You're My Space
.
.
"kau... bisakah membawaku pergi dari sini?"
"aku bisa membawamu pergi ke luar angkasa."
.
.
MW
.
.
Chapter 2
-Jeon Wonwoo—
.
.
MW
.
.
"Wonwoo, coba tutup matamu seperti ini... nah, apa kau melihat sesuatu?"
"aku melihat langit malam, bu..."
"sebenarnya lebih dari itu, Wonwoo-ya.. itu adalah luar angkasa..."
.
"ingat, apa yang kau lihat sekarang, sebenarnya adalah sesuatu yang lebih besar lagi.
.
Karena duniamu, tidaklah sekecil itu.
Kau seluas luar angkasa, Jeon Wonwoo..."
.
.
Ibunya adalah seorang pendongeng.
Pembual paling hebat yang ada di dunia.
Hal itu baru Jeon Wonwoo sadari ketika ia sudah beranjak dewasa.
.
"Jeon Wonwoo-ssi, tentu saja nilaimu yang sekarang sudah memuaskan. Namun ini belum cukup jika kau mau meneruskan beasiswamu. Kau memang pintar, tapi di luar sana juga banyak mahasiswa yang pintar, kau harus lebih dari berusaha keras untuk mendapatkan beasiswa ini."
.
Pada akhirnya, dunia luas yang selalu ibunya katakan hanyalah sebatas uang, pendidikan, dan tempat tinggal yang menjeratnya. Wonwoo tak pernah lagi bisa bernapas dengan baik semenjak ia tahu dunia taklah seindah yang selalu ibunya elu-elukan. Dan fakta bahwa ibunya yang telah tak ada, membuat dunia Wonwoo runtuh.
Tak ada lagi Jeon Wonwoo yang polos dan pemimpi. Ia sudah meninggalkannya sejak umur dua belas tahun.
Kalian hanya perlu mencatat itu.
.
.
MW
.
.
"aku menemukanmu..."
.
Pemuda pemilik kulit pucat berambut hitam kelam itu mengernyitkan dahinya. Campuran rasa kaget karena lengannya yang tiba-tiba genggam, dan bingung dengan orang asing yang menggenggam tangannya ini. seberapa lamapun Wonwoo menatap pemuda itu, Wonwoo masih tak bisa menebak siapa. Ia tak pernah ingat punya teman dengan wajah seperti ini, atau, ia sudah lupa kapan terakhir kali ia punya teman.
Oke, itu bukan sesuatu yang harus dibahas sekarang.
"siapa kau?" tanya Wonwoo langsung. ia hanya diam menunggu jawaban dari pemuda yang kini napasnya tengah tersengal, habis berlari.
Kalian tahu siapa pemuda itu. yang baru saja memilih untuk mengejar seorang 'nerd' seperti Wonwoo dan meninggalkan acara kencannya dengan seorang Yoon Jeonghan. Dia Kim Mingyu. Yang kini terlihat konyol karena kelelahan.
Dan setelah beberapa saat, akhirnya Mingyu menegakkan tubuhnya, kemudian memasang wajah penuh kebanggaan—andalannya-. Ia menatap Wonwoo penuh kepuasaan.
"aku Kim Mingyu." Ucapnya dengan percaya diri.
Pemuda bertubuh tinggi itu sudah mengekspektasikan untuk mendapatkan respon kaget dari seorang Jeon Wonwoo. Terakhir kali mereka bertemu adalah sebelas tahun yang lalu, jadi Mingyu akan memaklumi jika Wonwoo melupakannya—tebak Mingyu ketika melihat wajah Wonwoo yang hanya berekspresi datar.
"ya. lalu?"
Lalu?
"eh? Kau mengenalku kan, Jeon Wonwoo?" tanyanya, malah terlihat bingung. Ia makin bingung ketika Wonwoo sama sekali tak mengubah ekspresi datarnya, pemuda berkulit putih itu hanya mengangguk. kemudian memberikan tatapan seolah bertanya 'lalu apa yang kau inginkan?' pada Mingyu.
Sukses menciptakan sebuah suasana canggung diantara keduanya. Atau lebih tepatnya, pada Mingyu. Pemuda itu sama sekali tak menyangka Wonwoo hanya akan sedatar ini. berarti Wonwoo sebenarnya sudah mengenalnya? Kenapa malah Mingyu yang kaget?
"kenapa kau mengenalku?" tanya Mingyu lagi, tak sabaran.
Mendengar pertanyaan Mingyu, pemuda yang lebih rendah itu menghela napasnya. Kemudian melirik kearah lengannya "apa jika aku bilang aku tak mengenalmu, kau akan melepaskan tanganku?" tanya Wonwoo dengan nada malas, namun beberapa detik kemudian ia malah meringis. Merasakan lengannya yang makin dicengkram Mingyu kuat.
"aku bertanya kenapa selama inikau mengenalku?!"
Tapi kau tak menemuiku?! seorang Jeon Wonwoo telah menjadi bagian dari hidupnya selama sebelas tahun. Mingyu menunggu Wonwoo bertahun-tahun, lalu kenapa Wonwoo tak menemui Mingyu? Apa disini hanya Mingyu satu-satunya yang gila?
Mingyu tak sadar ia tengah memekik keras, tak tahu jika posisi keduanya masih berada di tempat umum. Di tempat pejalan kaki yang tak jauh dari kampus. Mungkin satu-satunya yang sadar disini hanyalah Wonwoo. Wajahnya terlihat gelisah dan tak nyaman saat orang-orang yang melewatinya akan memandang dengan ekspresi ingin tahu. Yang akhirnya hanya itu, yang membuat Mingyu akhirnya sadar dengan emosinya yang tiba-tiba tersulut. Ia melonggarkan cengkraman tangannya di lengan Wonwoo, sadar pula ia tengah menyakiti pemuda itu.
"...maaf..." gumamnya pelan.
"aku mengenalmu karena kau masuk di koran kampus beberapa minggu yang lalu. Kau pemenang polling sebagai mahasiswa baru paling 'hot' tahun ini." jelas Wonwoo akhirnya, mengeluarkan hal yang sudah ada di ujung lidahnya sedari tadi. karena tatapan menyeramkan Mingyu, ia menahannya walau sudah diujung lidah. Kini ia kembali memandang Mingyu dengan tatapan bingung.
Melihat Wonwoo lama, Mingyu menganga. Tak percaya dengan apa yang barusan ia dengar. "tadi apa katamu?" tanyanya lagi.
"kau masuk di koran kampus. Jelas semua mahasiswa mengenali wajah dan namamu, astagaa..."keluh Wonwoo. Ia menghela napasnya lagi, kali ini terdengar begitu frustasi. "jika kau hanya ingin menanyakan itu, lebih baik aku pergi." tambahnya kemudian, seraya menyentakkan lengannya kuat hingga genggaman Mingyu terlepas.
Pemuda bermarga Kim itu masih terdiam di tempatnya, ketika Wonwoo mulai beranjak dengan menenteng sepedanya di samping. ia hanya melihat dari belakang, punggung yang makin lama makin menjauh itu. tak mencoba mengejar lagi, karena... entahlah, ia bingung sekaligus ada rasa kecewa disana.
Diotaknya kini, kata majalah, mahasiswa, polling, dan hot terus berputar-putar dalam otaknya. Jadi Wonwoo hanya mengenalnya sebatas itu? pikirnya kecewa. dan jangan lupakan betapa konyolnya Mingyu terlihat sekarang. ia meninggalkan kencannya bersama Yoon Jeonghan bukan untuk hal seperti ini!
Iya, Jeonghan! Ia harus cepat kembali!
.
.
CKIIIIT
BRUAGH
.
Suara keras seperti mobil yang mengerem dengan cepat terdengar hampir dibarengi dengan suara benda yang terjatuh. Mingyu yang sudah berbalik untuk kembali reflek menoleh lagi kebelakang. Matanya sontak membulat ketika pandangannya pertama kali tertuju pada sepeda berwarna kuning yang tak asing baginya. Kemudian ketika ia mendongak, ia melihat beberapa orang berbaju hitam membopong Wonwoo untuk masuk ke dalam mobil van yang juga berwarna hitam itu.
"Jeon Wonwoo!" Mingyu memekik, seraya berlari mendekati mobil yang terparkir di ujung jalan itu.
Apa ini penculikan? Tanya Mingyu dalam hati. dua orang yang membawa Wonwoo berpakaian serba hitam dan memakai masker yang terlihat sangat mencurigakan. Dan Mingyu sampai ketika Wonwoo telah masuk ke dalam mobil dan salah satu orang berbaju hitam siap untuk menutup pintunya. Tapi Mingyu sempat berhasil menarik tangan si penutup pintu.
"apa yang kalian lakukan?! Lepaskan dia!" pekik Mingyu murka "kemana kalian akk-" ucapan Mingyu terhenti ketika seseorang dari belakang menutup hidung dan mulutnya dengan kain yang berbau menyengat. Kedua tangannya pun ditarik ke belakang hingga ia sulit melakukan perlawanan. Ditambah kepala Mingyu yang sudah sangat pusing dan...
Pandangannya menggelap.
.
.
MW
.
.
"kubilang ini salahmu! Kenapa kau juga membawa anak itu?!"
"tapi kau yang pertama kali salah menunjuk anaknya!"
Sayup-sayup suara pertengkaran antara dua orang pria itupun mengusik Mingyu yang perlahan mulai membuka matanya. kepalanya masih terasa amat pusing, hingga butuh beberapa detik hingga ia sadar dimana ia sekarang.
Di dalam mobil, dengan dua tangan terikat. Mobilnya melaju dengan sangat cepat hingga Mingyu tak bisa mengidentifikasikan dimana ia akan dibawa. Ia hanya menemukan sawah-sawah lapang. Kemudian ketika ia melihat kearah samping kanannya, matanya membulat. Menemukan Wonwoo yang tak sadarkan diri disebelahnya. Semua itu seolah cukup untuk membuat Mingyu tersadar. Ia dan Wonwoo diculik tadi.
"ya! kalian akan membawa kami kemana?!" ucap Mingyu dengan suara membentak. Ia dongkol karena dua pria berpakaian hitam di kursi depan terus bertengkar ringan yang Mingyu tak mengerti karena apa.
Mendengar suara ketus Mingyu, dua pria itu pun sontak menoleh. tapi tak terlihat kaget di wajah keduanya.
"oh, kau sudah bangun... lebih lama dari yang tadi kami bayangkan." Komentar pria yang mengemudi.
"dan ngomong-ngomong, kita akan segera sampai. Jika aku sebutkan namanya sekalipun kau pasti tak akan tahu dimana." Ucap pria satunya.
Mingyu mendecih "cepat kembalikan aku ke Seoul! Kalian tak tahu siapa aku? Huh? Kalian bisa mendapatkan masalah besar jika berurusan denganku!" gertak pemuda tinggi itu lagi. ia tak layak diperlakukan seperti ini, dan lihat saja jika ayahnya tahu apa yang pencuri murahan ini lakukan pada anak satu-satunya pewaris perusahaan besar di Korea ini... mereka tamat!
Tapi gertakan serius Mingyu lagi-lagi tak di membuat dua penculik ini segan. Keduanya malah tertawa keras.
"tentu saja kami tahu siapa kau! Itulah kenapa kami menculikmu, hahaha!" tawa pria yang sedang mengemudi, setelah beberapa saat kemudian memperlambat kecepatan mobilnya. ia kemudian menoleh kebelakang.
"karena kau juga telah sadar dimana posisimu, kenapa kau tidak menunggu saja dengan tenang hingga ayahmu mengurus semuanya, huh?" ucapnya seraya membuka pintu mobilnya. kemudian pria itu membuka pintu belakang, menyuruh Mingyu untuk turun setelah memegangi lengan pemuda itu dengan erat.
Sedangkan satu pria lainnya memandangi Wonwoo di sebelahnya dengan ekspresi takut "hyung! Anak ini belum juga sadarkan diri! Bagaimana ini?!" tanyanya agak panik, membuat Mingyu pun menoleh. menatap khawatir Wonwoo dan pria penculik dengan tatapan marah "apa yang kalian lakukan padanya?!" tanyanya kesal.
Tapi si pria yang tadi mengemudi hanya menaikkan bahunya "hanya sedikit menyerempet sepedanya dan menutup hidungnya dengan alkohol. Sama sepertimu." Ucapnya "tenang saja. anak ini saja sudah sadar, mungkin dia juga akan sadar sebentar lagi. cepat gendong dia ke dalam!" titahnya diakhir, yang langsung dibalas anggukan dari pria yang terlihat lebih muda itu.
Pria itu menggendong tubuh Wonwoo ala-pengantin—yang entah kenapa membuat Mingyu merasa jengah dan cemas diwaktu yang bersamaan. Ia bahkan tak begitu mengambil pusing ketika pria yang sedari tadi berada di depannya menyuruhnya untuk memasuki sebuah rumah yang terpencil ini—karena Mingyu tak melihat ada rumah lain di kiri dan kanannya. Hanya persawahan padi dan tanah lapang yang membosankan. Sepertinya ingin kabur pun akan sulit, pikir Mingyu.
Kemudian ia kembali menatap pria yang kini menggiringnya masuk ke rumah sederhana ini "lalu kenapa kau juga membawa Wonwoo? Apa masalahmu dengannya?" tanya Mingyu penasaran, namun pria itu kembali tertawa. Dia terlalu sering tertawa.
"kesalahan teknis, hahahaa!"
.
.
MW
.
.
Hari akhirnya menjelang malam, ketika ia merasakan sinar jingga yang menembus lewat tirai jendela yang berada tak jauh darinya. Mungkin ini sudah sekitar tiga jam, sejak Mingyu diculik, dan dibawa ke sebuah ruangan kosong yang terlihat bersih dengan tangan dan kaki yang diikat. Dan... ah ya! bersama Jeon Wonwoo. Yang masih tak sadarkan diri.
Atau sebenarnya Mingyu bisa menyebutnya tertidur. Iya, lagi-lagi Mingyu harus khawatir dengan hal yang tak perlu ketika ia mendengar dengkuran halus yang keluar dari celah dua bibir tipis pemuda berkulit sangat putih itu. bahkan kini Mingyu bisa melihat bekas sungai kecil keluar dari bibir Wonwoo yang terbuka.
Manis. Mingyu tak tahu bagaimana harus menjelaskannya, tapi tiga jamnya tak terasa begitu membosankan karena ia sibuk memikirkan Wonwoo dan memandangi wajah-tak-jelek-juga—Wonwoo. Mingyu lagi-lagi tak bisa menjelaskannya, tapi wajah pemuda berambut hitam ini terlihat menawan saat kedua matanya tertutup.
Menawan memang memiliki banyak artian. Bisa tampan, cantik, anggun, berkarisma, atau apalah, Mingyu tak tahu. Ia hanya mulai menyukai wajah Wonwoo. Ia tak bosan melihatnya.
apa setiap 'nerd' itu seperti ini? menutupi wajahnya yang menarik dengan penampilan acakan? Seperti di televisi-televisi itu?
Nah, bahkan seorang Kim Mingyu masih sempat memikirkan hal seperti itu. dari pada mencari tahu bagaimana cara ia bisa kabur dari sini.
.
"ugh..."
Mingyu tersadar dari lamunan singkatnya begitu mendengar suara pelan pemuda di sebelahnya. Ia menoleh kearah sampingnya, kini Wonwoo terlihat menggeliat pelan dan dengan malas membuka matanya. yang sekali lagi membuat Mingyu bergumam kata 'manis' dan membuatnya tersenyum aneh.
"um... hai?" ucap Mingyu dengan canggung. yang untuk beberapa saat tak mendapatkan respon dari pemuda di depannya. Ia hanya ditatap oleh mata sipit Wonwoo yang terlihat indah.
"hai." Ucap Wonwoo pendek seraya ia membenarkan posisi duduknya. Ia kini sudah sepenuhnya terbangun dari tidur panjangnya yang... yeah, tak buruk. ia sudah tak tidur dengan baik selama empat hari belakangan ini karena urusan kuliahnya, dan berterima kasih karena ia dibuat pingsan dan akhirnya bisa tidur dengan baik. Walau tangan dan kakinya terasa pegal karena diikat.
"jadi kita diculik, hm?" tanya Wonwoo, dan Mingyu hanya mengangguk.
"sudah berapa lama?"
"entahlah... kukira sekitar enam jam." ucap Mingyu, seraya melirik kearah jendela yang memperlihatkan langit malam.
Wonwoo pun mengikuti arah pandang Mingyu, kemudian mengangguk. "lalu kenapa aku ada di sini?" tanya pemuda berambut hitam kelam itu kemudian. membuat Mingyu berpikir kenapa ia bisa setenang ini dan hanya terus bertanya.
Seharusnya, untuk orang biasa, mereka akan kaget dan panik ketika ditemukan dalam posisi di sekap di dalam ruangan tak dikenal, kan? well, walau dalam kasus Mingyu, ia memang berbeda.
Tapi seberapapun Wonwoo bingung, pemuda itu tetap menjawab dengan sebuah senyuman aneh "kesalahan mereka. Sebenarnya akulah target mereka, tapi awalnya mereka mengira kau adalah aku." Jelas Mingyu. Wonwoo hanya menganggukkan kepalanya.
"lalu kenapa mereka mau menculikmu?"
"karena aku orang kaya, mungkin? Sepertinya sekarang mereka sedang meminta tebusan ke ayahku..." jawab Mingyu dengan santai. Tak tahu apa cara bicaranya terdengar sombong atau tidak. tapi itu memang kenyataan. Ia kaya, dan apa lagi yang di cari penculik itu kalau bukan uang?
Setelahnya Wonwoo tak kembali bertanya. Ia hanya terdiam untuk beberapa saat dengan tatapan yang kosong. terlihat seperti memikirkan sesuatu tapi Mingyu tak bisa menebak apa yang dipikirkan pemuda aneh ini.
"hei Mingyu..." panggil Wonwoo beberapa saat kemudian, dengan suara yang pelan. "aku mempunyai kunci di saku celanaku. Ambilkan dengan mulutmu." Ucapnya kemudian dengan wajah yang datar. Mingyu mengangkat satu alisnya.
"kenapa aku harus melakukan itu?!"
"dengan itu kita bisa melepaskan tali ini dan kabur lewat jendela." Jelas Wonwoo.
Mendengar itu, Mingyu mendecih meremehkan "kita tak perlu melakukan itu. hanya tunggu beberapa saat lagi. ayahku akan membawakan uang tebusan dan kita bisa bebas." Ucapnya.
"jadi kita hanya akan menunggu ayahmu membayar tebusan penculik itu?" tanya Wonwoo memperjelas dan Mingyu hanya mengangguk.
Pemuda yang memiliki kulit putih pucat itu menggelengkan kepalanya "bagaimana bisa kau berpikir seperti itu? membiarkan orang tuamu membayar sesuatu yang bukanlah kewajibannya?!" tanya Wonwoo, sedikit membentak yang cukup untuk membuat Mingyu tersentak. ia belum pernah melihat pemuda itu seekspresif ini, sedari-hari-ini, Mingyu hanya menemukan sosok seorang Jeon Wonwoo yang pendiam dan membosankan. Namun kini, wajahnya terlihat sangat kesal.
"tapi aku yakin ayahku memiliki cukup uang untuk menebus uang yang mereka inginkan."
"ya! Tak malu dengan umurmu? Apa kau anak kecil tak berdaya yang tak bisa menjaga dirimu sendiri?" gerutu Wonwoo kesal. "aku tak mengerti dengan pikiran orang yang memiliki banyak uang... apa hidup semudah itu?" lanjutnya, seraya menggerakkan kedua tangannya yang diikat kuat. Berharap ia bisa melepaskan tali yang mengikatnya hanya dengan gerakan tangannya.
"sangat jelas kau pasti memiliki kehidupan yang berat"
Komentar Mingyu datar yang terdengar sinis, namun Wonwoo tak mengatakan apapun sebagai balasan. Untuk beberapa saat Mingyu hanya melihat tingkah Wonwoo yang kesulitan dan bergerak kesana kembali. dan jangan sangka Mingyu tetap tak peduli,
Ia sangat.
Perkataan Wonwoo barusan membuat harga dirinya jatuh sejatuh jatuhnya. Ia tak pernah merasa sekonyol ini sebelumnya. benar juga,ia memang sedang diculik. Namun bukan di dalam posisi sebagai seorang anak kecil yang tak berdaya yang hanya bisa menunggu pertolongan dari ayahnya. Ia sudah dewasa, secara nyata.
Mingyu mendecih pelan. kali ini bukan karena meremehkan. Hanya karena terpikir tentang betapa konyolnya ia dimata dirinya sendiri, dan Wonwoo tentunya. Ia pasti terlihat seperti seorang anak orang kaya yang manja dan tak tahu susah. Walaupun, yeah, Mingyu jarang merasakan masa-masa sulit selain sesuatu yang berurusan dengan ayahnya sendiri.
Pemuda tinggi itupun menghela napas panjang.
.
"hei. Berhenti bergerak. Aku akan mengambilkannya untukmu."
"wa-ya! jangan gunakan lidahmu!"
"kau pikir aku harus bagaimana lagi mengambilnya, huh?!"
"cepatlah sedikit."
"dapat!"
.
.
MW
.
.
"lalu sekarang apa rencanamu?" tanya Mingyu seraya mengelus pergelangan tangannya yang terasa pegal. Kini ia telah terbebas dari tali yang mengikat tangan dan kakinya. Setelah melalui proses yang sangat berat. mulai dari dirinya yang harus mengambil kunci di saku celana Wonwoo, hingga ia yang harus sabar menunggu Wonwoo yang memotong tali di tangannya dengan sisi gerigi kunci.
Mingyu sebenarnya sedikit mengangumi kesabaran Wonwoo. Jika Mingyu, mungkin ia akan tetap memilih untuk menyerah. Lihat tangan pemuda putih itu yang terlihat lebih merah dan ada beberapa gores lecet disana. Tapi seberapa lamapun Mingyu melihat wajah datar itu, Wonwoo tetap saja terlihat seolah ia baik-baik saja.
"lalu apa rencanamu?" ulang Mingyu kemudian.
"kita harus pergi dari sini. Atau menghubungi polisi." Ucap Wonwoo. Wajahnya terlihat serius menatap kearah luar jendela "kau membawa ponsel?" tanyanya kemudian.
Mingyu menggeleng. Menunjukkan layar ponselnya yang mati. Kehabisan baterai. Melihat itu, Wonwoo menghela napas berat "kalau begitu kita harus pergi dari sini. Lewat jendela." Ucap Wonwoo.
"tapi di luar sangat gelap. Kenapa kita tak menunggu hingga pagi?"
"apa kau tak terpikir mereka bisa saja menyiksa kita ataupun membunuh kita kapanpun, Kim Mingyu?"
"kau terlalu paranoid. Mereka terlihat bodoh, mereka sepertinya tak mungkin me-"
.
Cklek.
.
"hei! Kenapa kalian bi-"
.
"lari, bodoh!"
"jangan menyebutku bodoh!"
Sebelum Mingyu sempat melontarkan kalimat kekesalannya, Wonwoo telah menarik kerah bajunya bagian belakang pemuda yang lebih tinggi itu dan keduanya berlari melewati jendela yang telah dibuka oleh Wonwoo sebelumnya.
Mereka beruntung karena mereka sebelumnya memang tidak berada di ruangan yang bertingkat. Sebelumnya Mingyu sudah sempat memikirkan kemungkinan terburuk untuk terjatuh, tapi mereka mendarat dengan sangat mulus dan berlari sekuat tenaga ke jalanan yang gelap dan sepi dengan Wonwoo yang memimpin. Sedangkan Mingyu terus saja melihat kebelakang, memastikan mereka masih sangat jauh untuk dapat dikejar kedua penjahat itu hingga mereka sudah tak tampak lagi ditelan kegelapan.
Mingyu terus melihat kebelakang, walau dua penculik itu sudah tak terlihat. Bukan karena takut mereka terkejar. Tapi, entahlah, ada rasa aneh di dada Mingyu yang membuatnya terus berpikir kenapa ia memilih untuk berlari bersama Wonwoo yang menggenggam tangannya. bukannya menunggu ayahnya yang sudah jelas akan menebusnya dengan mudah.
Ia tak mengerti kenapa. Kecuali ia tahu, ia sangat penasaran dengan bocah yang ia temui sebelas tahun yang lalu, kini berubah menjadi seorang pemuda aneh yang spontan di balik keterdiamannya.
.
.
"lalu apa rencanamu?" tanya Mingyu. Untuk ketiga kalinya. Ia memang hanya bisa melihat Wonwoo dibantu oleh sinar rembulan yang temaram. Namun sinar mata Wonwoo yang berbinar tetap terlihat. Lagi, ia menemukan sisi lain pemuda ini.
Wonwoo yang kini tengah duduk di tanah tak langsung menjawab. Ia masih mengatur napasnya, lelah setelah berjalan begitu jauh, hingga mereka memutuskan untuk berhenti di sebuah lapangan rumput yang lapang. Dibawah sebuah pohon besar.
Tak kunjung mendapat jawaban dari Wonwoo, pemuda itu akhirnya ikut duduk disebelah Wonwoo. Ikut menatap apa yang sedari tadi Wonwoo tatap. Langit malam yang cerah. Penuh bintang.
"kita akan menunggu hingga pagi, kemudian mencari halte bis untuk pulang ke Seoul." Ucap Wonwoo pada akhirnya, yang sebenarnya tak mengagetkan bagi Mingyu. Ia hanya mengangguk setuju. Setelahnya, Wonwoo pun berbaring di sebelah Mingyu dengan nyaman.
"langit malam ini sangat indah..." gumam Wonwoo pelan "mungkin aku memang harus berterima kasih padamu, Kim Mingyu..." lanjutnya.
Mingyu yang ingin bisa mendengar suara pelan Wonwoo lebih jelas pun ikut merebahkan tubuhnya disamping Wonwoo dan menjadikan kedua telapak tangannya sebagai bantal.
"kau berterima kasih padaku...?"
"ya. karena kau, aku kembali merasakan hidup. Terima kasih telah membuatku kabur sejenak dari dunia menyebalkan itu." tutur Wonwoo dengan tulus.
"ternyata hidupmu memang sulit, ya?" komen Mingyu sakratis. Kebiasaannya.
"hidupmu juga pasti tak mudah, kan?" Wonwoo bertanya balik, seraya terkekeh pelan. yang cukup untuk membuat Mingyu membeku beberapa saat.
.
Sampai kapan Jeon Wonwoo akan menunjukkan sisi-sisi lainnya pada Mingyu di waktu sesingkat ini...?
.
Mingyu hanya berdehem sebagai jawaban. antara ingin tak ingin untuk mengakui.
"apa sekarang kita sudah bisa membahas tentang 'kita' sebelas tahun yang lalu, Jeon Wonwoo?" tanya Mingyu. Mengalihkan pembicaraan, ia tak ingin mengingat masalah-masalahnya. Hanya ingin menanyakan pertanyaan yang sejak awal ada di benaknya ketika bertemu dengan Wonwoo. Hari ini.
Wonwoo menoleh menatap Mingyu "apa maksudmu, kita?" tanyanya tak mengerti. sebelumnya, sesulit apapun ia berpikir. Mingyu memang hanya Kim Mingyu yang muncul di majalah kampus. Dan melihat tatapan Wonwoo tak mengerti, Mingyu menghela napasnya sekali lagi. ia siap untuk menjelaskan.
"sebelas tahun yang lalu, aku bertemu dengan seorang anak kecil berambut hitam dan berkulit putih yang membawa payung warna kuning. Ia menghampiriku, menawarkan bantuan ketika aku seperti akan sekarat saat itu." Mingyu mengambil jeda sebentar, ia tersenyum "saat itu aku hanya meminta payungnya, tapi ia ingin mengantarkanku ke luar angkasa. Dasar anak aneh itu... ia tak tahu hidupku berubah karenanya. Dia menyihirku dengan suatu mantra yang membawa petaka. Dia memperkenalkan dirinya sebagai Jeon Wonwoo." Ucapnya. ia melirik kearah Wonwoo sebentar, pemuda itu masih terlihat siap untuk mendengarkan lagi.
"karena bertemu dengannya, aku tak tahu kenapa aku mengizinkan ayahku untuk menikah lagi. padahal aku tahu ia hanya akan membuat masalah..." pemuda tinggi itu kembali terdiam. "well, ayah memang orang yang sangat baik. Tapi ia tak sepenuhnya baik. Aku tahu ia hanya mencintai ibu, dan mendapatkan penggantinya hanya akan membuat ayah menyakiti wanita lain... aku tak mengerti kenapa ayah melakukan itu... tapi aku lebih tak mengerti kenapa aku membiarkan ayah melakukannya..." lanjutnya kemudian.
"menurutmu kenapa... Wonwoo-ya? bukankah anak itu benar-benar penyihir?" tanyanya diakhir. Ia telah menyelesaikan ceritanya. Matanya telah berkaca-kaca, menahan emosi yang menguap hingga kedadanya.
Sudah lama ia tak pernah bercerita sepanjang dan seperinci ini pada orang lain. yang mengetahui masalah ini hanyalah Seokmin. Itupun setelah pertemanan tiga tahun mereka. Tapi kini, ia menceritakan masalah beratnya pada orang yang baru ia temui siang tadi... atau mungkin, sebelas tahun yang lalu.
.
"jadi, apa kau telah sampai ke luar angkasa, Kim Mingyu?"
.
Pertanyaan itu akhirnya keluar setelah keheningan singkat sempat terjadi diantara keduanya. Mingyu menoleh, kemudian menggeleng sambil tersenyum miris. Ia selalu merasakan kehampaan dan kesepian setiap kali ia menutup matanya dan membayangkan luar angkasa.
"itu... bukan mantranya yang salah... atau, yeah, ini sama sekali bukan soal mantra... tapi soal ini..."
Mingyu sontak berhenti bernapas untuk sejenak saat tangan Wonwoo yang dingin menyentuh dadanya dan menepuknya pelan. kemudian satu tangan Wonwoo yang lain menunjuk kearah langit.
"apa yang kau lihat di depanmu?" tanya Wonwoo kemudian dengan suara yang terdengar santai.
"langit dan bintang." Jawab Mingyu seadanya. Kemudian ia merasakan pandangannya menjadi gelap sama sekali. Tangan dingin Wonwoo kini menutupi kedua matanya.
"mungkin yang kau lihat adalah langit malam, tapi bagiku, itu luar angkasa... angkasa yang luas..." ucap Wonwoo, kini intonasinya terdengar begitu percaya diri "tidak salah, kan? langit ini hanya sebagian kecil dari angkasa yang kita lihat. Sama seperti kau, yang hanya melihat sebagian kecil hal yang sesungguhnya sangat besar...
.
Duniamu tidak sekecil itu, Kim Mingyu..."
.
.
Tak sekecil itu...
Selama ini 'dunia' Mingyu hanyalah ayahnya. Ia tak pernah ingin memperdulikan yang lain. hanya ayahnya, dan terus berputar pada ayahnya.
.
"mungkin jika kau mulai memperluas jarak penglihatanmu, kau bisa melindungi wanita yang akan tersakiti oleh ayahmu. Memastikan mereka memang saling mencintai, dan mencoba untuk membuat sebuah keluarga yang hangat. semua butuh peranmu. Bukan sekedar urusan ayahmu dengan wanitanya, kan?" tanya Wonwoo diakhir setelah bicara panjang lebar. ia tahu mungkin ia telah bicara sesuatu yang membingungkan dan tak masuk akal. Tapi sejak tadi, ia terus memikirkan perkataan ibunya dulu. Yang kini telah tak ada.
Dan ia memastikan bahwa kata-katanya tadi juga untuk dirinya sendiri.
Ia terlalu kecil memandang dunia akhir-akhir ini.
.
Sedangkan Mingyu, yang matanya baru saja mengeluarkan setetes air mata di bawah telapak tangan Wonwoo itu kemudian tersenyum.
"ternyata kau benar, Jeon Wonwoo penyihir itu..."
"aku bukan penyihir. Itu konyol."
"tapi kenapa kau seolah sangat mengerti masalahku...?"
Wonwoo hanya tersenyum "karna aku pernah mengetahui masalah yang sama... sebelumnya." Ucapnya pelan, hampir seperti gumamam yang tak jelas, seraya mengangkat tangan yang sebelumnya menghalangi penglihatan Mingyu.
Mingyu pun kini dapat melihat keatas. Kearah langit malam yang cerah dan benar-benar terlihat lebih indah dari sebelumnya. Ia mungkin masih percaya ini adalah sihir seorang Jeon Wonwoo. Mingyu lupa kapan terakhir kali ia merasa setenang dan sebahagia ini pula.
Yeah, kalian bisa menganggap Mingyu aneh, sama dengan Wonwoo, sama dengan takdir yang menghubungkan keduanya. Pemuda yang lebih tinggi itu tak tahu kenapa semuanya bisa terjadi begitu saja.
.
.
MW
.
.
Paginya,
Mingyu terbangun ketika merasakan hawa panas di sekitarnya, dan saat ia membuka matanya, sinar terik matahari langsung menyapanya. Membuat Mingyu kembali memejamkan matanya dengan malas. ia kemudian menolehkan kepalanya kesamping, dan ketika ia mengetahui Wonwoo tak ada di sebelahnya, ia pun segera bangkit dari posisi berbaringnya dan duduk di tanah berumput ini. dengan mata menyipit,Mingyu mengedarkan pandangannya dengan cepat. Hingga ia menemukan sosok pemuda bersweater putih yang berada tak jauh darinya. Terlihat sedang bicara dengan pasangan suami-istri tua.
Pemuda yang lebih tinggi itu kemudian menghela napasnya. Lega. Ia sempat berpikir mungkin Wonwoo dibawa oleh macan liar hingga ia sadar ia berada di sebuah padang rumput yang tak jauh dari persawahan. Mingyu menggaruk tengkuknya sambil menguap. Berpikir bagaimana ia bisa tidur begitu nyenyak ditempat seperti ini.
"ini, ambillah." Suara Wonwoo sontak menyadarkan Mingyu dari lamunan singkatnya. Sedikit kaget dengan Wonwoo yang tiba-tiba sudah berada di depannya yang masih di posisi duduk. Pemuda bermata sipit itu menyodorkannya sebuah apel merah besar tepat diwajahnya. Dan setelah memandang Wonwoo sejenak, Mingyu pun mengambil apel itu dari tangan Wonwoo.
"dari mana kau mendapatkan buah ini?" tanya Mingyu, sebelum ia menggigit apel itu.
Wonwoo yang kini duduk di sebelah Mingyu menunjuk ke belakang "aku menemukan kebun apel di daerah sana dan meminta tukang kebunnya beberapa." Jawab pemuda itu dengan nada datar seperti biasa sebelum akhirnya ikut memakan apel merah di tangannya.
"kenapa dia mau memberikannya padamu?" tanya Mingyu lagi.
"karena aku bilang aku tersesat bersama temanku yang sedang tak sadarkan diri karena kelaparan." Jawab Wonwoo lagi, masih dengan nada datarnya seolah apa yang ia katakan adalah sesuatu yang biasa.
Namun itu cukup untuk membuat Mingyu tersedak "ya! kau berbohong!" pekik Mingyu marah, namun wajahnya terdapat simburat merah karena malu.
Wonwoo hanya menaikkan kedua bahunya "perutmu terus bersuara sejak tadi subuh" ujar pemuda itu seraya melanjutkan memakan sarapan paginya dalam diam. Memberikan waktu 'hening' lagi bagi keduanya yang kini hanya menatap kearah depan. Menikmati pemandangan sawah yang jarang keduanya lihat, dengan pikiran yang berkelana entah kemana.
.
Saat keduanya telah selesai memakan masing-masing dua buah apel, Mingyu dan Wonwoo pun bangkit berdiri sembari menepuk-nepuk baju keduanya dari rumput liar yang menempel.
"ada halte bus lima meter dari sini." Ucap Wonwoo dengan tatapan menerawang kearah selatan "ngomong-ngomong kita sedang berada di daerah Cheonan, tiga jam perjalanan untuk sampai ke Seoul jad..." pemuda pemilik mata sipit itu sontak menghentikan perkataan, kaget ketika tiba-tiba tangan Mingyu menyentuh kepalanya dengan pelan.
"apa? Lanjutkan." Ujar Mingyu pendek, ia menyisirkan rambut hitam kelam Wonwoo dengan jemarinya "kau pasti tak sadar rambutmu sedari tadi sudah seperti sarang burung. Aku tak mau orang-orang berpikir kalau aku berjalan dengan seorang gembel." Lanjutnya santai seraya merapikan poni depan Wonwoo sebelum ia menurunkan tangannya. "begini lebih baik" gumamnya, dengan senyum tipis.
Sedangkan Wonwoo hanya bisa membeku di tempatnya untuk beberapa saat. Kedua tangannya menyentuh kepalanya, seraya memandang Mingyu dengan tatapan yang sulit dimengerti. Karena ia tak pernah diperlakukan seperti ini, Wonwoo merasa aneh dan bingung harus bagaimana.
"hei, ayo pergi. rambut baumu itu tak akan pergi, Wonwoo-ya." ucap Mingyu seraya tersenyum licik, khasnya. Cukup untuk membuat Wonwoo mengangkat satu alisnya sebelum akhirnya memasang kembali wajah datar andalannya dan mulai memimpin perjalanan dengan perasaan agak dongkol.
.
.
MW
.
.
"bisa kita berhenti di sini...?"
Keduanya kini sudah berjalan sekitar empat kilo, mungkin untuk sampai di halte hanya butuh waktu sepuluh menit lagi. tapi saat itu, suara pelan Wonwoo menghentikan langkah Mingyu. Mereka berdua memang hanya diam sedari perjalanan tadi. bingung juga harus memperbincangkan apa, dan pertanyaan itu, adalah suara pertama yang Mingyu dengar sejak sekitar satu jam mereka berjalan dalam keheningan.
Pemuda yang lebih tinggi itu pun menoleh ke arah Wonwoo, bergantian dengan sebuah plang besar yang berada di sampingnya. Kemudian ia kembali menatap pemuda berekspresi datar itu dengan tatapan bingung sekaligus horor.
"untuk apa?" tanya Mingyu.
"mengunjungi seseorang. mumpung berada di sini." Jawab Wonwoo yang kemudian langsung berjalan masuk ke gerbang di samping mereka tanpa menunggu respon dari Mingyu. Yang mau tak mau, Mingyu hanya bisa mengekori Wonwoo lagi.
Keduanya kini memasuki sebuah kompleks pemakaman yang masih tradisional. Banyak bukit-bukit kecil ala makam korea disana, dan Mingyu yang berada di belakang Wonwoo hanya bisa menebak-nebak dalam hati siapa yang pemuda itu 'kunjungi'.
"ternyata kau mengenal daerah sini..." gumam Mingyu pelan. lebih seperti menyuarakan isi pikirannya begitu saja. ia tak tahu kalau Wonwoo mendengar perkataannya dan ia hanya mengangguk. jadi itulah kenapa Wonwoo bisa menunjukkan arah dengan percaya diri, baguslah, pikir Mingyu seraya ikut menganggukkan kepalanya.
"jadi kau pernah tinggal disini?" tanya Mingyu kemudian basa-basi.
"tidak. tapi aku sering mengunjungi bibiku di sini."
"disini?"
Wonwoo kembali mengangguk, bertepatan dengan langkahnya yang terhenti di depan sebuah bukit nisan. Pemuda berkulit putih itu menunjuk kearah depan, "ini bibiku..." ucapnya kemudian.
Kini arah pandang Mingyu yang menyendu terarah pada sebuah batu hitam berukir nama. Yang di detik kemudian membuat Mingyu kembali, sekali lagi, kembali menatap Wonwoo dengan tatapan antara bingung dan keget.
.
"Lee Mirae...?"
.
Semilir angin berhembus kearah keduanya. Yang seolah membekukan, hingga keduanya tak bergerak untuk beberapa menit kedepan. Wonwoo memejamkan matanya, menikmati angin sejuk yang menerpa wajah dan memanikan rambut hitamnya. Wajahnya terlihat sangat tenang, berbeda dengan ekspresi datar yang sering ia tunjukkan.
Berkebalikan dengan Mingyu, yang sampai kini masih memandang kearah batu nisan yang terukir nama yang tak asing baginya. Ia pernah mengenal seorang wanita yang memiliki nama yang sama? Dan wanita itu adalah bibi dari Wonwoo?
"... jadi... kau sebelumnya sudah mengenalku, Jeon Wonwoo...?" itu pertanyaan Mingyu pertama kali setelah ia terdiam cukup lama. ia memandang Wonwoo dengan pandangan yang sulit di artikan, dan entah kenapa ia makin mengerutkan dahinya ketika Wonwoo kembali mengangguk.
Pemuda itu membuka matanya, menatap lurus kearah Mingyu "aku baru ingat tadi malam. Kita pernah bertemu sebelumnya. Diacara pernikahan bibiku..." Wonwoo terdiam sejenak "... dan ayahmu." Ucapnya kemudian.
.
Ya, acara pernikahan. Mingyu mungkin tak melihat Wonwoo saat itu, tapi ia sangat ingat pernikahan itu. dua belas tahun yang lalu, acara pernikahan ayahnya yang kedua, bersama seorang wanita desa berperangai ceria dan hangat... bernama Jeon Mirae. Dan Mingyu hanya tahu sampai di situ karena ia mencoba tak peduli setelahnya. Ia tak ingin mengambil pusing tentang kehadiran wanita lain dirumahnya. Ia tak mau tahu, hingga dua bulan kemudian, yang ia tahu adalah seorang wanita mati tenggelam di kolam renang rumahnya.
Dan tak ada satupun yang mau tahu apa yang terjadi pada wanita itu. Jeon Mirae, istri ayahnya yang kedua.
Awal alasan Mingyu tak mengizinkan ayahnya untuk menikah lagi. walau akhirnya dua kasus yang sama kembali terulang.
.
.
Wonwoo kini bergerak, mengelilingi bukit kecil tempat bibinya itu berbaring dan mulai mencabuti rerumputan liar yang banyak tumbuh. Ia lupa kapan terakhir kali ia pergi ke sini, begitu pula keluarganya yang semua telah pindah ke Seoul. Pemuda berambut hitam kelam itu mendesah, kepedihan menggrogoti hatinya. Tak membayangkan betapa kesepiannya wanita yang sudah ia anggap sebagai kakaknya sendiri ini. mereka memang belum memiliki banyak kenangan, bibinya meninggal saat ia berusia delapan tahun. Tapi kenangan saat Wonwoo berlibur dirumah bibinya saat ia berumur lima tahun adalah sesuatu yang berharga. Ia tak akan melupakan bibinya—terlepas dari apa yang sebenarnya terjadi pada wanita ini.
Memang, keluarganya masih tak ada yang tahu apa yang sebenarnya terjadi dibalik kematian bibinya itu. hampir seluruh anggota keluarganya hanya bisa meninggalkan rasa benci pada keluarga Kim, tapi tidak dengan Wonwoo.
Ia tak begitu peduli.
Hidupnya sudah begitu melelahkan. Ia tak punya waktu untuk membenci siapapun.
Termaksud pada seorang Kim Mingyu, yang kini masih membeku di tempatnya. Hanya memandangi nisan bibinya dengan ekspresi bersalah.
Wonwoo menghela napasnya, lalu menepuk bahu pemuda yang lebih tinggi darinya itu pelan.
"ayo pulang..."ucapnya pendek. Cukup untuk membuat Mingyu kembali ke alam sadarnya. Pemuda itu menatap Wonwoo seolah ia akan menangis.
"... biarkan aku bersujud untuknya... sebentar..." Mingyu mencicit, tapi cukup untuk bisa Wonwoo dengar dan ia hanya mengangguk dan berjalan kebelakang. Melihat Mingyu dengan badan besarnya bersujud di depan nisan bibinya. Sebagai bentuk rasa hormat.
.
"maaf karena aku tak melakukan apapun disaat-saat terberatmu di rumah kami... semoga kau tenang... ibu..."
.
.
MW
.
.
Matahari kini telah terik, saat keduanya akhirnya sampai di halte bus. Bertepatan dengan sebuah bus yang datang hingga keduanya tak perlu menunggu lebih lama lagi. Wonwoo dan Mingyu pun duduk bersebelahan, kembali dalam diam karena sejak dari pemakaman, Mingyu tak lagi bicara. Ia tak lagi banyak bertanya dan bicara basa-basi pada Wonwoo yang memang aslinya pendiam. Mingyu pasti masih shock, pikir Wonwoo ketika sesekali ia melirik kearah Mingyu disebelahnya yang memasang wajah datar dengan tatapan kosong.
Tapi ini bukan hanya soal Mingyu sebenarnya. Wonwoo awalnya juga kaget ketika ia sadar nama Kim Mingyu yang seolah tak asing baginya. Mereka telah dua kali bertemu sebelumnya. Ketika dipernikahan bibinya, dan di suatu hari yang hujan, ia menemukan Mingyu yang kedinginan. Anak itu jatuh pingsan ketika mereka sedang bicara dan Wonwoo lah yang menelpon rumah sakit untuk membawa Mingyu saat itu.
Yeah, hanya sebatas itu, dan Wonwoo tak mengira mereka akan bertemu lagi di sini. Dalam situasi tak masuk akal yang melelahkan ini. Wonwoo menghela napasnya, ia lelah dan mengantuk hanya dengan memikirkan semua ini. hingga tanpa butuh waktu yang lama, ia tertidur.
Ia tak menyadari kepalanya yang sudah terjatuh menunduk kebawah itu secara perlahan dibawa oleh tangan Mingyu yang besar hingga menyandar di bahu Mingyu. Pemuda tinggi yang sedari tadi diam itu memang lebih sering menerawang menatap pemandangan luar jendela, namun ujung matanya tetap memperhatikan Wonwoo di sebelahnya. Hingga kini ia mendapatkan waktu untuk menatap pemuda itu tanpa malu.
"terima kasih..."
Bisik Mingyu pelan dekat dengan kepala pemuda bersurai hitam kelam itu hingga hidung Mingyu menyentuh surai lembut Wonwoo. Pemuda itu tanpa sadar menghirup pelan aroma Wonwoo yang terasa khas dan mungkin tak akan cepat ia lupakan.
"kau sudah bekerja keras kemarin dan hari ini..."
Bisik Mingyu lagi, kini ia sedikit merendahkan kepalanya. berusaha melihat wajah Wonwoo yang tertidur di bahunya. Pemuda yang biasanya memasang ekspresi datar dan tak peduli itu kini terlihat begitu tenang saat tertidur—bahkan Mingyu dibuat kaget karenanya. Merasa Wonwoo sangat menggemaskan hanya diwaktu ia tertidur. Ketika bangun, pemuda itu selalu memasang ekspesi datar, selalu melamun, dan pelit bicara hingga membuat Mingyu kesal. tapi kini, wajah tenang Wonwoo yang tertidur membuat Mingyu terhibur. Walau kantung mata Wonwoo membuatnya sedikit terganggu. Berpikir apa Wonwoo sama sekali tak tidur tadi malam...
"sekali lagi, terima kasih..."
Ulang Mingyu. Yang intinya, ia hanya bisa mengucapkan terima kasih pada pemuda ini. ia telah mendapatkan jawabannya, ia telah mendapatkan jalan keluar atas masalahnya, dan ia telah diberikan kesempatan untuk bertemu dengan Jeon Wonwoo yang ia tunggu sejak dulu. Namun yang paling penting adalah, ia berterima kasih karena Wonwoo sama sekali tak meninggalkannya walau ia tahu Mingyu adalah anak dari pria yang membuat bibinya terbunuh.
Mingyu memang belum bisa mengerti jalan pikiran Wonwoo, tapi ia berterima kasih karena Wonwoo sama sekali tak terlihat menyalahkannya. Pemuda berkulit putih itu justru memberinya kesempatan untuk sadar akan kesalahannya.
.
"hm... semangat Kim Mingyu..."
.
Mingyu terperanjak mendengar suara serak Wonwoo yang tiba-tiba terdengar. Ia menatap wajah itu, tangannya menggeser poni Wonwoo yang menutupi wajahnya, namun pemuda aneh itu masih memejamkan matanya.
"kau tak tidur dari tadi?"tanya Mingyu takut-takut. Namun Wonwoo tak mengatakan apapun lagi selama lima menit membuat Mingyu kembali menghela napas lega. Entah memang tidur atau hanya sebuah igauan, tapi entah untuk keberapa kalinya,
Mingyu berterima kasih pada pemuda aneh ini.
.
.
.
"jadi kita berpisah di sini?"
Wonwoo mengangguk.
"ehm... supirku akan menjemput sebentar lagi. kau tak mau ikut?"
Wonwoo menggeleng "rumahku dekat dari sini." Jawabnya pendek. Membuat sebuah suasana canggung kembali melingkupi keduanya. Mingyu menggaruk tengkuknya. Ia tak berpikir lagi untuk memaksa Wonwoo, wajah pemuda itu sudah begitu lelah. Begitu pula dengannya.
"kalau begitu, selamat tinggal Kim Mingyu." Ucap Wonwoo datar ketika Mingyu tak juga mengatakan apapun. Namun Mingyu kaget dan dengan cepat mencengkram lengan Wonwoo. Menghentikannya langkah Wonwoo.
"tidak, bukan selamat tinggal." Mingyu melepaskan tangannya yang mencengkram lengan Wonwoo. Kemudian ia menaikkan tangannya ke hadapan pemuda itu. mengajaknya bersalaman.
"sampai bertemu lagi, Jeon Wonwoo." Ucap pemuda tinggi itu dengan suara pelan, kentara dengan rasa malu. namun ada ketegasan di dalam kalimatnya. apalagi saat Wonwoo menyambut uluran tangannya dan menjabat tangan Mingyu dengan tangannya yang kurus dan terasa dingin.
Mingyu merasa tergelitik dengan sensasi aneh yang menjalar dari tangannya itu. namun ia tak mau mengambil pusing. Mingyu menggelengkan kepalanya dan memberikan senyuman terlebarnya pada Wonwoo sebelum pemuda itu berbalik pergi. tanpa mengatakan apapun, hanya sebelumnya memberikan tatapan dalam pada Mingyu.
Pemuda yang kini tengah ditinggalkan itu hanya menghela napasnya, menatap punggung Wonwoo yang semakin lama mengecil dan menjauh. ia tahu mungkin ini aneh, namun ia merasakan sebuah ikatan kuat antara dirinya dan pemuda aneh yang pendiam itu. Mingyu rasa ia akan bertemu dengan seorang Jeon Wonwoo lagi. hingga rasanya Mingyu tak perlu mengejar Wonwoo untuk meminta kontaknya.
Lagi pula untuk alasan apa?
Setelah ini ada banyak hal yang harus Mingyu urus.
Tentang ayahnya, dan jangan lupa, Yoon Jeonghan yang ia tinggalkan kemarin.
Huft, besok akan menjadi hari yang lebih berat lagi...
.
.
.
Bersambung.
.
.
Hello, this is Bisory!
Pertama-tama saya ingin memohon maaf kepada readersnim yang pasti sudah menunggu sangat lama untuk chapter ini di publish, saya mohon maaf sebesar-besarnya, ada banyak hal yang tak bisa saya ungkapkan satu persatu perihal keterlambatan ini *deep bow* tapi saya berjanji untuk chapter selanjutnya tak akan memakan waktu yang lama^^
Saya juga ingin berterima kasih kepada kalian, yang sudah memberikan respon positif pada fanfict bercerita tak jelas ini =.=,, terima kasih pula untuk antusiasme kalian di box review di chapter sebelumnya, that's really nice to meet another Meanie shipper here~!
Last not least, thanks for read this fict, even willing to favorite and follow this story!
Sampai jumpa di chapter terakhir,
And let me know what do you think guys~!
