'Yah... saat ini sudah sebulan berlalu semenjak aku pindah ke Hokkaido kembali, hari-hari ku diisi dengan jambakan dari Kuo-chan. Dan itu sangat sakit... tidak hanya itu terkadang dia juga mencubit pipiku... menjadikan kepalaku sebagai tempatnya bersandar... atau memarahiku habis-habisan... dan itu sangat mengerikan!' jerit Rin di dalam selimut kesayangannya.

Pagi hari yang cerah di Hokkaido, tidak membantunya untuk bangun dari kasur kesayangannya. Apalagi memikirkan 'neraka'nya di sekolah. Hingga suatu suara membuatnya harus bangun dari kasur kesayangannya itu. "Rin! Cepat bangun! Kalau tidak bangun Rin akan ku siram air!" perintah ibunya dari dapur. Mendengar itu, dengan malas-malas Rin keluar dari dalam selimutnya dan terjatuh dari tempat tidurnya, dengan gontai. Rin pergi ke kamar mandi untuk mandi.

Mangangkat tangan untuk meraih kenop pintu dan membukanya, Rin menutup mulutnya yang menguap dengan lengan piyama yang kebesaran, dengan lemas ia berusaha mengambil sikat gigi yang berada diatas meja yang lebih tinggi darinya... tunggu dulu, kenop yang biasa ia buka lebih tinggi darinya? piyama berlengan panjang yang harusnya pas menjadi kebesaran... dan meja yang lebih tinggi darinya?

"..."

"..."

"..."

"AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA AAAAAAAAAAAAH!"

.

.

.

Chapter two : My body?!

.

.

.

"Huam" menguap lebar-lebar, seorang Hatsune Mikuo mencoba menutup mulutnya yang terbuka lebar dikarenakan rasa kantuknya yang luar biasa. Yah, karena ada pekerjaan OSIS yang banyak ia harus bergadang sampai jam dua pagi ia harus bangung setidaknya jam tujuh pagi. Bagi Hatsune Mikuo yang kalau tertidur tidak bisa diganggu, tidur selama lima jam itu tidak cukup.

Setidaknya ia harus tidur selama sembilan jam, termasuk tidur siang.

"Selamat pagi" ucap Mikuo capek, namun tak ada yang membalas sapaannya pagi hari itu, biasanya Rin atau IA, sudah berangkat. Namun kemana mereka hari ini? Ah, pasti mereka sedang malas masuk pagi. Itu yang dipikirkan Mikuo ketika meletakkan tasnya keatas meja sekolahnya, namun tak berselang lama pintu geser kelasnya terbuka, dan menampak seseorang berambut kuning, tapi itu bukan Rin. Itu Len, adik Rin yang tampaknya berbisik-bisik dengan seseorang dibelakangnya. Karena penasaran, Mikuo berdiri dari tempat duduknya dan berjalan kearah Len yang menghadap kebelakang. Dengan santai Mikuo menepuk pundak dan berkata,

"Selama pagi Le... Len siapa anak kecil ini?" tanya Mikuo ketika melihat seorang anak kecil yang tingginya tidak lebih dari lututnya itu dibelakang Len. Namun, anak itu mirip sekali dengan Rin! Ia seperti versi mininya saja,

"Oh i-ni i-itu a-anu a-anu" kata Len terputus-putus bingung mau bilang apa, namun anak kecil yang berada disamping Len itu dengan takut-takut berkata;

"A-aku Rin bodoh!" serunya, mungkin bukan takut-takut ya? Lebih tepatnya membentak, atau marah-marah. Namun, reaksi Mikuo sendiri adalah,

"Ap... bwahahahaha! Tidak mungkin! Si pendek itu?! Aku tahu dia pendek, tapi tidak mungkin dia bisa jadi sependek ini dalam semalam!" serunya tak percaya. Namun, karena kesal 'Rin' menginjak kaki Mikuo keras. "Aduh! Dasar bocah *beeeeep*!" serunya kesal. (A/n : aku tahu ini mengganggu, tapi aku nggak bisa menyebutkan –perkataan -Mikuo tadi, melihat rated fic ini hanya K+).

"Apa?! Aku bukan bocah! Dasar Kaicho *beeeep*!" seru 'Rin'

"Apa?! Dasar *beeeeeeep*! *beeeeeeep*!"

"*beeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee eeeeeeeeeeeeep*!"

"*beeeeeeeeeep*! *beeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeee eeeeeeeeeeep*!"

"HENTIKAN!" seru Len kesal karena dicuekin, dan parahnya, mendengar kata-kata kasar dari mereka berdua. "MIKUO-SAN! NEE-CHAN! KALIAN HARUS LIHAT UMUR KALIAN! DAN LAGI! ... uhuk! Dan lagi, Mikuo-san anak ini, adalah Nee-chan, entah karena apa Nee-chan bisa menjadi anak kecil lagi" kata Len, kesal. "Jadi tolong! Tolong jaga Nee-chan, beri dia makanan, dan antarkan dia pulang nanti sore! Aku punya urusan! Jaaa!" seru Len lagi, cepat dan kesal sambil berlalu begitu saja.

Meninggalkan Rin dan Mikuo terpangku, melihat Len yang seperti itu, sungguh. Itu kali pertama mereka berdua melihat Len marah-marah seperti tadi.

.

"Jadi... Rin-chan jadi anak kecil?" tanya IA tak percaya, sementara chibi Rin sendiri hanya mengangguk lemas. Rin sendiri tidak tahu kenapa ia bisa jadi kecil kembali seperti itu, namun sisi baiknya Mikuo tidak menarik-narik pitanya lagi seperti biasa, atau mungkin karena pita Rin menjadi lebih besar dari yang biasa Rin pakai. Atau mungkin juga Mikuo takut chibi Rin akan menangis lebih keras dari yang biasanya.

"Mungkin karena kamu makan sesuatu yang aneh kemarin" kata IA lagi, mendengar itu, Rin mulai membayangkan apa saja yang ia makan kemarin;

"Okaa-san! Rin makan jeruk!" 'Ah itu seperti biasa', pikir Rin ketika mengingat sarapan paginya kemarin. "Hore! Onigiri!" 'Itu juga biasa...' pikir Rin lagi ketika mengingat bekal makan siangnya. "Uh... Okaa-san, Otou-san dan Len-chan pergi... ya sudah aku buat makanan sendiri!" 'Itu juga bi... tunggu...'

"Aaaahh! Aku tahu!" seru Rin tanpa pikir panjang ketika menemukan apa yang ia makan kemarin, masakannya sendiri... sebegitu "beracun" kah masakan Rin?

"A-apa? Makanan apa yang kamu makan kemarin?" tanya IA senang.

"I-itu..." 'Kemarin... nasi bewarna ungu lembek, seperti bubur... gurita goreng eh cumi-cumi rebus... mata tuna mentah... dan aku lupa bumbu apa saja yang kumasukkan. Juga, sepertinya aku juga muntah-muntah tadi malam... aku tidak bisa bilang' pikir Rin panjang lebar. Selain memikirkan makanan, Rin juga berfikir reaksi apa yang IA tampilkan apalagi jika Mikuo tahu... dia pasti akan mengata-ngatainya.

"S-sepertinya aku makan-makanan sisa..." jawab Rin akhirnya sedikit takut-takut akan reaksi IA dalam... 3... 2... 1...

"APA?! RIN! ITU TIDAK SEHAT! Walaupun kamu berakhir menjadi sangat moe tapi... BAGAIMANA DENGAN LAMBUNGMU?! USUSMU?! KASIHANKAN?! AKU TAK TAHU HARUS BAGAIMANA JIKA KAMU TAK ADA RIADUH!" teriak IA disertai tepukan keras di kepalanya... siapa lagi kalau bukan Mikuo yang menepuk?

"Akasaka-san! Sudah ratusan kali aku beritahu! Jangan berteriak dikelas! Terpaksa... penahanan selama seminggu!" seru Mikuo kesal.

"Ap-apa? Penahan?! Bukankah hanya guru yang bisa melakukan penahanan?!" balas IA lebih kesal dari Mikuo.

"Sekarang bukan hanya guru saja! Dan! Rin! Kamu pasti masak yang aneh-aneh bukan?!" seru Mikuo beralih ke Rin yang sedari tadi menonton.

'Bagaimana dia bisa tahu?!' "Tidak! Aku makan masakan sisa!" seru Rin ikut-ikutan kesal.

Namun Mikuo justru menjawab "... dulu kau pernah meracuniku, kau tidak ingat?" tanya Mikuo lemah.

"Kuo-chan~" panggil Rin dari luar rumah Mikuo dengan membawa sesuatu di tangannya,

"Ya? Oh Rin-chan! Silahkan masuk!" suruh ibu Mikuo, namun Rin menggelengkan kepalanya dan memberikan sesuatu dari tangannya.

"Ini untuk Kuo-chan! Aku masak sendiri! Sudah dulu ya Obaa-san!" seru Rin sambil berlalu pulang kerumahnya, ibu Mikuo pun segera masuk rumah dan memberikan makanan buatan Rin pada Mikuo, tanpa ada perasaan buruk sama sekali.

Mikuo yang tadi mendengar kalau itu adalah masakan Rin, dengan semangat ia buka. Namun yang ditemuinya adalah: nasi bewarna hijau dengan kare bewarna hitam pekat menutupinya, ditambah beberapa potongan kentang yang belum benar-benar dikupas... dan direbus setengah matang serta bewarna ungu. Selain itu tomat serta daunnya yang bewarna kuning juga terlihat menyampur dengan nasi "kare" itu. Namun karena merasa sayang, dengan tangan bergetar Mikuo melahap nasi "kare" itu...

Dan...

Selanjutnya? Dapat terdengar sirene ambulan dan tangisan seorang gadis cilik yang merasa amat bersalah karena sesuatu hal...

Temannya...

Mikuo Hatsune...

keracunan makanan.

"Ah... soal itu? Aku sudah lupa" kata Rin datar dan dengan mata yang kosong menerawang. Dan senyum aneh tertempel di wajah kecilnya.

"Kau lupa?! Kau hampir membunuhku! Untunglah ambulan segera datang!" jerit Mikuo sebal, marah, kesal dan lain-lain yang becampur menjadi satu karena kalimat yang Rin ucapkan tadi. Dengan muka memerah kesal Mikuo langsung menarik pita besar Rin dengan sekuat tenaga hingga membuat Rin berdiri.

"Aeng! Eng! Ung! Sakit! Sakit! Hentikan! Maafkan aku!" jerit Rin kesakitan "Akukan tidak sengaja!" jerit Rin lagi,

"Terserah! Sengaja atau tidak! Kau hampir membunuhku! Dan lagi! Kenapa kau pakai Sundress?! Hah?!" teriak Mikuo lagi. Makin kesal,

"I-ni... aung! Baju seragamku kebesaran! Eng! Aku tak bisa pakai!" jerit Rin kesakitan, "Hentikan! Jangan ditarik terus! Sakit!" teriak Rin makin kesakitan. Karena merasa kasihan melihat Rin sudah begitu kesakitan, akhirnya Mikuo lepaskan pita Rin.

"He-hei sudah jangan menangis R-"

"KUO!" teriak dua orang bersamaan dan menjegal Mikuo kesamping, menyebabkan Mikuo terjatuh keras. "MIKUO HATSUNE! KAU MEMBUAT RINNY MENANGIS! TIADA MAAF UNTUKMU!" seru mereka berdua lagi dan mulai menendang Mikuo.

"OW! Aduh! Onee-san! Teto-nee! Hentikan! Aku tidak sengaja! Aduh!" teriak Mikuo kesakitan, sambil melindungi kepalanya dari tendangan Onee-sannya Miku dan Teto, senpainya.

"TIADA MAAF UNTUK MU!" seru mereka berdua, namun sedetik kemudian perhatian mereka berdua berpidah pada sesosok anak kecil. Rin.

"KYAAAAAAAAAAAAAAAAAAAA! RINNY MOE MOE!" seru Miku kesenangan sambil memberi Rin sebuah death hug. Dan begitu pula Teto. Sementara IA yang sedari tadi diam tidak tahu harus berbuat apa, hanya bisa tercengang melihat senpai-senpainya melakukan percobaan 'pembunuhan' pada Rin.

"E-etto... senpai... Rin-chan bisa mati... sesak nafas..." ucap IA perlahan. Mendengar itu Miku dan Teto justru mempererat pelukan mereka, membuat wajah Rin menjadi biru. Mereka membuat ajal Rin semakin mendekat...

"Onee-san! Teto-senpai! Kalian membuat Rin mati sesak!" seru Mikuo setelah terlepas dari rasa sakit.

"Ah! G-gomen! Rinny! Jangan mati!" Seru Miku panik, namun sayangnya Rin sudah pingsan.

.

"Jadi... Kagamine-san... kenapa kau jadi... kecil?" tanya Haku sensei ketika melihat Rin menjadi anak kecil.

"Yah... e-etto... gara-gara pembangkit nuklir sensei" jawab Rin bohong. Namun dengan cepat Mikuo menyambung.

"Yang ada di masakannya" lanjut Mikuo datar, membuat Haku-sensei tercengang. Pembangkit Nuklir di makanan? Tapi... ini masakan Rin, jadi masih bisa dimengerti... terutama oleh Mikuo.

"Y-yah, ya sudah yang terpenting Kagamine-san bisa mengikuti pelajaran" Kata Haku-sensei sedikit cuek pada Rin. Yah, secara teknis itu memang salah Rin sendiri. "Oh ya, Kagamine-san tolong maju kedepan dan kerjakan soal di papan tulis" perintah Haku-sensei dan Rin membawa buku catatanya kedepan kelas. Namun...

Ketika Rin mau menulis dipapan tulis, tangannya bahkan tidak sampai dipapan tulis. Sontak saja seluruh kelas tertawa tebahak-bahak melihat kekonyolan Rin. Membuat Rin hampir menangis gara-gara malu. Namun, hanya dua orang yang tidak tertawa, IA dan... Mikuo dengan mendesah, Mikuo mengambil bangku Rin dan menaruhnya disamping Rin yang mukanya semerah tomat karena malu.

"Sudah, nih pakai ini" kata Mikuo datar, melihat itu Rin hanya mengangguk dan menaiki bangkunya untuk mengerjakan soal yang diberikan Haku-sensei.

.

.

.

"Nah, seperti yang sensei sampaikan beberapa hari yang lalu, olahraga hari ini adalah berenang. Dan kalian harus pemanasan selama setengah jam!" seru Al-sensei. Dan dengan itu seluruh kelas Rin mulai melakukan pemanasan, termasuk Rin.

Setelah setengah jam pemanasan, semua siswa di kelas sepuluh-satu itu mulai menceburkan diri kedalam kolam renang sekolah. Dan dapat terdengar bunyi air serta seruan kedinginan beberapa siswa. Kecuali... Rin.

"Rin-chan! Ayo masuk! Airnya memang sedikit dingin!" seru IA memanggil Rin yang duduk di pinggir kolam. Mungkin diukuran tubuhnya yang normal Rin takkan takut, tapi air kolam yang sekarang sudah dua kali tinggi badannya, Rin jadi takut masuk kedalam air, terlebih Rin tidak terlalu bisa berenang.

"I-iya nanti IA-chan... aku..."

"Tidak bisa berenang" sambung Mikuo cepat dan disambut dengan death glare dari Rin. Tajam. Namun Mikuo tidak memperhatikan, ia justru berenang menjauh dan berkumpul dengan teman-temannya.

Karena marah, Rin langsung menceburkan dirinya kedalam air yang dalamnya dua meter itu, dan... tentunya dapat di tebak...

"AAAA! AKU TENGGELAM! IA-CHAN!" teriak Rin panik. Dengan cepat IA segera menolong Rin yang hampir tenggelam itu, untunglah IA segera menolongnya dan menggendongnya ke permukaan. Melihat IA yang menggendong Rin yang mengecil, bagaikan seorang ibu dan anak...

Dan untuk beberapa siswa yang menyukai IA... mereka jadi membayangkan yang aneh-aneh...

"Aduh Rin-chan moe banget~ boleh kumakan?" tanya IA ketika melihat Rin yang basah itu, benar-benar seperti seorang lolita yang sangat disukai IA.

"Eh?! Jangan!" seru Rin. "Nanti siapa yang bakalan nemenin IA-chan ketika IA-chan kesepian?!" seru Rin lagi.

"Rin..." kata IA mendramatisir, dan mengikuti Rin.

"IA..." jawab Rin, sementara itu beberapa teman sekelas mereka ada beberapa yang menitikkan air mata (?) , tercengang, menganga, takjub, mimisan, bahkan jijik (jika kalian tahu siapa yang kumaksud). "Okaa-san..." kata Rin menambahkan.

"Anakku..." dan dengan itu mereka berdua berpelukan, layaknya seorang anak yang telah berpisah dengan hidupnya selama lima belas tahun. Namun disaat yang bersamaan ada seorang lelaki yang terjatuh. Sehingga semua perhatian yang tadinya tertuju pada IA dan Rin teralihkan dan mengarah ke sumber suara (orang yang jatuh) tadi.

Ternyata... sang ketua OSIS terjatuh dengan muka terlebih dahulu, sehingga posisinya... yah sedikit tidak etis, pantat diatas kepala... alias nungging. Entah apa yang membuatnya terjatuh, mungkin karena lantai pinggir kolam renang yang licin, atau karena perkataan dua orang yang aneh.

'Ugh... apa jadinya dunia jika Akasaka-san dan Rin adalah anak dan ibu... kehancuran' pikir Mikuo, sepertinya pilihan kedua yang benar.

"Um... Kaicho-kun tidak apa-apa?" tanya salah seorang siswi, mendengar itu, dengan secepat kilat Mikuo berdiri dan berjalan. Seperti tak pernah terjadi apa-apa, namun hidungnya yang berdarah berkata lain.

"Ahahaha! Kuo-chan mimisan!" pekik seseorang sambil menunjuk dan menertawakan Mikuo. Yah, orang itu pasti sudah bisa ditebak siapa.

"B-b-berisik bocah!" seru Mikuo kesal dan tanpa pikir panjang, Mikuo langsung menceburkan dirinya lagi dan berenang menuju Rin, berniat melakukan sesuatu. Namun belum juga Mikuo dapat menyentuh Rin. IA yang sedari tadi terus menggendong Rin langsung menjauhkan Rin dari jangkauan Mikuo. "Akasaka-san!" seru Mikuo kesal. Namun IA justru menjulurkan lidahnya dan berenang menjauh.

"Takkan kubiarkan kamu menyentuh anakku!" seru IA sambil berenang menjauh. Dengan kesal, Mikuo mengejar IA.

"Kyaaa! Okaa-san! Makhluk itu mengejar kita!" seru Rin panik.

"Tenang saja! Okaa-san akan melindungi Rin!" seru IA, terus menambah kecepatan berenang namun "makhluk" itu terus menambahkan kecepatannya juga. Jarak IA dan "makhluk" itu yang tadinya sekitar sepuluh meter, berubah menjadi

Sembilan...

Delapan...

Tujuh...

Enam...

Lima...

Empat...

Merasa jarak yang terpaut tinggal sedikit, "makhluk" itu mulai menjulurkan tangannya, berusaha meraih baju renang IA.

Tiga...

"Kyaaaaa! Okaa-san!"

"Rin!"

Dua... "SEDIKIT LAGI!" teriak "makhluk" itu. Tangannya mulai mendekati baju renang IA.

Satu...

Kosong...

"TERTANGKAP!"

"Kyaaaaaa!"

'BRAK!'

"Eh?" kata dua orang yang berteriak tadi. Kaget. Dengan cepat mereka menuju sumber suara yang ada didepan IA...

...

...

...

Tubuh Rin menabrak pinggiran kolam dan darah mengalir dari punggungnya. Melihat itu... IA dan Mikuo hanya bisa terdiam... "AAAAAAAAAAAAAH! RIN!" sesaat, sebelum berteriak bersama dengan seluruh teman sekelas mereka.

.

.

.

"Ugh... aku dimana?" tanya seorang gadis berparas anak kecil bangun dari tempat tidurnya atau kasur milik sekolah di UKS. Melihat sekelilingnya yang bewarna putih, Rin langsung tahu kalau ia berada di UKS sekolah. Namun, Rin lupa bagaimana bisa ia terbaring di kasur UKS.

"Akhirnya kau sadar juga bocah pendek" kata seseorang disamping tempat tidurnya. Dengan cepat Rin menoleh keasal muasal suara tersebut, Mikuo. Dari raut mukanya dapat dipastikan kalau Mikuo sudah amat sangat bosan menungguinya.

Dua hal yang paling dibenci Mikuo, yang pertama adalah : bangun pagi dan yang kedua adalah menunggu seseorang. Jika ada seseorang yang ditunggunya dan orang itu terlambat beberapa menit saja, dapat dipastikan Mikuo sudah pulang terlebih dahulu.

"Nah, karena kamu sudah bangun dan ini sudah jam pulang sekolah sebaikny..."

"APPAAAAAA!? AKU PINGSAN SELAMA LIMA JAM!?" seru atau teriak Rin tak percaya kalau ia pingsan dari jam sepuluh pagi hingga jam tiga sore. Mungkin karena Rin yang dari seminggu yang lalu tidur malam, hanya untuk menonton anime.

"Jangan teriak bocah pendek!" seru Mikuo kesal, capek dan lapar, karena... Mikuo disuruh Miku, Teto dan IA serta seluruh teman kelasnya untuk menemani Rin sedari pagi tadi. Entah untuk maksud dan tujuan apa, membuat Mikuo menemani Rin sendirian selama kurang lebih lima jam. Hingga melewatkan jam makan siang hanya untuk menemani Rin saja.

"M-maaf Kaicho..." ucap Rin lemah, takut akan seruan Mikuo barusan.

"Nih, tasmu. Ayo pulang R..." kata Mikuo sambil membalikkan badannya,

'Breet' "Suara apa itu?" tanya Mikuo sambil memalingkan mukanya kebelakang, namun dengan cepat sebuah bantal melayang kearahnya. "Apa-apaan kau bo..."

"Jangan lihat!" seru Rin panik, namun Mikuo sudah melempar bantal yang dilempar Rin kelantai. Dan... Untuk sesaat Mikuo membatu melihat Rin yang... bajunya sudah tercerai-berai karena tubuhnya kembali ke bentuk normalnya.

"KYAAAAAAA!"

"GYAAAAAAA!" dengan cepat Mikuo berlari keluar UKS dan bersembunyi dibalik pintu UKS, dengan muka memerah, semerah apel. Mengingat apa yang ia baru saja lihat... gawat... sepertinya Rin akan menangis...

"Mikuo! Kau... kau lihat?" tanya Rin bergetar, hampir menangis. Dengan muka memerah malu, mengingat apa yang hampir dilihatnya... Membenamkan mukanya ke dalam pahanya dengan muka sepanas air hangat dan semerah tomat, mencoba menghapus ingatannya barusan. Tapi sepertinya Mikuo akan sulit untuk melupakannya.

Namun semua lamunan Mikuo untuk menghapus ingatannya tadi, buyar. Ketika sebuah suara berbicara.

"Hueee... aku pulangnya gimana? Aku nggak mungkin pulang kayak gini..." rengek Rin, sambil terus menutupi bagian tubuhnya dengan selimut. Dengan muka yang masih memerah, Mikuo menanggalkan jaket hitam kesenangannya dan melemparnya kearah Rin. Tentunya dari balik pintu UKS.

Melihat sebuah jaket melayang kearahnya, Rin mencoba meraihnya. Tapi sepertinya dewi fortuna memang sedang tidak berada bersamanya. Rin jatuh dari kasur UKS.

"O-oi! Bocah cilik! Kau jatuh ya?!" tanya Mikuo dari balik pintu UKS.

"Ti-tidak kok!" seru Rin sambil memegangi hidungnya yang terasa nyeri dan dengan cepat Rin meraih jaket milik Mikuo dan memakainya. 'B-besar sekali ukuran Kuo-chan' pikir Rin sambil menaikkan rit jaket itu. Ukuran jaket itu sebenarnya pas untuk Mikuo, namun karena badan Rin itu kecil, jadi jaket yang jika dipakai Mikuo hanya sampai bagian panggul, jika dipakai Rin maka akan terlihat seperti dress yang mencapai lutunya.

"Kau sudah pakai jaket ku?" tanya Mikuo, dan dapat terdengar kalau Rin menjawab ya dari dalam UKS. Mengacak-ngacak rambutnya, Mikuo langsung masuk kedalam UKS dan menyerahkan tas sekolah milik Rin yang tadi dititipkan. Dengan malu-malu Rin mengambilnya dari tangan Mikuo dan mendekap tasnya itu kedalam pelukannya dengan muka semerah tomat. "Suda-sudah, sepertinya tadi kau memang jatuh dari kasur UKS, sini kugendong" ujar Mikuo sambil membalikkan badan dan berlutut. Meminta Rin menaiki punggung lebarnya.

"Kau... tumben sekali jadi baik" kata Rin sedikit menyindir.

"A-apa?! Hei! Tadi pagi kau pakai sandal! Dan sekarang tentunya sandal itu sudah tak muat untukmu! Ya sudah kalau tak mau! Silahkan pulang bertelanjang kaki!" seru Mikuo marah. Namun dengan cepat Rin menangkap baju Mikuo dengan muka menunduk. Melihat itu Mikuo hanya bisa berpaling tanpa melanjutkan langkahnya dan berfikir yang aneh-aneh, namun...

"Hueeee, Kuo-chan ja'at! Aku nggak mau pulang bertelanjang kaki!" rengek Rin, mulai menangis kembali. Sementara Mikuo sendiri berusaha agar tidak terjatuh kedepan akibat perkataan Rin tadi. Dengan mendengus, Mikuo mengulangi posisinya tadi. Namun kali ini ada beban ringan yang ia dapat di punggungnya.

Setelah melihat kedua pergelangan tangan Rin sudah mengalungi lehernya, Mikuo berdiri dan berjalan pulang, dengan Rin punggungnya dan kedua tangannya memegangi kedua kaki Rin.

"Kuo-chan, makasih" kata Rin lemah di telingan kiri Mikuo.

"Ya, sama-sama" jawab Mikuo dingin.

"Oh ya! Sebagai balasanya Kuo-chan akan kumasakkan sesuatu!" kata Rin senang, namun dengan cepat Mikuo menjawab.

"Tidak terima kasih, aku masih ingin hidup"

"E-eeeeeeehhh? Kuo-chan jahat!"

"Tidak! Kau itu! Beserta makanan "super" mu itu!"

"Super bagaimana?"

"Lihat saja dirimu sendiri!"

"Pokoknya Kuo-chan harus makan masakanku!"

"Tidak!"

Dan perjalanan pulang mereka berduapun dipenuhi dengan percakapan tentang masakan. Namun sore itu, matahari yang seharusnya sudah terbenam masih sedikit berada di ufuk barat, seperti sedang menunggu seseorang untuk melewatinya sebelum benar-benar terbenam.

.

.

.

End of chapter 2

A/n : bagaimana? Bagus? Jelek? Review please~ dan cerita ini hanya berputar di sekitar kehidupan Rin dan Mikuo yang "normal" jadi jangan harap akan ada cerita seperti Miku, Kaito, Meiko ataupun Len tanpa sudut pandang dari Rin dan/atau Mikuo~ kalaupun ada mungkin hanya sekilas seperti di chapter satu, Meiko dan Kaito.