A Confession

Summary: "Apa kita baik-baik saja?" "Tentu saja." SasuSaku. Slight NaruHina. AU.

Disclaimer: I DO NOT OWN ANY OF THESE THINGS!

Setelah dipikir-pikir, akhirnya Helen bikin juga chapter 2-nya. Helen kalo buat fic, susah di oneshot-in sih. Pinginnya panjaaaang terus. Abis juga temen-temen Helen yang baca chapter 1 bilang SasuSaku-nya kurang. Oke deh, SasuSaku disini lebih banyak! Enjoy! Oiya, A Confession ini kayak galeri Dantana jadi kalo yang udah pernah nonton episode Dantana yang ditulis disini, jangan kaget (ngapain kaget?) ya.

Warning: OOC. OC.

Keterangan: Di fic ini...

Danny Messer: Uchiha Sasuke

Lindsay Monroe: Haruno Sakura

Fic ini bilingual, Indonesia dan Inggris.

Setiap chapter timeline-nya berbeda. Maksudnya, chapter 1 kan tentang ulang tahun udah selesai dan SasuSaku udah baikan, nah di chapter ini dan selanjutnya bisa jadi tentang ulang tahun itu dan SasuSaku belum baikan. Kesimpulannya: Ketika chapter 2 muncul, cerita di chapter 1 ngga pernah ada. Begitu capter 3 muncul, cerita di chapter 2 ngga pernah ada. Dan seterusnya. Begitu deh... MENGERTILAH!!

A Confession

CHAPTER 2: Love Run Cold

"Hei, Sakura, tunggu!" Sakura berbalik ketika namanya dipanggil. Didepannya, terlihat Sasuke, yang sedang berlari menghampirinya sambil melambaikan tangan. Sakura pasang senyum.

"Selamat pagi, Sasuke," sapa Sakura begitu Sasuke sudah sampai didepannya.

"Pagi," jawab Sasuke, simpel dan stay cool. Kadang Sakura suka geli sendiri melihat sikap Sasuke yang wajib jaga image begitu.

"Senyum gede banget. Good mood?" tanya Sasuke.

"Emang aku ngga boleh good mood?" tanya Sakura balik.

"Ngga sih, cuma.."

"Iya aku lagi good mood. Kemarin malam tidurku nyenyak," kata Sakura tersenyum.

"Kemarin kok cemberut melulu sih? Kenapa?" tanya Sasuke.

"Ya iyalah! Masa' aku disuruh ngebedah tikus? Yang bener aja Naruto!? Ngasi tikus.. yang ngebedah-bedah itu kan kerjaannya Lee?" tanya Sakura, agak kesel juga dia nginget kejadian kemarin. Dia diberi bahan bukti. Bangkai tikus. Dan Naruto menyuruhnya membedah tikus itu karena tikus itu dicurigai memakan barang bukti. Walau barang itu akhirnya ketemu -di usus besar, udah mau jadi feses-, tapi Sakura tetep ngga terima.

"Naruto takut kali. Terakhir kali Naruto nyerahin kerjaan autopsi ke Lee kan, waktu Nauto dateng si Lee lagi maenin tu usus mayat," kata Sasuke. Sakura bergidik ngeri.

"Segitunya kah?" tanyanya. Sasuke mengangguk. "Naruto trauma kali ya? Heran deh, kenapa dia di-hired dan kenapa juga di bisa jadi kepala M.E (1)!?" tanya Sakura bingung sekaligus teriak.

"Mungkin waktu itu lagi kurang pekerja jadi kepolisian asal nyomot orang? Percaya deh.." kata Sasuke.

"Walau kamu mau ngerayu ditengah hujan-pun, aku ngga bakal percaya," kata Sakura tersenyum jahil. Sasuke cemberut. Mereka kemudian berbelok ke kiri, kearah ruang loker.

"Maksudku, setiap tahun, hampir 1200 orang yang melamar menjadi M.E disini. Kekurangan orang? I don't think so!" ujar Sakura ketika ia sampai didepan lokernya. Ia kemudian memasukkan nomer pin loker-nya. "Mungkin waktu diterima, Lee masih pinter dan ngga error kayak sekarang," lanjut Sakura.

"Atau beruntung.." kata Sasuke pelan sambil membuka loker-nya. "Dari 1200 orang itu, hanya 11 orang yang terpilih kan?" tanya Sasuke. Sakura mengangguk tapi pandangannya masih sibuk ke lokernya.

"Apa waktu itu kepolisian lagi error ya?" tanya Sasuke. Sakura mengangkat bahunya dan menutup pintu loker-nya.

"Sasuke masih ada berapa open cases lagi?" tanya Sakura sambil menutup pintu loker dan bersandar di pintu.

"Dua hari yang lalu kan ada 2, yang satu udah selesai. Berarti tinggal satu ini. Yang ini juga ngerjainnya sama Naruto dan Gaara, jadi masih bisa enjoy lah, dikit.." jawab Sasuke.

"Sama Gaara? Sabaku no Gaara pindahan dari Suna? Yang anaknya sifatnya rada-rada mirip Sasuke itu? Emang sama dia enjoy gitu?" tanya Sakura. Sasuke menutup pintu lokernya.

"Ngga bisa dibilang 'enjoy' bener-bener 'enjoy' sih tapi kami kan punya kesamaan juga jadi ya.. kalo ngomong nyambung aja gitu," kata Sasuke sambil menyematkan lencana kepolisiannya di celananya. "Lagipula, dia anaknya ngga 'gitu-gitu' amat kok."

"'Gitu-gitu' apa? 'Gitu-gitu' cakep? Aih, Sasuke merasa tersaingi nih.. Jujur aja, si Gaara itu menurutku cukup cakep kok," kata Sakura. Sasuke menatapnya.

"Oh, jadi maksudnya mau ninggalin gue?" tanya Sasuke bercanda.

"Ya nggalah! Cuma opini doang! Tapi tetep Sasuke kok yang di tangga paling atas!" kata Sakura.

"Kamu hari ini ada berapa kasus?" kali ini Sasuke yang nanya.

"Satu juga. Sama Kiba," kata Sakura.

"Berdua doang?"

"Ngga, sama Ino."

"Oh.. Yang di apartemen itu ya?"

"Iya. Udah yuk ah, ntar telat dimarahin ama Anko lagi.." kata Sakura.

"Sebenernya disini bos tuh Naruto apa Anko sih?" Sakura tersenyum mendengar perkataan Sasuke. Mereka kemudian keluar ruang loker bersama.

-A Confession-

"Ah! Dateng juga lo!" Ino segera menghampiri Sakura.

"Ada apa, Ino?" tanya Sakura. Ia membungkuk untuk meletakkan peralatannya ditanah.

"Gini, gue mulai mikirin tentang tapak sepatu di tanah itu. Mungkin ngga sih ada yang pake sepatu sebesar itu dengan kedalaman yang dihasilkan sebesar.." Ino lalu berjalan ke peralatannya dan mengambil penggaris skala. Ia kemudian mengukur kedalaman tapak sepatu tersebut. ".. 0,3 cm?"

"Mungkin orang yang mengangkut korban kurus?" tanya Sakura sambil mulai memakai sarung tangannya.

"Ngga mungkin. Tapak sepatu sebesar ini hanya dipakai orang yang besar. Dan mana ada coba, orang gede tapi kurus?" tanya Ino.

"Um.. ranting?" Ino langsung memberi tampang 'please deh'.

"Oh iya, ukuran sepatu segitu, ukurannya berapa sih?" tanya Sakura.

"Segini ya.. kurang lebih 41 lah. Kenapa?" tanya Ino. Sakura tersenyum penuh misteri.

"Gue punya orang yang bisa ngebantu," kata Sakura.

"Siapa? Kiba?" tanya Ino antusias.

"Bukanlah! Dia nomer sepatunya lebih gede kali, dari 41!" jawab Sakura.

"Trus, siapa?"

-A Confession-

"Look, I really appreciate this.." kata Sakura sambil berjalan.

"Iya, iya. Gue juga mau ngambil break dari kasus dulu. Kerja ama Gaara ngga apa-apa tapi kerja ama si dobe itu loh. Sok bos banget tuh anak!"

"Sabar ya.."

Saat Sakura dan Sasuke sampai ditempat, udah nunggu Kiba, yang begitu ngeliat Sasuke langsung ngeliatin sepasang sepatu ke muka Sasuke.

"Iya, sepatu. Gue tau. Ngapain si lo pake nunjukin ke muka gue begini?" tanya Sasuke rada sewot.

"Ya ni sepatu buat lo pake lah! Nih!" kata Kiba sambil menyerahkan sepatu kulit berwarna cokelat tersebut ke Sasuke. Sasuke melepas sepatu hitamnya dan memakai gantinya.

"Nah, sekarang gue ngapain?" tanya Sasuke.

"Gendong."

"Heh?"

"Gendong gue!" Sakura memerintah Sasuke agar Sasuke menggendongnya. Sasuke langsung menggendong Sakura bridal style.

"Kiba, barbel-nya," Sakura meminta barbel kepada Kiba dan Kiba menyerahkannya tapi belom afdol kalo belom ngatain.

"Kalo mau nikah, ngga usah pake barbel. Bahaya tau!" kata Kiba sambil cengengesan. Sasuke diam, stay cool. Sementara Sakura udah ngerebut barbel dari tangan Kiba dengan kasar dan udah ambil ancang-ancang mau mukul Kiba pake barbel waktu Sasuke bilang, "Udahlah biarin aja. Kalo mau ngabisin Kiba ntar aja. Sekarang kasus dulu." Sakura langsung diam dan meletakkan barbel diperutnya.

"Ok, jadi.. berat korban adalah aku tambah barbel ini, sementara kira-kira berat badan pembunuh sekitar berat Sasuke. Jadi, tinggal kita lihat apa jika pembunuh yang menggendong korban berjalan di tanah itu, kedalaman yang diperoleh sama atau.. Sasuke!" Sakura tiba-tiba memanggil nama Sasuke. Sasuke langsung sadar.

"Hah? Iya? Apa?"

"Kamu bengongin apaan sih?" tanya Sakura.

"Itu, kelihatan ngga? Tapak sepatu itu lebih dalam yang bagian depan," kata Sasuke. Kiba langsung memeriksa.

"Iya benar, lebih dalam," kata Kiba.

"Tapi, kenapa?" tanya Sakura, masih digendong Sasuke.

"Mungkin kebesaran? Biasanya orang yang memakai sepatu kebesaran, kaki lebih cenderung dimajukan kedepan daripada ke belakang, bukan?" Sasuke memberi hipotesis. Dia pernah diajari Naruto, bahwa hipotesis adalah usulan teori sementara teori adalah hipotesis yang sudah dibuktikan (beginian aja diajarin Naruto?).

"Tapi, boleh juga mencoba. Ayo, Sasuke!" kata Sakura sambil membetulkan posisi barbel-nya. Sasuke, dengan susah payah, jalan ditanah.

"Hum.. kayaknya masih lebih dalam kalian deh," kata Kiba sambil mengamati tapak sepatu Sasuke.

"Tuh kan bener apa kata gue."

"Um.. Sasuke? Turunin dong." Sasuke langsung sadar dan cepat-cepat menurunkan Sakura. Sebenernya, menurut Sasuke, Sakura lumayan berat juga, tapi entah kenapa jadi ringan begitu udah terbiasa.

"AHA!" teriak Kiba lebay beberapa saat kemudian, membuat Sakura terlonjak kaget.

"Apa sih lo!? Bikin kaget aja.." ujar Sakura. Kiba lalu berbalik menghadap 2 temannya itu.

"Gue kayaknya tau deh gimana pembunuhan ini bisa berlaku!"

­-A Confession-

Beberapa hari kemudian..

"Hah? Suicide? Gimana bisa?" tanya Sasuke.

"Katanya Kiba sih, korban pake sepatu itu sendiri ke TKP dan menembak dirinya sendiri. Setelah dia selidiki, ternyata emang bener. Pokoknya gitu deh," kata Sakura.

"Oh.." Sasuke manggut-manggut ngerti. "Tapi kok cuma menyelidiki begitu ampe 4 hari?" tanyanya. Sakura mengangkat bahu.

"Kasus Sasuke ama Gaara juga udah selesai hari ini kan?" tanya Sakura. Sasuke mengangguk singkat.

"Trus gantinya, kita dikasi kasus ini." Sakura dan Sasuke memasuki sebuah ruangan yang hampir semuanya tertutup es. Dinding, langit-langit, lantai semua tertutup es. "Mana di tempat dingin lagi!" omel Sakura.

"Sakura.. mana ada tempat ada es ngga dingin?" tanya Sasuke. Ia meletakkan peralatannya disamping kursi -atau lebih tepatnya singgasana- tempat korban mati. Ia kemudian mengamati keadaan tubuh korban.

"Terdapat luka lumayan besar diperut korban, kemungkinan COD (2). Di tempat seperti ini, susah untuk mengetahui TOD (3) yang sebenarnya, tapi mudah-mudahan Lee bisa tau," kata Sasuke sambil memerika sisi-sisi pinggul korban. Sakura menatapnya dengan tatapan 'serius-mau-dikasih-ke-Lee-?'.

"Tidak ada kantong.. tidak ada ID.." kata Sasuke.

"Aoi Mihokozowa, 22 tahun. Mahasiswi di Universitas Negeri Konoha, Jurusan Ekonomi," kata sebuah suara dibelakang Sakura. Sasuke dan Sakura menoleh. Mereka melihat seseorang yang familiar.

"Ah, Detektif Hyuuga. Apa lagi yang kau 'pungut' dari si korban?" tanya Sasuke dengan sarkastik. Detektif itu menancapkan mata abu-abu-nya pada mata onyx Sasuke. Lama mereka berpandangan sinis, kemudian detektif muda itu menunduk melihat buku catatan-nya sambil berkata, "Dia adalah ratu di sini."

"Ratu?" tanya Sakura bingung. Hyuuga mengangguk. "Ratu apa maksudnya?"

"Setiap tahun, di club ini ada yang dipanggil 'Ice Princess Beauty Peagent'. Intinya sih, sama saja seperti beuty peagent pada umumnya," kata Hyuuga.

"Ice princess? Sepertinya dia memang ditakdirkan untuk menjadi es.." jawab Sasuke sambil memandang luka besar diperut korban.

"Segede begini.. Pake apa ya?" tanya Sakura sambil ikut memandangi luka tersebut.

"Stalaktit." Sasuke dan Sakura memandang Hyuuga dengan bingung. Ia lalu memberi tanda dengan matanya untuk melihat keatas. Sasuke dan Sakura melihat keatas.

"Dia ditusuk.. dengan stalaktit?" tanya Sasuke ngga percaya, menekankan satu kata terakhir dari kalimatnya.

"Dan sekarang bahan bukti kita sedang mencair.."

-A Confession-

Setelah mayat sudah dikirim ke ruang autopsi, Sasuke dan Sakura memutuskan untuk turun kebawah, ruang ganti. Ruang ganti yang berada tepat dibawah lantai klub bercat putih kusam, dengan berbagai ornamen (kebanyakan ornamen es) di dinding. Sasuke dan Sakura kemudian membagi tugas. Sasuke memeriksa bagian kiri, Sakura ambil bagian kanan. Mereka kemudian bekerja dalam diam karena memang tak ada yang bisa dibicarakan. Kemudian ketika Sasuke sedang mencari sidik jari di sebuah gelas wine, ia teringat sesuatu.

"Ehm, Sakura?" panggilnya. Sakura tidak menoleh tapi hanya menjawab dengan sebuah, "Hm?".

"Malam ini lo ngga ada rencana apa-apa kan?" tanya Sasuke. Sakura menjawab singkat. "Ngga." Tapi pandangannya belum lepas dari benda apapun yang sedang diperiksanya.

"Mau ngga malam ini kita makan malam bareng?" tanya Sasuke. Kali ini Sakura membalikkan badannya menghadap Sasuke diseberang ruangan.

"Malam ini?" tanya Sakura. Sasuke mengangguk.

"Kaya'nya bisa deh. Dimana?" tanya Sakura lagi.

"Gue dikasi tau temen gue, ada restoran enak disisi kota. Jadi, bisa bener?" tanya Sasuke. Sakura mengangguk singkat dan kembali berbalik badan memeriksa benda apapun yang sedang diperiksanya (Helen juga ngga tau dia lagi meriksa apaan..). Sasuke diam selama beberapa saat, menatap punggung Sakura sebelum ia juga berbalik badan, kembali mencari sidik jari di gelas wine yang ramping.

Yang Sasuke tidak tahu, ketika Sakura membalikkan badan, raut muka Sakura berubah menjadi khawatir.

-A Confession-

Besoknya..

"Sudah selesai?" tanya Hinata. Sakura melepas pandangannya dari komputer dan mengangguk. Ia kemudian melangkah ke tepi, memberi jalan bagi Hinata. Hinata kemudian mengetikkan sesuatu di keyboard komputer dan muncullah sebuah gambar hasil perbesaran mikroskop.

"Hinata ada kasus apa?" tanya Sakura.

"Ah, itu, perampokan di toko. Biasalah," jawab Hinata. Sakura sweatdrop. Biasa?

"Oh. Um.. sama Naruto ya?" tanya Sakura lagi.

"Iya. Sama Kiba-kun juga," jawab Hinata lagi, tangan kanannya memindahkan mouse dari satu titik ke titik lain dan menggerakkan mouse-nya membentuk bulatan.

"Oh, kalau begitu aku ngga mau ganggu. Aku mau ambil reports dulu ya," kata Sakura sambil melangkah pergi. Hinata menatapnya pergi.

-x-

Sakura menatap berlembar-lembar reports yang didapatnya dari berbagai departemen. Ada autopsy report, ada weapon report, ada DNA report, ada juga tox report. Ia membacanya satu-satu sambil berjalan. Saat sedang membaca autopsy report -yang panjangnya 5 lembar-, ia bisa merasakan sebuah dentuman kecil dibahunya. Ia mendongak, mendapati bahwa mata emerald-nya sedang menatap sepasang mata onyx.

"Hai," sapa Sasuke. Sakura tersenyum.

"Autopsy report?" tanya Sasuke, menunjuk kertas yang sedang dibaca Sakura. Sakura menatap kertas ditangannya dan mengangguk.

"Boleh lihat?" tanya Sasuke lagi. Sakura memberikan autopsy report tanpa banyak bicara.

"Hm, Neji benar. Dia ditusuk dengan stalaktit. Ada serpihan es di perutnya. Oh? Dapat DNA di kuku korban? Udah dibawa ke DNA?" tanya Sasuke. Sakura memberinya DNA report. Sasuke hanya menatap kertas selembar itu, ia tidak benar-benar membacanya. Ia kemudian memulai pembicaraan.

"Kenapa kemarin malam kau tidak datang?" tanya Sasuke. Raut mukanya menjadi serius. Sakura menghela nafas. Dia sudah tau Sasuke pasti akan menanyakan itu, cepat atau lambat.

"Maaf, aku.. aku hanya ada urusan mendadak," jawab Sakura.

"Kenapa? Tiba-tiba handphone-mu hilang? Kenapa kau tidak memberitahu-ku?" tanya Sasuke lagi.

"I'm.. I'm sorry."

Sasuke terdiam sesaat. "Apa kita baik-baik saja?" tanyanya. Sakura menatapnya. Bingung.

"Tentu saja." Hanya itu yang bisa keluar dari mulut Sakura. Setelah mengatakan itu, ia mengambil DNA report dan autopsy report dari tangan Sasuke dan berjalan menjauhinya. Sasuke menatapnya pergi. Perasaannya campur aduk. Sedih, kecewa, bingung, marah. Ketika Sakura sudah tidak kelihatan lagi, ia segera berjalan cepat menuju ruang loker.

-A Confession-

Naruto sedang berjalan melewati ruang loker menuju kantornya ketika ia mendengar bunyi berisik dari dalam ruang loker. Seperti bunyi besi yang dipukul. Naruto penasaran dan masuk kedalam ruangan yang diterangi cahaya matahari pagi itu.

Didalam, Naruto melihat Sasuke, sendirian. Badannya menghadap pintu lokernya dan tangan kanannya mengepal didepan pintu loker besi abu-abunya. Naruto segera menghampiri sahabatnya itu.

"Sasuke? Kenapa?" tanya Naruto. Sasuke tidak menengok. Ia masih menatap kakinya, dengan nafas terengah-engah. Sadar dikacangin, Naruto langsung duduk ditempat duduk dibelakangnya.

"Gue dikacangin nih?" tanya Naruto. Sasuke masih tidak menjawab. "Oh, gue tau!" batin Naruto.

"Soal Sakura-chan ya?" tanya Naruto lagi. Kali ini Sasuke membalikkan badannya menghadap Naruto. Ia memasang tampang yang menyebalkan.

"Apa yang kau tahu?" tanya Sasuke. Nada bicaranya terdengar jijik.

"Beberapa hari terakhir ini aku perhatikan Sakura-chan menjadi pendiam, tapi hanya didepanmu," kata Naruto. Sasuke membalikkan badannya lagi.

"Gue tau kok rasanya diperlakuin kaya' gitu. Dulunya selalu diturutin. Dia selalu datang makan bersama. Tapi tiba-tiba dia jaga jarak dan menolak makan bersama dan sebagainya," ujar Naruto (sok) bijaksana.

"Kapan kau merasakan itu? Perasaan gue lihat lo selalu hepi-hepi aja," tukas Sasuke sambil membalikkan badan menghadap Naruto.

"Sama Hinata. Setahun yang lalu. Tapi abis itu ngga apa-apa kok," kata Naruto. Ia kemudian menunjuk tempat disebelah kirinya, menyuruh Sasuke duduk. Sasuke pun duduk. Selama beberapa menit, mereka duduk dalam diam.

"Teme," panggil Naruto.

"Hn?"

"Gue aja bisa ngelewatin, gimana elo? Gue percaya kok sama lo," kata Naruto, menepuk-nepuk pundak sahabatnya itu. Ia kemudian tersenyum (dengan senyum andalannya itu, BIG GRIN!) dan mengumpulkan beberapa kertas laporan yang berserakan disamping kanannya. Ia kemudian berdiri.

"Kaya'nya loker lo harus diganti deh," kata Naruto ketika melihat beberapa bekas tonjokan yang dalam di pintu loker Sasuke. Sasuke tertawa kecil. Ia beruntung memiliki sahabat seperti itu. Setelah Naruto pergi, Sasuke segera membuka handphone-nya dan menelepon Sakura, tapi ternyata masuk voice mail.

"Hai, ini Haruno Sakura. Aku sedang mengerjakan sesuatu yang penting sekarang ini jadi silahkan tinggalkan pesan setelah bunyi 'bip'. Terima kasih," suara Sakura terdengar di handphone. Tandanya ia sedang mematikan handphone-nya atau tidak sadar bahwa handphone-nya bunyi. Sasuke mendengar bunyi 'bip' dan segera meninggalkan pesan.

"Hei, ini aku, Sasuke. Maafkan aku soal tadi. Aku tidak bermaksud memaksamu untuk mengatakan semuanya. Bagaimana kalau kita makan siang bersama hari ini? Aku akan jemput kau di kantin kantor. Aku tunggu jam 12 disana. Bye."

-A Confession-

"Hei, Sakura! Tunggu!"

Sakura membalikkan badannya.

"Ada apa, Tenten?" tanyanya.

"Ini, aku sudah tahu sidik jari siapa yang tertinggal di stalaktit yang membunuh Mihokozawa," kata Tenten, menyamakan langkahnya dengan Sakura.

"Oh ya? Siapa?" tanya Sakura penasaran. Tenten memberinya selembar kertas. Sakura mengamatinya dan tersenyum.

"Terima kasih banyak, Tenten," katanya. Dengan sebuah 'sama-sama', Tenten berjalan menjauh menuju lab-nya. Sakura kemudian mengeluarkan handphone-nya untuk menelepon Neji ketika ia melihat sebuah SMS dari operator, yang mengatakan bahwa ia mendapat 1 voice mail baru. Sakura segera menelepon nomor inbox voice mail. Suara si peninggal pesan mengejutkan Sakura.

"Hei, ini aku, Sasuke. Maafkan aku soal tadi. Aku tidak bermaksud memaksamu untuk mengatakan semuanya. Bagaimana kalau kita makan siang bersama hari ini? Aku akan jemput kau di kantin kantor. Aku tunggu jam 12 disana. Bye."

Sakura melihat jam tangannya. Jam 11:11 a.m. Masih ada 49 menit lagi. Tak jadi soal. Ia segera menelepon Neji dan memberitahunya untuk membawa tersangka ke ruang interogasi. Setelah urusan dengan Neji selesai, ia segera memencet-mencet nomor Sasuke tapi berhenti ditengah jalan.

"Sebenarnya perasaanku ini bagaimana sih? Kemarin aku menyambut ajakannya untuk makan malam bersama tapi aku tidak datang dengan alasan ada urusan mendadak. Tapi sekarang aku akan menerima ajakannya lagi. Apa aku tidak akan datang lagi? Apa aku akan terus melukai perasaannya?" pikir Sakura. Ia bingung, antara menerima dan tidak. Setelah kira-kira 2 menit menimbang-nimbang, ia segera menelepon Sasuke.

-A Confession-

Sasuke duduk di satu kursi di kantin kepolisian Konoha. Sasuke tidak bisa diam. Ia terus-terusan duduk dengan maju-mundur-maju-mundur sambil sesekali menatap jam tangannya, mengecek waktu. Ia juga berkali-kali mengecek handphone-nya. Ia sudah duduk disitu selama kurang lebih 13 menit, karena ia datang lebih cepat dari waktu yang dijanjikan, jam 12 siang.

Sakura masuk ke 'wilayah' kantin dilantai 10 dan celingak-celinguk mencari Sasuke. Ia kemudian menemukannya, duduk di salah satu kursi dekat jendela, sedang menatap kearah luar. Ia segera menghampirinya.

"Kau suka memandangi pencakar langit ya?" tanya Sakura, ikut menatap arah luar padahal ia tak tahu Sasuke sedang melihat apa. Sasuke menoleh.

"Ah, datang juga. Ayo kita makan," kata Sasuke. Ia kemudian beranjak dari tempat duduknya.

"Loh? Ngga disini aja?" tanya Sakura bingung.

"Apa? Swiss meatball and Daim (4)? Bosan!" kata Sasuke.

"Ada fish and chips," kata Sakura.

"Bosan," jawab Sasuke singkat. Ia kemudian berjalan menuju sebuah mesin minuman dan memasukkan beberapa buah koin kedalam mesin tersebut dan memencet suatu tombol. Ia menunggu. Tapi minuman yang ia mau belum keluar juga. Ia segera memukul-mukul sisi mesin. Tapi minumannya belum juga keluar. Tiba-tiba, sebuah kaki menendang sisi mesin yang ditandai dengan spidol merah. Dengan seketika, sebuah botol soft drink keluar. Sasuke mendongak.

"Kukira mesin ini baru dibeli seminggu lalu?" tanyanya sambil mengambil botol tersebut.

"Dan rusak sehari kemudian," jawab Naruto, yang tadi menendang mesin. Disampingnya berdiri Hinata.

"Hinata mau makan disini?" tanya Sakura. Hinata mengangguk.

"Lo mau makan dimana?" tanya Naruto pada Sasuke.

"Adalah," jawab Sasuke singkat. "Yuk," ajaknya. Sakura mengikutinya keluar kantin. "Sampai nanti."

"Iya.." Naruto menjawab dengan agak bingung.

-A Confession-

Sasuke dan Sakura duduk di kursi disebuah restoran. Didepan mereka terdapat sebuah meja bundar bertaplak merah maroon dengan 2 gelas wine dan sebuah vas bunga dengan 2 tangkai bunga mawar merah didalamnya. Tak lupa makanan pesanan mereka. Mereka makan dalam diam. Awkward silence.

"Kita makan bersama ini.. hanya antara rekan kerja kan?" tanya Sakura tiba-tiba, meletakkan pisau dan garpunya. Sasuke mendongak. Tidak mengerti.

"Maksudmu?" tanya Sasuke.

Melihat Sasuke yang tidak peka, Sakura ingin meneriakkan, "Menurut lo!?" tapi tidak jadi. Ia kemudian menjawab.

"This.. thing.. between us," jawab Sakura. Sasuke menatapnya selama beberapa saat, kemudian meletakkan garpunya. Ia sebenarnya tak tahu harus bicara apa.

"Kau benar," jawabnya. "Hanya antara rekan kerja." Sasuke tahu bahwa kalimat itu adalah kalimat yang salah, tapi entah mengapa tiba-tiba keluar dari mulutnya.

Sakura memasang senyum sedih. "Oh. Begitu," katanya. Kemudian ia kembali memakan steak-nya. Sasuke melihatnya makan.

"Oh ya, bagaimana interogasi dengan Neji tadi?" tanya Sasuke mengubah subjek pembicaraan. Kalau tidak diubah, ia akan menjadi gila melihat senyum sedih Sakura sepanjang siang itu.

"Um.. selain si pengacara menyebalkan sekali, biasa-biasa saja. Aku, maksudku kita, akan membuktikan bahwa dia bersalah! Iya kan?" tanya Sakura. Sasuke mengangguk singkat. Kalimat terakhir agak memaksa memang. Bagaimana kalau ternyata orang lain yang melakukan pembunuhan tersebut?

"Memang pengacaranya bagaimana?" tanya Sasuke sambil memasukkan sepotong steak kedalam mulutnya.

"Pengacaranya itu ayahnya sendiri! Masachika Keichii?"

"Oh! Masachika Keichii, aku tahu dia. Aku pernah di pengadilan melawan dia dan klien-nya. Susah ya ngelawan dia?" tanya Sasuke. Sakura mengangguk. Masachika Keichii adalah salah satu dari pengacara terhebat di Konoha. 98 persen klien-nya pergi dari ruang pengadilan dengan senyum di wajah mereka. Bebas dari segala tuduhan. Walaupun bayarannya bisa membuat pingsan, tapi untuk bebas dari tuduhan?

"Eh, katanya ada DOC (5) baru ya? 2 orang?" tanya Sakura mengganti subjek. Sasuke mengangguk. "Kedua dalam 20 tahun ini," jawab Sasuke.

-A Confession-

"Uhuk.. uhuk!"

"Hinata? Kau tidak apa-apa?"

"Ah, aku tak apa-apa, Sakura-chan. Hanya batuk sedikit. Kan sedang musimnya," Hinata berkata sambil tersenyum. Sakura ikut tersenyum.

"Ngomong-ngomong, Sakura-chan ngapain disini? Bukannya Sakura-chan udah dapat weapon report?" tanya Hinata, menanyai Sakura tentang kenapa Sakura ada di ruang senjata.

"Uhm, ngga ada apa-apa. Aku cuma suka kesini aja," jawab Sakura.

"Tapi bukannya Sakura-chan ada kasus?" tanya Hinata lagi.

"Biarin ajalah. Refreshing sebentar disini," kata Sakura. Hinata memaklumi dan mengambil sebuah pistol. Ia kemudian mengisinya dengan peluru .38 kaliber. Sebelum Hinata menembak, Sakura terlebih dahulu memasang kacamata dan ear puff.

DOR!

Hinata sudah menembak. Ia kemudian berjalan menuju tangki air tempat dia menembak dan membuka tutupnya. Ia kemudian mengambil jaring dan menjaring pelurunya.

".38 kaliber. Besar sekali," komentar Sakura. Hinata tersenyum. Ia kemudian berjalan menuju sebuah mikroskop komputer dan mulai memeriksa peluru yang baru ia tembak dengan peluru yang menembus badan korbannya.

"Yep. Sudah pasti si kasir ditembak dengan .38 kaliber. Dan iya, ini memang besar sekali," kata Hinata sambil mengamati kedua peluru tersebut. Sakura menatap sahabatnya itu lama.

"A-apa ada yang salah?" tanya Hinata gugup.

"Tidak! Hanya.. aku mau tanya saja," jawab Sakura.

"Tanya apa?"

"Itu, waktu kamu jaga jarak dengan Naruto setahun yang lalu itu.. alasanmu apa dan bagaimana perasaanmu?" tanya Sakura. Hinata terdiam sesaat sebelum menjawab pertanyaan Sakura.

"Waktu itu aku hanya.. hanya tidak mau berhubungan dengan siapa-pun. Aku sedang butuh waktu sendiri. Tentang perasaanku? Sedih juga sih. Kadang aku suka gelisah. Muka dan senyum Naruto-kun selalu terbayang. Satu kata. Menyiksa," jawab Hinata. Sakura tertawa. "Memang ada apa?" tanya Hinata lagi.

"Tidak. Tidak ada apa-apa," jawab Sakura sambil melepas kacamatanya. "Aku pergi dulu ya." Ia kemudian keluar dari ruangan.

-A Confession-

Sasuke sedang berdiri didepan pintu lokernya -yang masih bonyok-, diam. Ada sesuatu di pintu. Sebuah post-it berwarna kuning. Sasuke membaca pesan singkat itu.

Dinner? At my place? 8 p.m?

-Sakura-

Sasuke tersenyum. Ia mencabut post-it kecil tersebut dan membuka pintu lokernya. Ia kemudian menempel post-it tersebut di salah satu sisi dalam lokernya, yang menghadap langsung ke pintu. Ia kemudian meletakkan beberapa buku kedalam lokernya dan melihat jam tangan-nya. Jam setengah 7, 30 menit lagi. Jarak rumah-kantor cukup jauh jadi ia tak bisa mandi dirumah. Sasuke kemudian melepas jam tangan hitamnya dan meletakkannya di dalam loker. Ia kemudian mengambil handuk dan membuka bajunya, bersiap untuk mandi.

-A Confession-

TING!

Sakura segera menghampiri oven-nya. Ia mengambil sarung tangan dan membuka tutup ovennya, kemudian ia mengeluarkan sepiring besar lasagna, dengan toping potongan tomat diatasnya. Ia sudah membuatnya pagi tadi, hanya tinggal di panggang saja. Kemudian, ia meletakkan piring lasagna tersebut dan berjalan menuju pantry. Ia kemudian memotong tomat dan memasukkannya ke blender, dan mulai membuat jus tomat.

Ia akan makan malam dengan Sasuke di apartemennya malam ini. Itu pun kalau dia mau datang. Setelah dirasa cukup, Sakura mematikan blender. Ia kemudian menuangkan jus didalamnya kedalam 2 buah gelas. Selesai berbuat begitu, ia melirik jam dinding dibelakangnya. Jam 7:49. Masih ada waktu sampai apple pie-nya matang.

-x-

Apple pie telah matang dan diletakkan dimeja. Meja makan kayu Sakura sudah ditata rapi dengan sebuah taplak meja berwarna maroon -yang emang taplak resmi meja makan itu-. 2 gelas tinggi berisi jus tomat diletakkan disamping kanan atas piring kosong. Lasagna, apple pie, mushroom pie dan beberapa makanan lainnya Sakura tata rapi dimeja. Selesai meletakkan apple pie di meja, ia kembali melirik jam. 7:58. "Sebentar lagi.." batinnya.

-x-

Jam 8:05. Sakura yakin ia pasti datang.

Jam 8:14. Sakura masih menunggu sambil menyeruput jus tomatnya.

Jam 8:21. Sakura mulai mengecek handphone-nya.

Jam 8:30. Oke, dia tidak akan datang!

"AKH! Dia ini bagaimana sih!? Apa dia mau balas dendam!? Hah!? Dengan begini kami seri!? Begitu!?" Sakura teriak-teriak emosi sendiri di apartemennya. Sudah menjadi kebiasaannya, curhat dengan udara.

"Aku tidak suka begini," kata Sakura. Ia duduk dengan muka menunduk menatap piring. "Dia sudah terlambat 30 menit bukan? Itu berarti dia tidak mau datang! Padahal aku sudah susah-susah membuat adonan ini pagi-pagi!" katanya sambil menunjuk lasagna. Kemudian ia melanjutkan berseru, "I don't like it!".

"I don't like it either, Sakura."

Sakura menoleh dengan cepat. Matanya menatap pintu depan apartemennya. Ada Sasuke disitu, berdiri dengan nafas terengah-engah. Sepertinya dia habis berlari.

"What took you so long!?" tanya Sakura, masih sedikit marah.

"Traffic. Can I come in?" tanya Sasuke. Sakura mengangguk. Sasuke melepas jaketnya dan menggantungnya dibalik pintu. Ia kemudian berjalan menuju meja makan dan duduk di kursi berseberangan dengan Sakura.

"Ada perbaikan jalan di 44th Precint. Macet-nya gila," kata Sasuke. Sakura mengangguk memaklumi.

"Sudah mandi?" tanya Sakura.

"Tentu saja! Aku mandi di kantor malah!" kata Sasuke.

"Oke, oke," Sakura tertawa. "Lasagna tomat, jus tomat, mushroom pie, and for the dessert, apple pie," kata Sakura sambil menunjuk satu-satu menu makan malam mereka. Sasuke menatap makanan-makanan tersebut dengan tampang 'tomat I'm coming!'. Sakura tertawa melihat tampang Sasuke.

"Ngomong-ngomong, bagaimana kau masuk kesini tanpa mengetuk?" tanya Sakura ketika ia sedang mengambil sesendok besar lasagna untuk piringnya.

"Kan kau memberiku kunci duplikat saat kau pertama kali pindah kesini 4 bulan lalu. Ngga ingat? Kan kau yang bilang, "Sasuke, ini kunci duplikat apartemenku yang baru. Kalau ada apa-apa yang darurat, pakai saja, jangan mendobrak pintu soalnya pintunya aja udah mahal." Begitu kan?" jelas Sasuke sambil menahan tawa.

"Oh iya, ya.."

"Hei, Sakura?"

"Ya?"

"Boleh aku tau, kenapa kau tidak datang makan malam waktu itu?"

"Ada urusan mendadak, aku bilang."

"Ya, urusan mendadak apa?"

"Katamu kau tidak ingin memaksaku untuk mengatakan semuanya?"

Sasuke terdiam. "Iya juga sih, tapi.."

"Aku waktu itu hanya tidak ingin makan malam denganmu," jawab Sakura.

"Kenapa? Kau menerima ajakanku waktu itu."

"Aku tidak tau mengapa," kata Sakura. "Makanya, sekarang aku mau menebusnya. Jadi sekarang siapa yang harus minta maaf?" tanya Sakura.

"Hei, aku tidak melakukan apa-apa loh!" kata Sasuke sambil mengangkat kedua tangannya.

"Haha. Iya deh, aku yang salah. Maafkan aku, Sasuke," kata Sakura.

"Aku akan maafkan kau.. kalau kau buat lagi 2 lasagna tomat ini!" seru Sasuke jahil.

"Heh!? Susah tau buat ini! Aku membuat adonannya saja jam 5 pagi!" kata Sakura tidak terima.

"Ya sudah kalau tidak mau dimaafkan."

"Jah, iya deh. Kamu suka ya?" tanya Sakura.

"Oh-hoh," Sasuke mengiyakan sambil mengunyah lasagna-nya.

"Mushroom pie?" tawar Sakura.

"Don't mind if I do," kata Sasuke sambil mengambil sepiring mushroom pie. Siapa sangka seorang Uchiha Sasuke punya nafsu makan yang beda dikit sama Akamichi Chouji?

-A Confession-

Aaaahh! Tidaaakk! Chapter ini membingungkan! Maap, Helen juga lagi bingung soalnya jadi otaknya pun bingung.

Chapter ini pelampiasan! Ngga tau pelampiasan apaan, mungkin pelampiasan sebel karena dijailin kakak melulu. Kerjaannya nyubit mulu! Mana kalo misalnya pacarnya abis nyubit, dia pasti nyubit aku dengan cara yang sama kaya' pacarnya. Udah gitu, setiap ada air, pasti dicipratin ke aku. Korban neh! Tapi, aku sayang kok sama dia. I LOVE MY SIS!

Glosary!

(1) M.E: Medical Examiner

(2) COD: Cause of Death

(3) TOD: Time of Death

(4) Swiss meatball and Daim: Menu makanan di IKEA

(5) DOC: Death on Custody

Kindly R&R!