Dear

SUMMARY: Chapter 2: Fams. Hah? Dititipkan? Yang benar saja!. Hinata's POV.

A Naruto fic, presented by LIL-ECCHAN


DISCLAIMER: Geez...

MAIN CHARACTER: Uzumaki Naruto and Hyuuga Hinata.

PAIRINGS: NarutoHinata, SasukeSakura, Saino, etc (I'll add more pairings soon).

RATING: T

GENRE: Romance/Tragedy

LANGUAGE: Indonesian


2nd Memory: Fams

Entah ada dimana, tapi Naruto-san bilang, kami sudah sampai. Aku masih dituntun untuk berjalan oleh Naruto-san. Kakiku masih kaku untuk berjalan.

"Ini, ambil saja kembaliannya." ujar Naruto-san seraya menyerahkan lembaran uang pada si supir.

"Terima kasih, pak!" ujar si supir itu, dan langsung pergi.

Naruto-san menuntunku berjalan, dia menekan sebuah tombol di samping pintu pagar.

Ting Tong. Sepertinya itu bel rumah.

"Disini kediaman Uzumaki, siapa disana?" ujar seorang anak kecil lewat speaker yang wajahnya muncul di sebuah layar kecil di bawah tombol rumah.

"Ecchan, ini aniki, buka pintunya!" ujar Naruto-san.

"Ah! Sebentar, Naruto-niisan!" ujar anak kecil itu, layar kecil itu pun mati.

Krieet. Pintu pagar yang lebar itu terbuka.

"Naruto-niisan! Eh? Hinata-neechan!?" ujar anak kecil yang bernama Ecchan itu.

"Ecchan, tolong panggil Ino!"

"Eh, i-iya!" Ecchan pun cepat-cepat pergi dari situ.

"Hinata-chan, duduk saja dulu," ujar Naruto-san. Aku pun duduk di sebuah sofa yang nyaman.

DRAP DRAP DRAP.

"Naruto! Katanya Hinata-chan sudah pulang!?" ujar seorang gadis cantik yang mempunyai mata biru yang berbeda dengan Naruto-san, dan rambut pirang yang berbeda pula dengan Naruto-san. Dia mengenakan seragam maid.

"Ino, cepat siapkan persiapan mandi Hinata-chan. Bantu dia untuk berjalan, dia pasti lelah dengan semua ini." ujar Naruto-san.

"Baiklah," ujar Ino-san. "Hinata-chan, ayo, ikut aku." ujarnya.

"I-iya," sahutku.

Ino-san menuntunku pelan, dan memasuki kamar mandi.

.-:-.-:-.

Seselesainya mandi, aku dituntun Ino-san, ke sebuah ruangan. Banyak sekali buku di dalamnya.

"Ini… apa, Ino-san?" ujarku.

Ino-san pergi ke sebuah rak buku, dan mencari-cari. "Ini dia!" ujarnya sambil memberikan sebuah buku padaku. "Hinata-chan, cobalah, baca ini!" ujarnya lagi.

Aku membuka halaman, foto pertama, itu album foto. Itu… Aku sewaktu masih kecil, dengan seorang anak lelaki berambut coklat panjang. Laki-laki itu mempunyai mata yang sama denganku.

"Ini… Siapa?" tanyaku. Rasanya…

Kriet. Pintu ruangan baca ini terbuka,

"Hinata!?" eh? EH? Laki-laki yang ada di foto ini…? Siapa dia?

"Si-siapa—"

"Ternyata benar, kau hilang ingatan. Aku aniki-mu, kau lupa!?"

DEG

Ah… Iya, aniki… Aniki…?

Aku mulai ingat, aniki selalu, selalu mengantarku ke sekolah. Aniki selalu melindungiku. Aniki selalu…

"Ne-Neji-niisan?" ujarku pelan.

"Ya!" ujarnya sambil memelukku. "Untung kau masih ingat…" ujarnya lagi.

"Hehehe." aku hanya tertawa kecil.

"Oh ya, apa kau sudah ingat tentang Naruto?"

DEG

"…"

"Hinata?"

"…" aku menggeleng. Neji-niisan hanya menghembuskan nafas, lalu, dia mengelus kepalaku.

"Hinata, jangan merasa bersalah, ya. Ini bukan salahmu. Tapi, cobalah ingat semua tentang Naruto," ujarnya.

"Iya…" jujur, aku masih bingung, siapa sebenarnya Naruto-san? Atau sekalian saja kutanyakan pada Neji-niisan?

"A-ano, nii-san," panggilku.

"Ya?" sahutnya.

"Siapa sebenarnya… Naruto-san?" ujarku sambil menggenggam erat ujung kerah lengan baju Neji-niisan. Neji-niisan hanya tersenyum.

"Nanti kau akan ingat sendiri, dia adalah orang yang sangat berharga bagimu. Kau harus mampu mengingatnya sendiri." agak kecewa mendengar jawabannya, tapi, aku mulai mengerti seberapa pentingnya Naruto-san untukku.

"Iya." aku tersenyum. "Erm… Dimana… Hanabi-chan?" ujarku di bawah kesadaranku.

"Eh? Kau ingat Hanabi?" tanya Neji-niisan.

"Iya…" aku masih tidak sadar. Tapi, ketika aku menutup mataku, aku melihat saat-saat bersama dengannya. Bersama Hanabi, adik perempuanku. Aku ingat!

"KYAA!!" mataku ditutup oleh tangan seseorang. Tangan mungilnya mengingatkanku pada… "Hanabi-chan?"

Tangan yang menutupi wajahku itu, perlahan-lahan melepaskan dirinya dari wajahku. "Nee-chan! Hinata-neechan ingat Hanabi!" ujar Hanabi-chan.

"Hehe…" aku hanya tertawa kecil.

"Hinata…" ujar sebuah suara yang berat. Aku menoleh.

"O-otousan?" ujarku mengingat-ngingat.

"Untung kau ingat." ujar otousan, menghembuskan nafas kecil.

"Okaasan?" ujarku. Semua orang terlihat kaget. "Dimana okaasan? Kalau aku punya kalian sebagai keluarga, dimana okaasan?" ujarku, setelah melihat lembaran-lembaran ingatan yang kulihat di bawah kesadaranku. Walau aku tahu dia sudah…

"O… kaa… san…" tangisku. Neji-niisan menepuk pundakku.

"Kau sudah ingat?" ujar Neji-niisan. Aku mengangguk lemah.

"Itu bukan salahmu, kau harus percaya itu. Okaasan meninggal bukan gara-gara dirimu."

"Tapi… tapi… kalau aku tidak menyebrangi jalan itu, Okaasan pasti tidak—"

"Itu bukan salahmu, Hinata. Percayalah." ujar Otoosan. Aku menunduk.

Aku ingat, dulu, ketika aku masih kecil sekali, sewaktu Hanabi masih berumur 2 tahun, aku pergi ke sebuah tempat bersama Okaasan. Ketika itu, aku melihat sebuah dompet yang mirip sekali dengan dompet pemberian Okaasan untukku. Aku penasaran, kurogoh kantungku. Ternyata, dompet itu memang dompetku. Spontan, aku segera berlari ke arah dompet itu yang berada di seberang jalan itu. Tak kusadari, sebuah mobil melaju dengan cepat ke arahku. Okaasan yang melihatnya, langsung terjun dan menolongku. Aku selamat, tapi tidak dengan Okaasan…

"Okaasan…" ujarku sambil menggenggam erat dompet kecil berwarna lavender, seperti warna bola mata keluarga kami yang diulurkan oleh Neji-niisan.

"Kalau begitu, kami pulang dulu, ya." ujar Otoosan. Aku pun segera beranjak. Aku akan pulang ke rumah.

Saat di depan gerbang kediaman Uzumaki, Naruto-san, Ecchan, dan Ino-san mengantarku. Saat hendak menaiki mobil…

"Hah? Hinata? Apa yang kau lakukan?" tanya Neji-niisan.

"Hah? Apa? Aku hanya ingin masuk ke mobil, itu saja. Memangnya apa yang telah kulakukan?" aku bingung sendiri.

"Masuk ke mobil?" Otoosan tertawa. "Siapa yang menyuruhmu masuk ke mobil, Hinata?" ujarnya lagi sambil tersenyum kecil.

"Erm… bukankah kita akan pulang?" aku menebak. Neji-niisan dan Otoosan tertawa bersama.

"Tidak, kau akan diam disini, di kediaman Uzumaki ini." ujar Neji-niisan.

"Eh? Kenapa?"

"Untuk sementara, kamarmu di rumah kita sedang direnovasi, jadi, kau akan dititipkan dulu sementara di kediaman Uzumaki." ujar Otoosan. Hah? Dititipkan? Yang benar saja!

Aku bengong, dan mereka segera pergi dengan seenaknya, meninggalkanku. Padahal, aku 'kan hilang ingatan. Kenapa mereka malah menitipkanku di tempat yang tidak begitu kuketahui? Padahal 'kan, aku bisa tidur di tempat Hanabi-chan! Kami masih sesama perempuan! Huuh!


To Be Continued

OYAH! MAAF! SAYA JADI MUNCUL JADI OC! XD

Special thanks: Myuuga Arai(gimana? gimana? :D), Inuzumaki Helen(Iyadong, kalo soal Naruhina, tanya saya aja. Sekarang banyak ide baru, kok. Tinggal ketik, post, blablabla. Status yaa? Ikutin alur cerita aja, deh. Kan kalian para pembaca disini dibuat kayak Hinata, lupa ingatan -ditendang-), Orange-Maple(Oya, tragedy disini itu, bagian Hinata lupa ingatannya. Maaf kalo kurang jelas, yaa :D), Nakamura arigatou(Cerita saya enak dibaca? -mulai kege-er-an- udah baca belum ya? kalo belum, nanti saya baca kalo udah balik ke bandung :D), Darbi arks III(soalnya dia belum bisa inget semuanya, kan? masih lupa ingatan, tiba-tiba samar-samar inget, gitu looh :D), Angie Da Angel(Naruhina lagi? Why not? -ditendang-. Haha. Banyak yang nanyain status mereka, ikuti saja ceritanya XD iya, bakal kubuat panjang tapi tak panjang -readers bingung semua-.), Panik-kok-di-disko(Waw. soal status mereka, cari tahu terus dengan membaca fic ini :D), Kiss 'en Smile(iyadooong, naruhinaa. duren aja dibedong bukan dibelah XD), TheSyaoranSakuraLover(ini udah apdet, baca terus yaa :D), artemis.inside(soal status mereka, baca terus yaa :P), phillip william-wammy(soal status orang-orang disini, ikutin ceritanyaa XD), Sahara ZhafachieQa(uda di apdet :D), dark aprodhite(alasan dia kecelakaan? ikuti terus ceritanya. status NaruHina? ikutin ceritanya :D).

Frequently.Asked.Question.

"Apa NaruHina udah nikah?" Ikutin terus ceritanyaa XP


Mind to review? :D