johayo-kaisoo

Min Yoongi seorang perenang berbakat yang tidak pernah peduli dengan rekornya bertemu dengan Park Jimin, seseorang yang sangat berambisi menjadi perenang dunia. Apalagi setelah dia bertemu dengan Yoongi. Namun, persahabatan itu menjadi pudar karena Yoongi.../"Aku tidak peduli dengan rekorku."/"Aku ingin balapan yang sesungguhnya!"/"Aku tidak mau berenang untukmu."/"Kau harus berenang untukku."

FREE!/BANGTAN FIC/YOONMIN/YOONGI –SUGA- X JIMIN/BOYXBOY/T/Chaptered/FF REMAKE ANIME "FREE!"/Pasti udah banyak yang tahu lah ya, anime lama -_-/DLDR!/CHAP 2 is UP!

.

.

.

.

"Yah, itulah hal-hal yang selalu aku pikirkan waktu itu.

Ada pepatah lama yang dikatakan oleh mendiang Nenekku.

Saat berumur 10, kau akan dianggap keajaiban.

Saat berumur 15, kau akan dianggap jenius.

Tapi ketika berumur 20 tahun, kau hanyalah manusia biasa.

Masih ada tiga tahun lagi sebelum aku menjadi manusia biasa.

Aduh...

Aku ingin segera menjadi manusia biasa."

.

.

Chapter 2: Kembali Di Tempat Permulaan!

.

.

Pagi yang indah di awal musim semi tahun ini. Suara kicau burung yang sempat membeku bersama musim dingin terdengar saling menyahut. Air laut yang tenang berkilau ditimpa matahari pagi. Menambah kesan apik musim semi di kota Busan ini.

Namjoon melangkahkan kakinya selebar yang ia bisa. Hingga yang terlihat ia seperti orang tengah berlari. "Selamat pagi, Bibi Han." Sapanya kepada wanita tua yang dilaluinya. Namjoon memang ramah. Makannya banyak orang yang suka padanya. Walau dirinya tak seramah Hoseok tentunya.

"Selamat pagi juga, Namjoon." Balas Bibi Han. Tangannya merogoh sesuatu dalam tas jinjing yang dibawanya. "Bawalah ini." Menyerahkan sebuah bungkusan yang dibalut kain. Namjoon menghentikan langkahnya dan menerima benda itu. "Oh, terima kasih." Katanya.

Namjoon berlalu dari sana setelah mengucapkan sampai jumpa. Menapaki tangga demi tangga yang tersusun rapi. Tanah disekitar tempat tinggalnya yang menanjak membuat dia harus selalu melewati tangga kemanapun dia pergi. Baru beberapa meter ia melangkah, tubuh tinggi itu kembali berhenti. Mundur tiga tingkat tangga dan berjongkok disana.

Apa yang dilakukan pemuda itu?

Oh, dia hanya sedang mengelus seekor kucing kecil berbulu putih bersih yang selalu mencuri perhatiannya setiap dia ingin menjemput sahabatnya itu. "Selamat pagi."

Hah... benar-benar pagi yang indah dalam takaran Namjoon.

.

TIINGG TOONGG

Sudah sekitar lima menitan Namjoon berdiri di depan sebuah rumah dua lantai itu. Mundur beberapa langkah hanya untuk melihat salah satu jendela di lantai dua yang terbuka. Namjoon menghela nafas berat.

"Oh, mau bagaimana lagi..." Gumamnya.

Dia segera menuju pintu belakang rumah itu. Berucap permisi tepat setelah pintunya terbuka. Melangkah masuk menuju sebuah ruangan dengan rak berisi baju kotor yang tergeletak sembarangan.

"Seperti biasa, dia ada di sini."

Namjoon berlalu kemudian membuka sebuah pintu yang ada di ruangan itu. "Aku masuk, ya." Menampakkan badan tingginya dari balik pintu berlatar coklat itu.

"PUAHH!"

Dan pemandangan Yoongi yang terduduk tiba-tiba dari acara menyelamnya di bath tube adalah yang pertama dilihatnya. Kepala pemuda manis itu bergerak ke kanan dan kiri dengan kuat. Kebiasaannya setiap selesai berenang.

Yoongi untuk yang kesekian kalinya mendongak ketika Namjoon mengulurkan tangan ke arahnya. "Selamat pagi, Yoonie. Hehe.."

Yoongi terbengong sesaat sambil menatapi Namjoon. "Sudah kubilang untuk tidak memanggilku dengan nama itu." Menerima uluran tangan Namjoon dan berdiri.

Namjoon yang melihat penampilan Yoongi speechless seketika. "Kau memakai celana renang di balik bath tube lagi?"

"Biarin." Balas Yoongi. "Kau nanti bisa terlambat." Dengan wajah datar Yoongi berjalan keluar kamar mandinya.

"Seharusnya aku yang mengatakan itu."

.

Bau harum ikan memenuhi setiap sudut dapur kecil itu. Warnanya yang kecoklatan menandakan hewan laut itu hampir matang.

"Tunggu, kenapa ikan bakar?!" Protes Namjoon di telinga kiri Yoongi.

"Aku belum sarapan." Balas Yoongi datar.

Namjoon memindai penampilan Yoongi dari atas kebawah. "Lagi-lagi kau memakai apron sambil memakai celana renang." Katanya. Sungguh, Namjoon tak mengerti dengan jalan pikiran Yoongi. Sebegitu gilanya kah namja gula ini pada renang? "Apa kau tidak kedinginan?"

"Aku tidak mau celana renangku ini terkena minyak."

TRINGG

Namjoon mengalihkan perhatiannya pada benda kotak di sebelah kanan Yoongi. Sebuah roti panggang sukses keluar dari panggangannya. "Roti dan ikan?"

.

"Jadi? Kenapa kau menjemputku?" Tanya Yoongi membuka percakapan diantara dia dan Namjoon. Mereka tengah berjalan berdampingan menuju sekolah.

"Di upacara pembukaan kemarin kau tidak datang."

"Aku kan sakit."

"Apa kau sudah tahu akan masuk ke kelas apa?"

Yoongi diam. Membiarkan Namjoon melanjutkan ceritanya. Dan sesuai dugaannya, namja pirang itu mengatakan kalau mereka satu kelas lagi. Selain itu Namjoon juga bercerita kalau wali kelas mereka itu seorang wanita yang –ehem aneh dan anak anak sekelas mereka memberinya julukan. Dia juga mengajar literatur kuno. Sebenarnya Yoongi tidak peduli dengan siapa ia sekelas, siapa wali kelasnya dan segala tetek bengek tentangnya, dia hanya ingin –"Suhunya harus sedikit lebih hangat lagi jadi aku bisa berenang di laut." Batinnya.

Biasalah. Seorang Min Yoongi apalagi kalau bukan berenang yang ada di otaknya.

"Semoga cuaca sebentar lagi hangat, jadi kau bisa berenang kembali." Seolah mengerti apa yang dipikirkan Yoongi, Namjoon berkata demikian. Yoongi menatap Namjoon malas lalu menatap laut yang membentang di sepanjang perjalanan mereka menuju sekolah.

...

"Park Chanyeol."

"Hadir."

"Oh Sehun."

"Hadir."

"Min Yoongi. Oh, perempuan pertama yang Saya absen."

Yoongi menundukkan kepalanya. Sudah kesekian kalinya dirinya dikira perempuan. Apakah namanya sangat feminim? Rasanya tidak. Atau wajahnya yang cantik? Apa ini? Gurunya saja belum memandang wajahnya sama sekali.

"Songsaenim, Yoongi itu laki-laki." Namjoon berkata keras dengan tangannya yang mengacung tinggi. Namja tinggi itu sedikit memiringkan badannya ke kiri supaya lebih dekat dengan Yoongi. Membuat kelas yang tadinya hening menjadi ramai oleh tawa.

"Oh, jinjja? Maafkan Ibu, Yoongi-ssi." Taeyeon segera saja meminta maaf. Pasalnya muridnya itu kemarin tidak berangkat. "Nama Ibu Kim Taeyeon. Wali kelasmu yang baru. Senang bertemu denganmu."

..

"Aku dengar Taeyeon Songsaenim tinggal disekitar sini. Dia mengambil kuliah di Seoul dan mendapatkan pekerjaan di sana, tapi dia kembali setelah cita-citanya tidak tercapai."

Yoongi terus saja menatap keluar jendela sejak bel istirahat berbunyi. Tapi tak dipungkiri kalau namja pucat itu juga mendengarkan setiap pembicaraan teman sekelasnya tentang wali kelas mereka itu. "Kami harus belajar dengan seseorang yang menganggap guru sebagai cita-cita cadangan? Aku ingin pulang." Yoongi membatin. Namja itu menghela nafasnya berat.

"Jadi makan siang kali ini..."

Yoongi menoleh ke arah Namjoon. Lelaki itu tengah menunjukkan sebuah bekal yang tadi pagi di dapatkannya dari ahjumma dekat rumah Yoongi. "Mau makan di atap?"

...

"Youngjoo-kun! Apa yang kau lakukan? Cepatlah!"

Youngjoo yang merasa namanya diteriaki mempercepat larinya. Sungguh sahabatnya itu orang yang sangat tidak sabaran. "Tunggu! Dan jangan memanggilku dengan tambahan kun!"

"Maaf!"

Youngjoo menghentikan larinya ketika seorang namja –lumayan- tinggi menabraknya. Gadis itu terdiam dan terus menatap orang tadi. Manik matanya mengikuti kemanapun lelaki itu pergi. Rasanya dia pernah melihat orang itu. Tapi dimana?

...

Dua orang lelaki itu berjalan berdampingan disepanjang koridor menuju atap. Namjoon masih setia menenteng tempat bekal berwarna orange-nya. Bukankah itu tujuan mereka keatap. Makan bersama.

"Aku tidak membawa makan siang." Kata Yoongi saat mereka belum seberapa jauh dari kelas. Sebenarnya Namjoon sudah mengusulkan lelaki itu untuk beli dulu di kantin. Tapi dia terlalu malas untuk berjalan kesana. Dan Namjoon dengan berbaik hati menawarkan bekal cumi-cuminya untuk Yoongi.

"Yoonie! Namjoon hyung!"

Suara panggilan yang cukup cempreng itu membuat Yoongi dan Namjoon menoleh ke sumber suara. Disana, di bawah tangga mereka mendapati Hoseok yang sedang melambai-lambaikan tangannya ke arah mereka. Rupanya Hoseok juga murid di SMA mereka.

"Yoonie?!" Yoongi dan Namjoon menggumamkan nama itu secara bersamaan. Terlonjak kaget saat ingat siapa yang sering memanggilnya dengan nama itu.

"Hoseok?!"

.

Semilir angin khas musim semi berhembus menerpa wajah Yoongi. Lelaki itu tengah menyandarkan badannya ke tembok pembatas yang ada di atap. Menatap pemandangan laut yang terlihat jela dari sana. Di sebelahnya ada Hoseok dan Namjoon.

"Sudah berapa tahun, ya? Aku tidak menyangka bisa melihatmu setelah klub renang itu di tutup." Namjoon membuka suara diantara ketiganya. Memang, setelah klub renang mereka saat kecil dulu itu di tutup, Yoongi dan Namjoon tidak pernah lagi bertemu Hoseok. Dan kini saat di SMA mereka bertemu kembali.

Hoseok mengangguk mengiyakan. Matanya masih tak lepas dari pemandangan indah yang tersaji di depanya. "Oh, ada pohon sakura di dekat kolam!" Katanya. "Bukankah di dekat kolam SD juga ada pohon sakura seperti itu ya, Yoonie."

Yoongi menoleh ke arah Hoseok. "Bukankah sudah kubilang jangan memanggilku dengan nama seperti itu?"

"Tapi itu kan namamu, Yoonie." Hoseok balas memandang Yoongi. Kini dua orang itu hanya saling menatap satu sama lain.

"Kolam renang itu sudah usang dan sudah tidak di pakai lagi." Suara Namjoon membuat Yoongi maupun Hoseok kembali menatap kolam renang.

Ah, iya. Kolam renang itu kondisinya sangat... memprihatinkan. Lagi pula disini, tidak ada klub renang juga.

"Lalu, kau berenang di mana?" Tanya Hoseok.

"Aku sudah berhenti."

"Apa?! Kenapa berhenti?" Hoseok tersentak. Tak pernah terlintas sedikit pun di pikirannya kalau Yoongi berhenti berenang. Bukankah Yoongi itu sangat gila berenang? Lagipula, Hoseok kan ingin berenang bersama Yoongi lagi di SMA.

"Kita bukan anak kecil lagi." Kata Yoongi datar. "Ada hal yang tidak bisa selalu sesuai dengan keinginan kita."

Hoseok menatap Yoongi sendu. Namja itu sangat sangat dan sangat ingin berenang bersama Yoongi. Namjoon yang melihat itu merasa kasihan juga. "Ya, dia memang mungkin sudah berhenti, tapi dia masih menyukainya. Yoongi itu tidak bisa hidup tanpa air." Hibur Namjoon. Hoseok hanya mendengarkan saja. Ah, iya benar. Yoongi kan tidak bisa hidup tanpa air. Tapi rasanya, Yoongi jadi seperti ikan. Namjoon juga menceritakan Yoongi yang masih suka berenang di laut saat musim panas. Dan dia yang setiap paginya menyelam di bath tube. Hoseok sempat protes sebenarnya. Itu kan bukan berenang. Itu sama saja dengan mandi.

"Bagaimana kalau pemandian air panas?" Hoseok mengusulkan. Tangan rampingnya menggoyangkan bahu Yoongi dengan kencang. Yoongi hanya menatap lelaki itu malas.

"Aku tidak tahan dengan panasnya." Balas Yoongi. Hoseok tak mendengarkan. Tetap menggoyangkan bahu Yoongi sampai namja manis itu akhirnya menyerah.

"Hoseok tidak berubah sama sekali." Batin Namjoon.

.

Namjoon memerhatikan dua orang gadis yang duduk tak jauh dari mereka bertiga. Ketika lelaki itu tengah menatapnya dengan intens, gadis itu menolehkan kepalanya dan balas menatapnya. Tapi kemudian gadis berambut pink itu menundukkan kepalanya, membuat Namjoon tersentak. Sepertinya dia tahu siapa gadis itu. Cuma Namjoon lupa-lupa ingat.

.

.

.

.

TBC

.

.

.

Maaf.. Maaf banget udah update lama, pendek pula haha. Aku lagi (sok) sibuk sibuknya, sampai gak bisa rasain yang namanya liburan -_-

Oya, untuk cast Youngjoo, itu pakai namaku xD aku bingung siapa artis Korea perempuan yang namanya kaya laki-laki. Yodah pake namaku aja berhubung namaku emang nama anak laki-laki

Sekali lagi mian kalo jelek. Aku gak pinter ubah ke dalam bentuk narasi. Makannya banyakan dialog. Mohon di maklumi.

Terimakasih untuk yang sudah me-review :3

Semoga menghibur.

RnR?