Bukan bermaksud untuk mengejek. Karena mereka idolku juga. Hanya hiburan semata. Jangan dimasukkin ke hati ;)

.

Best Enemy

.

Kaihun.

T

Humor /garing/

.

Warn: OOC, gaje, BL, Sehun uke nih, typo dan antek-anteknya.

.

P.s: Mau baca mau nanggung resikonya :)


met baca :)


.

.

.

.

.

.

.

Ini adalah jam pelajaran olahraga. Dan Sehun sudah berganti baju dengan seragam olahraga-nya. Begitupula dengan murid-murid lainnya.

Ia berjalan pelan menuju lapangan. Disana sudah berkumpul beberapa murid. Termasuk Jongin. Dia sedang memantul-mantulkan sebuah bola basket ke tanah, lalu melemparnya ke arah ring. Sehun bisa melihat seringaian kecil usai bola itu berhasil mencetak poin. Sehun menggelengkan kepalanya saat matanya mulai berhalusinasi. Iya, berhalusinasi.

Karena ia merasa Jongin kini tengah di kelilingi oleh aura blink-blink yang bikin mata sepet.

.

"Basket ya..?"

Sehun menghela nafas, jujur ia sedang malas bermain-main dengan benda oranye bundar yang bisa memantul itu.

"Kenapa? Suaranya ngeluh gitu. Gabisa main basket ya?"

Sehun terkejut saat suara Jongin menyapa pendengarannya.

"Ih bikin kaget aja! Muncul bilang-bilang kek. Udah kayak hantu aja." Omel Sehun kesal. Dan Jongin hanya tertawa-tawa karena berhasil membuat Sehun mengomel.

"Dan apa katamu tadi? Aku tak bisa main basket? Sembarangan." kata Sehun tak terima.

"Kau mengeluh tadi. Terdengar seperti kau berkata 'Uh, aku tak bisa main basket'" ujar Jongin dengan nada mengejek.

Sehun menatapnya sengit,"Aku bisa kok. Lagi malas aja."

Jongin berusaha memprovokasi dan membuat Sehun panas, "Cih, bilang aja tidak bisa."

Dasar kompor.

"Enak saja! Aku bisa. Catat itu baik-baik."

Tangan Jongin masih memantul-mantulkan bolanya ke tanah. Kemudian ia menatap Sehun sambil memberi seringai kecil.

"Kalau begitu, ayo bermain."

"Siapa takut."

Mereka pun mulai bermain basket berdua. Saling merebut bola, berlomba-lomba untuk memasukkan benda oranye itu kedalam ring.

Kali ini, bola berada di tangan Sehun. Ia menggiring Bola itu ke arah ring dan..

Hup!

"Yehet! Wuuu~"

Sehun melompat girang setelah berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Kemudian memeletkan lidahnya ke Jongin.

"Tuh kan, aku bisa."

"Ya ya ya~ terserah saja. Aku sengaja membiarkanmu memasukkan bola ke situ. Biar gak malu-maluin"

'Jongin gak jelas.' ejek Sehun dalam hati.

Sehun hanya melengos pergi tanpa memperdulikan kata-kata terakhir Jongin tadi.

Priiitt!

Choi saem sudah membunyikan peluitnya. Dan itu berarti semua murid harus berbaris.

"Anak-anak, kita hari ini akan bermain basket!"seru guru muda tersebut semangat.

"Údah tau.." sahut Sehun pelan, takut terdengar Choi saem.

Beberapa murid bersorak senang, karena materi yang ditunggu-tunggu akhirnya tiba.

"Berbaris! Kita akan melakukan pemanasan terlebih dahulu."seru Choi saem sambil kembali membunyikan peluitnya. Sepertinya meniup peluit adalah hobi guru muda ini.

Semua anak didiknya pun berbaris dan mengikuti intruksi dari guru berbadan tegap itu. Begitu pula Sehun. Ia melakukan pemanasan dengan semangat.

Usai pemanasan, para siswa disuruh membagi kelompok untuk bertanding. Sementara itu, anak perempuan disuruh berlatih cara men-dribble dan melakukan teknik shooting dengan benar.

Sehun dan Jongin berada dalam kelompok yang berbeda. Dan kelompok mereka harus bersaing satu sama lain.

Permainan pun di mulai dengan seru. Saling memperebutkan benda bulat berwarna oranye itu untuk dimasukkan ke dalam ring dan mencetak poin.

Jongin membawa bola itu dengan lincah dan mengoper ke sana-kemari. Ia mencari teman segrupnya yang strategis untuk dapat mencetak poin. Ia melihat Kwanghee berada di tempat yang menurutnya strategis itu.

"Kwanghee!" seru Jongin.

Jongin berseru dan melempar bola itu ke arah Kwanghee.

Kwanghee yang baru tersadar atas seruan Jongin itu menoleh dan akan menangkap bola itu. Namun bola itu melesat jauh kebelakangnya.

"Aduh!"

Dan menuai rintihan kesakitan seseorang di belakangnya.

.

Kwanghee berbalik untuk mencek keadaan orang yang mengaduh dan juga untuk mengambil bola.

Kwanghee memekik panik, "Ya ampun, Sehun, hidungmu..!"

Sehun meringis. Bola itu membentur hidungnya cukup kuat dan membuatnya jadi mimisan.

"Ya ampun, maafkan aku, sungguh, aku minta maaf. Ayo ku antar ke ruang kesehatan." seru Kwanghee dengan penuh rasa bersalah.

Sehun hanya diam saat Kwanghee menggandeng tangannya dan membawanya ke ruang kesehatan.

Jongin menatap kejadian itu dengan pandangan yang sulit diartikan.

"Dasar ceroboh.."

Jongin mengedarkan pandangannya ke seluruh lapangan. Kemudian ia melemparkan bolanya kea rah Chanyeol, teman satu kelompoknya.

"Tangkap ini, Yeol!"

Dan kemudian pergi meninggalkan lapangan.

Chanyeol yang melihat Jongin pergi setelah melempar bola pun meneriaki anak itu. Tapi tak digubris oleh Jongin.

"Ya! Jongin-ah kau mau kemana? Jongin? Ya, Kim Jongin!"

.

.

.

.

.

.

.

Cklek

Pintu ruang kesehatan dibuka. Kwanghee buru-buru menyuruh Sehun duduk di kasur dan ia mencari kotak P3K.

Kwanghee dengan perlahan membersihkan darah yang keluar dari hidung Sehun, dengan Sehun yang sesekali meringis.

"Oh, sakit? Maaf, aku akan melakukannya perlahan."

Sehun hanya bergumam pelan. Rongga hidungnya benar-benar sakit dan terus berdenyut perih.

.

Kwanghee terus membersihkan darah yang masih saja keluar dari hidung Sehun. Hal ini membuat rasa bersalah Kwanghee semakin besar. Sehun menggigit bibirnya pelan. Rasanya benar-benar perih. Hidungnya masih saja berdenyut karenaㅡhey, bola basket itu keras!

Mungkin karena terlalu asyik pada kegiatan mereka masing-masingㅡKwanghee mengobati Sehun dan pikiran Sehun yang melayang kemana-manaㅡtak ada satupun di antara mereka yang menyadari ada manusia lainnya yang memasuki ruang kesehatan.

Kemudian terdengar suara yang tak asing bagi Sehun.

"Sudah. Aku saja yang melakukannya."

Mereka berdua mengalihkan pandangannya ke belakang. Posisi mereka membelakangi pintu masuk.

"Jongin?"

Sehun bergumam pelan, sementara Kwanghee nampak kaget.

.

"Tidak, tidak. Ini salahku. Aku harus mengobatinya." Sela Kwanghee keras kepala.

Jongin mendengus malas,"Sudah jangan banyak bicara. Gabung saja sana dengan yang lain untuk bertanding. Biar aku yang mengobatinya."

Kwanghee ragu untuk meninggalkan Sehun. Bukannya apa, tapi ini kan disebabkan olehnya, jadi ia merasa bertanggung jawab.

"Tunggu apa lagi?"

Kwanghee tergagap, "Ah, baiklah. Sehun, sekali lagi, aku minta maaf ya."

Sehun mengangguk dan tersenyum tipis.

Jongin mendekati Sehun dan mengambil kapas yang baru.

Sehun meringis saat Jongin melakukannya terlalu keras,"Ya, pelan-pelan!"

"Iya, iya, maaf."

Sehun menatap lurus ke wajah Jongin. Dia berkeringat karena baru saja bermain basket. Dan itu membuatnya tampak tampan. Juga seksi.

.

Apa tadi? Tampan ya? Seksi juga?

.

OHOK!

.

Sehun hampir tersedak saliva nya sendiri gara-gara pemikiran tak senonohnya menurutnyatadi. Tanpa sadar, Sehun mengeluarkan ekspresi aneh karena pemikirannya itu. Dan Jongin menangkap itu sebagai sinyal Sehun yang kesakitan.

"Apa sakit?"

Sehun berkedip-kedip,"Eh, ti-tidak kok."

Sekarang apalagi?

Kenapa ia ngomongnya jadi gagap begitu?

Dan, oh, kenapa dadanya jadi berdenyut keras? Apa ini tanda bahwa malaikat kematian mendekatinya? Tidak! Dia tidak mau mati. Dia masih mau hidup dan hidup bahagia bersama Jong

"Ck, kau bisa diam atau tidak, hah?!"gertak Jongin mulai kesal dengan Sehun yang tidak bisa diam sedari tadi.

Sehun merengut dan menunduk,"Iya, iya, maaf deh."

Jongin menghela nafas. Lalu mengangkat dagu Sehun untuk melanjutkan pekerjaannya yang tinggal sedikit.

.

Deg

.

Deg

.

Deg

.

Duarr!

.

Jantung sialan. Kerjanya biasa aja napa.

.

.

"Nah selesai. Sudah sana ganti baju. Tak usah ikut main lagi. Aku akan mengabsenkan mu kepada Choi saem."

"Gomawo, Jongin-ah."

Jongin mengacak-acak rambut Sehun,"Sama-sama."

Sehun mengernyit tidak suka,"Ya! Jauhkan tanganmu itu!"

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Sehun kembali ke kelas setelah berganti baju. Kepalanya jadi pusing pasca mimisan tadi. Ia kemudian duduk di tempatnya dan menelungkupkan kepalanya disitu.

Kelas masih sepi, karena semua murid masih berada di lapangan. Ia memegangi perutnya yang terasa perih. Ia tidak sempat sarapan tadi pagi, karena bangun kesiangan. Ditambah lagi ia merasa pasokan darahnya berkurang gara-gara mimisan tadi. Dan hal ini membuat dunianya seperti berputar-putar tidak karuan.

.

.

Beberapa menit kemudian...

.

.

Kelas mulai ramai oleh murid lain yang masuk ke dalam kelas, karena jam olahraga telah habis. Dan Sehun masih menelungkupkan kepalanya.

Selang beberapa menit kemudian, Jongin memasuki kelas dan menuju tempat duduknya. Ia menatap Sehun heran, sudah berapa lama ia tidur?ㅡJongin berpikir ia tidur.

"Hun? Oh Sehun? Ya, Sehunna, bangun!"

"Hngg...apaan sih Jongin nyebelin.."

Jongin berjengit. Bahkan dalam tidurnya, ia mengatai dirinya. Apa ia mengigau? Atau pura-pura tidur?

"Ya, Oh Sehun, bangun. Jangan menipuku dengan berpura-pura tidur."

Jongin pun menyentuh kening Sehun. Tidak panas. Ya, kali aja si Sehun lagi panas.

.

.

.

.

.

.

.

(Cieee...yang khawatir)

/ditabok/

.

.

.

.

.

.

Jongin kembali berusaha membangunkan Sehun.

"Ya, Oh Sehun! Kau itu kerbau atau apa? Susah sekali dibangunkan."

"Berisik. Kau lebih parah dariku."

Ah, akhirnya ada sahutan juga dari pemuda kelebihan pigmen putih ini.

"Nah, begitu dong. Nyahut kek kalo di panggil."gerutu Jongin.

"..."

"Ini pelajaran Park Saem loh~"

"Aku tahu."

"Kau mau di hukum, hah?"

"Hng..."

Jongin berdecak. Percuma mengajak Sehun berbicara kalau keadaannya seperti ini. Buang-buang waktu.

.

Jongin memutuskan untuk diam dan mengutak-atik smartphonenya.

Selang beberapa menit kemudian, sang ketua kelas masuk ke dalam kelas dan berdiri di depan podium.

"Ya! Perhatikan aku!"

Semuanyaㅡkecuali Sehunㅡsecara refleks memperhatikan ke depan, ke arah ketua kelas yang tengah berdiri di podium guru.

"Park saem tidak masuk."

"Wuhuuu!"

"Surga dunia~"

"Terima kasih, Tuhan..aku akan lebih rajin berdoa nantinya."

"Ah, syukurlah.."

Tak! Tak! Tak!

"Aku belum selesai berbicara!"

Sang ketua kelas menyalak dengan galak. Kelas pun sunyi seketika setelah teriakan membahananya terdengar.

"Kenapa tipikal uke banyak yang galak sih, tuh, gebetanmu galak. Apalagi Baekkie ku." bisik Chanyeol kepada pemuda tiang lainnya.

"Entahlah."

Si ketua kelas yang mendengar desas desus di pojok kelas itu pun memukul-mukul podium dengan penghapus whiteboard di tangannya.

"Hei, dua tiang jemuran! Bisa diam?"

Mereka diam, malas memperpanjang perdebatan.

"Baik, ku lanjutkan. Park saem menitipkan tugas, per kelompok. Satu kelompok berisikan 2 orang. Dan kalian harus meringkas materi bab 6, dan membuat soal sebanyak 50 soal."

Semua murid langsung menahan nafas mendengarnya. Sehun diam-diam juga kaget, ia tidak tidur. Lalu salah satu anak mengangkat tangannya.

"Ya, Sunmi?"

"Kapan tugas ini di kumpulkan?"

"Lusa."

Reaksi murid-murid lain tak lain tak bukan adalah wajah-wajah jengkel, frustasi, kesal, sedih, hendak menangis. Karena bab 6 adalah materi terberat. Oh ya, guru ini mengajar Fisika.

Sehun buru-buru bangkit dan mengangkat tangannya,"Tugas ini di ketik?"

Sang ketua kelasㅡJunmyeonㅡmeringis pelan mendengar pertanyaan Sehun.

"Jujur aku keberatan mengatakan ini. Tapi kan, ini keputusan Park saem…"

Junmyeon sengaja menjeda perkataannya. Biar dramatis, pikirnya.

"Heh, ketua bantet, cepetan dong." Seru pemuda tiang yang bisik-bisikkan dengan Chanyeol tadi.

"Heh, sembarangan aja kamu ngomong ya!" balas Junmyeon tidak terima.

"Cepetan napa! Lumutan nih.." keluh laki-laki sipit dengan eyelinernya itu.

Junmyeon nyengir,"Hehe, iya..maaf."

Detik berikutnya, setelah Junmyeon menarik nafas dan berkata

"Tulis tangan, teman-teman."

"APAAA?!"

Teriakan membahana terdengar hingga ke penjuru sekolah. Eh, Gak. Lebay itu mah.

Sehun merengut. Guru ini memang tahu bagaimana caranya menyengsarakan murid. Kalau begini, apa gunanya teknologi komputer?

"Ya, mohon tenang! Aku akan menuliskan kelompok-kelompok itu di papan tulis. Satu kelompok dua orang."

Ketua kelas itu mulai menuliskan nama-nama per kelompok.

.

'Oh Sehun dan Kim Jongin.'

.

Seketika itu pula, Sehun menatap Jongin yang sedang menelungkupkan kepalanya, tak peduli dengan teman-temannya yang meributkan tugas fenomenal Park Saem.

"Cih, lagi-lagi denganmu." Dengus Sehun dengan suara cukup nyaring, agar Jongin mendengarnya.

Jongin terkekeh lalu duduk tegak,"Memangnya mengapa?"

Sehun mendengus pelan. Lalu kembali diam tanpa menjawab pertanyaan Jongin.

Sehun meringis, perutnya masih perih karena kosong. Mana jam istirahat masih lama. Ia sudah sangat lemas dan lapar. Sehun meletakkan kepalanya di atas meja dengan mata yang mulai layu.

Kruyukk

"Pfft.."

Jongin menahan tawanya ketika mendengar perut Sehun berbunyi nyaring.

.

Duh, lapar boleh. Jangan sampai keluar bunyi gitu dong.. kan malu nih. Sumpah deh.

.

"Ya! Jangan tertawa!"

Sehun menginjak kaki Jongin karena kesal.

"Pfft.. hahahaha! Berapa hari kau tidak makan, Hun? Hahaha, ya ampun, pantas saja kau kurus."

Sehun mendelik. Jongin menyebalkan sekali sih.

"Diam! Berisik tau."

Jongin masih saja tertawa, walau tak selepas tadi.

"Mau ku traktir?"

"Jam istirahat masih lama, Baka." Umpat Sehun pelan.

Jongin mencebikkan bibirnya,"Kita bolos."

"Bolos, bolos, jidatmu. Kau mau ditangkap oleh senior kedisiplinan yang cerewet itu?"

"Ya sudah. Tidak jadi."

"Kau tega?!"

"Iya. Baru tau?"

"Jongiinnn! Asdfghjkl!"

Takkan ada habisnya jika harus mendengar perdebatan mereka.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Nah, makan yang banyak. Biar badanmu berisi."

Jongin meletakkan semangkuk jjajangmyun, sepiring tteokbokki, dua buah roti isi, sepiring kentang goreng dan sosis, dan dua gelas milkshake coklat.

Sehun cengo. Sebanyak ini? Perutnya akan meledak kalau seperti ini. Apalagi porsi jjajangmyun yang di pesan Jongin adalah porsi besar. Makan setengah mangkuk itu pun sudah cukup membuatnya kenyang. Karena perutnya tak seperti perut karet milik Jongin.

"Kau tidak makan?" Tanya Sehun.

"Makan dong."

Jongin menarik kentang goreng, milkshake dan mencomot satu roti isi.

"Sisanya milikmu. Dan aku yang bayar."

Jongin melahap roti isinya. Sehun pun mulai memakan jjajangmyunnya.

"Kau mau?" Tawar Sehun pada Jongin.

"Makan saja."

"Kau yakin bisa kenyang hanya dengan itu?"

Jongin mengangguk. Dan Sehun pun meneruskan makannya.

Ia menatap Jongin yang sedang menghabiskan kentang gorengnya. Sehun baru memakan setengah mangkuk, tapi itu sudah membuatnya kenyang. Ia tidak yakin kalau sepiring kecil kentang dan sebuah roti isi bisa membuat Jongin kenyang, mengingat selera makan Jongin lumayan besar.

Sehun merengek, "Jongin..aku kenyang."

Jongin menusuk sebuah tteokbokki dengan garpunya, lalu menempelkannya ke depan bibir Sehun.

"Aaaa~! Buka mulutmu!"

Sehun menggeleng, sehingga bibirnya terlumuri oleh saus tteokbokki itu, "Tidak mau! Aku kenyang, baboo!"

"Satu saja, Hun!"

Dengan tampang kusut, Sehun melahap tteokboki itu.

"Sudah! Sisanya kau yang makan."

Sehun meraih milkshakenya dan meninumnya. Lalu mendorong mangkuk jjajangmyunnya.

"Nih, sekalian di habiskan. Aku sudah tidak sanggup."

"Hng."

Jongin menarik mangkuk itu ke hadapannya. Dan mulai memakannya.

Slurp

"Hmm~"

Slurp

"Hmmm.."

Slurp

"Mmmhh~hnn.."

.

Sehun mengernyit,"Berisik amat sih. Mana suaranya ambigu gitu. Lu lapar apa doyan sih?"

"Berisik."

Sehun cemberut. Lalu menyeruput habis milkshake nya.

" Oh iya, kapan kita mengerjakan tugas kelompok?"

Jongin sibuk dengan tteokbokki nya sekarang. Setelah menelan kue beras pedas itu, ia menjawab,

"Terserahmu saja."

Sehun mendengus melihatnya. Dasar tukang makan.

.

.

.

.

.

.

.

"Jongin..ku mohon menurutlah padaku satu hari saja! Setidaknya sampai tugas ini selesai, Jongin. Materinya tidak sedikit, ya Tuhan.."

Sehun menatap jengkel ke arah Jongin yang tengah mengemasi barang-barangnya dan bersiap pulang. Mengindahkan perintah Sehun.

"Ya! Kim Jongin!"

"Bawel."

"Siapa yang bawel, hah?!"

"Kau."

"Kim Jongin! Kau harus ikut ke rumahku dan mengerjakan tugas."

"Itu mudah. Kita bertetangga bukan?"

Kalau ini adalah dunia manga, maka saat ini Sehun sudah dikelilingi oleh aura hitam dan kepalanya dipenuhi oleh perempatan imajiner.

"Langsung ke rumahku saja! Haish, tekanan darahku bisa naik kalau terus seperti ini."

Jongin terkekeh,"Baiklah, Oh-cerewet-Sehun."

Pletak!

Sehun yang sudah sangat geram sedari tadi pun memukul kepala Jongin cukup keras.

"Aduh sakit tau!"

"Rasain tuh. Aku tidak mau tahu. Langsung ke rumahku saja."

"Iya, iya. Dasar cerewet."

"Siapa yang cerewet?"

Jongin menggeram. Ngajak berantem nih anak.

"Ibumu."

"Heh, gak usah ya bawa-bawa nama ibuku segala! Mau berantem ya? Hayok sini!"

"Duh, gue lama-lama bisa tuli kalo kek gini. Cepet!"

Jongin menyeret Sehun keluar kelas. Dan Sehun masih saja nyerocos, ngomelin Jongin.

"Jangan tarik-tarik dong! Sakit tau."

"…"

"Jongiiiin~!"

"Berisik!"

.

.

.

.

.

.

.

.

"Huh, apa-apaan ini."

Sehun mengaduk minuman yang tengah di olahnya dengan kekuatan penuh. Tak peduli kalau isi minumannya tumpah kesana-kemari. Ia benci pada Jongin. Niatnya mengerjakan tugas berdua, dia malah membawa Kyungsoo. Yang jadi masalah itu, bukannya mengerjakan tugas, Jongin malah asyik pacaran.

Ugh, menyebalkaaaan!

Kalau begini, lebih baik Sehun mengerjakannya sendirian. Lalu ia mengadu pada Park saem kalau Jongin tidak mengerjakan, dan dia akan dihukum. Sehun tertawa setan setelah itu.

Dan, kenapa ia mau-mau saja membuatkan dua parasit itu minuman? Ups, Sehun menyebut mereka berdua parasit, hihihi. Ia terkekeh geli karena pemikirannya sendiri. Mungkin kejiwaan Sehun harus di periksa setelah ini.

"Kenapa minumannya tumpah semua?!" Gerutu Sehun, entah polos, bodoh, atau justru kedua-duanya.

"Biarlah. Parasit tak perlu ku beri minum. Biar mati sana." Gumam Sehun kejam.

Ia kembali ke kamarnya dengan tangan kosong.

"Nghh..."

Niatan Sehun untuk membuka pintu terhenti ketika mendengar suara aneh itu. Ia merinding disko mendengar suara itu.

"Ughh..jonginhh!"

Pikiran Sehun makin menjelajah kemana-mana mendengar itu. Tanpa ragu, ia membuka pintu kamarnya.

"Ya Tuhan! Kim Jongin! Mataku...matakuu!"

Sehun menjerit histeris melihat pemandangan yang tidak senonoh untuk di lihat matacoretpoloscoretnya itu. Jongin mencium Kyungsoo dengan ganas.

Kyungsoo mendorong Jongin keras ketika mendengar pekikan Sehun.

"Kim Jongin! Lebih baik kau pulang! Kalau kau memang tak mau membantuku mengerjakan tugas ini, itu tidak masalah. Aku tak peduli kalau kau tidak mendapat nilai, aku tidak akan mencantumkan namamu dalam tugas ini!" Seru Sehun kesal. Ia tahu, ia salah kalau membiarkan Jongin membawa Kyungsoo ke sini.

"Maafkan aku, Sehun. Seharusnya aku tadi menolak untuk ke sini. Aku sudah memperingati Jongin tapi dia tak mau mendengarkan." Ujar Kyungsoo membela diri.

Sehun hanya diam. Hatinya sudah jengkel dengan kelakuan Jongin. Ia memutuskan meninggalkan mereka berdua ke halaman belakang rumahnya. Guna mendinginkan hatinya yang sedang bergejolak.

.

.

.

.

.

.

.

'Aku tahu...aku salah jatuh kepada orang itu.'

.

.

.

To. Be. Continued.

Udah lanjut kaan~? Hehe..

Ada yang kaget kalo aku tiba-tiba pake 'lo-gue' dan ada yang gak suka. Maaf, kebawa suasana :v lagipula bagian seperti itu muncul sedikit aja kok. Itu di gunakan untuk mendukung suasana pertengkaran mereka/? soalnya akunya kadang suka bingung dan merasa gak nyambung kalo pake -"aku-kamu/kau' dalam part tertentu. Hope you like it!

Thanks to:

fyodult, Oh Byul, riani98, BubbleLavender, SeiraCBHS, Jongshixun, Kim Sohyun, 94 x 94, kjinftosh, kimoh1412, , Rilakkuma8894, Lovrkaihun

.

Makasih juga yang udah mencet tombol favorit dan follow ff ini. Luph yu ceman-ceman 3

Mind to review?

.

-00:14 Wita-