu kepada Taufan tempo hari.

Dan kini pikirannya terus terbayang oleh pemakai topi hitam bergaris merah menghadap ke depan. Halilintar, orang yang disukai oleh sahabatnya.

Ying lalu merubah posisinya menjadi duduk dan langsung melirik ke surat yang berletak diatas meja belajarnya. Akhirnya dia mengambil secarik kertas dan sebuah pulpen, berniat untuk membalas surat dari Halilintar meski ia tahu bahwa ia tidak memiliki hubungan apapun dalam kejadian itu.

Tangan yang mulanya bergetar ragu, sekarang sudah ia mantapkan untuk mulai menggoreskan tinta diatas kertas itu. Malam ini juga ia harus membalas surat dari Halilintar.

Namun selang beberapa menit kemudian, gadis china itu meremas kertasnya dan melemparnya ke pojok kamarnya. Ia kebingungan harus menjawab apa. Tiba-tiba sebuah ide terbesit di pikirannya.

Segera ia meraih handphone-nya dan mencari nomor yang ia beri nama 'Air'. Ia mulai mengetik SMS untuk sang adik dari orang yang sukses membuatnya pusing tujuh keliling.

[To : Air

Hei! Aku minta nomor Halilintar ya.]

[To : Ying

Hm… untuk apa?]

[To : Air

Haiya, terserah aku ma.]

[To : Ying

Nih. 08xxxx67xx99]

[To : Air

Terima kasih!]

Ying segera menyimpan nomor Halilintar. Lalu tanpa basa-basi lagi, ia segera mengirimkan pesan singkat ke nomor yang baru didapatnya. Terkirim.

Gadis cantik itu lalu mendongakkan kepala, menatap langit-langit kamarnya. Ia tersenyum tipis. Namun senyum itu mendadak menghilang menyisakan raut wajah sedih. Tak selang beberapa lama, senyum itu kembali mengembang. Tidak, bukan senyum lagi. Lebih tepatnya ia menyeringai.

"Maafkan aku karena tak bisa menepati janji kita. Dan maafkan aku karena aku akan berbohong kepadamu," gumamnya sambil membayangkan wajah salah seorang sahabatnya.

Taufan.

~oOo~

Gadis keturunan china yang bersurai hitam legam tengah menatap Taufan, salah satu teman dekatnya. Taufan kini sedang asik bercanda dengan Gempa, salah seorang kaum adam yang berwajah diatas rata-rata.

Otaknya kembali mengingat kejadian tiga hari yang lalu ketika hadiah Taufan ditolak mentah-mentah oleh Halilintar. Terbesit di hatinya rasa senang dan lega karena sepertinya Taufan sudah melupakan peristiwa itu.

Namun Ying juga adalah manusia yang tak tahu segalanya tentang Taufan.

Ying berjalan pelan menuju pintu kelas. Dirinya hendak menuju kantin untuk sekedar membeli minuman. Tetapi siapa duga kalau-

BRUK!

-ia menabrak seseorang.

Badan gadis mungil itu nyaris mengelus lantai dengan kasarnya ketika tangan kanannya ditarik oleh orang di hadapannya, berusaha menolong Ying agar tidak jatuh.

"M-maaf," orang itu agak canggung setelah menyadari yang ditabraknya adalah seorang perempuan.

Sesaat setelah Ying mampu berdiri dengan sempurna, ia cepat-cepat melepaskan tangannya yang digenggam oleh sang lawan bicaranya.

"Ti-tidak! Harusnya aku yang-"

Ying terdiam begitu matanya sukses menangkap sosok yang ia tabrak itu. Seorang laki-laki.

Halilintar.

GLEK

Halilintar yang telah tersadar kalau perempuan di hadapannya sudah mampu berdiri sendiri, segera memasuki kelas. Seolah tidak ada yang terjadi.

Sementara itu, Ying masih menatap lelaki pujaan hati temannya. Tanpa disadari olehnya, semburat merah tipis muncul di wajahnya. Kedua sudut bibirnya naik membentuk senyum yang tipis.

Perasaan aneh yang dapat dipastikan bahwa semua orang di dunia ini tahu apa itu, tiba-tiba muncul di dalam dirinya. Meski masih dalam tahap tunas, ia berharap bahwa perasaan itu akan mekar dengan sendirinya.

Cinta.

~oOo~

Seharusnya ia tak membuka matanya.

Surat itu ditujukan kepada Taufan.

.

TBC~


A/N : aduduh… Chu minta maaf kalo chapter kali ini mengecewakan :'3 Chu lagi latihan bikin plot twist, dan inilah hasilnya, JRENG JRENG JREEEENG~! Maaf kalo chap ini lebih pendek dari yang pertama, ahuehehehe-

Btw, Chu mulai gak tega sama Api dan Air ;3; apa perlu Chu menjodohkan mereka? Tapi kan ini udah ditetapin 'no sho-ai' D'X buat ke depannya, kita lihat saja ya~

Nah, chapter kali ini 30% terinspirasi dari kisah hidup Chu lagi. Chap kali ini lebih fokus ke membuka masa lalu Taufan dan Ying :3 Bagi yang nanya kemana Gempa, tenang kok! Dia bakal muncul di chap selanjutnya :3 sebelum ditutup, masih ada satu lagi... alur fic ini kayaknya gampang kebaca yak? T3T

Untuk penutupnya,

Muncullah kalian wahai para silent reader!