SACRIFICE
Cast : All member EXO
Genre : Romance, Fantasy
Rate : T / akan meningkat seiring jalannya cerita
Author: Kim Jong Soo 1214
Disclamer: Saya akui bahwa EXO itu cuma milik Tuhan YME, Orang tua, dan SM Ent. Saya cuma minjem nama doang untuk kepentingan cerita. Tidak ada plagiat sama sekali,karna fic ini murni dari hasil pemikiran author.
Warning : YAOI (boyxboy), Typo (s), alur gaje, abal.
Summary:
Inilah resikonya, mencintai sesorang yang membecimu. Terluka, adalah sebagian perjalanan yang harus kulalui. Apa yang harus aku lakukan? Menyerah atau menghancurkan hati banyak orang? Aku benci diriku yang seperti ini...
Kim Jong Soo 1214
Present
Preview
Kyungsoo masih tak bergeming ditempatnya. Pikiran-pikiran aneh mulai menjalar dikepalanya. Bagaimana bisa ia bertunangan dengan Jongin yang jelas-jelas membencinya? Apalagi mengetahui Jongin yang bersitegang dengan Kris. Bagaimana kalau Jongin akan menghancurkannya?
"Kenapa aku harus memiliki kekuatan sialan ini, Arrgghh!"
Chapter 2
"Raja Minho datang menemuimu?" tiba-tiba suara bash menyapa telinga Kyungsoo. Chanyeol, namja bertubuh layaknya tiang listrik mendekati Kyungsoo yang nampak frustasi. Jangan tanya dari mana Chanyeol tau tentang kedatangan Minho,tentu saja karena aura yang begitu kuat menguar disekitar rumah mereka. Yah, aura makluk aneh seperti mereka akan sangat terasa jika mereka berada didunia manusia. Itu sebabnya mereka akan mudah mengenali jenis makluk sejenis mereka. Berdeda ketika mereka berada didunia asli mereka, akan sangat sulit mendeteksi lawan maupun kawan karena adanya pembatas diatara mereka.
"Emh" hanya deheman yang menjawab pertanyaan Chanyeol. Namja dengan tinggi berlebih itu berjalan mendekati Kyungsoo yang masih duduk berdiam diri sambil mengusak pelan helaian rambutnya.
"Kau terlihat sangat frustasi?" Chanyeol mulai mendudukan dirinya disebelah Kyungsoo.
"Aku yakin kau tau. Perlukah aku menceritakan ulang padamu?" jawab Kyungsoo ketus
"Hei, kau tidak perlu marah seperti itu. Bukankah ini yang kau inginkan?" tanya Chanyeol sekenanya. Tangannya mulai mengambil toples berisi cemilan diatas meja didepannya. Kyungsoo mendelik mendengar perkataan Chanyeol.
"Yak! Apa kau bilang?" satu pukulan tepat dikepala Chanyeol. Kalian masih ingat 'kan Kyungsoo itu makluk apa? Maka satu pukulan akan sangat berefek. Dan itu yang tengah dirasakan Chanyeol. Meringis dengan mengelus kepalanya yang serasa berdenyut.
"Bisakah kau menghilangkan kebiasaan memukulmu?" Chanyeol memandang Kyungsoo horor
"Ini bukan kemauanku Chanyeol. Dan aku tidak mau cara yang seperti ini" ucap Kyungsoo sendu. Entahlah, melihat Kyungsoo seperti itu membuat Chanyeol merasa terusik. Bagaimanapun juga, Chanyeol tidak suka melihat Kyungsoo-nya menekuk wajah seperti itu.
"Ternyata seorang Putra Mahkota bisa bersedih juga" goda Chanyeol dan sukss membuat Kyungsoo mendengus sebal.
"Kau mau aku pukul lagi?" satu gertakan dan berhasil membuat Chanyeol meringis, menampakkan wajah konyolnya.
.
.
.
"Aku tidak setuju!" perkataan tegas dari namja berkulit tan itu mampu membuat Joonmyun mendengus dan menghela nafas panjang. Dia sangat hafal dengan sifat Putra Mahkota-nya yang satu ini.
"Apapun perkataanmu itu tidak akan berpengaruh, Jongin. Ini adalah keputusan antara dua Negeri dan untuk kebaikan rakyat. Lagipula ini sudah disetujui oleh para petinggi kedua Negeri" jawab Joonmyun tegas. Wajah tampan dengan raut tegas dan berwibawa itu selalu berhasil membuat Jongin tak berkutik. Bukannya Jongin tak bisa melawan, kalian tentu ingat bahwa kekuatan Jongin sedang ditahan oleh Joonmyun bukan?"
"Ini sama saja memanfaatkanku dan dia, Appa! Masa bodoh dengan rakyat, aku tidak setuju!" jawab Jongin tegas. Tapi itu tak membuat Joonmyun takut. Hanya gertakan bawang dari anak bandel yang berpura-pura kuat? Haahh...tidak mempan.
"Maka kekuatanmu tidak kau dapatkan selamanya!" Skakmat! Jongin mendelik mendengar perkataan Appa-nya itu. Bagaimana mungkin seorang Putra Mahkota calon penerus Negeri Ord tidak memiliki kekuatan? Ini bencana besar.
"3 hari lagi akan dilaksanakan pertunanganmu dengan Kyungsoo. Baekhyun akan menjemput dan mengantarkanmu ke Negeri Ord jika saatnya tiba" maka perkataan Joonmyun adalah mutlak. Jongin tidak bisa melawan kali ini.
Kabut dengan warna merah sedikit abu-abu itu segera membungkus tubuh Joonmyun ketika Sang Raja Ord mengibaskan Jubahnya. Membawa tubuhnya menghilang bersama kabut itu.
Jongin berteriak sekencang yang ia bisa hingga bulu-bulu halus berwarna coklat mulai membungkus kedua lengannya. Matanya yang semula hitam kecoklatan, sekarang berubah menjadi merah dengan kilatan bening.
"Kau tidak akan bisa merubah takdirmu meski kau melakukan itu!" tiba-tiba sesosok tinggi dengan kulit pucat susu datang menghampiri Jongin. Membuat Jongin menoleh dengan tatapan penuh amarah. Bagaimana tidak, si anak bawang ini selalu saja datang disaat yang tidak tepat.
"Mau apa kau,Sehun?" tanya Jongin dingin. Bulu-bulu halus itu mulai menghilang, Namun matanya masih belum berubah.
"Aku siap menggantikanmu kalau kau tidak mau bertunangan dengan Kyungsoo" Sehun berkata dengan entengnya, seolah masalah kedua Negeri ini adalah lahan bermainnya.
"Kau menyukainya?" Jongin bertanya sambil menyeringai. Sangat jelas. Sehun hanya tersenyum meremehkan.
"Hanya orang bodoh yang tidak menyukainya!" Sehun berjalan menjauhi Jongin. Sialan! Apa maksud bocah itu? Membuat Jongin semakin frustasi saja.
.
.
.
"Bagaimana, Appa?" Kris, Putra Mahkota sekaligus calon pemimpin Negeri Zrash itu bertanya saat melihat Minho yang baru saja memasuki Kastil kerajaannya. Dengan langkah mantab Minho berjalan menuju ruang pertemuan diikuti Kris dan Tao dibelakangnya, masih berharap jawaban dari Minho.
Jangan heran bagaimana Kris bisa dengan mudah berada didunia manusia dan didunia makluknya, setiap calon penerus memiliki kekuatan lebih untuk itu. Hal itu disebabkan karena sang calon penerus tahta harus selalu sigap dengan segala kondisi yang tiba-tiba menyudutkan mereka di Kerajaan setiap saat. Dan itu juga berlaku untuk Jongin.
"Tentu saja adikmu yang manis tidak akan menolak" jawab Minho masih dengan langkah tegapnya. Senyum tipis menghiasi wajah tampannya. Sungguh jawaban itu sebenarnya sangat membuat Kris merasa bersalah. Bagaimana tidak, adik kesayangannya akan ditunangakan dengan namja brengsek yang selama ini menjadi musuh dalam selimutnya.
"Apakah Appa yakin akan melakukan ini?" tanya Kris dengan perasaan campur aduk. Tentu saja. Ini adalah masalah kedua Negeri, dan Kyungsoo yang harus menjadi 'tumbal' dalam permasalahan ini. Yang benar saja?
Minho menghentikan langkahnya. Membalikkan tubuhnya hingga kini menghadap Kris. Mata Minho menatap lekat mata tegas Kris.
"Kita harus melakukannya Kris. Kau tau kan apa yang akan terjadi jika ini sampai gagal? Rakyat akan berpihak pada Siwon, dan kedua Negeri, ah bahkan ketiga Negeri ini akan hancur" jawab Minho mantab. Mata kelamnya tidak dapat menyembunyikan bagaimana raut kekhawatiran disana.
Yah, Kris tau benar masalah apa yang sekarang terjadi. Rakyat butuh kekuatan dari Kyungsoo. Kyungsoo adalah kehidupan. Tanpa kekuatan Kyungsoo, maka tanah tempat mereka berpijak akan mati. Rakyat akan berpindah dari kedua Negeri itu, dan berpihak pada Siwon, Raja dari Negeri kegelapan, yang tentu saja akan menghabisi kedua Negeri yang selama ini memang memiliki 'sedikit' perselisihan dengan tujuan memperluas daerah kekuasaannya.
"Aku tidak bisa merelakan Kyungsoo begitu saja, Appa" kata Kris dengan raut muka sendu. Minho tau, seberapapun dinginnya Kris, seberapapun angkuhnya Kris, seberapapun tegasnya Kris, dia akan luluh dengan Kyungsoo, adik yang sangat Ia jaga dan sayangi selama ini.
"Kyungsoo akan baik-baik saja bersama Jongin, Kris. Percayalah" Minho menepuk pelan bahu Putra pertamanya itu. Memberikan senyuman hangat seorang ayah pada anaknya. Kris hanya mengangguk, berusaha mempercayai kata-kata Appa-nya.
.
.
.
"Kyung..!" sebuah panggilan menyapa indra pendengarannya. Membuat Kyungsoo menghentikan langkahnya secara paksa. Oh ayolah, ini masih terlalu pagi untuk berdebat dengan si telinga dobby. Bahkan Kyungsoo masih belum sampai dikelasnya.
"Yak! Kenapa kau meninggalkanku" sangat terlihat bagaimana Chanyeol-namja telinga dobby kesulitan mengatur nafasnya. Kyungsoo yakin Chanyeol sehabis marathon dari rumahnya kesekolah.
"Karena kau sangat lambat, dobby" jawab Kyungsoo sekenanya.
"Aku sudah bangun dan bersiap secepat yang aku bisa. Kau tega sekali" Chanyeol memainkan nada manjanya. Sedangkan Kyungsoo memutar bola matanya malas
"Kau bahkan masih akan pergi mandi saat aku sudah selesai sarapan" Kyungsoo mulai melangkahkan kaki mungilnya lagi menuju kelasnya.
"Itu karena kau tidak membangunkanku" protes Chanyeol sambil mengekor Kyungsoo dari belakang.
"Lagi pula kau bisa menggunakan bus atau kemampuan terbangmu itu tanpa perlu berlari, bodoh" Kyungsoo benar-benar jengah jika harus berdebat dengan si telinga dobby ini.
"Apa kau baru saja mengataiku bodoh?" Chanyeol merangkul paksa tubuh mungil Kyungsoo sehingga Kyungsoo meringis menopang berat lengah Chanyeol. Kyungsoo menoleh kearah Chanyeol yang sudah memberikan senyum sejuta watt-nya. Baru saja akan melayangkan sumpah serapahnya, tiba-tiba saja lengan Chanyeol terlepas begitu saja.
"Yak! Kau menyakitinya!" gerutu Sehun sambil memberikan deathglare pada Chanyeol. Setelah lengah Chanyeol tidak lagi merangkul Kyungsoo, sekarang giliran Sehun yang merangkulkan lengannya pada Kyungsoo. Kyungsoo memutar bola matanya jengah.
"Hah...benar-benar anak bawang. Kau menggangguku!" Chanyeol menggerutu. Sedangkan Sehun hanya mengedikkan bahunya acuh.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata menangkap kegiatan mereka. Sedikit berdecih kemudian berlalu pergi. Namun langkahnya terhenti saat sesosok tubuh mungil dengan mata rusa berdiri tepat didepannya. Menampilkan senyum manisnya.
"Luhan" sedikit kaget dengan kehadiran namja manis itu. Bagaimana tidak, sejak kapan Luhan berdiri disana? Apa dia melihat acara mengintipnya?
"Selamat pagi, Jongin" sapa Luhan dengan senyum manisnya. Membuat Jongin melengkungkan sudut bibirnya membentuk sebuah senyuman yang menawan. Bagaimana Luhan tidak akan terperangkap pada pesona Jongin jika wajah tampan dan mempesonanya selalu menebar senyum untuknya? Ya, hanya untuk Luhan.
"Apa yang kau lakukan disana, Jongin?" tanya Luhan polos. Oh, aku belum mengatakan bahwa Luhan adalah seorang manusi? Ya, dia adalah satu-satunya manusia yang berani mendekati Jongin. Aura dingin dan berbeda dari Jongin sama sekali tidak membuat Luhat ketakutan. Awalnya Jongin enggan berteman dengan Luhan,mengingat perbedaan diantara mereka. Namun seiring berjalannya waktu, Luhan bisa memberikan sesuatu yang berbeda pada diri Jongin. Seperti sebuah tempat bersandar. Yah, itu adalah ungkapan yang tepat bagi namja yang memiliki koneksi minim seperti Jongin.
"Tidak ada" Jongin melangkah mendekati Luhan. Mata tajamnya menatap lekat kepada dua manik mata rusa milik Luhan. Ada desiran halus yang mengganggu diri Luhan. Sensasi yang sangat dia suka. Bagaimana mata tajam Jongin seolah berkata bahwa dia menginginkannya. Jongin semakin mendekat membuat tubuh Luhan seolah kaku. Nafas hangat Jongin menyapa wajah cantik Luhan. Tanpa disadari tangan kanan Jongin telah melingkar pada pinggang ramping Luhan. Mendekatkan wajahnya hingga sedikit jarak diantara mereka. Wajah Luhan menegang. Jantungnya memompa dua kali lebih cepat.
Luhan dapat melihat kepala Jongin yang sedikit dimiringkan, mengatur posisi untuk menciumnya. Luhan memejamkan matanya. Sedikit lagi...
"Apa yang kau lakukan, brengsek!"
Bugh...!
Satu bogeman mendarat mulus pada pipi Jongin. Jongin limbung hingga tubuhnya tersungkur kelantai lorong sekolah itu. Sedangkan Luhan menatap tak percaya adegan yang baru saja terjadi.
"Kris" Luhan menatap Kris seolah bertanya -apa yang kau lakukan?-
Kris menghiraukan tatapan Luhan. Mata tajamnya menatap nyalang Jongin yang masih sibuk mengusap sudut bibirnya yang sobek. Sedikit darah keluar dari sudut bibirnya. Raut marah terlihat jelas diwajah tampan Kris. Bagaimana bisa Jongin bermesraan dengan Luhan setelah dia tau akan bertunangan dengan adiknya? Ini gila!
"Bagus, sepertinya kalian memiliki hobi yang sama. Kemarin aku juga baru mendapatkan satu pukulan dari Kyungsoo, dan sekarang kau" Jongin berusaha bangkit dan memandang dingin Kris.
"Itu karena kau pantas mendapatkannya!" geram Kris.
"Kau membela penghianat itu? Baik sekali" Jongin mengatakan dengan seringaian dan nada mengejek, membuat Kris menggenggam tangannya erat hingga otot-otot lengannya terlihat jelas
Luhan yang mengerti keadaan ini pun segera menengahi mereka. Menarik tangan Kris yang bersiap akan memukul Jongin lagi. Sebenarnya Kris ingin membalas perkataan Jongin yang selalu merendahkan adik kesayangannya itu, hanya saja otaknya masih dapat berpikir normal. Tidak mungkin dia menghancurkan masa 'petualangannya' dibumi hanya karena meremukkan namja kurang ajar didepannya ini.
Kris memejamkan matanya sebentar. Menghela nafas untuk mengatur emosinya. Jangan sampai Minho mengetahui jika dia dan Jongin beradu kekuatan hanya karena masalah sepele. Kris membuka mata dan menemukan Jongin dengan raut muka yang masih dingin dengan seringaian dibibirnya.
"Kau akan menjalani masa terpenting dalam hidupmu. Mulailah belajar mengatur otakmu jika kau tidak ingin berakhir tragis" ucap Kris. Nada dingin disetiap kalimat itu sanggup membuat Luhan bingung dengan situasi yang mereka ciptakan.
Mata Jongin menatap Kris sekilas. Sangat jelas bagaimana Kris menatapnya dengan intens dan penuh amarah. Kris memutus kontak mata yang cukup menegangkan bagi Luhan. Lalu Kris memilih berjalan meninggalkan Jongin dengan menarik lengan Luhan. Membuat nama manis itu tidak bisa berbuat apa-apa kecuali mengikuti Kris. Yah, Luhan adalah namja yang disukai Jongin sekaligus disukai Kris. Kalian bingung? Bagimana bisa seorang manusia biasa disukai kedua Putra Mahkota dari Negeri yang berada diatas awan? Jawabannya adalah, karena Luhan memiliki sesuatu yang disebut dengan kehangatan.
"Sebaiknya kau menjauhin Jongin, Lu" Kris membuka percakapan mereka ketika mereka telah sampai di taman belakang sekolah.
"Kenapa? Jongin orang baik" jawab Luhan polos. Kris menatap mata Luhan. Membuat Luhan sedikit ngeri. Karena ini adalah pandangan pertama Kris yang begitu dingin baginya. Biasanya Kris akan bersikap manis padanya, seperti halnya Jongin.
"Aku tidak mau kau berada dalam kesulitan jika kau terus bersama Jongin" jawab Kris datar namun memiliki arti yang dalam. Tunggu, apa maksudnya ini? Atas dasar apa Kris menyuruh Luhan menjauhi Jongin? Tentu saja ini demi Kyungsoo, dan menghindarkan Luhan dari suatu hal yang buruk. Kalian ingat Siwon bukan? Bukan tidak mungkin Siwon juga akan menyerang Luhan.
.
.
.
Kastil dengan nuansa klasik dengan cat berwarna gold dan merah itu menggambarkan betapa mewah dan megah Kerajaan Ord. Pilar-pilar besar yang menopang setiap sudut ruangan menambah kesan kokoh pada bangunan itu. Disana, disalah satu ruangan luas telah berkumpul Raja dari Ketiga Kerajaan dari Negeri diatas awan. Raja Minho, Raja Joonmyun, dan Raja Ryewook dari Kerajaan Xiand. Beserta para petinggi dan tentu saja Ketiga Putra mahkota utama.
Kris duduk bersebelahan dengan Raja Minho, Jongin duduk disamping Raja Joonmyun, dan Chanyeol duduk disebelah Raja Ryewook.
Saat ini mereka tengah membahas perihal pertunangan yang akan dilaksanakan besok. Sebenarnya Jongin sama sekali tidak tertarik dengan hal konyol seperti ini, namun Jongin terpaksa mengikutinya mengingat posisinya sebagai topik utama pembahasan ini. Sedangkan Kyungsoo? Dia tidak diwajibkan hadir karena Kyungsoo akan menjadi pihak pengantin yang akan dipinang.
Terlihat bagaimana Ketiga Raja itu sedang mendiskusikan perihal apa saja yang akan menjadi pokok acara ini. Bagaimana Yixing, sang petinggi dari Kerajaan Negeri Zrash, Minseok petinggi dari Kerajaan Negeri Ord, dan Jongdae petinggi dari Kerajaan Negeri Xiand sedang berdebat mengenai persiapan dan apa saja hal yang harus dilakukan. Mulai dari pertahanan dan keamanan masing-masing Kerajaan, dan juga keselamatan Jongin dan Kyungsoo saat pertunangan itu akan dilangsungkan. Sedikit berlebihan memang, namun mengingat bagaimana liciknya Siwon, mau tidak mau mereka memikirkan segala macam urusan dengan sangat detil dan teliti.
Sementara itu para calon Putra Mahkota terdiam dengan pikiran masing-masing. Kris dengan pikiran berkecamuk dihatinya. Memikirkan adik kesayangannya yang harus Ia relakan untuk menjadi milik Jongin, namja brengsek yang mengganggu hubungannya dengan Luhan. Bagaimana bisa ini terjadi, yang akan menjadi calon Raja adalah Kris kenapa Kyungsoo yang harus berkorban? Belum lagi resiko jika Siwon, Raja dari kerajaan kegelapan tau jika Kyungsoo dan Jongin akan bertunangan, pasti dia tidak akan tinggal diam. Kris tau benar bagaimana sosok Siwon. Dia akan melakukan segala macam hal licik untuk mendapatkan apa yang Ia mau. Tidak menutup kemungkinan dia akan membunuh Kyungsoo agar rencana besar kedua Kerajaan ini gagal.
.
.
.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" suara Sehun mengagetkan Kyungsoo yang sedang duduk termenung disebuah taman tak jauh dari rumahnya. Yah, namja bermata bulat itu tengah merasa kesepian. Chanyeol yang biasa mengganggunya ketika dirumah, tiba-tiba saja menghilang. Dan Kris yang selalu memberi kabar dan menanyakan segala hal tentangnya juga telah menghilang. Jadi disinilah Ia sekarang, termenung sendiri sebelum suara berat itu datang menyapa telinganya.
"Sehun?" Kyungsoo menatap Sehun dengan rasa kaget. Bagaimana bisa anak ini selalu tau dimana Ia berada? Ah, Kyungsoo hampir lupa kalu Sehun adalah makluk yang sama dengannya.
"Kau tidak usah terlalu memikirkannya" raut wajah dingin namun tampan itu selalu mengerti apa yang sedang berputar diotak Kyungsoo.
"Bagaimana bisa aku tidak memikirkannya, Sehun. Ini tentang masa depan ku dan kedua Negeri itu" jawab Kyungsoo masih diposisinya. Duduk diam dengan pandangan lurus kedepan. Sehun memposisikan dirinya untuk duduk disebelah Kyungsoo. Menyilangkan kaki dan melipat tangannya didepan dada.
"Kau tidak usah khawatir, ada aku yang akan selalu melindungimu" Sehun memang memiliki pikiran yang sulit ditebak. Dengan nada dinginnya ini, bagaimana bisa Sehun menjanjikan suatu hal yang bahkan Kyungsoo sendiri ragu akan mempercayainya atau tidak.
"Aku tidak yakin" Kyungsoo memiringkan kepalanya menghadap Sehun. Melihat bagaimana bibir sehun menyunggingkan seulas senyum. Apa? Sehun tersenyum? Sejak kapan namja es ini bisa tersenyum? Bahkan sifatnya tidak jauh berbeda dengan Jongin. Yah, meski harus Kyungsoo akui Sehun sedikit lebih hangat dari Jongin.
"Percayalah padaku" hanya dua kata itu yang akhirnya keluar dari bibi Sehun. Kyungsoo hanya mengangguk. Mata Kyungsoo masih tak beralih dari Sehun untuk beberapa saat. Sehun mengetahui bahwa Kyungsoo sedang memperhatikannya, namun Ia pura-pura tidak melihatnya.
"Sehun" panggil Kyungsoo setelah beberapa saat terdiam dengan posisi yang masih belum berubah.
"Emm" satu deheman menjawab pertanyaan Kyungsoo
"Bukankah Jongin hyungmu? Kenapa kau seperti bermusuhan dengannya?" Kyungsoo mengangkat satu alisnya, pertanda Ia sangat ingin mendapat jawaban dari Sehun atas pertanyaannya itu.
"Itu terjadi sejak aku mengetahui bahwa kau..." ucapan Sehun menggantung, membuat Kyungsoo semakin penasaran.
"Ada apa Sehun? Aku kenapa?" tanya Kyungsoo lagi
"Sudahlah, itu sudah lama" jawab Sehun singkat
Haahh...seandainya saja Kyungsoo tau bahwa Sehun bermusuhan dengan Jongin karena dirinya? Sejak Sehun tau bahwa Jongin akan ditunangakan dengan Kyungsoo beberapa tahun lalu. Seberapapun Sehun menyembunyikan rasa kecewanya terhadap Appa dan Jongin, itu tidak akan merubah statusnya sebagai Putra Mahkota kedua, dan tentu saja Sehun tidak akan pernah bisa menikahi Kyungsoo.
.
.
.
"Aku dengar Putra Mahkota Kerajaan Ord akan menikah dengan Putra Kedua Kerajaan Zrash. Benar begitu?" Siwon, duduk dengan angkuhnya di Singgahsananya. Menatap tajam pada Kyuhyun, tangan kanan kepercayaan Siwon.
"Benar, Raja" jawab Kyuhyun penuh hormat.
"Bagus. Ini berita besar" Seringaian licik terpasang pada wajah tampannya.
"Bagaimana dengan rencana awal kita, Raja?" tanya Kyuhyun seolah mengingatkan Siwon akan rencana licik yang telah lama mereka persiapkan.
"Jangan lakukan sekarang. Kita tunggu saat yang tepat" jawab Siwon mantap, seringaian tak lepas dari bibirnya. Kyuhyun hanya mengangguk mengerti.
.
.
.
"Hyung, kau kemana saja? Aku menunggumu" ucap Kyungsoo setelah mendapati Kris memasuki apartemennya.
"Astaga Kyungsoo, kau mengagetkanku" jawab Kris sambil memegangi dadanya. Kyungsoo cekikikan melihat ekspresi hyung-nya itu.
"Kau lucu hyung. Bagaimana bisa kau sekaget itu? Apa auraku tidak terbaca olehmu?" celetuk Kyungsoo masih dengan cengiran manis diwajahnya. Tunggu, benar kata Kyungsoo. Bagaimana bisa aura Kyungsoo tidak terbaca olehnya?
"Ahh...aku hanya sedang ada urusan tadi" jawab Kris singkat mencoba menetralkan pikiran-pikiran anehnya. Mungkin saja aura Kyungsoo tidak terbaca karena Kris terlalu kelelahan. Yah, mungkin saja.
Kris mulai melangkahkan kakinya menuju dapur. Menuangkan air putih dan meminumnya. Kyungsoo memperhatikan setiap gerakan Kris dengan seksama. Kris tau, jika Kyungsoo sudah begini, itu berarti ada yang sedang Ia tanyakan pada Kris.
"Hyung, bagaimana keadaan Kerajaan?"
Benarkan? Baru saja Kris membatin, dan sekarang sudah tertebak.
"Semuanya baik. Wae?" Kris meletakkan gelasnya lalu duduk disalah satu kursi didekat meja makan. Kyungsoo pun menyamakan duduk disana. Berseberangan dengan Kris.
"Apa mereka akan benar-benar melakukan ini?" wajah Kyungsoo berubah sendu. Oh, sungguh Kris tidak bisa melihat adiknya seperti ini.
"Semuanya akan baik-baik saja Kyungsoo. Percaya pada hyung" senyuman dari Kris seolah memberi kekuatan pada Kyungsoo. Kyungsoo mengangguk. Yah, hal itu sama seperti yang dilakukan oleh Sehun beberapa saat yang lalu.
"Hyung, sebenarnya bagaimana bisa kekuatanku menjadi kunci kedamaian? Bukankah itu mustahil. Kekuatanku tidak sebesar punyamu, dan sebenarnya apa yang mereka inginkan dariku?" tanya Kyungsoo penasaran.
"Semuanya adalah takdir Kyungsoo. Kerajaan tidak akan pernah ada jika tidak ada kehidupan. Kekuatanmu adalah sumber dari segala nyawa dari tanah yang kami pijak. Ord sedang mengalami krisis nyawa sekarang, dan Appa mengambil kesempatan ini untuk berdamai dengan Kerajaan Ord. Kau tau bukan, ika Siwon tidak akan tinggal diam jika melihat kedua Kerajaan melemah?" Kris mencoba menjelaskan dengan sangat hati-hati pada Kyungsoo.
"Tapi hyung, kenapa harus Jongin?" Kyungsoo mengucapkan dengan nada putus asa.
"Percayalah, bahwa dia yang terbaik Kyungsoo" Kris kembali tersenyum.
Hah, apanya yang terbaik? Namja tengil macam Jongin akan menjadi suami Kyungsoo? dia yang setiap hari menghinanya. Bagaimana bisa mereka bersatu untuk menyelamatkan Negeri mereka?
"Kau mau menginap?" tanya Kris memecah lamunan Kyungsoo.
"Bolehkah? Aku sedang tidak ingin berdebat dengan Chanyeol" Kris terkekeh mendengar perkataan adiknya itu.
"Baiklah. Akan aku siapkan kamarmu" jawab Kris singkat dan berlalu menginggalkan Kyungsoo sendiri dengan segala macam pikirannya. Andai saja Jongin tidak selalu bersikap seperti itu, maka Kyungsoo tidak akan pernah ragu untuk menyetujui rencana konyol ini.
.
.
.
"Aku ingin berbicara denganmu" tiba-tiba saja suara tegas dari namja tan itu mengagetkan Kyungsoo. Bukan hanya Kyungsoo, Chanyeol dan Sehun yang bersamanya pun menoleh. Baiklah, tatapan dingin dari Jongin berhasil membuat ketiga namja itu berkelut dengan pemikiran mereka masing-masing. Jam istirahat masih berlangsung 10 menit, itu tandanya masih ada sekitar 20 menit lagi untuk Jongin berbicara dengan Kyungsoo.
"Ada perlu apa?" tanya Kyungsoo tak kalah dingin. Chanyeol dan Sehun hanya bisa menatap adegan ini dengan pandangan seolah berkata –ada apa dengan mereka?-
"Ikuti aku" dan Jongin berlalu setelah berkata seperti itu. Mau tidak mau Kyungsoo melangkahkan kaki mungilnya berjalan mengikuti Jongin. Dan disinilah mereka sekarang. Diatap gedung sekolah,tempat dimana biasanya Jongin menghabiskan waktunya dengan Luhan.
Kyungsoo mengedarkan pandangannya keseluruh sudut atap gedung. Seolah mencari keberadaan Luhan.
"Dia tidak ada disini. Ini urusan kau dan aku" perkataan Jongin membuat Kyungsoo tak berkutik. Bagaimana bisa Jongin menebak isi pikirannya. Kyungsoo heran, apa sekarang banyak orang yang merubah profesi sebagai pembaca pikiran?
Mata bulat Kyungsoo menajam begitu bertemu pandang dengan Jongin. Begitu juga dengan Jongin, mata kelamnya seolah menelanjangi Kyungsoo, dan Kyungsoo tidak suka itu.
"Apa maumu?" tanya Kyungsoo akhirnya. Tanpa merubah ekspresi wajah dinginnya saat menatap Jongin.
"Sebenarnya aku tidak setuju dengan rencana konyol itu. Mereka terus mendesakku" Jongin berkata dingin. Mata kelamnya masih tak beralih pada mata Kyungsoo.
"Lalu?"
Jongin berdecih. Memamerkan seringaian dibibirnya.
"Aku yakin kau juga pasti tidak setuju" lanjut Jongin
"Benar. Sangat tidak setuju" jawab Kyungsoo mantab tanpa merubah ekspresinya. Jongin mendekatkan wajahnya pada Kyungsoo. Sedikit menundukkan kepalanya untuk menyamakan tinggi badannya dengan Kyungsoo.
"Batalkan ini semua"
Blaarr...bagaikan disambar petir, Kyungsoo membulatkan matanya tak percaya. Yang benar saja? Bagaimana bisa Jongin memiliki pemikiran bodoh seperti itu?
"Apa maksudmu?" tanya Kyungsoo kaget. Jongin menyeringai. Senyum meremehkan.
"Karena aku menyukai orang lain" jawabnya enteng seolah tak memiliki beban dengan perkataan tak masuk akalnya.
"Apa kau sudak tidak punya otak? Ini bukan hanya masalah hati,bodoh! Ini masalah kedua Negara!" Kyungsoo mulai tersulut emosi. Yang benar saja, apa dia kira ini adalah masalah main-main? Seenaknya saja berkata seperti itu tanpa berpikir.
"Kau hanya perlu berkata pada Appa-mu, bodoh! Masalah ini tidak akan separah yang mereka katakan" kilatan mata Jongin mulai berubah merah. Bulu-bulu halus sudah mulai menjalar disetiap sisi lengannya.
"Kurasa kau memang sudah tidak waras! Hanya karena Luhan kau bisa bertindak konyol seperti ini" Kyungsoo mencoba menahan amarahnya, berusaha tidak tersulut emosi dan merubah warna matanya seperti Jongin karena dia tidak akan bisa mengontrol dirinya.
"Kenapa? Apa kau mencintaiku?" Jongin menatap remeh Kyungsoo dengan seringaian dibibirnya. Kyungsoo terdiam dengan pertanyaan Jongin yang seolah mengoyak hatinya. Mata keduanya masih tidak terlepas. Masih beradu pandang dengan segala argumen yang berputar diotak mereka masing-masing.
"Aku tidak bisa menentang permintaan Appa" jawab Kyungsoo singkat. Dan tentu saja itu membuat emosi Jongin meningkat. Secepat kilat tangan kokohnya mencengkeram leher putih Kyungsoo. mendorong tubuh mungil Kyungsoo hingga menatap pagar pembatas atap gedung itu. Kuku-kuku tajam Jongin yang telah berubah menjadi lebih panjang seperti merobek sisi kulit Kyungsoo. Kyungsoo meringis merasakan darah segar megalir membasahi lehernya hingga keseragamnya. Jongin menyeringai melihat bagaimana ekspresi Kyungsoo.
"Sepertinya kau benar-benar menyukaiku, eoh?" pertanyaan itu dibenarkan Kyungsoo. Namun hanya dalam hatinya. Kyungsoo menatap mata Jongin yang berkilat seolah memojokkan Kyungsoo. Kyungsoo berusaha sekuat tenaga menahan air matanya yang seolah ingin mendrobrak pertahanannya selama ini. Masih sulit untuknya menerima ini semua. Bagaimana bisa orang yang disukainya berlaku kasar padanya? Bahkan sekarang ia melukai Kyungsoo.
"JONGIN! APA YANG KAU LAKUKAN, BRENGSEK!" Satu tendangan berhasil membuat tubuh Jongin terpental. Tidak jauh, tapi cukup membuat tubuh Jongin merasa seolah diremukkan benda keras.
Dengan cepat Sehun dan Chanyeol mendekat kearah Kyungsoo yang telah terduduk lemas ditempatnya. Sehun membelalakkan matanya, emosinya memuncak ketika melihat bagaimana leher Kyungsoo terkoyak dan menimbulkan banyak darah keluar dari leher putih itu.
Sehun berbalik menatap Jongin yang sekarang berdiri dengan angkuhnya. Memamerkan senyum remeh pada Sehun.
"Tendanganmu lumayan" kata Jongin masih dengan ekspresi dinginnya.
"Brengsek kau, Jongin!" dan Sehun tidak bisa menahan amarahnya lagi. Ia mencoba menendang perut Jongin, dan berhasil. Kali ini tendangan Sehun cukup kuat sehingga membuat Jongin terpental sedikit lebih jauh. Jongin menyeringai. Dia kembali berdiri dan bersiap menyerang Sehun. Bulu-bulu halus yang tadi mengelilingi lengannya, kini telah menjalar disebagian tubuhnya. Sehun sama sekali tidak gentar dengan perubahan Jongin. Sehun juga segera merubah dirinya. Bulu-bulu halus berwarna abu-abu memenuhi lengannya. Mata coklatnya berubah menjadi kuning cerah. Memperlihatkan kilatan yang sama dengan Jongin. Jongin menyeringai.
Chanyeol yang menyadari hal itu merasa bingung sekarang. Bagaimana bisa kedua bersaudara itu malah berkelahi sedangkan Kyungsoo sedang sekarat sekarang.
"Apa kalian bodoh,eoh? Turunkan ego kalian. Kyungsoo sedang sekarat!" teriakan Chanyeol berhasil membuat kedua namja bersaudara itu menolehkan pandangannya.
Sehun mendapati Chanyeol yang sedang memangku Kyungsoo. menopang kepalanya dengan mata yang sudah terpejam. Darah tak juga berhenti mengalir dari leher putih itu. Oh, ini gawat. Ternyata Jongin melukai urat nadi Kyungsoo hingga terputus.
"Kyungsoo!" Sehun segera berlari menghampiri Chanyeol dan Kyungsoo. Bulu-bulu halus yang tadi berada disekujur tubuh Sehun-pun menghilang secara tiba-tiba. Terlihat raut khawatir dimata Sehun. Sedangkan Jongin diam terpaku ditempatnya. Seolah sendi-sendinya menjadi kelu seketika mendapati keadaan Kyungsoo yang sangat buruk. Darah tak hentinya menetes dari lehernya. Bibir yang biasanya merah merekah, kini pucat seperti orang mati.
"Apa yang harus kita lakukan?!" tanya Sehun gugup.
"Lebih baik kita bawa ke Zrash" usul Chanyeol.
"Itu tidak mungkin. Kyungsoo bisa mati sebelum kita sampai disana!" Sehun sangat gugup sekarang. Tanpa sadar Jongin meneteskan air matanya. Oh ayolah, namja macam apa yang berani-beraninya mencelakai calon istrinya.
Brakk!
Tiba-tiba pintu atap gedung ditendang sekuat tenaga oleh seorang namja dengan perawakan tinggi. Mata elangnya mendapati sesosok yang sangat ia sayangi tengah tergeletak lemah. Kaki panjang namja yang tak lain adalah Kris itu ia arahkan mendekati Kyungsoo. Wajah tampannya menyiratkan kekhawatiran begitu melihat keadaan adik kesayangannya. Mata tajamnya menoleh pada Jongin sepintas, lalu kembali menatap Kyungsoo. Tangan kekarnya Ia arahkan untuk mengangkat tubuh mungil adiknya yang telah tak berdaya itu. Membawanya menjauh untuk segera diobati sebelum terlambat. Sehun dan Chanyeol segera mengekor Kris. Sebelumnya Sehun berhenti tepat didepan Jongin dan menatap Jongin tajam.
"Aku akan membunuhmu ika sesuatu terjadi pada Kyungsoo!" setelah kalimat itu terucap, Sehun segera pergi dari sana meninggalkan Jongin sendiri dengan tatapan kosongnya. Jongin menatap sekilas pada tangannya yang telah berlumuran darah. Tatapannya kosong. Tangannya ia arahkan kedada kirinya. Tiba-tiba saja Jongin merasa ada yang aneh pada dadanya.
TBC
Huuft... *ElapKeringet
Saya gak pernah bikin adegan yang berdarah-darah sebelumnya, dan sekarang karena tuntutan cerita jadi berusaha sekuat tenaga untuk gak muntah *Plak
Jujur aja, saya paling ngeri sama yang berdarah-darah. Khekhe...
Okelah, Chap duanya sudah hadir. Selamat menikmati, ne?
Saya akan usahakan chap selanjutnya update cepet
REVIEW untuk kritik dan saran yang membangun saya tampung dengan senang hati. Terimakasih untuk readers yang maksain baca Fic abal saya. Karena saya masih baru jadi masih butuh bimbingan dan dukungan.
Oiya, saya udah bikin Fic special Kaisoo Day, tapi dipublisnya ntar pas ultahnya si Baby Kyungie.
Sekali lagi Gomawoo ne
10 Januari 2016
