Cerita milik saya, BTS milik agensi and A.R.M.Y.
Main cast:
Park Jimin (18th)
Kim Taehyung (18th)
Jeon Jungkook (17th)
Cast:
All of member BTS
Kwon Ji Young (GD) a.k.a Jimin's daddy
Jeon In Sung (OC) a.k.a Jungkook'daddy
Park Ji Won (OC) a.k.a Jimin's mommy
Beberapa cast pendukung
HAPPY READING AND ENJOY,,,
Jusseoo...!
"Jimin-ah,,!"
"Iya sensei,,"
"Kau lumayan. Bagaimana kalau melawan kandidatku yang belum terkalahkan, Kim Taehyung,,?"
"Humh,,?!"Jimin melirik ke arah Taehyung yang tersenyum jahil kepadanya,
"Siap sensei,,"Jimin lalu membalas tatapan Taehyung dengan pandangan mengejek, seolah meremehkan teman seangkatannya itu. Mereka kini sudah berada di area. Saling menghadap dan memberi hormat,
Taehyung pun mendekati namja manis itu dan mendekatkan bibirnya pada telinga Jimin. Jungkook melirik tajam ke arah mereka,
"Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Jimin-ah, aku tidak akan membuatmu menang dariku, karena jika aku kalah maka aku tidak bisa melindungimu,"bisik Taehyung seduktif. Jimin terkikik tak percaya. Pemuda itu hanya tersenyum gemas menanggapinya.
Dan pertandingan pun di mulai, cukup lama memang, lebih lama di banding pertandingan Hoseok dan Jaebum ataupun Jungkook dan Jimin tadi. Namun kata kata Taehyung memang benar, Jimin berhasil kalah di tangannya, pertandingan berakhir dengan Taehyung yang menindih tubuh namja itu. Jimin terperanjat kaget saat Taehyung yang sepertinya kelelahan menjatuhkan kepala seenaknya di dada Jimin. Jungkook beralih pandang,
"Lihat,! Aku mengalahkanmu kan,?!"ujar Taehyung dengan napas yang terengah engah. Taehyung lalu mengangkat kepalanya. Dan mereka saling tersenyum.
"Bodoh,,! Aku hanya mengalah untukmu tadi,"sahut Jimin, Taehyung tersenyum sebagai jawaban yang mengiyakan. Terserah Jimin mau berdalih apa. Kemudian Taehyung berdiri dan membantu Jimin.
Seleksi selanjutnya pun antara Taehyung dan Hoseok dan di menangkan oleh Taehyung. Sekarang adalah penentuan karena Taehyung meminta satu ronde lagi untuknya dan Jungkook. Tidak ada penolakkan dari Jungkook,
"Hai berengsek,!"ujar Taehyung sedikit mengejek.
Jungkook tidak menghiraukan dan hanya memasang wajah datarnya. Setelah memberi hormat, keduanya pun memulai pertandingan. Pertandingan pun berlangsung hampir setengah jam dan keduanya berimbang. Namun Taehyung mulai terbawa emosi dan ia pun menjatuhkan Jungkook dengan hentakkan yang yang luar biasa keras. Membuat Jungkook sangat kesakitan, karena itu keras sekali, seperti tenaga yang tidak normal, mengingat ukuran tubuh Taehyung. Jimin terkejut melihat itu, dan entah kenapa matanya tertuju pada Jungkook yang meringis kesakitan, tidak biasanya Taehyung terlalu berelebihan, pikirnya.
"Kau lihat kan, aku lebih kuat darimu. Kau ini selalu membuat Jimin sibuk mengurus kelakuan bodohmu. Jangan sombong bocah dengan otot besarmu itu, kau selalu menindas mereka yang bahkan tak sepadan denganmu. Berhentilah membuat Jimin mengurus tindakan-tindakan bejatmu itu, kau sungguh TIDAK BERGUNA,,!,"ujar Taehyung dan Jungkook masih terdiam. Jimin melihat raut wajah kedua pemuda itu yang nampak serius, sayangnya dia tidak mendengar apa yang mereka bicarakan.
'BUGH'
"AKHH,,!. . . Ssstt,,!"
Cairan merah segar keluar dari sudut bibirnya, matanya mengerjap bingung. Dia sudah di posisi telentang sekarang. Jimin makin kalut melihat itu,
"HENTIKAN,,!"tegas Jin sensei. Jungkook menatap pedas pada Taehyung yang sibuk menyentuh sudut bibirnya yang sepertinya pecah.
"Kau tidak berhak mentitahku,,!"ujar Jungkook tegas menunjuk kepada Taehyung, membuat pemuda itu malah tersenyum licik. Seketika juga tanpa mempedulikan situasi di sekitarnya, Jungkook langsung meninggalkan tempat itu. Bahkan dia seolah tidak mendengar Jin sensei yang terus memanggilnya.
"Sudahlah sensei,, biar aku yang menegurnya nanti. Sebagai ketua OSIS, akulah yang bertanggung jawab atas kelakuan siswa di sini,, Aku minta maaf sensei,,"ujar Jimin seraya membungkukkan badannya.
"Iya, aku mengerti,,"sahut senseinya itu seraya menepuk pundaknya. Sungguh Jimin ingin menjerit saat itu juga. Taehyung yang mendengar pembicaraan, mengernyit tak percaya,, dia sampai malas mendengarnya,,'Tanggung Jawab' apanya yang tanggung jawab. Bagaiman Jimin bisa dengan mudahnya menerima hal yang bahkan bukan tanggung jawabnya. Taehyung kesal mengingat Jimin yang selalu mau membuang waktunya mengurus siswa-siswa nakal itu, dan yang paling menyita dirinya adalah Jungkook, namja tingkat satu yang sangat bebal itu. Taehyung hanya tidak mau kesabaran Jimin pecah, karena Taehyung cukup tahu, sahabatnya yang imut dan manis itu akan sangat mengerikkan kalau sedang benar-benar marah.
"Baiklah, waktu lima menit, untuk istirahat sementara aku akan mendiskusikan siapa yang akan di kirim nanti bersama Siwon sensei,,!"
Semua mengangguk setuju,
Jimin mendekati Taehyung yang masih terbaring itu, lalu kemudian duduk di sisinya,
"Apa sakit,,? Ku rasa perlu ke ruang kesehatan,,"ujar Jimin berusaha melihat luka Taehyung yang malah di tutup-tutupi itu. Taehyung menggeleng keras. Jimin tidak bisa memaksa,
"Biarkan saja dia,, mau berapa kali kau menegurnya, bocah itu tidak akan berubah,,"kata Taehyung kemudian. Jimin diam, tapi dia harus angkat bicara,
"Tidak Tae,, aku tidak akan diam saja,, sampai dia benar-benar tunduk."putus Jimin dengan tegas. Taehyung memutar bola matanya jengah,
Jimin membelalak melihat darah yang keluar dari sudut bibir Taehyung cukup banyak,
"Ayolah Tae ke ruang kesehatan,, darahmu itu banyak sekali,,"Jimin semakin cemas, Taehyung malah tertawa,
"Kenapa kau tidak menghisapnya saja agar berhenti,,!"
'PLAK,,!'
"AWK,,,!"
"Omong kosong,,!"
,
,
,
"Baiklah,,! Sudah saya tentukan siapa yang akan mewakili kampus kita untuk di kirim di pertandingan karate nasional tahun ini, dan orangnya adalah, Jung Hoseok,"putus Guru siwon akhirnya dan membuat Taehyung terperangah tidak percaya dengan keputusan itu.
"Tttapi, songsaenim, aku yang menang,"kata Taehyung lemah.
"Kau imbang dengan Jungkook,, sayangnya kalian itu terlalu emosional, terbawa perasaan, bisa bisa kalian membunuh lawan saat pertandingan nanti, selain itu Jimin,,"kini sensei tampan itu melihat Jimin, membuat Jimin langsung menundukkan kepalanya,,
"Ku rasa Jimin tidak akan tega,,, sudahlah ini sudah berdasarkan pertimbangan yang matang olehku dan Siwon sensei, Hoseok ikut aku mengisi data formulir ,"ajak Seokjin. Hoseok lagi lagi memasang lagak sombongnya di depan murid murid yang lain saat berjalan mengikuti Seokjin.
"Dasar besar kepala,,! Dia pasti akan cepat terjatuh nanti karena kepalanya yang sangat besar itu,"umpat Taehyung kesal. Kemudian ia melihat ke arah Jimin lalu memasang muka kecewanya,
"Apa sakit,,?"tanya Jimin, Taehyung mendekat,
"Iya Jim,, sakitnya di sini,,"tunjuk Taehyung pada hatinya,, Jimin terkikik,
"Ayo ke ruang kesehatan,"ajaknya kemudian.
Taehyung menurut,
Jungkook kini berada di atap. Tempat favorite bagi dia yang tak punya teman. Memandang hampa birunya langit yang kontras. Sepertinya dia sangat menikmati pemadangan dari atas sana, dan memutuskan untuk membolos. Oh, tidak, sekarang Jungkook mengingat wajahnya. Baiklah sepertinya dia butuh minuman penenang pikirannya sekarang,
Jungkook meraih ponselnya,
"Oh,, Minwoo yah,, Kau membawa Bir hari ini. Ah, baiklah, aku di atap. Kalau kau mengantarkannya kesini maka aku akan membayar lebih,,"
Selesai, dia kembali mengantongi ponselnya,
Siang harinya Taehyung ada kegiatan ekstra. Ya, dia anak seni, dia mengikuti Art Lesson dan mengambil kelas drama tepatnya. Jimin ingin melihat sahabatnya yang sedang latihan untuk pentas akhir tahun itu, tapi dia tidak bisa meninggalkan pelajaran di kelasnya. Kalau Taehyung, karena dia anggota, makanya di izinkan keluar kelas untuk latihan itu. Dan Jimin, tidak mungkin kan dia minta izin pada songsaenimnya hanya untuk menonton Taehyung, mustahil untuk di izinkan.
Waktunya pulang. Jimin berdiri di sisi gerbang sekolahnya, bukan menunggu jemputan. Oh Jimin tidak mau lagi di jemput oleh sopir yang di suruh ibunya. Itu akan merusak reputasinya sebagai ketua OSIS yang bijak dan galak. Dia kini sedang menunggu sahabatnya, yeah, siapa lagi, Taehyung tentunya.
'PING,,!'
From TaeTae:
'Maaf Jim,, aku akan pulang sore hari ini,, Jangan menungguku, dan segeralah pulang. Sekali lagi aku minta maaf karena baru memberi tahuku.. Saranghae Bunny,,'
Jimin membaca pesan singkat itu dan menyunggingkan senyum menanggapinya. Dia lalu memasukkan ponselnya di saku jaket, dan berjalan meninggalkan tempat itu. Baiklah, berarti Jimin harus naik bus hari ini, Jimin memperlambat langkahnya saat matanya mulai menangkap sosok di depan sana, yang sepertinya melamun. Entahlah, Jimin sedikit malas, apalagi di halte itu tidak ada orang lain selain dia yang berdiri di sana.
Jungkook menoleh, membuat pandangan mereka bertemu, namun Jimin dengan cepat beralih,
'TIIIN..!'
Sebuah sedan mewah hitam berhenti di sisinya, jendela mobil itu lalu terbuka dan menampakkan pria itu. Jimin sangat terkejut dengan siapa yang kini tersenyum padanya itu.
Jungkook memiringkan kepalanya, terlihat jelas sekali dari sana, Jimin yang sedikit mundur ke belakang dengan mata yang membelalak. Jungkook tidak bisa melihat siapa di balik mobil itu yang membuat ekspresi Jimin seperti orang yang melihat hantu,
,
Pria itu tersenyum pada Jimin, senyuman yang hangat, tapi sayang sekali itu masih saja terasa aneh bagi Jimin,
"Apa kita bisa mengobrol hari ini,,?"tanya pria itu. Jimin tergagap, dia langsung menatap sekitarnya dengan tatapan was-was. Meski tanggapan Jimin tidak baik, pria di dalam mobil itu tetap bertahan dengan senyum hangat padanya.
, ,
Jungkook mengamati pergerakkan Jimin yang dengan cepat memasuki mobil itu. Kendaraan itu lalu melaju kencang melewati Jungkook, sayang sekali jendelanya sudah tertutup kembali, Jungkook tidak bisa melihat siapa yang di dalamnya, namun dia membaca nomor platnya, 'K 512 JYG'. Sepertinya tidak asing, entahlah, Jungkook tidak pernah menghapal plat mobil orang. Busnya datang, dia tidak mau menyia-nyiakan itu. Dan juga dia harus pulang lebih awal, karena malam ini,,
.
.
.
Jika mendengar dunia istilah 'Dunia itu Sempit' Jungkook akan segera membenarkannya. Karena dia sendiri merasakan makna sebenarnya dari kalimat itu sekarang ini. Berada di dunia yang kenyataannya sangat sempit di banding dengan bayangan bahwa dunia ini luas tanpa batas. Jungkook menatap cermin, mendapati pantulannya sendiri. Dia masih ingat jelas, bagaimana dia tersenyum dan sangat antusias menceritakan kesenangannya di makam sang ibu saat mengetahui ayahnya akan menikahi sosok wanita luar biasa yang sudah dia sayangi. Tapi sekarang, yang pemuda itu lihat, wajah di depannya itu kusam, menampakkan sedikit kekecewaan. Saat memutar kembali memorinya, entah berapa kali sang ayah mengatakan calon ibunya itu memiliki seorang putra, dan entah berapa kali juga Jungkook mengabaikan itu. Namun jika saja saat itu Jungkook tahu, jika putra dari wanita itu adalah Jimin, apakah Jungkook akan tega menghalangi niat ayahnya menikahi wanita itu. Membayangkan bagaimana ayahnya yang tertawa di telepon saat mengatakan itu, membuat Jungkook bahagia, juga wanita itu yang sudah mencuri hatinya, meruntuhkan sikap kerasnya. Baiklah, urusannya dengan Jimin, biarlah hanya menjadi urusan mereka. Semua itu harus di tepis untuk kebahagiaan orang tua keduanya.
Jungkook menghidupkan keran, membuat air mengalir sewajarnya dari sana. Dia mulai membasuh wajahnya dan kambali menatap cermin. Entahlah, Jungkook cukup ingat raut wajah terkejut Jimin, yang lama-kelamaan menjadi ekspresi kecewa yang di tampilkan saat mereka di pertemukan sebagai calon saudara tadi. Jungkook sendiri sadar, Jimin yang seorang disiplin tentunya menganggap itu mimpi buruk akan bersaudara dengan Jungkook yang seorang berandalan. Namun Jimin juga bukan satu-satunya yang terkejut, Jungkook juga. Seharusnya jika Jungkook waras, dia akan senang mendapat saudara seperti Jimin yang berprsetasi dan mebanggakan itu. Bukan tidak mungkin segala PR nya bisa selesai dengan mudah jika Jimin membantunya, juga posisi Jimin sebagai ketua OSIS bisa meringankan poinnya yang sudah sangat terkikis oleh kelakuan nakalnya. Namun, jauh di lubuk hatinya, yang menjadikan sepercik kecewa adalah karena. . . .
Entahlah, Jungkook belum ingin mengakui itu. Jauh dari pertama kali dia mengenal Jimin, dari pertama kali Jimin memarahinya, dari situlah Jungkook merasa di perhatikan, dan setiap harinya di sekolah selalu ketagihan mendengar suara cempreng Jimin yang berteriak padanya. Ekspresi imut Jimin saat marah-marah, membuatnya selau memasang seringaian serigala pada namja bermarga Park itu. Kini Jungkook menjadi sulit saat membayangkan bagaimana harinya setelah ini akan selalu berpapasan dengan wajah Jimin. Hanya Jungkook sendiri yang tahu baik bagaimana kondisi jantungnya yang selalu memompa lebih cepat saat dia melihat manik hitam Jimin yang indah. Apalagi jika Jimin mendelik padanya, Ah, itu semakin manis menurutnya. Karena mata Jimin yang lucu semakin menggemaskan jika di perbesar.
Jungkook berjalan dengan tegap, ya, berusaha tegap. Agar kemeja yang dia kenakan saat ini semakin terlihat pas pada tubuhnya yang bidang. Matanya menatap begitu lurus, dengan senyum manly-nya. Dan di sambut oleh dua orang yang menatapnya senyum , karena yang satu lagi tampak diam dengan pandangan jatuh. Jungkook tidak suka itu. Duduk, sekarang dia duduk. Meja itu bundar, dia berhadapan dengan orang yang sepertinya sangat tidak berniat melihatnya itu.
"Apa steaknya terlalu pedas,,?"tanya pria itu,,
Jungkook terkekeh,
"Ku rasa,"jawabnya, mengundang tawa pria itu juga wanita di sisinya.
"Kalau begitu minumlah ini Nak, agar lebih baik,"wanita itu memberinya segela air putih. Ya, air itu berwarna putih, itu susu.
"Oh,,!?"Jungkook agak terkejut menerimanya,
"Tante Park langsung meminta susu pada pramusajinya tepat setelah kau berpamitan ke toilet. Ku rasa dia sangat paham masalahmu,"ujar pria itu. Mereka lalu tertawa lagi,
"Terima kasih Tante,"
"Iya Nak, lain kali kalau tidak tawar pedas jangan memaksa untuk makan,"
Jungkook meminum itu perlahan dengan pandangan matanya tertuju pada Jimin. Sungguh dia tidak suka Jimin saat ini, bahkan di saat tiga orang lainnya tertawa, Jimin masih dalam mode diamnya. Menatap kaki meja, entah apa yang menarik di sana. Bukan tidak mungkin itu menimbulkan suasana canggung, bahkan tidak jarang Jungkook tadi mendapati ayahnya beberapa kali melihat ke arah Jimin sementara Jimin masih saja diam, memang dia tidak tahu, atau Jimin tidak menghiraukan. Apapun itu, Jungkook merasa Jimin tidak menghargai pertemuan ini.
"Ehem,,! Emhh,, baiklah. Begini anak-anakkku. . . . kami akan melangsungkan pernikahan ini secepatnya. Karena kami sepakat bahwa acaranya bersifat privat saja, hanya mengumpulkan saudara dan teman dekat, jadi tidak membutuhkan banyak persiapan sehingga. . . . lusa nanti aku sudah akan meminang wanita di sisiku ini,"jelas pria itu sangat tegas.
Jungkook langsung tersenyum dengan tepuk tangan kecil. Sementara wanita di sisi ayahnya itu tersenyum hangat melengkapi. Jimin sempat melihat ke arah ibunya yang terlihat merona itu dan tersenyum, namun kembali lagi padangannya jatuh, dan senyumnya yang sempat ada itu pudar lagi. Jungkook melihat Jimin, melihat aksi Jimin yang bahkan tidak menunjukkan kesenangan oleh berita itu.
Jimin memejamkan matanya terkadang. Entah sudah berapa lama. Tangannya masih setia singgah di atas perutnya, tidak terlihat seperti memgang, hanya di sandarkan seperti seorang yang duduk santai. Namun di balik itu, Jimin juga tidak jarang menggigit bibir bawahnya. Berusaha terlihat baik agar suasananya tidak terganggu. Namun semakin kesini rasa sakit di perutnya semakin menjadi. Dia melihat jelas raut wajah ibunya juga pria itu. Dan masalah Jungkook yang ternyata adalah anak pria yang akan menjadi ayahnya itu, awalnya memang terkejut. Tapi lama-kelamaan Jimin benar-benar tidak bisa berpikir apa-apa lagi. Dia ingin tersenyum, tertawa dan bergabung dalam perbincangan hangat malam itu. Namun mengangkat wajahnya itu sama saja memperlihatkan rasa sakitnya. Jimin diam, diam sejak tadi,, menahan sakitnya.
"Jimin-ah,,!"
Namja itu terhenyak, perlahan dia mengangkat kepalanya walau sedikit, memenuhi panggilan itu.
"Iya Mi,,"sahutnya sangat lirih, menyembunyikan rapi-rapi suara yang mungkin akan terdengar parau.
Wanita itu yang sedikit memiringkan kepalanya mengamati Jimin dengan tangan yang mengelus pundak putranya. Jimin semakin tidak bisa menutupi. Terlebih pria di samping ibunya itu juga melihatnya, sementara Jungkook hanya melirik tajam. Jimin menghela napas, lalu menampilkan senyum manisnya.
"Kau pucat sekali sayang,, ada apa humh,,?"tanya ibunya. Jimin mendongak menampilkan senyum.
"Sebenarnya aku dari tadi sedang memikirkan tugas sekolah yang belum ku selesaikan dan ternyata besok harus di kumpul. Aku tidak tahu apakan malam ini aku bisa menyelesaikannya."dusta Jimin. Wanita itu terbelakang dan saling menatap dengan pria di sisinya,
"Woah, ternyata calon putraku ini sangat disiplin. Ku kira kalau itu Jungkook, pasti dia sudah pura-pura tidak memiliki tugas sekolah,,"ujar pria itu, lagi-lagi Jimin menanggapinya dengan senyum kedustaan.
Jungkook tercelos mendengar penuturan ayahnya itu. Sungguh, tidak bisa di percaya. Ayahnya berkata seolah dia tahu semua tentang dirinya, padahal selama ini dia terlalu sibuk bekerja. Jungkook merasa di acuhkan. Atau di balik semua itu, ayahnya sebenarnya mengawasi, ,? Entahlah.
"Ku rasa. . . "Jimin membuka suara lagi, tapi tertahan. Membuat semua melihat ke arahnya tak terkecuali Jungkook,
"Aku harus pulang sekarang dan menyelesaikan tugasku,, Ku pikir aku bisa menyelesaikannya malam ini juga,,"putus Jimin yang kini sudah berdiri dan membungkuk pamit.
"Aku minta maaf, aku pulang dulu. Selamat malam,,"ujar Jimin yang langsung pergi begitu saja. Semuanya agak terkejut dengan sikap Jimin, dan yang paling mengerutkan dahi adalah Jungkook. Dia pikir itu bukan alasan Jimin pergi seperti itu.
Hening, , ,hanya terdengar alunan meodi piano yang dimainkan oleh seorang pianis di restaurant bergaya Eropa klasik itu. Jungkook melihat sekilas raut wajah ayah dan calon ibunya itu yang diam. Kecewa, sedikit. Terkejut, sedikit. Bingung, mendominasi.
Jungkook masih menggoyang-goyangkan gelas berisi minumannya. Masih melihat kepergian Jimin yang sudah sangat cepat tanpa meninggalkan jejak itu. Ingin sekali mengejar dan meminta penjelasan atas kelakuan yang menurutnya tidak sopan itu dan menimbulkan rasa canggung.
Wanita itu menatap ayah Jungkook dengan tatapan tidak enak, namun sang pria mengkodenya dengan tersenyum hangat. Jungkook tidak suka suasana seperti ini dan sikap Jimin.
"Jungkook-ah,,"panggil wanita itu. Jungkook pun menanggapinya antusias,
"Iya Tante,,"
"Kau dan Jimin satu sekolah. Kalian pasti saling mengenal,,"ujarnya. Jungkook agak bingung bagaimana menjawabnya. Dia tersenyum sebentar sambil menggaruk tengkuknya.
"Emh, bagaimana mengatakannya ya,, Jimin, , ,"Jungkook tampak menimang-nimang.
Eitz, ada yang salah. Jimin satu tahun lebih tua darinya. Itu yang benar. Tapi rasanya pahit sekali harus memanggil namja itu,,,,,
"Maksudku, Jimin hyeong kan adalah ketua OSIS di SMA kami, dan aku anak nakalnya. Dia yang paling sering menegurku,,"jawab Jungkook seadanya. Kedua orang tau itu lalu tertawa,
"Woah,, sepertinya calon hyeongmu itu sangat memperhatikanmu,,"ujar ayahnya,
'Benarkah,,?'
Jungkook hanya tersenyum.
"Ah, ini aneh. Aku seperti sedang menjaga orang yang berkencan. Ayolah Pa,, aku tahu ada banyak yang ingin Papa bicarakan berdua dengan calon ibuku ini. Ku pikir aku menganggu di sini,,"kata Jungkook kemudian.
"Apa yang kau katakan Nak,,"
"Ah, Tante,, aku ini laki-laki, aku tahu Papaku ini butuh waktu berdua untuk bermesraan dengan Tante,,"kata Jungkook seenaknya. Sang ayah sangat terhenyak dengan putranya yang begitu Peka itu. Dia sampai mendelik pada Jungkook.
"Tuh kan,, Papa sudah memberi kode padaku. Sudahlah Tante, jangan melibatkan anak polos sepertiku terlibat dalam kisah asmara kalian. Aku undur diri Okey,, selamat menikmati malam indah ini bye,,"Jungkook membungkuk pamit pergi. Masih belum lima menit setelah kepergian Jimin. Jika beruntung Jungkook pasti masih bisa menemukan Jimin di jalan, untuk memprotes sikapnya tadi.
. .
"Anak-anak sekarang lebih tahu dengan suasana,,"ujar ayah Jungkook sedikit bergumam, tapi terdengar oleh wanita cantik di sisinya itu,
"Kau bilang apa,,?"tanyanya dengan mata membulat, mirip sekali dengan ekspresi Jimin saat terkejut.
"Bukan apa-apa,, emh,, mau mencoba bernyanyi denganku di sana. Aku cukup mahir memainkan piano,,"
"Benarkah,,?"
, ,
, ,
, ,
Jimin melangkah penuh, sama sekali tidak menoleh dan terus menerobos udara malam yang berpapasan dengannya membuat rambut blondenya yang halus terbang ria mengikuti angin. Sorot matanya begitu lurus dan tajam, tak sedikit pun bergerak manik hitamnya dan terfokus entah kemana.
Masih dengan raut wajah menahan sakit. Sial, Jimin tidak mendapatkan taxi, dan juga halte bus masih jauh di depan sana.
'GREB', ,
Ia berhenti seketika. Membuat mata indahnya itu melirik ke pergelangan tangannya yang kini di genggam seseorang. Jimin mengangkat pandangannya hingga mendapati orang itu yang memandangnya sakarstik.
"Ada yang ingin ku bicarakan denganmu,,?!"ujar orang itu datar. Jimin mengerutkan dahi.
"Apa ada yang perlu di bicarakan antara kau dan aku,,?!"balasnya sinis membuat orang itu mengeratkan genggamannya.
Temaram bulan yang memantul dari air danau yang sangat tenang. Menemani kesunyian yang tak kunjung padam. Gemersik daun yang bergesek oleh angin, membuat Jimin sadar bahwa waktu itu penting, terlebih sakitnya semakin menjadi, namun dia berusaha tenang.
"Tak ada waktu untukku hanya berdiri di sini,,!"
Jungkook menatapnya tajam dan sekali lagi menghentikan langkah Jimin dengan menggenggam tangannya.
"Setidaknya kau bisa bersikap lebih dewasa. Aku tahu kau terkejut, dan aku pun sama. Tapi sikapmu tadi itu membuat semuanya terasa canggung, Papaku bahkan seolah tidak berniat bertanya padamu. Aku tahu ini mimpi terburukmu, tapi maaf jika dalam hatimu kau tidak menginginkan pernikahan mereka, aku sudah berniat untuk membuat pernikahan itu terjadi, karena apa,? Karena aku ingin ayahku bahagia, dan kau, aku tidak akan membiarkanmu mengacaukan semuanya dengan sikap Kekanak-kanakkanmu ini,,!"
Jimin seketika melihat Jungkook sakarstik, kata 'Kekanak-kanakkan' itu di tujukan padanya. Suasana hening sebentar karena mereka masih beradu pandang laser,
"Dan aku peringatkan juga padamu Jimin, bersikaplah hormat pada Papaku, karena tidak lama lagi dia akan menjadi orang tuamu, aku sangat sadar kalau kau benci dengan kenyataan bahwa aku si pembangkang, pembuat onar, si berengsek ini akan menjadi saudara tirimu, tapi Jimin, sekali lagi, hargai keberadaan Papaku, gunakan etika menghormati orang tua-mu, aku yakin Tante Park mengajarkan itu padamu. Camkan itu Jimin, aku sungguh tidak ingin sikapku yang tidak suka padaku itu mengganggu hubungan mereka,,,!"
Jimin masih mendelik kepada Jungkook, hingga satu kibasan saja, membuat tangannya lepas dan tidak lagi di genggam oleh Jungkook, dan sekarang tangan itu dengan cepat beralih pada kerah kemeja Jungkook secara kasar, membuat pemuda itu sedikit mundur ke belakang. Dorongan Jimin cukup keras,
"Di sini kau yang seharusnya di peringatkan. Karena yang membuatku sama sekali sulit untuk berbicara memang adalah dirimu. Dan maaf Jeon Jungkook aku sangat tersinggung dengan kalimatmu yang menyebutku kenak-kanakan itu. Aku bukan orang bodoh yang akan menuruti egoku, aku sangat mencintai ibuku lebih dari apapun, disini kau yang bermasalah..!"bentak Jimin,
Jungkook menautkan dahinya dengan tangan hampir melayangkan tinju pada Jimin,
",,Kau baru saja mengaku bahwa kau si pembangkang, pencari masalah, si berengsek dan semua keburukanmu itu. Itulah, itulah yang membuatku berpikir hingga sekarang. Jika kau, masih dengan sikap bajinganmu itu, akan ku pastikan kau jatuh di tanganku. Karena semua kelakuan berengsekmu akan menyangkut nama ibuku yang nantinya akan menjadi istri ayahmu. Tidak akan Jungkook,,! Tidak akan ku biarkan ibuku di buat pusing, oleh KAU. Dan sebaiknya jika kau memang serius mendukung pernikahan ini, berubahlah atas kelakuanmu itu,,!"Jimin seketika mendorong tubuh Jungkook ke belakang dan berjalan pergi meninggalkan pemuda yang terlampau shock itu atas rentetan kalimatnya itu.
Jungkook terdiam merasakan seperti ada sesuatu yang tak kasat mata menamparnya. Jimin benar, dia terlalu benar mengungkap sikap Jungkook. Membuat pemuda itu sadar betapa dia sangat bajingan. Jungkook kembali berpikir, apa Papanya tidak pusing selama ini atas kelakuannya,dan juga apa benar kelakuannya itu membuat jelek nama Papanya. Ah,, Jungkook melenguh kasar dengan tangan yang mengacak rambutnya. Tidak. Jungkook akan berubah jika Papanya pun berubah,, tapi ngomong-ngomong tentang membuat pusing Tante Park, Jungkook rasa tidak akan melakukan itu pada wanita yang terlanjur dia sayang seperti ibunya sendiri. Jimin, baiklah, orang yang paling membenci dirinya atas kelakuan bejatnya itu nantinya akan menyandang status sebagai saudara tirinya.
Namja itu terhuyung jatuh di trotoar, membuat lututnya yang tertutup kain span itu membentur aspal. Tidak bisa di tahan, padahal dua puluh meteran lagi, halte di sana. Menelpon sopir,? Ah, sopirnya tadi mengantarkan dia dan ibunya. Tidak bisa. Taehyung, baiklah di saat seperti ini nama itu selalu terpikir olehnya. Ini kebetulan atau bukan, Jimin baru saja akan membuka kontak HP nya, namun nama Taehyung sudah terlebih dahulu menghubungi,
"Hallo, Tae,,?"
"Jim, kau di mana,,?"
Baiklah pertanyaan yang tepat. Jimin menahan serik di tenggorokaannya,
"Lima puluh meter dari restaurant Eropa, bisa kau kemari membantuku,,"
"Tentu, aku segera kesana,,"
Jimin kehilangan pandangannya karena semua semakin samar,
TBC...
Gaje,,?!.. Jeongmal Mianhae,,
Tidak bermaksud merugikan siapa pun.
And, ini pure dari otak saya.
Silakan tinggalkan comment, kritik, pesan, saran juga boleh.
Terima kasih banget udah Mampir,,
Neomu Gomawoyo,,,^_^
Chapter selanjutnya mungkin agak lama,,
Sampai Jumpa di Ch. Berikutnya ya,,?
Bye,,! Bye,,!
Annyeong,,!
