Saat Hyosang berjalan kembali ke kelasnya, ia bertemu dengan sepupunya dikoridor, Mingyu. Mingyu yang melihat Hyosang berjalan melewatinya sambil menangis dengan sigap menarik lengan gadis itu. Hyosang menunduk saat Mingyu memegangi bahunya, tidak berani menatap sosok tinggi di depannya. Ia tidak siap menjelaskan alasan dibalik tangisnya. Mingyu dan dirinya sudah berbagi suka dan duka sejak kecil, jadi akan sulit baginya untuk menyembunyikan sesuatu dari Mingyu. Mingyu masih didepannya, menunggu Hyosang bicara setidaknya beberapa kata agar Mingyu dapat mengerti apa yang terjadi dengannya, namun yang terdengar hanya isakan. Beberapa siswa yang lewat pun mulai memandangi mereka. Risih merasa dipandangi, Mingyu menarik tangan Hyosang menjauh dari keramaian. Duduk disebuah bangku dibelakang sekolah menjadi pilihan Mingyu. Hyosang duduk disampingnya berusaha meredam isakannya sendiri.
"Jadi apa yang bisa kau jelaskan tentang ini?" Ucap Mingyu sambil menghapus air mata yang membasahi pipi tirus sepupunya. Hyosang tidak dapat menjawab, ia hanya terus menangis. Ia merasa sedih mendengar suara itu memanggil namanya.
"Ini tentang Dia" Ucap Hyosang ditengah isakannya. Mungkin selain Jun, Mingyu lah satu-satunya yang tau bagaimana kehidupan Hyosang sebelum mereka bertemu.
"Aku dengar ia baru saja pindah kemarin." Mingyu berucap sambil menyelipkan helai rambut Hyosang yang menutupi wajahnya ditelinga kiri gadis itu.
"Dengar aku, hari ini pasti akan tiba, maksudku kau tidak bisa terus menghindar darinya, Hyosang. Dia kakakmu, dia pasti mencarimu bagaimana pun kau bersembunyi dia pasti akan terus mencarimu." Ucap Mingyu menasehati.
"Aku hanya belum siap, Mingyu. Dia yang membuangku saat itu. Dia meninggalkan aku didepan toko kue kesukaan kami" Lagi dan lagi, Hyosang terluka karena ingatan itu. Mingyu memeluknya, berusaha memberi ketenangan pada Hyosang.
"Kuatkan dirimu mulai saat ini."
Hyosang sudah lebih tenang sekarang. Ia melirik jam tangannya, tersisa 10 menit lagi sebelum jam istirahat makan siang berakhir. Ia masih berada di taman, kali ini sendirian. Mingyu pergi setelah memastikan ia lebih tenang. Hyosang memejamkan matanya merasakan hembusan angin menerpa wajahnya lembut. Hyosang membuka mata saat dirasa sebuah tangan merangkul bahunya. Pelakunya tersenyum menampilkan giginya yang putih.
"Kau itu selalu mengikutiku. Dasar penguntit." Gerutu Hyosang.
"Kau temukan tempat menyenangkan tapi tidak beritahu aku" Ucap Jun sembari memejamkan matanya. Hyosang menyandarkan kepalanya pada bahu Jun. Kembali memejamkan matanya dan merasakan hembusan angin menerpa wajahnya. Dingin. Yang kali ini ia rasakan bukan rasa sejuk, namun dingin yang menusuk.
"Hyosang, kau berdarah!" Jerit Jun melihat darah segar menetes dari hidung Hyosang. Menetes hingga mengotori seragam Jun. Hyosang terkesiap lalu berlari menuju toilet. Beruntung, istirahat hampir berakhir dan koridor mulai sepi jadi hanya beberapa siswa saja yang melihatnya berlari tergesa-gesa menuju toilet.
Ia mengambil beberapa lembar tissue lalu menahan darah segar dari hidungnya. Kepalanya terasa sangat berat membuatnya harus bersandar pada dinding. Salah satu bilik toilet terbuka, orang yang keluar dari bilik tersebut menatap Hyosang kemudian menghampirinya. Sadar seseorang menghampirinya, Hyosang pun menoleh. Orang itu ternyata senior Hyosang.
"Kau baik-baik saja?" Tanya orang itu sambil memperhatikan wajah pucat Hyosang, takut-takut gadis didepannya jatuh pingsan.
"Aku baik-baik saja, sunbaenim. Mungkin sebentar lagi akan berhenti." Jawab Hyosang sopan. Orang itu mengangguk.
"Jika masih belum berhenti, aku sarankan lebih baik kau pergi ke ruang kesehatan"
"Terima kasih atas sarannya." Sahut Hyosang. Tak lama orang itu berpamitan dan pergi. Hyosang pun membersihkan hidungnya lalu berjalan kembali ke kelas.
Wonwoo menatap kosong pada papan tulis. Setelah kejadian diperpustakaan tadi ia benar-benar tidak fokus untuk apapun. Soonyoung yang menyadarinya hanya menatap iba. Yang ia tau sekarang adalah Hyosang adik Wonwoo, namun hubungan keduanya sangatlah tidak baik dilihat dari Hyosang yang meninggalkan Wonwoo diperpustakaan. Selebihnya Soonyoung tidak tau, atau lebih tepatnya belum tau.
Bel pulang pun berbunyi. Soonyoung membereskan barang-barangnya begitupun Wonwoo, Sujeong dan Nami. Wonwoo masih diam, membuat Soonyoung bingung harus berbuat apa. Wonwoo memang teman dekatnya tapi biar bagaimana pun akan sangat lancang baginya untuk bertanya perihal kejadian diperpustakaan tadi. Beruntung ada Nami yang mengajak mereka pulang bersama. Wonwoo setuju begitupun Soonyoung dan Sujeong.
Nami, Sujeong, Soonyoung dan Wonwoo berjalan meninggalkan sekolah. Soonyoung sedikit lega karena Wonwoo terlihat lebih baik setelah Nami mengajaknya bicara. Mereka berjalan diantara kerumunan siswa yang juga akan pulang. Tidak jauh dari gerbang sekolah, sebuah mobil sport terparkir dan seseorang duduk didepan mobil tersebut. Wonwoo memperhatikan si pemilik mobil, setelah itu berlalu.
"Kau lihat pria pemilik mobil sport itu? Tampan sekali" Gumam Nami setelah mereka sampai dihalte bus.
"Dia itu Seungcheol sunbaenim. Dulu dia juga bersekolah di SMA Yanggu." Sujeong menjelaskan. Nami yang mendengarnya pun kembali bertanya.
"Apa dia orang kaya? Dilihat dari mobil sport yang ia bawa, aku rasa ia bukan berasal dari keluarga sembarangan" Ucap Nami menebak.
"Busku sudah datang, sampai besok teman-teman" Ucap Wonwoo lalu pergi. Menyisakan Soonyoung yang bosan mendengarkan obrolan para gadis.
"Ah bicara soal Seungcheol sunbaenim, tadi saat aku pergi ke toilet, aku bertemu dengan adiknya. Sepertinya anak itu sakit, hidungnya terus mengeluarkan darah, aku jadi kasihan" Ucap Sujeong sambil mengingat kejadian di toilet tadi siang.
"Jadi adiknya bersekolah di SMA Yanggu?" Tanya Nami.
"Kau tidak tau? Ah benar juga, kau kan baru pindah kesini" Gumam Sujeong. "Choi Hyosang, siswa tingkat satu, wakil ketua dari klub jurnalistik sekolah" Jelas Sujeong.
"Apa?! Hyosang?!" Kini ganti Soonyoung yang terkejut. Nami dan Sujeong mengernyit melihat ekspresi terkejut Soonyoung.
"Jadi dari tadi kau menguping pembicaraan kami?" Sindir Nami.
"Tunggu, Hyosang yang kau maksud itu gadis berambut hitam panjang. Benar?" Soonyoung memastikan. Sujeong mengangguk pasti.
"Astaga, apa yang sebenarnya terjadi disini?" Gumam Soonyoung.
.
.
.
.
.
Hyosang pulang bersama Seungcheol. Seperti biasa Seungcheol akan menjemput adiknya jika ia tidak punya kegiatan lain untuk dikerjakan. Hyosang menatap kosong pada jalan, kegiatan yang akhir-akhir ini sering ia lakukan. Tangan kanan Seungcheol yang bebas, merogoh saku jaketnya, mengambil sesuatu dari dalam sana.
"Hyosang" Panggil Seungcheol membuat Hyosang menoleh padanya. "Ini, aku membelinya saat mengatar Jisoo membeli hadiah untuk kakaknya"
"Terima kasih. Ini cantik" Ucap Hyosang sembari mengambil kalung dengan liontin infinity dari tangan kakaknya lalu mengenakan kalung tersebut. Ia menyentuh liontin berwarna silver itu, lalu tersenyum pada Seungcheol.
"Oppa" Gumam Hyosang.
"Ada apa hm" Sahut Seungcheol.
"Aku bertemu dengannya. Dia memintaku untuk mendengarkan penjelasannya" Ucap Hyosang. Senyum Seungcheol memudar, air mukanya berubah sendu. Egois memang namun pria bermarga Choi itu sejujurnya belum siap untuk apa yang harus ia hadapi sekarang.
"Itu saja? Lalu apa yang kau lakukan?" Tanya Seungcheol, berusaha bersikap setenang mungkin.
"Aku pergi. Aku pergi menginggalkannya" Hyosang berucap hampir berbisik. Seungcheol tidak memberi respon, hanya saja mobil mereka melaju semakin cepat. Hyosang tau, bahkan sangat tau apa yang dirasakan Seungcheol. Ia tak berani lagi membuka mulut. Mood Seungcheol sudah sangat berantakan karenanya.
20 menit kemudian mereka sudah berada di rumah. Ibunya telah selesai menyiapkan makan malam. Hyosang membersihkan diri begitupun dengan Seungcheol. Setelahnya mereka mulai makan malam. Ayah mereka berada diluar kota untuk beberapa hari, membuat ruang makan dirumah besar itu semakin terasa sepi. Seungcheol selesai lebih dulu lalu pamit untuk mengerjakan tugas kuliahnya.
"Hyosang, makanlah lebih banyak. Eomma lihat akhir-akhir ini kau sibuk, kau butuh lebih banyak makan." Ucap ibunya. Hyosang menggeleng pelan.
"Tidak perlu, eomma. Aku sudah kenyang" Jawab Hyosang sambil tersenyum. Tiba-tiba ibunya menggengam tangan Hyosang, membuat Hyosang menoleh.
"Maaf jika eomma kurang memperhatikanmu, Hyosang." Ucap ibunya. Hyosang balas menggengam tangan sang ibu.
"Eomma tidak perlu minta maaf. Aku tidak pernah merasa kurang diperhatikan, justru eomma sangat memperhatikanku lebih dari aku memperhatikan diriku sendiri." Jawab Hyosang lalu berjalan menghampiri ibunya. "Terima kasih sudah menjadi eomma terbaik yang pernah ada. Aku sayang eomma." Lalu memeluk ibunya erat.
"Eomma juga menyayangimu, sayang" Balas ibunya sambil memeluk erat Hyosang.
Makan malam pun selesai. Hyosang kembali ke kamarnya. Bingung harus melakukan apa karena ia tidak punya tugas untuk dikerjakan, moodnya pun sedang tidak bagus untuk belajar. Tiba-tiba ia mengetik sesuatu diponselnya lalu berbaring diatas ranjangnya. Tak lama pintu kamarnya terbuka, menampilkan seseorang dengan kaus putih yang tipis dan celana training abu-abu, sudah bisa ditebak orang itu bersiap untuk tidur. Hyosang tersenyum lalu mengisyaratkan orang itu untuk mengampirinya. Dengan wajah kesal, orang itu menutup pintu lalu menghampiri Hyosang.
"Apa kau gila? Kubilang aku ingin tidur kenapa menyuruhku kesini?!" Gerutunya membuat Hyosang tersenyum senang. Senang karena berhasil menganggu orang itu. Hyosang menarik tangannya membuat orang itu jatuh berbaring disampingnya.
"Aku minta maaf tentang seragammu tadi siang." Ucap Hyosang mengalihkan pembicaraan. Melihat si lawan bicara masih dengan wajah kesalnya, Hyosang melempar boneka monyet padanya. "Moodku sedang bagus, Jun. Kau harusnya bersyukur."
"Baiklah. Apa yang akan kita lakukan sekarang?" Tanya Jun sembari memainkan boneka milik Hyosang. Sejujurnya ia juga tidak tau kenapa ia harus memanggil Jun. Yang ia tau ia hanya ingin Jun ada saat ia merasa senang ataupun sedih, dan kenyataannya memang seperti itu. Jun selalu berada disisinya saat ia membutuhkannya.
"Entahlah, aku hanya ingin kau ada disini. Itu saja" Jawab Hyosang. Jun menoleh lalu tersenyum jahil.
"Jangan-jangan kau menyukaiku." Ucap Jun dan tepat saat itu juga Hyosang menendangnya hingga pria dengan tinggi 180 cm itu jatuh dari ranjang Hyosang.
"Yak! Bagaimana bisa kau melakukan itu padaku?!" Gerutu Jun sambil meringis. Hyosang tidak menjawab, sibuk dengan pikirannya sendiri. Jun mengernyit lalu menghampiri Hyosang. "Apalagi yang kau pikirkan sekarang?" Jun mengelus rambut hitam Hyosang.
"Aku mencoba untuk tidak memikirkannya, Jun, tapi sulit sekali." Gumam Hyosang. "Tadi siang kami bertemu di perpustakaan, dan aku meninggalkannya." Tatapan Hyosang menerawang langit-langit kamarnya.
"Kau menyesal?" Tanya Jun masih mengelus rambut panjang itu. Hyosang tidak menjawab, ia hanya mengendikan bahunya, bingung. "Mau mencoba bicara dengannya?"
"Aku belum siap, Jun." Jawab Hyosang yang sebenernya Jun sudah menebak jawaban itu sejak awal. "Aku membencinya, tapi aku merasa sakit jika terus mengabaikannya." Gumam Hyosang hampir berbisik. Tepat setelah itu, Hyosang jatuh terlelap. Hyosang tidak berubah, ia akan selalu tertidur jika seseorang mengelus rambutnya. Jun menyelimuti tubuh Hyosang lalu mengecup dahi gadis yang sudah seperti adiknya itu.
"Selamat tidur, Hyosang"
.
.
.
.
.
Seungcheol terbangun dari tidurnya. Diliriknya jam dinding dikamarnya, masih tengah malam. Ia mengusap wajahnya lalu beranjak untuk minum. Dilewatinya kamar Hyosang yang sudah gelap, pertanda bahwa si pemilik kamar sudah tidur. Ia pun mengurungkan niatnya untuk minum, terbukti sekarang ia memutar kenop pintu kamar Hyosang lalu masuk. Dilihatnya diantara gelap, adiknya tidur dengan nyenyak diatas ranjangnya. Seungcheol menghampiri Hyosang, duduk dipinggir ranjang besar itu lalu menyentuh pipi gadis itu perlahan mengelusnya.
"Maafkan aku, Hyosang. Aku hanya tidak bisa melepaskanmu. Aku memang egois." Gumam Seungcheol. Lama ia menatap Hyosang lalu akhirnya pergi. Sepeninggal Seungcheol, Hyosang membuka matanya. Ia mendengar semuanya, semua yang dikatakan Seungcheol padanya. Bingung, itu yang ia rasakan sekarang. Di satu sisi ia sangat menyayangi Seungcheol, ia tidak ingin membuat kakaknya khawatir dan sedih karena takut kehilangan dirinya. Namun disisi lainnya, ia tidak tahan terus mengabaikan kakak kandungnya, jauh didalam dirinya ia merasa rindu. Di masa kecil Hyosang, Wonwoo selalu melindunginya saat mereka berada dalam masa yang sulit. Walaupun kekecewaannya tidak kalah besar karena Wonwoo sendiri yang membuangnya.
"Apa yang harus aku lakukan sekarang"
Ditempat lain, di sebuah kamar, seseorang tidur dengan tidak nyaman diatas ranjangnya. Beberapa kali ia mengubah posisi tidurnya, namun ia tetap tidak bisa tidur. Kegusarannya berhasil membuat orang yang tidur disampingnya terbangun.
"Hyung, hentikan itu. Kau menggangguku." Gerutu orang disebelahnya.
"Maaf Chan, aku tidak bisa tidur" Ucap Wonwoo lalu mengusak rambut adik tirinya, Lee Chan.
"Baiklah. Apalagi sekarang? Aku lihat beberapa hari ini hyung punya gangguan tidur, sedang memikirkan sesuatu?" Chan menyandarkan tubuhnya pada kepala ranjang. Wonwoo tersenyum, adiknya memang paling mengerti dirinya.
"Aku bertemu seseorang yang sudah aku cari lama sekali. Aku melakukan kesalahan padanya dimasa lalu dan sekarang aku ingin minta maaf padanya. Kami sudah bertemu tapi dia menolakku" Ucap Wonwoo menjelaskan. Chan mengangguk. Wonwoo adalah kakak yang baik untuknya dan baik juga pada orang lain, sesungguhnya ia penasaran kesalahan apa yang dilakukan kakaknya hingga mendapat penolakan. Namun ia tidak ingin menanyakannya, tidak untuk saat ini.
"Semua butuh proses, hyung. Tunggu hingga saatnya tiba" Ucap Chan. Wonwoo tersenyum lalu mengusak rambut adiknya sayang. Chan memang selalu berhasil membuat perasaannya lebih baik.
.
.
.
.
.
Istirahat makan siang masih tersisa 25 menit lagi. Hyosang duduk dibangkunya saat Seungkwan dengan beberapa camilan ditangannya datang. Hyosang menggeleng pelan melihat bagaimana Seungkwan menghabiskan uangnya hanya untuk membeli makanan yang sama setiap harinya. Keduanya sibuk dengan dunia mereka masing-masing, Seungkwan memakan camilannya dan Hyosang menatap keluar jendela lebih tepatnya pada Mingyu yang sedang bermain sepak bola di lapangan sekolah. Sepupunya itu memang tampan dan berbakat. Saat upacara penerimaan siswa baru dulu, Mingyu sudah mendapat banyak penggemar yang hampir seluruhnya adalah kakak kelas mereka.
"Kenapa tersenyum seperti itu?" Suara Seungkwan menginterupsi kegiatan Hyosang, gadis itu menoleh.
"Aku hanya mengingat saat upacara penerimaan kita dulu, Mingyu mendapat banyak penggemar sampai dia sendiri bingung" Jawab Hyosang lalu mulai memakan camilan Seungkwan.
"Kau, Seungcheol hyung, dan Mingyu. Sepertinya keluarga kalian punya gen yang sangat bagus, Hyosang." Celetuk Seungkwan, Hyosang balas tersenyum.
"Aku dapatkan wajah ini bukan dari ayah dan ibuku sekarang, Seungkwan." Gumam Hyosang masih sambil mengunyah camilan dimulutnya. Seungkwan terkesiap. Bagaimana bisa ia melupakan bagian itu, pikirnya.
"Maaf aku tidak bermaksud mengatakan itu." Ucap Seungkwan menyesal.
"Tidak masalah." Jawab Hyosang. Sungguh itu bukan masalah untuknya, ia sudah terbiasa.
"Tapi aku lihat, kau dan Wonwoo sunbae juga sama rupawan." Celetuk Seungkwan, lagi.
"Benarkah?" Hyosang merespon.
"Iya. Menurutku kalian punya beberapa kemiripan secara fisik. Rambut kalian hitam mengkilat, bibir kalian punya bentuk yang sama dan cara kalian tersenyum, wah bagian itu benar-benar mirip." Ucap Seungkwan menjelaskan. "Berbeda dengan Seungcheol hyung. Kau dan dia juga punya wajah yang rupawan tapi tidak ada kemiripan secara fisik."
"Begitukah? Kau teliti sekali." Ucap Hyosang memuji. Seungkwan punya ketelitian yang tinggi dan Hyosang tidak meragukannya. Seungkwan hanya balas tersenyum senang.
"Jadi, bagaimana dengan kau dan Wonwoo sunbae?" Tanya Seungkwan tidak bermaksud menyinggung, hanya ingin tau.
"Tidak ada. Aku belum siap bicara dengannya" Jawab Hyosang kembali memandangi Mingyu yang sekarang sedang beristirahat di pinggir lapangan.
"Bagaimana dengan Seungcheol hyung?" Tanya Seungkwan lagi.
"Dia tidak mengajakku bicara sejak kemarin. Ia seperti itu jika moodnya sedang tidak baik, jadi aku juga tidak mengajaknya bicara." Jelas Hyosang sambil mengingat kejadian saat Seungcheol masuk ke kamarnya semalam.
"Aku menangkap sesuatu yang aneh darinya, Hyosang." Gumam Seungkwan membuat Hyosang menoleh. "Kekhawatirannya lebih seperti takut kehilangan orang yang ia sukai."
"Apa kau bercanda? Dia kakakku, Seungkwan." Ujar Hyosang.
"Itu kan menurutmu, menurutnya? Kau kan tidak bisa mengetahui apa yang kakakkmu rasakan sebenarnya." Jawab Seungkwan membuat Hyosang mengernyit. Gadis itu tidak habis pikir bagaimana bisa Seungkwan berpikiran bahwa Seungcheol menyukainya. Hey, mereka hidup bersama hampir 15 tahun sebagai kakak beradik dan akan terus seperti itu, pikirnya.
Seungkwan hampir melupakan sesuatu yang sangat penting. Ia kemudian merogoh kantung seragamnya kemudian memberikannya pada Hyosang.
"Cokelat? Untukku?" Tanya Hyosang ragu. Seungkwan mengangguk pasti lalu Hyosang pun menerimanya. Cokelat adalah salah satu dari daftar hal favorite Hyosang. Ia menyukai cokelat sejak kecil. Dengan bersemangat ia membuka bungkus cokelat itu lalu memakannya.
"Wonwoo sunbae bilang kau suka cokelat dengan kacang almond, jadi aku membelinya karena akhir-akhir ini aku lihat kau punya banyak masalah. Aku harap itu bisa membuatmu merasa lebih baik." Tepat saat itu juga Hyosang berhenti memakan cokelatnya. Ia menatap Seungkwan yang masih asik dengan kegiatan mengunyahnya kemudian menatap cokelat di tangannya. Seungkwan menangkap basah Hyosang lalu mengernyit. "Aku yang membelinya, sungguh. Ia hanya memberikan saran." Ucap Seungkwan menjelaskan.
"Bukan itu." Gumam Hyosang masih menatap cokelat ditangannya.
"Lalu apa?" Tanya Seungkwan bingung. Hyosang hanya diam masih tidak menjawab.
'Ia masih mengingatnya'
.
.
.
.
.
.
Wonwoo membereskan barang-barangnya karena waktu pulang memang sudah tiba. Soonyoung yang masih berada disana menahan Wonwoo ketika laki-laki tinggi itu hendak meninggalkan kelas. Wonwoo menoleh lalu Soonyoung mengisyaratkannya untuk duduk kembali.
"Ada apa?" Tanya Wonwoo setelah ia duduk kembali di bangkunya. Soonyoung berdehem sesaat, lalu mulai bicara.
"Wonwoo, aku tau mungkin ini sedikit lancang tapi aku benar-benar penasaran tentang adikmu." Ucap Soonyoung membuat Wonwoo mengernyit sesaat lalu mengangguk. "Hyosang itu adikmu?"
"Tentu saja" Jawab Wonwoo pasti. Soonyoung mengangguk mengerti.
"Begini Wonwoo, aku dengar dari Sujeong kalau Hyosang itu adik dari seseorang bernama Seungcheol." Tepat saat itu air muka Wonwoo berubah sendu. Soonyoung menjadi ragu untuk terus bertanya namun ia sudah terlanjur, jadi ia akan tetap bertanya. "Hyosang yang Sujeong maksud itu bukan adikmu kan?"
"Kau tidak percaya padaku?" Tanya Wonwoo masih dengan wajah sendunya. Soonyoung menelan ludahnya, bingung harus menjawab apa.
"Bu-bukan itu maksudku-"
"Soonyoung, aku akan menjelaskannya namun sekarang bukan saat yang tepat." Jawab Wonwoo. Soonyoung mengangguk mengerti. Ia mengerti, Wonwoo sedang mempunyai masalah jadi ia tidak akan memaksanya. Soonyoung mungkin tidak tau apa masalah yang sedang dihadapi Wonwoo namun ia berjanji pada dirinya sendiri untuk membantu Wonwoo, jika itu dibutuhkan.
"Baiklah. Tapi kau harus tau, aku ada disini jika kau butuh bantuan." Soonyoung tersenyum. Sungguh, Ia tulus mengatakannya. Wonwoo balas tersenyum. Keduanya pun pulang bersama setelah dirasa sekolah semakin terasa sepi.
Wonwoo sampai dirumah. Ibu dan ayahnya berada diruang makan saat ia masuk. Chan juga berada disana sambil memakan makan malam yang sudah disediakan sang ibu. Wonwoo membersihkan diri lalu ikut bergabung di ruang makan.
"Bagaimana harimu, nak?" Tanya ayahnya sambil tersenyum.
"Berjalan dengan lancar, appa." Jawab Wonwoo.
"Wonwoo dan kau, Chan, karena besok akhir pekan tolong bantu eomma berbelanja bahan makanan." Ucap ibunya. Chan mengernyit sebaliknya Wonwoo langsung mengiyakan permintaan ibunya.
"Aku kan laki-laki, eomma. Aku tidak mau." Gerutu Chan. Wonwoo mengusak rambut adiknya sambil tertawa pelan.
"Itu tidak jadi masalah, Chan." Ucap Wonwoo. "Aku dan Chan akan membantu eomma besok." Wonwoo menyetujui. Chan kembali menggerutu membuat Wonwoo semakin gemas dengan adiknya.
"Chan, lihat kakakmu begitu memperhatikan eomma. Kau ini benar-benar." Gerutu ibunya lalu memukul kepala Chan dengan sendok. Chan yang mendapatkan pukulan pun meringis. Sementara ayahnya dan Wonwoo hanya tertawa melihat tingkah ibu dan anak itu.
Makan malam sudah selesai dan saat ini Wonwoo sedang membantu ibunya mencuci piring. Wonwoo memang senang membantu ibunya. Menurutnya membantu ibunya adalah salah satu cara ia berterima kasih karena sudah di adopsi oleh keluarga Lee. Setelah kabur dari rumah, Wonwoo hidup dalam sebuah panti asuhan lalu setelah 3 tahun keluarga Lee datang dan mengadopsinya. Setelah diadopsi, Wonwoo meminta pada ayah tirinya untuk tidak mengganti marganya, dan keinginanya pun dikabulkan. Ia bersyukur karena mendapat orang tua angkat yang sangat menyayanginya, ditambah lagi ia punya seorang adik laki-laki yang membuat hidupnya semakin menyenangkan. Walaupun disisi lain, ia lebih menginginkan hidup bersama adik kandungnya, Hyosang.
"Eomma" ibunya menoleh lalu mendapati Wonwoo memeluknya dari belakang.
"Ada apa, Wonwoo?" Tanya ibunya masih sambil mengeringkan piring-piring. Wonwoo memeluk ibunya semakin erat. Bingung dengan perilaku puteranya, ibunya pun melepas pelukan Wonwoo lalu berbalik menatap Wonwoo. "Ada sesuatu yang ingin kau katakan?"
"Aku sayang eomma. Itu saja yang ingin aku katakan." Ucap Wonwoo sambil tersenyum lebar. Ibunya tersenyum sambil merapihkan rambut hitam Wonwoo.
"Eomma juga menyayangimu, Wonwoo." Jawab ibunya lalu memeluk Wonwoo erat. "Jangan pernah tinggalkan eomma. Eomma tidak bisa hidup tanpamu, nak." Ucap ibunya membuat Wonwoo memeluk erat ibunya.
"Aku tidak akan meninggalkan, eomma. Eomma jangan khawatir." Jawab Wonwoo.
.
.
.
.
.
Hyosang membaca novel kesayangannya sembari berbaring diranjang. Menghabiskan waktu dengan membaca novel bukanlah hal yang buruk. Sebenarnya pada malam hari seperti ini jika besok adalah akhir pekan, Seungcheol akan mengajak Hyosang berjalan-jalan namun karena tugas yang semakin banyak, Seungcheol tidak punya waktu untuk pergi. Hyosang tidak mempermasalahkan itu, menurutnya jika orang pergi berjalan-jalan sementara pikirannya tertuju pada tugas itu sama sekali tidak menyenangkan.
Kembali pada Hyosang yang sedang asik dengan novelnya, sampai ia tidak sadar Jun masuk ke dalam kamarnya sambil membawa boneka beruang kesayangannya. Baru lah setelah Jun berbaring disebelahnya ia menoleh.
"Astaga kapan kau masuk?" Tanya Hyosang sembari menyimpan novelnya, konstentrasinya akan pecah jika seseorang datang mengusiknya. Jun mengernyit dengan wajah mengantuknya.
"Kau pikir aku ini hantu." Gerutu Jun lalu menarik selimut Hyosang sampai sebatas leher. Hyosang menatap bingung pada Jun.
"Apa yang kau lakukan?"
"Tidur. Tidak lihat?" Dan dengan satu hentakan Hyosang menarik selimutnya membuat Jun duduk kembali dan menatap Hyosang kesal. "Pendingin di kamarku mati."
"Tidur di kamar kakakku saja, sana pergi!" Ucap Hyosang mengusir. Jun memang terkadang tidur di kamarnya tapi sungguh itu bukan seizinnya. Jika Hyosang bangun di pagi hari terkadang Jun berada disampingnya dan itu tanpa Hyosang ketahui. Jun memang seringkali datang ke kamar Hyosang ketika gadis itu sudah terlelap. Jika itu laki-laki lain mungkin Hyosang sudah menghubungi polisi, bersyukurlah ini hanya Jun. Catat. Tidak ada yang perlu diwaspadai dari laki-laki tinggi itu. Ia bahkan tidak tega menginjak rumput ditaman sekolah.
"Kalau begitu aku tidur di kamar mandimu saja." Ucap Jun asal lalu dengan masih membawa boneka beruangnya ia berjalan malas ke kamar mandi Hyosang.
"Astaga anak ini benar-benar" Gerutu Hyosang. "Jun! Ju-"
"Hyosang" Hyosang pun menoleh mendapati ibunya berdiri di depan pintu kamarnya. "Ada masalah?"
"Tidak ada, eomma." Jawab Hyosang sambil menghampiri ibunya. "Ada apa?"
"Apa besok kau punya kegiatan?" Tanya ibunya. Hyosang menggeleng karena memang besok ia tidak punya kegiatan apapun. "Eomma ingin bertemu teman eomma, kau temani eomma ya"
"Baiklah. Jam berapa kita akan pergi?"
"Sebelum makan siang." Jawab ibunya lalu Hyosang mengangguk setuju. Setelah ibunya pergi, Hyosang menutup pintu lalu berjalan ke arah kamar mandinya.
"Jun, keluar dari sana" Ucap Hyosang sambil mengetuk pintu kamar mandinya. Tak lama Jun keluar dari sana, masih dengan wajah mengantuk. Hyosang menepuk-nepuk pipi Jun lalu menarik sahabatnya itu ke ranjangnya. Membantu Jun berbaring lalu menyelimuti tubuh tinggi itu. Hyosang duduk disamping ranjangnya sembari menatap Jun.
"Jika aku bisa bereinkarnasi, aku akan bereinkarnasi menjadi anakmu, Hyosang." Gumam Jun hampir terlelap. Hyosang tertawa pelan lalu memberi kecupan 'Selamat tidur' di dahi Jun, hal yang sering mereka lakukan entah sejak kapan.
"Selamat malam, penguntit."
.
.
.
.
.
Hyosang bangun dari tidurnya dan mendapati Jun tidak ada disampingnya. Pasti sudah kembali ke kamarnya, pikir Hyosang. Gadis itu bangun lalu bergegas mandi dan bergegas sarapan. Di meja makan, ayahnya tengah menyeruput kopi sambil membaca koran. Hyosang dengan setengah berlari menghampiri ayahnya lalu memeluk pria paruh baya itu dari belakang.
"Appa kapan sampai?" Tanya Hyosang. Ayahnya tersenyum melihat tingkah anak perempuannya.
"Tengah malam, nak. Bagaimana kabarmu? Pasti kau sangat merindukan appa, benarkan?" Tanya ayahnya sambil tertawa pelan. Hyosang mengangguk sebagai jawaban lalu duduk dibangkunya untuk sarapan.
"Eomma, oppa tidak ikut dengan kita?" Tanya Hyosang karena melihat Seungcheol menggunakan pakaian yang rapi sepagi ini. Seungcheol mengusak rambut adiknya.
"Aku harus pergi ke Busan untuk beberapa hari, Hyosang. Ada penelitian yang harus aku lakukan disana." Seungcheol menjelaskan.
"Sampai kapan?" Tanya Hyosang.
"Sekitar 6 hari." Jawab Seungcheol.
"Cepat habiskan makananmu, Seungcheol. Jangan sampai kau terlambat." Ucap ibunya mengingatkan.
"Baik, Nyonya Choi." Goda Seungcheol pada ibunya membuat Hyosang dan ayahnya tertawa.
Setelah ayahnya berangkat ke kantor dan Seungcheol berangkat ke Busan, rumah besar itu semakin terasa sepi. Hyosang sudah siap pergi dengan ibunya. Ia duduk diruang tengah sembari menunggu ibunya. Tak lama keduanya pun berangkat. Mereka pergi dengan menggunakan mobil pribadi. Diperjalanan ibunya menceritakan tentang teman yang akan mereka kunjungi, Hyosang mendengarkannya dengan senang hati. Akhirnya mereka sampai di sebuah rumah yang cukup besar, namun memang tidak sebesar rumah mereka. Setelah memarkir mobil, ibunya pun mengetuk pintu rumah tersebut. Tak lama pintu dibuka oleh seorang anak perempuan yang Hyosang tebak pastilah anak dari si pemilik rumah. Anak itu mempersilahkan Hyosang dan ibunya masuk.
"Bibi, appa memanggilku pulang. Aku permisi dulu." Ucap anak itu pada seorang wanita paruh baya yang baru saja keluar dari dapur.
"Han Marae!" Sapa ibu Hyosang pada wanita paruh baya itu.
"Haejung? Astaga akhirnya kau datang." Wanita itu memeluk ibu Hyosang erat begitu pun sebaliknya. Hyosang hanya tersenyum melihat peristiwa di depannya. Setelah itu ibu Hyosang pun memperkenalkan Hyosang pada temannya.
"Marae, ini putriku namanya Hyosang." Ucap ibunya sambil tersenyum. "Hyosang, ayo beri salam."
"Senang bertemu dengan bibi." Ucap Hyosang sambil membungkuk sopan. Wanita yang dipanggil bibi itu tersenyum.
"Kau cantik sekali, nak. Senang bertemu denganmu." Jawab Bibi Marae sambil tersenyum. "Ah duduklah, aku akan memanggil anak-anakku." Lalu Hyosang dan ibunya pun duduk diruang tamu rumah itu. Tak lama Bibi Marae datang bersama anak-anaknya. Hyosang hampir saja akan lari dari tempat itu kalau saja ia tidak ingat ada ibunya disana.
"Haejung, ini adalah Chan, anak keduaku." Ucap Bibi Marae lalu Chan membungkuk sopan. "Dan yang tinggi ini adalah anak pertamaku, Wonwoo."
"Senang bertemu dengan, Bibi." Ucap Wonwoo sopan.
"Wah anak-anakmu tampan sekali, Marae." Gumam ibu Hyosang membuat Chan dan Wonwoo tersenyum. "Hyosang, beri salam pada mereka."
"Senang bertemu dengan kalian." Ucap Hyosang pelan.
"Senang bertemu dengamu juga, Hyosang." Jawab Wonwoo sambil menatap mata Hyosang.
"Baiklah, waktunya makan siang. Ayo, aku sudah memasak makanan spesial untuk kalian." Ucap Bibi Marae sambil mengajak ibu Hyosang ke ruang makan. Chan mengikuti dari belakang, hingga tersisa Hyosang dan Wonwoo disana. Hyosang berencana untuk pulang namun tangannya ditahan oleh Wonwoo.
"Kali ini, jangan pergi. Aku mohon." Ucap Wonwoo hampir berbisik tepat didepannya. Hyosang menunduk, bingung harus melakukan apa. Ia benar-benar tidak menyangka akan bertemu dengan Wonwoo seperti ini.
"Hyung, Noona, apa kalian akan tetap disana?" Suara Chan membuat Hyosang dan Wonwoo menoleh lalu dengan cepat Hyosang melepas pegangan tangan Wonwoo dan mengikuti Chan. Wonwoo menghela napas lalu ikut bergabung di ruang makan.
.
.
.
.
.
TBC
Finally bisa update cerita ini setelah berbagai kendala. buat yang nanyain Find You, akan di update dalam waktu dekat.
.
.
.
.
Review Juseyooo
