Second Life, With You
Chapter 2: Give Up? Don't Call Me Rin!
Disclaimer: Vocaloid © Yamaha, Fanfiction © I am XD
Rated: T
Genre: Romance & Spiritual
Summary: Rin membenci saudara kembarnya, Len. Ia sangat ingin mati dan pergi dari hadapan Len! Hingga suatu saat... keinginan itu terwujud. Ia mati ditabrak Truk. Namun.. 'seseorang' menghidupkannya kembali, karena iba pada Rin. Namun, ketika ia terjaga.. Len sama sekali tidak mengenalnya! Rinto bahkan membawanya ke Rumah Sakit, di ruang kejiwaan!
.
.
.
.
Rinto POV
Aku memandang Rin lekat-lekat . Apa yang terjadi padanya? Rasanya ia tidak seperti ini sebelumnya. Ini sangat aneh!
"Ano...senpai, sepertinya Megamine-san hilang ingatan."
Astaga... Aku teringat perkataan anak lelaki itu—maksudku, Len. Apa benar?
"Ano.. Kau siapa? Benarkah kau kakakku? Sebenarnya aku dimana?" tanya Rin bertubi-tubi.
Aku tercegang. Dia benar- benar hilang ingatan! "Kau.. Rin. Apa sebaiknya kita ke dokter saja?" kataku ragu. Pasti Rin marah atas apa yang aku katakan. Dasar baka, kau Rinto!
"Hng.. Kalau itu yang terbaik, ayo saja." katanya lembut.
Hah? Aku salah dengar atau apa?! Dia tidak pernah semanis ini sebelumnya!
"Baiklah.. Kalau kau setuju.."
Rin POV
Aku mencium aroma rumah sakit dan obat-obatan. Rasanya... rumah sakit ini sangat tidak asing. Aku mengikuti Rinto—yang mengakuiku sebagai adiknya. Aku melihat sebuah pintu berplang "Kejiwaan, Konseling, dan Konsultasi" What the.. Memangnya aku gila?!
"Ayo Rin.." kata Rinto.
Aku mengambil nafas dalam-dalam, dan membuka pintu bergagang besi itu. Dan kulihat seorang wanita.. berambut pink dengan warna serupa dengan mata.. Dia—Megurine Luka!
"Silahkan masuk! Apa ada yang bisa kubantu?" katanya tersenyum ramah.
Aku berlari masuk dan— BETS! Aku memeluk Luka sangat kuat. Aku rindu dengannya. Sangat rindu.
"—Ma..maaf?" Luka hanya bisa kaget sambil memasang raut wajah yang penuh tanda tanya. Apa dia sudah lupa padaku? Aku.. merasa aneh. Luka tampak.. lebih tua... dan memakai pakaian dokter?— Jangan bercanda!
"Luka ini aku! Kita di SMP sekelas kan?! Apa kau tidak ingat padaku?! Aku Kagamine Rin! Dan, satu hal yang membuatmu akan ingat, kau menyukai Kamui Gakupo—si terong mesum itu kan—hei! Aku sedang bicara, lepaskan aku, Rinto!" kataku berusaha mengingatkan Luka—namun Rinto menarikku dari Luka.
Kulihat.. Badan Luka bergetar hebat. Dia terisak, "Ba.. bagaimana kau tahu? Padahal.. Rin telah—telah meninggal! Tepat 10 tahun yang lalu, dan hari ini peringatan kematiannya!"
Aku—aku ingat! Aku sudah mati! Tapi.. 10 TAHUN? Bagaimana bisa?!
Luka POV
Aku menatap ke arah kalender. 10 Januari. Tepat 10 tahun sudah sejak kematian Rin. Aku menghela nafas, apa sebaiknya aku ke makamnya saja ya? Lagi pula hari ini sepi.. Eh, ada pasien!
"Silahkan masuk! Apa ada yang bisa kubantu?" kataku berusaha tersenyum ramah, menyembunyikan kesedihanku.
Gadis itu berlari masuk dan— BETS! Dia memelukku sangat kuat.
"—Ma..maaf?" kataku yang hanya bisa kaget sambil memasang raut wajah yang penuh tanda tanya. Astaga! Gadis ini benar- benar mirip dengan Rin! Hanya tanpa jepit dan pita dan rambutnya panjang. Pasti hanya kebetulan!
"Luka ini aku! Kita di SMP sekelas kan?! Apa kau tidak ingat padaku?! Aku Kagamine Rin! Dan, satu hal yang membuatmu akan ingat, kau menyukai Kamui Gakupo—si terong mesum itu kan—hei! Aku sedang bicara, lepaskan aku, Rinto!" katanya berusaha mengingatkanku—namun seorang lelaki menariknya dariku.
"Maaf, dia jadi aneh sejak tadi pagi, ng..?—Anda baik-baik saja?" kata lelaki itu—namun tidak kuhiraukan.
Kuharap ini nyata.. Badanku bergetar hebat. Aku terisak, "Ba.. bagaimana kau tahu? Padahal.. Rin telah—telah meninggal! Tepat 10 tahun yang lalu, dan hari ini peringatan kematiannya!"
Detik itu pun aku mempercayainya. Kalau dia bukan Rin, bagaimana ia tahu Gakupo, dan Terong mesum—julukan yang diberikan Rin pada Gakupo. Gadis itu—maksudku, Rin. Atau, reinkarnasi Rin? Dia menunduk pilu.
"Berapa lama aku pergi..? Kenapa aku hidup lagi? Aku—aku tidak mengerti. Len bahkan tidak mengenaliku!" katanya, menjerit dalam tangisan bisunya. (Jadi maksudnya apa?! -_-")
"Len.. meninggal tepat sehari setelah kau meninggal," kataku sambil menggigit bagian bawah bibirku, "Dia kehilangan keseimbangan saat berjalan—dan tertabrak mobil dari arah selatan." lanjutku.
"Len.. juga?" katanya, menatap kosong ke arahku. Aku hanya mengangguk perlahan. Sementara itu, orang yang mengantar Rin, bingung dan ingin bertanya. Namun ia menunggu Rin tenang dulu.
"Begini," kataku memecah keheningan, "Secara teknis Rin adalah adikmu. Tapi, sebenarnya ia adalah reinkarnasi dari Rin Kagamine, kembaran Len Kagamine, di masa lalu. Dan, aku merupakan sahabat Rin di masa lalu. Sulit dipercaya memang, tapi—kenyataannya memang seperti itu." jelasku. Rinto, hanya mengangguk-angguk saja.
"Len.. Apa dia bereinkanasi juga? Dia sekelas denganku. Tapi.. Tidak mengenalku" gumam Rin.
"Aku tidak tahu. Aku tahu ini berat tapi—Rin, sebaiknya kau lupakan saja Len. Demi kebaikanmu." saranku.
Rin diam dan menggeleng keras, "Aku membencinya namun, aku tidak mau! Bagaimana bisa semudah itu?!" Rin mulai menangis lagi.
"Aku mengerti. Sebaiknya.. kau ubah penampilanmu seperti dulu, dan cobalah membuatnya ingat." kataku. Mata azure Rin langsung berbinar-binar.
"Ng—Rin, Len berubah. Dia sudah menjadi seorang entertaint, kau tahu, Luka?—Maksudku dokter, jika Rin mengaku sebagai saudara kembarnya, dia bisa dianggap fans yang fanatik?" kata Rinto ragu. Kelihatannya ia sudah menerima kenyataan.
"Tidak apa Rinto. Panggil saja aku Luka. Soal masalah itu.. Jangan pikirkan. Kau tahu kan, Vocaloid Music© mengadakan pencarian bakat? Ikut saja, Rin. Kalau kau menang, kau punya kesempatan membuat Len ingat. Namun, jika kalah, berjanjilah padaku untuk melupakannya." kataku.
"Terima kasih Luka! Aku janji!" kata Rin sambil memelukku. Aku pun membalas pelukannya. Ketika Rinto hendak membayar, aku menolak. Kehadiran Rin saja sudah membuatku senang!
"Ng. Luka?" kata Rin sambil bersiap pulang.
"Ya"
"Bagaimana hubunganmu dengan terong mesum—maksudku, Gakupo?"
Aku tersipu, wajahku sangat merah, "Kami bertunangan,"
Dia terlihat sangat kaget! "Apa yang—" Rin tidak bisa melanjutkan perkataannya, karena Rinto, menariknya.
"Pergilah Rin, berusahalah membuat Len mencintaimu!" teriakku ketika dia menjauh. Kutebak, wajahnya pasti memerah dan ia pasti akan menyangkalnya.
Aku berharap kita dilahirkan kembali
Agar tiada dosa dalam kisah cinta ini
Saat itu terjadi, kenapa hanya aku?
Apa kau tidak kenal orang yang dulu kau sebut refleksimu?
Hei, apa kau sadar?
Di bawah dunia gemerlap seorang bintang
Tidakkah kau kesepian?
Tenang, ada aku disini.
Meski perih, kau tidak berpikir aku menyerah kan?
Yee... bakAuthor bisa nerusin fict gaje ini . Meski sebel kagakada review, bakAuthor seneng! Oh ya, maaaf banget fict yang satu blm update, soalnya susah ngetik di tablet! N maaf beda dari yang laen, dan gak masuk akal. Author seneng beda sendiri sih XD kalau sekiranya ada saran, flame, atau apapun author seneng! setidaknya author ngerasa ada yang nanggapin XD
Jaa Ne! Besok author bakal update kalau da review! Banzaii!
