yana kim : Azure suka Gaara tapi lebih pro ke Sakura. ini juga karena request pembaca jadi Azure buat. semoga bagus soalnya bukan bidang saya pairnya.

1: masa sih, Gaahina sepi ya akhir2 ni? Azure g tahu soalnya lebih suka baca pro Saku. Ini AZURE update, g terlalu lama, kan?

Gevannysepta : oke, ini udah update. chap 3 insya allah g lama kok.

CallistaLia: lanjut dan di update.

permatadian: ini ide lma Azure, sih. Azure masangin ni cerita soalnya mirip dengan usul yang diminta Dian-chan. Yah, kejam juga g terlalu dibuat detil. hehe. pengennya sih cerita pende solanya. tapi Azure keenakan jadi buat sampe 3 chap.


Hahhh.. entah kenapa masa depan itu tidak bisa diprediksi. ide selalu datang bermunculan sehingga cerita ini memanjang, Tapi agak tidak berubah dari rencana semua, Azure akan tamatkan cerita ini di chap 3. Semoga suka chap ini.

Jangan lupa READ & REVIEW!


The love lesson from the poor one.


CHAPTER TWO


"Gaara-sama! Anda baik-baik saja?"

Hinata berjongkok, tangannya menggerayangi tubuh sang majikan dengan hati-hati. Memeriksa luka-lukanya.

"Gaara-sama! Tolong jawablah saya!"

"Gaara-sama!"

"…amm."

"Eh?"

"Diam!" Bentak Sabaku Gaara, tangannya mendorong tubuh Hinata dengan keras, dampaknya membuat korban yang didorong terpental kebelakang.

"Itai!" Ketika terpental Hinata juga terjatuh, punggungnya menyambut lantai dengan keras.

Dengan tatapan datar Gaara berdiri, hanya memperhatikan pelayannya sekilas tanpa ada perasaan bersalah. Memaksakan tubuhnya yang jauh dari konsisi baik, kakinya melangkah meninggalkan Hinata.

Tes tes tes.

Darah menetes dari tangan kanan Gaara, mengalir turun ke jemari sampai kuku.

Tes!

Jatuh kelantai.

Setiap kali ia berjalan, suara tetesan darah terdengar bagaikan music yang mengiringinya. Mengotori lantai, menciptakan jejak darah menuju kamar Sabaku Gaara.

Klek!

Kenop pintu dibuka, noda darah berbentuk lima sidik jari tertempel dikenop itu. Tidak peduli, Gaara melengos masuk ke kamarnya. Mata jade miliknya langsung membidik pada ranjang berseprai merah. Serasa seluruh pasokan tenaganya habis, ia memasrahkan tubuhnya jatuh keranjang yang empuk. Melemahkan tubuhnya, ia menerima kegelapan dengan tangan terbuka.


Gelap.

Gelap.

Menoleh kemanapun semua sama. Hanya ada kegelapan. Sepi, kosong dan hampa.

"Eh?" Sabaku Gaara terheran, ia yakin ruangan ini tidak ada apa-apa setelah ia cek tadi. Tapi tiba-tiba muncul sesosok bayangan yang berdiri jauh didepannya. Bayangan itu seperti seorang gadis, rambut panjang indigo dengan dress ungu, membelakanginya. Jaraknya sepuluh langkah, Gaara mendekatinya dan memegang bahu bayangn itu, menariknya menghadap kearahnya untuk mengetahui wajah sang bayangan.

Mata indigo.

Hidung yang mancung dan bibir merah muda mungil

Tersenyum.

Sekilas.

"Hinata….. Hyuuga." Gaara terpaku dengan mulut terbuka.

Belum sempat ia diterjang dengan berbagai pertanyaan dikepalanya, sosok pelayannya hilang dalam sekejap dibarengi dengan sinar putih bagai kilat berbentuk oval yang mengelilingi HInata. Sinar itu membuat mata Gaara silau dan reflek memejamkan matanya. Beberapa detik kemudian sinar itu telah lenyap, Gaara bisa bebas membuka matanya. Ia kembali terkejut kala tempat yang ia injak kali ini berbeda, kali ini ia berada disebuah toko pakaian, disana ada tiga gadis remaja seusianya sedang berbelanja sambil berbincang-bincang.

"Ino-chan! Lihat, baju itu bagus sekali, kan?" seorang gadis berambut merah jambu menunjukan jari telunjuknya pada dress panjang berwarna biru yang dipakai oleh manekin baju.

Gadis yang dipanggil Ino menoleh pada dress yang ditunjuk temannya dan matanya berbinar-binar kagum. Ia menyentuh dress itu, tangannya bisa merasakan betapa lembut kain yang dipakai sebagai bahan dress. Sepertinya dari sutra. "Wah! Ini benar-benar bagus! Kau hebat menemukan barang yang bagus, Sakura! Cantik sekali! Akan kubeli dress ini!" Ino memuji dress itu dengan antusias. Sepertinya ia sangat menyukai dress itu.

Gadis lainnya, gadis berambut coklat bercepol dua maju dan memeriksa dress itu, ia memegang kertas kecil yang terpasang dibaju, disana tertulis informasi tentang dress. Ukuran, nama merek dan juga harga. Ekpresinya langsung cemberut melihat harga dress itu.

"Sepertinya kau tidak bisa membeli dress ini, Ino. Ini mahal sekali!"

"Eh? Benarkah, Tenten?" Ino langsung merebut kertas ditangan temannya dengan kasar dan melihat harga dress ditangannya. "Kami-sama! Mahalnya!" ia terkaget bahwa ucapan temannya benar. Ia patah semangat.

Tapi tidak bertahan lama.

Gadis bernama Ino itu tersenyum penuh antusias. "Ini bukan masalah! Aku akan meminta Gaara-kun untuk membelikan dress ini untukku. Diakan kaya, pasti bisa membelikannya. Beruntungnya aku, punya pacar kaya!"

Ino kelihatan senang sementara kedua temannya menatapnya dengan pandangan tidak senang.

"Ino-chan, itu tidak baik. Dress ini sangat mahal dan Gaara masih sekolah, walaupun ia kaya tapi tidak baik membuang-buang uang hanya untuk dress ini." Sanggah Sakura.

"Benar, lagipula Gaara sudah sering membelikanmu barang-barang mewah. Sekali ini saya jangan terlalu terobsesi dengan barang mahal. Banyak barang yang cantik tapi murah." Tenten menyetujui ucapan Sakura.

Kedua temannya mencoba memperingati, memberinya pencerahan akan obsesinya tapi Ino justru marah.

"Berisik! Barang murah itu tidak cantik dan cepat rusak, murahan dan tidak elit! Malu-maluin aku memakai barang-barang itu! Seperti kalangan rendah saja! Memangnya aku seperti kalian?!"

Kedua teman Ino merasa emosi ketika ia menyangkut pautkan status mereka dipermasalahan ini.

"Ino-chan! Memangnya apa yang salah dengan kalangan rendah? Kau juga sama seperti kami!"

"Benar! Jangan belagak sok superior! Hanya pacarmu yang kalangan atas, bukan kau!"

"Berisik! Dengan adanya Gaara-kun aku bisa mendapatkan apa saja! Baju, mobil, perhiasan, semuanya! Kalian berdua hanya iri karena aku mempunya pacar kaya, kan?" Ino memamerkan barang-barang yang dibelikan pacar kayanya, cincin emas dijari-jarinya, kalung permata, anting batu sapphire dan baju yang dipakainya yang trendi dan buatan perancang terkenal.

Bukannya tertarik, kedua temannya hanya memandangainya dengan tatapan datar tapi menusuk.

"Ino-chan, kau hanya tertarik dengan apa yang diberikan Gaara saja."

"Benar, kau pacaran dengannya hanya seperti memanfaatkan kekayaan pacarmu!"

Perkataan sinis keluar dari kedua temannya, Ino hanya tertawa lucu. Wajahnya ceria, matanya tajam dan kedua mulutnya melebar, menyeringai.

"Tentu saja. Karena memang hanya itu kegunaan Gaara. Memacari lelaki kaya, semua orang pasti mengincar uangnya, kan? Tidak kurang tidak lebih."

!

Kedua mata jade membelalak lebar. Rasa sakit melanda didada, bagaikan palu yang memukul-mukul disana. Gaara menggenggam kausnya dibagian tubuh yang sakit, erat.

Ia ingat memori ini,dua bulan lalu sebelum kedatangan Hinata. Memori saat gadis berambut pirang itu, Ino Yamanaka, mantan pacarnya. Tanpa ketiga gadis itu sadari, Gaara yang kebetulan ingin berbelanja bertemu mereka, tersembunyi oleh baju-baju yang dipajang, ia berdiri tidak jauh dari tiga gadis itu sehingga ia bisa mendengar percakapan mereka. Telinga.. mendengar fakta pahit dari pacarnya.. semuanya tanpa ada yang terlewatkan. Ia membeku saat itu, sakitnya berpuluh-puluh lebih banyak dari rasa sakit kali ini. Dadanya sesak seakan hancur. Ia kadang curiga, pacarnya selalu manja dan materialistic, tapi… rasa cinta membutakannya. Ia dengar banyak rumor, ia tulikan telinganya bahkan dari sahabatnya sendiri, Menma.

Ia percaya pada pacarnya.

Ia yakin pada gadis itu.

Ia…

…TELAH DITIPU MENTAH-MENTAH!

Apanya yang cinta?

Apanya yang saling percaya?

Apanya?

APA YANG DIKATAKAN GADIS ITU SEMUANYA HANYALAH TIPU MUSLIHAT!

Semuanya… cuma demi UANG!

Gadis itu…

Ino Yamanaka…

"BEDEBAH!"

Berteriak sambil membuka kedua matanya, Gaara terbangundari tidurnya. Tubuhnya bangkit dengan posisi duduk diatas ranjang. Mata jade tersadar, ia menatap lurus kearah dinding dengan berbagai macam poster musisi dan game. Kamarnya. Gaara menatap tanganya kemudian tubuhnya yang tanpa gakuran seragam, telanjang dada hanya dibalut perban. Kepalanya tiba-tiba terasa sakit, ia menyentuhnya secara lembut, bagian itupun telah diperban.

"Perban?" ia ingat bahwa pulang dengan kondisi babak belur tapi ia tidak ingin bahwa luka-lukanya telah dirawat. Tapi, tidak pelu berpikir panjang ia telah menemukan pelaku yang merawatnya, tentu saja karena dirumah ini kosong dan hanya perpenghuni dia dan pelayannya. Hinata Hyuuga.

"Gadis itu.." Gaara meletakan kedua tangannya dipaha yang berselimut dan mendesah. Entah ia harus merasa berterimakasih atau apa.

Benar, insiden mantan pacarnya membuat Gaara trauma. Begitu tahu ia ditipu ia langsung memutuskan Ino dan menjadi membenci kalangan bawah. Baru dua bulan, lukanya masih terbuka dan tidak bisa dilupakan, kemudian Hinata hadir. Semua penganiayaan dimulai dari situ!

Hari ini… ia pulang dengan keadaan babak belur. Tentu sehabis berkelahi. Gaara bertemu lagi dengan mantan pacarnya yang menghilang setelah dua minggu dicampakan dan ia ancam dengan tuntutan hutang untuk mengembalikan semua pemberian darinya. Statusnya meyakinkan aksinya, Sabaku adalah keluarga elit dan terpandang, kaya dan mewah. Bahkan ia sekolah di SMA khusus untuk orang-orang kaya dan anak-anak pejabat. Ino kabur karena tidak bisa membayar hutangnya dan Gaara melacaknya, ia menemukan gadis itu disebuah tempat pelacuran, love hotel. Korban gadis itu sama, pemuda kaya. Gaara dan kawan-kawannya, Menma, Sasuke dan Neji menunggu target keluar. Mereka menyergap mereka dan membawa paksa ke tempat sepi. Gaara menagih hutangnya pada Ino dan gadis itu dengan enteng membayarnya.

"Ini, aku bayar semua hutangku. Lagi pula ini semua tidak terlalu mahal. Pacar baruku ini lebih kaya darimu! Jangan salah paham, Gaara. Aku bukan diputuskan melainkan aku yang memutuskanmu, aku membuangku karena tidak memperlukanmu lagi. aku sudah menemukan pemuda yang lebih kaya darimu!"

Kata-kata gadis itu memancing emosi, menumpahkan minyak kedalam api yang membara, menambah gejolaknya. Tanpa dikontrol tangan kanannya melayangkan tinju kemuka Ino!

"Gadis bedebah!" umpat Gaara.

Pria yang bersama Ino tidak terima, ia memukul Gaara untuk membalas perbuatannya pada sang kekasih. Gaara semakin emosi, ia berganti target dan menyerang kekasih mantannya. Perkelahian tidak terkendali, berujung pada sesuatu yang buruk. Tangan, kaki, semua anggota tubuh bergerak dan digunaan didalam perkelahian brutal itu bahkan kepala untuk meng-head butt. Karena lawannya hanya satu orang, ketiga temannya tidak ikut campur dan hanya memegangi mantan kekasih Gaara agar tidak melengos pergi, mencari kesempatan dalam kesempitan ditengah-tengah perkelahian.

"Kau brengsek! Kurang ajar melukaiku, apa kau tidak tahu siapa aku? Aku anak dari direktur XX corporation! Kau Sabaku Gaara, kan? Perusahaanmu berada dibawah perusaan ayahku! Akan kuadukan dan kuhancurkan perusahaan kalian karena beraninya melukai anak dari perusahaan atas!" Kekasih Ino mengancam Gaara dengan kedudukannya.

Gaara hanya menatapnya datar.

"Heh, XX corp, huh? Memang, perusahaan itu diatas Sabaku corp. Tapi.. apa kau bisa seenaknya mengusik perusahaan Sabaku jika Uchiha corp akan menjadi musuhmu?" Salah satu teman Gaara membela, ia Sasuke Uchiha.

"Namikaze corp juga akan menjadi musuhmu!" Menma ikut membela.

Dan terakhir, Neji Hyuuga. "Jangan lupakan Hyuuga corp. Tiga lawan satu, apa kau masih berani menjalankan niatmu itu? Jangan bilang kalau itu hanyalah ancaman kosong."

Ditantang oleh tiga perusahaan besar, pria itu meneguk ludah ngeri. Matanya bergetar ketakutan membayangkan nasib perusaannya saat ini, ia telah lancang membuat konflik kepada tiga perusahaan besar yang mendunia. Tidak mau dirugikan, ia mengambil kambing hitam.

Ia menunjuk Ino.

"Gadis ini! Gadis ini yang salah, maafkan aku! Aku berjanji tidak akan berurusan dengan kalian lagi. Maafkan aku dan kumohon jangan usik perusahaanku!"

Berusaha melarikan diri dari masalah dengan cara pengecut.

"Kumohon maafkan aku, Gaara-sama! Tidak! Sabaku-sama, Namikaze-sama, Hyuuga-sama dan Uchiha-sama! Kumohon, aku memang bersalah!" ia mengais belas kasihan dikaki Gaara, lidahnya menjilati sepatu Gaara dengan gerakan memalukan, rendah tanpa harga diri. Harga diri? Ketakutan membuatnya membuang kata itu jauh-jauh.

Merasa jijik dengan sepatunya, ia menendang kekasih Ino jauh-jauh. Ia melepaskan kepatunya yang dijilati, terlalu jijik untuk memakainya lagi dan melemparnya kekepala sang pemuda. Pemuda itu kesakitan tapi pasrah tidak membalas.

"Pergi! Sejak awal urusanku bukan denganmu." Usir Gaara. Kekasih, atau mantan kekasih Ino, sekarang. pergi dengan perasaan senang dan lega. Secepatnya tanpa melihat kebelakang, tanpa ada perasaan khawatir tentang nasib kekasihnya beberapa menit lalu.

"Hiiii!" Ino menatap Gaara ngeri, ia sudah tahu takdirnya kali ini ketika mata jade tajam menatapnya. Menma yang sedari tadi memegangi Ino mendorong gadis itu ke Gaara.

"Kill her." Menma menyeringai sadis. Dibarengi dengan senyuman kelam Sasuke dan Neji.

Gaara menyeringai setuju. Ia mendorong Ino kedinding dengan kasar dan tubuhnya memerangkap gadis itu.

Kali ini…

Walaupun memohon, memelas, menangis, berteriak sampai suaranya serak dan lenyap. Gaara menulikan telinganya. Satu kalimat dibatinnya.

Tidak ada kata 'maaf'!

Menyelesaikan semuanya.

"AKAN KUHAJAR WAJAH KEBANGGAANMU SAMPAI HANCUR TAK TERBENTUK SEHINGGA OPERASI PLASTIKPUN ATAS SIA-SIA BELAKA!"

Gaara melayangkan tinjunya!

BUAK!

Begitulah ceritanya kenapa Gaara pulang dengan keadaan babak belur. Teman-temannya menbantu Gaara pulang dan meninggalkannya dirumahnya ketika Gaara berinsiatif bahwa ia baik-baik saja. Memaksakan diri. Tidak kuat, ia terjatuh ketika membuka pintu dan masuk kerumah dan Hinata-pelayannya datang mengkhawatirkannya.

Gaara menatap perban ditangannya dengan pandangan penuh arti selama beberapa menit, ia menengok kekamarnya yang rapih. Lantai keramik yang tadi bernoda darah telah bersih, putih cemerlang. Gaara bangkit dari duduk, kakinya menginjak lantai dan berjalan keluar kamar. Tubuhnya agak sedikit nyeri tapi tidak menjadi halangan untuknya bergerak seperti biasa tanpa tertatih-tatih. Ia melihat lantai diluar kamar, lantai disinipun bersih.

"Gadis itu selalu menyelesaikan perkerjaannya dengan sempurna." Puji Gaara, mulutnya tersenyum kecil tanpa terkendali.

Tersenyum?

!

Gaara tersentak akan fakta itu. ia tersenyum karena Hinata? Pelayannya yang kalangan bawah?!

"Apa..apaan.." Gaara tidak percaya akan hal ini! Jemarinya menyentuh bibirnya secara reflek.

Baru kali ini ia tersenyum lagi pada kalangan bawah, biasanya kedudukan itu selalu membawa emosi dan cemberut dibibirnya. Sekarang… ia tersenyum!

Kenapa?

Kenapa hal ini bisa terjadi?

"Apakah… Hinata… berbeda?" menyebut nama pelayannya, tanpa disadari pandangan matanya melembut. Nada bicaranyapun berubah, lebih berirama dan sedikit riang ketika kata 'Hinata' disebutkan. Seakan nama itu sangat berharga.

Gaara kembali berjalan, kakinya melangkah menuju ruang makan. Ia tidak sengaja menatap jam dinding diruangan yang ia lewati, menunjukkan jam 7 malam, saatnya makan malam.

Apakah… Hinata berbeda?

Ruang makan adalah tujuannya, dimana pelayannya, Hinata Hyuuga pasti disana. Menyiapkan makan malam untuknya.

Apakah ia bisa mempercayai Hinata?

Tangannya membuka pintu ruang makan, pintu dibuka. Disana mata jadenya disuguhkan oleh pemandangan yang indah, makanan khas jepang beraroma sedap dan mengenyangkan perut tertata rapih dimeja mekan yang besar. Porsi untuk satu orang. Hinata yang bercelemek membungkuk manis kearah meja, meletakan piring segipanjang yang datar berisi Tempura. Wajahnya tersenyum puas akan buah usahanya .

Mempercayakan hatinya… kali ini?

Hinata yang akhirnya sadar akan keberadaan sang majikan menatap Gaara. Bibirnya tersenyum penuh ajakan halus.

"Gaara-sama, makan malam sudah siap. Silahkan dinikmati."

Melihat senyuman pelayannya, dada Gaara tiba-tiba berdetak tidak beraturan. Tertegun, mata jadenya terdiam kagum. Entah kenapa suasana disekelilingnya terasa hangat, nyaman dan menenangkan. Seperti berada dipelukan ibu. Tanpa ragu Gaara tersenyum, membalas senyuman Hinata dengan ringan.

"Arigato."

Sepertinya kisah cintanya mempunyai harapan kali ini.

Ia yakin.


Hinata merasakan perasaan yang bertentangan akhir-akhir ini, ia serasa plin-plan merasakan sesuatu perasaan yang membingungkan. Perasaan senang dan sedih. Senang karena Gaara-sama, sang majikan telah merubah kepribadian buruknya. Tidak memukul, membentak dan mengucapkan kata-kata tidak sepantasnya. Kagetnya lagi, ia sedikit membuka dirinya pada Hinata. Berbicara, tertawa bahkan curhat akan maslahnya, kita Hinata dan Gaara menjadi akrab bagaikan teman, tidak, sahabat. Hinata senang akan hal itu… dan sedih. Waktu berjalan dengan cepat, tidak terasa ia telah bekerja di rumah Sabaku hampir tiga bulan, mendekati batas waktu bagaimana ia bisa tinggal dijepang. Seminggu lagi, pekerjaannya selesai. Ia akan meninggalkan jepang. Meninggalkan teman satu-satunya dinegeri matahari ini, meninggalkan rumah Sabaku dimana ia banting tulang mencari nafkah, meninggalkan… sang majikan yang telah dia anggap sahabat.

Seharusnya ia senang, kepulangan adalah waktu yang paling dinanti-nantikannya sejak ia mulai dianiaya oleh sang majikan. Ia bisa pulang dengan gaji tinggi, membayar biaya operasi ibunya dan sisanya digunakan untuk kepentingan hidup keluarganya serta modalnya mencapai impiannya sebagai suster dirumah sakit besar. Ia yang hanya tamat SMA karena kekurangan ekonomi, kini akan kuliah dan lulus dengan ilai baik. Ia melamar dirumah sakit besar sebagai suster. Gaji suster besar, ia bisa menafkahi keluarganya dan tidak akan lagi mempunyai masalah dengan ekonomi. Hidupnya akan menjadi sempurna.

Tapi… kini ia merasa resah untuk pulang.

Padahal ia akhirnya merasa nyaman dinegeri ini.

Padahal ia senang berteman dengan Naruto-kun.

Padahal ia sudah akrab dengan Gaara.

Sungguh… disayangkan jika ia pulang ke negerinya, meninggalkan pengalaman menyenangkan ini dan menyimpannya hanya sebagai kenangan dinegeri asing.

"Sungguh… menyedihkan.."

Hari ini seperti biasa Hinata pergi berbelanja ke supermarket. Dihari saat dua hari lagi ia akan meninggalkan jepang. Hinata merasa resah dan sedih bertemu Naruto, temannya. Ia telah bertekad untuk mengucapkan selamat tinggal hari ini.

Selamat tinggal adalah kalimat yang menyedihkan. Hinata benci kalimat itu mulai dari sekarang.

"Hinata-chan!" tentu saja Naruto datang, setiap hari ia berbelanja dan bertemu dengannya mudah sekali di jam-jam segini di supermarket.

Hinata tersenyum membalas sapaan temannya, senyumannya terlihat dipaksakan kala hatinya masih merasa sedih tapi ia tidak mau memperlihatkan ekpresi sedih pada temannya.

Mereka melakukan hal rutin bersama, berbelanja, mengobrol, bercanda dan memberi saran masing-masing tentang masakan. Hinata mencoba bersikap biasa kala ia sedikit melamun, berekpresi sedih memikirkan perpisahannya dan kadang tidak membalas perkataan Naruto.

"Ada apa, Hinata-chan?" tanya Naruto kala mereka berdua telah berada didalam mobil Naruto dalam perjalanan yang menyetir dan matanya focus pada jalanan tapi sesekali ia melirik Hinata. Naruto bisa merasakan bahwa temannya sedang merasa resah, ekpresinya yang selalu tersenyum ramah dan easy going mendadak serius.

Hinata menatap temannya, ia melihat lirikan mata Naruto yang tajam dan menuntut akan kejujuran. Temannya tahu betul Hinata akan bersikap pura-pura kuat kala ada masalah, ia akan menyangkal dan berbicara white lie. Hinata tidak mau merepotkan Naruto. Tapi.. kali ini Naruto benar-benar menuntut kejujuran. Hinatapun tidak mau berbohong, iapun harus jujur akan perpisahannya.

Hinata meneguk ludahnya. Menelan rasa pengecutnya. Ia bersiap untuk berbicara.

"Naruto….kun… aku akan… meninggalkan jepang dalam dua hari."

Kata-kata keluara dari mulut Hinata dengan suara pelan dan gemetar. Katanya yang langsung berujung pada inti pembicaraan tanpa dimulai dari start.

Perkataan ambigu dan membingungkan itu membuat Naruto kaget. Ada sesuatu yang tidak beres.

CKIT!

Naruto mengerem dengan tiba-tiba, mobil sedikit melompat kebelakang dan kedepan. Termasuk dua orang yang mengendarainya. Hinata terkaget akibat ulah Naruto dan memekik kaget. Sementara Naruto terlihat tenang, matanya tetap menatap jalan dan tangannya mencengkram stir. Posisinya tidak berubah. Ia seakan tidak bergerak.

"Nar-naruto-kun… eto… ada ap-" Temannya aneh, matanya sangat tajam dan serius. Hinata merasa sedikit takut tapi ia memberanikan diri bertanya.

Belum sempat diselesaikan, pertanyaan Hinata tersela oleh mesin mobil yang kembali melaju. Guncangan tiba-tiba membuat Hinata menelan kata-kata yang hendak dilontarkannya. Tubuhnya bergoncang lagi tapi untung sabuk pengaman melindunginya dari sesuatu yang buruk. Naruto focus menatap jalanan, ia melajukan mobilnya melenceng dari tujuan awal. Kini ia mempunyai tujuan lain.

Tidak lama, mobil berhenti disebuah jalanan didekat sungai yang sepi. Naruto menepikan mobilnya dan keluar. Hinata bingung tapi ia mengikuti Naruto. Langkah kaki Naruto menuju sungai itu, ia berjalan melewati daun-daun yang tumbuh subur dan duduk disana. Hinata mengikuti dan duduk disebelahnya.

"Naruto-kun..?"

"Indah, kan?"

"Eh?"

"Sungai ini… indah, kan?"

"Airnya jernih dan transparan, tempatnya tenang dan anginnya sepoi-sepoi, menyejukkan. Ini tempat favoritku sejak aku kecil. Setiap hari aku melawati tempat ini ketika pulang dari sekolah. Bermain di air, memancing, menenangkan diri dan berbagai macam lainnya."

Hinata memperhatikan sekitarnya, ia setuju dengan perkataan Naruto tempat ini sangat indah dan sungainya jernih, lain sekali dengan di negerinya yang notaben banyak sungai yang tercemar. Padahal jika dijaga, sungai di indonesiapun tidak kalah indahnya dengan sungai dinegeri jepang saat ini. Sangat disayangkan. Udaranya jernih bagaikan dipedesaan dan anginnya menyejukkan. Benar-benar tempat yang tepat dijadikan tempat favorit.

"Ya, indah." Mau tidak mau Hinata tersenyum, takjub akan alam yang menyita perhatiaannya kali ini. Seakan ala mini menyedot kesedihan Hinata, ia merasa sedikit lebih baik.

"Sebetulnya… masih banyak tempat yang ingin kutunjukkan padamu, Hinata. Akupun ingin memperkenalkan berbagai macam keistimewaan lainnya yang dimiliki di negeri ini, tapi.. aku tahu waktumu tidak cukup." Naruto mengangkat wajahnya menatap langit, matanya menerawang sendu. "Kau selalu sibuk sehingga tidak ada waktu mampir kerumahku, aku tahu waktumu terbatas. Tapi… aku tidak merasa bahwa batas waktu itu secepat ini."

Keheningan melanda mereka berdua. Seakan waktu membeku.

Tapi tidak berlangsung lama, Hinata memecahkan keheningan.

"Naru..to.." Hinata menatap temannya dengan sedih.

"….."

Naruto yang murung tiba-tiba tersenyum bersemangat.

"Ini… bukan akhir, kan?" ia menyeringai.

"Eh?"

Naruto menyentil dahi Hinata. "Ini zaman modern, komunikasi itu mudah didilakukan dan banyak akses yang bisa digunakan. Ada handphone, internet dan e-mail. Walaupun berpisah, tidak maslah jika kita tepat berhubungan kontak, bukan?!"

"Jadi…" Naruto mencubit kedua pipi Hinata dan melebarkan bibir sang teman perempuannya. "jangan berpikir ini akhir dari pertemanan kita! Ayo senyum!"

Mendengar kata-kata Naruto, senyuman Naruto. Hinata terpaku. Rasa hangat menyelimuti dadanya. Seakan tertular dari senyuman Naruto, Hinatapun tersenyum. Air matanya mengalir tanpa sadar akibat rasa haru.

"Iya."

Setelah beberapa lama menghabiskan waktu untuk mengenang momen sebelum berpisah, Narutopun mengantarkan Hinata kerumahnya. Mereka sampai dirmah Sabaku, Hinata turun dari mobil dan Naruto mengikutinya. Ia memberikan pelukan selamat tinggal sebelum Hinata masuk. Hinata membalasnya sebagai pelukan pertemanan dan pamit masuk pada Naruto. Naruto membalasnya dan kembali ke mobil, pergi pulang.


Gaara membelalakannya matanya. Ia melihat dari jendela, melihat adegan pelukan antara pembantunya dan kakak dari sahabatnya. Hatinya sakit dan nyeri, perasaan ini… de javu. Ia pernah merasakan perasaan yang sama dengan ini saat ia berkencan dulu. Tapi… perasaan ini lebih… menyakitkan. Ia mengepalkan tangannya dengan erat.

Kecewa.

Sedih.

Gundah.

Marah.

Kesal.

Benci.

"Ghkk!" Gaara menggertakkan giginya. Mata jadenya menatap tajam kearah sang pembantu. "Hinata Hyuuga… kau.. milikku!"

"I MUST CLAIM YOU AGAIN THIS TIME!" Gaara berlari menuju pintu depan, menghadang pembantunya yang pulang.


Bersambung... chap 3 is END

ada adegan RAPE di chap 3. apa Azure perlu didetilin? apa harus ganti rating jadi M?

Minta pendapatnya pembaca! Terutama Dian-chan ;D