Disclaimer: M. Kishimoto
Warning: Canon,tanda baca nyasar, battle jutsu, cerita ga jelas, sangat OOC,typos bertebaran,melenceng dari EYD yang berlaku dll
Title: From Mission To Love
Genre: Romance & Drama, hurt/comfort (maybe)
Main pair: Sasuke U. x Hinata H.
DON'T LIKE DON'T READ!
.
.
Mohon maaf bila ada kesamaan ide dengan author lain. Ide ini murni dari otak Akemi yang rada konslet. Mungkin bila ada kesamaan itu merupakan unsur ketidak sengajaan dan mungkin err.. jodoh?
#plakk XD
Happy Reading :)
.
.
Summary: : Sasuke adalah Uchiha terakhir yang masih hidup hingga saat ini, Hinata adalah mantan Heiress Clan Hyuuga yang hidupnya hancur setelah pernikahan –mantan- pujaan hatinya. Sebuah misi mengantarkan Hinata menjadi bagian dari Klan Uchiha yang hampir punah/"S-semo-ga b-bulan ma-madu kalian me-men-menyenang-kan"/"Aku tak pernah kesepian karna aku selalu bersama Okaa-chan. Di sini"
.
.
Xxxx
Sasuke memilih jalan yang lebih jauh untuk beristirahat. Enggan atau lebih tepatnya tidak ingin untuk bertatap muka dengan partner misinya kali ini barang sejenak.
Melihat lingkar hitam di kelopak mata indah Hinata, tubuh indah semampai yang dulu menjadi impian banyak gadis sekarang ringkih dan tampak rapuh, kecantikan yang menguar keluar sekarang layaknya mutiara yang terpendam di laut terdalam dan terlindung kuat oleh cangkangnya.
Entah kenapa melihat kondisi Hinata saat ini membuat Sasuke miris dan sakit. Meski akrab dengan berbagai rasa sakit karna dirinya adalah seorang shinobi, namun rasa sakit yang timbul karna 'Hinata' lebih menyesakannya dan yang membuat Sasuke mengerang frustasi adalah Sasuke tak tau kenapa dan apa sebabnya!
Si Uchiha terakhir hanya membersihkan wajahnya dan meminum air dari aliran sungai kecil di hadapannya. Merasakan segarnya air dingin yang membasahi tenggorokannya. Setelah dirasanya cukup, Sasuke segera mencari Hinata dengan mendeteksi aliran cakra gadis mantan heiress clan itu. Cakra Hinata saat ini stabil dan ritmenya teratur , berbeda dari sepuluh menit yang lalu yang semakin menipis dan tak beraturan.
Sasuke menemukan Hinata tengah tertidur lelap di bawah pohon rindang. Membungkuk dan melambai-lambaikan telapak tangannya di depan wajah Hinata. Tak ada respon. Sasuke memperhatikan dengan seksama. Wajah Hinata polos dan damai, kerut-kerut tegang di wajahnya mengendur.
'Cantik'
Sasuke menggeleng. Pikiran sesat dari mana itu tadi. Sasuke berbalik dan menggendong Hinata di punggungnya dengan kehati-hatian seolah Hinata adalah barang pecah belah berharga yang sangat rapuh. Seolah sedikit guncangan saja dapat membuatnya bangun.
Sasuke melajutkan perjalanan dengan langkah pelan.
"Engh.."
Hinata hanya menggeliat dan menyamankan kembali tidurnya. Sasuke berhenti sejenak dan melihat dengan ekor matanya. Hinata mengernyit . merasa sudah cukup dan siap , Sasuke kembali melanjutkan perjalanan dalam diam.
Xxx
Hinata mengerjapkan matanya karna merasa adanya guncangan yang cukup keras.
"Kau sudah bangun?"
Nyawa Hinata yang masih separuh melayang tentu masih mengaburkan Hinata dari apa yang terjadi sekarang.
TRIING
Terdengar suara tumbukan kunai. Kesadaran Hinata seolah menabraknya bagai sambaran kilat. Gadis itu hampir jatuh saat Sasuke reflex menangkis lemparan kunai dari musuh dengan satu tangan, sedang tangan yang lain tetap menjaga Hinata agar tak jatuh. Segera Sasuke kembali pada posisi siaga sambil terus menggendong Hinata di punggungnya.
Pemuda beriris onyx itu mengernyit kesal. Merasa kewalahan menghadapi dua shinobi sendirian sambil menggendong Hinata. Pergerakannya menjadi tak leluasa ditambah gara-gara itu dirinya jadi tak bisa menggunakan jutsu rapalan tangan. Terpaksa Sasuke hanya memakai teknik ilusi mata agar tak harus menggunakan rapalan tangan.
Mangekyou Sharingan
SINGH
Iblis Susano'o Sasuke dalam dua detik sudah berada di hadapan keduanya. Sebagai perisai intuk menghalangi serangan musuh agar tak sampai mengenai majikannya.
"T-T-tu-runkan a-aku"
"Tidak sebalum ini selesai"
Sasuke bersikeras dan memusatkan seluruh cakranya. Sasuke berkedip singkat.
Magen Kasegui no jutsu
Kedua lawannya yang terfokus padanya tak sengaja melirik mata Sasuke saat salah satu jutsu ilusi itu aktif. Iblis prajurit Sasuke mnghilang dan Sasuke bergegas berlari. Cakranya sudah hampir habis. Jika saja tidak menggendong Hinata, bisa saja Sasuke menggunakan jutsu-jutsu yang tak terlalu menghabiskan cakra untuk membunuh dua shinobi desa antah berantah yang berani menyerangnya. Tapi, saat Hinata memintanya untuk diturunkan, entah kenapa terselip rasa tak rela di hatinya.
"S-sudah be-berakhir. T-turunkan aa-aku"
Dengan rasa tak ikhlas Sasuke menurunkan Hinata dengan tingkat kehati-hatian yang sama.
"A-ayo, tinggal s-sedikit lagi!" Hinata mencoba menyembunyikan kegugupannya dangan segala ketegasan yan dapat di keluarkannya saat ini.
Gadis itu berlari memimpin dan Sasuke dengan enggan mengikuti tak jauh di belakangnnya.
'Mungkin hanya tinggal 1 jam perjalanan sebalum sampai' Batin Hinata dengan byakugan aktif. Mengawasi bila ada musuh yang datang.
Ada perasaan lega saat keduanya akan memasuki gerbang Desa Konoha yang kokoh itu. Sebelum itu mereka diharuskan meminta izin Kotetsu dan Izumo selaku penjaga gerbang untuk masuk dan apa yang ditangkap oleh iris amethyst Hinata?
Coba tebak?
Sepasang pengantin baru yang bersiap akan pergi menjalani bulan madu untuk melengkapi ritual suci pernikahan mereka. Betapa sempurnanya hari ini, pikir Hinata dengan senyum sinis.
Sepasang sejoli itu seolah merasakan kehadiran orang lain selain mereka dan tentunya si penjaga gerbang menoleh kesamping memastikan semua orang yang keluar masuk terdeteksi oleh mereka. Pemuda jabrik itu terlihat sedikit kaget sedang wanita di sampingnya terlihat tak nyaman.
Hinata mencoba mengulas senyum tipis meski kentara sekali senyum paksaan itu.
"S-semo-ga b-bulan ma-madu kalian me-men-menyenang-kan"
"Ayo!" Sasuke menggenggam tangan Hinata dan berjalan bersamanya.
Naruto menggandeng tangan Shion dan berjalan berlawanan arah dengan mereka.
"Gomenasai"
Hanya itu sepenggal kata yang diucapkan Naruto lebih mirip bisikan saat Hinata akan melewatinya.
Semua ini salah!
Bukan ini yang Hinata inginkan.
Jika kehadirannya hanya membuat suasana secanggung ini Hinata rela pergi. Jika kehadiran perasaannya hanya membuat temannya terluka, Hinata rela membuangnya. Hinata tak ingin hanya karna dirinya yang bahkan melindungi diri sendiri pun tak bisa, semuanya terluka. Hinata tak menginginkan itu.
Mungkin hanya ini saatnya dirinya dapat memperbaiki salah satu dari sekian banyak beban yang menumpuk di hidupnya. Meski harus menelan sluruh harga diri yang masih tersisa. Sekarang atau tidak sama sekali. Hinata menghembuskan nafas pelan.
"Tunggu!"
Sepasang sejoli itu serentak berbalik menghadapnya. Hinata berlari kecil menghampiri mereka dan memeluk keduanya erat.
"J-jangan se-seperti ini la-lagi. Be-berbahagialah untukku, untuk kalian sendiri juga dan ciptakan sebuah …keajaiban"
Hinata mengerling centil pada Shion. Shion menangis sesenggukan dan mengangguk pelan.
"Kau juga, Hinata-chan"
Hinata mengangguk dan tersenyum tipis.
"Sudah tak ada harapan untukku dari Clan Uzumaki"
Hinata pura-pura bersedih. Naruto tertawa kecil.
"Hei, Hinata-chan! Kenapa kau tidak mencoba peruntungan lain dengan clan lain pula. Uchiha misalnya"
'Kau harus merelakannya, Hinata! Belajarlah untuk ikhlas menerima takdirmu'
Hinata sedikit menggembungkan pipinya sehingga tampak lebih tembem.
"Mungkin tidak"
"Ayolah, Nona! Jangan membuat misi ini menjadi semakin lama. Bukankah kau ingin istirahat?"
Sasuke menggandeng tangan Hinata. Meremasnya sekadar untuk menyalurkan sedikit semangat dan… kepedulian?
Hinata tak yakin namun mengangguk kecil sebagai tanggapan atas jawaban untuk pertanyaan si Uchiha terakhir.
Naruto mengerling menggoda dan berbisik ke telinga kiri Shion hingga membuat pemimpin desa iblis Oni no Kuni itu tersipu malu dan terkikik geli.
Keduanya pergi dengan senyum lepas terpatri di wajah mereka.
Selesai.
Kini hanya tinggal Hinata yang kembali meneteskan air matanya. Sasuke mengusap pelan punggung Hinata. Tangis gadis itu makin menjadi hingga Sasuke tak kuasa menahan tangannya untuk tidak memeluk gadis rapuh itu saat ini.
Hinata tak menolak dan malah menangis lebih kencang di dada bidang Sasuke. Sasuke merapatkan pelukannya dan Hinata meremas kimono yang dikenakan Sasuke saat ini dengan kencang sebagai balasan. Menumpahkan segala sakit hatinya sekaligus bukti terakhir tentang semua perasaannya.
Si Uchiha terakhir memejamkan matanya dan menumpukkan kepalanya di puncak kepala gadis beriris amethyst yang penuh dengan surai indigo itu. Menghirup aroma lavender yang menguar pada tubuhnya.
"Biarkan aku yang melapor pada Hokage dan kali ini bukan karna aku adalah ketua misi"
Hinata mengangguk lemah tanda persetujuan tanpa perlawanan masih dengan isak tangis sesenggukan.
Xxx
10 hari berlalu setelah misi itu dan kini keduanya makin terasa akrab,
Sasuke tak sungkan-sungkan untuk meminta Hinata memasak untuknya, belanja bersama dan berlatih bersama. Meski harus Sasuke akui, kemenangan Hinata pada setiap latihan pertandingan dengannya itu karna Sasuke mengalah. Padahal sifat itu sangat bukan 'Uchiha'. Tapi, sesekali juga tak ada salahnya,kan?
Toh, itu harga yang sangat sepadan dengan hasilnya, yaitu kepuasan melihat raut jengkel di wajah Hinata.
Tak biasanya Sasuke mengunjungi flat mungil Hinata yang berada di pinggiran desa di malam bulan Desember yang dingin pula.
Hinata duduk di balkon kamarnya sendirian menatap langit dalam keheningan. Hinata terpaku pada bintang yang paling terang diantara bintang lainnya.
'Okaa-chan'
Hinata tersenyum pedih. Tak terasa bulir air mata jatuh menuruni pipinya.
KRESEK
Lamunannya tersadarkan oleh bunyi gesekan daun dengan sesuatu. Hinata mengaktifkan byakugan dan meningkat kewaspadaannya. Si mantan Hyuuga segera mengusap air matanya kasar dengan punggung tangan.
"Konbanwa" Sapa Sasuke meskipun saat itu pada malam hari, Hinata bersumpah melihat senyum tipis di wajah non ekspressi(?) si Uchiha terakhir meski singkat.
"A-ada p-perlu a-aa-pa kesini ma-malam-malam, Uchiha-san?"
"Sudah berapa kali kubilang panggil aku Sasuke. Kenapa kau belum tidur?"
Sasuke tanpa permisi duduk disamping Hinata. Menatap kesedihan yang terpancar di sorot matanya. Sasuke bahkan rela, menghajar siapapun yang telah menorehkan luka dalam di hati si mantan heiress clan itu.
"D-dan ke-kenapa k-kau kesini m-malam-malam?"
Hinata malah balik bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari objek pandang awalnya. Meski tak dapat di pungkiri, wajah rupawan si Uchiha terakhir juga salah satu objek pandang menarik.
"Mengunjungimu, aku kesepian di rumah. Kau tidak?"
"Aku tak pernah kesepian karna aku selalu bersama Okaa-chan. Di sini"
Hinata mendekap dadanya sendiri dengan kedua tangannya dan memejamkan kelopak matanya.
'Dan juga aku' Tambah Sasuke dalam hati.
Keheningan kembali mengisi karna Sasuke tak kuasa membohongi matanya dan Hinata memilih menatap objek pandang awalnya walau objek pandang yang ingin diperhatikannya malah terpaku padanya
TBC
A/N: WAT IS DED?
Sumpah ini gaje sangat! Salahkan otak liar saya. Udah gitu saya gak pede nulisnya abis otak ngeblank karna virus WB T.T
Yasutralah
Terima kasih karna sempat meluangkan waktu anda untuk membaca fic abal saya
Demikian , kurang lebihnya saya memohon maaf sekecil-kecilnya(?) hingga yang se besar-besarnya(?)
Salam damai
With lophee XD
Akemi M.R
