UPDATE! Tumben saya bisa update cepet, padahal besok masih ulangan umum. Hahaha. Enjoy and don't forget for review ya…
Disclaimer: Masashi Kishimoto
Rate: T
Warning: full OOC saya rasa. Agak gaje pulak.
.
.
.
.
Yah, ketahuan deh.
"Hah?" ayahku bingung. Udah terlanjur ketahuan, saatnya untuk pamer!
"Ya, saya memang Rainsword. Anda kenal?" tanyaku.
"Tentu! Saya penggemarmu," kata Hiashi. Ayahku tak berkata apa-apa. Mungkin malu sendiri, ngga tau punya anak pelukis terkenal.
oOoO
"Sampai jumpa, Fugaku-san," kata Hiashi melambai-lambai dari dalam mobilnya. Mereka pergi melewati gerbang. 3...2...1.
"Sasuke! Apa maksudnya Rainsword tadi?" tanya ayah.
"Hmm. Apa ya?" aku berkata. Membuat ayah kesal.
"Ada apa, Fugaku?" tanya mama. Kami masih di pintu depan. Kayak orang bego. Ayo, cepatlah datang!
"Kau harus jelaskan!" ayah ngacangin mama.
"Oh, ayolah. Apa yang akan kau lakukan jika aku menjelaskannya?" tanyaku.
"Permisi," seseorang datang. Ayah menoleh.
"Oh, Suigetsu. Ada apa?" tanya mama.
"Saya mencari Sasuke. Ada perintah dari guru Bahasa Jepang," kata Sui. Oh, Sui, kau lama sekali!
"Tidak bisa! Sasuke sedang kuhukum. Katakan itu pada guru kalian," kata ayahku.
"Ayah, kau membuatku gila," kataku.
"Ayah tak peduli. Kau berbuat seenaknya. Memang kau anggap apa ayah? Kau tak menghargai keberadaan ayah!" ayahku teriak-teriak.
"Memang ayah anggap apa Sasuke? Ayah tak menghargai keberadaan Sasuke," aku meniru ayah, hanya mengganti subjeknya.
"Kau! Kau hampir membuat ayah malu! Sekarang kau berani melawan ayah?" ayahku marah beneran.
"Suigetsu, tunggu di mobil. Aku akan menyusul," kataku.
"Dengarkan ayah!"
"Dengarkan aku!" aku menirunya lagi. "Kalian bisa pergi kapan saja ke mana saja semau kalian. Pulang jam berapa tak masalah bagi kalian. Jadi biarkan aku juga begitu."
"Ini rumah ayah!" kata ayah.
"Aku ngga bilang ini rumahku," kataku. "Penghasilanku dari lukisanku bisa untuk menghidupiku. Dan aku punya sebuah apartemen di kota ini. Aku bisa saja tinggal di sana," kataku. Aku hanya bercanda, aku ngga ngerti kenapa ribut hanya karena masalah sepele?
"Lukisan? Apa maksudmu?" tanya mama yang masih belum tahu.
"Kalau gitu pergi! Jangan bawa apapun dari sini!" ayah marah. Dia serius? Padahal aku cuma bercanda. Tapi ngga mungkin aku sujud-sujud minta maaf -memalukan.
"Tak ada masalah," aku berjalan keluar pagar menuju mobil Suigetsu.
oOoO
Di mobil Suigetsu. Tak ada perintah guru Bahasa Jepang. Suigetsu mengarang semuanya.
"Jadi apa hasil pertengkaran kalian tadi?" tanya Suigetsu yang menyetir.
"Mereka gila. Hanya masalah kecil dibesar-besarkan. Apa mereka mikroskop penuh masalah?" kesalku yang duduk di sebelahnya.
"Tapi mereka orang tuamu loh. Seburuk-buruknya mereka..."
"Stop! Jangan mulai ceramah! Kau membuat pikiranku tambah berat," potongku.
"Sorry. Kita mau ke mana sekarang?" tanya Sui. Aku berpikir.
"Ke sekolah."
"Buat apa?" tanya Sui kaget.
"Sudahlah. Lagi pula sekolah dekat, kan?"
oOoO
"Karin-san, ayolah. Kau yang paling pintar di kelas kita. Aku tak mengerti walau sudah membacanya," kata Naruto. Aku mengintipnya dari balik tembok.
"Ngapain ngintip Naruto? Kau...masih normal kan?" tanya Sui. Aku menginjak kakinya.
"Pelankan suaramu. Kalau aku ngga normal seperti yang kau pikirkan, kau pasti sudah menjadi pacarku dari dulu," kataku dengan volume kecil. Angin berhembus. Sunyi. Sui di belakangku makin menjauh. Sedetik kemudian aku mendesah jijik pada kalimatku sendiri. Oke, fokus.
"Kau tunggu di sini, ya!" suruhku. Sui mengangguk. Aku berjalan ke arah Naruto yang memunggungiku.
"Kyaaa! Sasuke-kun!" Karin histeris melihatku. Dia memang gila. Naruto menoleh. Menatapku dengan pandangan benci.
"Aku mau minta maaf, Naruto. Aku akan mengajarimu," kataku.
"Kau baru kena sial, ya? Jadi kau mau tobat?" tanya Naruto dengan muka asal-asalan.
"Yah, begitulah. Kupikir aku dikutuk," kataku dengan nada bercanda.
"Sasuke! Aku juga mau diajari dong!" Karin memohon.
"Setelah kau berenang di lumpur," kataku tertawa. Karin ngga terima.
"Jahat!" keluh Karin. Aku memberi isyarat pada Naruto untuk mengikutiku. Sedangkan aku menyuruh Karin menjauh. Aku geli melihat cewe aneh itu.
"Sasuke. Kau mau bawa Naruto ke mana?" tanya Sui.
"Apartemenku," jawabku. Sui mengembungkan pipi. Berusaha menahan tawa.
"Di mana leluconnya?" tanyaku.
"Ahahaha. Ngga apa-apa kok," Sui melepas tawanya. Aku akhirnya menangkap apa yang ada dipikirannya. Dia pikir aku abnormal membawa Naruto ke apartemenku?
"Tentu saja kau ikut, Sui-chan," kataku. Naruto bergidik mendengarnya. Suigetsu apa lagi. Aku menepuk dahi.
"Astaga. Aku rela membunuh siapa pun untuk mengganti kalimatku tadi. Itu menjijikkan," kataku.
"Aku sepertinya harus ke dokter," kata Sui memegangi perutnya. Oke, sebelum percakapannya makin gila. Aku menarik Suigetsu dan Naruto ke mobil.
oOoO
Di mobil. Sui nyetir. Aku di sebelahnya. Naruto di belakang.
"Kenapa harus di apartemenmu?" tanya Naruto.
"Aku ngeri kalo di sekolah -masih ada Karin. Lagi pula ini sudah jam 6 sore. Besok kan kamu akan ulangan," kataku.
"Besok? Ulangan? Sekrup otak kalian pasti berkarat," kata Sui. Menyinggungku. "Besok hari Sabtu."
"Hah?" aku tak yakin. Aku menengok ke Naruto.
"Serius besok Sabtu?" tanya Naruto.
"Liat kalender di hape-mu dong, Naruto," kata Sui. Aku mendengar Naruto menepuk dahi.
"Aku harus ganti sekrup otakku besok," kataku.
"Karena besok libur, kita belajar aja seharian di apartemenku ya?" pintaku gila.
"Bagus sekali," kata Naruto.
oOoO
"Apartemenku ngga bagus-bagus amat," kataku.
"Kau terlalu merendahkan diri, Sasuke," kata Naruto. Naruto meletakkan tasnya di sofa dan duduk-duduk di kasur. Aku mengambil dua minuman kaleng dari kulkas. Aku mendatangi Sui yang duduk di sofa dan memberinya satu.
"Aku kan juga tamu, masa ngga disajikan minum," Naruto berkata.
"Tanganku cuma dua. Cuma bisa ambil dua," kataku. Dia memalingkan wajah.
"Tapi aku mengambilnya untuk kalian berdua," kataku menyodorkan minuman padanya. Dia tersenyum dan mengambilnya. Melihatnya senyum bahagia begitu, aku menyesal melakukannya.
"Ayo belajar!" kata Naruto semangat.
"Aku ngga ikut ya," kata Sui. Dia menyalakan TV, menyambungkan beberapa kabel ke TV dan lihat apa yang dia lakukan. Main PS. Santai sekali. Aku mengajari Naruto. Sebenarnya aku tak mengerti Akuntansi, tapi setelah kubaca, setidaknya aku tak separah Naruto. Aku mengajarinya.
"Nah, sekarang coba kau kerjakan soal ini!" suruhku. Naruto mengangguk. Ia menulis di atas sofa. Padahal ada meja. Hah, dasar. Sui menghempaskan badannya ke sofa di seberang kami.
"Kalah!" dia mendesah. Aku menghampirinya.
"Kamu mau cheater untuk game itu?" tanyaku.
"Kau tahu?" dia bertanya.
"Ya, harganya cuma tiga porsi makanan," aku senyum padanya.
"Ah, pelit sekali sih. Berikan dengan gratis dong," dia meminta.
"Mana ada yang gratis di dunia ini?" tanyaku.
"Ada," Suigetsu membantah.
"Apa itu?"
"Aku sering downloading di internet. Gratis," kata Sui.
"Ujung-ujungnya kau harus bayar tagihan modem dan listrik, kan," kataku.
"Mendapat luka. Bukankah kita gratis mendapat luka?" tanya Sui cengar-cengir.
"Memang siapa mau luka?" aku sweatdrop.
"Ngg. O, iya. Iruka-sensei kan kemarin kasih kursus bahasa Inggris gratis," kata Sui. Merasa menang. Tapi aku tak mau kalah.
"Untuk ke rumah Iruka, kita kan perlu kendaraan atau besin. Liat prosesnya juga dong," kataku.
"Gimana kalo jalan kaki ke rumah Iruka-sensei?" kata Sui. Aku hampir kehabisan akal. Sui tertawa melihatnya.
"Kita harus membayarnya dengan keringat, kan. Dan lagi untuk mencatat materi, kita perlu buku," kataku.
"Oke, aku kalah," Sui mendengus. Aku tersenyum. Baru menyadari sesuatu.
"Tapi ada satu yang gratis."
"Apa?" Sui menaikkan sebelah alis.
"Teman. Kita bisa mendapatkan teman dengan gratis. Kita bisa meminjam internet dari teman dengan gratis. Atau meminjam hp-nya untuk menghubungi orang tua dengan gratis. Atau memintanya mengajarimu dengan gratis," aku melirik Naruto. Dia juga melirikku.
Aku merangkul Suigetsu. "Cuma teman satu-satunya hal yang berharga dan kau bisa mendapatkannya dengan gratis," kataku. Suigetsu tersenyum.
"Jadi..." kataku.
"Jadi apa?"
"Aku lapar. Belikan dong tiga porsi makanan untuk kita bertiga," kataku.
"Hah, ujung-ujungnya kau ke sana, Sasuke. Iya, kubelikan," kata Suigetsu keluar dari apartemenku. Aku menang!
"Sihirmu hebat sekali," kata Naruto.
"Hahaha," aku tertawa ngga iklas. "Aku mau mandi dulu." Aku memasuki kamar mandi. Aku mengambil handuk di rak kamar mandi dan mulai bermain dengan air.
oOoO
"Sasuke! Makanan datang!" teriak Naruto.
"Iya!" balasku. Aku membilas diriku dengan air jernih dan membuka pintu setelah memakai celana pendek.
"Lama sekali kau Sui... Waaa," kagetku. Aku langsung masuk ke kamar mandi untuk menyembunyikan diri. Menutup pintunya keras.
"Sasuke, kau kenapa?" tanya Sui.
"Kenapa ngga bilang bawa orang? Aku cuma pakai celana pendek dengan handuk di bahu!" kesalku.
"Ngga usah malu-malu. Aku ketemu cewe ini tadi di jalan saat dia hampir diserempet," kata Sui.
"Aku ngga tanya! Bawa cewe itu keluar! Aku ngga terima tamu cewe!" teriakku tanpa membuka pintu sedikitpun. Aku bisa mendengar langkah kaki mendekati pintu, pembatas antara kamarku dan kamar mandi ini.
"Berhenti di sana!" suruhku.
"Kau Sasuke kan? Aku tak mungkin salah lihat barusan," kata perempuan itu. Aku hanya melihat wajahnya sekilas, aku tak tau siapa dia.
"Siapa kau?" tanyaku.
"A...aku. Aku Hyuuga Hinata. Keluarlah sebentar. Aku ingin bicara," katanya. Aku membuka pintu. Menatap matanya tiga detik. Berjalan mendekatinya. Dan. Melewatinya. Tujuanku: lemari.
"Eh?" Naruto dan Sui bingung.
"Aku mau ganti baju dulu," kataku kembali ke kamar mandi.
oOoO
Aku duduk di sofa yang agak panjang bersama Suigetsu. Hinata di seberang. Duduk di sofa sendiri. Sedangkan Naruto duduk di kasur, tepat di belakangku dan Sui..
"Ada apa?" tanyaku.
"Ayahmu menyesal mengusirmu. Dia meneleponmu, tapi katanya hp-mu tidak aktif," kata Hinata.
"Hp-mu aktif ngga?" tanyaku pada Sui.
"Aktif dong," Sui mengeluarkan hp-nya dan memperlihatkan layarnya.
"56 missed call from Fugaku-san? Astaga, ku-silent!" Sui menepuk dahinya. Aku sweatdrop. 56, jumlah yang banyak juga.
"Lalu kenapa kau terlibat?" tanyaku.
"Ayahmu bertanya pada ayahku. Lalu ayahku memintaku untuk membantunya mencarimu," jawab Hinata. Aku mengambil hp Suigetsu, hp-ku baterainya habis. Menelepon ayah.
"Ayah!" kataku saat panggilannya diangkat.
"Sasuke! Ke mana saja kau? Ayah minta maaf. Yang tadi ayah kelepasan..."
"Aku maafkan," potongku. "Aku ada di apartemen bersama temanku. Kau tak perlu khawatir," kataku.
"Kalau begitu pulanglah."
"Besok. Aku janji," kataku mengakhiri telepon. Mengembalikannya pada Sui.
"Sudah? Jadi kau boleh pulang sekarang," kataku pada Hinata.
"Kenapa tidak pulang sekarang?" tanya Hinata.
"Yang penting aku pasti pulang."
"Aku bisa dimarahi ayah gara-gara tidak membawa calon menantunya pulang dengan selamat," kata Hinata. Mukanya memerah.
"Apa?" Suigetsu kaget.
"Tunggu dulu," kata Naruto. "Calon menantu dari ayahnya. Berarti..." Naruto berpikir.
"Sasuke calon suaminya cewe ini, kalo dia ngga punya saudara cewe," kata Sui.
"Apa?" kaget Naruto. Telat sekali.
"Itu beneran?" tanya Naruto. Aku ngga menjawab.
"Oy, Sasuke. Kau hebat juga dapat cewe manis dan anggun kayak dia," kata Sui menepuk pundakku. Hinata blushing.
"Hah, itu kata ayahku dan ayahnya. Siapa bilang aku mau jadi suaminya?" kataku. Hinata memasang wajah kecewa.
"Sa...Sasuke. Kau..." Hinata tak melanjutkannya. Dia pergi.
"Hei, Nona!" panggil Sui.
"Hei, aku salah bicara?" tanyaku.
"Kau. Dalam memikat cewe memang ngga berseni," ledek Sui. "Ayo makan, nanti keburu dingin."
Hei, aku salah ya?
oOoO
Kami selesai makan.
"Hei, perempuan tadi manis, ya," kata Naruto. Aku hanya mendengarnya sambil membersihkan meja.
"Yah, lumayan sih," Sui menanggapinya.
"Ya, kan. Sasuke," tanya Naruto.
"Hah? Yang cantik dan manis penuh kasih sayang cuma dewi Aphrodite," kataku cuek.
"Nah, Hinata itu dewi Aphrodite," kata Naruto.
"Naruto, kamu suka Hinata?" tanyaku.
"Eh? Ng...ngga. Dia kan pacarmu, Sasuke. Kau cemburu?" goda Naruto.
Aku mendesah. "Kubilang bukan. Kalau kau suka Hinata, aku comblangin," kataku.
"Benarkah?" Naruto senang. Aku nyengir. Naruto suram.
"Benarkah?" ledek Sui meniru suara Naruto. Naruto melempar bantal pada Sui. Aku menyalakan TV. Mengambil duduk di seberang mereka berdua.
"Sudah selesai aku mengajarimu," kataku.
"Thank you, Sasuke," kata Naruto. Hujan turun.
"Yeah, biasanya hujan-hujan gini inspirasiku meluap untuk melukis," kataku.
"Gimana aku pulang?" tanya Naruto.
"Nginep di sini aja. Kasurku cukup untuk tiga orang pesumo. Di sofa juga bisa. Atau mau di lantai," kataku.
"Aku ikut ya. Kayaknya seru," kata Sui. Aku senyum sebagai jawaban. Kami bertiga cuma duduk menonton TV.
"Udah jam 8, ngga ada yang seru," komentar Sui.
Mati lampu.
"Waaa!" Naruto teriak.
"Hmm. Mati lampu. Aku telepon dulu penjaga apartemennya," kataku. Aku meneleponnya, dia bilang sekitar 30 menit lagi akan dinyalakan. Aku memberitahunya pada mereka berdua.
"Argghh!" kesal mereka kompak.
"Ayolah, syukuri apa yang terjadi. Bagaimana kalau kita adakan permainan?" tanyaku.
"Permainan apa?" tanya Naruto. Aku berpikir. Melihat ke beranda yang luas dengan empat kursi dan sebuah meja dengan pancaran sinar bulan. Ngga dapat ide. Melihat ke atas, pada lampu yang masih membiaskan cahayanya sedikit. Ngga ada ide.
"Gimana kalo uji nyali? Kita tutup jendela dan pintu di sana supaya ngga ada cahaya sama sekali," kata Sui.
"Lalu?" tanyaku.
"Kita menjawab pertanyaan yang ditanyakan masing-masing dari kita. Harus jujur. Kalo bohong, akan ada setan yang menepuk pundak kalian dari belakang," kata Sui.
"Dongeng. Tapi boleh juga," kataku.
"Mulai dari Sasuke dan aku yang bertanya pada Naruto," kata Sui.
"Curang."
"Apa kau suka Hinata?" tanyaku menggodanya.
"Apa-apaan tuh, Sasu..."
"Jawab dong."
"Argh. Ngg. I...iya," kata Naruto.
"Hahaha. Apa kau suka Sasuke?" tanya Sui.
"Kau lebih gila dari..."
"Maksudku, apa kau suka dengan sifat Sasuke yang aneh?" ralat Sui, memotong kalimat Naruto.
"Tidak!" jawab Naruto tegas. Ruang mulai agak terang karena mataku mulai terbiasa.
"Sekarang aku dan Naruto yang tanya," kata Sui. Enak sekali dia.
"Apa kau pernah naksir cewe?" tanya Naruto.
"Tidak!" jawabku tegas.
"Apa kau pernah naksir cowo?" tanya Sui. Aku memejamkan mata. Ingin kubunuh Suigetsu.
"Kau gila. Tentu tidak," kataku membuka mata.
DUKK!
Sesuatu menyentuh pundakku.
"Tidaaak! Aku jujur! Benar!" kataku. Lampu menyala. Padahal baru 15 menit. Aku melirik ke belakang. Lihat siapa di sana.
"Hah? Kau? Lalu..." aku menoleh ke arah Naruto dan Suigetsu. Naruto memeluk bantal guling. Karena sofa dan kasur yang dekat, dia bisa mengambil bantal itu dengan mudah. Karena gelap, aku pun tak jelas melihat antara Sui dan bantal. Dan Suigetsu pasti menyelinap saat aku memejamkan mata.
"Sialan! Aku sempat berpikir apakah aku punya sifat homo alami?" aku mencekik Suigetsu, bercanda.
"Hahaha," dia hanya tertawa. Hujan masih deras. Aku menghempaskan tubuh ke sofa.
"Idemu bagus sekali, Suigetsu," puji Naruto.
"Hahaha. Kita main PS yuk," ajak Sui pada Naruto. Aku cuma memandangi mereka dari sofa. Mereka duduk lesehan, menatap TV di tempat setinggi satu meter. Tanpa sadar aku terlelap. Ke alam mimpi.
oOoO
Aku mengenakan kemeja putih dan celana putih dengan syal putih. Aku berada di tempat dengan berbagai tanaman. Kupikir hutan. Lebat. Tapi bunga berkeliaran di sana sini. Aku menyibak semak-semak terdekat. Sampai di taman bunga yang sangat luas dan indah. Dengan air mancur di sudut sana. Di antara rerimbunan bunga, aku melihat seorang gadis cantik memunggungiku. Berambut panjang pink. Bergaun pink. Bermahkotakan silinder yang dihias bunga pink. Dia memeluk beberapa bunga yang dipetiknya.
"Dewi Aphrodite!" aku bergumam. Menyusup masuk ke taman itu. Segera ia menoleh ke arahku lewat bahunya yang putih bersih. Matanya emerald. Cantik. Dia pergi menjauh. Ditelan hutan. Aku hendak mengejarnya.
"Kalahhh!" suara Naruto membangunkanku. Aku sadar tadi itu mimpi. Tapi kenapa bisa aku tidur di kasur? Aku melihat jam yang menunjukkan jam 9. Badanku kaku sekali. Seperti baru bermimpi serius. Sejenak aku lupa mimpiku. Padahal aku merasa senang. Aku menyadarkan diri. Memrogram otakku untuk bekerja dengan baik. Aku ingat.
"Dewi Aphrodite," gumamku. Sui menoleh.
"Kau sudah bangun? Padahal masih jam sembilan malam," katanya.
"Kenapa aku ada di kasur?" tanyaku.
"Kami memindahkanmu," kata Sui kembali fokus pada TV. Aku mengambil buku gambarku. Menggambar sketsa dewi yang kutemui. Ini keberuntungan. Aku ditemui dewi Aphrodite dalam mimpi. Aku yakin setiap manusia memiliki gambaran tersendiri tentang dewi Aphrodite. Dan inilah gambaranku!
To Be Continued
Sedih sekali yang review dikit. Tapi makasih banyak buat yang nyempetin review, saya utang budi ama kalian. +halah+..
Oh, iya. Bagi yang belum tau atau sudah tau tapi lupa, Dewi Aphrodite itu dewi di mitos Yunani Kuno, dewi cinta dan kecantikan. Kalo mitos Romawinya, nyebutnya Dewi Venus.
Review Diperlukan…. Hohoho…
