Disclaimer : Naruto milik Masashi Kishimoto

Pairing : SasuNaru, NejiGaa, ShikaKiba, etc

Warning : Yaoi/Shounen-Ai


A/N : Dulu fanfic ini pernah ku publish tapi, karena akun ku tidak bisa dibuka aku terpaksa vakum.

Jadi aku minta maaf apabila ada kesamaan cerita atau tempat dan juga untuk reviewer yang tidak sempat kubalas dulu.

Mungkin ada sedikit perubahan dalam penulisan.

Selamat Membaca ^_^


Balasa Reviewer :

(Untuk semuanya nama panggilannya aku perkecil yah hahaha biar terasa akrab :-D )

Intan : Haha liat saja yah di chapter ini XD gak ada spoiler ;-)

Veira : Heumm~ gimana yah? Maunya Veira-san gimana? Silahkan baca chapter ini :-D

Ryuusuke : Memang gak kuat sih tapi gimana yah disisi lain aku suka liat Naru tersiksa hohoho *tawa ala Madam Red, iyah ini rewrite bias dibilang gitu dan fanfict ini memang pernah dipublish dengan judul yang sama :-D

Viana : Terimakasih ^, oh iyah untuk sikap Sasuke yang seperti itu akan dijawab dichapter ini dan untuk siapa yang melihat hoho itu masih jadi rahasia :-D juga apakah Sai menyukai Naruto atau tidak :-P

Kaga : Hahaha iyah begitulah Sasuke memang sukanya minta dibegal :-D *digeplak Naruto

Sivanya : Keduanya sedih? Khuhu oke *smirk *digebukin Sasunaru

Orie : Terimaksih :-D , maaf menunggu lama :-D

Tachi : Terima kasih, itu semua karena Naruto-chan terlalu mencintai Sasu-chan hiks tapi Sasu-channya jahaaat *dichidori Sasuke

Choiki : Huheum gimana yah? Tergantung jalan ceritanya nanti sad atau happy :-D *plaks, dan terima kasih atas sarannya dibawah sudah kutambahin XD

Ririn : Terima kasih telah menunggu :-D

Guest : Haha ini chapter dua terimakasih telah menunggu :-D

Retno : Terima kasih telah menunggu, selamat membaca kelanjutannya :-D

Aikha : Iyah ini rewrite, yang dulu memang ada tapi akun ku malagh gak bias dibuka kayak keblokir gitu, entahlah yang pastinya aku gak bias masuk, isshh -.-

Chu93 : Hoho semuanya akan terjawab dichapter ini Chuu~ san :3 *plaks , tau nih naruto kayak gak ada yang tampan selain Sasuke padahal masih ada Utakata *plaks

Rin : Terima kasih sudah menunggu, maaf kalau kelamaan baru update ;-)

Versetta : Hahaha sebenarnya ekhem aku juga masih bingung dengan judul ini, tapi aku cumin ngambil sedikit selempilan(?) perasaan peran karakteer dalam sini :3

Guest (Rin) : Maaf yah membuat kamu menunggun Rin-chan ;-)


Seperti biasa Rumah Sakit Konoha tak pernah pernah luput dari keramaian pegawai ataupun keluarga pasian yang berlalu-lalang. Jauh di dalam sudut ruangan dua orang berambut pirang tengah duduk dengan serius yah walaupun yang berajah serius hanya satu orang saja tidak menutup kemungkinan bahwa suasana ruangan itu begitu canggung. .

"Dasar bodoh kau pasti sama sekali tak pernah meminum obatmu, lihat sekarang penyakitmu bertambah parah bukan bahkan sudah mencapai stadium empat." Bentak dokter berambut pirang dengan tanda diamond di dahinya, Namikaze Tsunade pada pemuda berambut pirang cerah dihadapannya yang sedang bersidekap menatap kearah langit-langit ruang kerjanya.

"Hanya tidak ingin saja baa-chan."

"Kumohon Naruto minumlah obat ini setidaknya dapat mengurangi rasa sakitmu. Apa kau tidak memikirkan perasaan teman-teman dan orang-orang disekitarmu saat mengetahui kau menyembunyikan sesuatu, mereka pasti kecewa." Ucap Tsunade lembut sambil menatap sendu mata Naruto mata yang dulunya begitu cerah dan bening sekarang redup dan kelam karena orang-orang yang dicintainya

"Aku tau baa-chan tapi aku tak mau membuat mereka khawatir dengan penyakitku dan berakhir pada kebebasanku yang di batasi, jadi jangan beritahu orang lain cukup baa-chan dan Sakura-nee saja."

"Kalau begitu jalanilah kemoterapi."

"Tidak baa-chan aku tidak mau kepalaku rontok hingga menimbulkan kecurigaan teman-teman ku, aku bisa menahan sakitnya baa-chan." Tolak Naruto halus karena memang dia selalu bisa bersikap biasa walaupun rasa sakitnya muncul saat sedang bersama teman-temannya.

"Jangan keras kepala, hidupmu masih panjang paling tidak kemoterapi bisa menahan pertumbuhan sel-sel kanker mu."

"Haha biar pun begitu toh pada akhirnya aku kan mati juga." Ucap Naruto tertawa miris mengingat nasibnya yang tak akan lama lagi. Menimbulkan desahan lelah dari bibir Tsunade melihat kekeraskepalaan cucunya karena bisa dibilang ayah Naruto adalah anak dari Tsunade

"Berapa lama?"

"Hm? " Tatap Tsunade seperti 'apanya'

"Berapa lama lagi tubuh ku bisa bertahan." Jelas Naruto.

"Aku tak tau kurang lebih tiga bulan mungkin." Jawab Tsunade lirih saat mengetahui keadaan cucunya.

"Baguslah dengan begitu aku tak akan menyusahkan baa-chan dan Sakura-nee lebih jauh lagi kalau aku mati nanti."

"Aku tak merasa kalau kau menyusahkan ku biar bagaimana pun kau itu tetaplah cucuku Naruto." kata Tsunade

"Bagaimana keadaan tou-san dan Dei-nee setelah satu tahun kepergian ku." Tanya Naruto

"Jangan mengalihkan pembicaraan."

"Aku tidak mengalihkan pembicaraan. Sekarang baa-chan jawab saja bagaimana keadaan ayah dan Dei-nii" tanya Naruto lagi

"Seperti biasa tetap sibuk dengan perusahaannya" jawab Tsunade yang sebenarnya tidak memerima ucapan Naruto.

"Che ternyata mereka masih membenciku, tapi syukurlah yang penting mereka senang itu cukup." Cerca Naruto

"Jangan seperti pengecut Naruto."

"Atas dasar apa baa-chan mengatakan hal seperti itu"

"Kau lari dari rumah hanya karena Minato dan Deidara membencimu,bukankah disana masih ada Iruka yang selalu menyayangimu, dia pasti sangat khawatir denganmu."

"Bukan urusan baa-chan." Kata Naruto datar

"Bukan urusanku kau bilang, tentu saja ini urusanku kau itu cucuku bagian dari keluarga Namikaze." Ucap Tsunade yang lebih terdengar seperti teriakan, hingga orang-orang diluar bisa mendengar suaranya.

"Baa-chan tak akan mengerti perasaan ku." Terlihat kedua alis Naruto menukik tajam menahan emosinya.

"Aku mengerti."

"Kalau memang baa-chan memang mengerti, maka berhentilah berkata seakan-akan baa-chan menginginkan ku kembali kerumah, baa-chan kira perasaan ku bagaimana saat seorang ayah dan kakak yang sangat kuinginkan untuk menyayangiku malah berbalik membenciku dengan setiap intimidasi dan penyiksaan mereka sejak kematian kaa-san." Teriak Naruto dengan air mata yang perlaha keluar mengalir dipipinya. membuat Tsunade tekesiap karena diam tak pernah sekilapun melihat Naruto menangis dalam keadaan apapun tanpa kecuali saat kematian ibunya.

"Apa? Penyiksaan? Kenapa kau tak pernah bilang." Ulang Tsunade tak mengerti menatap naruto dengan pandangan nanar.

"Buat apa tak ada gunanya,aku mohon jangan pernah lagi berkata seakan kau mengingikanku kembali ke keluarga Namikaze lagi baa-chan,aku lelah dengan semua ini biarkan aku beristirahat dengan tenang." Pinta Naruto memohon

"Baiklah." Turut Tsunade tak menyangka bahwa kematian menantunya Uzumaki Kushina bisa mengubah keluarganya hingga seperti ini.

Flashback

"Kaa-san hari inikan hari ulang tahun Naru yang ke-5 bolehkah Naru meminta sesuatu." Tanya bocah kecil berambut pirang itu pada ibunya Kushina saat sedang menunggu lampu hijau untuk pejalan kaki.

"Iya boleh kok Naru mau apa?" Jawab Kushina ibu Naruto seraya tersenyum lembut menatap anaknya yang paling bungsu itu.

"Naru mau makan ramen Ichiraku sepuasnya kaa-san." Ucap Naruto riang

"Haha iya iya ayo." Ajak Kushina sambil berjalan saat saat lampu hijau untuk pejalan kaki, menuju tempat yang mereka tuju tak menyadari kalau sebuah truk sedang oleng di depan mereka. Kushina yang baru menyadarinya langsung saja mendorong tubuh kecil Naruto alhasil truk tersebut telak mengenai Kushina dan beberapa pejalan lainnya, melihat Kushina yang terlempar hingga membentur tiang listrik kontan saja membuat Naruto langsung menangis melihat ibunya bersimbah darah.

"Kaa-san kaa-san bangun kaa-san." Ucap Naruto kecil mengguncah bahu ibunya.

"Na..naru hiduplah jadi anak yang selalu ceria dan carilah apa yang menurutmu pantas menjadi kebahagianmu." Ucap Kushina terbata, matanya buram karena terkena ceceran darah yang keluar melalui kepalanya sambil mengelus tangannya di pipi Naruto.

"kaa-san jangan tinggalkan Naru kaa-san sebentar lagi dokter datan menolong kaa-san"

"Ti…dak Na…ru selamat ting..gal" Ucap Kushina tersenyum hangat pada Naruto sebelum menutup matanya untuk selama-lamanya.

Barulah seminggu setelah kematian Kushina Minato dan deidara mulai berubah dari Naruto mulai dari tatapan sinis sampai sebuah pukulan, hal tersebut terus di terimanya hingga dia muak dan kabur dari rumah dengan berbekal sedikit uang yang selalu di tabungnya secara diam-diam dengan bantuan dari Tsunade dia juga berhasil sekolah dan kuliah dan yang mengetahui peristiwa kaburnya Naruto ini hanya Gaara dan Kiba selanjutnya Tsunade lalu Sakura

End of Flashback

"Kapan baa-chan akan pergi ke pestanya Sakura-nee." Tanya Naruto sambil berjalan menuju pintu

"Aku akan berangkat besok."

"Kalau begitu aku duluan ya baa-chan, sampai ketemu besok" Ucap Naruto kemudian menghilang dari balik pintu.

"Indah tidak berubah sama sekali." Puji Naruto memperhatikan pemandangan yang dilewatinya dalam perjalanan ke Suna.

"Jadi kau sudah pernah pergi ke Suna." Tanya Neji penasaran karena setahunya Naruto belum pernah pergi ke tempat yang sekarang menjadi tujuan mereka.

"Bukan pergi tapi tinggal, sewaktu kecil aku,Kiba dan Gaara tinggal di Suna sampai hingga saat baru SMA barulah aku tinggal di Konoha sedang Gaara dan Kiba menyusul saat kenaikan kelas." Terang Naruto tanpa mengalihkan perhatiannya dari pemandangan di luar mobil Neji "Semoga aku tidak bertemu dengan mereka." Gumam Naruto dapat didengar oleh Gaara yang duduk di depannya.

"Ya semoga." Ucap Gaara pelan juga ikut menimpali gumaman Naruto.

"Terima kasih Gaara." Bisik Naruto beruntunglah mereka berdua Neji tidak mendengar bisik-bisiknya karena kalau Neji mendengar dia akan mendesak mereka sekuat tenaga.

+*+ skip time +*+

"Hey Suke bagaimana keadaanmu disana tanpaku, pasti menyenangkan?" Ucap Naruto seraya tertawa miris, saat duduk tepat di pintu balkon kamarnya yang bernuansa musim semi sambil memandangi langit malam dengan kedua lutut yang di peluk, hingga tanpa sadar lagi-lagi cairan bening kembali mengalir di kedua pipi tembemnya .

"Ah seandainya aku bisa menjadi bintang di hidupmu."

"Kapan ya aku bisa jadi cahaya di hatimu." Gumamnya lirih

"Aku minta maaf Sasuke, aku minta maaf kalau selama ini aku egois, aku tau kalau kau sebenarnya tidak menyukaiku kan tapi orang lain kan entah itu siapa, maka dari itu tunggulah sebentar lagi karena aku akan pergi, pergi ke tempat yang sangat jauh dari hidupmu ke tempat dimana kita tak akan pernah bertemu lagi jadi bersabarlah."Ucap Naruto seraya berjalan menuju pintu kamar setelah mengahapus air matanya.

"Errngh. " Erang Naruto menahan rasa sakit yang mendera dadanya saat berjalan menuju dapur untuk mengmbil air, akan tetapi saat baru setengah tangga rasa nyeri menyerang dada kirinya dan pandangannya mengabur di ikuti oleh tubuhnya yang limbung ke depan.

"Sial." desis Naruto sebelum jatuh dan pandangannya menggelap.

Bruuuk

"Naruto." Teriak Gaara yang kebetulan juga ingin ke dapur saat melihat tubuh Naruto tergeletak didasar tangga"Naru, Naru bangun Naru, Naruto." Ucap Gaara dengan wajah panik menepuk-nepuk pipi Naruto.

"Ada apa Gaara? Naruto kenapa?" Tanya Neji terbangun karena teriakan kekasihnya dikuti Sakura dan Sasori.

"Tidak tau saat aku mau ke dapur tiba-tiba saja tubuh Naruto limbung dan terjatuh didasar tangga." Jawab Gaara khawatir dengan keadaaan sahabat yang sudah dianggapnya seperti adik sendiri yang notabene tak pernah pingsan.

"Ya ampun Naruto, Sasori cepat ambil peralatanku disamping lemari pakaian, Gara ambilkan segelas air putih, dan kau Neji bawa Naruto ke kamarnya." Perintah Sakura yang memang pada dasarnya adalah seorang dokter dan senior Naruto dkk sewaktu di universitas Konoha.

+*+ skip time +*+

"Bagaimana keadaan Naruto Sakura-nee?" Tanya Gaara saat Naruto selesai di periksa.

"Tidak apa-apa, dia hanya sedikit kelelahan dan tekanan batin mungkin pagi nanti sudah sehat." Jelas Sakura kaku.

"benarkah, syukurlah kalau begitu" kata Gaara diselingi helaan nafas Neji

'maaf kalau aku berbohong pada kalian ini semua juga atas permintaan Naruto biarlah dia sendiri yang nantinya akan jujur pada kalian' batin Sakura sambil menatap iba orang-orang yang disayanginya tak ada yang menyadari kecuali Sasori yang menatap Sasura dengan wajah stoic-nya

"Kalau begitu bisakah kita kembali ke kamar, melanjutkan tidur kita yang sempat tertunda." Ucap Neji dengan mata sayu dibalas anggukan dari semuanya.

"Sakura." Panggil Sasori menunda sakura untuk menyelam ke alam mimpi, yang dibalas gumaman malas.

"Hmmm apa?"

"Kau berbohong kan tentang keadaaan Naruto." Mata sakura yang semula sayu kontan saja terbuka lebaar saat mendengar ucapan Sasori.

"Ti-tidak betul kok keadaan Naruto baik-baik saja"

"Kau tidak bisa membohongiku Saku-chan dan aku tidak suka kebohongan." Ucap Sasori lembut tapi terkesan tajam Sakura meneguk ludah saat mendengar Sasori memanggilnya Saku-chan yang berarti Sassori sedang serius.

"Naruto, itu sebenarnya sakit parah." Ucap Sakura pelan seraya berbalik menghadap Sasori dengan tatapan menyendu.

"Hm penyakit apa?"

"Kanker paru-paru."

"Apa? Sajak kapan? Seberapa parah?" Tanya Sasori beruntun tak percaya.

"Dari pesan yang tadi dikirim Tsunade-sensei dia sudah mencapai stadium empat, dan dia sudah mengalami hal ini sejak berumur 8 tahun, dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Tsunade-sensei" Ucap Sakura mulai terisak pelan.

"Astaga Naruto." Gumam Sasori sambil memeluk Sakura mencoba untuk menenangkannya.

"Aku mohon jangan kata pada siapapun karena ini adalah permintaan Naruto."

"Baiklah." Turut Sasori menggigit kecil bibir bawahnya tak peracaya bahwa anak periang seperti Naruto yang sudah dianggapnya adik sendiri mengalami hal seperti itu

Bias mentari pagi masuk perlahan melalui celah-celah kecil kamar musim semi itu hingga menerpa lembut wajah tan pemuda yang masih kushuk di alam tidurnya. Tetapi tak berapa lama setelah itu kelopak mata coklatnya mulai terbuka menampilkan permata sapphire yang begitu indah bagai blue ocean tak berujung ditambah rambut pirang jabriknya yang semakin berantakan karena bangun tidur dan tiga goresan halus di kedua pipinya tak sedikit pun menghilangkan keindahannya. Rambut pirangnya yang jabrik bergerak pelan saat Naruto berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

'Hhaaa penyakit sialan ini makin lama makin nakal saja pokonya aku harus kuat jangan sampai ada yang tau tentang hal ini selain Saku-nee dan Tsunade baa-chan.' Hela Naruto pelan saat air shower mulai mengguyur dirinya.

Di sisi lain tepatnya di halaman belakang semua orang kini sibuk dengan berbagai barang ataupun makanan yang akan di pakai pada saat penikahan yang akan di mulai sebentar lagi, terlihat Sakura sedang memantau semuanya sambil juga membantu para pelayannya yang menolong.

"Sakura." panggil seorang berambut merah berwajah baby face berjalan kearahnya diikuti pemuda berambut coklat panjang dan pemuda berambut merah maroon.

"Pagi Saso,Neji,Gaara." Sapa Sakura riang.

"Hn, pagi." Balas mereka singkat bersamaan membuat Sakura cemberut dengan kata-kata mereka bertiga yang terlalu datar.

"Ada apa?" Tanya Sakura pada Sasori.

"kami kan pergi keluar sebentar mengambil gaun dan tuxedo yang akan kita pakai sekalian aku mau membeli beberapa cup ramen untuk Naruto."

"Oh baiklah."

"Kami pergi." Pamit Sasori setelah memberi ciuman di kening Sakura.

"Hati-hati ya" teriak Sakura melambai

"Pagi Saku-nee." Sapa Naruto riang

"Pagi Naruto."

"Mereka mau kemana?" Tanya Naruto menunjuk NejiGaaSaso yang berjalan menuju pintu depan.

"Mereka mau pergi keluar sebentar mengambil gaun dan tuxedo yang akan aku dan Sasori pakai sekalian membeli beberapa cup ramen untuk mu." Jelas Sakura.

"Oh." Tanggap Naruto pendek. Hening beberapa saat, sampai Sakura membuka pembicaraan.

"Naruto, aku ingin kita bicara sebentar, ayo." Ucap Sakura berjalan menjauhi halaman belakang menuju sebuah gazebo yang terdapat di halaman samping di atas kolam ikan dengan berbagai pohon sakura yang sangat lebat diikuti Naruto dibelakangnya.

"Apa yang ingin Saku-nee bicarakan." Tanya Naruto bingung.

"Naruto apa kanker mu sudah mencapai stadium 4?" Tanya Sakura menatap serius, yang dibalas dengan anggukan kecil.

"Baa-chan bilang kurang lebih tiga bulan tubuhku bisa bertahan" lirih Naruto tanpa mengalihkan pandangannya dari kolam gazebo tersebut

"Sampai kapan kau mau merahasiakan hal ini dari semuanya." Tanya Sakura lagi

"Entahlah, mungkin sampai aku siap atau tidak sama-sekali." Jawab Naruto menggantung.

"Dasar keras kepala, baiklah kalau begitu banyak-banyaklah istirahat aku mau bersiap-siap dahulu sepertinya Sasori sudah datang."

"Hm." Angguk Naruto lalu dia mulai berbaring di sofa yang terdapat di Gazebo itu sembari memejamkan matanya menikmati semilir angin dan wangi bunga sakura yang bermekaran di karenakan sekarang adalah musim semi tak tersa dirinya kembali lagi menyelami alam mimpi.

+*+ skip time +*+

Satu-persatu tamu undangan mulai berdatangan tetapi Naruto masih belum mau beranjak dari gazebo tersebut karena dia ingin menyendiri entah karena apa mungkin suara music yang bising yang sangat mengganggu sekali buatnya memaksanya untuk kembali kekamar. Naruto terus berjalan sampai ia melihat dua orang orang yang ditinggalnya kabur dari rumah ada di depan matanya dengan gerakan cepat Naruto menjauh dari tempat tersebut menuju kamarnya segera, berharap dua orang itu tak melihat dirinya dan voila sepertinya Dewi Fortuna sedang berpihak pada Naruto sampai di kamarnya dan menghempaskan dirinya di kasur dengan selamat.

'Tou-san dan Dei-nii ternyata diundang bodohnya aku kenapa aku bisa lupa kalau ayah Gaara adalah teman baik tou-san.' Batin Naruto menghela nafasnya dalam namun tiba-tiba saja rasa sakit itu mulai datang menyerang lagi behkan lebih parah dari sebelumnya dan mulai terbatuk-batuk,dengan perlahan dan tertati-tatih Naruto berjalan menuju kamar mandi.

"Uhhuk-uhuk-uhhukk." Batuk Naruto di atas westafel 'Batuk ini menyebalkan sekali' "Hukk." Batuk Naruto makin menjadi 'Da-darah,sial.' Batin Naruto mengelap mulutnya yang kotor akan darah dengan tisu

Kruuuuyuuuurrrrrrkkk

'Hhhaa, lapar lebih baik aku makan saja dulu.' beranjak menuju dapur, sesampainya di dapur "Waaaayyy asyyiiiiik ada ramen." Teriak Naruto membuka satu –perasatu 3 mangkuk ramen instan melupakan rasa sakit yang kembali mendera paru-parunya.

Sepuluh menit kemudian Naruto kembali lagi ke kamarnya,tak sengaja dirinya bertemu dengan orang yang dicintainya, ya dia bertemu dengan Uchiha Sasuke.

"Te-teme." Kata Naruto terbata saat Sasuke melayangkan deathglare yang sangat mematikan bagi Naruto yang mencoba untuk tetap tenang.

"Hn." Respon Sasuke

"Kenapa kau ada disini? Bukankah seharunya kan kau berkumpul bersama para tamu undang yang lain" tanya Naruto seperti biasa.

"…" Tak ada respon dari Sasuke dia hanya berjalan melewati Naruto yang tambah terluka, sampai saat dia mendengar Naruto memanggil nama seseorang tetapi bukan dia.

"SAI." Teriak Naruto saat melihat laki-laki yang memiliki wajah yang hampir sama dengan Sasuke hanya saja rambutnya tidak berbentuk pantat ayam, keluar dari toilet tamu berlari menghampirinya kemudian berbincang-bincang dan tertawa riang di ruang tamu yang tak jauh dari tempat Sasuke bertemu Naruto tadi. Sasuke masih setia di tempatnya memperhatian setiap gerak-gerik Naruto dan Sai, entah kenapa dia sebenarnya ingin pergi dari situ tetapi tubuhnya sama-sekali tak mau bergerak, hingga saat mata Sasuke yang menangkap tindakan Sai yang merangkul pundak Naruto, akhirnya tubuhnya mau bergerak juga dengan hati yang bergemuruh Sasuke berjalan menuju halaman belakang berkumpul bersama tamu-tamu lainnya tak menyadari Sai menyeringai terhadapnya.

'Sial apa-apaan mereka itu, dan laki-laki itu siapa rasanya aku pernah melihatnya ah ya Oshima Sai anak dari pemilik Anbu-Ne, Dobe juga bukankah dia bilang menyukaiku kenapa dengan orang lain dia begitu riang tidak seperti saat bersamaku. Shit ada apa denganku kenapa tiba-tiba memikirkan anak itu.' Batin Sasuke sambil meminum segelas red wine

"Sai kenapa kau bisa ada disini." Tanya Naruto pada Sai di balkon atas rumah SasoSaku yang dihiasi berbagai tanamaan dan sebuah kolam renang

"Hm ayahku adalah teman dari ayah Haruno-san jadi aku sekalian saja ikut kemari."

"Siapa nama ayahmu?"

"Oshima Danzo."

"Eeehh,jadi kau anak dari presdir Anbu-Ne." Kaget Naruto lebay.

"Kenapa." Tanya Sai heran dengan respon Naruto.

"Tidak mirip sama sekali." Jawab Naruto dengan kening berkerut.

"Hahaha kau benar semua orang juga bilang begitu." Tawa Sai pelan,saat tiba-tiba saja hanphone Naruto berbunyi.

Drrrt drrrrrrt drrrttt

Gaa Panda calling menandakan bahwa Gaaralah yang menelepon.

"Sebentar Sai." kata Naruto beranjak menjauhi Sai menuju sudut balkon, disambut anggukan Sai

"Hm ada apa Gaara." Tanya Naruto

[Mereka ada disini.] Ucap Gaara gantung tetapi Naruto mengerti dengan hal itu siapa yang dimaksud dengan.

"Aku tau, Gaara kalau mereka menayakan sesuatu tentang ku ataupun tidak tolong rahasiakan kalau aku ada di sini."

[Hn.] Ucap Gaara mengakhiri panggilannya.

"Siapa, sepertinya serius sekali?" Tanya Sai saat melihat Naruto datang menghampirinya.

"Gaara dan maaf aku tidak bisa menceritakannya." Ucap Naruto memandang lurus halaman depan yang pebuh dengan berbagai bunga

"Tak apa." Ucap Sai. " Naru-chan aku akan bergabung dengan ayahku sampai jumpa lagi manis." kata Sai melenggang keluar tak berap lama setelah itu

"SAIIIII." Teriak Naruto kesal dengan wajah memerah.

Tak terasa matahari sudah beranjak tinggi tetapi acara sakral tersebut masih ramai dengan tamu yang datang silih berganti. Naruto masih saja dengan tenang memperhatikan para tamu dengan tenang sampai akhirnya matanya tertuju pada dua objek yang berbeda tempat. Objek pertama adalah ayah dan anak yang sedang berbincang dengan riang dengan pengunjung lain tanpa ada beban sedikitpun, mengulas senyum lembut di wajah Naruto 'Tou-san Dei-nii syukurlah kalau kalian bahagia.' Batin Naruto kemudian pandangan beralih pada objek kedua seorang pemuda berambut biru donker dengan kulit alabaster dan mata obsidiannya, tak menyadari kalau Naruto menatapnya dengan intens karena dia tengah memandang objek lain yang entah kenapa tatapan itu menggambarkan kemarahan, kebencian dan kecemburuan. Dia Uchiha Sasuke terdiam diantara kerumunan tamu-tamu mengamati dua pemuda yang asyik dengan dunianya sendiri, Naruto yang melihat hal itu pun turun kebawah menyusul Sasuke selain bosan berada di kamar terus menerus, dia juga ingin bertanya ada apa dengan Sasuke karena tak biasanya dia berrwajah seperti itu. Naruto terus berjalan tak terasa dia hampir mencapai Sasuke saat tak sengaja mendengar ucapan Sasuke yang menyakitkan bagi dirinya.

"Kau telah mengambil orang yang kucintai Gaara jadi tak ada salahnya kan kalau aku mengambil temanmu sebagai pelampiasanku." Tutur Sasuke dingin.

"Sa-Sasuke." Gumam Naruto pelan tak percaya dengan yang didengarnya.

"Khukhukhu kau tau rasanya menyenangkan sekali memiliki boneka seperti dia, tapi sayang sepertinya adik kecil mu itu mulai melawan." Seringai Sasuke menyeramkan

'Karena aku ingin kepastian Sasuke.' Batin Naruto tak terasa cairan bening lagi-lagi mengalir mengalir melalui sapphire-nya.

"Tapi dengan begitu aku punya alasan untuk memutuskannya, pada saat itu terjadi jagalah Neji dengan baik atau aku yang akan mengambilnya."

'Che boneka ya.' Batin Naruto berjalan meninggalkan tempat Sasuke tak mau mendengarkan hal yang lebih menyakitkan lagi, tak menyadari kalau sepasang onyx yang diperhatikannya tadi tengah menyeringai menyadari kalau pemuda itu menguping pembicaraannya 'jalan semakin terbuka' batin Sasuke sambil kembali menyeringai

Naruto terus berjalan diantara kerumunan tamu-tamu tak memperdulikan umpatan-umpatan yang diberikan oleh orang-orang yang di tabraknya hingga mencapai toilet. Sesampainya disana langsung saja Naruto membasuh wajahnya yang berantakan itu 'Kau kejam Sasuke,apakah aku harus menyerah.' Batin Naruto sambil memperhatikan pantulan wajahnya di cermin tak menyadari kalau seorang berambut pirang panjang dengan mata aquamarine, Deidara melihat dirinya dengaan ekspresi terbelalak yang tak lama setelah itu mulai kembali datar lagi seperti semula, kemudian laki-laki itu berbicara pada Naruto setelah sampai di belakangnya karena,mereka berdua yang berada di dalam toilet

"Namikaze Naruto." Panggil Deidara pada Naruto dan kali ini gantian Naruto yang terkejut 'Dei-nii.' Batin Naruto melihat Deidara tepat di belakangnya 'kali ini terpaksa aku harus menghindar'

"Maaf memang betul nama saya Naruto tepatnya Uzunami Naruto,saya bukan Namikaze Naruto tuan siapa?" Tanya Naruto saat membalikan badannya pura-pura tak kenal dengan wajah yah wel cukup stoic.

"Jangan bohong kau Namikaze Naruto kan."

"Maaf bukankah sudah saya bilang saya bukan Namikaze Naruto tetapi Uzunami Naruto,dan bukankah akan lebih baik lagi kalau anda memperkenalkan diri anda terlebih dahulu baru bertanya pada saya." kata Naruto halus terkesan datar.

"Baikalah perkenalkan namaku Namikaze Deidara." ulur Deidara.

"Uzunami Naruto." Balas ulur Naruto "Nah sekarang siapa Namikaze Naruto yang anda sebut tadi." tanya Naruto memasukan kedua tangannya ke kantung celananya setelah berkenalan dengan Deidara.

"Adikku, dia kabur tepat pada saat lulus SMP sekarang aku tak tau dimana." Jelas Deidara melipat tanggannya di depan dada.

"Lalu kenapa kenapa kau menyebutku sebagai dia."

"Karena kalian sangat mirip rambut pirang,mata sapphire, dan tiga garis halus di kedua pipimu itu." Jelas Deidara sambil menunjuk tiga goresan kecil di kedua pipi Naruto

"Eh maaf saja aku bukan dia anda salah orang, dan lagi tiga goresan ini terkenapecahan kaca." Elak Naruto berusaha untuk tetap bersikap normal saat merasakan dadanya mulai terasa sakit lagi.

"Kau pikir bisa membohongiku, Naru-chan" Ucap Deidara 'Sial susah sekali mengelak dari Dei-nii, kenapa juga aku lupa untuk menutupi goresan ini.'Batin Naruto

"Hmp hahaha kau benar aku memang Naruto yang kau bilang, tapi aku yang sekarang bukanlah Namikaze,aku yang sekarang adalah Uzumaki Naruto. Lantas apa pedulimu, ingin melaporkanku ke tuan Minato begitu." Tanya Naruto sarkastik yang lagi-lagi berhasil membuat Deidara membelalakan matanya "Terkejut Dei, biar ku tegaskan aku yang sekarang bukanlah Naruto yang dulu kalian kenal yang bisa kalian siksa sesuka hati, Naruto yang dulu sudah mati, jadi sekali lagi kutanyakan, apa kau ingin melaporkanku ke tuan Minato, Dei?"

"Tidak,dengan perginya kau dari rumah, hidup kami cukup bahagia." Jawab Deidara datar yang entah kenapa jauh di lubuk hatinya ada perasan sakit sakit Naruto tidak lagi menyebutnya dengan embel-embel nii-chan.

"Baguslah, kalau begitu sampaikan salamku pada tuan Minato sampai bertemu di masa mendatang." Kata Naruto berjalan menuju pintu toilet setelah menepuk pelan bahu Deidara.

'A-apa maksudnya.' Kaget Dei dengan perkataan Naruto yang seolah-olah sebentar lagi dia akan pergi dari dunia ini 'Hanya sebuah banyolan tak lebih.' Pikir Deidara juga berjalan menuju salah satu westafel cuci tangan lalu kembali lagi.

"Kenapa lama sekali." Tanya seseorang yang mempunyai perawakan seperti Naruto, Namikaze Minato.

"Cuma urusan kecil, yang cukup menyebalkan." Jawab Deidara sambil memutar-mutar gelas cocktailnya.

"Oh ya benarkah, memangnya apa yang kau urus?" Tanya Minato lagi sembari mengernyit.

"Hanya reunion dengan duplikatmu yang tak berguna tou-san."

"Dengan permbunuh itu,sayang sekali aku tak bertemu dengannya." Ucap Minato kemudian tertawa bersama Deidara.


Terima kasih telah membaca serta ^_^

Mohon kritik dan sarannya yah :-D

Sampai jumpa di chapter selanjutnya ^o^/


TBC