TAO GAK MASA YAH UJIAN KATANYA MAU DIMAJUIN JADI AKHIR FEBUARI ATO AWAL MARET, DOONGGG….MOKAT AJA DEH GUE…..

Sial banget ya angkatan saya?-geleng-geleng pala prihatin-

Mana saya sama sekali GAK ADA niat untuk buka-buka buku kelas 7 ,lagi...Try Out bulan depan...Nasipp...Nasipp...

I don't own Naruto.


Hening lama menyelimuti mereka berdua. Mata Deidara berkedip berkali-kali, dibarengi dengan degup jantungnya yang memacu cepat. Baru akhirnya otaknya berputar setelah sesaat ia memaksakan dirinya untuk tetap fokus dan berpikir keras.

"Akasuna? Kamu...orang Jepang, ya?" Deidara menatap Sasori dalam-dalam dengan raut wajah tak percaya, pongo.

Sasori, yang tidak suka ditatap seintens itu oleh seseorang—yang baru dikenalnya pula—hanya mencibir pelan."Emangnya kenapa?"

"Enng, enggak. Heran aja. Jarang lho aku ketemu orang Jepang juga di Manhattan." balas Deidara sambil tersenyum simpel. Dilihat dari perawakan cowok tampan berambut merah ini, kira-kira usia mereka terpaut cukup dekat. "Kamu tinggal di sini atau kuliah—"

"Kuliah." potong Sasori cepat. Ia menatap langsung ke mata Deidara, membuat Dei mendadak hampir lemas."Saya mampir ke sini untuk makan siang ya, bukan untuk diinterogasi. Maaf."

Deidara langsung cemberut.

Huh, ganteng-ganteng kok jutek amat, sih!

Dengan batin masih merutuki si pangeran es bertitel Akasuna no Sasori itu, Deidara berjalan menuju dapur.

Sasori mengeluarkan laptop putih dari tas selempangnya lalu mulai mengaktifkannya. Dia menyulut rokoknya sambil membuka jendela kafe yang terletak di sampingnya, berharap bau pekat rokok tidak terlalu menganggu sirkulasi udara di kafe ini. Walaupun tidak ada tulisan 'No Smoking', tetap saja Sasori ngerasa nggak enak hati kalau harus merokok di tengah kerumunan orang seperti ini.

Sambil menyenderkan tubuhnya di sisi jendela, ia menghembuskan asap panjang ke udara siang yang cukup terik kala itu, lalu tersenyum sendiri. Langitku, entah ada di mana engkau sekarang...

"Tuan?"

Sasori terlonjak kaget mendengar suaralembut itu, dibarengi datangnya sesosok lelaki berambut pirang yang membawa baki sambil menatapnya heran."Tuan Sasori?"

"Hn. Taruh aja di situ." dengus Sasori, agak terganggu dengan sapaan ramah yang baru dilontarkan Deidara tersebut. Baru aja kenal sepuluh menit yang lalu, tapi udah belagak akrab pakai manggil nama segala, pikirnya.

Dei menaruh americano coffee dan mushroom crépe pesanan Sasori sambil meneliti sekilas profil cowok yang ada di depannya ini. Sasori memang tampan dengan raut aristokrat yang tenang, hampir tidak berekspresi. Tapi Dei tidak bisa mengeyahkan satu hal penting yang dirasakannya ketika mereka berdekatan ; mata itu...mata coklat bening itu...entah kenapa, sesaat Dei merasa ada kepedihan yang dalam yang terpancar di balik mata Sasori.

"Tuan, kalau mau minta tambahan apa-apa, silakan hubungi saya." kata Deidara pada akhirnya, setelah beberapa detik tersedot dalam lamunannya.

"Di sini jual majalah?" tanya Sasori, embel-embel nada dingin tak pernah lupa terselip di dalamnya.

"Majalah apa, Tuan?"

"Time atau Forbes? Atau BusinessWeek?"

"Mmm, maaf. Nggak ada, Tuan."

Dan kini Deidara jadi diam sendiri. Sasori tampak begitu kasual di balik jeans, hooded-shirt putih Lacoste, sandal kulit santai dan aviator glasses Calvin Kein yang tergantung longgar di kerah bajunya. Tipikal kostum anak kuliahan, batin Dei.

Tapi yang membuat Dei penasaran adalah benda shiny yang terlihat begitu mencolok di pergelangan kiri cowok ini.

Tag Heuer Perpetual Luxurious-Datejust.

Dei pernah sesekali dengar kalau jam yang baru keluar musim panas kemarin ini berharga lebih dari 3000. Mahal sekali. Dia juga tahu bukan orang sembarangan yang bisa membelinya karena stok jam ini hanya tersedia di Macy, GUM, Harrods Dept.Store, dan mal-mal lain yang hanya menjual barang-barang berharga diatas seratus dolar. Dei sendiri hanya sekali-kali mampir ke Bergdorf Goodman, New York, untuk membeli underwear dan boxer yang harganya cuma 20-an.

Jadi, jelas banget kalau Sasori-Sasori ini bukan orang Jepang biasa.

Socialite? Anak pengusaha? Artis? (Dei langsung mengerutkan keningnya karena ia merasa nggak pernah lihat tampang Sasori di media manapun.)

Deidara jadi semakin penasaran, berharap cepat tahu jawaban dari satu pertanyaan sejak tadi yang bersorak repititif di benaknya: Siapa sebernarnya orang ini?


"Dei-nii-chan!!"

Deidara yang sedang mengelap gelas-gelas di bar minuman menoleh ke belakang. Wajahnya langsung berubah sumringah begitu melihat seseorang yang tengah berjalan ke arahnya."Naruto! Ngapain kamu di sini?"

"Ehehe...mampir aja, kok." jawab Naruto polos, menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal sambil meringis pelan.

"Aku nggak ganggu Dei-nii, kan?"

"Tentu aja nggak! Ngomong apa sih kamu." tukas Deidara, beranjak bangkit dari bar lalu menuntun Naruto ke salah satu meja yang kosong.

Uzumaki Naruto, cowok berusia empat belas tahun yang kini telah menuntut ilmu di salah satu sekolah swasta bergengsi, The Brearley School, dan gemar sekali makan ramen (Itadakimasu Grill & Bar satu-satunya restoran yang menjual ramen yang enak di Manhattan, gak heran kalau dia selalu nyempatin diri makan di sini seminggu sekali). Mulanya Dei nggak tahu kenapa para pengunjung kafe begitu gempar mendapati Naruto makan siang di sini beberapa bulan yang lalu. Baru besoknya Dei tahu dari Konan kalau ayah Naruto itu merupakan seseorang yang cukup disegani dalam sejarah pemerintahan dunia.

Namikaze Minato, mantan deputi senior FBI satu-satunya yang berkebangsaan Jepang serta menjabat titel tersebut pada usia kurang dari 30 tahun. Beliau sangat berjasa dalam penangkapan salah satu teroris terbesar asal Jepang merangkap pemimpin laskar terorisme 'Tailed Beast', Kyuubi no Kitsune. Tapi sayangnya, beberapa tahun setelah pengangkatannya sebagai deputi senior, Minato meninggal dalam kecelakaan helikopter saat pengejaran salah satu kriminal di San Fransisco. Naruto baru berusia tiga tahun saat ayahnya wafat. Sedangkan ibunya, Uzumaki Kushina, sudah meninggal dunia sejak dia lahir. Sampai sekarang Naruto diurus oleh pelayan setia (sekaligus mantan bawahan) Minato, Umino Iruka.

Ceria, cerewet, rame, dan supel adalah ciri khas Deidara dan Naruto. Seperti matahari terik yang selalu menyinari dunia, mereka berdua mampu memancarkan aura kebahagiaan pada orang-orang di sekelilingnya. Selain itu tak jarang pula mereka berdua disangka bersaudara. Rambut pirang keemasan, mata biru safir bercahaya, serta kharisma yang mampu menyerap perhatian sebagian kaum hawa maupun kaum adam.

Naruto membuka percakapan duluan sambil menyeringai lebar."Lagi nggak ada Orochi ya, jadinya kamu bisa santai-santai gini?"

Dei sedikit tergelak."Ha-ha-ha, kamu tahu aja. Kalau ada dia nggak mungkin aku dibolehin ngobrol sama tamu di jam kerja gini. Untung aja kamu dateng pas kafe lagi sepi."

"He-eh." Naruto mengangguk setuju. Ia mengendurkan dasi seragam sekolah yang mencekiknya lalu merebahkan badan. Dei berusia lima tahun lebih tua darinya, tapi entah kenapa mereka bisa seakrab ini. Sepertinya rasa kepercayaan sebagai sahabat timbul begitu saja, padahal mereka baru saling kenal tiga bulan yang lalu, lho!

"Tumben kamu sendirian, Naruto? Biasanya sama siapa itu...yang anaknya yang punya Sabaku Shipping...kalo gak salah namanya Gaara, ya?" Dei melipat kedua tangannya yang bertumpu pada meja.

"Nggak." Naruto menjadi agak cemberut. "Dia lagi ada urusan keluarga katanya..."

"Kamu kangen dia ya, Naruto?" tembak Dei langsung, menghiraukan rona merah yang langsung terpancar di wajah lelaki yang ada di hadapanya.

"Ya iyalah..." Naruto kaget banget atas apa yang meluncur keluar dari mulutnya. Secepat mungkin ia membekap mulutnya rapat-rapat, membuat Deidara makin geli karenanya.

"Dasar anak-anak..."

"Aku bukan anak-anak!!"


Lha? Kok jadi GaaNaru? Geez...Buat para SasuNaru lova (as I am) jangan sedih! Dira buat GaaNaru soalnya cerita ini masih nyambung sama penpik-penpik yaoi saia yang lain! Gak ngerti? Tungguin aja deh ampe kelar...palingan nyadar entar. Hehehehe. Sekedar inpo: Sasuke nggak nyangkut di Manhattan lho...dia masih bertelor di Jepang...jadinya di sini dia dan Naruto sama sekali gak kenal...berat saya menulis ini, sebagai pecinta SasuNaru, saya melanggar sumpah karena memisahkan mereka berdua-disambit-

OK, OK, OK...di sini juga Dei hanya menunjukkan sedikit affection ama Sasori. Sasori juga cuek-bebek-aja tuh ama Deidara! Kapankah mereka akan saling tertarik?

Siapa tuh orang yang Sasori bilang "langitku-entah-ada-di-mana-kau-sekarang?"

–sumpah, lebai banget saso-kun di sini-

Apakah dira?

Apakah anda?

Kalian akan tahu jawabannya setelah pencet tombol "Go" di bawah kotak "Submit Review"

Terima kasih sudah membaca, kawan.