Pernahkah kau merasa jatuh cinta namun itu adalah dosa besar bagimu? kau jatuh cinta namun itu adalah hal tabu bagimu, pernah kah? Jika pernah berarti kita sama. Yah, aku pernah –tidak maksudku aku mencintai seseorang sampai sekarang (mungkin selamanya), sekalipun aku tak pernah merasakan bahagianya romansa itu, bahkan untuk mengaku saja tidak. Meski di detik-detik kepergiannya. Kau tahu, sejak saat itu aku merasa bahwa akupun telah mati, mati bersamanya.
Dia, pria termanis dan terimut yang pernah kujumpai, bahkan seorang gadis pun akan kalah jika dibandingkan dia. Dia satu tingkat dibawahku, entah bagaimana dia mulai memasuki kehidupan datarku ini. Dimulai dari pertengkaran kecil hingga membuat kami tak sadar akan rasa yang saling memiliki, sampai tragedi itu terjadi. Membuat ku membenci semua orang bahkan diri ku sendiri.
:
Naruto © Masashi Kishimoto
Pain Of Love © Heiwajima Shizaya
Pair : SasuNaru
Rate : T
Status : Complate
Warning : AU, OOC, Shonen Ai, YAOI, BL, Gaje, Abal, Aneh, Typo(s)/Miss typo(s) berserakan, hurt tapi gak hurt (?) and many more~
A/N : Psst banyak Sakura bashing, so yang menyukai Sakura gomen, tangan saya lagi jahil :P #dbunuh Saku FC# sebelum Shi mati XD Silahkan dibaca minna-san, hope you all like it ^o^
RnR?
Don't like – Don't read
:
"SASUKE! Dengar ayahmu bicara! Hey! SASU–"
Blam
"–KE!"
'Cih kuso!' Batin seorang pemuda yang telah membanting pintu kamarnya cukup kencang itu. Uchiha Sasuke, bertengkar dengan sang ayah memang bukan hal yang aneh lagi namun kali ini benar-benar keterlaluan pikir Sasuke. Pemuda tampan itu kesal akan tingkah ayahnya yang semakin menjadi dan mengatur hidupnya. Menikah huh? Yang benar saja, dia masih tujuh belas tahun! Dan hell, kau tahu siapa yang dijodohkan dengannya? Parasit genit berwarna pink dari klan Haruno, seorang yang katanya anak bangsawan tapi tingkahnya seperti penjaja tubuh murahan! Apa ayahnya tidak bisa memilih yang lebih baik? Dan lagi pula kenapa hanya gara-gara ia dekat dengan kouhai –yang harus ia akui manis dan imut itu– ayahnya langsung memutuskan akan menikahkannya? Mungkinkah...? oh tidak jangan bilang parasit pink itu yang member itahu ayahnya, batinnya geram. 'Sialan! Begini caranya sudah dari dulu ia bunuh gadis itu, cih!' teriakan ayahnya sepertinya sudah tak terdengar, sudah kembali bekerja mungkin. Dan dengan cepat ia menyambar kunci mobilnya. dengan teburu-buru, takut ayahnya cepat pulang, ia dengan cepat menaiki mobilnya dan dengan kecepatan kencang ia melajukannya. Tak ada tujuan, lihat saja dimana nanti ia bertemu tempat yang tenang baru ia kan berhenti.
Taman sepertinya tak buruk juga, hari telah menjelang sore dan orang-orang pun telah pulang dai taman, sepi tempat yang i cari.
"Eh? Teme?" suara cempreng menyapa gendang telinganya.
"..."
"Bhuu~ setidaknya balas menyapa, Teme-senpai." meski tak ia jawab sepertinya orang itu tak masalah, ia tetap berucap seolah Sasuke telah merespon.
"Brisik Dobe" kata Sasuke kali ini membalas pemuda kelewat ceria di depannya, Uzumaki Naruto, kouhainya yang uhukimutuhuk.
"Maaf. Kau sedang apa disini Teme? Tidak biasanya?" tanya Naruto heran, ia duduk disebelah Sasuke.
"Bukan urusanmu."
"dasar batu es."
"Dobe..." / "Naruto!"
Belum sempat Sasuke membalas, suara lainnya menyela, itu Iruka, gurunya di sekolah dan ayah angkat Naruto.
"Ne~ Tou-san tunggu sebentar!" ucap Naruto dengan kencang sambil melambai kearah ayahnya itu. "Ne teme, gomen tidak bisa menemanimu, aku pulang dulu ya, jaa~" pamitnya sambil berlari, meninggalkan Sasuke dalam keheningan.
"Jadi dia yah?" suara lain kini mengintrupsi. Sial kenapa banyak yang mengganggu sih?
"Hn."
"Are~ kau dingin sekali 'Suke-kun, aku ini calon istrimu loh~" ucapnya dengan percaya diri yang tinggi, Haruno Sakura.
"Hum~ kasihan yah, sudah yatim piatu gitu homo lagi" kata Sakura dengan sing a song.
Brak!
Suara kencang akibat tendangan Sasuke terhadap tong sampah tak berdosa itu setidaknya membungkam mulut racun Sakura. Ia sudah terlalu muak akan eksistensi gadis pecicilan satu ini.
"Grrr awas kau Uzumaki brengsek!" geram Sakura terhadap Naruto. Ha~h kenapa marah ke Naru sih Saku? Hey~ kau lah yang salah, bitc –ups pardon.
Siang itu rasanya Sasuke malas pulang ke mansion megahnya, toh jika ia pulang tak ada yang menyambut kecuali pembantunya yang bisa dikatakan lebih dari selusin itu. Ayahnya? Jangan harap si tua bangka itu akan ada dikediaman mereka, yang ia pikirkan hanya bisnis, bisnis dan bisnis. Ibu tercintanya? Sayangnya ia telah tiada sejak dua tahun yang lalu,pergi bersama sang kakak tercinta akibat kecelakaan tragis yang ia yakin hanya rekayasa musuh bisnis ayahnya. Cih, ia sungguh membenci hidupnya. Lalu kenapa ia tak mencoba bunuh diri? Oh itu sudah berkali-kali (yang sialnya selalu selamat) hingga si kouhai kesayangannya (boleh kan ia panggil begitu?) menyadarkannya bahwa tindakannya itu konyol dan akan dibenci kedua orang yang amat ia sayangi itu.
Jadi, dari pada ia semakin muak tinggal di mansion yang teramat luas namun dingin itu, ia lebih memilih menghabiskan waktu untuk duduk ditaman belakang sekolahannya yang meski masih ramai tempat ini akan sangat tenang dan sepi apalagi kini yang sudah lewat dari waktu pulang mereka. Ditemani dengan sebuah novel tebal kesukaannya ia pun membaca dengan tenang, setidaknya sebelum ia menyadari ada yang mengintipnya dari balik pohon, hantukah? Oh ayolah ia bukan kouhai penakutnya itu, jadi ia tak perlu takut, mungkin fans gilanya lagi, 'sudah biasa,' batinnya cuek.
Tapi tunggu dulu... mata Sasuke ia picingkan sedikit.
Pirang dan... jabrik?
Bukankah itu?
"Hn, Dobe?"
Kouhai manisnya? Ah ia tak ambil pusing, novel tebalnya jauh lebih penting.
"Etto, ada yang ingin... eum aku bicarakan." Suara terbata-bata itu cukup jengah Sasuke dengar, hey ada apa dengan si pirang brisik ini? Dan kemana pula panggilan 'sayang' untuknya itu? karena bingung akan tingkah aneh Naruto, ia pun mengerenyit samar alisnya, tetap menjaga image.
"Hn."
"Um, A..no Senpai, uhm–" kesal, Sasuke kesal melihat gaya bicara Naruto yang terkesan gugup itu, apa susahnya sih bilang langsung seperti biasanya? Toh juga mereka lebih suka bertengkar (menghina) bukan gugup-gugupan begini! "Ck! Langsung saja Dobe!" katanya tak sabar.
"Eh?" sedikit telonjak tubuh mungil itu saat mendengar suara dinginnya yang seperti membentak itu, bukankah biasanya memang seperti itu intonasi suaranya? -_-
"Ma-maaf!" ucap Naruto sambil membungkuk, menambah kebingungan dan rasa kesal Sasuke.
"Itu... aku menyukaimu, senpai."
Eh tunggu dulu... Sasuke tak salah mendengar bukan? Ia yakin tadi pagi telah membersihkan telinganya, lalu apa-apaan ucapan lirih kouhainya itu?
Suka? Tch yang benar saja? Ia tak sedang bermimpi bukan? Sulit dipercaya.
"Hn." balas cuek Sasuke akhirnya sambil berdiri mengambil tasnya dibangku dan melenggang pergi tanpa menoleh sedikt pun kearahnya lagi. Meski begitu tak tahukah kalian apa yang Sasuke rasakan? boleh saja otaknya berfikir seperti itu, menganggap ini sebuah lelucon konyol, cinta sesama? Cih itu sama saja bunuh diri di sekolahan elit ini, tak tahukah si pirang ini bahwa sekolah mereka sangat anti pati terhadap homoseksual meski tak secara terang-tearangan?
'Ugh jantung sialan! Kenapa kau bedetak dengan cepat hah!?' Batin Sasuke geram, ia tak mungkin membalas perasaan kouhai manisnya itu, bukan masalah ia takut akan dibenci fans-fans gilanya (ia malah bersyukur jika boleh jujur) namun bisa bahaya hidup pemuda mungil itu, diserang sekolahan, dan parahnya ayahnya juga akan menghancurkan dan bisa jadi parasit pink itu juga ikut-ikut. Kau bodoh bocah!
Sambil menahan debaran kencang didadanya Sasuke melenggang pergi meninggalkan Naruto menuju mobil sport hitamnya, ia tahu pasti dobe itu tengah menangis, anak itu gampang ditebak.
Baru ia akan menyentuh pintu mobilnya sebuah tangan putih menahan tangannya. Ck! Merepotkan. (err kau memakai trendmark orang tanpa izin Uchiha -_-)
"Kalau kau tak ingin 'kucing'mu lebih menderita, sebaiknya kau terima denga ikhlas perjodohan kita, Sasuke-kuuun~" bisik suara dengan seduktif yang diyakini milih seorang perempuan berambut pink bubblegum.
"Kau! Tak akan ku izinkan menyakitinya secentipun dan aku tak akan menikah denganmu, mengerti jalang!" bentakan kasar Sasuke sepertinya tak membuat Sakura menyerah.
"Ya sudah, terima nasib saja 'kucing' kecil mu itu, hahahaha jaa 'Suke-kuuuun~"
"CK! BRENGSEK!"
Tak ada yang lebih sial dari pada hari ini? cukup sudah peristiwa mendebarkan kemarin terjadi, haruskan ia kembali berdebar kembali? (meski sensasi kemarin sungguh menyenangkan sedangkan yang ini memuakan) pernikahannya dipercepat? 'Bunuh saja ia tuhan!' Geramnya sendiri. Sebulan setelah ia lulus saja itu sudah amat sial baginya apalagi sehari!? Hei ia baru tujuh belas tahun, for god's sake! Tak bisakah ia hidup tenang? Setidaknya jauhkan parasit pink itu dari hidupnya bukan semakin didekatkan! Sasuke semakin geram dan muak akan kehidupannya ini, sepertinya tuhan amat membencinya.
Dia mengendarai mobil sport hitam kesayangannya itu dengan amat kencang, tak peduli akan resiko kecelakaan yang tinggi, apa lagi polisi-polisi tak berguna itu, ingat ia Uchiha? Mudah untuk lepas dari hukum.
Dengan kesal ia membanting pintu mobilnya saat telah sampai diparkiran sekolahannya, sampai membuat bingung kedua sahabatnya yang entah bagaimana bisa sampai bersamaan dengannya, Hyuuga Neji dan Nara Shikamaru.
"Kau kenapa?" pemuda dengan harum lavender itu menyakan keadaan bad mood sahabatnya itu.
"..."
"Hoam, mendokusai"
Err ia salah bertanya yah?
...
Sasuke? Pemuda itu seakan tuli akan pertanyaan dan gerutuan sahabatnya itu (dan beberapa kali munguap dari Shikamaru jika dihitung gerutuan). Yang ia ingin lakukan adalah sampai di kelasnya dan saat istirahat nanti dapat menggoda kembali kouhainya itu, meski ia tak yakin kouhainya itu tetap mau bicara (bertengkar) dengannya. Dengan tergesa dan cukup elegan ia berjalan melewati koridor sekolah bersama kedua sahabatnya itu. Tenang, pelan, dan penuh anggung tapi... hey tumben tak ada yang menyambutnya? Dan ini cukup menjadi tanda tanya bagi Sasuke.
Kerumunan? Bukankah itu mading yang tak jauh dari kelas Naruto yah?
Tap
Tap
Tap
Masih dengan elegan Sasuke menapaki jalannya. Tunggu! Itu bukannya Naru-dobe? Kenapa orang-orang terlihat menghinanya? Ia yakin kemarin-kemarin Dobe-nya itu masih disukai banyak orang. Semakin dekat semakin sadar ia karena apa. Pasti peristiwa kemarin! Crap ternyata hari sialnya masih berlanjut. Ia lirik sedikit mading yang ada disana, terlihat jelas beberapa foto mereka yang baik kemarin maupun beberapa pertengkaran 'manis' mereka denga judul yang amat besar dan ditebalkan 'PIRANG HOMO DITOLAK PANGERAN SEKOLAH!' dan ia tahu siapa pelakunya, pasti parasit pink sialan itu! Brengsek!
Dengan kesal (meski tetap berjalan dengan elegan /?) Sasuke melewati kerumunan itu, bahkan untuk melihat dan menyapa kouhainya saja tidak, ia terlalu kesal dan fokus akan balasan si pink itu. 'Awas kau Haruno!' Batinnya amat kesal.
Beres! Ia sudah memastikan si pink itu mati mengenaskan, tak perlu ia repot-repot turun tangan, terlalu indah untuk gadis itu jika ia bunuh dengan tangannya dan ia yakin tak akan ada yang tahu bahwa calon istrinya mati mengenaskan karena ia hah! Haruno masih kecil dibanding ke kuasaannya. Ia semakin mengakui kebodohan ayahnya itu. Dan oh, sepertinya ia lupa akan kouhainya itu, bercakap sedikit dengannya bukan ide buruk ia rasa. Ia yakin Naru-dobe itu sedang berada di atap, saat jam istirahat mereka memang berdua di atap apalagi dengan peristiwa dua hari yang lalu pasti ia semakin betah di atap.
"Kyaaaa! Ada mayat." Teriakan histeris itu menyita sedikit perhatian Sasuke. Huh? Mayat? Orang bodoh mana yang bunuh diri disekolah saat jam istirahat? Haha dasar bo– tunggu, bodoh? Jangan bilang? Si dobe itu! Dengan cepat ia berlari menuju teriakan itu, tak peduli orang-orang yang menatapnya bingung.
Haruskan berakhir sampai disini, Dobe?
"Seorang pemuda berinisial U.N, delapan belas tahun meninggal dunia karena bunuh diri terjun dari lantai tiga sebuah sekolah elit dikawasan Konoha, Jepang. Tak diketahui apa motif bunuh diri ini, pihak sekolah pun bungkam akan alasan sesungguhnya dan memutuskan meliburkan sekolahnya yang sedang berkabung. Diduga ada motif pembullian terhadap korban hingga membuatnya depresi dan bunuh diri. Sekian berita penutup hari ini, saya Heiwajima Shizaya undur diri. Selamat siang."
Piiip
"sukida moo, Naruto."
FIN
Akhirnya tamat juga haha nih~ Shi kasih Sequel yang kalian minta :P Shi sengaja gabung, males bikin judul baru :P haha biar sekalian keliat two shoot juga LoL
Thanks for reading, review, favo and follow guys~~ love love so much from Shi~ #muntah semua# hihi ah senangnya berhasil nuntasin ini sequel, maaf jika tambah absurd #nyengir bareng Naru.
Thanks special to (review) :
siihat namikaze natsumi, Inez Arimasen, A-Drei, sasunaru, hi aidi, and Uzumaki Yuzi.
Thanks special to (follow and Favo) :
A-Drei, Inez Arimasen, and Kuro to Shiro
Hehe so Mind to review (again) guys?
Jaa mata ne~ ^^
