Pandangan itu begitu tajam, bagaikan sisi belati yang mampu membuat nyali siapapun menciut. Tak ada yang berani bahkan untuk sekedar menatapnya. Kedua insan berlainan gender itu hanya mampu terpaku pada satu titik ketenangan, dimana mereka bisa rehat sejenak dari realita. Bukan untuk menghindar, hanya untuk menarik kembali sebanyak-banyaknya memori yang mungkin masih bersemayam. Mencoba menemukan seutas pengharapan atas eksistensi kesadaran yang sejenak luput dari peredaran.

Chanyeol, pria itu yang pertama kali membuka suara, menghapus keheningan yang tercipta. Wajahnya yang selalu teduh, tak lagi tampak dalam raut wajahnya yang kini memerah diselubungi emosi.

" Apa kalian sudah gila? Hah?" Hardiknya, entah kepada siapa ia tunjukkan.

Kata-kata itu bagaikan racun yang menusuk ulu hati, menghancurkan seluruh sistem indera Zitao yang seolah dibuat lumpuh. Chanyeol benar, dia memang sudah gila, dia gila karena mencintai pria yang justru mendesahkan nama wanita lain disaat gadis itu menyerahkan kehormatannya. Ia memang gila, karena ia begitu egois hanya untuk merasakan sebuah cinta yang sesaat bahkan tak nyata. Tapi dia tidak gila, ketika ia mengatakan bahwa dia begitu mencintai Yifan, bahwa cintanya yang lugu tak akan membawanya pada sebuah akhir yang indah.

" Aku tidak mengerti definisimu tentang gila? Kami hanya terbawa suasana dan ya, semua itu terjadi…"

Seluruh organ syaraf Chanyeol langsung bereaksi. Nafasnya memburu, dan jangan tanyakan mengenai ekspresinya yang seolah mampu mencabik pria dihadapannya dengan sekali tebas. Ia perlahan maju, menarik kerah lelaki yang kini menatapnya penuh ejek.

" Tarik kata-katamu, bodoh! Dia adik sepupuku, bukan gadis jalang yang bisa seenaknya kau tiduri!"

Zitao hanya mampu mengigit bibirnya, mencari serpihan harga diri yang sudah Yifan lucuti. Matanya terasa panas, ketika cairan bening itu kembali berproduksi, membingkai kontur wajahnya dalam sebuah garis halus.

" Dia menikmatinya kurasa, kau bisa tanyakan padanya…"

" K-KAU-"

" Chanyeol, hentikan, aku mohon! "

Suara feminine khas gadis itu sontak membuatnya kembali masuk ke dalam pikiran dinginnya. Ia melepaskan genggamannya pada pria yang kondisinya terlihat tak jauh berbeda. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Chanyeol menginginkan Zitao untuk sekedar membiarkan emosi menguasainya.

Gadis itu bertelut, airmatanya yang bagaikan aliran sungai terus menerus mengalir, dan betapa itu terasa menyiksanya.

" Baiklah.. aku minta maaf atas kejadian ini, sangat disayangkan apabila pertemanan kita harus berhenti karena masalah yang bisa kita selesaikan dengan baik.."

Merasa terpojok, Yifan pun angkat suara. Nada bicaranya menyiratkan bahwa dia sama sekali tidak merasa terganggu dengan semua drama yang terjadi dan itu cukup membuat Chanyeol muak.

" Kalau hanya sekedar kata maaf, mungkin persoalanmu dengan Yixing tak akan berakhir semenyedihkan ini!" Tangkas Chanyeol sarkastik. Ia dapat melihat perubahan warna wajah pria yang disebut-sebut akan mengambil alih seluruh saham di WU Enterprise.

" Jaga mulutmu, Chanyeol!" Gertak Yifan penuh penekanan. Dinding pertahannya hampir runtuh tatkala ia melihat senyum licik tergurat mencemoohnya. Ia terus mendekati sahabatnya yang tak sedikitpun gentar dengan gertakannya.

"Jika kau ulangi kata-kata itu sekali lagi, aku tak akan segan-segan-"

" Aku mohon berhentilah.."

Suara itu kembali menggaungkan kekuatannya. Kedua laki-laki yang tengah beradu pandang itu pun langsung menghentikan agresinya. Yifan menoleh singkat kearah Zitao sebelum kembali mengarahkan pandangannya kepada pria sebayanya. Bibirnya yang terkatup perlahan membuka, namun tak ada suara yang terdengar. Yifan menarik nafas dalam, sebelum kaki jenjangnya perlahan menjauh dan tubuhnya menghilang dibalik pintu.

" Aku minta maaf, anggap saja hal ini tidak pernah terjadi.."

Meskipun samar, namun Zitao mampu menangkap deretan kata-kata itu dengan tepat. Seketika ia mulai merasakan sakit didalam rongga dadanya. Pandangan itu, pandangan yang begitu dingin, dan Zitao tahu akan hal itu. Ia merasakan kekosongan perlahan mengisi kesadarannya, tak lagi mampu mendengar apapun. Tubuhnya serasa lunglai, ketika tanpa sadar ia menjatuhkannya, tepat dimana sosok itu sempat meninggalkan hawa dingin.

" Kau tidak apa-apa Zi? "

Mata penuh kecemasan itu kembali hadir dan Zitao bersyukur dapat kembali merasakan sentuhan hangat seseorang yang begitu menyayanginya.

Chanyeol meraih sosok rapuh itu dalam dekapannya, menyesapi rasa sakit untuk sekedar membuatnya lebih baik. Namun Zitao tidak akan pernah merasa baik, tidak ketika hatinya masih terus mengharapkan Yifan yang terus menghancurkan perasaannya.

"Kalau aku tahu akan seperti ini aku pasti tidak akan membiarkanmu mengenal Yifan."

.

.

.

Yifan menjatuhkan tubuhnya kasar, merasakan seluruh bobot tubuhnya seakan menguap ketika kulitnya bersentuhan dengan permukaan sofa yang lembut. Kembali ia merasakan sakit dikepalanya, namun bukan karena pengaruh alkohol yang sempat membuatnya kehilangan kesadaran, melainkan oleh masalah yang saat ini tengah didera olehnya. Jujur saja, ia masih terus berusaha mengingat kejadian beberapa jam yang lalu di apartment sahabatnya, bagaimana dia bisa berakhir melakukan hubungan suami istri dengan Zitao, teman masa kecilnya bersama Chanyeol.

" Aarghhhh… Apa yang telah aku lakukan? Bodoh!"

Pria bersurai emas itu hanya mampu melampiaskan emosinya dengan sebuah teriakan frustasi dan penuh amarah. Jelas saja, sahabatnya menuduhnya melakukan perbuatan tidak senonoh itu oleh nafsu, padahal jelas-jelas ia tidak sadar ketika melakukannya. Bodohnya lagi, gadis itu bahkan tak memberikan pernyataan apapun untuk meluruskan kesalahpahaman itu.

'SREK'

Perlahan sosoknya bergerak, kakinya melangkah mengambil sebuah figura diatas lemari kecil. Terdapat sebuah foto yang mampu menggelitik perasaan emosionalnya, foto dimana seorang wanita muda berlesung pipi memandangnya tersenyum. Begitu cantik, namun nyata dan ia beruntung pernah merasakan kehadirannya dalam hidupnya,

" Yixing.." Nama itu mengalir begitu saja, seperti sebuah mantra yang terus menguasainya.

" Yifan, t-tolong aku…" Suara itu terdengar miris dan begitu menyedihkan. Pria bernama Wu Yifan yang tengah menanti kejutan kekasihnya langsung melompat, ketika ia mendengar rintihan dari arah dapur.

Dihadapannya, gadis Changsa itu terlihat menahan sakit, mencengkram jemarinya yang basah bermandikan darah segar. Ya, Yixing adalah salah satu penderita haemophilia, dimana pendarahan sekecil apapun akan sangat membahayakan karena tubuhnya tak mampu memproduksi zat pembeku darah.

"Yixing?"

Wajahnya langsung memucat, dan selama sepersekian detik jiwanya melayang sampai suara lembut wanita itu membangunkannya kembali ke dalam realitas dunia.

" K-kau terluka Yixing, a-aku…Kita harus segera ke rumah sakit!"

Yifan baru saja akan memapah tubuh lemah gadis itu, sebelum Yixing justru menahan gerakan tangan kekasihnya, memaksa Yifan menatap pantulan dirinya melalui kornea matanya yang dipenuhi kekhawatiran.

" Tidak! Aku.. Aku hanya perlu kau membalut lukaku, Yifan…" Yixing menundukkan kepalanya, membiarkan helaian rambut menutupi sebagian wajahnya.

" Tapi kau terluka, Yixing!" Sergah Yifan dengan berapi-api. Sebagai pria yang tenang dan minim ekspresi, tak pernah sekalipun ia membuka lapisan emosionalnya kepermukaan, dan gadis itulah yang kini berhasil membuat dunia mengenal sosok dibalik seorang Wu Yifan.

"Demi Tuhan Yifan, aku tidak akan mati hanya karena luka ini! Berhenti membuatku terlihat seperti manusia lemah!"

Selama beberapa saat, keheningan meliputi kedua insan tersebut. Ini adalah kali pertama kedua sejoli itu berada didua sudut pandang yang berbeda. Yifan menarik nafas pelan, tubuh tingginya perlahan bergerak menuju sudut ruangan, tangannya mengambil beberapa buah obat dan kain pembungkus luka dari dalam kotak.

" Kau tahan sebentar, ini akan terasa perih sedikit, berpeganganlah padaku jika kau merasa perlu…" Ucapan Yifan terdengar begitu menenangkan, membuat Yixing menganggukkan kepalanya memberikan signal kepercayaan kepada pria yang sudah mengisi hatinya selama satu tahun terakhir.

Yifan membersihkan darah yang tanpa henti mengalir, membasuhnya dengan alkohol, sesekali ia merasakan genggaman tangan Yixing semakin erat. Dengan telaten pria tampan itu membungkus luka tersebut dengan kain, membuat darah segar tak lagi merembes keluar.

"Sudah selesai…"

Cukup puas dengan hasil pekerjaannya, Yifan tersenyum penuh kebanggaan, dan tanpa diduga, tiba-tiba aliran darahnya seolah terhenti ketika ia merasakan sentuhan lembut dibibirnya. Yixing menciumnya, dan kali ini dialah yang memulainya, tak dapat digambarkan betapa gembiranya Yifan saat itu. Ia langsung menarik wajah kekasihnya, berusaha memperdalam tautan yang telah tercipta.

" Aku mencintaimu…"

" Aku tahu, aku juga mencintaimu…"

Yifan mengusap wajahnya yang kini memerah, hampir saja ia membiarkan emosinya kembali mengambil alih. Ia menggosokan ibu jarinya ke wajah dalam figura, yang tak hentinya tersenyum. Dengan begitu ia kembali menemukan ketenangannya yang selama ini sulit ia temukan.

"Aku akan terus menunggumu, Yixing, sampai kau menyadari bahwa akulah pria yang pantas bersanding denganmu."

.

.

.

Sebulah telah berlalu semenjak kejadian dramatis itu terjadi, dan selama itulah Zitao tak lagi mendengar kabar apapun mengenai Yifan. Pria itu bak ditelan bumi, sosoknya tak lagi pernah terlihat, meskipun untuk sekedar menemui sahabatnya, Chanyeol. Informasi terakhir yang ia terima, laki-laki itu tengah menyibukkan diri dengan project di Busan. Jujur saja, Zitao merindukan pria beralis tebal itu, merindukan siluet wajahnya yang begitu sempurna dan senyumnya yang menawan. Membuat hatinya seketika mencelos ketika menyadari perasaannya hanya akan terjadi sebelah pihak.

" Lagi-lagi kau melamun saat makan malam…" Suara renyah milik Baekhyun terdengar, memaksa Zitao kembali tersadar akan lamunannya. Ini ada kali ketiga, ia tertangkap basah tak fokus, meskipun untuk sekedar menikmati makan malam.

" A-aku.."

Baekhyun melipat tangannya dengan wajah penuh selidik, dan hal itu membuat Zitao bergerak tak nyaman.

" Tidak apa-apa, aku tahu kau masih belum bisa melupakan Yifan… Semua memang butuh proses dan kurasa inilah fase terberat yang harus kau lalui…" Gadis itu mengusap punggung tangan sahabatnya, seakan memberikan sedikit kekuatan. Zitao tersenyum miris, memang mudah mengatakan hal-hal yang bahkan tak pernah dirasakan langsung. Ia kembali mengaduk makanannya, merasakan nafsu makannya kembali hilang, ketika memorinya memaksa memutar penolakan yang Yifan lakukan terhadapnya.

" Aku minta maaf, anggap saja hal ini tidak pernah terjadi.."

Ia betul-betul ingin tertawa. Bagaimana ia melupakan kejadian itu, ketika hanya itulah satu-satunya pengingat akan rasanya dicintai oleh seseorang yang tak akan pernah dimiliki.

" Sepertinya aku hanya sedang tidak nafsu makan. Kau lanjutkan saja makannya Eonnie, aku ke kamar dulu…"

Gadis berwajah oriental itu meninggalkan Baekhyun yang masih sibuk mengunyah bulgogi favoritnya, membuat gadis berbadan mungil itu hanya mampu memandangi sosoknya yang berlalu begitu saja.

Zitao tak lagi mampu membendung airmatanya ketika ia menutup satu-satunya akses masuk ke dalam ruangan, tangannya langsung bergerak menutup getaran bibir kucingnya, tak ingin suara isakannya terdengar oleh siapapun.

Di sisi lain, Baekhyun terlihat menempelkan telinga di pintu kayu yang menjadi penghalang antara dirinya dan Zitao. Meskipun samar, ia masih dapat dengan jelas menangkap suara tangisan Zitao, yang rutin setiap malamnya, semenjak peristiwa mencengangkan itu terjadi. Ia dapat merasakan bagaimana kuatnya perasaan Zitao terhadap Yifan, yang tak lagi menampakan batang hidungnya. Sebagai perempuan, ia begitu paham mengenai perasaan Zitao, namun ia sadar ia tidak akan mampu berbuat banyak untuk menolong gadis itu keluar dari penderitaan batinnya.

Zitao mengusap lembut pipinya yang basah, airmata betul-betul menguras energinya. Meski begitu, ia cukup bahagia saat perasaannya sedikit lebih tenang sesaat setelah ia menumpahkan airmata. Tubuhnya lemas setelah terduduk sekian lama dilantai kamar. Baru saja ia akan melangkah berdiri, ketika kegelapan menyelimuti pandangannya, membuat tubuhnya limbung dan jatuh menyentuh permukaan lantai.

.

.

.

Chanyeol menyandarkan kepalanya ke dinding, matanya sesekali menangkap siluet manusia berlalu lalang dari kejauhan. Entah mengapa ruangan bercat putih ini membuatnya tak nyaman, ditambah para pekerja berbaju hijau dan putih yang begitu mengintimidasinya.

" Ini, minumlah dulu…"

Baekhyun menyodorkan sebotol air mineral, yang langsung disambut baik oleh sang tunangan. Tanpa basa-basi, Chanyeol meneguknya dengan satu kali kesempatan. Puas melepas dahaga, dirinya kembali disibukan dengan jutaan pikiran yang terus berkecamuk.

" Menurutmu, apa yang terjadi pada Zitao?" Baekhyun berusaha memancing reaksi kekasihnya yang sedari tadi hanya duduk terdiam, dengan wajah yang terus berfikir.

Seperti yang sudah ia duga, Chanyeol hanya terdiam. Pria bermarga Park itu betul-betul tak memiliki clue apapun mengenai penyakit Zitao, bagaimana kalau itu merupakan penyakit serius dan sudah berada di fase yang fatal? Oh, Tuhan, apa yang akan terjadi pada gadis malang itu?

" Kau tahu, aku rasa dia akan baik-baik saja. 4 tahun hidup sekamar dengannya membuatku mampu menyimpulkan bahwa dia adalah gadis yang kuat, optimis, dan pejuang yang unggul. Jadi kau tenang saja, ne?"

Ucapan Baekhyun sedikit membuat hati Chanyeol kembali berdegup sesuai ritme normal. Gadis itu benar, Zitao adalah gadis yang kuat, dia pasti hanya kelelahan sampai jatuh pingsan.

'CKLEK'

Seorang pria paruh baya menginvasi penglihatan pasangan Chanyeol dan Baekhyun. Ia nampak begitu berwibawa, dengan garis-garis halus diwajahnya. Senyumnya terkembang, memandangi satu persatu pasang mata didepannya.

" Anda sanak keluarga saudari Huang Zitao?"

" Saya saudaranya."

Pria muda itu menganggukan kepalanya mantap, menantikan informasi yang akan diungkap oleh pria berwenang yang kini bersiap mengatakan hasil pemeriksaannya.

" Saudari anda hanya kelelahan, sepertinya dia sedang stress akhir-akhir ini. Asupan makanannya perlu dijaga, supaya tidak terjadi hal yang tidak diinginkan, yang bisa menyebabkan janinnya terganggu…"

JANIN!

Chanyeol terlihat begitu terkejut. Wajahnya mendadak memucat, dan alisnya bertaut.

" M-maksud anda? Zitao?"

Menyadari perubahan warna muka laki-laki dihadapannya, Dokter berjas putih itu langsung menghentikan senyumnya yang sempat ia tampilkan.

" Ya, saudari Huang Zitao tengah mengandung 4 minggu. "

'GREP!'

"K-kau pasti salah. Katakan, bahwa yang kau katakan itu salah-" Entah apa yang merasuki fikiran Park Chanyeol, ketika kedua tangannya bergerak mencengkram pundak pria yang cukup terkejut dengan aksi nekatnya.

"Chanyeol, hentikan! Ini tidak akan mengubah kondisi Zitao yang sebenarnya"

Pria kurus itu langsung membiarkan dirinya jatuh, tangannya mengepal kuat, disampingnya gadis berwajah cantik dengan setia menenangkannya, memberikan sandaran untuk lelaki yang begitu dicintainya. Chanyeol membiarkan sentuhan lembut itu menyatu dengan hatinya yang berkecamuk. Apa yang akan terjadi dengan gadis itu selanjutnya? Bagaimana ia akan mengatakan pada orangtua Zitao yang notabene adalah paman dan bibinya sendiri? Beribu pertanyaan terperangkap dalam otaknya, membuatnya bergerak frustasi.

.

.

.

" Aku sudah mendengarnya."

Kedua pasang mata itu saling menatap, sebelum kembali fokus kepada ucapan gadis malang yang saat ini tengah menatap kosong. Baekhyun lah yang pertama menghampiri sosok yang kini terbaring lemah di ranjang berwarna serba putih.

" A-aku.." Zitao, gadis itu tak sanggup menyelesaikan kalimatnya, ketika keinginan untuk menangis terisak terasa begitu kuat. Dadanya ikut terguncang seiring dengan jatuhnya airmata yang sengaja ia tahan sejak pertama ia mendengar berita mengejutkan itu.

Chanyeol yang tak kuat melihat gadis itu kembali menyianyiakan tangisnya, bergegas meninggalkan ruangan. Hatinya memanas, ia betul-betul kalut, pikirannya hanya terfokus pada sosok Wu Yifan, yang saat ini mungkin tengah asyik memadu kasih dengan wanita-wanita bayarannya. Ia kembali kepada sifatnya yang terdahulu, jauh sebelum ia mengenal Yixing. Gadis itulah yang mengubahnya dan kini tak ada lagi alasan untuk dirinya menjauhi semua kenikmatan itu.

Chanyeol menggengam erat ponselnya, merapatkannya ke telinga, mendengarkan nada-nada yang begitu ia hapal, tepat sebelum sosok disebrang sana memberikan suara tanda keberadaannya.

" Kita perlu bicara! Katakan dimana kau saat ini, aku akan kesana."

TBC

Aduh, maaf banget yaaa buat temen-temen yang kebetulan udah baca chapter pertama. Jadi ceritanya, baru pertama kali post ff disini, dan yaa, seperti yang udah diliat juga, banyak banget kesalahan operasionalnya, harap dimaklumi yaa….

Rencananya ff ini bakal mencapai kira-kira belasan chapter sampe ke endingnya, dan update akan dilakukan seminggu sekali dengan terms and condition hehehe

Terimakasih yang sudah mau membaca ff ini, semoga hari kalian menyenangkan!