Naruto melepas kacamatanya, kemudian memijat kecil keningnya. Proposal-proposal proyek kerjasama yang ada di meja kerjanya baru selesai Ia pelajari. Dan Ia rasa, otaknya butuh banyak istirahat sebelum meeting untuk proyek kerjasama dilangsungkan.

Naruto melirik jam dinding yang ada di ruang kerjanya, "Ah! Sudah larut sekali."

Buru-buru pemuda beriris safir itu mengambil jas serta tas kerjanya, dan melenggang keluar ruang kerja menuju mobil porsche-nya.

Porsche hitam Naruto melaju cukup kencang membelah angin malam kota Tokyo. Beberapa saat mulut mungilnya yang sejak tadi bersenandung terkatup rapat. Naruto merasa melupakan sesuatu, tapi Ia kesulitan mengingatnya.

Dan dalam beberapa detik matanya

membulat sempurna, "Blueberry cheese cake!"

Naruto kemudian memutar balik mobilnya, mengendarai mobil itu menuju toko kue langganannya. Mulutnya berkomat-kamit, berdoa dan berharap toko kuenya belum tutup –melihat waktu sudah selarut ini.

Begitu sampai di depan toko kue, Naruto segera keluar dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam toko. Naruto mengedarkan pandangannya ke sekeliling, mencari-cari wanita tua pemilik toko yang dikenalnya dengan baik.

"Naruto?"

Naruto menoleh, dan mendapati wanita tua yang dicarinya. "Ah! Nenek, bisakah aku meminta sebuah blueberry cheese cake? Adikku yang memintanya."

"Kebetulan sekali aku masih punya satu, sebentar biar aku ambilkan." Wanita tua yang dikenal sebagai nenek Chiyo itu kemudian pergi dari hadapan Naruto.

Beberapa menit Naruto menunggu dalam keadaan gusar. Wajar saja, cuaca malam ini mendadak buruk, beberapa kali Naruto mendengar suara gemuruh pertanda akan datangnya hujan. Naruto benci hujan, apalagi jika hujan itu datangnya malam hari.

"Naruto, ini blueberry cheese cake-nya."

Naruto tersenyum sambil menerima sebuah paper bag berisikan blueberry cheese cake dari nenek Chiyo. Ia kemudian memberikan beberapa lembar uang kepada nenek Chiyo untuk membayar blueberry cheese cake-nya.

"Terimakasih, nek. Kalau begitu, aku pulang dulu. Jaa nenek!"

Naruto berlari kecil keluar dari toko kue menuju ke mobilnya. Dengan segera pemuda blonde itu mengendarai mobilnya menuju rumahnya yang masih cukup jauh. Tapi, mobil itu tiba-tiba saja berhenti saat baru melaju beberapa meter.

"Ck! Sekarang apalagi?!" Naruto mengacak kasar rambut pirangnya, kemudian bergegas memeriksa mobilnya.

Naruto terdiam di tempatnya seperti orang bodoh, "Aku mana tau tentang mesin mobil. Kalau aku tau, aku akan lebih memilih jadi montir mobil atau semacamnya!"

Dan sekarang, yang bisa dilakukannya hanya pasrah dan menerima kejadian buruk selanjutnya yang akan segera menimpanya. Naruto jadi berpikir kalau ini semua karma karena perbuatannya pada Sasuke tadi siang.

"Ck! Sial!"


Oo Piyo-Chan oO


Sasuke baru saja keluar dari toko kue nenek Chiyo untuk membeli tiramisu cake pesanan adiknya. Melihat cuaca yang sedang tidak baik, pemuda 25 tahun itu bergegas untuk pulang ke rumahnya.

Audi hitamnya melaju dengan kecepatan rata-rata. Tapi, tiba-tiba Sasuke memperlambat laju mobilnya, tatkala indera pengelihatannya menangkap sosok pemuda berambut pirang tengah mondar-mandir di depan sebuah mobil porsche hitam.

"Uzumaki Naruto," gumamnya terlampau lirih.

Sasuke memutuskan untuk menghentikan mobilnya, dan menghampiri Naruto yang sepertinya sedang kebingungan dan kacau. Sasuke sudah siap jika tiba-tiba mendapat kalimat-kalimat tajam dari Naruto.

"Hei!" Sasuke menepuk bahu Naruto, membuat si blonde menoleh.

Naruto memutar malas matanya, "Mau apa kau?"

"Aku kebetulan lewat dan melihatmu, dan kuputuskan untuk menghampirimu." Sasuke menggaruk tengkuknya. Tidak, Sasuke tidak sedang salah tingkah.

"Lalu? Sekarang kau mau apa?" tanya Naruto sarkas.

"Mobilmu mogok? Ini sudah larut dan sepertinya akan segera turun hujan, kau mau ku antar pulang?" tawar Sasuke, dan sepertinya Sasuke sudah tau jawaban apa yang akan keluar dari mulut Naruto.

"Tidak perlu, terimakasih."

"Sungguh? Taksi jarang lewat sekitar sini jika sudah selarut ini."

"Iya, aku ya–" sebelum Naruto mampu menyelesaikan kalimatnya, rintik-rintik hujan mulai jatuh dari langit kelam diatas sana.

Naruto bisa melihat Sasuke menahan diri untuk tidak tertawa, dan hal itu membuat Naruto jadi seribu kali lebih sebal pada Sasuke.

"Ck! Baiklah-baiklah, antar aku pulang!"

Naruto dengan cekatan mengambil paper bag-nya dari dalam mobil, kemudian berlari mendahului Sasuke ke mobil audi hitam yang terparkir di seberang jalan.

Sasuke hanya menggelengkan kepalanya, kemudian ikut berlari menyusul Naruto. Tepat saat Sasuke masuk ke mobilnya, hujan di luar sana semakin deras disertai suara gemuruh dan petir yang semakin sering muncul.

Sasuke mulai melajukan audi-nya, "Alamat rumahmu?" tanya Sasuke tanpa mengalihkan pandangannya dari jalanan di depan sana.

"Jalan Konoha, komplek Uzumaki, nomor 10."

Keduanya kemudian terdiam dengan pikiran masing-masing. Jika tidak dalam keadaan darurat begini, Naruto akan menolak mentah-mentah tawaran Sasuke yang ingin mengantarnya pulang. Ia akan lebih memilih jalan kaki sampai ke rumahnya.

"Jadi, kenapa kau mau mengantarku pulang? Maksudku, kau Uchiha dan aku Uzumaki. Kita musuh, benar?" Naruto memberanikan diri untuk bertanya.

"Yang bermusuhan itu bukan kita, tapi tetua keluarga."

Naruto diam mendengar jawaban Sasuke. Sasuke benar, bukan mereka yang bermusuhan, tapi para tetua keluarga Uchiha dan Uzumaki-Namikaze. Naruto sendiri tidak pernah tau akar permasalah yang membuat dua keluarga besar itu jadi bermusuhan.

Naruto menggeleng, "Tapi tetap saja kita dalam dua paham berbeda, sudah seharusnya kita juga bermusuhan seperti mereka, 'kan?"

"Kau itu bodoh, ya? Memang ada masalah apa sampai kita harus bermusuhan?"

"Karena kau Uchiha dan aku Uzumaki!"

"Itu tidak menjawab pertanyaanku, bodoh."

"Ck! Terserahmulah!"

Mereka kembali terdiam, dengan wajah Naruto yang merah padam karena menahan kemarahannya. Ingin sekali Naruto meninju wajah Sasuke. Biar saja Sasuke jadi tidak tampan lagi karena tinjunya. Tapi Naruto masih tau diri dan menghargai orang yang sudah memberinya tumpangan pulang.

Sekita dua puluh menit kemudian, audi Sasuke sudah memijak halaman depan rumah Naruto yang terlihat megah dan mewah. Keduanya kemudian keluar dari dalam mobil.

"Kau melupakan sesuatu, Naruto." Ucap Sasuke melihat Naruto yang melenggang begitu saja tanpa mengucapkan terimakasih.

Naruto membalikkan badannya, "T-terimakasih!" ucapnya antara niat dan tidak. Pemuda berparas manis itu kembali berbalik dan berjalan mencoba mengabaikan Sasuke yang masih belum juga pergi dari halaman rumahnya.

"Sama-sama. Selamat tidur dan mimpi indah!"

Naruto reflek menghentikan langkahnya. Berdiri diam seperti sebuah patung. Dan saat kesadaran sudah kembali, Naruto membalikkan badannya, namun sayang Sasuke dan audi-nya sudah tidak di tempat semula.

"Dia mengucapkan selamat tidur padaku?"

Naruto menggeleng kemudian berlari memasuki rumahnya. Tidak ada yang spesial dari ucapan selamat tidur, hanya saja sudah lama rasanya Naruto tidak mendengar ucapan itu –kecuali dari Hime. Dan lagi, yang mengucapkannya adalah orang dari keluarga yang menjadi musuh keluarganya.

"Sial!"


Oo Piyo-Chan oO


TBC/END?

Makasih buat yang review di Chap pertama^^

Review Please!