A/N: review replies on the end of this chapter :3


Chapter 1 Pt. 1


"Baiklah, mohon perhatiannya anak-anak," ujar Colbert-sensei saat murid-murid kelas 2 mulai berbaris dengan rapi, "aku harap kalian semua sudah mempersiapkan diri untuk hari ini."

"Seperti yang kalian ketahui, ritual pemanggilan familiar ini adalah sebuah budaya suci yang sudah diciptakan oleh Founder Brimir sendiri. Familiar yang kalian panggil nantinya akan menjadi salah satu bagian dari diri kalian sendiri dan bertindak sebagai partner kalian dalam mengembangkan kemampuan kalian sebagai penyihir." Jelas Colbert-sensei sambil menggambar sebuah pentagon di atas tanah menggunakan ujung Staff-nya.

"Familiar yang kalian panggil pada umumnya akan menjadi cerminan terhadap elemen apa yang kalian kuasai dan apabila dilihat dari satu sisi, itu artinya familiar kalian akan menjadi cerminan diri kalian, karena itulah perlakukan Familiar kalian layaknya kalian memperlakukan diri kalian sendiri." Ucap Colbert-sensei yang sudah menyelesaikan gambar pentagon summoning-nya.

Sementara Colbert-sensei menjelaskan hal-hal tersebut, Louise masih nampak dengan kerutan dikeningnya sejak tadi pagi. Ia memutuskan untuk mengambil giliran terakhir dalam kegiatan ini, karena apabila dia yang paling pertama, maka dia sekali lagi akan menjadi bahan bulan-bulanan kalau ternyata mantera-nya kali ini juga berakhir dengan ledakan – bisa juga, karena ledakan yang ia buat, ritual summoning hari ini malah dibatalkan dan akan makin mencoreng nama keluarganya.

"Wah, ternyata kau memutuskan untuk ikut ya, Zero? Mukamu tebal juga." Ucap sebuah suara di belakang Louise, membuat gadis berambut merah jambu itu geram.

"Zerbst." Ucap Louise pelan namun tajam saat ia melihat gadis berambut merah menyala di belakangnya, disampingnya nampak seekor kadal merah dengan ujung ekor berapi – Salamander. Perempuan bernama Zerbst – atau Kirche Augusta Frederica von Anhalt-Zerbst – itu pura-pura meringis ketakutan. Dibelakangnya, nampak seekor kadal sebesar harimau dengan ekor berapi – seekor Salamander.

"Wah, si Zero menyeramkan sekali! Aku penasaran, apakah familiar-nya akan semenakutkan dirinya … ?"

"Yang pasti, sebelum familiar itu sempat hidup untuk melayaninya, Zero sudah terlebih dulu membunuhnya dengan ledakan yang ia ciptakan!" celetuk salah satu murid lainnya di belakang Zerbst dan membuat murid yang lain tertawa.

"Yah, apapun yang dikalikan dengan angka nol (Zero) hasilnya tetap saja akan menjadi nol!"

"Sudahlah teman-teman, Louise selama ini tidak pernah gagal, kalian tahu." Ucap salah satu siswi yang memiliki rambut pirang model Drill – Montmorency Margarita La Fere de Montmorency, seekor katak terlihat duduk di atas kepalanya. Louise yang mendengarnya merasa agak senang karena masih ada yang mau membelanya, namun perasaan itu hanya sebentar setelah ia mendengar kalimat selanjutnya.

"Maksudku, dia sama sekali tidak pernah gagal dalam menggagalkan mantera apapun, iya kan?"

Tawa murid-murid yang hadir disitu makin keras setelah mendengar perkataan Montmorency. Kalau saja tubuh manusia bisa memerah hingga melewati batas wajar, Louise saat ini pasti sudah sangat merah karena marah. Ia sangat kesal dengan perkataan teman-temannya namun ia tidak dapat berbuat apa-apa karena apa yang dikatakan oleh mereka semua adalah benar. Karena itu, dia tidak boleh gagal kali ini. Ini adalah kesempatan terakhirnya. Dia akan menunjukkan seperti apa kemampuan seorang Valliere yang sebenarnya! Saat murid terakhir sudah selesai memanggil familiarnya, Louise dengan segera melangkah masuk ke dalam pentagon summoning tadi.

"Hey," gumamnya pelan. Ia mengeluarkan tongkat sihirnya dari balik jubahnya kemudian mengarahkan ujungnya pada teman sekelasnya, "aku akan memanggil familiar yang lebih hebat daripada kalian."

Dengan itu, Louise mengarahkan ujung tongkatnya ke atas dan mulai merapalkan mantera.

"Familiarku yang berada di suatu tempat di jagad raya ini…" gumamnya dalam satu tarikan napas. Louise menarik napas dalam sambil menutup kedua matanya.

"…Jawablah panggilanku!" ujar seorang gadis strawberry blonde sambil mengayunkan tongkat sihirnya. Untuk beberapa saat, tidak terjadi apa-apa…begitu pula menit-menit berikutnya. Lapangan sekolah itu tetap sepi layaknya kuburan, bahkan ledakan yang harusnya dihasilkan gadis strawberry blonde itu sama sekali tidak ada.

Louise Francois le Blanc de la Valliere – atau biasa dipanggil Louise – adalah murid sekolah sihir Tristain. Ia merupakan anak dari keluarga Valliere yang dikenal karena kesetiaan mereka terhadap keluarga kerajaan Tritain, dan juga dikenal karena ibunya adalah seorang pemimpin Manticore Knight dengan julukan 'Karin the Heavy Wind'.

Ini merupakan tahun keduanya di sekolah sihir dan kali ini semua murid tahun kedua diharuskan mengikuti sebuah ritual yang bertujuan untuk merubah status mereka dari Murid menjadi seorang Mage – sebuah ritual pemanggilan familiar. Jadi bisa disimpulkan bahwa apabila seorang murid tidak memiliki familiar, dia belum pantas untuk menjadi seorang Mage. Disinilah letak masalahnya.

Seperti ibunya yang dijuluki 'Heavy Wind', Louise juga memiliki julukan tersendiri, yaitu 'The Zero'. Ia memiliki kemampuan yang sangat bagus dalam hal teori, namun dalam praktek…ia menciptakan sebuah ledakan. Dan itu secara harafiah. Apapun mantera yang ia keluarkan – alkemi atau yang paling sederhana, levitation – selalu menghasilkan ledakan.

Tapi ini…Louise mengedarkan pandangannya ke seluruh penjuru lapangan itu, berharap familiar seperti apapun yang dia panggil, ukurannya terlalu kecil untuk dilihat dan membuatnya seperti tidak berhasil memanggil apapun. Tidak ada. Ini sudah membuat gelarnya ke tingkat yang lebih rendah lagi. Jangankan familiar, ledakan yang biasa terjadi saat ia menggunakan mantera apapun bahkan tidak muncul.

Louise terduduk. Ingin ia menangis sekuat tenaga, namun ia sudah menerima didikan dari ibunya untuk tidak menunjukkan kelemahan. Tapi ini sudah melewati batas. Gadis itu menggigit bibir bagian bawahnya, menahan semua air matanya agar tidak menetes. Seorang pria berkacamata mendekatinya.

"Um…miss Valliere…? Tidak apa-apa, hal seperti ini pasti akan terjadi pada siapapun. Kalau kau mau, aku bisa membicarakan hal ini dengan kepala sekolah dan – "

"Tidak," potong Louise, "tidak apa-apa, Colbert-sensei…sudah tidak ada yang perlu dikatakan kepada Old Osmond…tidak ada lagi…"

Louise menggenggam tongkat sihirnya erat, kepalan tangannya mulai memerah. Tidak seperti biasanya, tidak ada satupun teman sekelasnya yang melemparkan ejekan kepada Louise. Bahkan si Zerbst biasanya yang paling semangat mengejeknya, kali ini ia hanya memberikan pandangan kasihan terhadapnya – untuk beberapa saat, Louise berani bersumpah kalau ia melihat perasaan kecewa melintas di mata Zerbst. Begitu pula teman sekelasnya yang lain, mereka hanya menatap Louise. Dan Louise sangat benci itu. Akan lebih baik kalau mereka semua mengejeknya dengan julukan 'The Zero' – setidaknya, nol masih merupakan sebuah angka. Tapi, setelah kegagalannya ini, mereka seakan melihat Louise seakan dia lebih rendah dari nol – bukan apa-apa. Sembari berteriak marah, Louise menancapkan tongkat sihirnya ke tanah kemudian berlari menuju aula sebelum tiba-tiba tubuhnya terjatuh.


-Sementara itu-


Animisme adalah kepercayaan dimana orang-orang menganggap bahwa setiap hal yang ada di dunia ini, meski itu adalah benda mati sekalipun, memiliki roh mereka sendiri. Hal ini juga berlaku dengan properti gaib yang dapat membelokan hukum dunia ini. Sebagian menganggapnya ilmu pengetahuan namun sebagiannya lagi menyebut itu sebagai sihir. Dan sihir oleh Louise juga memiliki roh, sehingga 'ia' memiliki kesadarannya sendiri.

Dimulai saat gadis Valliere itu merapalkan manteranya, 'ia' tahu bahwa Louise berbeda dari teman sekelasnya. 'ia' mengelilingi keseluruhan Halkegenia; dari Kepulauan Putih hingga Rub' Al-Khali, namun sama sekali tidak mendapatkan partner yang tepat untuk Louise. Seandainya 'ia' memiliki raga, maka 'ia' saat ini akan menghela napasnya.

[Mungkin tidak disini]

Sebagai produk sihir hasil ciptaan sang Founder, 'ia' sama sekali tidak kehabisan akal. Memecah dirinya menjadi beberapa bagian, 'ia' menyebarkan dirinya ke berbagai dimensi yang ada. Lalu sebuah dimensi menarik perhatian-'nya'. Sebuah tempat yang memiliki daya sihir yang unik – sebuah tempat bernama Elrios. Dan 'ia' dapat merasakannya – partner sejati Louise ada disini. Namun ia dihentikan sebelum sempat memanggil Familiar itu.

"Kukuku, apa yang kita punya disini? Sebuah saluran penghubung antar dimensi?"

'ia' menoleh kearah sumber suara itu. Beberapa langkah dari-'nya', seorang laki-laki bertopeng berdiri dengan satu tangan berada di balik punggungnya, sementara yang lainnya memutar-mutar sepasang kubus kecil di atas telapak tangannya.

[Siapa kau?]

Pria itu terkekeh, "Kukuku, pertanyaan yang bagus, tapi bukankah aku yang harus menanyakan itu padamu?"

'ia' terdiam. Pria itu berjalan kearah-'nya' sambil terus memutar kubus kecil ditangannya.

"Aku Glave, penjaga Henir, atau setidaknya begitulah orang-orang Elrios menganggapku. Sekarang, bisakah aku mengetahui siapa – atau apa kau itu?"

[…Aku adalah bagian dari baris ke sembilan mantera pemanggilan yang diciptakan Founder Brimir]

Pria itu seakan nampak tersenyum di balik topengnya, "Nah, sekarang percakapan ini mulai berjalan. Kalau begitu, bisakah kau jelaskan alasan kedatanganmu kemari?"

'ia' menjadi ragu. 'ia' tahu bahwa orang yang ada di depannya ini memiliki kemampuan tinggi yang tertahan oleh gembok disekitar lehernya. Tapi yang tidak 'ia' ketahui adalah apakah orang ini bisa dipercaya atau tidak.

[…Aku sedang mencari Familiar]

"Oh, aku tidak menyangka hal itu," ujar Glave sambil menggenggam dua kubus kecil di telapak tangannya, "lalu kenapa kau sangat jauh dari tempat asalmu untuk mencari 'Familiar' ini?"

[Hanya disini – di Elrios, Familiar yang sesuai dengan apa yang kucari berada]

"Kenapa disini?" tanya Glave sambil menunjukkan telapak tangannya yang sudah kosong, "apakah di tempat asalmu tidak ada?"

'ia' mengangguk. Glave meletakan tangannya di bawah dagunya.

Dari keseluruhan Elrios, semua orang tahu Glave adalah seseorang yang menyukai sesuatu yang baru. Karena itulah ia menciptakan Tantangan Henir Time and Space – ia ingin melihat semacam tantangan baru yang dijalani oleh para petualang. Dan 'energi' asing yang muncul ini seperti tantangan baru yang berisi berbagai macam kemungkinan.

"Baiklah, aku cukup puas dengan jawabanmu." Ucap Glave sambil berjalan mengelilingi-'nya'.

'ia' tetap mengikuti arah gerakan pria itu. Sesuatu mengatakan pada-'nya' bahwa pria ini pasti memiliki maksud terselubung.

"Beritahu aku." gumam Glave menggantung.

Glave membuka telapak tangan kanannya, dimana sebuah kubus muncul disana, "Apakah mantera ini bekerja hanya untuk satu orang," lalu membuka telapak tangan kirinya untuk memunculkan sepasang kubus kecil lainnya, "atau bisa bekerja untuk banyak orang?"

[Ini hanya bekerja untuk satu orang dan - ]

"Kalau begitu, aku tidak bisa membiarkanmu masuk Elrios." Potong Glave. 'ia' bingung, namun 'ia' tahu kearah mana pembicaraan ini mengarah.

"Tapi," Glave mengatup kedua tangannya kemudian memunculkan ketiga kubus kecil itu di tangan kirinya, "kalau kau bisa membawa seluruh Elrios, aku akan membiarkanmu melakukan apapun."

[Itu tidak mungkin. Tidak ada cukup energi untuk melakukannya]

Glave menyembunyikan kedua tangannya di belakang punggung dan seakan tersenyum di balik topengnya, "Bagaimana kalau aku bilang aku akan membantumu dalam hal itu?"

Bingo. 'ia' sudah tahu pada akhirnya akan menjadi seperti ini. Dan 'ia' tidak dapat berbuat apa-apa. Selama 'ia' berbicara dengan Glave, 'ia' sadar bahwa ada sesuatu yang sangat kuat menahannya untuk tidak memasuki Elrios. Apapun usaha yang 'ia' lakukan sama sekali tidak akan berguna tanpa izin dari Glave, 'ia' tahu itu. Kalau saja 'ia' memiliki raga, 'ia' saat ini sudah menghela napasnya. 'ia' kembali menatap Glave.

"Bagaimana, hm?" tanya Glave.

…Elrios dipenuhi dengan kekuatan yang belum pernah 'ia' lihat. Teknologi disana juga lebih maju daripada Halkegenia…belum lagi Familiar yang cocok untuk sang Void Mage ada disini. Akhirnya, setelah lama menimbang, 'ia' menerima tawaran Glave.

Glave menyeringai dibalik topengnya. Tentu, ia bisa menggabungkan berbagai macam dungeon menjadi satu, tapi hanya seperti itu saja. Ia tidak memiliki sesuatu yang dibutuhkan untuk menghubungkan Elrios dengan dunia lain. Baginya, menghubungkan berbagai macam dungeon menjadi satu adalah hal yang mudah karena ia sudah kenal dengan keadaan Elrios. Tapi ia tidak bisa menghubungkan Elrios dengan dunia lain karena ia tidak tahu caranya, atau tepatnya, jalannya. Dan sekarang ia mendapatkan apa yang ia butuhkan: sebuah 'Penunjuk Jalan'. Negosiasi berhasil. Kali ini mari kita lihat bagaimana Elgang menghadapi hal ini.

"Ayo kita mulai." Gumamnya sambil menjentikan jarinya. Dan sebuah portal besar terbuka di Velder.


-Kembali ke Halkegenia-


"Miss Valliere!" ujar Colbert-sensei, berniat melihat keadaan muridnya sebelum langkahnya terhenti saat sebuah lingkaran sihir yang sangat kompleks muncul di atas tanah, dengan tongkat sihir Louise berada di tengahnya. Tanah mulai bergetar dan angin kencang mulai bertiup.

Sebuah cahaya yang sangat menyilaukan muncul dari lingkaran tersebut dan membuat semua staf dan murid menutup mata mereka. Tak hanya sampai disitu, tanah tempat mereka berpijak mulai bergetar dengan sangat kuat. Beberapa Familiar nampak melindungi tuannya – seperti familiar milik Tabitha – sementara yang lainnya bersembunyi di belakang tuan mereka. Fenomena itu tidak terjadi dalam waktu yang lama, hanya berlangsung selama beberapa menit. Keadaan kembali normal…namun apa yang muncul di bagian Utara sekolah sihir Tristain saat ini tidaklah normal.

Sebuah permata raksasa, dengan wara hijau terang, muncul entah dari mana. Permata itu memiliki ukuran sebesar gunung dan mengeluarkan cahaya hijau muda. Benda itu membuat proses belajar mengajar terhenti sementara. Para murid yang ada di dalam ruangan segera melihat keluar jendela. Para guru sama sekali tidak mengacuhkan keadaan gaduh kelas itu dan mulai berlari meninggalkan kelas setelah memberikan beberapa intstruksi pada murid-murid mereka. Tak lama, seluruh guru dan kepala sekolah sudah berada di tengah lapangan itu.

"Ohoho, ini sungguh…mengejutkan." Gumam Old Osmond, kepala sekolah akademi sihir Tristain, sambil mengelus janggutnya, sama sekali tidak terlihat terganggu saat menatap permata raksasa itu.

"Gawat kepala sekolah Osmond!" ujar seorang guru yang mendarat turun dengan sapu terbangnya mendekati Osmond.

"Di depan dinding akademi kita…!" ujarnya terpotong karena napasnya yang terengah-engah, "di depan akademi kita ada sepasukan monster!"

Osmond membelalakan matanya. Mengaktifkan Levitation, Osmond mengangkat dirinya ke udara diikuti oleh Tabitha dengan familiarnya dan juga Colbert-sensei. Benar saja, di depan dinding akademi Tristain, sebuah pasukan monster dengan pakaian tempur berwarna keemasan, nampak mulai bergerak maju menuju akademi. Tubuh monster itu tidak tinggi, namun badan mereka cukup berotot. Beberapa diantara mereka ada yang berjalan kaki, sementara yang lainnya ada yang menaiki semacam burung.

"Ini gawat. Colbert-sensei, tolong beritahu para guru untuk menutup pintu gerbang yang ada."

Segera setelah mengatakan itu, Colbert langsung turun dan terdengar mulai meneriakkan beberapa perintah di bawah. Sementara itu, Osmond yang masih memperhatikan gerak-gerik monster-monster itu lagi-lagi di kejutkan sesuatu.

"Ng? Nak Tabitha, kau bisa melihat itu?"

"…cahaya merah."

Osmond mengangguk mendengar respon Tabitha. Ia lega karena ternyata apa yang dia lihat bukan tipuan mata. Disana, ditengah-tengah pasukan monster itu, sebuah aura merah yang begitu berbentuk pedang tiba-tiba saja muncul dan mulai menjatuhkan monster-monster itu satu persatu. Osmond bukannya kagum dengan aura pedang yang nampaknya memadat saat melakukan kontak dengan monster-monster itu. Tidak, yang membuat orang tua ini kagum adalah sesosok anak laki-laki, setidaknya setahun atau dua tahun lebih muda dari Tabitha yang ada di sebelahnya saat ini, berlari diantara kerumunan mosnter itu sambil mengibaskan pedangnya yang terbungkus aura merah berbentuk pedang raksasa. Di belakangnya, nampak beberapa sosok lain yang juga ikut melawan monster-monster itu dengan gaya bertarung juga sihir yang belum pernah ia lihat.

"Ini…benar-benar mengejutkan." Gumam orang tua itu sambil tetap mengelus jenggotnya. Tabitha hanya menganggukan kepalanya dengan ekspresi tertarik.


-To Be Continued-

Review Replies:

Nyamu: Ahahaha, is that so? I'm sorry then, but honestly I can't find any word to describe them in Indonesian, so I use english instead, tehe~ I'm trying to write this in english, but I really lack of confidence and as you can see…I really bad at spelling and grammar. Well, I still wanted to thank you, because you're the first one who give me my first crossover story a review. I'm so happy that I can't find any words to describe it. Thank you! About that 'summoning spell', I have my own way so I can bring Elrios to Halkegenia~ :3 thanks to Glave! Of course I'll remember about that Elf-Thingy (there are many dark Elf like Chole in Elrios, so more reason to hate Elf). I'll tell Elsword to take care of Rena XD once again, thank you for reviewing my story. I hope you read this and I hope you find this story interesting *bow*

: oke '-')/