.

.

.

Jika Tuhan memberiku kesempatan kedua dan aku terlahir kembali ke dunia ini, aku akan tetap memilih di lahirkan oleh Uchiha Sakura dan menjadi anak dari seorang malaikat bernama Uchiha Sasuke.

.

.

.

Aku bahagia. Ya! Aku sangat bahagia dan bersyukur. Kami-sama memberiku berkah terbesar dengan menjadikanku anak dari seorang Uchiha Sasuke. Meski ayahku tidak sempurna. Meski ayahku berbeda. Itu tidak masalah. Ketidaksempurnaannya adalah kesempurnaan dalam hidupku. Dirinya yang berbeda adalah hal istimewa yang Kami-sama berikan padaku.

Aku tidak pernah menyesal terlahir sebagai putri dari Si Idiot Sasuke—begitu orang-orang menyebutnya. Karena dia adalah malaikatku. Seandainya Kami-sama memberiku kesempatan untuk memilih siapa orang tuaku, maka aku akan tetap memilih Uchiha Sasuke sebagai ayahku.

Aku tidak akan menukar seorang Uchiha Sasuke dengan seribu ayah terbaik di dunia sekalipun. Tidak akan. Karena aku bahagia menjadi Uchiha Sarada, putri dari Si Idiot Sasuke.

.

.

.

.

My Father, My Angel

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Story by: Kinky Rain

Rated: K+

Warning: AU, sangat OOC, typo(s) berhamburan, alur berantakan,

DLDR

.

.

.

.

Aku mendengar suara tepuk tangan yang begitu meriah setelah aku menyelesaikan permainan pianoku. Meski hanya latihan, entah mengapa yang menonton aksiku begitu banyak. Dua minggu menjelang festival musik, latihanku semakin padat. Aku lelah, kuakui. Tapi lelahku segera berganti dengan sukacita ketika aku melihat wajah itu. Berdiri di deretan bangku paling ujung, dengan suara tepuk tangan yang paling keras dan senyum bahagia yang tercetak di wajahnya, malaikatku memandang bangga padaku.

Aku tersenyum padanya. Kami-sama, aku akan melakukan apapun untuk selalu melihat senyum itu. Aku turun dari panggung yang akan dipakai saat festival nanti, dan berlari ke arahnya. Melemparkan diriku padanya, aku memeluknya erat-erat. Sangat nyaman berada dalam pelukan malaikatku.

"Sarada-chan hebat. Sarada-chan bermain sangat bagus. Otou-san bangga pada Sarada-chan." Pujinya setelah aku melepas pelukanku.

"Otou-san mengajariku dengan baik." Aku tersenyum.

"Sarada-chan hebat. Okaa-san pasti juga bangga dengan Sarada-chan." Aku mengangguk.

"Sarada-chan hebat. Sarada-chan anak Tou-san. Sarada-chan pintar..." Aku hanya tertawa mendengar ayahku mulai berceloteh tentang betapa pintarnya diriku. Ya. aku anak Tou-san yang paling beruntung.

"Itu ayahnya?"

"Sulit dipercaya. Jika aku jadi Sarada, aku akan sangat malu memiliki ayah seperti itu."

"Penampilan sempurna yang ditunjukkan Sarada jadi hancur dengan kehadiran ayahnya."

"Jadi benar kata orang-orang kalau ayah Sarada itu idiot."

Aku mendengarnya tahu. Apakah kalian harus selalu membicarakan ayahku seperti itu? Tidak bisakah kalian melihat ayahku seperti kalian melihat ayah-ayah yang lainnya? Tentu saja tidak! Ayahku kan seorang malaikat. Tentu mereka tidak akan bisa melihat ayahku seperti mereka melihat ayah-ayah yang lainnya.

Tapi mendengar komentar-komentar itu membuat hatiku sakit. Mereka berbicara begitu keras. Bagaimana jika malaikatku mendengarnya? Dia akan sangat sedih jika mendengarnya. Senyum di wajahnya, senyum yang begitu aku sukai akan menghilang.

"Jika aku jadi ayahnya, aku tidak akan datang agar Sarada tidak malu."

Hentikan! Tidak bisakah kalian diam dan tidak usah mempedulikan kami? Aku tidak pernah peduli dengan apa yang orang katakan tentang ayahku. Aku tidak pernah merasa malu dengan kondisi ayahku yang seperti ini. Jadi berhentilah menghina ayahku!

Tanpa diminta, air mataku mengalir menganak sungai di pipiku. Tou-san yang panik segera menadahkan telapak tangannya terbuka di bawah daguku. Melihat kebiasaannya yang selalu menahan agar air mataku tidak jatuh itu, membuatku semakin terisak, dan itu membuat ayah semakin panik.

"Sarada-chan kenapa? Sarada-chan sakit?" Suaranya sarat akan kekhawatiran.

Ya. Hatiku sakit mendengar mereka mengejekmu, Otou-san.

Aku menggeleng. Kuseka air mataku dan berusaha menenangkan perasaanku. Aku berusaha tersenyum dan kulihat ekpresi Tou-san sedikit rileks. Ayah berdiri dan menggandeng tanganku.

"Ayo kita pulang. Tou-san akan membelikan Sarada-chan es krim agar Sarada-chan tidak menangis lagi." Aku tersenyum mendengarnya. Dia menyamakanku dengan Kaa-san.

.

.

Aku menolehkan kepalaku ke seluruh penjuru ruangan. Malaikatku tidak ada. Biasanya dia akan duduk di barisan penonton paling belakang dan melihatku latihan. Dia akan berdiri dan memberikan tepuk tangan paling keras. Meski ditengah keramaian, aku akan tetap bisa menekukannya, karena dia selalu tampak bersinar di mataku. Tapi dia tidak ada. Kemana kau Otou-san?

Aku membuka pintu rumah. Tidak dikunci. Yang mana berarti Tou-san ada di rumah. Aku segera berlari menuju dapur karena aku mendengar suara berisik dari sana.

Dia berdiri di sana. Dengan celemek yang terikat di leher dan pinggangnya, dia sedang mengaduk-aduk sesuatu dalam panci, tidak menyadari kehadiranku.

"Otou-san." Aku memanggil. Dia menoleh dan tersenyum.

"Sarada-chan sudah pulang. Selamat datang." Sapanya.

"Otou-san tidak menjemputku."

"Otou-san tadi harus menggantikan Sui yang tidak masuk kerja."

"Aku menunggu Otou-san." Aku pikir terjadi sesuatu padamu Tou-san.

Ekspresi ayah tampak menyesal. Dia mematikan kompor dan mendekatiku. Dia berlutut untuk menyamakan tinggi badannya denganku.

"Otou-san menyesal. Otou-san bersalah. Otou-san minta maaf."

Dan, bagaimana aku bisa marah pada malaikatku? Aku tidak akan pernah bisa marah padanya. Sejujurnya aku merasa lega, karena dia baik-baik saja. Tidak ada hal buruk yang terjadi padanya.

"Aku hanya khawatir terjadi sesuatu pada Tou-san." Jelasku, dan dibalas cengiran dari Tou-san.

"Otou-san membuat kare. Sarada-chan suka kare?" Keceriaannya telah kembali. Aku tersenyum kemudian mengangguk. Sejujurnya aku tidak peduli apa yang dimasaknya. Apapun yang dia masak pasti akan aku habiskan meski rasanya hambar sekalipun. Dan beruntungnya aku, selama ini masakan Tou-san selalu terasa enak.

Tapi keesokan harinya Tou-san tidak datang lagi. Dia tidak pernah datang untuk hari yang berikutnya dan berikutnya. Setiap kali kutanya kenapa dia tidak pernah datang, dia akan menjawab bahwa aku sudah besar dan bisa pulang sendiri. Bahkan dia tidak lagi mengantarku hingga gerbang sekolah seperti biasanya. Sikap anehnya ini terus berlanjut hingga hari festival datang.

Aku merapihkan dress-ku yang sedikit kusut karena terlalu sering kuremas. Aku tidak gugup karena menanti giliranku tampil. Aku sedang gelisah karena orang yang kunanti tak kunjung datang. Malaikatku. Dia berjanji akan absen bekerja agar bisa melihat penampilanku. Dia bilang hanya akan pergi sebentar untuk meminta izin, tapi kenapa sampai sekarang tak kunjung datang?

Berkali-kali aku menolah ke arah pintu penonton, tapi malaikatku tak juga menampakkan sosoknya. Kuremas lagi dress-ku untuk menenangkan hatiku.

"Sarada. Giliranmu sebentar lagi."

Suara Matsuri-sensei menginterupsiku. Aku menghela napas. Mungkin Tou-san tidak akan datang. Dengan berat hati aku berjalan menuju panggung.

"Dia sudah ada di sana sejak satu jam yang lalu."

"Apa yang dilakukannya?"

"Entahlah. Dia selalu datang setiap hari. Dia akan bersembunyi dan pergi dengan mengendap-endap."

"Apa sebaiknya kita panggil keamanan?"

Entah kenapa yang terlintas di kepalaku saat mendengar percakapan itu adalah Otou-san. Aku membelokkan langkahku dan mencari objek pembicaraan para sensei yang bertugas menjadi pantia barusan. Dan aku melihatnya. Malaikatku.

Dia sedang berdiri di antara kerumunan orang-orang, terkadang celingukan seperti bersembunyi dari sesuatu. Bersembunyi dari apa?

Aku segera berlari menghampirinya dan memegang tangannya. Dia menoleh dan tampak terkejut ketika melihatku. Kenapa kau begitu terkejut Tou-san?

"Kenapa tidak bilang kalau Tou-san sudah datang? Aku menunggumu sejak tadi."

Otou-san dengan segera menarik genggaman tanganku yang memegang tangannya. Aku membeku. Kenapa dia seperti tak mau kusentuh?

"Sarada-chan tidak boleh bicara dengan Tou-san. Sarada-chan tidak boleh terlihat bersama Tou-san. Sarada-chan harus jauh-jauh dari Tou-san." Dengan panik dia mulai berceloteh. Apa yang kau bicarakan Tou-san? Kenapa aku tidak boleh bicara denganmu?

"Tou-san, apa yang kau bicarakan?" Aku meraih tangannya, namun dia mundur. Hatiku terasa sakit.

"Tou-san harus jauh-jauh dari Sarada-chan. Seharusnya Tou-san tidak datang. Tou-san tidak boleh membuat malu Sarada-chan. Tapi Tou-san ingin melihat pertunjukan Sarada-chan. Tapi sekarang Tou-san membuat malu Sarada-chan."

Aku bagai tersambar petir. Dadaku terasa sesak. Pikiranku berputar kembali ke beberapa hari yang lalu, kemudian pada percakapan para sensei tadi.

"Entahlah. Dia selalu datang setiap hari. Dia akan bersembunyi dan pergi dengan mengendap-endap."

Jadi dia datang. Dia datang. Setiap hari dia datang. Dia datang melihat latihanku. Dia selalu melihatku. Bagaimana bisa aku tidak tahu? Bagaimana bisa aku tidak menyadarainya?

Kuraih sekali lagi tangannya. Ketika dia ehndak menariknya, kueratkan genggamanku dengan kedua tanganku. Dia panik dan mulai memandang sekeliling. Sebenarnya apa yang kau takutkan Tou-san?

"Tou-san." Dengan suara parau aku memanggilnya. Dia menoleh dan kepanikan menjalari wajahnya saat melihat wajahku yang sudah basah dengan air mata. Segera dia berjongkok dan menadahkan tangannya di bawah daguku.

"Sarada-chan menangis. Otou-san membuat Sarada-chan malu. Otou-san membuat Sarada-chan sedih." Paniknya.

Itukah yang kau takutkan malaikatku? Sementara aku memikirkan sikap anehmu, kau begitu sibuk memikirkan kebahagiaanku. Dia pasti salah mengira arti tangisanku tempo hari.

"Aku menangis bukan karena malu, Otou-san. Aku menangis karena mereka mengejek Tou-san. Aku tidak suka mereka mengejek Tou-san. Itu membuatku sedih."

Kesedihan tampak di wajah polosnya.

"Sarada-chan tidak malu?"

Aku menggeleng.

"Tidak apa-apa jika Tou-san bersama Sarada-chan?"

Aku mengangguk.

"Otou-san boleh melihat pertunjukan Sarada-chan?"

Aku kembali mengangguk.

"Tapi nanti Sarada-chan diejek teman-teman."

"Aku tidak peduli."

Otou-san tersenyum, dan segera aku memeluknya. Betapa bahagia hati ini melihat senyumnya.

"Sarada, sekarang giliranmu!" Teriak Matsuri-sensei.

Aku melepas pelukanku. Dengan menggenggam erat tangan Tou-san, aku menariknya ikut bersamaku. Alih-alih mengantarnya ke tempat duduk penonton, aku membawa Tou-san bersamaku ke panggung. Tatapan heran terpampang jelas di wajah orang-orang, tapi aku tidak peduli. Aku memiliki seorang malaikat dalam hidupku. Aku memiliki seorang malaikat sebagai ayahku. Aku tidak punya alasan untuk tidak bahagia, bukan?

.

.

.

terima kasih untuk readers yang telah membaca fic abal saya, baik yg ini mau pun yg lain ny. saya sangat ingin membalas review kalian, tapi keterbatasan waktu membuat saya tidak sempat. saya juga terlalu sibuk sama RL, sehingga cuma bisa apdet fic hari minggu, itu pun dengan mencicil sedikit demi sedikit. harap maklum untuk yang sudah menanti fic ku terutama yang multichap.

sampai jumpa di fic ku yang lainnya, I LOVE YOU FULL :)