Yifan dan Luhan berjalan menuju kantor adminstrasi sekolah, namun Yifan tiba-tiba mengentikan langkahnya menyadari sesuatu, "Telinga lebar itu! Harusnya aku sadar kalau itu dia," batin Yifan.
"Lu kau tunggu di sini ya, aku ada urusan," ujar Yifan sebelum berlari kembali kearah lorong, meninggalkan Luhan dengan tatapan heran. Sayangnya Yifan tidak menemukan sosok bertelinga lebar itu di sana, "ah aku akan menghubunginya saja setelah sekolah," pikirnya.
Sumpah suasana hati seorang Park Chanyeol saat ini sedang benar-benar dalam kondisi yang buruk. Di pagi hari dia sudah bertemu dengan Yifan yang ternyata tak mengenalinya, ditambah Yifan yang juga tak menghubunginya hingga saat ini. Ia menatap kembali layar telepon genggamnya yang tak menujukkan tanda-tanda adanya pemberitahuan pesan masuk dari pemuda jangkung berambut pirang itu. Chanyeol sudah bersumpah ia tak akan menghubungi Yifan lebih dulu, ia ingin tahu apakah Yifan masih peduli kepadanya. Perasaanya bertambah kacau mengingat perbicangan teman sekelasnya mengenai Yifan dan pemuda yang ternyata bernama Luhan itu.
"Kau sudah bertemu murid pindahan baru kelas 3?" ujar Ga Eun biang gossip di kelas Chanyeol.
"Iya kudengar mereka dari Kanada, apa kau pikir mereka sepasang kekasih?" balas seorang gadis lain bernama Yeonhee, mereka berdua terkenal sebagai fujoshi paling akut di kelas II B.
"Menurutku sih begitu, kau lihat Yifan sunbae selalu menggandeng tangan Luhan sunbae, seperti seorang seme yang protektif. Apalagi mereka dari negara seperti Kanada, hubungan seperti itu pasti lebih diterima di sana," jelas Ga Eun dengan sangat yakin seperti ketika ia menjelaskan segala hal tentang EXO, boyband yang merupakan idolanya.
"Ah, aku tidak percaya akhirnya aku bisa melihat pasangan sesame jenis di dunia nyata apalagi mereka benar-benar serasi, Yifan sunbae sangat tampan, dan Luhan sunbae juga sangat imut dan cantik untuk ukuran pria," kata Yeonhee dengan wajah merona entah apa yang telah dia bayangkan.
"Tapi kata Sooyoung mungkin saja mereka saudara jadi sangat dekat begitu," lanjut Yeonhee dengan raut kecewa.
"Ah tidak mungkin mereka saudara Yeonhee-ah, lihat saja marga mereka berbeda Lu Han dan Wu Yifan," jawab Ga Eun yakin dengan penekanan pada marga mereka.
Chanyeol sudah akan memejamkan matanya ketika akhirnya sebuah pesan masuk ke telepon genggamnya.
Maaf Chanyeol aku baru bisa menghubungimu sekarang, ngomong-ngomong aku sudah ada di Korea, aku sudah tidak sabar bertemu denganmu, bagaimana kalau besok kita bertemu di Coffee Shop dekat sekolah?
Chanyeol rasanya hampir menangis bahagia membaca pesan dari Yifan, ingin rasanya dia menuliskan panjang lebar tentang bagaimana sebalnya dia Yifan baru menghubunginya sekarang dan bertanya siapa Luhan sebenarnya, namun diurungkan niatnya menyadari bahwa dia dan Yifan bukan siapa-siapa, akhirnya dia hanya membalas dengan jawaban singkat mengiyakan ajakan Yifan lagipula Chanyeol juga harus mengatakan sesuatu kepada Yifan.
Chanyeol sudah menunggu sekitar lima belas menit, hingga akhirnya Yifan menampakan dirinya, Chanyeol tersenyum bahagia, sampai beberapa saat lain ia menangkap ada sosok yang dikenalnya mengekor dibelakang Yifan dengan riangnya.
"Ya , Yifan aku ikut," ujar sosok itu, yang Chanyeol pastikan bernama Luhan.
"Ayolah Lu aku sudah menurutimu untuk menemanimu seharian berkeliling Seoul kemarin," jawab Yifan sedikit jengah. Hati Chanyeol memanas mengetahui Yifan menghabiskan waktunya bersama Luhan.
"Chanyeolli~ aku benar-benar merindukanmu!" seru Yifan riang begitu menangkap sosok Chanyeol, tanpa raga-ragu ia segera mendekap Chanyeol kepelukannya, Chanyeol kontan saja kaget dengan tindakkan Yifan.
"Euh Yifan hyung sesak," ujar Chanyeol lemah ketika Yifan tak kunjung melepaskan pelukkannya.
Yifan hanya terkekeh dan mengacak rambut pendek Chanyeol, "habis hyung sudah lama tak bertemu denganmu Chanyeol-ah ngomong-ngomong kau benar-benar bertambah tinggi sekarang, aku sampai terlambat menyadari bahwa itu kau yang kemarin aku temui di lorong sekolah."
"Eh, iya hyung aku juga tidak tahu kenapa aku bisa setinggi ini," jawab Chanyeol kikuk.
"Sayang padahal kau dulu sangat imut dan pas untuk hyung peluk," kata Yifan tidak peka, kontan saja kata-kata Yifan terasa menohok untuk Chanyeol, kata-kata Yifan hanya membenarkan kekhawatiran Chanyeol bahwa Yifan tidak menyukai dirinya sekarang.
Chanyeol sesekali menyedot float yang dipesannya sembari terus mengamati Yifan yang bercerita tentang kehidupannya di Kanada tiga tahun terakhir, beberapa kali Luhan menyelanya dengan mengunakan bahasa Tiongkok yang Chanyeol tidak mengerti. Walau terlihat kesal dengan tingkah Luhan yang sedikit hiperaktif namun Chanyeol menyadari bahwa Yifan tidak benar-benar marah terhadap Luhan mereka justru terlihat seperti sepasang kekasih yang mesra dengan percecokan kecil mereka.
Kali ini Chanyeol ingin egois ia harus mendapatkan kepastian dari Yifan, sudah cukup ia memendam perasaannya selama ini, ia ingin tahu reaksi Yifan walau Chanyeol tidak punya cukup keberanian untuk meminta Yifan menjadi kekasihnya secara langsung, ia akan mencoba cara lain, setidaknya ia akan mendapatkan kejelasan akan hubungan mereka.
"Hyung aku ingin mengatakan sesuatu," ujar Chanyeol.
"Ya?" perhatian Yifan kini ada padanya.
"Yifan hyung aku ingin kita berteman saja," ujar Chanyeol, detik selanjutnya terasa seperti selamanya bagi Chanyeol. "Hyung jika kau melepaskanku begitu saja maka aku tidak akan berharap lagi," batin Chanyeol. Yifan terdiam dan senyuman yang baru saja mengiasi wajahnya menguar begitu saja, Luhanpun ikut terdiam menanti reaksi dari laki-laki di tengah duduk di sebelahnya kini.
"Baiklah," jawab Yifan singkat, Yifanpun menarik Luhan untuk mendekat ke sisinya dan membisikan sesuatu dengan bahasa ibu mereka yang Chanyeol tidak mengerti, yang Chanyeol sadari ekspresi Luhan sedikit terkejut. Sementara itu Chanyeol menahan air matanya untuk tidak jatuh, ia sudah mendapatkan jawabanya dia tidak akan berharap lagi kepada Yifan.
Beberapa saat kemudian Chanyeol baru menyadari bahwa Luhan mengulurkan tangannya kepadany. "Aku belum meperkenalkan diriku secara resmi kan Chanyeol-ssi?" ujar Luhan dalam bahasa Korea yang fasih, hal yang cukup membuat Chanyeol terkejut.
"Namaku Lu Han, Lu untuk rusa dan Han untuk fajar, aku adalah kekasih Yifan," ujar Luhan kemudian mengaitkan tanganya ke lengan Yifan, Chanyeol sendiri tidak bisa membaca ekspresi Yifan saat itu.
Chanyeol menyabut uluran tangan Luhan dan memperkenalkan dirinya, "Park Chanyeol, kau bisa memanggilku Chanyeol, hyung," ujarnya ramah.
Setelah mereka pergi menginggalkan Coffee Shop, Luhan mengajaknya untuk ikut ke Namsan Tower, awalnya Chanyeol ingin menolaknya, namun setelah Yifan ikut memintanya untuk ikut akhirnya ia mengiyakan permintaan Luhan.
Chanyeol membayangkan bahwa ia akan sangat senang ketika Yifan kembali ke Korea, ia tidak menyangka dirinya seperti menjadi orang ketiga disaat Yifan hyung yang dicintainya berkencan dengan orang lain. Namun untunglah Chanyeol adalah aktor yang cukup baik ia dapat bersikap seolah ia baik-baik saja, lagipula dirinya sendiri yang meminta Yifan untuk sekedar menjadi temannya, yang menurut Chanyeol kini adalah keputusan yang tepat, mengingat ternyata Yifan kini sudah memiliki kekasih, ia justru merasa bersalah kepada Luhan karena ucapannya tadi, ia pasti mengira bahwa terdapat hubungan spesial antara dirinya dan Yifan sebelumnya.
Tapi jujur Chanyeol tidak bisa menghilangkan rasa panas dihatinya melihat kemesraan Yifan dan Luhan, bagaimana perhatiannya Yifan yang senantiasa mengenggam tangan Luhan ketika pemuda bertubuh mungil yang rupanya takut ketinggian itu menaiki gondola untuk menuju ke atas gunung Namsan. Chanyeol mengingatkan dirinya berkali-kali bahwa dirinya dan Yifan hanya sekedar sahabat.
"Chanyeol bisa tolong kau fotokan aku dan Yifan," pinta Luhan.
"Baiklah hyung," Chanyeolpun mengambil gambar mereka berdua yang berlatarkan pemandangan kota Seoul dari ketinggian.
"Sekarang biarkan aku mengambil gambarmu bersama Yifan," ujar Luhan.
Chanyeolpun dengan kikuk berjalan ke arah Yifan, jantung Chanyeol rasanya mau copot ketika tiba-tiba Yifan meraih pinggangnya membuat tubuh mereka berdempetan, kilasan memori tiga tahun yang lalu ketika mereka berdua berlibur di taman hiburanpun kembali teringat oleh Chanyeol, pose mereka persis dengan pose mereka tiga tahun lalu, foto terakhir yang mereka ambil berdua sebelum Yifan pergi ke Kanada. Dengan ragu Chanyeol memasang senyuman manisnya dan membuat bentuk V dengan dengan kedua jarinya yang merupakan sebuah pose khas seorang Park Chanyeol.
Chanyeol pikir Luhan akan keberatan namun rupanya Luhan dengan riang menghitung mundur dan memulai mengambil gambar mereka berdua.
"Baiklah sekarang kita bertiga selfie bersama," seru Luhan riang setelah puas mengambil gambar Chanyeol dan Yifan.
Tidak terasa sudah hampir pukul sembilan malam sudah berjam-jam mereka menghabiskan waktu bersama. Luhan mengamati hasil foto yang ia ambil hari itu, ia tersenyum penuh arti melihat bagaimana tanpa Chanyeol sadari Yifan selalu memperhatikan pemuda bermata bulat itu.
"Aku pergi membeli kopi dulu ya," ujar Luhan meninggalkan Yifan berdua dengan Chanyeol.
"Chanyeol ke sini sebentar," pinta Yifan agar Chanyeol mendekat ke arahnya yang sedang menuliskan sesuatu ke gembok miliknya.
"Bisa tolong kau pasangkan ini," lanjutnya.
Chanyeolpun mengambil gembok yang ada di tangan Yifan, Chanyeol merasa sedikit aneh dengan permintaan Yifan, harusnya ia meminta Luhan yang merupakan kekasihnya karena tradisi memasang gembok di replika pohon yang ada di Namsan Tower biasanya dilakukan oleh sepasang kekasih dengan menuliskan nama keduanya di gembok itu dan membuang kuncinya, dengan harapan cinta mereka akan abadi.
Yifan Chanyeol
Chanyeol mengerjapkan matanya beberapakali merasa mungkin ada yang salah dengan penglihatannya ketika membaca tulisan yang ada di atas gembok yang Yifan berikan kepadanya.
"Eh?" ujar Chanyeol terkejut menatap Yifan.
"Hyak!" ujar Yifan yang melempar kunci di tangannya dengan sekuat tenaga ke udara.
"Ku harap cinta kita akan abadi," ucap pemuda berambut pirang itu dengan seulas senyuman.
"Jadi sebenarnya Luhan ini . . ." tanya Chanyeol heran.
"Aku sepupu Yifan, ibuku adalah kakak ibu Yifan, makanya marga kami berbeda karena otomastis aku mengikuti marga ayahku," jalas Luhan.
"Tapi Yifan tidak pernah bercerita tentangmu sebelumnya," ujar Chanyeol masih tak percaya.
"Em . . .mungkin karena kami baru dekat selama kami di Kanada," jawab Luhan.
"Sekarang aku ingin mengabiskan waktuku bersama Chanyeol! Sekarang sana kau pulang, aku sudah memesankan taksi untukmu," ujar Yifan dengan sopannya mengusir Luhan dengan menorong punggung pemuda bertubuh mungil itu menuju taksi yang sudah menunggunya.
"Ya! Wu Yifan, ini caramu berterima kasih seteleh aku dengan baik hati membantumu dan permainan konyolmu!" protes Luhan.
"Ini salahku," ujar Yifan ketika mereka kini tinggal berdua, akhirnya Yifan terbebas dari Luhan yang terlalu bersemangat karena baru tiba di Korea, pemuda gila bahkan mengejutkannya dengan muncul tiba-tiba di bandara di hari keberangkatanya ke Korea dan berkata bahwa ia akan mengikutinya untuk bersekolah di Korea. Yifan tahu bahwa Luhan selama ini tertarik dengan kebudayaan Korea bahkan sampai mempelajari bahasanya namun ia tidak tahu bahwa ia sampai senekat itu.
"Huh memangnya apa salahmu hyung?" ucap Chanyeol tak mengerti.
"Kalau saja saat itu aku mengenalimu di lorong sekolah, kalau saja dari dulu aku memintamu menjadi kekasihku," jelas Yifan.
"Aku yang salah hyung harusnya aku lebih berani mengucapkan perasaanku lebih dulu. Dan sebenarnya aku memintamu untuk sekerdar menjadi temanku karena aku takut kau sudah tak menyukaiku lagi," ujar Chanyeol.
"Huh? Tahukah bahwa hyung masih sangat menyukai Chanyeollie~," ujar Yifan sembari mengeratkan pelukkannya ke Chanyeol.
"Aku sudah tidak imut seperti dulu lagi hyung, fisikku sudah banyak berubah," ujar Chanyeol lirih merasa dirinya konyol.
"Jadi kau berpikir selama ini aku hanya menyukai fisikmu saja?" ujar Yifan hampir tak percaya, ah mungkin ini salahnya lagi karena terlalu sering berkomentar tentang bagaimana imutnya Chanyeol dengan tubuhnya yang mungil dulu.
Yifan mengecup lembut kening Chanyeol dan berkata "Aku mencintai seorang Park Chanyeol karena dia Park Chanyeol," ucap Yifan membuat pipi tembam Chanyeol merona.
"Tapi kalau kau masih belum yakin kalau aku tidak menyukai tubuhmu yang sekarang bisa aku buktikan betapa aku masih menyukai tubuhmu ini," ucap Yifan disertai senyuman penuh arti, kemudian tanpa tedeng aling-aling lagi ia mengendong Chanyeol ke pundaknya.
"Lagipula aku juga malas untuk kembali ke apartemen malam ini dan bertemu rusa gila itu," lanjut Yifan.
Butuh waktu beberapa detik untuk seorang Park Chanyeol mencerna kata-kata Yifan, "Yah! Hyung! Kita masih di bawah umur!," teriak Chanyeol mencoba membebaskan diri dari gendongan Yifan.
"Memangnya kau membayangkan apa? Tidak kusangka kau mesum Chanyeollie~" ujar Yifan disertai kekehan.
TAMAT
OMAKE
"Aku tidak suka melihat penumpangku menangis," ucap sang pengemudi taksi sembari memberikan sepotong tisu kepada penumpangnya yang tengah menitikkan air mata dalam diam.
"Terima kasih," ujar sang penumpang, yang masih mengenakan seragam sekolah dengan tag name bertuliskan Lu Han itu.
Luhan harusnya tahu percuma saja ia mengikuti Yifan ke Korea, karena kenyataannya Yifan sudah memeliki seseorang yang spesial di negeri gingseng ini. Seberapapun dekat dia dengan Yifan dan seberapa menyedihkan dirinya menarik perhatian Yifan, pemuda jangkung itu tak akan pernah menyadari perasaan Luhan terhadapnya apalagi mereka bersaudara.
"Terima kasih sudah mengantarkanku dengan selamat Tuan Kim Jongdae," Luhan membaca identitas yang yang ada di dashboard taksi.
"Oh Jongdae itu sahabatku, aku hanya mengantikannya malam ini karena ia sedang sakit namaku Kim Minsoek," ujar pengemudi taksi itu sembari tersenyum.
Akhirnya selesai juga ^^ Nama lengkap Luhan itu Lu Han ya bukan Xi Luhan
Coming Soon KrisYeol story:
Teaser
Kris Hyung Lagi Diet!
Kenalkan Park Chanyeol, seorang chef in training yang dengan giat berlatih memasak untuk menjadi penerus dari restoran keluarganya, Viva Polo. Sementara Wu Yifan, kekasih Park Chanyeol, adalah seorang atlet basket yang akhir-akhir ini selalu mengenakan kaos dalaman sebelum mengenakan seragam basketnya, ada apa gerangan yang terjadi sehingga kita tidak bisa melihat lengan berototnya lagi?
"Kris hyung! Aku membawakanmu makan siang, kau pasti lapar kan?" ujar Chanyeol riang, menghapiri Kris, yang tengah bersama tim basketnya.
"Tapi aku sudah makan Chanyeol," ujar Kris beralasan karena dia gengsi dan tidak mau mengakui bahwa sebenarnya ia sedang diet.
"Ayolah, sedikit saja hyung! Aku memasaknya sendiri," pinta Chanyeol dengan tatapan memelas, kedua belah mata bulatnya membesar dan bibir mungilnya mengerut lucu. Tembok pertahanan Krispun hancur luluh lantah oleh tatapan itu.
"Baiklah tapi sedikit saja ya," ucap Kris mengalah.
Tapi aku nggak janji bakalan cepet nulis yang Kris Hyung Lagi Diet! karena aku pengen jadi author pertama yang nulis tentang pairing super random Sehun / Yibo, aku adalah orang yang suka banget Kpop Look Alike, walaupun pendapat orang beda-beda tapi menurutku Yibo itu versi lebih cantik dikit dari Sehun, jadi intinya lebih ganteng Sehun, tapi lebih cantik Yibo. Aku pengen bikin fanfic mereka yang brotherly complex gitu, entah mau beneran dibikin incest atau cuma nyerempet tergantung nanti terus yang jadi orangtuanya kalau nggak Krishan ya Krisyeol, habis kan Sehun kan mirip juga sama Kris, temenku liat Yibo waktu senyum juga bilang dia mirip Kris.
Buat yang nggak tahu siapa itu Yibo, nama lengkap dia Wang Yibo, adalah magnae boyband UNIQ, aku jadi tahu boyband ini habis aku sekarang jadi kepo sama Cina semenjak Kris dan Luhan pulang kampung. Boyband ini dulu di trainee di YG, sekarang aktif di Korea sama di Cina kaya EXO-K dan EXO-M gitu cuma bedanya mereka cuma satu grup , kalau di Korea dibawah Starship, sementara kalau di Cina dibawah Yuenha Entertaiment. Ayo anti mainstream Unicorn (fans UNIQ) di Indonesia masih dikit! *promosi* You better stan them!
Review Please!
