Chapter 2
Disclaimer :
Naruto © Masashi Kishimoto
Highschool DxD © Ichiei Ishibumi
Summary : Namikaze Naruto adalah anak bungsu dari Namikaze Minato yang merupakan direktur utama Namikaze Corp. Kepindahan Naruto ke Jepang membawa kebahagiaan bagi kakak perempuannya, tapi dibalik semua itu Minato menyimpan rahasia besar yang tidak bisa dipercayai oleh kalangan manusia biasa.
Genre : Adventure, Drama, Romance, Humor.
Warning : Typo, AbalAbal, AlurAcak-Acakan, Incest, MILF, Lime (Maybe), Lemon (Maybe), OC, OOC, OverpowerNaru!, AU!, MinaKushiAlive!,
Rate : M
Pair : (Naruto x ...)
"Don't Like Don't Read"
Chapter Sebelumnya :
Satu menit berlalu Naruto belum menjawab, tapi tak lama setelah itu suara serak memasuki gendang telinga Karin.
"Nee-chan.."
Karin tak mau tau apa yang nantinya terjadi antara dirinya dan Naruto. Yang ia mau saat ini hanya perasaan Naruto yang sesungguhnya, Karin sudah tak mampu menutupi lagi perasaannya, rasa cintanya kepada Naruto. Bukan cinta seorang Kakak kepada adiknya, tapi cinta sebagai seorang wanita kepada lawan jenisnya.
"Nee-chan Aku.."
Suara Naruto bergetar, ia menundukkan kepalanya memutus kontak mata dengan kakaknya, menggigit bibir bawahnya menahan perasaannya selama ini. Malu, sedih, senang, rindu, dan takut, semua bercampur aduk saat ini.
Naruto malu mengakui bahwa ia memang mencintai kakaknya.
Ia sedih karena baru sekarang ia menyadarinya.
Ia senang karena akan mengatakan semuanya tak peduli hasilnya.
Ia rindu dengan kebersamaannya dengan Karin, dan...
Ia takut Karin akan menjauhinya saat kakaknya itu tau kebenarannya.
Karin tak bergeming, ia setia menanti jawaban yang akan diberikan adiknya ini. Tapi saat melihat adiknya begitu tertekan, Karin merasa ada sesuatu yang besar menghalanginya untuk menggapai Naruto. Dengan tekad kuat Karin memutuskan untuk..
"Aishiteru Naru.."
'DEG'
'Aishiteru Naru'
'DEG'
Ucapan Karin terngiang di kepala Naruto, seperti kaset rusak, kata-kata itu terus berputar berulang-ulang.
"Nee-chan aku.."
.
.
.
Happy Reading...
Chapter 2 : Tradisi Klan Uzumaki
Saat ini Naruto berada di atap sekolah, pikirannya tak menentu, seorang gadis berkacamata dengan surai merah selalu mengganggu pikirannya selama seminggu ini.
'And now all this time
Is passing by
But I still can't seem to tell you why
It hurts me every time I see you
Realize how much I need you'
Syair lagu itu begitu masuk kedalam hati Naruto, entah mengapa ia membenarkan setiap bait lagu yang berjudul 'I Hate U I love U' dari salah satu musisi hip-hop Gnash.
Setiap ia melihat kakaknya, rasa sakit kembali terasa pada dada sebelah kirinya. Rasa sakit karena tak menerima takdir dan kenyataan.
Mereka tak tau bagaimana mencari jalan keluarnya, seperti buah simalakama, melanjutkan salah, tapi ditinggalkan tak rela.
Flashback
7 hari yang lalu merupakan hari yang sangat menggembirakan namun juga sangat menyedihkan. Naruto mengutarakan semua perasaannya kepada kakaknya, disaat kakaknya menyatakan sesuatu yang membuatnya begitu bahagia.
"Aishiteru Naru.."
Ucapan itu terus Naruto ingat, kata-kata yang merubah hidup Naruto seterusnya.
"Nee-chan Aku.."
.
.
"Aku.. Mencintaimu Nee-chan!"
Butuh keberanian yang banyak hanya untuk mengucapkan 3 kata sakral itu, nafasnya memburu setelah mengucapkan 3 kata yang membuatnya bahagia dan kecewa sekaligus.
Bahagia karena akhirnya ia bisa jujur dengan perasaanya, dan Kecewa karena kenyataan seakan melarang seorang Naruto mengucapkan 3 kata itu untuk kakaknya.
"Kenapa Naru... Hiks.. Kenapa Hikss..." ucap Karin yang kini pertahanan hatinya telah hancur, perasaan senang bercampur sedih bercampur aduk saat mendengar pengakuan Naruto.
"Kenapa Hikkss.. kita harus Hikss.. terlahir sebagai saudara Hiks.." ucap Karin lagi. Dengan cepat Naruto menarik Karin ke dalam dekapannya. Memeluk erat memberikan kenyamanan berharap bisa mengurangi beban pikiran kakak perempuannya ini.
"Issshh, tenang Nee-chan. Semua akan baik-baik saja"
Karin tak bisa tak mendengar nada bergetar dari ucapan Naruto. Ia tahu Naruto menahan rasa sakit agar dirinya tak khawatir, Naruto mampu menutupi kekecewaannya berusaha menenangkan dirinya yang kini menangis semakin keras di dalam dekapan Naruto.
Kelelahan fisik dan mental Karin rasakan, menangis sejadi-jadinya mencurahkan rasa kecewa, sedih, dan frustasi nya membuat Karin tertidur dalam pelukan hangat Naruto. Mengetahui kakaknya telah tertidur, Naruto berusaha mencoba tidur, sejenak melupakan kejadian yang menguras tenaga untuk berfikir dalam keadaan mental yang down.
Namun mereka tak menyadari saat ini di pergelangan tangan kiri Naruto dan pergelangan tangan kanan Karin tiba-tiba muncul sebuah aksara berbentuk setengah lingkaran seperti puzzel. Lama-kelamaan aksara itu bercahaya merah redup, hingga beberapa detik setelah itu aksara itu terlihat seperti tato berwarna hitam.
Flashback End
Naruto masih setia di atap sekolah, kini ia sedang memandang tato hitam di pergelangan tangan kirinya (Bagian dalam). Ia tak ingat kapan pernah membuat tato, 'Kapan aku membuat tato ? terlebih lagi ini seperti aksara kuno' batin Naruto terus memandangi tato yang tiba-tiba muncul.
Dalam seminggu ini Karin selalu menghindari Naruto, tatapannya penuh dengan penyesalan. Sikap Karin kini berubah, bukan seperti Karin biasanya.
"Haaaahhh Everything too complicated" gumam Naruto menghela nafas berat, mungkin benar apa yang Naruto gumamkan, semua saat ini terlalu rumit untuk dirinya, dan Karin.
And I don't want the world to see me
'Cause I don't think that they'd understand
(Iris - Go Go Boy)
Terdengar nada dering panggilan di Smartphone Naruto, ia melihat layar Smartphone yang menunjukkan ibu nya yang melakukan panggilan itu
Klik!
"Halo Kaa-chan"
"..."
"Baiklah tunggu saja di apartemen Nee-chan, aku segera pulang"
"..."
"Untuk apa sebanyak itu ?"
"..."
"Ah.. A-aku dan Nee-chan ba-baik-baik saja kok"
"..."
"Yaah nanti ku ceritakan di apartemen, aku harus masuk kelas Kaa-chan, daah aku menyayangimu Kaa-chan!"
Klik.. Tutt Tutt..
Panggilan itu diputus sepihak oleh Naruto jika tidak, bisa-bisa ibunya itu bisa mengoceh dari barat ke timur hingga petang.
"Huhh apalagi ini" desah Naruto lelah, karena tiba-tiba ibunya menelpon.
Tanpa Naruto sadari ada seorang gadis yang sudah berada disampingnya, gadis bersurai dark blue, tubuh proposional, kulit putih, wajah nan cantik menawan, plus ukuran ehm dada yang diatas rata-rata.
"Kau kenapa Naruto-kun ?"
"HUAAAAAAAA ?!"
Bugghh..
"Ittei.. kenapa kau mengagetkan ku Akeno-san ?"
Ternyata gadis misterius itu adalah Akeno, salah satu murid terpopuler di Kuoh Akademi. Disaat Naruto mengrengek saat dirinya jatuh, Akeno malah terkikik geli melihat tingkah Naruto yang menurutnya unik.
Menurut Akeno Naruto itu orangnya ramah, baik, serius, dan tenang. Tapi saat melihat Naruto saat ini ia mulai menemukan satu fakta lagi tentang Naruto, ia orangnya menyenangkan dan konyol.
"Hihihi maaf Naruto-kun, aku tak bermaksud mengagetkanmu" ucap Akeno.
"Oke tak masalah Akeno-san, apa yang kau lakukan disini ?" balas Naruto kini sudah kembali duduk disamping Akeno.
"Tumben kau sendiri, dimana teman tomat mu itu ?" lanjut Naruto.
"Teman tomat ? Rias maksudmu ?" bukannya menjawab kini Akeno malah balik bertanya.
"Yaa siapa lagi yang rambutnya mirip tomat" jawab Naruto sekenanya.
Mungkin kehadiran Akeno mampu membuat Naruto lupa dengan perasaan galau nya, walau sesaat. "Hihihi, awas jika Rias mendengar julukan itu, kau bisa babak belur olehnya lhoo Naruto-kun~ Ufufufufu~" Naah kini Akeno kembali ke mode normalnya, mode penggoda iman laki-laki.
Entah kenapa Naruto merinding saat mendengar tawa Akeno yang menurutnya mengerikan. "Kuharap dia tidak tau" gumam Naruto. Bukannya jawaban yang didapat Naruto, tapi kini Akeno malah memeluk lengan kiri Naruto mesra.
Merasakan lengan kirinya dihimpit 2 benda kenyal, wajah Naruto memerah. "A-akeno-san ja-jangan me-memelukku begitu" ucap Naruto malu-malu tapi mau.
"Araa kau mau menyentuhnya ? meremasnya ?" jawab Akeno semakin menggoda Naruto. Bukannya melepaskan pelukannya, Akeno malah menggesek-gesekkan payudaranya ke lengan kiri Naruto.
Siang itu di atap akhirnya Naruto dan Akeno membolos jam pelajaran hingga pelajaran terakhir berakhir. Akeno terus saja menggoda Naruto, karena menurutnya Naruto itu lucu, polos, dan menggemaskan saat digoda.
Tapi dibalik pintu atap sekolah, terlihat seorang gadis bersurai merah tengah memperhatikan interaksi Naruto dan Akeno. 'Awas kau Akeno, kau mencuri start lagi' batin gadis itu geram.
.
® The Devil's Wings Eagle ®™
.
Membolak-balik laporan produksi Namikaze Corp, Karin dibuat tak konsen seminggu ini. Kejadian pengakuan perasaan Naruto membuatnya tak bisa mengerjakan tugasnya dengan baik. Banyak laporan yang berserakan, bertumpuk-tumpuk kertas laporan setiap bagian yang harus ia cek, belum lagi rapat rutin setiap bulan untuk evaluasi kinerja setiap staf perbagian.
"Ohh Kami-sama.." desah Karin frustasi.
Menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, gadis bersurai merah itu tak sengaja melirik foto di meja kerjanya. Difoto itu terlihat 2 orang remaja berbeda gender yang sedang tertawa bersama, remaja laki-laki bersurai pirang sedang menggendong remaja perempuan bersurai merah di punggungnya. Itu adalah foto Karin dan Naruto 4 tahun yang lalu, saat mereka masih di Amerika.
Karin yang mengingat momen itu tanpa sadar tersenyum, "Aishiteru Naru..".
Dilihatnya jam dinding, mata Karin membola, karena jam menunjukkan pukul setengah lima sore. Ia harus segera menyelesaikan tugasnya, dan pulang ke apartemen. 'Cepat selesaikan, pulang, Minta maaf kepada Naru, dan tidur' pikir Karin.
Karin sudah membulakan tekad, yaah ia harus meminta maaf dan bersikap sewajarnya. Ia bahkan sampai curhat kepada ibunya untuk menyelesaikan masalah ini. Yah Kushina tau bahwa sebenarnya Karin menyukai atau bahkan mencintai adik kandungnya. Tak mungkin Kushina tak menyadari perilaku, tatapan mata, dan sikap manja Karin kepada Naruto. Mungkin itu bermula saat 7 tahun lalu, ketika Naruto masih duduk di bangku sekolah dasar, dan Karin di bangku menengah pertama.
Kita biarkan Karin berkutat dengan laporan-laporan yang harus ia periksa. Sementara itu kita intip kegiatan Naruto saat ini.
Diwaktu yang sama, terlihat Naruto sedang berjalan dengan membawa 2 kantung belanjaan titipkan ibunya.
Krieeet
"Tadaima"
"Okaeri Naru-chan!"
'Huh darimana Kaa-chan dapat kunci apartemen ?' pikir Naruto.
"Kau tak lupa pesanan Kaa-chan kan ?"
"Iyaa Kaa-chan, ini semua pesanan Kaa-chan" jawab Naruto sambil menenteng 2 kantung belanjaan yang ia beli di supermarket tadi.
Kemudian Kushina mengambil semua belanjaan tadi dan membawanya ke dapur.
Sebenarnya Naruto bingung, ibunya yang ada di Amerika harus repot-repot datang ke Jepang. Sedangkan perjalanan dari Amerika ke Jepang itu lebih dari 12 jam menggunakan pesawat terbang. Tapi apa ibunya hanya datang sendiri, atau bersama ayahnya.
"Kaa-chan ke sini sendirian ?" tanya Naruto.
Kushina yang sedang memasak mengalihkan pandangannya kepada anak laki-lakinya yang bertanya itu.
"Kaa-chan berangkat sendiri Naru-chan" jawab Kushina.
"Kaa-chan, sudah berapa kali aku bilang, jangan memanggilku dengan sebutan itu!" balas Naruto yang tak terima dengan panggilan kesayangan ibunya itu.
"Hahaha tapi kau cocok dengan panggilan itu Naru-chan" tawa Kushina menggelar saat melihat wajah Naruto yang manyun.
"Ne Kaa-chan, sebenarnya ada apa Kaa-chan jauh-jauh datang kemari ?" tanya Naruto dengan nada serius.
Kushina yang melihat Naruto serius mematikan kompor dan duduk berhadapan dengan Naruto di meja makan. Dapat Kushina lihat saat ini Naruto tengah serius dengan wajah datarnya.
"Kaa-chan kemari karena masalah sepele kedua anak Kaa-chan"
Naruto berkeringat dingin saat ibunya mengatakan masalah kedua anaknya. 'Apa Kaa-chan tau' pikir Naruto.
"Apa masalah perusahaan ?" tanya Naruto mengalihkan pembicaraan.
"Jangan berpura-pura tak tau Naruto, Kaa-chan sudah tau dari beberapa tahun yang lalu kau dan kakakmu saling menyukai"
.
'Jeggeerr!'
.
"Jadi Kaa-chan tau yaa ?" gumam Naruto tersenyum miris.
Ini sungguh memalukan, ia jatuh cinta kepada kakak kandungnya sendiri. Mengapa takdir begitu jahat, kenapa bukan dengan orang lain saja Naruto jatuh cinta, kenapa harus kepada kakak kandungnya.
"Maafkan Naru Kaa-chan" gumam Naruto menunduk.
Kushina tak memberi respon, ia hanya memperhatikan ekspresi Naruto saat ini. Sangat kentara rasa bersalah, dan malu yang tercetak di wajah Naruto.
"Untuk apa kau meminta maaf kepada Kaa-chan, kau tak bersalah begitu juga kakakmu" balas Kushina.
"Kau tau klan Kaa-chan Naru ?" lanjut Kushina.
"Klan Kaa-chan ? Klan Uzumaki ?" jawab Naruto kini menatap ibunya.
"Yaa benar, Kaa-chan berasal dari klan Uzumaki" jawab Kushina tersenyum.
"Dan kau tau klan Uzumaki ini memiliki tradisi yang jarang dimiliki klan lain. Tradisi ini sudah turun temurun dalam sejarah klan Uzumaki. Asal kau tau saja klan Uzumaki itu di.."
"Tadaima.."
Belum sempat Kushina menyelesaikan ucapannya, datang gadis cantik bersurai merah menginterupsi penjelasan klan Uzumaki.
"Tadaima Nee-chan/Karin-chan!" jawab Naruto dan Kushina.
"Lhoo Ka-kaa-chan ? Ka-kapan Kaa-chan datang ?" tanya Karin gugup karena kedatangan ibunya yang tiba-tiba.
"Sudah kau duduk dulu Karin, ada yang ingin Kaa-chan sampaikan" jawab Kushina serius.
Karin langsung duduk di samping Naruto, melirik sekilas kearah adiknya, Karin semakin bingung. Saat ini adiknya itu sedang menunduk seperti menunjukkan ekspresi bersalah dan menyesal. Perasaan Karin semakin tak nyaman dengan suasana tegang saat ini.
"Karin Naruto! Kalian tau kenapa Kaa-chan sebenarnya kemari ?" tanya Kushina tegas.
Karin yang mendengar nada tegas dari ibunya, semakin merasa ada yang tak beres. Terus bergelut dengan pemikirannya tiba-tiba..
.
'Deg'
.
Karin ingat 3 hari yang lalu, ia sempat menelpon ibunya. Ia menceritakan masalahnya dengan Naruto. Karin memang sangat terbuka dengan ibunya, setiap masalah yang tak mampu Karin selesaikan ia selalu meminta masukan dari ibunya itu.
Karin memang pernah mengatakan bahwa ia mencintai adiknya itu, tapi itu dulu saat ia masih di bangku menengah pertama. Tapi memang sosok ibu pasti mengenal luar dan dalam dari anaknya, Karin semakin yakin ibunya datang karena masalah seminggu yang lalu.
"Maafkan Karin Kaa-chan" Karin menunduk menyembunyikan wajahnya, tak mau menatap ibunya.
Yaah mereka saat ini seperti 2 bocah yang sedang dimarahi orangtuanya karena berebut mainan.
"Sekarang Kaa-chan tanya pada kalian, kalian saudara kandung ?"
Naruto dan Karin semakin menunduk mendengar pertanyaan yang menyakitkan dari ibunya. Tak ada satupun yang bersuara, Karin tak mampu mengucapkan satu patah katapun. Begitu juga Naruto, suaranya sepertinya tercekat, tertahan di tenggorokannya.
"Jawab Kaa-chan Naru! Karin!" ucap Kushina menaikkan nadanya. "Ha'i Kaa-chan" balas Naruto lemah.
"Ha-ha'i Hikkss.. Kaa-chan" Karin menjawab dengan menangis sesenggukan.
"Jadi kalian tau kalau kalian saudara kandung. Pertanyaan terakhir, jawab dengan jujur!"
Karin dan Naruto kembali dipaksa menahan jantungnya yang berdetak kencang, ibunya ini sangat mampu menilai luar dalam dari anaknya. Mungkin pertanyaan terakhir ini mampu menyadarkan Naruto dan Karin, mereka itu saudara kandung, tak sepantasnya menjalin hubungan lebih. Walau masing-masing dari mereka harus berkorban, tapi ini menjadi jalan keluar terbaik.
'Mungkin untuk terakhir kalinya aku harus jujur, walau aku tau hasil yang aku dapat. Setidaknya aku tak membohongi perasaanku' batin Naruto dan Karin.
inilah kenyataannya, mereka berdua saudara sedarah. Dilahirkan dari satu ibu dan ayah yang sama, memiliki ikatan darah yang kental.
"Apa kalian saling mencintai ?" tanya Kushina lagi, tapi kini menggunakan nada yang tenang, datar, seperti tanpa emosi.
"Aku mencintai Nee-chan"
Tiba-tiba Naruto berucap dengan suara yang tegas. Tak ada nada bergetar maupun ragu saat Naruto menjawab.
"Baiklah, bagaimana denganmu Karin ?" Kushina kembali bertanya kepada Karin, karena Karin tak kunjung menjawab. Mungkin ia masih terkejut dengan ucapan Naruto yang serius, dari nada yang digunakan pasti Naruto tak main-main kali ini.
"Aku juga me-mencintai Naru Kaa-chan" jawab Karin yang kini sudah menunduk (lagi).
Kushina memang sudah mengira pasti akan seperti ini, ia senang sekaligus sedih. Ia sedih karena saat ini kedua anaknya saling mencintai tapi mereka tak mau mengakui akan perasaannya. Ia senang karena tradisi lama klan Uzumaki mungkin bisa terulang kembali, asal ia mampu meyakinkan suaminya.
Setelah selesai dengan pemikirannya, Kushina menatap kedua anaknya, dan akhirnya tersenyum.
"Kaa-chan tak marah kalian saling mencintai, malah Kaa-chan sangat bahagia saat ini" ucap Kushina yang membuat kedua anaknya memasang wajah bingung.
"Naru, tadi sebenarnya Kaa-chan akan menjelaskan tradisi lama klan Kaa-chan, klan Uzumaki. Tapi keburu dipotong kakakmu yang datang tadi"
Perkataan Kushina disimak baik-baik oleh Naruto dan Karin. Mereka tak mau salah mengartikan respon ibunya yang terbilang aneh. Bayangkan anak kandung kalian saling mencintai, dan kalian senang (?).
"Tradis lama klan Uzumaki ini adalah Incest, dimana kalian boleh menjalin hubungan dengan keluarga kandung, tapi syaratnya hubungan itu didasari rasa cinta tulus tanpa ada paksaan"
"Jadi kalian tau maksud kedatangan Kaa-chan sebenarnya kan ?" tanya Kushina dengan senyum yang mengerikan, agak mirip seringai mesum.
"Ja-jadi Kaa-chan merestui hubungan i-ini ?" tanya Naruto yang tergagap tak menyangka bahwa ibunya mendukung hubungan sedarah ini.
"Jangan khawatir, Kaa-chan pasti merestui hubungan kedua anak Kaa-chan yang tampan dan cantik ini dattebane!" jawab Kushina bersemangat.
Naruto dan Karin memanjatkan beribu syukur bahwa ibunya ini mau mengerti perasaan kedua anaknya. Sungguh tak dapat disangka, Naruto pikir ia akan mendapat cacian dan makian karena lancang mencintai kakak kandungnya sendiri.
Tapi kini bunga-bunga seperti mengisi perutnya, rasa bahagia dari hatinya menjalar ke seluruh tubuh. Beban dipundak terasa menguap hilang terbawa angin, hanya senyum bahagia yang kini Terpampang diwajah tampannya.
Untuk Karin, tak jauh dari Naruto. Senyum mengembang diwajah cantiknya menjadi bukti bahwa ia saat ini sama bahagianya seperti Naruto.
"Tapi bagaimana dengan Tou-san ? Apa ia mau menerima kenyataan ini Kaa-chan ?"
Tiba-tiba Naruto menanyakan hal yang mungkin menjadi penghalang kebahagiaannya bersama kakaknya. Tak lucu jika nantinya keluarga Namikaze hancur hanya karena anak mereka saling mencintai.
"Untuk itu kau tenang saja Naru-chan, Kaa-chan bisa pastikan Tou-san mu akan mendukung" jawab Kushina enteng.
"Kau yakin Kaa-chan ?" kali ini Karin yang terdengar tak yakin dengan ucapan ibunya.
"Heehh, kau meragukan Kaa-chan mu ini Karin-chan ? Kau tak tau siapa Kaa-chan mu ini hee ?" tanggap Kushina sambil menyombongkan diri.
"Huwaaa terimakasih Kaa-chan, Naru mencintaimu Kaa-chan!" ucap Naruto tiba-tiba memeluk erat ibunya.
Karin yang melihat Naruto memeluk ibunya ikut-ikutan memeluk ibunya yang berhasil menyatukan mereka, membuang jauh-jauh keraguan di hati keduanya.
Mereka bertiga berpelukan erat, Karin juga terlihat sampai menangis karena bahagia.
"Jadi kau mencintai Kaa-chan mu juga Naru-chan ? tapi Kaa-chan ini punya Tou-san mu lhoo" ucap Kushina menggoda Naruto.
"Huwaaaa, tante-tante giraang!" teriak Naruto langsung menarik Karin dalam pelukannya.
"APA KATAMU NARU ? BERANI KAU MENGUCAPKAN ITU KEPADA KAA-CHAN HAAAHH ?!"
"HUWAAAA LARI NEE-CHAN, ADA TANTE-TANTE GIRANG MENGAMUK!"
Dan malam itu NaruKarin kejar-kejaran dengan Kushina di apartemen kecil itu, dan akhirnya Naruto babak belur dihajar Kushina yang saat ini dalam mode 'Red Habanero' Huahahahaha Poor Naruto..
.
® The Devil's Wings Eagle ®™
.
Diwaktu yang sama ditempat yang berbeda, tepatnya di salah satu ruang klub di Kuoh Akademi terlihat 4 gadis sedang berdiskusi. Sepertinya diskusi berjalan panas, bisa dilihat dua diantara 4 gadis saling adu argumen.
Gadis pertama memiliki surai merah, tubuh proposional, dan wajah bulat, Rias Gremory. Gadis kedua bersurai dark blue, bertubuh tinggi proposional, dengan garis wajah tirus, Akeno Himejima. Gadis ketiga memiliki tubuh tak terlalu tinggi, berkacamata, dan wajah yang lumayan cantik, Sona Sitri sekaligus ketua OSIS di Kuoh Akademi. Gadis terakhir memiliki surai hitam, berkacamata, tinggi sama seperti Rias dan tubuhnya juga proposional, Tsubaki Shinra wakil ketua OSIS.
Entah apa yang mereka bahas tali sepertinya Sona dan Rias sedang membahas sesuatu yang penting.
"Apa kau benar-benar merasakannya Rias ?"
"Aku benar-benar merasakannya Sona, walau samar-samar tapi aura ini lebih pekat dari Akeno yang merupakan Queen ku sendiri" jawab Rias dengan penuh keyakinan.
"Aku memang belum bertemu dengan murid pindahan ini karena pelatihanku bersama Serafall Nee-sama. Tapi besok ku buktikan sendiri apa yang kau katakan tadi" jawab Sona sambil menaikkan kacamatanya yang turun.
"Aku pun juga sempat merasakan aura itu Kaicho" Akeno kini ikut angkat suara.
"Tunggu Kaicho, Rias-sama, Akeno, apa yang kalian maksud itu Naruto-kun ?" tanya Tsubaki.
" Ya kami memang Hey! -Kun.. ? Sejak kapan kau memanggilnya dengan suffix Kun ?" tanya Akeno menuntut karena kecemburuannya.
"E-eh.. Maaf.. Sejak aku mengenal Naruto-kun" jawab Tsubaki innocent.
"A-APAAAA ?!"
Mendengar jawaban Tsubaki Rias dan Akeno terkejut, mereka mengira Tsubaki telah mengenal lama sosok Naruto yang kini menjadi salah satu murid terpopuler. Bahkan Naruto mendapat julukan 'Sunrice Prince Of Kuoh Akademi' karena surai pirang nya, dan keramahannya.
"Naruto-kun sendiri yang memintaku memanggil namanya begitu" tambah Tsubaki.
"APAAAAA!?"
Kembali Rias dan Akeno dipaksa senam jantung, perkataan Tsubaki ini jelas menimbulkan pemikiran yang menjurus ke hal-hal pribadi.
'Aku kalah dengan Tsubaki, Hey aku lebih cantik, payudaraku lebih besar, mana mungkin Naruto-kun lebih memilih Tsubaki' pikir Akeno dengan asumsi-asumsi yang frontal menatap lekat-lekat kearah Tsubaki.
'Tidak mungkin, aku kalah dari gadis polos seperti Tsubaki. Dan lagi tubuhku lebih seksi, pasti Naruto-kun lebih memilih aku' batin Rias yang tak kalah frontalnya dengan Akeno.
Sedangkan Sona hanya menaikkan sebelah alisnya melihat respon Rias dan Akeno. 'Kenapa mereka seperti memperebutkan murid baru itu' pikir Sona.
"Ba.."
"COBA JELASKAN!"
"JELASKAN HUBUNGANMU DENGAN NARUTO-KUN"
Ucapan Sona dipotong Rias dan Akeno yang meminta penjelasan hubungan antara Tsubaki dan Naruto. Sedangkan Tsubaki sendiri tak mengerti kenapa kedua 'Great Onee-sama' itu menjadi bringas jika menyangkut soal Naruto.
Akhirnya Tsubaki menjelaskan pertemuan pertamanya dengan Naruto. Akeno dan Rias yang ternyata salah persepsi akhirnya hanya tersenyum canggung menanggapi tatapan dari Sona. Walaupun begitu mereka tetap bersyukur dalam hati karena pemikiran mereka salah.
.
® The Devil's Wings Eagle ®™
.
Setelah acara kejar-kejaran NaruKarin dan Kushina selesai, kini mereka makan malam bertiga. Mungkin Kushina memang merencanakan pesta kecil-kecilan untuk Karin dan Naruto, terbukti dengan banyaknya makanan yang tersedia di meja makan.
Ramen, Yakiniku, Udon, Tempura, Tonkatsu, Enoki, dan Kare, begitu banyak macam makanan yang menggugah selera.
"Kaa-chan sengaja membuat banyak makanan malam ini kan ?" selidik Naruto dengan mata menyipit.
"Hehehe restu Kaa-chan kan harus dirayakan Naru-chan" jawab Kushina enteng.
Naruto memicingkan matanya mendengar ucapan ibunya, "Jadi tadi hanya akal-akalan Kaa-chan ? Jadi Kaa-chan sudah mengira kalau aku dan Nee-chan bakal jujur dengan perasaan kami ?" tanya Naruto kembali mengintrogasi ibunya.
"Ha-ha-ha, bicara apa kau Naru.. Ayo kita makan saja, keburu dingin nanti makanannya" balas Kushina dengan tawa hambar, keringat dingin mengucur di kening Kushina.
Makan malam berlalu dengan tenang, yaah keluarga Namikaze selalu diajarkan tata krama saat di meja makan. Layaknya seorang bangsawan, mereka makan malam dengan tenang dan anggun. Tapi tidak dengan Naruto, comot sana comot sini, Naruto benar-benar kelaparan karena siang tadi tak sempat makan, yah jadinya ia balas dendam saat makan malam tiba.
Setelah makan malam selesai, mereka membereskan makanan dan peralatan bersama-sama. Selepas itu Kushina masuk ke kamar mandi, sedangkan Karin dan Naruto duduk bersantai di ruang tengah. Karin menjadi sangat manja setelah hubungannya mendapat restu dari ibunya. Lihat saja dari tadi Karin terus saja menempel pada Naruto, memeluk lengan kiri Naruto, sungguh overprotektif.
"Aku sungguh bahagia Naru" ucap Karin menyandarkan kepalanya ke bahu adiknya.
Naruto yang menjadi objek bermanja-manjaan Karin tersenyum menanggapi ucapan Karin.
"Kau pikir hanya kau saja yang bahagia, aku juga sangat bahagia Nee-chan" balas Naruto mengusap lembut puncak kepala Karin.
"Aishiteru Nee-chan"
"Aishiteru mo Naru"
Yaah mereka seperti pasangan yang dilanda kasmaran. Hati yang berbunga-bunga ditunjukkan dengan senyum yang tak pernah luntur dari wajah keduanya.
"Wah wah wah, Indahnya masa muda hihihi" ucap Kushina tiba-tiba.
Karin yang melihat ibunya datang tiba-tiba langsung melepas pelukannya di lengan kiri Naruto. Ia masih merasa risih, dan malu jika mengumbar kemesraan di depan ibunya, yah walaupun ibunya sangat mendukung hubungan sedarah ini.
"Kenapa dilepas pelukanmu Karin-chan ? Apa Kaa-chan mengganggu ?" tanya Kushina saat melihat Karin yang melepaskan pelukannya tiba-tiba.
"Ah.. Ti-tidak Kaa-chan. Aku be-belum terbiasa sa-saja" ucap Karin tergagap, jujur ia sangat malu saat ibunya melihatnya begitu manja kepada adik sekaligus kekasihnya itu.
"Kaa-chan mengganggu saja" gumam Naruto yang ternyata masih bisa didengar ibunya.
"Kau bilang apa Naru-chan~ "
Naruto yang berucap dengan nada pelan mampu terdengar oleh Kushina. Saat Naruto melihat ibunya, senyum canggung terlihat di wajah Naruto. Ibunya yang tersenyum misterius kini terlihat menakutkan, ah maaf maksudnya sangat menakutkan. Mata memicing, seringai kejam, rambut merah yang melambai-lambai menjadi 9 bagian, yah inilah mode 'Red Head Habanero'.
'Nasi goreng, campur, kuning, liwet, mie bakso, mie ayam, mie aceh, mie apa saja
Roti cane, rica-rica, semur, tumpang'
"Na-nada deringmu Kaa-chan ?" tiba-tiba terdengar nada dering panggilan masuk yang terdengar aneh. Bahasa yang tak Naruto mengerti.
'Saya sudah lapar
Aku lapar . Aku lapar. Aku lapar par par par
Aku lapar
Wahuuuuuuu . Aku la..'
Klik!
Dengan cepat Kushina mencari smartphone nya dan mengangkat panggilan masuk.
"Yaa Mina-kun ?"
"..."
"Ha-ha-ha, kau bercanda kan ?"
"..."
"..."
"Ba-baiklah, tunggu saja di sana"
Tutt Tutt!
"Kenapa nada dering panggilan masukmu aneh Kaa-chan ?" kali ini Karin yang mulai terheran-heran dengan selera musik ibunya itu.
"Heee ? kau tak tau lagu itu Karin-chan ? Padahal lagu dari Fransoa itu sedang booming beberapa minggu ini"
"Tapi.. Sudahlah, Kaa-chan akan pulang malam Ini"
"Kenapa cepat sekali Kaa-chan ?"
"Tidak bisakah menginap saja malam ini Kaa-chan"
Naruto dan Karin terperanjat saat ibunya mengatakan akan pulang malam ini juga. Padahal baru siang tadi ibunya baru sampai, tapi sekarang sudah akan pulang.
Naruto dan Karin bukan kaget karena ibunya yang pulang, tapi jarak Amerika-Jepang itu memakan waktu lebih dari 12 jam Dengan pesawat terbang. Dan malam begini ibunya bilang akan pulang, Hey anak mana yang tak khawatir.
"Maaf Naru-chan, Karin-chan, tapi Kaa-chan memang harus pulang. Kaa-chan juga sudah memesan tiket pesawat kok" jawab Kushina.
"Yasudah kalau Kaa-chan memang mau pulang, tapi ayo kami antar ke bandara. Aku tak mau Kaa-chan kenapa-napa" ucap Naruto bersiap menggunakan jaket dan sepatunya.
"Eh tak perlu Naru, Kaa-chan sudah memesan.. Me-memesan taksi.. Ya taksi online" jawab Kushina gelagapan.
"Tapi Kaa-chan.." gumam Karin.
"Karin, Naruto! Jangan membantah Kaa-chan!"
Nyali Naruto dan Karin tiba-tiba ciut mendengar nada tegas dari Ibunya itu.
"Tapi bagaimana jika.."
"NARUTO! Mau Kaa-chan kutuk jadi perempuan ? akan Kaa-chan dandani kau sepuas Kaa-chan... mau ?" lagi-lagi Kushina memotong perkataan anaknya. Naruto tak bisa tak membantah perintah mutlak ibunya itu. Seorang Namikaze Minato saja takluk, apalagi Naruto Hahahaha Red Head Habanero Style.
"Ti-tidak Kaa-chan"
Jawaban itu seperti tercekat di tenggorokan Naruto, ia tak bisa berbuat apa-apa jika ibunya sudah dalam mode ini.
"Bagus, Kaa-chan pulang dulu yaaa.. Jangan lupa buatkan Kaa-chan cucu yang lucu Naru-chan Karin-chan!
Ucapan itu menjadi salam perpisahan dari Kushina, ia segera berlari meninggalkan Karin dan Naruto yang mematung mendengar kata-kata terakhir ibunya.
"Cucu yang lucu.." gumam Naruto.
Karin yang mengerti maksud ibunya menunduk malu, wajahnya kini memerah hampir menyamai warna rambutnya. Karin berjalan mundur perlahan, tanpa suara berharap Naruto masih tak mengerti dengan kata-kata terakhir ibunya.
Seringai mesum Naruto nampak saat otaknya berhasil memproses dan menemukan makna dari kata-kata ibunya tadi.
"Nee...chaan" ucapan Naruto tiba-tiba melemah dibagian akhir saat melihat kakaknya sudah tak berada disampingnya. Tak lama kemudian terdengar..
Krieeet..
Blaaam!
Cekleek Cekleek..
Karin berhasil lolos, parahnya pintu kamar ia kunci sehingga Naruto tak bisa masuk ke kamar.
Tok Tok Tok!
"Nee-chan kau tak serius membiarkan ku tidur di sofa kan ?
"Nee-chan kau tega membiarkanku tidur di so.."
"OYASUMI NARU!"
Kata-kata Naruto terpotong oleh ucapan selamat malam Karin, yaah terpaksa malam ini Naruto harus merasakan nikmatnya tidur di sofa.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
T
B
C
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Catatan UzumakiIchie ^_^
Yooossh UzumakiIchie balik, yaah mungkin masih membekas untuk chapter kali ini. Tapi saya ada bocoran untuk chapter depan, Chapter 3 akan berisi flashback yang panjang.
Itu ajah bocoran untuk chapter depan, saya nggak bisa ngasih lebih. Yaaa supaya reader-san penasaran ajah Hehehe.
Disini Naruto nggak punya adik, Naruto itu anak bungsunya Minato dan Kushina. Untuk masalah pair untuk saat ini masih Karin ajah yang jadi pendamping Naru, soalnya bakal akan da cerita penjelasan tentang sejarah klan Namikaze, perjalanan Naruto di dunia supranatural, dll.
Pair nanti akan jalan datang sendirinya, tapi saya juga akan mengupayakan usulan-usulan pair dari reader-san sekalian.
Mohon Review untuk chapter ini, Semua masukkan akan saya tampung jika sejalan dengan alur fic ini.
RnR ?
.
.
UzumakiIchie Pamit ^_^
See You Next Time
Sayonara ttebayou ^_^
