Tittle : Another |Chap 1| Rought Sketch

Author : NL

Cast : Exo

Genre : Mystery, Drama, Horror,School, Romance(?)

Lenght : 1 of ?

Disclamer

Film anime jepang yang diangkat dari cerita fiksi misteri horor karya Yukito Ayatsuji, dan sebuah manga yang ditulis oleh Hiro Kiyohara.

Author note : Cerita yang terinspirasi dari sebuah film anime jepang dengan judul yang sama

.

.

.

***Another***

.

.

.

"Apakah kau pernah mendengar tentang Yixing, dia siswa dari kelas 12-3?"

"Apa ada seseorang dengan nama itu?"

"Itu terjadi 26 tahun yang lalu. Dia merupakan siswa populer, pintar, dan memiliki kepribadian yang baik semenjak dibangku kelas 10. Jadi, dia sangat disukai oleh para murid dan guru"

"Benar, hanya sedikit orang yang bisa disukai oleh semua kelas"

"Tapi semenjak dia naik ke kelas 12, Yixing meninggal"

"Apa? Kenapa?"

"Aku dengar itu sebuah kecelakaan. Jadi, semua orang sangat terkejut. Hingga tiba-tiba seseorang mengatakan itu..."

"Mengatakan apa?"

"Dia menunjuk meja Yixing dan berkata -Yixing ada disana. Dia tidak mati -"

"Apa itu..."

"Benar, itu hanya pura-pura. Sejak saat itu, kelas 12-3 berperilaku seakan Yixing masih hidup"

"Itu sangat mengerikan"

"Mereka terus seperti itu hingga wisuda, bahkan kepala sekolahnya pun mengatur agar kursi Yixing juga ada didalam upacara kelulusan"

"Apa itu tidak apa-apa?"

"Tentu, jika itu berakhir disana"

"Masih berlanjut?"

"Cerita selanjutnya adalah..."

.

.

.

Ginjang gun-Busan Hospital

26 April 2013, pukul 05.44

Sebuah sentuhan hangat menerpa pemukaan kulit wajahku, membangunkanku dari alam mimpi yang bersemayan sejak malam hari. Perlahan kelopak mataku terbuka, membiasakan dengan cahaya temaran yang berasal dari lampu kamar rumah sakit. Sekejap bau obat-obatan tercium jelas oleh indra penciumanku. Kini aku terbaring lemah di sebuah ranjang rumah sakit. Menghela nafas sesaat sedikit rasa pusing dikepalaku datang. Penyakitku kambuh akhir-akhir ini.

"Bagaimana perasaanmu? Masih terasa sakit?"

Sebuah pertanyaan menyadarkaku bahwa kini tidak hanya ada aku di dalam ruangan. Kulirik sesorang yang kini duduk tepat disebelah ranjangku. Nenekku ternyata.

"Tidak" Jawabku pelan.

"Ya Tuhan, ini terjadi setelah kau memulai hidup disini...kasihan sekali" Katanya padaku

"Emm..maafkan aku nenek"

"Aku tidak apa-apa, jaga kesehatanmu" Katanya kemudian "Memangnya mau bagaimana lagi..."

"Ah ya, apa ayahku sudah,,,."

"Masih belum disampaikan, ya? Ayahmu sekarang ada di India, kan?" Tanya nenekku

"Mau kutelepon? Kebetulan aku tahu nomor teleponnya"

Kupedarkan pandanganku mencari sosok yang baru saja berbicara. Kudapati dirinya tengah berdiri membelakangi jendela kamar, seulas senyum terlukis diwajah cantiknya.

"Tidak, aku akan menghubunginya sendiri nanti" Kataku membalas senyumnya.

"Mungkin itu lebih baik" Balasnya.

"Ngomong-ngomong, Ayahmu itu pekerja keras ya?" Tanya nenekku. Aku menyetujui ucapannya dengan menganggukan kepala. Ayahku memang seorang lelaki pekerja keras. Sekarang saja ia sedang ditugakan ke India. Karena pekerjaannya juga, kini aku tinggal bersama kakek nenek dan bibiku di Ginjang-gun sebuah desa yang berada tepat di Kota Busan Korea Selatan. Cukup jauh memang, nyatanya aku adalah seorang warga asli China.

"Meskipun pada akhirnya ibumu meninggal dan hidup bercerai berai..."

"Sungai Ginjang, sungai yang mengalir melewati tengah kota. Dan kau bisa melihat dataran diseberang sana?" Tanya bibiku cepat. Aku menyadarinya, bibiku memotong ucapan nenekku yang belum selesai berbicara.

"Maksudmu bangunan itu?" Tanyaku memandang pada hamparan luasnya kota lewat jendela kamarku.

"Ya dan itu adalah tempat dimana kau akan bersekolah" Jawabnya.

"Apa dulu bibi sekolah disana juga?" Tanyaku lagi.

"Ya, meskipun sudah tujuh belas tahun yang lalu"

"Apa ibuku juga..."

"Ya, ibumu juga bersekolah di Hannyoung"

"Hannyoung?" Tanyaku mengerutkan dahi bingung.

"Hannyoung High School" Ucap bibiku menjelaskan "Menurutku ada perbedaan antara sekolah negeri dan sekolah swasta. Tapi kau pasti akan terbiasa. Aku yakin itu tidak akan lama" Jelasnya kemudian.

Ya, Hannyoung High School itulah nama sekolahku sekarang, walaupun aku baru mengetahui namanya barusan. Aku akan sekolah disana, di gedung itu. Sudah terlihat jelas oleh mataku sebuah bangunan yang terbilang cukup errr...entahlah aku tak bisa mengatakan sesuatu yang belum tahu kebenarannya , hanya saja saat aku kembali memperhatikan bangunan itu aku merasa ada sesuatu yang aneh. Ah mungkin karena aku belum terlalu terbiasa dengan bangunan sekolah disini.

.

.

.

26 April 2013

Hari mulai beranjak siang, kini waktu sudah menunjukkan pukul 11.52. Aku merasa bosan terbaring di ranjang rumah sakit. Walau kini sebuah buku berada di pangkuanku. Huft, aku ingin cepat-cepat keluar dari sini.

"Oh, kali ini kau membaca King-sensei? Mr. Horor?" Tanya seorang perawat yang datang bersama tiga orang siswa, mereka seumuran denganku.

"Baiklah, aku permisi dulu" Ucapanya lalu keluar meninggalkanku dengan tiga orang siswa yang belum kuketahui namanya.

Salah satu dari mereka melangkah maju mendekatiku untuk berbicara "Kami dari kelas 12-3 Hannyoung High School"

"Ne?"

"Namaku Kim Joonmyeon, kau bisa memanggilku Suho" Katanya memperkenalkan diri. Dia menunjuk temannya yang disebelah kiri. Namja dengan rambut kecolatan dan mengenakan kacamata. "Dia bernama Kim Jongdae, kami biasa memanggilnya Chen"

"Anyyeonghaseyo, Chen imnida" Sapa namja dengan rambut kecoklatan itu.

Lalu namja bernama Suho itu menunjuk teman yang satunya, tubuh tinggi tegap dan rambutnya hitam cepak membuatnya terlihat tampan."Dan ini..."

"Wu Yifan, Kris" Potong namja itu, cara bicaranya terkesan dingin.

Setelahnya kami mengalami keheningan beberapa saat, dan sepertinya aku sedikit kurang tak suka dengan keheningan ini.

"Jadi, ada perlu apa?" Tanyaku memecah keheningan.

"Ah, jadi begini, aku dan Chen adalah ketua dan wakil ketua kelas. Kris yang mengurus pendataan siswa. Kami datang kemari sebagai perwakilan dari kelas 12-3"

"Pendataan?" Tanyakku heran

"Kami mendengar bahwa kau seharusnya mulai datang kesekolah hari senin, tapi tiba-tiba kau sakit" Ucap Chen "Jadi sebagai perwakilan kelas, kami memutuskan untuk menjengukmu" Lanjutnya, kemudian ia berjalan mendekat dan memberikan rangkain bunga padaku. Saat Chen sedang berjalan, aku melihat lambang sekolah mereka dengan tulisan HHS yang tersemat di dada kiri seragam sekolah. "Ini dari teman-teman sekelas"

"Kau pindah dari Beijing, kan?" Tanya chen

"Ya"

"Dan kau bersekolah di sekolah swasta disana. Lalu kenapa kau pindah?

"Sedikit urusan keluarga" Jawabku

"Apa ini pertama kalinya kau tinggal di Ginjang?"

"Ya, dan..."

"Oh...a-aku pikir kau pernah datang kesini sebelumnya" Ucap Chen cepat.

"Aku pernah kesini dulu, tapi aku tidak tinggal disini" Sahutku.

"Apakah kau pernah menetap disini untuk waktu yang lama?" Kini suara bassnya yang terdengar, siapa lagi kalau bukan Kris.

"Entahlah, aku tidak begitu ingat tentang itu. Aku masih anak-anak, jadi...mungkin saja" Jawabku seadanya. Toh memang benar aku tak mengingatnya.

Sejenak keheningan kembali menghantui kami. Mereka menatapku lekat. Terlihat aneh, kenapa aku yang baru pertamakali datang kesini di tanya sedemikian rupa, seperti seorang tersangka yang terus ditanya hingga kepolisian mendapatkan jawaban memuaskan. Pada akhirnya kami saling pandang.

"Ini..."

Suho memberikan sebuah amplop coklat besar padaku. Aku membukanya perlahan, dan ternyata isinya adalah catatan "Aku membuatkanmu salinan catatan dari awal tahun ajaran"

"Terima kasih" Kataku sambil tersenyum padanya "Aku pikir, aku akan masuk setelah libur nasional berakhir"

"Jadi, Xi Luhan-sshi..." Ujar Kris

"Kau boleh memanggilku Luhan" Potongku cepat.

Kris menganggukan kepalanya, lalu ia mengulurkan tangannya untuk saling bersalaman "Senang dapat berkenalan denganmu, Luhan"

Aku pun langsung membalas dengan menjabat tangannya. Tiba-tiba aku menangkap ekspresi berbeda di wajah tampannya saat kedua tangan kami belum terlepas. Dan aku sadar mereka bertiga menatapku aneh, seperti halnya sebuah kekhawatiran, ketakutan, dan...curiga terhadapku...ah entahlah.

"Luhan, apa kau yakin tidak pernah tinggal di Ginjang?" Tanya Kris memastikan.

"Aku pikit tidak" Jawabku.

.

.

.

Malampun tiba, aku memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar rumah sakit. Kalian pasti tahu apa alasannya. Yah begitulah, kurang lebih aku ingin menghilangkan rasa jenuhku seharian dikamar pasien. Keadaan rumah sakit begitu sepi, tidak banyak orang yang berlalu lalang. Aku melangkah menuju lift, lalu masuk kedalam sambil memegang handphone. Aku masih fokus pada display handphoneku berusaha untuk menghubungi ayah.

Tapi perhatianku teralihkan saat tiba-tiba lift yang kunaiki turun ke lantai bawah padahal aku sama sekali belum menekan tombol untuk perpindahan lantai. Aku pun menoleh kebelakang, dan betapa terkejutnya diriku pada sosok yang kini berdiri dibelakangku.

"Ah mianhae" Kataku menggeserkan tubuhku ke samping.

Kulirik namja yang ada disebelahku. Matanya tertutup satu dan ia menggenggam sebuah boneka yang sudah termutilasi, begitupula kulitnya yang nampak pucat. Tak disangka kini keheningan malah membelengguku, terasa mencekam, Keheningan yang tercipta membuat diriku merasa tidak enak, ini terlihat cukup mengerikan dan aneh tentunya. Kembali kulirik dirinya, aku melihat lambang HHS yang tersemat di baju seragamnya.

Saat kami berada di lantai tiga, keheningan masih saja berlanjut. Akhirnya kuberanikan diri untuk mengajaknya berbicara.

"Apa kau siswa Hannyoung High School?"

Namja yang kutanya masih saja tak membuka suaranya. Lama merespon, akhirnya aku melihatnya menganggukan kepala. Pandanganku terarah pada indikasi penunjuk lantai yang menyala, B2.

"Apa yang ingin kau lakukan di lantai dasar tingkat dua?" Tanyaku lagi saat melihat lift terus turun kebawah.

"Ya"

"Tapi, di lantai dasar itu..."

"Aku ingin mengantarkan sesuatu" Ucap namja itu tanpa melihat kearahku sama sekali. Wajahnya tampak tak berekspresi, terkesan tak bersahabat, "Dia menungguku disana..."

Hening

"Kehidupanku yang menyedihkan"

Tink..!

Pintu lift terbuka sesaat setelah ia mengakhiri ucapannya. Sekarang kami berada di lantai 2 bawah tanah. Lalu, entah datang darimana hawa dingin itu terasa begitu menusuk. Namja itu keluar meninggalkanku sendiri dan berjalan perlahan menuju lorong yang di selimuti kegelapan. Aku hanya dapat memperhatikan namja itu.

Tap

Tap

Tap

"Hei kau..." Panggilku dan namja itu mengentikan langkahnya "Namamu siapa?" Namja itu masih terdiam berdiri di tempatnya. Sangat lama, hanya kencengkaman yang ada. Lalu akhirnya ia menjawab.

"Yixing, Zhang Yixing" Kemudian ia kembali melanjutkan langkahnya dan menghilang dalam kegelapan.

Setelahnya aku melihat sebuah papan pemberitahuan yang menempel di atas. –Ruang Mekanik, Ruang Mayat-

DEG.

Dan baru kuketahui bahwa arah tempat yang dituju oleh namja tadi mengikuti arah papan memberitahuan. Apa yang ia lakukan disana?!

.

.

.

Author POV~

Rabu, 6 Mei 2013

Pukul 5:28

Ddrrt..Ddrrt..

"Eugh..."

Ddrrt..Ddrrt...

Handphonenya terus menerus bergetar manakala namja yang masih terlelap dibalik selimutnya tak bangun juga. Merasa terganggu ia pun membuka matanya, menguceknya perlahan. Mengambil handphone lalu mengangkat panggilan tersebut.

"Hei, selamat pagi! Bagaimana kabarmu?" Sahut seseorang di seberang sana.

"Pagi..." Jawab namja itu masih sedikit terkantuk.

"Di sini jam 2 siang, India benar-benar panas" Protesnya

"Ada apa?" Tanya Luhan, si namja yang terkantuk.

"Hari ini kau akan pergi ke sekolah kan? Aku menelepon untuk memberi semangat, berterimakasihlah sedikit"

"Ah ne"

"Apa kau baik-baik saja? Bagaimana keadaanmu semenjak keluar dari rumah sakit? zzz...zzz...Bisa...zzz...dengar aku...zzzz...Luhan?"

Tiba-tiba saja sinyal di handphonenya melemah. Dia beranjak keluar dari kamarnya mencari tempat agar sinyal tidak melemah.

"Em, aku baik-baik saja, tidak perlu khawatir"

"Tidak usah terlalu memikirkan pneumothorax-mu itu, aku juga mengalaminya ketika aku masih anak-anak" ucap orang diujung telepon

"Eh? Aku baru mengetahuinya"

"Aku tidak pernah memberitahumu. Aku tidak ingin orang lain mengatakan kalau itu penyakit turunan"

"Benarkah?" Tanya Luhan

"Aku mengalaminya dua kali, tapi setelah itu aku tak pernah mengalaminya lagi dan lagi penyakit yang tidak kambuh terus-terusan seharusnya disyukuri"

"Aku tidak akan memikirkannya, ayah, tenang saja"

"Itu baru anakku! Salam untuk kakek nenekmu. Astaga, India benar-benar panas" Ocehnya dan kemudian teleponpun ditutup.

-Selamat pagi Lie, selamat pagi Lie- Seekor burung beo yang bertengker tidak jauh dari Luhan terus saja berkicau. Luhan pun membalikkan badannya, mendongak melihat burung beo berisik itu.

"Aish Lie itu namamu, tahu" Kata Luhan.

-Semangat, semangat- Lagi. Burung itu tampak senang berkicau di pagi hari. Tanpa mau berlama-lama diluar, Luhan langsung masuk kembali kedalam rumahnya.

.

.

.

"Kalau begitu, selanjutnya persiapan ketiga yang harus kau ketahui untuk masuk ke Hannyoung adalah selalu mentaati peraturan kelas" Ucap seorang yeoja cantik yang ada bersama nenek luhan saat dirumah sakit.

"Ne" Sahut Luhan

"Mungkin agak berbeda dengan ada yang di Beijing, masalah kelompok lebih penting dari pada masalah pribadi" Jelasnya.

"Aku rasa aku dapat mengatasinya"

"Baguslah, sekarang persiapan yang keempat yaitu..."

"Xia Lu! Segera mandi lalu sarapan!" Seseorang memanggil Luhan dari arah ruang makan.

"Bergegaslah mandi, xia lu hari mulai siang kau akan berangkat ke sekolah, kan?" Tanya seseorang di kamar tepat dibelakang Luhan.

"Selamat pagi Kakek" Sapa Luhan pada orang itu.

"Ye, hari ini aku mulai sekolah. Aku berada di kelas tiga sekarang, dan tahun depan aku sudah masuk universitas" Lanjutnya menjawab pertanyaan sang kakek.

"Seandainya hal itu tidak menimpa Jing Fen..." Tiba-tiba saja sang kakek mengganti topik.

"Xia lu!" Terdengar kembali panggilan neneknya, mengingatkannya untuk bergegas mandi.

"Baik nenek!"

-Kenapa, Lie? Kenapa?- Kicau si burung beo, membuat pagi bertambah ramai.

.

.

.

At School

Hari ini adalah hari pertamanya bersekolah. Setibanya disekolah, Luhan langsung menuju ke ruang guru. Dan disana ia bertemu dengan Lee dan Han songaengnim. Dengan senang hati mereka berdua mau mengantarkannya menuju kelas. Mereka bertiga terus berjalan menyusuri koridor sekolah. Luhan berjalan di belakang kedua guru yang ia ketahui ternyata Lee songsaengnim adalah wali kelasnya sedangkan Han songsaengnim adalah wakil wali kelas.

"Aku harap kau bisa akrab dengan semuanya" Ujar Lee songsaenim pada Luhan " Jika kau memiliki masalah, jangan sungkan untuk bercerita padaku juga pada Han Songsaengnim" Lanjutnya sambil menunjuk Han Songsaengnim di sampingnya.

Luhan yang sedari tadi berjalan di belakang keduanyapun hanya mengangguk "Iya, mohon bantuaanya"

"Mohon bantuaanya juga" Balas Han songsaengnim menoleh sedikit ke arah Luhan.

Setelah lamanya mereka berjalan, kini mereka sudah berada di depan kelas 12-3. Lee songsaengnim terlebih dahulu masuk kedalam kelas diikuti oleh Han songsaengnim dan Luhan.

" Oke anak-anak saya minta perhatiannya sebentar" Ujar Lee songsaengnim pada murid-muridnya. Lee songsaengnim pun mempersilahkan Luhan untuk memperkenalkan diri setelah dirasa olehnya keadaan kelas sudah tenang.

"Anyyeonghaseyo, nan Xi Luhan imnida. Aku pindah kesini karena pekerjaan ayahku, saat ini aku tinggal bersama nenekku. Eng...senang berkenalan dengan kalian" Kata Luhan didepan kelas.

"Tolong beri sambutan yang hangat untuk teman kelas baru kita. Saling membantu, dan bekerja keras bersama-sama, jadi kalian dapat melakukan upacara kelulusan di bulan Maret dengan kesehatan yang baik" Ucap sang wali kelas.

"Kalau begitu, Luhan-sshi kau bisa duduk disana"

"Baik" Luhan berjalan menuju kursi yang dimaksud oleh Lee songsaengnim. Ketika ia tengah berjalan, matanya menangkap siluet namja yang ditemuinya dirumah sakit. Namja itu, duduk di bangku pojok kelas dan herannya ia menggunakan bangku dan kursi yang usang, terlihat tua, ia juga nampak tak bersosialisasi dengan sekitarnya. Tak terasa Luhan telah sampai di bangkunya, duduk di kursi tersebut lalu menoleh ke arah namja tersebut. Memperhatikannya sesaat sebelum jam pelajaran dimulai.

'

'

'

Ding Dong

Bel tanda istirahat berbunyi. Siswa di kelas 12-3 mengerebungi Luhan karena ia dianggap sebagai murid baru yang menarik. Mereka bertanya banyak hal padanya. Di mulai dari bagaimana kesanmu saat berada di Ginjang, pasalnya Luhan bukan orang lokal, apalagi ia juga bukang orang Korea. Dan juga teman barunya itu menanyakan perbedaan antara sekolah di Beijing dan di Ginjang, tentu Luhan akan menjawab biasa saja atau lebih tepatnya tidak begitu berbeda. Menanyakan kondisi kesehatannya, dan banyak hal lagi yang harus Luhan jawab karena teman-temannya asyik menanyakan ini dan itu. Kemudian mereka pun tertawa bersama-sama.

Pandangan Luhan tanpa sengaja mengarah pada bangku usang di pojok kelas, tidak ada namja yang tadi dilihatnya tadi. Bangku itu terasa hampa baginya.

"Ada apa? Apa ada yang mengganggumu?" Tanya suho yang melihat Luhan terdiam.

"Aniyo" Ucap Luhan tersadar dari lamunannya." Ah ya, kau yang menjenggukku waktu itu...Kris, apa iya tidak masuk?"

"Sepertinya tidak" Jawab Suho singkat. Tampaknya Suho kurang menyukai obrolan barusan, ia pun memberi isyarat pada temannya untuk mengalihkan topik pembicaraan.

"Yo Luhan, kau perlu berkeliling sekolah, aku akan memenimu untuk mengenali tiap bangunan yang ada di sekolah"

.

.

.

"Kelihatannya kau ingin berlari juga" Ucap seorang siswa yang duduk di samping Luhan, ia juga termasuk siswa yang sama dengannya, sama-sama tidak mengikuti olahraga.

"Eh...em..ya aku suka berlari"

"Oh begitu, jadi sebelumnya kau pernah berlari?"

"Ya" Jawabnya "Aku dengar kau memiliki masalah dengan jantungmu" Tanya Luhan pada siswa yang ada disampinyanya. Namanya Do Kyungsoo, ia sama sepertinya, memiliki masalah dengan kondisi tubuh yang membuatnya tak bisa mengikuti jam pelajaran olahraga.

"Ne, aku terlahir dengan penyakit itu" Ucap siswa bernama Kyungsoo, " Jadi aku tidak tahu bagaimana rasanya berlari. Aku berharap aku dapat berlari dengan kekuatanku"

"Kau pasti dapat melakukannya suatu saat nanti" Kata Luhan menyemangati.

Kyungsoo tersenyum mendengarnya, yah dia berharap dapat melakukannya, "Hem, mungkin kau benar, 'suatu saat nanti' " Katanya, tapi ekspresi wajahnya berubah, menyiratkan kesakitan. Kyungsoo segera undur diri, ia mengatakn akan pergi ke UKS untuk istirahat.

"Luhan" Panggil seorang namja dari belakang, ketika Luhan berbalik ternyata yang memanggilnya itu chen.

"Tadi Kyungsoo mau pergi kemana?" Tanya chen sambil mendudukkan diri di samping Luhan.

"Dia bilang mau istirahat di UKS" Jawab Luhan.

"Begitu.." Luhan melirik kaki kanan Chen, kakinya diperban. Menyadari diperhatikan, Chen segera menurunkan celananya agar menutupi kakinya yang terluka.

"Kemarin aku terjatuh dan kakiku terkilir"

Chen menceritakan perihal kakinya yang diperban, kemarin saat ia sedang membantu ayahnya membersihkan mobil, Chen hampir terjatuh terpeselet oleh lantai yang licin. Untung ia tidak sampai terjatuh, tapi walaupun begitu kakinya malah terkilir.

"Heem...apa kelas kita tidak bergabung dengan yang lain saat pelajaran olahraga?" Tanya Luhan penasaran. Sekarang ia tengah duduk bersama chen di pinggir lapangan. Mengamati teman-temannya yang sedang berolahraga. Tidak ada kelas lain, hanya kelas 12-3 saja.

"Hanya kelas kita yang berbeda. Kelas 12-1, 12-2, 12-4, dan 12-5, mereka melakukan pelajaran olahraga bersama" Jawab Chen kemudian ia bertanya, "Istirahat tadi, kau berkeliling dengan Suho, Chanyeol, dan yang lainnya kan?"

"Ya"

"Apa mereka...mengatakan sesuatu padamu?" Tanyanya lagi

"Mereka hanya mengantarkanku berkeliling sekolah saja"

"Cuman itu?"

"Iya"

Chen menghela nafas lega "Baguslah, kalau tidak hati-hati Kris akan marah" Gumannya pelan. Sedangkan Luhan hanya terdiam bingung. Memangnya apa yang akan membuat Kris marah? Pikirnya.

"Chen, bolehkah aku bertanya padamu?"

"Tentu"

"Aku ingin tahu...dimana Yixing?"

DEG!

Chen nampak terkejut dengan pertanyaan Luhan barusan. Chen menatap tak percaya ke arah Luhan. Ia tak bisa memungkiri pertanyaan tersebuat sudah di luar nalarnya.

"Si...siapa?" Tanya Chen gugup.

"NamJa bernama Zhang Yixing, dia memakai penutup mata di mata kirinya" Kata Luhan menegaskan.

Glek!

Chen harus bersusah payah untuk menelan Ludahnya saat Luhan kemballi bertanya. Tak lama kemudian Chen menggelengkan kepala. Luhan mengernyitkan dahinya bingung, bukannya mereka itu teman sekelas? Lalu, kenapa Chen seakan tak mengenalinya

Pandangan beralih melihat pemandangn langit, Chen tetap diam tak memberi jawaban. Kemudian Luhan menatap ke atas gedung sekolah. Dan disanalah sosok namja yang dicarinya, tengah berdiri kaku pada pagar penghalang. Tanpa pikir panjang lagi, Luhan beranjak pergi meninggalkan Chen. Chen yang tersadar kalau Luhan akan pergi hanya bisa memanggilnya dan tanpa balasan, karea Luhan tetap pergi menjauhinya.

.

.

.

Luhan sudah sampai di atas gedung dan melihat namja tersebut berdiri di sana, membelakanginya. Hawa disini teramat dingin, angin tertiup cukup kencang. Tempat yang tak terawat, pagar yang sudah berkarat, dan bisa dikatakan tempat ini tak layak untuk didatangi. Tapi, keindahan langit dapat dilihat jelas dari sini.

Luhan berjalan perlahan mendekati namja itu. Zhang Yixing, ia sedang memegang sebuah sketsa. Ia terus melukis saat Luhan mendekatinya, meliriknya sekilas lalu kembali mengamati hasil lukisannya.

"Hai..Yixing-sshi" Sapa Luhan, "Kau memantau kelas olahraga juga?"

Hening.

"Apa itu tak masalah buatmu?"

"Entahlah" Jawab namja itu, "Menurutku itu tidak penting memperhatikannya dari sini" Kemudian Yixing membalikkan tubuhnya hingga berhadapan dengan Luhan.

"Dan kau? Apa kau tidak apa-apa berada disini?" Tanyanya. Luhan agak terkejut mendapatkan pertanyaan itu. Ia juga tak tahu kenapa ia bisa disini, maksudnya ia hanya ingin menemui namja di hadapannya, hanya itu tak ada yang lain.

"Seharusnya kau tak disini" Luhan mendongak cepat, menatap heran kearah Yixing.

"Kenapa? Aku kesini hanya ingin memastikan sesuatu" Ucapanya terdiam sejenak, lalu kembali Luhan membuka suaranya, "Apa kau ingat, kita pernah bertemu sebelumnya di rumah sakit Ginjang?"

Namja itu menggeleng.

"Di dalam elevator, kau pergi ke lantai dasar tingkat dua" Kata Luhan berusaha mengingatkan.

Namja itu memejamkan matanya, "Memangnya...pernah ya?" Ucapnya

"Waktu itu, untuk apa kau pergi ke lantai dasar tingkat dua? Kau mengatakan bahwa kau ingin mengantarkan sesuatu. Sepertinya kau membawa boneka putih yang ditutup matanya, apa itu yang ingin kau antar..."

"Aku membenci orang yang banyak bertanya" Namja itu memotong ucapan Luhan cepat, ia tak suka dengan sikap Luhan yang bertanya terus-menerus. Kemudian namja itu mengalihkan pandangannya.

"Ah mianhae, aku tak bermaksud...hanya saja..."

"Karena pada hari itu hal yang menyedihkan telah terjadi" Ucap Yixing pelan. Angin berhembus pelan menerbangkan helaian rambut hitamnya, namu dengan satu sentuhan pada rambut dengan tangganya, angin berhenti berhembus.

"Namamu Xiu Luhan, kan?" Tanya Yixing kemudian.

"Ya"

"Apa teman sekelasmu tidak memberitahumu?"

DEG!

Luhan tampak terkejut, mengatakan apa? Tentang apa? Teman-temannya hanya menemaninya berkeliling sekolah tadi.

"Namamu berhubungan dengan kematian" Yixing menatap tajam tepat ke arah mata Luhan,

"Tapi bukan hanya kematian biasa. Kematian yang kejam dan menyakitkan telah merenggut sekolah ini. Sekolah ini semakin dekat dengan kematian. Khususnya kelas 12-3" Tatapannya perlahan meredup.

"Kepada...kematian?" Tanya Luhan tak percaya.

"Kau benar-benar tidak mengetahuinya, Luhan-sshi? Benarkah?" Tanya Yixing, "sama sekali tidak mengetahuinya?" Burung gagak yang hinggap di atas gedung berterbangan, mengepakkan sayapnya. "Tidak ada orang yang memberitahumu?"

Hening.

-Kwak kwak kwak kwak- Suara burung gagak masih bergema disekelilingnya. Luhan membelalak kaget.

" Tentang apa?" Tanya Luhan cepat

"Kau akan segera mengetahuinya" Ucap namja misterius itu, "Seharusnya kau jangan mencoba untuk mendekatiku. Seharusnya kau tidak berbicara denganku lagi"

"Ke...kenapa?" Luhan masih saja penasaran dengan namja didepannya.

"Tidak lama lagi kau akan tahu"

"Tapi..."

Namja itu berjalan perlahan meninggalkan Luhan. Namja itu tak peduli lagi dengan Luhan. Namja itu menoleh ke belakang beberapa saat.

"Sampai Jumpa XI-LU-HAN-SSHI"

'

'

'

-TBC-

Thanks To :

sherry dark jewel AbigailWoo RaraRyanFujoshiSN mitatitu Oh SeHan Kopi Luwak AlpacaAce zhehoons aylyn Rui zhoelichyimekaJung ByunniePark deercode 0312luLuEXOticS Yu-ie chan ViAnni07 Ryu Guest guardian unicorn Oh Hannie Kris Fiance Guest gk bisa login Kim Sung Jan Unicornz emon guest emon Fanxingege

Yang udah mau nyempetin buat men-review fic nikky yang abal ini. Mian sebelumnya, nikky termasuk baru dalam dunia per-ff an, tidak terlalu ahli dalam menguntai kata, jadi mianhae kalau kurang puas di chap 1, beri saran atau kritik untuk nikky biar bisa memperbaiki fic, dan chap 2 bisa lebih baik dari chap 1.

Answer :

Judul animenya ANOTHER, aslinya nih anime itu ada ceweknya tapi nikky jadi buat cowok semua. Untuk masalah pairing, mungkin kayanya ini jauh dari kata official pairing. Terus cerita ini lebih menonjol ke friendship ketimbang ke romance, tapi romancenya masih ada. Ini fic yaoi (mungkin). Ada yang bilang ini lulay, yah mungkin iya ini fic Lulay-Layhan. Terus peran yang dimainin Luhan itu sakakibara sedangkan Yixing itu Misaki. Yixing hantu? Jawaban bisa diliat di chapter berikutnya. Dan kalau kalian mau nanya lebih seru mana komik sama anime? Nikky belum tahu masalahnya yang baru nikky lakuin cuman nonton animenya aja. Tapi ada yang bilang komik vers lebih seru ketimbang animenya. Tapi anime vers juga ga kalah seru.