.

.

.

Sekuat apapun cinta seseorang, selama apapun mereka berhubungan
mereka pasti akan berpisah juga..
Karena cinta tidak pernah abadi..
Kau tahu kematian?
Itulah yang membuat cinta setiap manusia tidak pernah abadi.
Aku sudah memperingatkanmu,
Jangan salahkan aku jika kau sakit pada akhirnya...

.

.

Haru Haru (Day by Day)

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rated: T

Genre: Romance, Angst, Hurt/Comfort

Writed by: Eun Jin Tsubaki

Summary: "Kematianlah yang membuat cinta setiap manusia tidak pernah abadi."/Tetapi Tuhan berkata jika cinta kita abadi, Hime/END CHAPTER. DLDR. Terinspirasi dari MV Haru Haru by BigBang.

.

.

.

.

.

Disebuah ruangan berbau obat-obatan, tengah terbaring seorang lelaki tampan di atas ranjang. Selang pernafasan bertengger di hidungnya, kepalanya berbalut perban yang dipenuhi warna coklat ke merah-merahan. Matanya yang terpejam sedari tadi perlahan menampakkan obsidiannya yang sehitam langit tanpa bulan dan bintang. Menyesuaikan diri sebentar dengan keadaan ruangan tersebut. Matanya bergerak pelan ke segala sudut ruangan itu. Tiba-tiba ia mendengar suara isakan tangis di sekitarnya. Perlahan, Sasuke –nama lelaki itu- beranjak bangun dan berusaha menapakkan kakinya dilantai yang dingin, sesekali meringis karena sakit yang mendera kepalanya. Ia mencabut selang pernafasan dan infusnya lalu berjalan ke arah suara itu dan menemukan seorang gadis berambut panjang sepinggang membelakanginya. Ia juga memakai baju rumah sakit seperti Sasuke. Dengan melihat rambutnya saja Sasuke sudah yakin siapa gadis tersebut.

"Hi-Hinata?" panggilnya dengan setengah ragu. Gadis itu berbalik dan menatap Sasuke dengan terkejut. Sasuke dengan ekspresi panik berusaha mendekati Hinata. Sungguh ia sangat merindukan gadis di depannya ini. Ia sangat ingin memeluknya, membelai rambutnya. Ia merindukan suaranya yang lembut. Hampir saja Sasuke menggapai tubuh Hinata kalau saja gadis bermata lavender itu tiba-tiba mundur menjauhi Sasuke dan berlari keluar dari ruangan itu. Sasuke segera mengejarnya. Tidak peduli rasa sakit yang menjalar di kaki dan kepalanya.

"Hinata!" Sasuke terus berlari seraya memanggil gadis itu. Tidak terasa gadis itu membawa Sasuke sampai ke luar Rumah Sakit. Mereka menuju jalan raya yang ramai. Tiba-tiba Sasuke merasakan sakit yang amat sangat di kakinya. Kakinya sudah tidak kuat menopang berat tubuhnya. Badannya jatuh berlutut di tepi trotoar yang ramai. Ia memanggil Hinata terus menerus supaya gadis itu berhenti seraya memaksakan kedua kakinya untuk berdiri tetapi rasanya kakinya seperti dilindas truk mollen.

"ARRGGGGHHHH UKH HI-HINA..TA B-BERHEN..TI!" teriaknya dengan keras. Hinata akhirnya berhenti namun ditempat yang salah. Di tengah jalan raya tersebut ia tersenyum, memandang sendu Sasuke di depannya yang berusaha menggerakkan kakinya. Tidak mendengar, namun Sasuke melihat pergerakan bibir Hinata yang mengucapkan sesuatu.

"Aishiteru Sasuke-kun," dan bersamaan dengan truk besar yang melaju sangat kencang menuju Hinata yang rapuh disana.

TIIIIIIINNNNNN

DUAAAGGHHH

"HINATA!"

"..."

Sasuke bangun dan membelalakkan matanya. Keringat membasahi perban yang melingkar di kepalanya. Nafasnya memburu, matanya berkaca-kaca dan jantungnya berdetak kencang. Konan, kakak iparnya sekaligus istri nii-sannya yang tertidur disamping ranjangnya juga terbangun kaget. Melihat Sasuke yang bangun dari koma nya, Konan segera memencet tombol panggilan darurat diruangan itu untuk memanggil dokter.

"Sasuke, kau tidak apa-apa?" tanya Konan seraya mengelus punggung Sasuke menenangkannya. Konan senang adik iparnya kini bangun dari komanya, tetapi juga shock karena melihat Sasuke yang bangun dengan seperti ini. Kabuto –dokter yang mengurus Sasuke- datang dan membaringkan Sasuke dengan pelan lalu segera memeriksanya. Konan sedang berusaha menghubungi Itachi dan keluarga Sasuke.

Apa maksud dari mimpinya itu? Hinata, apa yang sebenarnya terjadi padanya? Beribu-ribu pertanyaan hadir di kepala Sasuke tanpa permisi. Dia tidak pernah membayangkan kalau akan mendapatkan bunga tidur yang sangat menyeramkan seperti itu. Tidak peduli dengan dokter dan perawat yang tengah bertanya tanya apa yang ia rasakan sekarang. Yang ada di benaknya kini hanya gadis itu. Sungguh gadis itu benar benar membuatnya gila.

.

.

.

Semua menghampiri Hinata ketika ia sudah sampai di ruang operasi. Hinata tersenyum, memberi tahu pada semua orang disana kalau ia baik-baik saja. Naruto terus mengenggam lembut tangan Hinata. Tidak mau jauh darinya. Seolah olah mereka adalah pasangan yang tidak bisa dipisahkan. Neji mengelus kepala Hinata, tersenyum lembut. Terlihat jelas raut khawatir dari wajah tampannya.

"Ayo Hinata-chan! Semangat ya di dalam sana!" ujar Kiba dengan mata berkaca-kaca.

"Kalau kau sudah sembuh, kami pasti akan menyanyikan banyak lagu untukmu!" tambah Kankurou sambil mengepalkan tangannya ke atas, memberi tanda semangat.

"Kami selalu berdoa untukmu Hinata," ucap Sai tersenyum tulus dan ucapan semangat yang terakhir karena ranjang Hinata sudah di dorong masuk oleh perawat. Naruto tidak mengatakan apapun. Ia bingung apa yang harus ia katakan. Tanpa sengaja Naruto melihat air mata menetes di lavender Hinata ketika memasuki ruang operasi. Pernahkah kalian merasakan sesak ketika melihat orang yang sangat berarti dalam hidup kita tengah berjuang mempertahankan nyawanya, sendirian? Itulah yang dirasakan Naruto.

Naruto merasakan getaran di saku celananya. Dengan pelan ia mengambil ponselnya dan melihat nama pemanggilnya. 'Itachi-nii? Pasti ada apa-apa dengan Sasuke.' Dengan segera ia menekan tombol answer.

.

.

.

Sasuke sedang duduk setengah berbaring di ranjang. Onyxnya menatap lembut layar panjang iPhonenya dengan walpapper dirinya dengan sang mantan kekasih. Satu tahun yang lalu. Sasuke tersenyum miris. Bahkan saat itu ia sedang mencari waktu yang pas untuk melamarnya. Tunggu, ini tidak boleh. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri akan melupakan gadis itu demi kebahagiaannya. Tapi rasanya itu sulit. Tanpa sadar ia meraba cincin yang melingkar di jari manisnya. SS & HH, inisial yang terukir dipunggung cincin tersebut.

KRIEEETTT

Sasuke membalikkan ponselnya –menutupi walpappernya- dan bersikap seperti biasanya. Ia menoleh dan mendapati wajah rubah milik sahabat yang mengkhianatinya –menurutnya-, Naruto. Sasuke memandang dingin sejenak lalu mengalihkan pandangannya ke jendela. Naruto tersenyum dan menghampiri Sasuke dengan semangat.

"Oy Teme! Bagaimana keadaaanmu?" tanya Naruto dengan ekspresi biasa seolah olah tidak ada yang terjadi diantara mereka. Sasuke memilih diam, menganggap ucapan Naruto hanya angin lalu.

"Itachi-nii bilang kau kecelakaan karena mengendarai mobil dengan keadaan lapar, benarkah? Aku hampir tertawa saat mendengarnya!" Naruto tertawa dengan entengnya. Dalam hati Sasuke merutuki nii-sannya yang baka itu karena memberi alasan yang sangat memalukan. Sasuke berfikir, mengapa bocah ini masih bersikap sok akrab padanya setelah berhasil merebut kekasihnya. Apakah otaknya sedang bermasalah?

"Mau apa kesini?" tanya Sasuke singkat.

"Mau apa? Tentu saja menjenguk sahabatku yang habis kecelakaan karena lapar haha," jawab Naruto setengah bercanda. Tapi sepertinya Sasuke tidak menganggap itu lucu.

"Cih, kukira kau sedang mempersiapkan pernikahanmu dengannya," ujar Sasuke dengan nada meremehkan. Tawa Naruto kini tergantikan dengan seulas senyum. Sorot matanya menatap pemuda di depannya dengan lembut.

"Hanya kau."

"..."

"Hanya kau yang menempati hatinya. Aku sudah berusaha menyingkirkanmu dari hatinya, toh itu semua sia-sia saja." Naruto tersenyum miris. Sasuke masih bungkam walau begitu banyak pertanyaan yang berkecamuk di pikirannya. Naruto merogoh kantungnya, mengeluarkan benda kecil yang sangat berharga bagi kedua sahabatnya. Ia meraih tangan Sasuke yang tergolek lemas disamping tubuhnya dan menaruh benda itu ditelapak tangannya. Sasuke menoleh dan menatap bingung ke arah tangan kirinya. Cincin?

"Titipannya.."

"..."

"-sebelum dia 'pergi'." Sasuke menoleh cepat ke arah Naruto. Matanya menatap Naruto dengan terkejut. Tangan kirinya mengepal -menggenggam cincin itu- dengan kuat. Jantungnya tiba-tiba berdetak tidak teratur.

"Katakan apa yang sebenarnya terjadi?" tanyanya dengan mata menatap tajam pada Naruto.

"Hinata, dia menderita Leukimia,"

DEG

Ucapan naruto seakan bagaikan tombak yang menikam pendengaran Sasuke dengan keras. Ekspresinya mengeras. Dengan penuh emosi dia mencengkram kerah baju Naruto.

"Kau jangan bercanda Naruto!" Naruto hanya diam ketika Sasukeberteriak di depannya. Cengkraman Sasuke melonggar dan perlahan tangannya terjatuh lemas di samping ke dua pahanya. Rasanya seperti ada beton yang menghantam dinding jantungnya.

Sasuke sekarang seperti orang bodoh di depan Naruto. Ia merasa tidak pantas disebut sebagai kekasih yang baik. Kekasihnya mengidap penyakit mematikan saja dia tidak tahu. Bahkan Naruto yang hanya teman Hinata pun tau seluk beluk kehidupan Hinata. Apa saja yang dia lakukan selama ini? Sebenarnya siapa yang menempati posisi sebagai kekasih Hinata disini?

"Dia mencintaimu. Saking cintanya sampai sampai dia tidak mau kau akan sakit nantinya."

Cukup

"Kau tahu kan? Perasaannya sangat lembut. Dia takut jika memberitahumu, kau akan merasa sedih. Dia tidak mau menyakitimu!"

Cukup Dobe

"Ia memintaku untuk membantunya, berpura pura selingkuh didepanmu. Agar kau meninggalkannya, agar kau melupakannya."

Hentikan!

"Dengan begitu saat ia pergi, kau tak akan merasakan kesedihan. Kau tidak menangis di depan jasadnya. Ia tidak mau kau terlihat rapuh."

"..."

"Hinata sangat mencintaimu, Teme."

"..."

"Kupikir ini takdir. Bahkan kau satu rumah sakit dengannya. Tidak mungkin kalau ini sebuah kebetu- Sasuke!" Naruto tidak melanjutkan kata-katanya karena Sasuke segera melesat turun dari ranjangnya dan keluar dari ruangannya. Naruto berbalik dan mengejar Sasuke.

Sasuke berlari tidak tentu arah. Yang ada diotaknya saat ini hanyalah bertemu Hinata. Dia menjelajahi rumah sakit itu dengan linglung sampai sampai menabrak orang orang yang ada di sekitarnya. Tanpa disadarinya air matanya sudah berada di pelupuk matanya seakan siap tumpah begitu saja.

.

Flashback On

"Kau sedang apa Hinata?" tanya Sasuke bingung karena sedari tadi Hinata hanya melihat seekor kucing yang mungkin berusaha ingin menggendong temannya yang tergeletak di pinggir jalan.

"Kucing itu" –katanya sambil menunjuk kedua kucing tersebut- "aku tahu kucing itu sudah mati, tetapi kucing yang satunya tetap bersikeras membangunkannya dan membawanya."

"Sasuke-kun, andai saja aku kucing yang tergeletak itu, dan kau kucing yang satunya, apa yang kau lakukan?"

"Tentu saja aku melakukan hal yang sama seperti kucing itu. Membangunkanmu dan berusaha meminta bantuan pada manusia yang baik hati," ujar Sasuke. "Kalau kau?" lanjutnya.

"Aku tidak mau menyusahkan orang lain kalau aku mati."

"Hn?"

"Aku akan mati diam diam di belakangmu. Aku tidak mau kau seperti kucing itu. Menangisi kepergianku di depan jasadku. Kesannya aku ini jahat sekali."

"Pfffttt."

"Ke-kenapa?"

"T-tidak apa-apa. Kau tidak berisiatif untuk membantu kucing kucing itu?"

"Aa. Ayo kita bantu."

Flashback Of

.

'Aku kira kau hanya bergurau'

"Teme!"

'Aku kira itu hanya leluconmu.'

"Teme tunggu!"

'Kau bodoh Sasuke, kau bodoh.'

Dan perlahan sekelebat memori terpatri di benak Sasuke. Memori tersebut seakan ikut menghiasi semua drama bodoh ini. Sasuke terus berlari mencari ruangan Hinata dirawat. Dan disaat itu matanya menangkap sekelompok orang-orang –tidak- itu teman-temannya. Sasuke menghentikan langkahnya. Sai yang pertama menyadari keberadaan Sasuke berdiri dengan terkejut diikuti yang lainnya.

"Sa-Sasuke," gumam Kiba dengan pelan. Semua menatap Sasuke dengan kaget. Apalagi dengan keadaan Sasuke yang juga memakai baju rumah sakit dan perban melingkar di kepalanya. Naruto belum memberi tahu teman-temannya kalau Sasuke kecelakaan.

Disaat yang bersamaan pintu ruang operasi terbuka dan Tsunade –dokter yang merawat Hinata- keluar dengan raut wajah yang tidak bisa ditebak. Sasuke yang melihatnya langsung menghampiri Tsunade dengan terburu-buru.

"Hinata! Bagaimana? Dia?" tanyanya dengan sangat menuntut. Hati Sasuke mencelos setelah melihat gerakan Tsunade yang menggelengkan kepalanya. Tangannya menepuk bahu Sasuke seraya menggumam 'maaf'. Kiba, air matanya menetes walau hanya beberapa tetes. Kankurou merangkul bahu kekar Kiba, menenangkannya. Neji menunduk, tangannya mengepal keras. Tubuhnya jatuh terduduk di bangku rumah sakit yang dingin. Semuanya sedang berkabung. Semuanya kehilangan sosok malaikat seperti Hinata. Dan empat perawat keluar dari ruang operasi dengan mendorong ranjang seorang pasien. Sasuke menoleh dan menghampiri ranjang tersebut. Naruto datang terengah engah –baru sampai setelah mengejar Sasuke- dan menatap pemandangan memilukan di depannya. Dadanya sesak menghadapi peristiwa yang tidak pernah ia bayangkan ini. Tubuhnya lemas menghadapi rencana Tuhan yang satu ini. Apa dayanya ia? Ia hanya seorang manusia yang harus berikhtiar dan sisanya hanya tinggal menunggu takdir datang padanya. Iya kan?

Perlahan, ia membuka selimut yang menutupi tubuh makhluk Tuhan yang hanya tinggal raganya itu. Selimut itu terbuka hanya setengah leher, menampakkan wajah pucat gadis manis yang senyumannya sangat di tunggu orang orang di sekitarnya. Sasuke menatap gadis di depannya dengan kosong. Pipinya yang selalu bersemu merah itu kini sama sekali polos. Bibir tipisnya yang merah merona itu kini pucat pasi. Sasuke menyentuh pipi ranumnya. Dulunya hangat, sekarang rasanya seperti menyentuh lantai yang ia tapaki sekarang. Dingin, hampa. Ia berlutut, mensejajarkan wajahnya dengan tubuh terbaring di depannya. Eskpresinya tidak bisa digambarkan. Tubuhnya bergetar. Jari-jari kekarnya mengelus kepala mantan kekasihnya dengan pelan.

"Aku.."

"..."

"Hime, aku...

"..."

Tes

'Satu tetes'

Tes

'Dua tetes'

Semuanya menangis dalam diam.

Seorang Uchiha yang dikenal dingin, tidak peka, berhati batu, siapa sangka sekarang dia mengeluarkan air matanya untuk gadis biasa seperti Hinata?

Hinata. Kau tahu betapa beruntungnya kau? Semua orang berkabung untukmu. Semua orang menangis untukmu. Tangisan itu tulus. Kau tahu betapa adilnya Tuhan merencanakan takdirmu?

.

Seorang gadis cantik tengah duduk disebuah bangku putih. Hidungnya memerah, matanya berkaca-kaca. Terlihat bekas air mata di pipi ranumnya. Tidak peduli baju sekolahnya yang lusuh dan tatapan tatapan aneh dari orang orang disekitarnya. Tiba-tiba seseorang berdiri tepat dihadapannya yang sedang menunduk. Tangisan semakin menjadi-jadi saat lavendernya mendapati wajah teduh dengan obsidian yang menatapnya dengan khawatir. Segera saja Hinata berdiri dan menubruk orang yang ada di depannya.

"Hinata, koko de nanishiteruno? Sudah tiga jam aku mencarimu kemana-mana," tanya pemuda itu sambil membalas pelukan Hinata.

"Sasuke-kun, a-aku takut." Hinata semakin mengencangkan pelukan. Sasuke membiarkan Hinata memeluknya, membiarkan dirinya tenang dulu. Ia mengelus tubuh mungil itu dengan penuh kasih sayang. Sasuke menarik Hinata duduk dibangku tanpa melepaskan pelukan mereka. Isakkan Hinata perlahan berhenti. Dirasanya sudah tenang, Sasuke menanyakan apa yang sebenarnya terjadi tetapi Hinata masih juga bungkam. Akhirnya Sasuke mengajak Hinata ke kedai es krim, mencoba menghiburnya.

"Kenapa? Tidak suka dengan rasanya?" Hinata mendongak dan menggeleng cepat. Ia tersenyum lalu melahap es krim tersebut dengan cepat. Sasuke terkekeh melihat gadisnya yang seperti anak kecil ini. Setelah puas, mereka pun keluar. Sasuke mengajak Hinata ke sebuah danau terpencil di sudut kota.

"Ke-kenapa mengajakku ke sini?" tanya Hinata seraya menaikkan sebelah alisnya. Sasuke tersenyum tipis dan duduk di rerumputan diikuti Hinata.

"Ini tempat bersejarah untukku," ucap Sasuke tanpa memandang Hinata.

"Dulu sewaktu aku masih kecil, aku sangat senang bermain disini bersama Itachi-nii. Sampai suatu hari, aku hampir tercebur ke danau karena bermain terlalu ke pinggir. Untung saja Itachi-nii waktu itu ada disampingku dan langsung menarikku," jelas Sasuke panjang lebar. Hinata menatap Sasuke dengan tatapan 'wow'. Sasuke menoleh ketika mendengar kikikkan kecil di sampingnya.

"Kenapa tertawa?"

Hinata menggeleng sambil tersenyum. "Aku baru mendengar seorang Sasuke Uchiha berbagi curahan hatinya," ucapnya sambil terkekeh geli.

"Iya, dan hanya padamu aku seperti ini." Sasuke memandang Hinata dengan lembut. Keheningan melanda mereka.

"Sasuke-kun,"

"Hn?"

"Apa kau mencintaiku?"

"Pertanyaan bodoh. Tentu saja aku mencintaimu."

"Kau tau? Cinta tidak akan pernah abadi." Sasuke menoleh cepat ke samping memandang Hinata dengan bingung.

"Sekuat apapun cinta seseorang, selama apapun mereka berhubungan, pasti mereka akan berpisah juga. Kau tahu kematian? Ya, kematianlah yang membuat cinta tak pernah abadi," ucap Hinata dengan lirih seraya menatap gelombang tenang air danau. Sasuke semakin bingung dengan perkataan Hinata.

"Jadi, jangan terlalu mencintai seseorang. Kita akan sangat sakit jika kita kehilangannya," lanjut Hinata. Entah mengapa jantung Sasuke berdegup kencang. Sasuke benar benar tidak mengerti apa yang dikatakan gadis itu. Hey, tidak mengerti atau tidak mau mengerti?

"Hina-

"Sasuke-kun, hari sudah semakin gelap. Ayo pulang! Aku takut nanti kita dimarahi Neji-nii," ujar Hinata seraya berdiri dan tersenyum pada Sasuke. Sasuke ikut berdiri dan berjalan bersampingan dengan Hinata. Tangan besarnya digenggam, ia menunduk melihat tangannya yang terpaut dengan tangan kekasihnya. Hari ini membuatnya sangat lelah.

.

Memori itu datang. Jawaban dari semua pertanyaan yang mengerubungi benak Sasuke pun datang dengan sendirinya. Sekarang ia tahu kenapa ia menemukan Hinata menangis waktu itu. Ia tahu kenapa Hinata berbicara kalimat aneh waktu itu. Ia mengerti semuanya. Hinata tidak salah, tidak. Hinata sudah memberinya clue tentang semuanya. Ada saatnya dimana dia sangat menyesali sifatnya yang kurang perasa.

'Aku yang bodoh. Gomenne Hime.'

.

Berita 'kepulangan' Hinata menyebar dengan cepat. Hiashi Hyuuga –ayah Hinata- shock mendengar berita kepulangan putrinya ke sisi Tuhan dengan tiba-tiba. Dengan segera ia memesan tiket penerbangan tercepat ke Tokyo bersama Hanabi. Sama halnya dengan Mikoto dan Fugaku –orang tua Sasuke- yang sedang di luar negeri segera pulang ke Tokyo setelah mendengar berita duka calon istri anak bungsunya. Semuanya terjadi begitu mendadak.

.

Seorang lelaki berambut blonde membuka pintu kamarnya dengan lemas. Setelah acara pemakaman selesai, ia langsung pulang duluan. Ia berjalan ke sisi tempat tidurnya dan merebahkan dirinya disana. Matanya menerawang kosong dinding langit kamarnya. Tubuhnya serasa tidak punya tenaga. Kepalanya pening, matanya terasa panas. Rasanya seperti ada sesuatu yang tertahan di pangkal saluran pernafasan di hidungnya. Semua terjadi dengan tidak terduga. Ia memejamkan matanya sejenak. Berharap jika ia bangun, semuanya berubah. Baju yang dikenakannya berubah, bukan hitam polos seperti ini, tetapi seragam sekolahnya yang dulu. Bukan dikamarnya, tetapi di halaman belakang sekolahnya. Dan tidak sendiri, tetapi sedang bercanda dan tertawa keras dengan sahabat-sahabatnya. Semua serasa berjalan seperti air yang memancur dari selang. Naruto. Lelaki itu kini kehilangan tawanya, kehilangan senyuman sahabat-sahabatnya, dan kehilangan gadis yang dicintainya –walau bertepuk sebelah tangan-. Dia seperti ingin kabur dari semua ini, menuju ke sebuah jurang di tepi hutan dan terjun dari sana. Tetapi tidak bisa, ya karena ia tahu ia tidak bisa lari dari takdir Tuhan. Sepahit-pahitnya takdir, walaupun ayahmu adalah seorang tabib atau pastur atau segala macamnya, kau tidak akan bisa merubah dan menolaknya.

Tapi apa kau tahu? Sepahit-pahitnya takdir yang Tuhan berikan, dibaliknya pasti akan ada takdir yang indah yang sudah Tuhan rencanakan untuk kita. Hanya tinggal menunggu waktu yang tepat saja.

.

.

.

.

Sasuke duduk di tepian pantai seraya menatap deburan ombak di depannya dengan datar. Kakinya menggantung bebas dengan berani, seakan dalamnya air asin dibawahnya sudah sangat wajar. Langit yang segelap mata obsidiannya ikut menemaninya disana. Sudah 3 jam semenjak upacara pemakaman selesai ia disini sendirian. Udara yang semakin dingin tidak dihiraukannya. Dia tidak sedang memikirkan masa lalunya, ia juga tidak sedang menangisi takdirnya. Oh tidak, dia tidak pernah menangisi takdirnya. Lihat saja matanya, walaupun sudah seperti panda tetapi tidak ada jejak sembab disana.

Ia merogoh saku jaketnya yang tebal dan mengeluarkan sebuah kalung disana. Bukan liontin berbentuk love atau permata, tetapi dua lingkaran cincin putih menggandul disana. Ia menatapnya dan memainkan gandulannya tanpa ekspresi. Cincin itu, cincin yang dulu pernah mengikat hubungannya dengan seorang gadis lugu dan pendiam yang berhasil menarik perhatiannya. Haha, Sasuke jadi teringat lagi dengannya.

Ia mengantungkan kalung itu lagi disaku jaketnya dan berencana akan pulang kalau saja kaitan kalung itu tidak lepas dan kedua cincin yang menggantung disana tidak terjatuh di laut. Sasuke terkejut dan tanpa pikir panjang menceburkan dirinya kesana. Mencari aset yang sangat penting di hidupnya. Tidak peduli dinginnya air asin yang menusuk tubuhnya, dalamnya air asin tersebut yang mulai menenggelamkan tubuhnya. Ia menemukannya, keduanya masih utuh. Segera saja ia pacu mengambil benda penting itu. Tiba-tiba ia merasakan sakit yang amat sangat dikakinya. Oh dia melupakan sesuatu. Ia baru saja keluar dari rumah sakit dan keadaan tulang keringnya belum pulih benar. Dengan was-was ia langsung memacu pergelangan kakinya untuk berenang. Anak bungsu Uchiha itu berusaha melawan derasnya arus air untuk mencapai ketepian pantai. Tidak, dia tidak kuat. Kakinya sangat sakit, belum lagi dinginnya air laut yang menusuk kulit tubuhnya. Nafasnya sudah semakin habis. Ia bukan putri duyung yang bisa bernafas di dua alam. Perlahan kedua kelopak itu menutup, pergerakan tubuh pemuda raven itu melemah. Ia menyerah.

Maafkan aku tou-san... kaa-san. Malaikat sudah menjemputku...

Kenapa Sasuke? Bukankah ini yang kau inginkan?

.

.

.

.

EPILOG

Someone's POV

Aku membuka kedua kelopak mataku dengan perlahan. Putih. Semuanya putih polos. Aku beranjak bangun, mengangkat seluruh berat tubuhku untuk bertumpu pada kedua kakiku yang tanpa alas. Aku menatap sekelilingku dengan asing. Tidak ada apapun disini. Kutatap tubuhku sendiri, aku sama sekali tidak ingat aku mempunyai pakaian yang aneh seperti ini. Sekali lagi kutengok kiri, kanan, atas, belakang. Nihil. Tak ada apapun. Kakiku mulai menapak menelusuri jalanan putih ini. Sebuah cahaya aneh muncul dari depan sana membuat keingintahuan semakin membuncah. Aku tetap mendekati cahaya yang dengan teganya menusuk nusukkan pupil mataku. Kelopakku bergerak menyipit. Seseorang keluar dari sana. Oh apakah aku sedang bermain disebuah drama korea? Ini sangat persis seperti drama korea kesukaan-

Tunggu sebentar.

Seseorang yang ingin ku sebut tadi itu keluar dari cahaya tersebut dan menghampiriku. Dia? Tuhan, apalagi ini sekarang? Apa yang terjadi padaku? Bahkan aku tidak bisa mengontrol detak jantungku saat dia tengah sampai di depan mataku. Matanya, hidungnya, rambutnya, bibir itu...

"Hai," ucapnya dengan tidak lupa senyumnya yang selalu menghiasi paras eloknya. Aku tidak membalasnya. Ini begitu membingungkan. Mataku sama sekali tidak berkedip. Apakah ini mimpi? Ya, pasti ini mimpi!

Kutampar pipi kiriku dengan keras. Kurelakan wajah tampanku ini memerah akibat ulah telapak tanganku sendiri. Dan... aiissh! Perih sekali. Aku mengelus korban telapak tanganku ini. Tunggu. Ini bukan mimpi. Ku katakan sekali lagi,

Ini. Bukan. Mimpi.

Aku mendongak. Memandang paras cantik di depanku dengan disertai kebahagiaan yang membuncah di dalam dadaku. Aku menggerakan jari jariku menuju wajahnya seakan memastikan kembali bahwa dia nyata. Bukan sekedar khayalan semata.

Ya.

Aku tidak bermimpi.

Dengan cepat ku tarik tubuh mungilnya ke dalam rengkuhanku. Sudah ku bilang, harum badannya ini selalu membuat perasaanku tenang. Aku merindukan harum badannya. Tubuhnya hangat, tidak seperti waktu aku terakhir kali menyentuhnya. Ku tenggelamkan wajahku di lekukan leher jenjangnya. Ku elus rambut yang sewarna dengan rambut ibuku dengan lembut. Ia membalas pelukanku. Ia merengkuh tubuhku yang lebih besar darinya. Hangat. Pita suara yang kuabaikan ini kuberanikan untuk mengeluarkan suara khasku.

"Aku merindukanmu." Aku memejamkan mataku. Bisa kurasakan rengkuhannya yang semakin erat memeluk punggung tegapku.

"Aku juga merindukanmu...

"..."

"...Sasuke-kun."

.

.

.

Dan Tuhan membiarkan cintaku abadi bersamanya...

.

.

FIN

.

.

Yak! Jangan gebukin author ya plis author kaga maksud buat bikin nih cerita jadi kaga nyambung. Ini author bikin lamaaaaa banget dan baru selesai sekarang. Terserah readers deh author pasrah =_=, ini fanfict selesai udeh alhamdulillah banget dah sumpah =,= terus semua pertanyaan readers udeh author jawab semua di sana u,u

BigThanksfor: Miko Satsuna; Mery chan; sarangchullpa92; R; Suzumiya; Hyou Hyouichiffer; n; NaruNarurin; Sasuhina-caem; lonelyclover; Shyoul lavaen; Uenaka-san; SasuHina Nyo
and for all silent readers yang sudah meluangkan waktunya untuk membaca dan menunggu fanfict ini ^^

Maaf bila ada salah dalam penulisan nama.

Oke deh biasa, lu lu pada tinggalin jejak dulu ye. Itu klik "Review this chapter" di bawah ni tulisan hehehe ^^v

Sampe ketemu di fanfict author selanjutnya ye.

Salam peluk dan kecup manis..

From Evil's Joker – Eun Jin Tsubaki-san

December 29th, 2011