Chap 1

Number : flashback and number

Author :

Yunjae Onkey

Main cast :

Jung Yunho

Kim JaeJoong

Other cast ;

Menyusul

Genre :

Romance, supranatural, dan angst

Rate :

T untuk sementara

Summary :

Bagaiman reaksi mu ketika pergi ke suatu tempat keramain, dan mendapati kalau orang-orang itu memeiliki nomor yang sama, tanggal kematian yang sama hari itu juga?.

Disclamer :

Yunjae bukan punya saya

A/N :
I'm back dengan ff yunjae yang berjudul Number yang terinspirasi dari novel dengan judul yang sama.

Warrning :

Yaoi BL dan typo (S)

Happy baca

.

.

.

.

YunJae

.

.

.

.

Setiap orang mempunyai nomornya, nomor kematiannya. Dan aku rasa hanya aku yang melihatnya, mungkin kalian menganggapku bodoh,atau gila . tapi aku tak peduli, aku mencoba mengabaikan nomor itu, tapi itu nyata dan aku yakin nomor itu adalah nomor kematian seseorang. Teka-teki ini terungkap ketika eomma ku meninggal .

Flashback on

Setiap hari kamis aku dan eomma pergi kantor department social untuk mengambil tunjangan kami. Kami menyusuri jalan utama kota seoul, dan sebentar lagi eomma pasti membeli kebutuhan kami, eomma pasti sangat senang setiap ototnya yang tegang perlahan mengendur dia akan mengajak ku bicara dan membaca cerita padaku. Aku memekikkan nomor-nomor orang yang bertemu pandang oleh ku "dua kosang Sembilan dua kosong satu Sembilan! Tujuh dua dua kosong empat enam."

Tiba-tiba eomma berhenti ku pandangkan eomma yang berhenti secara tiba-tiba. Dia berjongkok menyamakan tingginya dengan ku menatap ku sedikit kesal kepada ku cengkraman tangannya di pundakku begitu erat. "Dengar Jae" ucapnya pada ku. "Aku tak tau Jae apa yang kau kata kan tapi berhentilah mengocehkan nomor-nomor itu." Ungkapnya, kami duduk berhadapan dan saling menatap. Nomornya tertata di dalam bagian dalam tengkorakku 10102005.

Empat tahun tanggal 10102005. Aku bangun pagi seperti biasa memakai baju hendak sekolah. Membuka sereal untuk ku makan tidak memakai susu karena susu itu sudah basi, ku nyalakan Kompor untuk merebus air, ku buatkan Eomma Kopi hitam untuknya, ku bawa Kopi itu kekamar ku buka pintu kuliham eomma duduk bersandar di tepi ranjang. Ku letakan kopi itu di dekat jarum suntik yang bekas di pakai Eomma. Mata Eomma melebar, mulutnya mengeluarkan muntahan sehingga mengotori seprai, ku lirik lengannya ada bekas suntikan jarum. Kupandang mata Eomma, Kosong pandangan Eomma kosong, nomor itu sudah tak ada menghilang entah kemana eomma sudah tak bernyawa. Aku terdiam beberapa menit-beberapa jam entahlah, aku kembali tersadar ku langkahkan kaki keluar kamar ku berbicara pada seorang yeoja yang tinggal di samping rumah kami, Dia melangkah ke kamar Eomma tetapi Yeoja itu menampakkan raut kaget melihat kedaan Eomma, dia keluar kamar belum sempat menjauh dari kamar eomma Yeoja itu memuntahkan semua isi perutnya.

.

.

.

Banyak orang-orang berdatangan kerumah ku banyak petugas polisi dan petugas medis. Suara sirine-sirine menguar di telingaku, orang –orang menatap ku iba ku lirik Eomma di bawa oleh petugas medis kearah ambulans yang terparkir tak jauh dari ku. Kuliat banyak namja berjas dengan membawa kertas-kertas yang aku tak tau itu apa , dan seorang Yeoja menghampiriku berbicara seolah aku adalah anak yang terbelakang. Dia membawa ku ke sebuah mobil, di dalam perjalan yang aku tak atau mungkin yang tau cuma Yeoja itu dan Tuhan.

Pikiran ku melanyang bukan bukan kematian Eomma tetapi dua kata yang terekam di pikiran ku. Tangal kematian , dan tanggal kematian, seandainya aku tau kalau itu adalah tanggal kematian dan sisa waktu bersama Eomma hanya 7 tahun aku akan meminta Eomma untuk berhenti memakai barang terkutuk itu. Dan aku bisa bersama Eomma.

Flashback off

"Jadi kau anak baru di sini?" tanya Yunho yang membuyarkan lamunanku. Aku terdiam tak menjawab pertanyaan Yunho, aku mendudukan diriku di batu besar di antara batu lainya. Ku lihat Yunho tak berhenti bergerak entah itu melempar batu meloncat kesana-kemari di tepi sungai, bodoh mungkin dengan cara itulah dia akan pergi meloncat kesana-kemri sehingga terjatuh mengakibatkan benturan keras di kepalanya. "Kau di keluarkan dari sekolahmu yang lama yah? Kau namja yang bandel yah?" yah di keluarkan oleh orang-orang di keluarkan dari rumah lamaku. Yunho melangkah kearahku." Kau mau rokok?" tanyanya yang mengeluarka Bungkus rokok yang lecek dari kantong sakunya. Ku ambil rokok itu dari yunho dan mencondongkan Tubuhku kearah korek api yang dinyalakan oleh Yunho kuhisap Nikotin pada rokok itu membuatku tenang . " Thanks" gumamku, Yunho mulai menghisap rokonya dengan memejamkan matanya dan menghembuskannya di iringi dengan cengiran konyol di wajahnya. Aku kembali berpikir, 'anak ini akan menjalani hidupnya seperti ini selama beberapa Bulan kedepan membolos dan merokok apa itu yang disebut kehidupan'. "apa kau tak bisa berhenti sejenak?" tanya ku padanya, Yunho menoleh kepada ku. "Tidak Jae, aku punya banyak energy, dan aku bukan patung lilin yang diam dan di pamerkan di musem Madame Tussauds." Ungakapnya. Mau tak mau aku tersenyum entah sudah berapa lama aku tak tersenyum seperti ini. "Kau sangat manis jika tersenyum." Ku arahkan pandangan ku pandanya "tutup mulut mu, Jung" ucapku "dan jangan banyak omong".

"Santai Jae, aku tak bermaksud apa-apa."

"Yah, aku … tidak suka."

"Kau juga tak suka menatap orang kan?" aku mengerakan bahu ku. "Kata orang kau sombong, kau menunduk dan tak mau menatap seseorang?"

"Nah, kalau itu adalah privasi ku dan aku mempunyai alasan tersendiri." Ungkap ku

"Kalau begitu aku tidak akan baik-baik dan bermanis-manis lagi pada mu Jae"

"Boleh, baiklah." Jawabku. Ada alaram yang berbunyi di dalam kepalaku. Sebagian dari dirku menginginkan ini lebih Dari apa pun di dunia-punya seseorang untuk berbagi, bersikap seperti orang lain untuk sejenak. Tapi sebagian dari sisi ku yang lain menolak menyuruhku untuk berhenti dan menyingkir dari sana, agar jangan terjerat. Kau terbiasa dengan seseorang-mulai menyukai mereka-dan mereka akan meninggalkan mu begitu saja. Pada akhirnya, semua orang akan pergi. Aku menatap yunho dia meloncat kesana-kemari , menendang batu kesungai, dan meraup batu-batu serta melemparnya kedalam air. 'Jangan melangkah kearah situ Jae, pikirku. Dalam waktu beberapa bulan dia akan pergi.'

Sewaktu punggung Yunho berbalik diam-diam aku bangkit dan mulai melangkah pergi dari situ. Aku berlari tanpa penjelasan dan tanpa ucapan selamat tinggal pada Yunho.

Aku bisa mendengar Yunho memanggilku dari belakang, "Hei, Mau kemana kau?" Aku ingin dia tetap disana, tak usah mengikuti ku. Semakin jauh jarak yang kurentangkan di antara kami, suaranya semakin samar-samat untuk di tanggakap oleh telinga ku.

"Ya, sudah sampai besok Jae."

T.B.C

Makasih buat yang sudah Review di prolog kemarin. Maaf kalau jelek dan banyak Typo (S)