Disclaimer : EXO dan adalah milik agensi mereka, diri mereka, dan orang tua mereka masing masing.
Genre : Romance
Pair : Kai/Suho.
Rating : T
Warning : Shou-ai, Crack pair, AU.
Note : Ada tiga lagi sebenarnya, tapi aku menyimpan yang pamungkasnya dan aku keluarkan dulu satu.
Kris merosot dari sofanya untuk tidur di lantai yang dingin, ini sudah musim panas dan dia yakin sebentar lagi Kai akan mengganggu ketenangannya.
"Panasnya…"
Dan si hitam itu benar benar datang dan berbaring di samping Kris, dia membawa bantal dari kamarnya.
"Jangan bilang panas, kau membuatnya terasa lebih panas." Kata Kris, dia menjarah bantal Kai yang pada akhirnya mereka pakai berdua.
"Tapi itu kenyataannya, Kris, ini terlalu panas."
"Berhenti bilang panas."
"Tapi ini memang pa-hmph!"
Tangan Kris membekap mulut Kai yang cerewet. "Berhenti bilang panas!"
Kai dengan cepat menyingkirkan tangan Kris dari mulutnya. "Tapi kau sendiri juga bilang panas!"
Dan Kris membekapnya lagi, meninggalkan acara tidur tidurannya yang indah karena bocah cerewet di sampingnya.
"Kalau kau berani mengucapkan kata itu lagi, aku akan menjahit mulutmu!" Ancam Kris, tampangnya jadi seperti psikopat dan itu membuat Kai diam, mengunci mulut, dan seakan menciut di atas bantalnya.
Kris tidur lagi, dengan bantal dan lantai yang dingin seperti ini dia benar benar bisa tidur, jadi dia menghela napas dan memunggungi Kai. Tapi Kai sejak lama adalah orang yang benci tidak diperhatikan, apalagi oleh orang yang susah senang di tanah orang dengannya ini, jadi dia memeluk Kris dari belakang.
"Jangan peluk peluk, Bodoh, kau kenapa, hah?" Kris mendorong wajah Kai dan bukannya melepas tangan anak itu dari pinggangnya.
Kai malah mengeratkan pelukannya, bergerak dengan nyaman. "Antar aku pulang ke Korea." Katanya.
"Tidak mau, pulang saja sendiri!" Kata Kris, dia makin mendorong Kai yang makin mengeratkan pelukannya pada Kris.
"Ayolah, aku butuh orang yang bisa menyetir." Kata Kai.
"Kau pikir aku supirmu?!" Seru Kris, akhirnya dia berhasil melepaskan pelukan Kai.
"Bukannya memang selalu begitu di New York ini?"
"Tidak! Aku bukan supirmu, Hitam!" Kata Kris, dia dengan cepat berdiri dan Kai menarik kerah kaos Lacoste-nya dan membantingnya ke lantai dan mereka jadi berguling guling di lantai.
"Antar aku pulang!"
"Pulang saja sendiri!"
"Aku butuh supir!"
"Aku bukan supirmu! Minta kakakmu saja!"
"Dia di Hawaii, Bodoh!"
"Kakak keduamu, lah! Jangan minta aku!"
"Kau ingin aku mati!?"
"Minta Jongdae!"
"Justru itu, Jongdae tidak ada di Seoul!"
"Minta kakaknya, sepupumu ada berapa, sih?!"
"Hanya mereka dan Jongmin Hyung juga tidak ada di Seoul!"
Kai terlalu sibuk minta diantar ke Korea dan Kris juga terlalu sibuk menolak sampai mereka tidak tahu ada yang membunyikan bel, mereka baru mendengarnya saat akhirnya menabrak pintu.
Pintu terbuka dan menampakan seorang gadis, tetangga mereka, asal Alaska, dengan Malamut Alaskanya di sisi kanan.
"Aku tidak tahu apa yang kalian permasalahkan, tapi kalian menganggu tidurku di hari yang kalian tahu sendiri bagaimana cuacanya ini, jadi aku harap kalian berhenti dan lagi Olivia punya bayi sekarang dan aku dengar bayinya menangis."
Mereka bertiga diam dan sayup sayup suara tangis bayi terdengar.
"Maaf." Hanya itu yang bisa Kai dan Kris katakan.
"Sudah, aku pulang dulu." Kata gadis itu.
"Hei, Abi." Panggil Kris, gadis yang dipanggil Abi itu menoleh.
"Ya?"
"Mau makan malam dengan kami?" Tanya Kris, Kai melirik pemuda itu dengan kesal, merasa jatah makannya hari ini akan berkurang.
Abi tersenyum, gadis yang nama aslinya Abigail itu tidak menganggap ide Kris adalah ide yang bagus. "Tidak, ya. Kalian terlalu ribut." Katanya, lagipula dia menyadari tatapan Kai yang sudah seperti akan merajam Kris kalau dia tidak diberi makan.
"Lagipula malam ini aku akan pulang ke Juneau, kenapa kalian tidak pulang? Ke Seoul, atau Nanjing, atau Vancouver, misalnya?"
"Sebenarnya aku ingin pulang ke Seoul, hanya saja Kris memang kepala batu, kau tahu, kan, Abi?" Kata Kai, bertumpu pada bahu Kris yang beberapa senti lebih tinggi darinya.
"Apa maksudmu dengan kepala batu?" Tanya Kris.
"Kau memang kepala batu, kan?" Kai menepuk dada Kris penuh kemenangan, Kris sudah siap meledak lagi.
"Ya, kalian lebih baik tidak ribut lagi atau Matt yang akan menegur kalian." Kata Abigail dan dia benar benar pergi kali ini.
Mendengar nama Matt, Kai dan Kris mematung, mereka bertatapan. Matthew itu suami Olivia dan dia terlihat sangat lembut, tapi kemarin dia bisa mengalahkan pencuri tanpa bantuan polisi, sedikit banyak Kris dan Kai jadi takut pada Matthew.
"Sudah, aku ingin makan sesuatu." Kata Kai, Kris di belakangnya menutup pintu.
"Kau benar benar ingin pulang?" Tanya Kris, mengekor Kai yang berjalan menuju dapur.
"Kenapa kau bertanya?" Kai membuka pintu kulkas dan menemukan kue di sana. "Kue dari mana ini?" Tanyanya lagi.
"Makan saja, itu tidak beracun." Kata Kris, dia mengambil botol air dingin dari kulkas sementara Kai membawa kue itu ke meja di sebelah kulkas.
"Kalau kau bicara seperti itu, aku jadi curiga kalau ini beracun." Kata Kai, tapi dia tetap memotong kue itu dan memasukannya ke mulut, dia berbalik untuk memasukan kue itu ke kulkas saat Kris menutup pintu kulkas.
"Hmph!" Entah apa yang sebenarnya ingin dia ucapkan, tapi Kris mengartikannya sebagai protes karena dia menutup pintu kulkas, dia membuka pintu kulkas lagi saat Kai juga membukanya, kalau bisa sendiri kenapa tadi dia protes? Kris jadi sedikit kesal.
"Hei, kau benar benar ingin pulang?" Tanya Kris lagi.
Kai menelan kue di mulutnya. "Tentu saja, Sehun bilang akhirnya dia punya pacar, jadi aku ingin menemuinya."
"Anak seperti dia? Punya pacar? Kau serius?" Tanya Kris.
"Tentu saja, Sehun bahkan mengirim foto pacarnya dan Samoyednya tadi."
"Oh ya? Seperti apa pacarnya?"
Kai merogoh saku celana selututnya dan mengeluarkan telepon genggam kesayangannya, menunjukan pada Kris pacar dari sahabat karibnya.
"Dia terlihat keren menurutku, bergaya sekali, tapi aku lebih suka Samoyednya yang katanya namanya Ace."
Kris memperhatikan foto itu jelas jelas, sampai rasanya cerahnya layar menusuk matanya. Dia tidak salah, dia kenal orang ini.
"Eh, Kai, apa dia biasa dipanggil Tao?" Tanya Kris.
"Kau tahu?" Tanya Kai, dia bukannya menjawab, tapi dari pertanyaan Kai, Kris bisa tahu kalau pacar Sehun yang ada di foto itu bernama Tao.
Nama Tao, juga Ace, ini keterlaluan kalau dibilang kebetulan, jadi Kris dengan berani berbicara. "Ya, sebenarnya Tao itu adik sepupuku."
"Hah!? Tidak mungkin! Bagaimana aku mau hidup jauh darimu kalau sahabatku pacaran dengan adik sepupumu! Kau pasti dendam padaku! Kau pasti dendam!"
"Diam, Bodoh! Tidak ada untungnya dendam padamu! Aku harus bicara pada Tao tentang hal ini!"
Kai hanya menonton TV setelahnya, Kris menyingkir dan meledak ledak dengan telepon di telinganya.
"Kenapa kau tidak bilang sejak awal!? Aku harus bertemu Oh Sehun itu!"
Dan setelah itu dia berlari menghampiri Kai yang bergelung manja di sofa dan menarik kerah bajunya.
"Hei! Nanti bajuku sobek, Bodoh!"
"Itu tidak penting, sekarang cepat berkemas dan kita akan pergi ke Korea! Sekarang juga!"
Kata Kris, Kai berbinar. "Ka-Kau serius?"
"Kau mau membuatku berubah pikiran?"
"Ti-tidak!" Seru Kai, dia segera berkemas sambil meracau soal Kris yang tidak menyimpan dendam padanya.
Adalah hal yang aneh melihat Kai tidak mengantuk di bandara. Untuk anak yang mudah bosan sepertinya, menunggu adalah hal paling menjengkelkan sedunia, tapi hari ini yang dia lihat adalah Kai yang mengutak atik telepon genggamnya seperti Samoyednya yang benar benar patuh.
"Aku jadi merindukan Ace."
Kai mendelik tajam pada mitranya ini. "Aku tidak yakin kalau kau memang sepupu dari pacar Sehun."
"Hei, apa masalahmu dengan keluargaku?"
"Tidak ada, sih, hanya saja aku tidak mau sahabatku mendapatkan orang yang tidak jauh darimu." Kata Kai.
"Apa masalahnya denganku? Aku ini tampan, tinggi, baik, tidak ada yang kurang, kan?"
"Jangan lupa kalau kau itu narsis, malas, dan sok kuasa."
"Apa maksudmu dengan sok kuasa?"
"Juga kepala batu."
"Hei, Blacky!" Dan terucap lagi panggilan yang paling disukai dari semua panggilan Kai, berasal dari Kkam di nama Kkamjong, munculah satu nama baru yang seperti nama anjing itu.
"Diam, Ben Ben!" Dan dibalas dengan panggilan yang entah datang dari mana.
Mereka berjalan lagi, menarik koper mereka keluar dan di luar sudah ada Tao dan Sehun dengan Ace di kaki Tao.
"Aku benar benar tidak percaya kalau dia adalah adik sepupumu." Kata Kai.
"Berisik kau!" Seru Kris.
"Ace, Papa pulang, Sayang." Dan bukannya member salam pada Tao atau Sehun dia malah bermesraan dengan Ace yang menggonggong senang.
"Sehunnie!" Kai memeluk Sehun erat sampai Sehun terlihat sulit bernapas. "Bagaimana? Kau masih polos seperti dulu? Apa saja yang sudah kau lakukan dengan pacarmu?" Tanya Kai.
Kris yang masih dijilati Ace memukul kaki Kai. "Kau pikir Tao semesum itu?" Dan Kai menjulurkan lidahnya pada Kris.
"Aku senang sekali mendengar kau akan pulang." Kata Sehun, anak ini masih saja manis dari terakhir Kai meninggalkannya merantau.
"Tentu kau harus senang, aku pulang untukmu." Kata Kai, dia merangkul Sehun mesra. Di belakangnya Tao terbatuk dan Kris memukul punggungnya.
"Gege, apa apaan, sih?!" Amuknya dalam bahasa Kanton, dia tahu kalau Kai mengerti Bahasa Inggris dan Mandarin, Kris hanya tertawa. Kai mengartikan itu sebagai tanda cemburu, posesif juga si Tao ini.
"Oke." Kai melepaskan tangannya dari Sehun. "Sepertinya aku lebih baik jaga sikap." Kata Kai, Kris memukul kepalanya.
"Jangan bicara macam macam!"
"Lebih baik kita pulang sekarang, aku yakin orang tuamu sudah menunggumu, Kai."
"Jongin-ah!"
Kai sedikit memicingkan matanya untuk melihat siapa yang memanggilnya, dia sepertinya kenal, tapi siapa?
"Noona! Bagaimana kau bisa ada disini?!" Tanya Kai yang akhirnya sadar siapa yang memanggilnya.
"Dasar durhaka! Tentu saja aku pulang dari Hawaii untukmu! Kau tidak menghargai aku?!"
"Eh! Tidak tidak! Aku hanya terkejut saja." Kata Kai, Kris menatapnya dengan ingin membunuh karena kakak yang dikira ada di Hawaii ternyata ada di Seoul.
"Hallo, bungsu." Kini suami kakak pertamanya memukul bahunya, senyum cerah tak hilang dari wajahnya padahal dia hanya ipar.
"Aw, Hyung, jangan keras keras." Kata Kai. Kakak iparnya tersenyum dan mengacak rambutnya.
"Kalian mau masuk atau tidak?" Tanya seorang gadis di depan pintu, itu kakak kedua Kai, masih sendiri, masih menumpang di rumah orang tua, dan setahu Kai dia tidak bisa menyetir mobil.
"Oh iya, Kris, Ini." Dia menyerahkan kunci mobil pada Kris saat mereka berduyun duyun masuk.
"Oh, Thanks." Kata Kris.
"Harusnya aku yang bilang begitu, aku sering memakainya untuk latihan." Katanya.
"Kau bisa menyetir?!" Tanya Kai.
"Itu sama saja dengan bertanya apa kau bisa bahasa Inggris, In." Katanya, dia hanya memanggil Kai dengan In yang diambil dari akhir nama Jongin. Lagi lagi Kris menatap Kai dengan tatapan ingin membunuh karena kakak yang dikiranya tidak bisa menyetir sebenarnya bisa menyetir.
"Tentu saja aku belajar saat kau sibuk di Juilliard, kau bahkan lupa pulang."
"Tapi sekarang aku pulang."
"Sudah anak anak, bicaranya di dalam saja."
Anak anak, dari dua kakak Kai sampai Huang Zitao, menoleh pada Mama Kim yang berujar lembut, rasanya dia jadi ibu semua orang.
"Eomma!" Kai memeluknya erat.
"Aku merindukan Eomma." Katanya.
"Aku juga merindukanmu, Anakku."
Dan Kai tersenyum, beralih pada Ayahnya. "Bagaimana Juilliard, Nak?" Tanya Ayahnya.
"Menyenangkan." Dan dia memeluk anak lelaki satu satunya ini dengan erat, menunjukan rindu yang tidak bisa diucapkan.
"Yifan, bagaimana anakku selama di New York?" Tanyanya pada Kris yang nama aslinya Yifan, Kai tiba tiba takut kalau Kris akan bercerita tentang keributan yang mereka ciptakan, juga pencuri di rumah Olivia dan Abigail yang asli Alaska.
Kris diam pada awalnya, terlihat berpikir. "Dia sangat bersemangat, dia sering cedera, tapi aku akan menjaganya." Katanya.
Kai sedikit tersentuh akan ucapan Kris yang hanya menunjukan sedikit dari kehidupannya di New York. Tiba tiba dia jadi benar benar memandang Kris sebagai pelindungnya, melindunginya di negri orang dan melindunginya dari amukan orang tua.
"Aku menyayangimu, Kris." Kata Kai dalam Bahasa Prancis yang hanya dimengerti berdua.
"Jangan ucapkan hal menggelikan seperti itu." Jawab Kris juga dalam bahasa Prancis.
"Apa adikku ini populer di kalangan gadis gadis?" Tanya kakak sulung Kai.
"Bukan hanya diantara para gadis." Kata Kris.
"Hei, Ben." Tegur Kai, dia tenang karena di sini tidak ada yang tahu arti panggilan Ben Ben.
"Iya, dia sangat populer, sampai selalu dikerumuni gadis gadis." Kata Kris.
"Itu pasti karena ada kau juga, Kris." Celetuk kakak kedua Kai yang sedang berkutat dengan makanan yang sudah disiapkan dengan Tao dan Sehun.
Kai tertawa meremehkan dan Kris menyikutnya. "Aku tidak yakin kalau itu karena Kris." Kata Kai. Walaupun sebenarnya alasan Kai dikerumuni gadis gadis adalah karena dia digosipkan memiliki hubungan khusus dengan Kris dimana itu tidak mungkin terjadi.
"Tapi aku yakin." Kata kakaknya dan itu berarti sudah titik, sudah akhirnya.
"Oh iya, Jongin, Jongdae bilang kau harus menyusulnya." Kata kakak sulungnya.
"Sekarang juga?" Tanya Kai.
"Katanya secepatnya, kalau bisa siang ini."
Kai menjentikan jari. "Dia cepat sekali membuat rencana."
"Hei, memangnya apa yang kau rencanakan dengannya?" Tanya kakak sulung Kai.
"Suatu hal, suatu hal yang sebenarnya ingin aku lakukan dari dulu."
"Hal apa?" Tanyanya lagi.
"Ayah, Ibu, semuanya, aku dan Kris pamit dulu!" Seru Kai, dia dengan brutal menarik kerah baju Kris.
"Hei! Yang benar saja, Gila!" Kris mengumpat dalam bahasa Prancis agar tidak ada yang tahu.
"Aku akan kembali besok, Ok!" Kata Kai, dia pamit pada orang tuanya, kakak dan iparnya dan juga Sehun dan Tao.
"Kau pikir aku tahu dimana mobilku?!" Seru Kris.
"Ada di garasi, Kris, sudah kusiapkan kalau ingin dipakai." Kata kakak kedua Kai.
Sial. Kakak Kai sedang tidak bersahabat, maka dimulailah perjuangan Kris sebagai supir orang.
"Ini akan jadi perjalanan yang panjang, Kris." Kata Kai, dia memakai kaca mata hitam yang entah dia dapat dari mana.
Kris merutuk dalam hati, mengumpat sepuasnya. Kenapa hal ini harus terjadi padanya? setidaknya biarkan dia istirahat dulu!
"Ace… Papa akan pulang besok." Katanya sedih, tapi yang dia lihat adalah adik sepupunya sendiri yang tertawa tawa.
"Ayo cepat jalan!"
+FIN+
