General Warnings: AU, canon divergence, language, violence, Naruto-centric, Emotionless Naruto, Root Naruto. And of course, OOC Mc.
Summary: Tiba di dimensi yang lain akibat kesalahan jutsu Obito, Uzumaki Naruto , anggota ROOT, mencoba untuk mencari jalan pulang kembali ke tempatnya ia berasal. Segala cara akan ia gunakan agar dapat kembali dengan selamat ke dunianya.
Author note: co-writer: Kristoper si Mario teguh.(Kristoper21)
Kristoper21: Politik balas budi. Karena ada bagian yang memang khusus untuk saya.
P.S: Saya sudah membuat polling mengenai pairing. Jika kalian bersedia, silahkan buka profil saya dan pilih menurut apa yang kalian suka. Karena dengan itu, saya berharap dapat dibantu dalam menyelesaikan masalah ini.
Chapter 2: How?
Jam istrahat pertama terdengar dengan keras hingga satu sekolah mendengar semua itu. Hyoudou Issei menutup buku pelajarannya kemudian memasukkan semua peralatan belajarnya ke dalam tas, termasuk pulpen dan semua yang berhubungan dengan alat tulis. Satu alasan jelas mengapa ia melakukan hal itu adalah agar barangnya tidak hilang. Bukan berarti satu kelas ada yang tangan panjang, namun karena betapa mudahnya barang-barang itu hilang. Dirinya masih ingat hal itu, padahal pulpennya masih ada di meja, eeh... satu menit berpaling sudah tidak ada lagi.
Dengan kedua tangan sebagai penahan dagu, Issei melihat sekelilingnya dengan mata setengah terbuka. Teman sekelas yang lewat selalu menjadi perhatian, ya...atau tepatnya perempuan yang lewat. Issei bersyukur di dalam hati karena memilih masuk Akademi Kuoh. Kenapa? Jika dilihat dengan teliti, kecantikan dan aset yang dimiliki para sisiwi sekolah ini jauh di atas rata-rata dengan Sekolah-sekolah lain yang ia lihat. Ya..tapi meskipun dipenuhi dengan gadis-gadis cantik, hanya satu yang menurut Issei Ratu dari segalanya. Gremory Rias. Jika dilih-
"Hyoudou-san."
Jika dil-
"Hyoudou-san."
Jika-
"Hyou-"
*BRAK!*
"Apa sih!? Apa kau tidak lihat aku lagi sibuk membayangkan Opp-" Sebelum kata-kata itu menjadi satu, Issei menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Dengan sedikit gugup, ia mencoba menoleh sekelilingnya, dan tatapan jijik dari teman sekelas sudah menjadi sarapannya di jam istrahat pertama. Issei hanya melemaskan tubuhnya hingga dirinya menjadi bungkuk. Nasib ...nasib. Mengingat kembali ada orang yang memanggilnya, Issei mengarahkan pandangannya untuk melihat sosok tersebut. Uzumaki Naruto.
Sosok terakhir yang ingin ia lihat di kelasnya. Meskipun begitu, Issei mencoba untuk berbicara dengan netral. Tidak baik langsung marah tidak jelas kepada murid baru yang ingin berbincang dengannya. Hanya karena memiliki wajah yang cukup tampan bukan berarti dirinya harus membenci semua orang. Kecuali orang di depannya ini kelakuannya seperti Kiba si Casanova. "Y-Ya Uzumaki-san?" Issei mengumpat di dalam hati, gagap secara tidak jelas. Memang itu tidak bisa disalahkan, tatapan sosok di depannya memang sedikit tidak nyaman untuk dilihat. Issei tidak tahu bagaimana menjelaskannya, tapi memang dari tatapan itu perasaan aneh perlahan muncul.
"Aku minta maaf jika aku mengganggu kesibukanmu tadi, Hyoudou-san."
Issei memiringkan kepalanya melihat dan mendengar bisikkan dari teman sekelasnya. Sudah tahu apa isi bisikkan itu, Issei mencoba menghiraukannya; hal seperti ini sudah biasa baginya. Lagipula mentalnya sudah menjadi mental baja menerima ejekkan akibat hobi yang ia jalani. "Ah..tidak apa-apa. Seharusnya aku yang harus minta maaf karena telah berteriak tidak jelas seperti tadi. Aku tidak bermaksud begitu. Sungguh." Issei menundukkan sedikit kepalanya sesaat mengatakan maaf tersebut. Secara baru sadar, Issei mengangkat kepalanya dan menatap Naruto dengan tersenyum, "Jadi apa yang bisa kubantu?"
"Bisakah kamu membantuku mengenalkan tempat-tempat yang penting mengenai sekolah ini? pada awalnya aku akan menjelajahinya sendiri. Tapi...aku tidak mengira Sekolah ini ternyata sebesar itu, tadi saja aku hampir tersesat saat pertama kali aku menginjakkan kaki ke tempat ini." Naruto berbicara dengan tersenyum.
Pemuda berambut cokelat itu menggaruk kepala belakangnya. "Bukankah itu tugas Ketua kelas atau OSIS? Mereka lebih tahu struktur sekolah ini daripada aku."
Naruto tetap dalam wajah tersenyumnya. "Ketua kelas kita lagi sibuk dengan rapat harian. OSIS, aku kurang mengenal mereka. Lagipula kita 'kan satu kelas? aku ingin mengenal lebih baik orang-orang yang akan menjadi teman satu kelasku selama satu tahun kita bersama. Tapi, jika kamu tidak bisa, tidak apa-apa. Aku bisa mencari orang lain." Sesaat mengatakan itu, Naruto membalikkan badannya, untuk pergi ke orang lain. Namun, tangan yang berada di bahunya memberhentikannya dari langkah yang akan ia ambil.
"Serahkan padaku."
Naruto melirik Issei, yang saat ini berlinang air mata dengan wajah terharu. Issei kemudian mengusap air matanya, "Kau orang yang baik, Uzumaki-san. Mau berteman denganku yang dijauhi orang ini. Tapi tidak apa-apa, serahkan padaku semuanya!" Issei mengepalkan tangannya ke dada. "Aku akan memberitahumu semua mengenai sekolah dan tempat penting lainnya hingga kau hapal semua seluk beluk sekolah tercinta ini. Aku juga akan memberitahumu tempat rahasia yang hanya diketahui olehku!"
Naruto hanya memberikan senyum.
*Kau dan senyum palsumu.* Kyuubi yang berada di tubuh Naruto kemudian berbicara menunjukkan keberadaanya. *Kali ini apa rencanamu, Naruto? Berusaha dekat dengan mereka dan kemudian melakukan observasi?*
'Memang begitu, bukan?' Naruto membalas lewat kontak batinnya. Sekaligus memasang muka 'peduli' mendengar deskripsi Issei mengenai kehebatan Akademi Kuoh agar tidak dicurigai. 'kita tidak akan tahu sebelum kita mencoba. Ya...kurasa kau benar. Aku akan mencoba mendekati mereka dengan cara begini dan kemudian memulai hubungan. Tidak terlalu dalam, namun sekedar mereka memandangku sebagai teman. Dari situ aku baru bisa memulai pekerjaanku. Jika aku tiba-tiba mengobservasi mereka meskipun diam-diam, maka resiko akan ketahuan ada. Kita tidak tahu bagaimana kekuatan mereka dan cara kerjanya. Bayangkan jika mereka mempunyai kekuatan untuk merasakan sekitarnya yang lebih tinggi daripada kekuatan kita? Lebih baik bermain aman seperti ini.'
*Dan suatu saat kau akan menusuk mereka dari belakang.*
Ekspresi Naruto terjatuh sedikit. 'Apa maksudmu? Aku tidak mengerti... Mereka bukan musuh kita, bukan? Tidak ada yang memerintahkan kita untuk membunuh pada saat ini; dan mereka juga bukan musuh Desa kita. Mengapa aku harus mengkhianati mereka? Azazel hanya memberikanku perintah untuk mengobservasi perkembangan mereka, dan juga pencapaian kekuatan masing-masing Iblis muda itu. Hanya itu saja.'
*Kau terlalu mempercayai bulu gagak itu. Padahal kau baru saja mengenalnya.* Sambung Kurama dengan sedikit kesal terhadap tuan rumahnya. *-Dan kau juga memberitahu bagaimana kondisi tempat kita berasal.*
'Siapa lagi yang harus kita percaya? Kita orang asing di dunia ini. Mau tidak mau aku harus mempercayai seseorang. Seperti aku mempercayai dirimu pertama kali, meskipun Danzo-sama mengatakan kamu makhluk buas yang tidak bisa berpikir. Tapi kenyataannya jauh berbeda; kau pintar. Kau kuat. Dan banyak lagi yang tidak bisa kuutarakan. Kau temanku satu-satunya.' Ujar Naruto dalam hati dengan serius dan tanpa ada kebohongan. Kurama yang mendengar hanya memilih diam, menelan kalimat yang diutarakan Naruto. 'Dan mengenai kondisi tempat kita berasal, aku hanya memberitahu seperti apa yang ditulis di buku pelajaran Akedemi, ilmu yang lazim diketahui anak kecil. Tidak mungkin aku memberitahu dia rahasia-rahasia negara dan Desa kita.'
*Kalau bulu gagak itu mengkhianatimu bagaimana?*
Tanpa ragu dan penuh serius, Naruto menjawab: 'Kita akan memasang kertas peledak di seluruh ruangannya dan kemudian fuinjutsu penghalang yang tertinggi di rumahnya disaat ia tertidur. Selesai. Jika dia lolos, kita hujani dia dengan Bijudama dan Rasenshuriken tanpa habis. Tidak peduli harga yang harus kubayar.'
*Kau memang mengerikan jika seseorang berkhianat, Naruto.*
'Kau sudah tahu dan belajar, Kurama. Dikhianati merupakan perasaan yang tidak...' Naruto mencoba mencari kata yang tepat akan apa yang selanjutnya ia katakan, sejujurnya dirinya tidak merasakan apa-apa ketika seseorang berkhianat. Tapi pelajaran itu sudah melekat di dalam hatinya. Orang yang berhkianat itu tidak baik. '...tidak enak.'
*Terserahmu. Bangun, pemegang burung kecil itu mulai merasa ada yang janggal dari pandanganmu.*
Naruto kembali memusatkan perhatiannya kepada Issei. "Ah, maaf Hyoudou-san, aku tidak memerhatikanmu tadi. Hanya saja ada sedikit masalah yang kupikirkan. Maaf atas ketidaksopananku barusan. "
Issei tampak sedikit tidak nyaman, melihat orang asing itu membungkuk kepadanya untuk kesekian kali. Tapi di dalam hati ia senang, jika ada orang yang bisa sopan kepadanya, setidaknya dirinya juga harus membalas kesopanan itu dengan apa yang ia bisa. "Tidak apa-apa. Oh, ya... sebaiknya kita mulai ekspedisi kita. Karena waktu mungkin tidak cukup untuk mengelilingi bangunan sekolah yang besar ini."
"Roger." Naruto menjawab dengan senyuman.
Issei kemudian membawa Naruto dari lorong kelas, memperkenalkan susunan kelas dan juga perbedaan tempat antara kelas satu, dua, dan tiga. Setelah itu, Issei membawa Naruto juga ke bagian gedung khusus ruangan klub. Diantaranya adalah Klub Fotografi, yang juga salah satu teman Issei masuki. Setelah bagian Klub tersebut, Issei lalu membawa Naruto ke Klub Tennis. Perlu waktu lima belas menit agar Naruto bisa membujuk Issei pergi ke tempat lain, karena Issei telah memasuki pencerahan setelah melihat anggota Klub tersebut yang berlatih. Yang kebanyakan perempuan yang bergerak dengan *Boing-Boing*
Berhasil keluar sebelum pemuda berambut cokelat itu diberi pelajaran, mereka berdua kemudian berjalan menuju Klub kendo. Pada awalnya Issei menolak membawa Naruto ke tempat itu, dan dengan jujurnya mengatakan masih dalam masa panas, di mana ia masih menjadi buronan. Tapi setelah itu akhirnya mereka menuju ke tempat klub Kendo bersarang. Dengan Issei dibelakang Naruto tentunya.
Setelah berhenti di depan pintu masuk ke ruangan berlatih. Naruto dan Issei terhenti di depan pintu, bukan karena pintunya tertutup, tapi karena adanya barikade gadis dengan shinai berjajar. Ekspresinya pun tertuju kepada Issei yang seperti tidak tahu menau menatap ke arah lain.
"Apa yang kau lakukan di sini, Mesum!" satu siswi dengan Shinai siap memukul menunjuk ke arah Issei. "Melangkah dari garis ini.." Untuk menambah efek, gadis itu kemudian membawa shinainya ke permukaan lantai dan menggoresnya. "-Kami akan menghajarmu sampai babak belur!" teriak bersamaan gadis yang mengolah barikade tersebut.
Issei hanya berlindung di belakang Naruto. Kaki gemetar seraya melihat kembali ingatan yang tiba-tiba melintas di matanya. Ingatan yang berisi pukulan dan tendangan di tempat seharusnya wanita tidak menghajar pria.
Serasa menyadari sesuatu, salah satu member klub tersebut menunjuk Naruto dengan Shinainya. "Dan kau! Siapa!? Jangan katakan kau anggota baru dari tiga mesum itu!?"
Naruto hanya tersenyum, meskipun alis matanya sudah mengkerut ke bawah. "Kasar sekali. Aku tidak mengira siswi anggota kendo sikapnya seperti ...ini. kukira mereka akan sopan dan tahu tata krama. Ternyata hanya gadis kecil yang hanya tahu mengayunkan shinai mereka untuk menghajar orang yang kuanggap teman."
Anggota klub itu seperti dibawa kembali akibat kata-kata itu. Tidak bisa bicara dengan tuduhan yang ditujukan. Satu siswi yang berani kemudian maju mencoba membela diri. "Tapi dia!" sambil menunjuk Issei, "Dia merupakan makhluk paling menjijikkan. Setiap hari kami harus berganti patrol saat anak kelas satu mengganti baju mereka. Kami tidak bisa tenang saat itu. Kau tahu!? Anak kelas satu sampai trauma karena tiga mesum ini pernah melihat tubuh mereka saat berganti baju. Beberapa mengundurkan diri karena tidak tahan!"
Issei hanya terdiam di belakang Naruto. Tidak tahu harus berkata apa-apa. 'Jadi alasan mengapa Klub kendo berkurang adalah itu ya...' dirinya hanya mendengar dengan wajah terdiam.
"Kalau begitu aku minta maaf atas kesalahan temanku. Tapi aku yakinkan pada kalian, dia orang yang baik dan jujur yang pertama kali aku temui di tempat ini."
Anggota klub kendo itu tidak percaya apa yang mereka dengar. Seseorang membela salah satu si trio mesum?
"Hei...dia kan murid baru itu." Bisikan terdengar dari samping ketika anggota yang lain melihat pakaian baru dan wajah asing Naruto. Seakan menemukan alasan baru, siswi yang tadi kemudian maju. "Kau murid baru, kan? jangan tertipu dengannya, ini baru hari pertamamu. Jika kau melihat Hyoudou yang sebenarnya kurasa kau juga tidak akan menyukainya. Kau akan menyesal berteman dengannya."
"Jika aku tidak menyukai Hyoudou akan kelakuannya yang baik pada hari pertama aku berjumpa dengannya. Jadi kalian kuanggap apa?"
"..."
"Hyoudou-san sejauh ini merupakan orang yang jujur dan tidak takut mengutarakan mimpinya meskipun orang lain mencerca-makinya. Tapi ia lebih baik dari orang yang bersikap sok baik di depan namun ternyata orang terburuk di belakang wajah palsu itu. Lebih bagus aku berteman dengan Hyoudou-san yang jujur meskipun sedikit berbeda, daripada orang buruk dengan kepribadian palsu yang mungkin akan menusuk dari belakang." Wajah Naruto kini menjadi datar dan keras bagaikan batu, menunjukkan matanya yang dingin. Tidak terasa anggota Klub itu mengambil satu langkah ke belakang setelah melihat ekspresi besi Naruto. Issei hendak menghentikkan Naruto di saat itu. Atau dari awal... dirinya tidak enak ketika orang lain membelanya meskipun ada kesalahan yang ia lakukan itu benar.
"Hyoudou-san, sebaiknya kita pergi dari sini. Kurasa aku kurang berminat dengan Klub kendo yang engkau katakan." Issei yang mendengar itu hanya mengangguk dan melihat seluruh klub kendo yang sudah keluar karena merasa adanya keributan tadi. Tatapan mereka menuju ke arah gadis anggota klub tersebut dan Naruto yang berbicara.
"Ku-kurang ajar." Sepertinya member yang tadi menjadi lawan bicara Naruto tidak menerima akan ucapan yang diberikan Naruto. Telinga memerah dengan marahnya. Tangan sudah bergerak dengan cepat membawa Shinainya ke arah kepala Naruto. Teriakan untuk menghindari keluar dari anggota lain yang tidak tega.
Patah..
Sebelum shinai itu bisa masuk ke zona Naruto. Tangan pemuda itu sudah terlebih dahulu bergerak memegang bagian tengah pedang bambu tersebut. Tenaga yang tidak berarti dipusatkan diantara jarinya dan memaksa tekanan ke arah yang berlawanan. Mengakibatkan struktur pedang tersebut patah tiga arah. Naruto hanya tersenyum melihat ekspresi terkejut siswi kelas tiga di depannya.
"Kebenaran lebih menyakitkan daripada kebohongan."
Naruto berjalan terlebih dahulu tanpa melihat ke belakang. *Apa-apaan tadi itu? Sok keren segala kau. Aku ingin muntah melihatnya.* Naruto yang mendengar omelan dari Kyuubi hanya mengiyakan saja. 'Lihat saja..'
Issei melihat Naruto yang sudah menjauh kemudian menatap kembali ke anggota klub yang masih membeku melihat patahnya Shinai anggota terbaik yang mereka miliki. Dengan membungkuk yang dalam ke seluruh anggota tersebut. Issei kemudian berlari kecil mengejar Naruto.
Kantin.
Naruto duduk di salah satu meja kantin dengan makanan ringan di depannya. Suasana sepi yang terasa bukan karena tidak ada murid yang datang, melainkan karena jam pelajaran untuk selanjutnya sudah berbunyi. Dengan kata lain, Issei dan Naruto yang baru masuk di hari pertama sudah membolos. Naruto dengan senang hati memasukkan cemilan yang berada di depannya ke dalam mulutnya. Dirinya tidak pernah merasakan makanan enak seperti ini. bermacam-macam juga jenisnya sampai ia sendiri bingung. Sejujurnya ini kali pertamanya makan cemilan ringan. Di Konoha hanya disediakan beberapa macam saja. Itupun jarang ia rasakan karena tugas yang menumpuk.
Issei yang berada duduk di seberang Naruto hanya melihat Naruto dan juga cemilan yang berada di depannya. 'Seperti Koneko-chan.' Namun itu bukan yang menjadi apa yang ingin ia pikirkan. Kata-kata ingin keluar dari mulut, tapi lidah bagaikan terikat tidak bergerak. Dirinya tidak tahu mau berkata apa pada saat ini. Menelan rasa ragu-ragu, Issei memutuskan angkat bicara yang pertama kali, mengingat apa yang dilakukan Naruto pada saat tadi. "Uzumaki-san, tadi itu tidak perlu kau lakukan.."
"Hm, Maksudmu? Aku tidak mengerti." Naruto membalas dengan datar, pandangan masih berada di makanan yang berada di depannya. "Kau mau?" Naruto menawarkan keripik kentang ukuran jumbo yang berada di tangannya. Issei hanya menggelengkan kepalanya. "Bisakah kau jelaskan apa maksudmu tadi? Aku kurang paham tujuan pembicaraan ini."
"...Kau tidak perlu membelaku tadi." Dengan nada pelan Issei mengutarakannya, "Saat berada di Klub Kendo. Kau tidak perlu berkata seperti itu kepada mereka. Memang aku dan temanku yang salah dalam masalah ini. Tidak ada salahnya mereka menyalahkanku dan temanku. Kurasa ini memang salah kami karena hanya menjadi pengganggu bagi mereka."
"Apa yang kau katakan, Issei?" Naruto menatap Issei dengan tatapan datarnya, "Apa kau hanya diam saja ketika orang mengataimu seperti itu. Aku tidak mengerti."
"Mungkin aku tidak sebaik yang kau katakan, Uzumaki-san. Mereka benar, kau akan menyesal berteman denganku. Aku tidak ingin merusak reputasimu di hari kedua kau menginjakkan kaki di sekolah ini." Issei menundukkan kepalanya, tangan dikepalkan mengingat kata-kata yang diucapkan senpai Kendo klub tersebut. "Aku dan teman-temanku yang lain memang sering menggunakan Kendo-klub sebagai sasaran kami. Memang sering ketahuan daripada lolos. Dan kami pun terus melakukannya meskipun peringatan dan hal keras lain yang mereka lakukan. Tapi... aku tidak menyangka apa yang kami lakukan membawa hal yang buruk di Kendo Klub. Aku tidak tahu banyak member mereka yang mengundurkan diri... dan kurasa apa yang kami lakukan berdampak pada tim kendo sekolah ini. Dua tahun ini mereka tidak pernah mendapatkan juara dalam kategori apapun. Ternyata..."
Naruto hanya terdiam, melihat sosok di depannya. Dirinya tidak tahu harus berkata apa. Menurut buku psikologi yang ia baca, seharusnya saat seperti ini merupakan hal yang baik untuk mengutarakan kata-kata membangun dan mendukung. Tapi Naruto tidak mengerti, mengapa Issei harus menyesali hal tersebut. Bukannya itu sifat alami manusia untuk tertarik dengan jenis kelamin yang berbeda? terus kenapa klub kendo itu marah...hm, misteri. Misteri.
"Menyesal adalah awal yang bagus." Itulah kata yang tepat mendengar ucapan Issei. "Tapi jangan jadikan penyesalan menjadi penghambatmu untuk ke jalan yang lebih cerah lagi. Aku yakin suatu saat kau akan dimaafkan mereka. Tapi itu jika kau mau merubah dirimu terlebih dahulu." Naruto hanya memberikan senyumnya kepada pemuda berambut cokelat itu.
"Uzumaki-san..."
"Tidak perlu berubah seratus persen. Kau tidak bisa berubah dalam satu malam hanya mendengar apa yang kukatakan. Jika kau merubah aspek apa yang menjadikanmu unik; Aku yakin kau akan merasa aneh sendiri... merasa tidak lengkap karena tidak bisa mengekspresikan dirimu yang sebenarnya. Seperti apa yang kukatakan, lebih baik menjadi diri sendiri daripada meniru orang lain. Hidup apa adanya. Tapi kau juga harus mengerti aspek apa yang membuat mereka marah dan mulai menghormati derajat mereka." Mungkin itu yang benar-benar terjadi? Naruto tidak tahu. Yang ia katakan hanyalah berdasarkan ekspresi yang ia lihat.
"Uzumaki-san, jika kau cewek, aku pasti sudah memelukmu sekarang." Issei tanpa tahu malu mendeklarasikan. Namun hanya di balas Naruto dengan—tidak, terimakasih.—meskipun begitu, Issei menghiraukan itu. "Sebelumnya Aku minta maaf, Uzumaki-san." Issei berdiri dan membungkuk untuk kesekian kalinya. Naruto hanya menaikkan sebelah alis matanya melihat perkembangan yang aneh di depannya. "Aku minta maaf, karena sebelumnya aku berprasangka buruk padamu di hari sebelumnya. Aku kira kau seorang playboy yang akan merebut semua cewek yang ada di sekolah ini, seperti Kiba si casanova. Ternyata aku salah, dan aku menyesal akan hal itu. Kau orang yang baik. Jadi, jika ada suatu hal yang bisa kubantu di lain hari, katakan saja padaku. Aku Hyoudou Issei akan datang siap melayani!"
"Ha...hah...ha." tawa terpaksa terdengar dengan jelas dari mulut Naruto. Tapi, Naruto tetap memikirkan kata-kata Issei. Kebetulan ada sesuatu yang memang ingin ia cari dari pertama kali datang ke dunia atau dimensi ini. "Ah, Hyodou-san, sebelumnya ada yang kutanyakan.."
"Hm?"
"Perpustakaan di mana?"
"...Ah, kita belum ke sana tadi ya." Issei mengangguk-angguk dengan memegang dagunya, "Tapi, Jika kita berkeliaran pada jam segini, pasti guru atau OSIS akan menemukan kita tengah lagi bolos. Kau tahu? Guru di sini agak pemarahan. Lihat aja nih." Issei menunjukkan seragam atasannya yang terbuka menunjukkan kaos di dalamnya. "Guru sudah sering memperingatkanku cara berpakaian yang benar."
"Kurasa itu memang salahmu." Dengan wajah lurus Naruto menyahut balik. "Tapi, tenang saja. Setelah kau mengantarkanku ke perpustakaan, kau boleh pergi. Kurasa aku akan mengambil waktu yang cukup lama di dalam perpustakaan. Aku tidak ingin merepotkanmu lebih lama lagi, Issei-san."
"Issei-san?"
"Ah...jika kau tidak suka, aku akan memanggilmu kembali dengan Hyo-"
"Tidak usah." Issei menjawab dengan cepat. "Kau boleh memanggilku dengan namaku. Jika kau sudah memanggilku dengan nama lahirku, berarti aku juga boleh memanggilmu dengan namamu?"
"Tentu saja. Kita kan teman." Naruto menjawab dengan senyum. Yang tentunya juga dibalas oleh Issei. Tidak lama berlangsung, Issei kemudian membawa Naruto ke perpustakaan, terkadang melirik kiri kanan untuk mengawasi keadaan jika ada guru atau sebagainya. Tidak sampai berselang 5 menit. Kedua pemuda itu sudah sampai di depan ruangan dengan bertuliskan 'Perpustakaan.' Mengucapkan salam perpisahaan, Issei kemudian kembali ke ruangan kelasnya, sedangkan Naruto dengan sedikit alasan berbelit-belit, akhirnya diperbolehkan oleh staff perpustakaan.
Tidak mengambil waktu yang lama, Naruto kemudian mengambil beberapa buku sekaligus dari berbagai macam sudut ruangan dengan subjek yang berbeda; dan menyusunnya di meja baca yang tersedia.
*Apa yang kau lakukan?* Kurama tidak menyembunyikan rasa ingin tahunya, melihat Naruto mulai membaca dengan serius setiap buku yang ia buka. *Apa gunanya kau membaca kumpulan kertas kecil tidak berguna itu?*
'Tentu saja belajar, dan memperdalam ilmu mengenai dunia ini. Subjek pelajaran seperti ini harus kukuasai secepat mungkin agar tidak menjadi penghalang bagi kita di masa depan. Meskipun hanya masalah kecil, tapi menurut keterangan Issei, sepertinya pelajaran seperti ini sangat penting. Kebanyakan orang yang kulihat sangat bertumpu pada subjek pelajaran yang mereka pelajari, seperti kehidupan mereka bergantung pada jumlah ilmu yang mereka kuasai. Jika itu benar, aku tidak bisa ketinggalan begitu saja.'
*Kau terlalu berlebihan... setiap kali kau melakukan misi seperti ini, kau selalu berusaha sekeras mungkin untuk bisa berbaur dengan sempurna terhadap lingkungan sekitarmu.*
'Aku tidak akan puas, jika aku tidak menguasainya sesempurna mungkin. Jika ada kesalahan kecil aku akan mencoba memperbaikinya.' Naruto menjawab lewat mental batinnya, buku tebal yang sudah terbaca kini berada di sampingnya, dan menuju buku yang ketiga. Semua itu dalam waktu 20 menit. Sesuatu yang merupakan berkah bagi Naruto. Karena dirinya terlahir dengan kemampuan mengingat yang jauh dari rata-rata manusia normal. Ingatan fotografis. Memang terdengar menguntungkan... tapi kekurangan pun tidak bisa dihilangkan. Karena setiap misi yang ia jalankan akan selalu tertanam di otaknya dengan jelas. Bagaimana ia menyelesaikannya. Tapi yang paling tidak mengenakkan adalah wajah menderita orang yang ia bunuh terlihat jelas di matanya tanpa bisa ia lupakan.
Staff perpustakaan yang melihat itu hanya menggelengkan kepalanya tidak percaya. Hanya ada dua kemungkinan yang berada di dalam otaknya, yang pertama adalah murid asing itu sedang mencari sebuah informasi penting atau yang kedua, murid asing itu membaca cepat semua buku itu dan mengingatnya secara bersamaan. Tentu saja pengurus perpustakaan itu memilih yang pertama daripada yang kedua.
Naruto terhenti ketika melihat sebuah buku yang sepertinya berbeda dari yang lainnya. 'Hm, cara bermain catur?' Naruto bertanya di dalam hati ketika melihat lebih jelas artikel di depannya, tatapan sedikit bingung sambil membawa artikel itu ke atas dan melihatnya lebih jelas lagi. Dirinya tidak pernah melihat permainan seperti ini. yang ia tahu adalah Shogi, tapi dari gambar yang tertera sepertinya memiliki kesaman dengan Shogi. Tapi perbedaannya juga ada...
*Bisakah kita cari kesibukan yang lain? Aku sudah bosan melihatmu membaca hal tidak berguna ini. Aku tidak mengerti mengapa kalian bangsa monyet mempelajari banyak hal yang tidak berguna.* Gerutu Kurama dari dalam tubuh Naruto, *Aku lebih suka yang berhubungan dengan menumpahkan darah seseorang.*
Dan tentu saja didiamkan Naruto. Dirinya tidak ingin beradu mulut dengan Makhluk sarkastik seperti Kurama dan juga egonya yang sebesar tubuh raksasanya. Ninja dalam penyamaran itu membuka satu persatu lembaran yang tersedia dan melihat cara bermainnya. 'Hm, perbedaannya tidak terlalu jauh. Dalam shogi semua bidak bisa promosi, tapi dalam catur, hanya pion...hm, menarik. Oh ada lagi...'
Mata Naruto menatap sekelilingnya dan terhenti pada sesuatu yang menarik perhatiannya. *Jangan katakan kau akan melakukan apa yang kupirikan,* Naruto berjalan menuju lemari paling sudut, dan meraih sesuatu. Matanya kemudian mencoba mencari sesuatu yang mungkin bisa menjadi kawan bermainnya. *Jangan coba-coba, Narutoo!*
..
"Hei, bisakah kamu menjadi kawan bermainku?" Naruto mengangkat papan caturnya ke dada, dan menatap seorang siswi yang sedang membaca buku dengan seriusnya. Bibir tersenyum terpampang di wajah.
"Tidak tahukah kau aku lagi sibuk?" Gadis itu membalas dengan nada sedikit dingin. Di sini ia sedang mencoba mencari ketenangan sambil membaca buku khusus yang memang ia rencanakan untuk ia selesaikan pada hari ini juga. Karena alasan itulah dirinya mengambil satu mata pelajaran untuk bolos dengan alasan masalah OSIS agar dapat menyelesaikan apa yang ia sudah mulai. Ruang OSIS, keluar dari pertanyaan, karena saat ini masih digunakan oleh anggota yang lain membereskan masalah kecil yang muncul. Perpustakaan yang menjadi pilihan terbaik. Gadis itu kemudian menatap dari atas ke bawah Naruto, serasa tidak pernah mengingat melihat orang ini di dalam sekolahnya. "Dan lagipula kau ini siapa? Aku tidak pernah melihatmu di sekolah ini. Saat ini jam pelajaran, apa kau membolos..?" Nada suara Gadis itu semakin mendingin di setiap detiknya.
Naruto yang seperti tidak berpengaruh, atau tidak menyadari situasi yang ia hadapi pada saat ini hanya tetap tersenyum. "Ah, maafkan aku kurang sopan, seharusnya aku mengenalkan diriku terlebih dahulu, bukan?" Bukan itu yang ingin didengar gadis itu, tapi Naruto tetap melanjutkan. "Namaku Uzumaki Naruto. Murid pindahan baru. Untuk alasan mengapa aku bolos, itu rahasia..." Naruto serasa menyadari sesuatu kemudian menatap gadis itu, "Kau juga membolos, bukan?"
Gadis berkacamata itu seperti ingin menghela nafas lelah, tapi menahannya. Dengan nada netral, Gadis itu mencoba mengimbangi pembicaraan. "Jadi kau murid pindahan baru itu.." Siswi itu kemudian memperbaiki posisi kacamatanya sambil menatap Naruto di mata. "Dan untuk yang kedua, Namaku Shitori Souna... Ketua OSIS."
"Ah.. sepertinya aku ketahuan."
Santai banget. Gadis yang bernama Shitori Souna itu ingin berdiri dan menasehati pemuda di depannya mengenai kebiasan buruk yang mungkin berlanjut jika tidak diperingatkan. Dirinya tidak akan membiarkan kebiasan buruk murid baru dari sekolah lain masuk ke dalam masa kekuasaannya. Ya, masa kekuasaan sebagai Ketua OSIS. Lagipula apa lagi urusan orang ini, tiba-tiba langsung datang seperti itu? Memutuskan untuk tidak ambil pusing lagi, Sona menggunakan tatapan terserius yang bisa ia buat. "Kau tahu, Uzumaki-san... kau sudah melanggar peraturan di hari pertamamu. Itu bukan rekor yang bagus bagi murid baru sepertimu, kamu bisa dikenakan poin yang kemungkinan kepala sekolah memanggil orangtuamu.." Ancaman kecil tidak apa-apa, memang tidak sampai sebegitunya, tapi lebih baik daripada tidak sama sekali.
Naruto memiringkan kepalanya serasa tidak mengerti, "Aku tidak memiliki orangtua. Aku yatim-piatu."
Sona melebarkan matanya, serasa baru menyadari dirinya telah memasuki zona yang terlarang bagi orang seperti Naruto. "A-Aku tidak tahu. Aku minta maaf.."
"Tidak apa-apa, itu sudah hal yang biasa aku dapatkan. Lagipula dari awal kamu tidak tahu, jadi itu tidak bisa disalahkan..." Naruto membalas dengan tersenyum.
Meskipun terlihat merasa bersalah, Sona tetap mengangguk dengan pelan. Matanya kemudian melihat papan catur di depannya dan kemudian Naruto; yang pada saat ini sibuk menyusun masing-masing bidak sesuai urutannya, dengan buku panduan tentunya. Sona menarik nafasnya, melihat tidak ada hal yang penting yang akan ia lakukan, dirinya kemudian membantu Naruto menyusun setiap set. "Untuk kali ini saja. Jika aku melihatmu lagi berkeliaran membolos, aku tidak akan segan-segan memberikan hukuman kepadamu."
"Roger, Kaichou-sama."
Sona hanya menghiraukan nama panggilan baru tersebut. Meskipun ia suka mendengar bagian belakangnya. "Hanya sekali permainan saja, saat kau kalah, aku ingin kau langsung kembali ke ruangan kelasmu dan meminta maaf kepada guru yang saat itu mengajar di depan seluruh murid. Membolos merupakan sikap tidak terpuji yang harus dihilangkan dari sekolah ini." Ya, Sona merasa itu sudah hukuman yang cukup bagus untuk tipe orang santai di depannya.
Iblis muda itu mengambil penampilan pemuda di depannya. Hanya seorang manusia, itulah yang ia rasakan dan tanpa ada maksud jahat atau sebagainya. Rambut pirang alami yang menandakan manusia di depannya berasal dari luar negeri; tapi melihat warna kulitnya, Sona tahu orang di depannya sepertinya merupakan keturunan campuran dengan jepang. Bahasa yang ia gunakan juga sudah lancar tanpa ada logat yang terbawa. Soal penampilan, Naruto memang tidak buruk tetapi juga tidak terlalu tampan. Dengan kata lain, cukup. Permainan ini mungkin tidak akan bertahan lebih dari 5 menit. Tidak ada orang yang bisa menandinginya dalam masalah strategi. Mungkin saja Naruto ini belum tahu akan hal itu, tapi Sona berjanji di dalam hati tidak akan memberi ampun dan membuat pemuda itu mengingat seberapa mengerikan dirinya bermain.
"Saat aku kalah? Ah...Kaichou-san, aku tidak seburuk itu tahu." Naruto komplain ringan dengan wajah tersenyumnya. "Aku bisa kok bermain Shogi."
Senyum yang mulai membuat Sona sedikit kesal. Apa orang di depannya ini tidak memiliki ekspresi lain selain tersenyum? Atau kepalanya pernah terjatuh saat bayi? Pokoknya senyum itu seperti tidak benar pada tempatnya. "Shogi dan Catur memang memiliki prinsip yang sama, tapi juga berbeda. Aku tidak ingin bermain dengan dua peraturan campur aduk yang akan membingungkan; maka dari itu, kau kuperbolehkan memegang buku panduan itu." Bantuan kecil pun tidak apa-apa, asalkan permainan cukup menarik. Sona tidak ingin menghancurkan harga diri lawannya dalam beberapa detik. Jika ia tidak memperbolehkan, pasti orang ini akan komplain dengan alasan -'Aku baru pemula dan sebagainya..'—hal merepotkan yang tidak ingin Sona alami.
"Dan jika aku menang?"
Pertanyaan itu membuat Sona ingin memutar matanya, tapi menahan. Harus sopan. Hal seperti dirinya kalah itu...tidak mungkin bisa terjadi. Mengambil keputusan untuk menghibur orang di depannya, Sona akhirnya berkata: "Kau boleh meminta apa saja."
"Oke, aku harap kau tidak menyesalinya Kaichou-san. Karena aku pasti akan membuatmu kelelahan hingga kau tidak bisa berdiri lagi."
..
..
Sona membuka matanya lebar, apa yang dimaksudkan manusia di depannya sama dengan apa yang ia pikirkan!? Kurang ajar, dirinya tidak akan jatuh serendah itu. Meskipun dirinya adalah Iblis yang bisa menghancurkan manusia lemah seperti di depannya, tapi Sona masih punya kesabaran. "Dalam mimpimu, aku tidak akan jatuh serendah itu. Tidak akan mungkin aku kalah. Aku akan membuatmu menyesali apa yang kau katakan tadi."
Naruto memiringkan kepalanya dengan sedikit bingung, kenapa Kaichou jadi seperti itu? Padahal apa yang ia katakan tadi adalah berhubungan dengan kota baru yang saat ini ia tinggali. Naruto ingin mengenali lebih dekat daerah sekitar sini dan tempat-tempat penting seperti tempat belanja, permandiaan panas dan sebagainya agar kehidupan lebih mudah. Mengingat kota ini cukup besar, pasti Kaichou-san akan kelelahan saat selesai menemaninya keliling kota agar lebih familiar. Jika tidak mau bukannya bisa ditolak?
"Oke... bisakah kita mulai?"
"Aku berikan kau kesempatan untuk memulai duluan." Sebenarnya itu bukan cara yang benar. Melainkan cara cepat untuk menganalisa pergerakan lawan yang bergerak duluan. Namun bagi orang awan, cara seperti ini dianggap seperti keuntungan.
"Oke.." Naruto kemudian menggerakan pionnya.
25 menit kemudian...
Entah mengapa ruangan perpustakaan itu kini sudah dipenuhi oleh orang-orang. Mulut terbuka tidak percaya dengan apa yang terjadi di depan mereka. Anggota OSIS yang lainnya juga berkumpul di situ dengan shock melihat apa yang terjadi. Pada awalnya mereka khawatir tentang keadaan kaichou mereka yang tidak balik-balik padahal waktu sudah menunjukkan jam tepat untuk rapat harian. Memutuskan mendatangi tempat yang sering didatangi Kaichou mereka, Anggota OSIS tersebut menemukan Sona dengan murid entah dari kelas mana sedang bermain catur.
Naruto menghiraukan suasana ramai namun hening di sekitarnya, mata tetap menuju ke buku panduan yang ia baca dan kemudian balik ke papan catur. "Ah, Kaichou-san... dengan ini." Naruto menggerakan bidaknya, kemudian melihat balik buku panduan. "Ini namanya Skakmat, bukan?"
"..." Sona tidak merespon, mata masih melebar melihat papan catur. Orang disekitarnya juga tidak mengeluarkan suara. Mereka tahu siapa Shitori Souna, tahu juga kemampuannya dalam bermain catur. Dan di sini...
"...K-Kau berbohong, bukan?" Sona berdiri dan menuduh. "Tidak mungkin ini kali pertamamu bermain!?"
Naruto merasa ekspresi lawannya sudah berbeda. mengenali ekspresi apa itu, Naruto membalas balilk. "Jangan main tuduh. Aku baru pertama kali main. Selama ini aku hanya bermain shogi, dan tidak pernah bermain catur!"
Sona berhenti menuduh, menarik nafasnya dengan dalam. Dirinya tidak bisa begini, tidak mungkin! Ia menolak kalah. "Sekali lagi! Jika aku kalah... aku akan melakukan apapun yang kau mau!" Pernyataan itu membuat seluruh isi perpustakaan terkejut.
"K-Kaichou!—" Sona melirik Saji, dan langsung memberikan tatapan dingin. "Diam, ini masalah harga diri." Pandangan Sona kemudian menuju Naruto. Berjanji akan mengeluarkan seluruh kemampuannya di sini. Tidak ada tahan diri terhadap amatir yang beruntung itu. Ya, dia pasti hanya beruntung.
10 Menit kemudian.
..
"...Skakmat, iya kan?" Naruto bertanya untuk kedua kali, memastikan kemenangannya kepada orang di depannya.
"..." Mata Sona masih menuju papan catur di depannya, kenyataan pahit sudah berada di depannya, mencoba menghindari ternyata hanya memperburuk situasi. "A-Aku...kalah?" Bahkan nada suara yang ia keluarkan seperti tidak nyata, "Tidak...mungkin. Aku kalah... Aku...kalah."
Naruto tersenyum dan kemudian menuliskan sesuatu di kertas dan memberikannya kepada Sona. "Itu tempat kita bertemu, kebetulan itu tempat satu-satunya yang kutahu, jadi jangan sampai telat." Memutuskan untuk menjadi orang baik, mengingat kemungkinan lamanya waktu mengelilingi kota ini, "Oh, ya... Kaichou-san, aku harap kau menjaga kesehatanmu dan tetap bugar, karena kemungkinan kau tidak akan bisa berjalan dengan benar karena kelelahan."
Suatu komen yang membawa pikiran lain bagi mereka. Naruto tentu saja tidak tahu apa yang ia katakan. *Naruto, kau tahu betapa menjurusnya apa yang kau ucapkan tadi?* Dan dengan kepintarannya, Naruto menjawab 'Apa maksudmu? Aku tidak mengerti.' Dengan begitu, Naruto berjalan keluar perpustakaan, berencana menuju ke kantin untuk membeli persediaan cemilannya untuk dibawa pulang.
Ruangan OSIS
Sona memegang kertas itu dengan tangan gemetaran. Wakil ketua OSIS yang juga merupakan Ratu peeragenya datang kesampingnya mencoba mendapat penjelasan yang lebih rinci agar dapat memecahkan masalah yang dibawa sendiri oleh ketuanya.
"Oh tidak, Kaichou, jangan lakukan ini!" Saji, anggota baru menyahut dengan panik, "Biar aku beri pelajaran Anak baru itu agar tidak main-main. Aku tidak akan membiarkanmu diperlakukan seperti serendah ini!" Anggotanya yang lain juga mengangguk, mereka tidak akan menyerahkan Kaichou mereka begitu saja kepada orang asing yang baru masuk.
"Kita bunuh saja dia, dan kubur tubuhnya dibalik gunung."
"Atau kita jadikan dia campuran semen untuk cor di pembangunan."
"Atau kita hapus saja ingatannya dan kita kubur hidup-hidup."
"Diam!" Sona bernafas dengan berat, menatap pintu yang tadinya tempat Naruto keluar. "Aku tidak akan mundur dari janji yang sudah kubuat."
"Tap-"
"Kita Iblis. Iblis selalu menepati janjinya jika perjanjian sudah dibuat. Aku tidak bisa mengingkari janji begitu saja. Nama keluargaku akan tercemar jika hal aku berkelakuan seperti ini." Sona kemudian menatap papan caturnya, dan melihat ke arah lain agar ekspresinya tidak dilihat anggota peeragenya, "Lagipula... dia mengalahkanku dalam permainan catur. P-Pasti... ia tidak seburuk itu. Dia juga baik, dan murah se-senyum."
Meskipun Sona Sitri mencoba berbisik kepada dirinya sendiri, tapi anggotanya tetap mendengar dengan jelas. Ekspresi mereka kini tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata melihat wajah memerah Raja mereka. Sesuatu yang sangat...sangat jarang terjadi, atau memang tidak pernah terjadi. Tapi jika dilihat lebih ke kiri, tempat Saji, anggota terbaru peerage tersebut. Hanya satu ekspresi yang terukir dengan jelas. Pure Horror.
"TIDAKKKK!"
"Bibi, ini berapa?" Naruto bertanya kepada penjaga kantin dengan menunjukkan seluruh cemilan yang ia beli.
"3000 yen." Sang bibi menjawab dengan pendek. Namun perhatiannya sesaat teralih ketika mendengar teriakan seseorang. Bibi itu hanya menggelengkan kepalanya mendengar itu. Pertama seorang anak kecanduan cemilan dan kedua kebiasaan buruk orang berteriak yang semakin lama semakin sering ia dengar. "Nak, jika kau bertemu dengan orang yang berteriak dengan payahnya itu, aku ingin kau memberinya tendangan di bagian selangkang."
"Roger."
Naruto berjalan melewati gerbang sekolah itu dan bisikkan sudah ia dengar dari mana-mana, meskipun isinya tidak baik, namun ia tetap tersenyum. Ketika sudah cukup jauh dari gedung sekolah itu, Naruto menjatuhkan senyumnya, wajah datar bagaikan seperti tidak tertarik dengan apa saja; Kecuali dengan cemilan yang berada di tangannya.
"Azazel. Buka pintunya." Naruto menggedor-gedor pintu apartemen di depannya untuk kesekian kalinya. Tidak mendengar jawaban dirinya kemudian mengambil cara yang cukup efektif; dengan kaki mundur sedikit, tangan dibawa ke belakang. "Maaf, Pintu-san. Tapi salahkan pria tua itu! ORYAAA!"
*BRUK!*
Naruto menarik tinjunya, dan mengibaskan darah yang berada di kepalannya. Dirinya tidak tahu kalau pintu bisa mengeluarkan darah. Dunia ini memang sedikit aneh. Tapi untung saja, Ternyata orang yang ia maksud sudah berada di depannya, "Kau lama sekali membuka pintu, Azazel-san." Naruto kemudian melihat wajah Azazel dan juga pintu terbuka yang saat ini masih mulus tanpa ada goresan satu pun. Pandangan jatuh ke tangan dan kemudian ke wajah pria di depannya. " Aku minta maaf jika ada hal yang kurang berkenan terjadi barusan. Aku tidak sengaja." Naruto membungkukkan badannya kepada malaikat jatuh itu.
"Itu tadi sakit." Azazel mengelus hidungnya yang sudah berpindah arah, dan dengan menggurutu membalikannya ke arah yang semula tanpa banyak kata-kata. "Tinjumu terbuat dari apa sih? Rasanya seperti ditabrak truk." Bahkan sampai sekarang setelah rasa sakitnya menghilang, Azazel masih bisa merasakan pandangannya masih buram karena menahan tekanan tadi. Jika kepala manusia biasa yang ia punya, tentu saja itu sudah hancur. Untung saja tubuhnya bukan selemah manusia.
"Ayo duduk." Azazel mempersilahkan Naruto duduk di sofanya, dan kemudian kembali ke dapur membawa sesuatu. Dua botol bir besar dengan merk ternama. "Kau mau apa?" Azazel menaikkan botol yang berada di tangannya "Mau bir?"-dan kemudian tangan yang satunya. "Atau mau...bir?"
"Kurasa aku memilih untuk tidak minum."
"Sayang sekali, padahal aku ingin membuatmu mabuk dan kemudian mengerjaimu untuk pukulan yang tadi. Bah... tapi biarlah, masih banyak waktu untuk membalasmu nanti." Pria itu kemudian duduk, serasa tidak apa-apa mengutarakan rencananya kepada Naruto. Membuka tutup botol tersebut, Azazel kemudian mengambil gelas dan menuangkannya ke situ hingga penuh, selesai begitu, ia kemudian menaruh gelas itu di depannya dan meminum dari botol.
"Observasi pertama selesai." Naruto mengambil buku catatan dari tasnya dan menaruh ke meja. Mata Azazel menatap Naruto dan kemudian buku kecil tersebut.
"...Apa ini?"
"Profil Iblis yang kau katakan, aku sudah mencatat semua hal penting yang mungkin berguna seperti yang kau jelaskan beberapa hari yang lalu. Aku menggunakan klon ciptaanku untuk menyebar luas dan mengawasi 24 jam pergerakan dan kebiasaan yang mereka lakukan." Naruto menjawab dengan kedua tangan bersila di bawah dadanya. Tatapan tetap datar melihat Malaikat jatuh yang menyewa jasanya.
Azazel hanya menggeleng-gelengkan kepalanya, kemudian mengambil buku catatan tersebut dan membuka lembaran pertama. Sesaat membuka lembaran pertama, Malaikat jatuh itu kemudian melihat Naruto, "Apa ini tidak terlalu cepat? Aku tidak memberikan batas waktu kepadamu. Yang jelas aku hanya memintanya pada waktu ke depan jika aku membutuhkannya, bukan sekarang." Naruto hanya terdiam mendengar hal itu, Melihat Naruto yang tidak ambil bicara, Azazel melanjutkan apa yang ia baca.
'Hm, mari kita lihat apa yang bisa dilakukan bocah ini...' Pria itu mulai membaca dari baris pertama hingga baris kedua. Kecepatan membacanya pun semakin mencepat setiap detiknya ketika melihat informasi apa yang dibawa Naruto. 'Apaan ini..? perawakan tubuh.. kebiasan.. makanan kesukaan.. jam yang dihabiskan setiap harinya, dan juga apa yang dilakukan targetnya dalam 24 jam penuh beserta alamat tempat yang ia kunjungi?'
Dengan kata lain apa yang dimaksudkan oleh Azazel adalah rincian semua apa yang dilakukan oleh Iblis-Iblis muda tersebut dari pertama mereka bangun dan sampai mereka tidur kembali. Setiap kegiatan yang dilakukan oleh targetnya ditulis terbagi antara jam berapa dan sampai jam berapa selesainya dan terus berlanjut, tidak ada menit yang terlewat. Di bagian akhir tertulis dengan jelas ciri-ciri dan kebiasan yang dilakukan masing-masing Iblis muda tersebut. Tinggi, berat, warna mata dan sebagainya tertulis dengan jelas di catatan tersebut. Tapi meskipun begitu, Azazel menemukan informasi yang sedikit agak melenceng namun tetap saja benar. Alasan itu bisa saja dibuat karena Naruto belum terlalu mengerti dengan Sacred gear, dan juga tipe perbedaan kegunaannya. Meskipun begitu, sepertinya Naruto dapat menyusup dan mendeskripsikan kekuatan masing-masing Iblis tersebut.
"Tapi informasi itu belum akurat." Pernyataan itu membuat Azazel menaikkan alis matanya, belum akurat bagaimana? Ini melebihi dari apa yang pernah ia bayangkan. Apalagi di bagian gadis Iblisnya, tertera dengan jelas ukuran atas tengah dan bawahnya dengan akurat. Sesuatu yang tidak penting, namun juga tidak bisa dihilangkan rasa keingin tahuannya.
"Entah bagaimana, aku tidak bisa mendekat lebih dari seratus meter dari tempat mereka berlatih. Ketika aku datang lebih dekat, salah satu dari mereka seperti merasakan keberadaanku. Aku tidak ingin mengambil resiko dan akhirnya mengambil jarak yang aman. Padahal aku sudah menekan hawa keberadaanku."
"Oh begitu," Azazel tidak menyembunyikan senyumnya ketika melihat wajah bingung dari Naruto. Meskipun ekspresi wajah anak itu tidak berubah sedikit pun, namun dari matanya saja Azazel sudah mengerti. "Mungkin salah satu dari mereka ada yang memiliki Sacred gear dengan tipe mendeteksi sekitarnya. Atau seseorang dari Iblis itu bisa menggunakan Senjutsu."
"Senjutsu?" Pemuda itu menaikkan alis matanya sesaat mendengar teknik tersebut. "Apa maksudmu, Senjutsu yang merupakan teknik dengan menarik kekuatan alam sekitar?"
"Benar sekali, Naruto." Gebernur Malaikat jatuh itu mengangguk kembali. Balasan Naruto tetap pada awal, jangan memanggil namanya seperti sudah dekat. "Tidak jarang ada Yokai yang diubah menjadi budak Iblis. Yokai memang terkenal dengan kemampuan mereka dalam penggunaan teknik tersebut; dan seperti yang kau lihat, Toujou Koneko yang kau intai ini memiliki kekuatan untuk menggunakan Senjutsu. Tapi...seperti yang kukatakan sebelumnya, gadis kecil itu tidak ingin menggunakannya karena masa lalu dan juga bahaya yang ditimbulkan."
"Bahaya? Apa maksudmu jika dia menggunakannya secara salah akan menyebabkan penggunanya menjadi batu?"
"Tidak." Pria itu menjawab dengan sedikit heran, "Jika mereka menggunakan Senjutsu secara berlebihan, maka mereka akan menjadi gila sendiri. Kalau tidak salah.."
Waktu berlalu dengan cepat, Azazel sudah memberikan uang muka atas informasi yang diberikan Naruto. Beberapa kali Pria itu mengajak Naruto untuk minum, tapi dengan datarnya Naruto menolak tawaran tersebut. Sudah tahu apa maksud dari Pria itu terlebih dahulu. Lagipula dirinya tidak akan mungkin bisa mabuk begitu saja, karena ada Kyuubi yang akan langsung menetralisir bahan negatif yang mencoba memasuki tubuhnya. Kurama tidak suka jika tempat ia tinggal dicemari. Mata Naruto melirik jam di dinding dan kemudian berdiri.
"Hei, kau mau ke mana?"
"Aku mau kembali ke Grigori untuk istrahat. Aku punya janji yang harus ditepati kepada seseorang esok."
"Hehehehe... anak muda. Cepat banget kau beraksi. Baru beberapa hari tiba, sudah ada cewek yang kau pikat. Pantas juga sih, kau tau, Kebanyakan anak buahku khususnya yang perempuan menanyakan dirimu."
"Aku tidak mengerti mengapa mereka bertingkah seperti itu. Apa malaikat jatuh juga mengalami masa kawin? Aku tidak mengerti. Lagipula aku tidak memikat siapapun, Souna-san hanya akan menjadi pemanduku dalam menjelajahi kota ini agar lebih familiar."
"Salahmu sendiri menghajar anak buahku. Memang kesalahan mereka sih..." Azazel kemudian memasang muka terkejut, "Serius, Sona Sitri? Naruto... kau terlalu berlebihan..."
"Anak buahmu menghinaku, pada awalnya aku berusaha membawanya dengan jalan damai dan berbicara baik-baik; tapi sepertinya otak mereka terlalu lambat untuk mengerti apa yang kubicarakan. Jadi aku terpaksa menjadi makhluk barbar untuk menyelesaikan makhluk barbar juga." Naruto dengan datarnya menyahut balik, mendengar pernyataan yang terakhir, Naruto menaikkan alis matanya, "Apa kau tidak salah? Shitori Souna, bukan Sona Sitri.."
"Seratus persen, anak muda. Tadinya aku berpikir kau akan membawa gadis cantik biasa yang tidak mengerti dunia supranatural. Ternyata aku salah... tidak hanya berhasil membawa ahli waris keluarga Iblis tersebut, kau juga berhasil akan mengencani adik dari salah satu Maou. Meskipun hanya kencan, namun hal seperti saja akan membuat perhatian dunia bawah tertuju padamu. Khususnya kakaknya yang sedikit... eksentrik." Ucap Azazel sambil mengelus dahinya. "Salah-salah bisa-bisa negara ini hancur jika kau ketahuan mempermainkan hati adiknya."
"Aku tidak mengerti, aku hanya membawa Souna-san memperkenalkanku pada kota ini, tidak lebih tidak kurang." Naruto kemudian melirik ke arah lain, serasa ragu-ragu.. "Meskipun ada satu perkataanku yang membuatnya sedikit aneh.."
"Dan apa itu?- Bisakah kau menjelaskan pada paman tua yang ingin tahu ini?"
Naruto mengingat kembali kejadian itu, tentunya ke bagian percakapan yang membuat Sona memerah padam seperti itu, "Oh.. kalau tidak salah aku mengatakan: Kaichou-san, aku harap kau menjaga kesehatanmu dan tetap bugar, karena kemungkinan kau tidak akan bisa berjalan dengan benar karena kelelahan."
..
..
"Oke. Kamu mau minta ukuran kuburanmu berapa?... Itupun jika tubuhmu masih tersisa."
Naruto melompat-lompat melalui atap rumah di malam hari. Gerakan tidak bersuara satu-satunya yang mengakibatkan tidak ada orang yang merasakan pergerakannya, ditambah juga dengan pakaian yang gelap, membuat hal itu menjadi faktor pendukung. Baru satu minggu di tempat baru ini, masalah baru juga sudah timbul. Dirinya tidak tahu apa lagi yang harus dipikirkan, pekerjaan sudah didapatkan. Lalu apalagi? Bagaimana mencari jejak untuk pulang. Malaikat jatuh itu telah berkata, bahwa bertemu dengan Great Red itu sangat...sangat mustahil. Tidak akan mungkin bisa dilakukan seorangpun atau makhluk apapun kecuali yang memiliki kekuatan yang setara baginya. Great red juga tidak bisa di deteksi di dalam celah dimensi itu yang tanpa ada ujung tersebut.
*Kau ini merepotkan sekali, lagipula kenapa kita harus kembali ke dunia tempat kita berasal? Tempat itu membosankan.* Gerutu Kurama dari kontak batinnya ke Naruto. *Kita tinggal di sini saja, tempat ini lebih menarik.*
'Menarik karena dirimu bisa bertarung, bukan begitu?'
*...Kau pengertian sekali, Naruto. Ya..itu benar. Bayangkan, baru satu hari, aku sudah bisa mengeluarkan kekuatanku untuk menghajar burung putih itu. Sensasi serangan dan kekuatan yang dia keluarkan membuatku ingin keluar dan mencabik-cabiknya hingga tidak ada yang tersisa. Itupun ia hampir memaksaku serius. Di Konoha? Apa yang kita lawan? Mereka semua lemah. Di sini? Bayangkan jika kita bertemu dengan makhluk kuat lainnya. Pertarungan tanpa henti! Akan kubuktikan mereka, aku Kurama berada di atas segalanya, MUAHAHAHAHAHA!*
'Kata-katamu terlalu klise. Kau hanya ingin orang menakuti namamu seperti dahulu. Reputasimu di sini belum ada, sedangkan di konoha kau hanya makhluk buas yang disegel oleh manusia. Katakan saja kau ingin orang-orang menakuti namamu seperti dahulu sebelum manusia bisa menyegelmu.' Ujar Naruto membalas kembali melewati kontak batinnya yang terbuka dengan Kurama.
*Diam kau, Monyet! Diriku tidak terima direndahkan begitu saja. Diriku lebih kuat daripada siapapun di duniamu itu!* Kurama nyahut balik. Memang itu benar, ia adalah makhluk ciptaan Rikudo Sennin terkuat, tidak ada yang bisa mengalahkannya, kecuali Rikudo itu sendiri. Monyet Uchiha itu tidak termasuk. "Jika tidak ada Fuinjutsu itu, kalian yang mencoba menyegelku sudah pasti kuhancurkan bagaikan kecoa.*
'Ya, Kurama-sama, saya tahu anda lebih kuat daripada siapun."
*Akhirnya kau mengerti, Monyet kelas satu. Sembah aku terus seperti itu dan suatu saat aku akan memberimu hadiah.*
Kurama terhenti sejenak, merasakan aura negatif yang menuju dirinya dan tuan rumahnya. Energi dan aura yang ia kenal dari pertama kali masuk ke dunia baru ini. *Naruto, ada orang yang minta dihajar kembali*
Naruto yang mendengar Kurama yang bisa merasakan maksud negatif kemudian mengangguk, menghentikan langkahnya dan melihat ke langit. Sayap energi yang jelas ia kenal membawa sosok itu melayang di udara. Vali, "Apa maumu? Kau belum sembuh dari luka-lukamu tapi kau sudah berani datang lagi ke hadapanku." Dan benar apa yang dikatakan Naruto. Sosok yang bernama Vali itu masih memiliki perban yang mencolok keluar dari bajunya. Tidak hanya di dada, tapi juga di tangan.
"Itu bukan masalah, Uzumaki. Luka seperti ini tidak ada apa-apanya ketimbang sensasi pertarungan beberapa hari yang lalu. Jika tidak karena dimensi itu hancur, kita pasti sudah melanjutkan pertarungan kita sampai mati. Lagipula luka yang kau berikan itu akan sembuh dalam dua hari lagi, jadi itu tidak masalah untuk saat ini." pemuda setengah Iblis itu menjawab dengan nada netral, meskipun ada nada gembira saat mengatakan pertarungan yang telah mereka lewati.
Naruto tetap dalam ekspresi lurusnya, "Bukan itu yang kutanyakan, apa maumu datang menemuiku? Jika itu untuk bertarung aku terpaksa menolak."
*Aaw... ayolah..*
Vali hanya menyeringai, "Padahal aku ingin bertarung lagi, tapi biarlah. Kita pasti akan melanjutkan pertarungan kita di masa depan, seberapa menarik dan menggodanya hal itu, aku juga tidak bisa. Saat ini aku juga lagi sibuk." Pemuda berambut silver itu kemudian merubah ekspresinya menjadi serius, membuat Naruto menjadi lebih serius pula, meskipun tidak bisa dibedakan karena wajahnya tetap datar, tapi tetap saja ia akan mendengarkan apa yang akan dikatakan oleh Vali.
"Aku ingin mengundangmu masuk ke Khaos Brigade. Tepatnya di timku. Tim Vali."
Kolom tanya-jawab.
Kenapa akar judulnya? karena satu kata seperti Akar memiliki makna. Saya tidak suka panjang-panjang judul. Seperti cerita saya yang lain juga, judulnya juga satu kata.
Soal flashback biar lebih jelas, akan saya tuliskan beserta/campur dengan chapter selanjutnya.
Saya juga tidak akan pernah membashing suatu karakter. Terutama Issei. Nggak ada karakter yang sempurna lol.
Sekian dan terimakasih telah membaca dan mereview chapter kedua dari Akar. Jadi yang suka hal seperti ini, silahkan datang dan jika tidak...ya udah. Saya sangat menghargai jika kalian mau untuk meluangkan waktu kalian untuk mereview chapter ini. Dan akan saya balas dengan PM jika ada pertanyaan. Oh ya, jika anda menemukan kesalahan penulisan tolong dibilangkan ke saya. Saya tidak ingin ada di chapter ini cacat satu pun.
Type your review...here.
VVVVVVVV
VVVVVVVV
VVVVVVV
VVVVVVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVVVVV
VVVVVVVVVV
VVVVVVV
VVVV
V
