Seventeen ke Amerika untuk konser, tapi ternyata VerKwan punya rencana lain.
#verkwan #seventeen #yaoi #t
NONTON
KCON di Amerika.
Seventeen datang sehari lebih awal untuk dapat menikmati keindahan serta kesibukan Amerika yang sejatinya tidak terlalu kontras dengan Korea. Bedanya hanyalah, di Korea orang-orang kebanyakan mirip dengan Soonyoung sementara di Amerika hampir kesemuanya seperti bersaudara jauh dengan Hansol. Tak hanya itu, apa-apa yang mereka ucapkan dan teriakkan benar-benar berbeda dengan orang Korea kecuali di bagian 'Oppa!'.
Sepanjang perjalanan, Hansol dan Jisoo menjadi orang sibuk. Mereka seolah sudah beralih profesi dari member menjadi tour guide. Tak hanya menerjemahkan, keduanya pun harus bersabar menjawab pertanyaan para member yang dipenuhi oleh antusiasme serta rasa kagum layaknya seorang turis.
Usai seharian berjalan-jalan, ketiga belas anak bebek segera digiring para manager untuk kembali ke hotel sebab semangat dan antusiasme mereka masih harus disimpan guna menghadapi latihan serta konser besok. Sambil tidak lelah berceloteh ramai menceritakan kembali pengalaman berkeliling satu petak kecil dari negara asing Amerika, Seventeen melangkah beriringan di koridor menuju kamar mereka. Seungkwan baru akan masuk ke dalam kamar mengikuti Mingyu dan Minghao yang mendahuluinya ketika sebuah lengan kuat menarik paksa tubuhnya untuk kembali menjauh dari batas pintu.
"Seungkwan-ah?" panggil Mingyu saat mendengar pekikan kecil dari temannya.
"Aku ingin bicara sebentar dengan Seungkwan." Terdengar suara Hansol yang menjawab membuat rekannya ber-oh lega.
"Apa-apaan sih?" sang diva menyentak ketus sambil mengusap-usap lengannya yang berdenyut akibat ditarik terlalu keras oleh Hansol.
"Ayo nonton," ucap namja bule tersebut seketika membuat pemuda chubby di depannya memelototkan mata.
"Apa kau bilang?" tanya Seungkwan dengan nada tidak percaya.
"Nonton. Ayo nonton," ulang Hansol, tidak mengerti kenapa reaksi pacarnya terlihat begitu aneh.
"Kau gila? Kau mengajakku nonton di saat kita menjadi pusat perhatian begini? Apa kau ingin tertangkap paparazzi dan dapat skandal, huh?"
Hansol menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Aku yakin kau pasti tidak berpikir sampai sejauh itu 'kan? Lupakan, aku mau tidur." Seungkwan berbalik hendak masuk kamar lagi namun tangan Hansol kembali meraihnya.
"Ayolah, aku mohon." Dia merengek. "Aku ingin berkencan denganmu~"
"Tidak sekarang, Hansol-ah—"
"Jisoo Hyung sudah bersedia membantu kita." Kalimat Hansol menghentikan kegusaran kekasihnya seketika.
"Huh?" namja cantik itu melongo.
Hansol mengangguk. "Orang tua Jisoo Hyung datang mengunjunginya ke hotel ini. Dia bilang dia ingin menemui mereka dan mengajakku. Aku katakan padanya aku mau ikut asal boleh mengajakmu. Nanti kita memberi salam sebentar ke orang tua Hyung lalu pergi ke bioskop. Hyung juga bilang akan menunggu kita sampai selesai lalu kembali ke sini bersama-sama. Tenang saja, ini Jisoo Hyung. Dia bisa dipercaya dan manager tidak akan curiga padanya."
Mata bulat Seungkwan berkedip, ada keraguan dan rasa takut di sana tapi Hansol menggenggam tangannya dengan kuat memberikan kesungguhan.
"Aku akan menjagamu," janjinya dengan dua mata menatap lurus pada pupil Seungkwan.
Hening sejenak, namun kemudian pemuda berpipi chubby tersebut mengangguk membuat senyuman lebar sekejab mekar di wajah tampan di hadapannya.
"Aku harus bilang dulu pada Mingyu kalau aku akan pergi dengan kalian," ucap Seungkwan yang dijawab anggukan oleh Hansol.
-o-
Hansol serius dengan kata-katanya. Setelah menyapa orang tua Jisoo dan sedikit berbasa-basi, pemuda bule tersebut segera menggelandang Seungkwan ke bioskop terdekat yang berada satu bangunan dengan pusat perbelanjaan. Malam mungkin mulai larut, tapi kesibukan mall sama sekali belum menunjukkan tanda-tanda akan berkurang. Keramaiannya membuat Seungkwan gugup dan tanpa sadar semakin menurunkan lidah topi untuk menutupi wajah sementara Hansol malah bersiul-siul riang di sampingnya.
"Jangan kaku begitu. Bisa-bisa kau malah dicurigai sebagai teroris," bisik Hansol di telinga Seungkwan membuat kekasihnya tersentak dan makin dag dig dug tidak karuan. Namja berdarah campuran tersebut cuma terkekeh saat sang diva merengek sembari mencubiti lengannya.
"Di sini yaoi sudah legal, tidak akan ada yang peduli pada apapun yang kita lakukan. Jadi santai saja," ujar Hansol seraya meletakkan lengan ke atas pundak Seungkwan, membawanya untuk mendekat.
"Bukan itu yang aku khawatirkan," cicit si body molek, tanpa sengaja dia melihat iklan konser KCON disiarkan oleh televisi layar jumbo yang dipamerkan di etalase toko elektronik, tepat saat menunjukkan video klip Seventeen, dan seketika itu Seungkwan langsung memeluk tangan Hansol dengan erat sambil mengeluarkan suara seperti anak tikus menangis.
"Uluh uluh~ kau takut mereka mengenalimu?" Hansol terkekeh, menyadari kecemasan Seungkwan namun tidak dapat mengingkari kenyataan jika kepanikan pacarnya itu benar-benar menggemaskan.
"Kemari, aku akan menyembunyikanmu supaya mereka tidak bisa melihatmu," canda Hansol menarik kepala Seungkwan ke bawah ketiaknya yang langsung membuat dia memekik.
"Kurang ajar!" dengan kesal sang diva mengeplak keras lengan berotot di sebelahnya sambil mendengus sementara Hansol hanya tertawa.
"Bersikaplah natural seperti itu, jadi kau tidak akan terlalu mencolok dan menarik perhatian," ujar si bule membuat kekasihnya mengedarkan pandangan dan benar saja, orang-orang cuma melihat pertengkaran mereka sekilas lalu melanjutkan kesibukan masing-masing.
Dengan kesal sang diva merengut, membuat rapper-nya kembali tergelak.
-o-
"Two seats for couple. Here you are, enjoy your movie." Petugas menyerahkan dua helai tiket pada Hansol yang menjawab dengan 'Thanks' singkat. Segera dia keluar dari antrian dan langsung dapat melihat sosok Seungkwan yang sedang berdiri gelisah menunggu di dekat pintu masuk. Hansol tersenyum, melenggang riang mendekati namja itu.
"Aku sudah dapatkan tiketnya—"
"Hansol-ah!" suara bergetar Seungkwan langsung mengubah ekspresi wajah kekasihnya. Terlebih ketika dirasa Hansol ujung jari pemuda tersebut dingin dengan mata yang nampak sangat ketakutan.
"Ada apa?" tanya Hansol, nada suaranya terdengar mengeras.
"A-ada yang bicara padaku, sepertinya dia memintaku untuk pergi dengannya. Dia menarik tanganku," cerita Seungkwan, kedua matanya berkaca-kaca.
"Lalu? Apa yang kau katakan?" mata coklat Hansol menajam.
"A-a-aku bilang 'I am not alone, my friend is buying tickets right now he will come back soon'. Aku juga sudah bilang padanya kalau aku tidak lancar bahasa Inggris tapi dia memaksaku. Lalu aku katakan, 'I will scream!' dan dia baru melepaskanku. Dia pergi tapi sepertinya terlihat marah." Seungkwan meraih hoodie Hansol, menggenggamnya erat. "Hansol-ah, dia tidak akan kembali untuk menyakiti kita 'kan?"
Hansol tertegun, namun kemudian dia menggeleng, mencoba tersenyum untuk menenangkan kekasihnya. "Ada aku di sini, tidak akan terjadi apa-apa. Kau sudah melakukan hal yang benar. Kau sangat pemberani, Sayang. Aku bangga padamu." Dia masih tersenyum, memegang kedua pipi Seungkwan lalu menariknya ke dalam dekapan yang hangat, sekedar ingin meredakan sedikit ketakutan namja cantik tersebut.
"Ayo masuk, filmnya akan segera dimulai," ajak Hansol mengalihkan topik, membawa Seungkwan berjalan bersamanya, mengeratkan tangan yang masih berada di pinggang pemuda itu. Tanpa Seungkwan tahu, Hansol menoleh ke belakang, mengamati sekilas orang-orang yang ada di sekitar mereka. Sepasang matanya menajam, ada kewaspadaan di sana ... dan juga kemarahan.
-o-
"Baby, lepas hoodie-mu," ujar Hansol lima menit setelah film dimulai, membuat mata Seungkwan melotot lebar dan otomatis kedua tangannya menyilang di depan dada.
"Apa yang mau kau lakukan padaku?" tuduh namja cantik tersebut sambil mengedarkan pandangan menyeleksi keadaan. Kursi-kursi di sekitar mereka memang banyak yang kosong karena sepertinya film yang dipilih Hansol hanya segelintir yang meminatinya mengingat tujuan bule tersebut ke bioskop memang bukan murni untuk menonton melainkan untuk berpacaran.
"Lepas saja. Kita bertukar hoodie," kata Hansol sudah selesai melepas hoodie miliknya sendiri.
"Untuk apa?" tanya Seungkwan namun tetap menuruti permintaan kekasihnya.
"Aku ingin baumu. Aku harus punya 'bau rumah' untuk bisa tidur di tempat asing." Hansol tersenyum simpatik.
"Halah alasan! Bilang saja hoodie-mu kotor dan minta dicucikan." Dengan jutek Seungkwan melempar bajunya ke arah Hansol, membuat namja keturunan Amerika tersebut terkekeh.
Usai berpakaian, Hansol langsung memeluk lengan di sebelahnya dan meletakkan kepala di pundaknya, menuai tatapan sekilas dari Seungkwan sebelum kemudian dia mengalihkan pandangan lagi ke depan, ke layar proyektor yang mempertunjukkan scene sekumpulan orang yang kelihatannya sedang mendiskusikan sesuatu walau pemuda berponi tersebut sama sekali tidak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Kau fokus sekali," desis Hansol menahan tawa memandang ekspresi serius kekasihnya dari samping.
"Kau seharusnya juga fokus. Kita sudah membayar mahal untuk ini, setidaknya harus menonton sebentar," tukas Seungkwan. "Mengesalkan, aku benar-benar tidak mengerti apa yang mereka bicarakan," lanjutnya dengan gerutuan.
"Mereka sedang membuat rencana." Hansol mulai menerjemahkan. "Untuk menjebak ketua mafia yang melarikan diri. Yang sempat dilihat mafia itu adalah si wanita berambut pirang." Dia menunjuk ke arah layar.
"Temannya menawarkan diri untuk menjadi umpan. Dia akan berpenampilan mirip wanita itu supaya si mafia memfokuskan serangan hanya padanya. Lalu di saat bersamaan, wanita yang asli akan menyergap mafia dari belakang bersama dengan anggota lainnya."
Seungkwan menatap Hansol dengan mata berbinar. "Kenapa kau bisa sangat pintar?" desis namja itu kagum.
Hansol tersenyum. "Karena aku memilikimu. Aku bisa menjadi segalanya asal bersamamu."
"Kh, gombal deh kumat." Seungkwan mencibir.
"Yah...setidaknya kau harus menciumku 'kan? Aku baru saja mengatakan kau adalah hal terpenting yang membuatku bisa lebih pintar," tagih Hansol.
"Kalau aku tidak mau?" tantang Seungkwan.
"Aku akan mencurinya," jawab Hansol.
"Aku akan berteriak." Si cantik mengancam.
"Aku tidak yakin kau akan melakukannya." Si bule tersenyum miring lantas dengan kecepatan cahaya dia sudah meraih dagu Seungkwan dan memperangkap bibirnya. Sang diva memegang tangan Hansol mencoba untuk menjauh, namun kekasihnya lebih lincah memindahkan jari ke tengah-tengah helaian rambut, menekan kepalanya dari belakang untuk terus menempelkan mulut yang sudah mulai terbuka pasrah. Seungkwan yang pasrah, membiarkan Hansol memasukkan lidah dan meneguk apa yang dia inginkan hingga tanpa sadar membuatnya mendesah beberapa kali.
"Darn it!" Hansol melepaskan pagutan untuk mengumpat, mengundang tatapan penuh pertanyaan dari kekasihnya yang sudah terengah.
"Film ini punya adegan dewasa," ujar si bule, bertahap membuat kedua mata oriental di hadapannya melotot lebar. Hansol melanjutkan tanpa rasa bersalah.
"Kalau di Korea mungkin akan disensor, tapi di sini tidak ada yang seperti itu. Kau mau menontonnya sampai selesai?"
Seungkwan hanya terdiam, wajahnya memerah.
Entah malu...
...entah marah.
-END-
Pantes bioskopnya sepi, Mas -,-
Me: "DAPET IDE VERKWAN DONG YAAA"
Dia: "Bagus, sana tulis. Yg rada angst ya."
Me: "VerKwan cucoknya yg imut lucu fluff -,-"
Dia: "-_-"
