Syuuurrr…syuuurrr…grek gerk!

Pagi di kediaman Hyuuga bukan main sibuknya. Salah satunya sedang sibuk mengaduk semen. Keringat bercucuran, membasahi kaus dalamnya yang kumalnya bukan buatan. Sementara di ujung sana, bocah berambut kelabu itu sedang sibuk memasang batu bata, sembari merutuk panjang pendek. Bibirnya maju sekitar 5 senti (yah, kira-kira lah…).

" issshhh…anak kepala klan ganti profesi jadi kuli…." Omelnya sambil memasang batu bata ke 7. Ya, Hazuki sedang membantu ayahnya untuk memperbaiki buah perbuatannya kemarin. Tangannya yang mungil mengangkat batu bata seberat 3 kilogram dengan perlahan. Namun sang ayah memanggilnya.

" Hazuki, ambilin handuk ayah dong!" Hazuki menoleh. Matanya menatap tajam pada sosok kumal yang sedang memegang adukan semen.

Ayahnya, Nezu, terlihat sama kumalnya dengan Hazuki. Kausnya yang belepotan semen terlihat kontras dengan kulit putih pucatnya. Bibirnya menyunggingkan senyum merayu, hal yang paling dibenci oleh Hazuki. Dengan terpaksa Hazuki meletakkan kembali batu bata yang tadi dipegangnya, kemudian segera ke dalam untuk mengambil suruhan ayahnya.

Di dapur..

Terlihat sesosok barambut kelabu sedang asyik berkutat di depan komputer (eehhhh…maksud saya kompor-,-). Tangannya yang putih sibuk mengaduk masakan di depannya. Dengan riang, sosok itu memasak sambil bernyanyi kecil.

Mau makan, teringat padamu…

Mau tidur, teringat padamu…

Mau mandi, teringat padamu..

Di hatiku…

Hazuki terkejut, kemudian segera mencari asal suara tersebut. Kakinya melangkah kearah dapur dan tahulah ia siapa makhluk yang bernyanyi dengan riang tersebut . Hazuki merinding.

Sejak kapan ibu suka lagu dangdut?

Tsubaki yang masih asyik memasak, terus menyanyikan lagu dangdut jadul itu dengan asyiknya, walaupun tanpa ada penonton di sekitarnya.

Eeiitttssss…..salah besar.

Neji, yang kini menjadi edo tensei, duduk setia mendengarkan nyanyian menantunya dengan sabar. Tangannya menopang dagu, lalu matanya menatap menantunya dengan pandangan kagum. Bibirnya bergumam lirih.

Kok, anak gue bisa-bisanya dapet bini unik kayak gini ya?

Tsubaki yang telinganya tajam, menoleh sambil menatap riang pada ayah mertuanya.

"apa yah?"

Neji tergagap.

" eehh..ngga-engga, udah sana masak lagi…"

Tsubaki mengangkat bahu, kemudian melanjutkan aktifitasnya. Hazuki yang mengintip dari pintu dapur, cuma menggeleng-gelengkan kepala sambil membatin sedih.

Ya ampun kakek….kasian amat..

Lalu Hazuki kembali melangkahkan kakinya menuju kamar, untuk mengambil handuk ayahnya.

Siang terik.

Panasnya membakar sampai ke dalam kulit. Orang-orang yang meneruskan pekerjaan Nezu merutuk tak keruan di batinnya, mencela sang ketua klan yang seenaknya menimpakan pekerjaan senista itu pada mereka.

Hazuki yang baru selesai mandi mengibas-ngibaskan rambutnya yang panjang. Persis iklan shampoo sunsilk. Kemudian terdengar suara parau kakeknya memanggil.

" cucu, ayo kesini, kita makan…."

Hazuki menyahut.

" sebentar kek, baru mau selesai nih…"

Tak lama, mereka berkumpul di meja makan. Ada Nezu, Hazuki, juga si Edo tensei Neji Hyuuga. Tsubaki sedang sibuk membuatkan es untuk para pekerja malang di depan sana. Setelah itu, ia bergabung dengan suami dan anaknya.

" eh kakek, kalo gasalah dulu kan ada perang, iya kan?" tanya Hazuki sambil memakan dada ayamnya yang tinggal setengah. Nezu melotot. Kakinya menendang lutut Hazuki di bawah meja makan. Hazuki meringis.

" habiskan dulu makananmu, baru bicara…" ujar Nezu ketus. Hazuki melayangkan death glarenya pada sang ayah, namun dibalas dengan tatapan ekstra pedas. Nezu membatin, resah melihat kelakuan putra tunggalnya itu di meja makan.

Apa aku kurang mengajarkan sopan santun ya pada Hazuki?

Neji yang memperhatikan tersenyum geli, melihat ayah dan anak itu saling beradu tatap dengan ganasnya. Nasi yang dihidangkan Tsubaki kalah menarik dari pertunjukan konyol Nezu-Hazuki. Kemudian adu tatap itu bubar setelah Tsubaki menyiramkan air es di kepala mereka berdua.

" di ruang makan jangan bertengkar…" kata Tsubaki ringan. Kemudian wajahnya beralih pada ayah mertuanya.

" sepertinya yang ditanyakan Hazuki benar. Bagaimana ceritanya?" tanya Tsubaki dengan lembutnya. Neji nyaris meleleh melihat menantunya, namun tidak jadi ketika melihat aura putra bungsunya menyala bagaikan api neraka.

" ehm…"

" eehhh….iya iya, hmm…." Ujar Neji mengingat-ingat. Semua menatap pada makhluk edo tensei itu.

" waktu itu…aku masih berusia 17 tahun,"

Semua penasaran. Tiba-tiba saja Neji berubah menjadi pendongeng yang ulung.

50 tahun lalu…

" Naruto, gunakan Fuuton-mu! Biar kami yang mengalihkan perhatiannya!"

Tenten bersiap menyerang, ia membuka gulungan senjatanya dan mengeluarkan isinya. Naruto duduk bersila, mengumpulkan cakranya. Sementara Neji dan Lee, serta pasukan yang lainnya berusaha mengalihkan perhatiannya.

" oke aku siap!" ujar Naruto sambil membawa futon-nya. Neji mengangguk. Ia bersama pamannya bersiap. Kemudian serangan dijalankan. Namun..

" aarrggghh!" Naruto terpental jauh. Juubi milik Madara memang kuat. Shikamaru yang menyusun strategi pun mulai kewalahan.

" cciissss….gagal maning, gagal maning…" katanya. Ino yang disebelahnya terbelalak.

" hee!? Sejak kapan kau bisa bahasa jawa?!" seru Ino. Dengan tampang malas-malasan, Shikamaru hanya mengangkat bahu.

" ngikutin author aja…" . Chooji bertepuk tangan. IQ 210 memang tak bisa diremehkan. Ino yang kesal melihat kelakuan Chouji melibasnya dengan shintenshinnya, menyuruhnya diam.

Sementara, di garis depan…

….,

Tok, tok!

Semua terkesiap. Zaman telah berganti ternyata. Dengan malas, Tsubaki bangkit dari kursinya, melihat siapa tamu gerangan.

" Hazuki-sama ada?"

Sesosok gadis kecil berambut sebahu berdiri di hadapannya. Tsubaki tersenyum. Itu anak didiknya di sekolah ninja medis.

" masuklah.."

Tsubaki menuntunnya menuju ruang makan. Semua orang di ruang makan menoleh kearah pintu. Tampak seraut wajah manis khas anak SMP muncul didepan mereka. Neji memekik.

" anak Hiroshi ya?"

Gadis itu terbelalak. Kemudian mengangguk takzim. Nezu dan Hazuki melongo, melihat reaksi Neji yang se-histeria itu.

" bukan, ia anak Hyugo, putra Hiroshi…" kata Tsubaki. Neji mendesah kecewa.

" oohh…kirain, "

Himeka gemetar ketakutan saat ditatap Neji. Hazuki segera bergeser. Kini Himeka duduk di sebelah Neji dan Hazuki.

" wah, ada perlu apa nih, calon mantu?" ujar Nezu manis. Himeka merona. Hazuki menginjak kaki ayahnya dengan gemas, lalu menatap Himeka dengan pandangan heran.

" ada apa, ?"

" ngg…anu, saya mau menyerahkan tugas sejarah, Hazuki-sama.." ujarnya sambil menyerahkan buku tulisnya. Kemudian tatapannya beralih ke Neji.

" enng…anda kenapa bisa mengenal kakek saya?"

" tentu saja, ia teman baikku…rival waktu dulu..hahaha. apa ia masih hidup?" tanyanya retoris. Himeka menggeleng. Neji mendesah kecewa.

" yaahh…angkatan ku sudah habis rupanya…hmm…" gumamnya. Hazuki meneliti PR sejarah Himeka, kemudian mencolek bahu Himeka. Himeka menoleh.

" eh, apa ada yang kurang?" tanya Himeka. Hazuki menggeleng, kemudian mengangguk, lalu menggeleng lagi. Himeka dibuat bingung olehnya.

" enggg…sebenarnya sih oke, tapi kayaknya ada sesuatu yang akan diungkap oleh saksi hidup kita ini. Iya kan kakek?". Neji mengangkat alisnya. Himeka terkejut.

" eh, apa anda juga hidup di zaman perang ninja waktu itu?" tanya Himeka kagum. Neji mengangguk sambil tersenyum. Himeka membuka buku paket sejarahnya. Di sampulnya tertulis "sejarah ninja dari zaman ke zaman". Neji menggeleng-geleng heran menatap buku itu.

" ya. Ada anda. Neji Hyuuga, ikut serta terlibat dalam perang ninja yang disebabkan oleh Madara Uchiha dan Obito Uchiha. Namun anda…" bacaan Himeka dipotong oleh Neji.

" bukunya yang nulis si Shikamaru ya?". Himeka mengangguk. Neji cuma tersenyum kecil.

" buku itu agak benar, namun ada sesuatu yang ketinggalan, ia menulisnya kurang teliti, dan yang mengetahui rahasia Madara hanya aku dan Naruto…"

" lalu, apa yang sebenarnya terjadi?" Himeka semakin penasaran. Hazuki memajukan duduknya, merapat pada Himeka, yang sebenarnya ingin mendekati kakeknya. Tsubaki dan Nezu memasang telinga. Neji tersenyum. Batinnya mendesir, terharu melihat ekspresi sang cucu dan anak-menantunya.

Akhirnya berasa juga jadi kakek….

Neji kemudian membetulkan letak duduknya, kemudian menjelma lagi menjadi pendongeng.

Para ninja di garis depan bersiap. Serangan kedua mulai dilancarkan. Kali ini yang menjadi pengalih serangan kelompok Hyuuga. Neji dengan beringas menghajar Juubi, monster milik Madara.

" Neji! Kau coba naik keatas! Biar Juubi ini aku dan Chouza yang urus!" ujar Hiashi. Neji mengangguk, kemudian melompat. Dibelakangnya ada Naruto yang mengincar target yang sama.

" Naruto, biar aku yang mengalihkan perhatiannya, kau lempar rasen shurikenmu padanya setelah kuberi kode!" Naruto mengangguk.

" hati-hati!" sahut Naruto. Neji melesat menuju Madara. Kini untuk pertama kalinya byakugan VS sharingan satu lawan satu. Madara tersenyum pada Neji. Neji bersiap untuk kemungkinan terburuk. Chakranya kini berkumpul di tangannya. Namun ia terkejut setelah mendengar gumaman Madara.

" kau ganteng juga ya…". Neji melongo. Batinnya bergidik ngeri.

Astaghfirullah, apa gue ga salah denger?

Madara tersenyum manis padanya, walau ia pun bersiap untuk bertarung. Neji menguatkan diri.

Gapapa, gue salah denger…jangan takut,..

Langkahnya mantap berlari menuju Madara. Pertarungan seru pun terjadi. Juuken Neji nyaris mengenainya, namun dengan cepat Madara menghindar. Setelah itu Neji melompat mundur. Ia bersiap untuk jurus yang lebih tinggi. Madara masih tersenyum-senyum sambil menatap Neji, yang membuat Neji sendiri merinding bulu kuduknya.

Apa si Madara homo yak? Hiii…

Madara giliran maju. Neji bersiap dengan juukennya. Kini keberuntungan berpihak di sebelah Neji. Juuken-nya tepat mengenai dada Madara. Namun, itu membuatnya terkejut luar biasa.

Eh?!

Dengan cepat, Neji memberikan kode pada Naruto. Naruto yang mengetahui kode Neji mulai bersiap melemparkan rasen shurikennya. Tak disangka…

" HENTIKAN NARUTO!"

Naruto menoleh. Kini terlihat sosok berbaju komon putih serta berikat pinggang tambang besar. Matanya terbelalak.

" Sasuke? Ngapain di sini?"

Sasuke melompat menuju Naruto. Naruto masih berdiri di tempatnya semula. Neji hanya terbelalak. Madara serta Obito terdiam. Mata mereka berdua berkaca-kaca. Sasuke tersenyum riang.

" nenek! paman!"

Neruto dan Neji bengong. Neji yang sejak tadi curiga mulai shock luar biasa. Batinnya berdesir ketakutan.

Be-berarti…..

Sasuke masih berpelukan dengan dua orang terkasihnya. Madara menangis terharu.

" akhirnya cucuku, pulang juga…". Sasuke melepaskan pelukannya. Ia tersenyum pada Madara.

" sudah ya nek, aku tobat ga bakal kabur lagi, sudahi saja perang ini…toh aku sudah pulang..ya?" bujuk Sasuke manja. Madara tersenyum lembut sambil mengangguk. Kemudian ia bersiul, memanggil Juubi, lalu sambil bergandengan tangan, mereka bertiga pulang dengan juubi yang mengikuti mereka layaknya anjing. Sebagian yang di medan perang sweat drop, sebagian bernafas lega. Shikamaru cuma tersenyum kecut, sambil mendengus sebal.

Capek-capek mikir strategi, akhirnya gini doang…

Neji semakin ketakutan setelah melihat Madara mengedipkan sebelah matanya ke arahnya.

….,

" jadi, perang itu karena hilangnya Sasuke Uchiha dari rumahnya, begitu?" tanya Himeka heran. Neji mengangguk. Hazuki, Nezu dan Tsubaki hanya tercengang mendengar kenyataan yang sebenarnya. Himeka membolak-balik buku paketnya. Tiba-tiba Nezu melompat dari kursinya.

" tunggu dulu! Tadi ada cerita yang agak janggal !" seru Nezu. Neji bersiap mendengarkan putranya.

" kalo gasalah, Sasuke memanggil Madara dengan sebutan nenek, jangan-jangan dia…"

Neji mengangguk. Semua semakin terkejut.

" ya…."

Nezu dan Hazuki menelan ludah. Himeka masih terus membolak-balik bukunya.

" Madara adalah seorang wanita…"

Semua membatu, kecuali Himeka yang masih membolak-balik buku sejarahnya.