Ariya 'no' miji proudly present:
RADIASI
(II: Penjelasan)
Disclaimer: Naruto is own Masashi Kishimoto
Warning: OOC, AU, Second POV,
Don't like Don't Read!
.
.
.
"Maafkan saya …" Kau tetap tertunduk di posisimu. Memejamkan kedua mata erat-erat. Berharap orang di hadapanmu tak akan memperpanjang masalah ini agar tak ada keributan di pagi hari.
"Cepat bangun! Lima menit lagi pagar ditutup!" tegurnya.
Kau sedikit tersentak kaget mendengar ucapannya. Apa yang dimaksud dengan pagar ditutup? Mencoba tak mengulur waktu lebih lama, kau mendongakkan kepalamu—melihat sosok yang berdiri tegap memandangmu dengan heran. Helaian rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Membuatmu menyipitkan mata untuk memfokuskan siluet wajah yang terasa familiar di memorimu.
Wanita ini … guru Bilogimu!
Kau membelalakkan mata. Kau yakin betul yang suara yang menegurmu barusan adalah suara maskulin milik laki-laki. Milik lelaki yang tiap pagi menubruk badanmu dari belakang. Yang tak pernah membantumu berdiri dan kemudian berlalu pergi hanya dengan sepenggal kata 'Gomen'.
Apa mungkin suara Anko-sensei berubah karena pergantian musim?
"Anko-sensei? Apa yang anda lakukan di sini?" Sungguh pertanyaan bodoh yang tak sepatutnya terlontar dari bibirmu jika kau sedikit saja mau menoleh ke sekelilingmu. Memastikan keberadaanmu. Yang bagaikan dilempar ke sisi lain lanskap aksamu dalam sepersekian detik.
"Apa yang kulakukan di sini?" Suaranya … berubah normal! Apa telingaku yang bermasalah? "Tentu saja untuk mengajar." Ia berkacak pinggang. Meletakkan tangan kanannya di sisi pinggang. Menunggu siswanya menyadari pertanyaannya barusan.
"Tapi rumah anda 'kan—" Berhenti. Kata-katamu tercekat di tenggorokan. Tak mampu melanjutkan. Yang kaulakukan hanyalah melihat jeruji besi menjulang tinggi di sampingmu yang kaukenal betul adalah pagar pelindung Konohagakuen—sekolahmu.
"—bukan di daerah sini," sambungmu dengan frekuensi terendah. Kau membelalakkan kedua iris emeraldmu. Mempertanyakan alasan atau lebih tepatnya penjelasan mengapa tubuhmu tiba-tiba terlempar ke depan sekolah. Padahal kau ingat sebelumnya masih berada di daerah pertokoan kota. Apa mungkin tubuhmu berpindah saat kau terduduk jatuh di jalanan? Tapi … siapa yang melakukannya dan bagaimana caranya?
Mungkin … kau harus bertanya pada logika kebanggaanmu! Bisa saja gaya gravitasi telah menarikmu ke sini. Atau mungkin medan magnet kuat berpusat di bawah tanah gedung sekolah? Sehingga menarikmu sejauh ini tanpa kau sadari? Ahh, itu GILA! Dan tak masuk akal!
Anko-sensei tampaknya sudah mulai gerah dengan tingkahmu yang seolah membuang waktu berharga miliknya. Diulurkannya sebelah tangannya untuk membantumu berdiri. "Ayo, cepat berdiri! Sebelum—"
Teng, teng, teng …
"—yah kautahu sendiri. Cepat bangun!" Suaranya terdengar meninggi, sedikit kasar berdengung di gendang telingamu. Ragu kauraih bantuannya yang sebenarnya tak perlu karena kau pun bisa berdiri sendiri. Tapi … dia gurumu. Tanggapan terbaik adalah—
"Terima kasih." Lalu mengikuti langkahnya yang tergolong lebar untuk ukuran rok sempit selutut yang dipakainya. Kau terus mengekori gurumu dari belakang sembari menatap langit biru cerah di atas kepalamu dengan bingung. Bingung dengan takdirmu sendiri!
Seharusnya kau menoleh ke sisi kananmu. Tepatnya di bawah satu-satunya pohon maple yang tengah berguguran di musim semi. Musin semi? Lagi-lagi kejanggalan terjadi di dekatmu dan kau melewatinya. Pohon itu … terlihat sangat berbeda dari yang lainnya. Dengan dedaunan kering yang berjatuhan membuatnya menjadi satu-satunya pohon yang mengotori halaman sekolah. Daun-daun itu … seakan berusaha menutupi sosok yang tengah bersandar di batang bawahnya. Menyamarkan wajahnya yang tengah tersenyum—menyeringai—penuh kemenangan sambil menatapmu dari kejauhan.
"Sudah waktunya .…" Bersamaan dengan kalimatnya, sosok misterius itu pun menghilang ditelan angin berputar yang tiba-tiba muncul di sekelilingnya. Menyisakan ketakutan di wajah salah satu siswa kurang beruntung yang melihat kepergian sang pria dari atas jendela kelasnya.
"Me-menghilang?"
.
.
.
Sampai di kelas kau langsung disambut ceria oleh seorang siswi berambut pirang yang tengah duduk di sebelah kursimu. "Hai, Sakura! Kau sudah masuk hari ini?"
Keningmu sedikit berkedut mendengar kata sambutannya. 'Aku … sudah masuk?' gumammu heran. Kau bermaksud untuk bertanya, namun pada akhirnya kau abaikan. Merasa tidak penting dengan ucapannya barusan. Kakimu tetap melangkah konstan menuju bangku tempat dudukmu di samping jendela. Meletakkan buku-bukumu di atas meja lalu mendudukkan dirimu perlahan di atas kursi, irismu kembali tertuju pada siswi 'asing' di sebelahmu yang tetap menatapmu—tampaknya menanti responmu.
Kau hanya terdiam bisu dan memerhatikannya dari atas sampai ke bawah. Mencoba mengenali sosok baru yang kau temui hari ini. Sungguh. Kau tak ingat siapa orang di sebelahmu ini. Yang kau tahu hanya satu. Orang yang seharusnya duduk bersamamu adalah Ino Yamanaka. Gadis cerewet dengan gaya trendy yang kemungkinan besar masih sakit dan terbaring lemah di ranjang rumahnya.
Tapi ini … gadis yang saat ini duduk di sampingmu dengan rambut serupa sahabatmu itu berpenampilan err sedikit culun. Dengan rambut pirang yang diikat dua dan longgar. Ditambah lagi … emb, kacamata berbingkai besar berlensa tebal bersandar di hidungnya yang hampir menutupi sebagian matanya.
Sedikit saja kesalahan analisis maka kau akan menduga itu adalah murid baru yang sok kenal padamu. Tapi, tentu saja, matamu cukup baik untuk mengenali sahabat baikmu dalam penampilan baru. "I-Ino?"
"Iya." Ia menaikkan sebelah alisnya. Tampaknya bingung dengan responmu yang juga bingung menatapnya. "Kenapa?" Kau tak menjawab dan kembali memasang wajah apa-ini-benar-kau?
Ino dengan penampilan barunya; kemeja kebesaran, rok di bawah lutut, serta blazer yang dipakai sesuai aturan. Dalam pengertian tak seperti penampilannya yang biasanya. Ia berbeda! Setelah seminggu sakit dan tidak masuk, ia langsung berubah sejauh ini?
Oh, ya, sakit. Hampir saja kau lupa untuk menanyakan keadaannya.
"Kau … sudah sembuh?" tanyamu ragu.
Sudut bibirnya sedikit terangkat. Merasa aneh dengan pertanyaanmu barusan. "Sembuh? Kapan aku sakit?"
"A-apa? Jadi seminggu penuh kau tak masuk karena apa?"
"Seminggu tidak masuk? Hahaha …." Ia tertawa keras di sana. Sebelah tangannya memegangi mulutnya agar tak terbuka terlalu lebar dan tangan lainnya meremas perutnya—berusaha menahan ledakan tawa yang tiba-tiba menyerang. "Jangan bercanda, Sakura. Seminggu ini kau yang tidak masuk!"
Apa? Permainan konyol apa lagi ini?
Hampir tiap hari kau telah menghadapi hari yang serupa setiap menit bahkan detiknya. Dan hari ini, dimana kau pikir harimu akan sedikit berbeda dari biasanya, justru diberi fakta aneh dari temanmu yang—menurutmu—dialah yang absen seminggu ini.
"Apa … maksudmu?" tanyamu takut. Kau takut menghadapi kenyataan aneh yang menghantuimu, memburumu dengan fakta yang berbeda dari apa yang kautahu. Dalam hati kauterus berdoa agar Ino hanya bercanda. Kau takut …. Benar-benar takut ….
Takut jika semua ini nyata!
"Kau absen tanpa keterangan selama seminggu ini, Sakura. Kami berusaha menghubungi orangtuamu tapi mereka bilang kau sudah pergi sejak pagi. Dan … entah kau pergi kemana yang jelas kau tak pernah sampai di sekolah," jelasnya. Tak ada keraguan di matanya.
Kau hanya menatapnya bingung. Ino yang tampak tak sabar tiba-tiba menyikut tanganmu pelan, "Hei, kau bolos, ya?" tambahnya dengan seringai jahil di sudut bibirnya.
Oh, Ino, tak tahukah kau bahwa temanmu ini tengah dilanda ketakutan?
Kau menelan ludah di kerongkonganmu dengan berat. Sangat berat. Rasanya seperti tercekat. "Apa pun itu, aku tidak tahu," ucapmu pada akhirnya. Jujur kau bingung dan ingin menanyai Ino lebih lanjut. Tapi, kau merasa belum atau tak sanggup mendengarnya. Dadamu bergemuruh tak teratur. Otakmu terus berkerja mencerna arti rentetan fenomena aneh di sekitarmu.
Fenomena yang menghantui bagaikan mimpi burukmu ….
.
.
.
Pintu kelas bergeser menampilkan sosok wanita muda yang membawa beberapa buku beserta tumpukan kertas di kedua belah tangannya. Ia mengedarkan matanya ke sekeliling kelas—sepertinya sedang mencari seseorang di sini.
"Sakura. Sensei tidak tahu alasan apa yang membuatmu absen tanpa kabar selama seminggu ini tapi perbuatanmu itu membuatmu harus menemui guru BP sekarang juga di ruangannya!" perintahnya tiba-tiba—tanpa basa-basi sebelumnya.
'Apa-apaan ini?' rutukmu dalam hati. Kau tak terima atas perlakuannya. 'Setidaknya jangan mempermalukanku di depan kelas begini. Tidak bisakah Anko-sensei bersikap lebih baik padaku? Sedikit penjelasan atau apalah gitu. Atau setidaknya mengajakku dulu untuk membicarakan hal ini di luar kelas? Apa dia masih kesal gara-gara kejadian pagi tadi?'
Kau tetap bergeming di tempatmu. Memandang Anko-sensei dengan pandangan tidak suka.
"Cepat lakukan, Haruno-san!" perintahnya lagi. Kali ini nada suaranya lebih dinaikkan sehingga terkesan lebih menyeramkan.
"I-iya," jawabmu pasrah.
Tiba-tiba lenganmu ditahan oleh seseorang. Kau menoleh sekilas lewat ekor matamu. Mendapati Ino yang tengah tersenyum jahil di sana. "Kau beruntung, forehead. Katanya guru BP kita sangat tampan. Ganbatte ne!" Diiringi kedipan sebagai akhir kata-kata penyemangatnya, Ino pun melepaskan pegangan tangannya darimu dan mendorong tubuhmu ke depan.
"Dasar!" lirihmu kesal.
.
.
.
"Permisi." Kauraih gagang pintu dingin berwarna perak cerah lalu mendorongnya perlahan. Setelah sebelumnya memastikan bahwa inilah ruangan yang dimaksud guru biologimu tadi. Walau ada sedikit perasaan janggal menghantuimu dari tadi tapi kau mengabaikannya. Menganggap itu hal biasa mengingat kau memang mengalami hari yang luar biasa akhir-akhir ini.
Oh, seandainya saja kau ingat bahwa tidak pernah ada ruangan BP di sekolahmu. Maka kau akan menyadari bahwa apa yang kaulihat hanyalah ilusi semata.
Karena ruang kosong di depanmu sebenarnya sudah dihancurkan bahkan sebelum kau bersekolah di sini ….
Atmosfir hangat yang semula menyelimuti, tiba-tiba serasa mencekam. Tubuhmu seakan dikelilingi oleh kesunyian abadi. Semuanya tampak tenang di matamu. Terlalu tenang. Buku-buku yang tertata rapi di raknya, satu set meja lengkap dengan kursi yang tersusun sesuai tempatnya, lengkap dengan intensitas cahaya yang cukup untuk kebutuhan pupil emeraldmu. Semuanya tampak biasa saja. Kecuali … sosok pria bertubuh tegap yang duduk membelakangimu—menghadap satu-satunya jendela di ruangan sederhana miliknya—seakan tak menyadari keberadaanmu.
"Permisi. Maaf mengganggu anda, emb—" Kau menolehkan irismu sekilas ke papan nama bercat putih bersih di atas meja kerjanya.
Uchiha Sasuke
Itulah nama yang terpampang di sana. "—Uchiha-sensei," sambungmu.
Hening sesaat. Kalian tetap bergeming di tempat dan posisi masing-masing. Kau sibuk memikirkan bagaimana tanggapannya kelak sementara orang yang kau panggil 'sensei' bahkan tak berusaha untuk mengeluarkan suaranya.
"Hn." Ia merespon kecil dengan deheman di tenggorokannya.
"Maaf. Kupikir sensei memanggilku jadi aku kemari," jelasmu.
"Aku memang memanggilmu."
"Apa karena masalah kehadiranku di sekolah?"
"Tidak. Tidak sama sekali." Ia berdiri perlahan lalu membalikkan tubuhnya ke belakang—menatapmu langsung. Helaian rambut raven-nya sedikit bergerak menutupi wajahnya. Sepasang mata onyx-nya membuka, menampilkan kilau hitam setajam elang.
"Kau tidak mengingatku, eh, Sakura?"
Saat itulah kau menyadari bahwa ada lebih banyak kejanggalan yang sudah menantimu. Di sini. Di kehidupanmu.
"Aku … mimpi burukmu."
.
.
.
TBC
.
.
.
Ini update-an terakhir sebelum masuk sekolah minggu depan. Gak nyangka rasanya libur cepet banget berakhir T.T
Terimakasih yang udah bersedia Read n Review ^^
Jika berkenan silahkan tinggalkan jejak anda,
Review akan sangat berarti untuk saya…
