Summary: Baru beberapa langkah, kakiku terasa lumpuh ketika namjaitu menyerahkan sebuah kotak merah kecil yang sudah dapat ditebak pasti isinya, cincin. Jadi, apakah aku datang untuk melihat sebuah kekalahan?
Cast:
Cho Kyuhyun (F)
Choi Siwon (M)
Kim Kibum (M)
Support cast:
Lee Sungmin (F)
Pair: WonKyu, KiHyun
Warning: OOC, Typo(s), GS.
Genre: Romance, Angst, Hurt.
Rated: T/PG-13.
Don't like? Don't read!
Still Love You?
(Siwon POV) part I
Dulu, aku yang meminta hatiku berhenti mencintaimu.
Meski ia meminta hal yang bertolak belakang, aku mengingkarinya…
Tapi aku terlambat, hati ini tak bisa sedikitpun menjauh dari bayangmu…
Pada akhirnya, aku pun menjauh darimu…
Tapi apakah kau tahu?
Semua itu hanya menyiksaku dan sia-sia,
Karena pada akhirnya, hanya padamulah hatiku bertaut…
Dinginnya udara pagi menyambut kedatanganku di bandara. Bintang pagi masih terlihat di ufuk barat, kendaraan yang berlalu lalang pun masih dapat dihitung dengan jari. Ku lirik jam tangan hitam yang melingkar di pergelangan tangan kananku, pukul 04.35. Mataku menangkap sebuah mobil BMW hitam yang amat ku kenal. Seorang lelaki seumuran denganku keluar dari mobil itu, ia merentangkan tangannya.
"Sudah 2 tahun, kau tambah tampan saja," ia memelukku erat, kubalas pelukannya. Ya, sudah 2 tahun lamanya kutinggalkan negara kelahiranku menuju negara pemilik Jam Big Ben. Itu berarti, 2 tahun sudah rasa ini menyiksaku.
"Bagaimana keadaan disini?", aku melepas pelukannya.
"Ahh, aku sudah bosan dengan pertanyaan 'bagaimana keadaan disini' karena sebenarnya yang kau ingin tanyakan adalah keadaan 'dia'," aku tersenyum, tak mampu mengelak. "Kalau yang kau tanyakan keadaan 'dia', 'dia' baik-baik saja. Dan jika kamu benar-benar tanya keadaan disini, mungkin akan sedikit kacau,"
"Sedikit kacau?"
"Nanti kau juga akan tahu," ia merangkulku dan membawaku masuk ke dalam mobilnya, menyusuri jalanan yang masih sepi.
.
.
Kuamati gedung yang menjulang tinggi nan megah ini, Seoul University. Salah satu universitas unggulan yang sudah mencetak lulusan-lulusan hebat yang banyak diantaranya menjadi public figure dan orang-orang penting di negara ini. Dan disinilah aku saat ini, menjadi mahasiswa baru.
"Aku temani ke ruang rektor buat perkenalan, habis itu kita ngumpul sama teman-teman yang lain di taman deket perpus,"
"Perpus?"
"Perlu ganti tempat?"
"Oh, enggak. Enggak perlu. Di perpus malah bagus," aku tersenyum cerah, penuh arti.
.
.
Aku berjalan menyusuri jalanan setapak yang menghubungkan kampus dengan gedung perpustakaan bersama dengan teman-teman lamaku. Aku hanya tersenyum sambil sesekali menjawab untuk menanggapi obrolan teman-temanku. Pikiranku terfokus pada pencarian seorang gadis yang tak kulihat 2 tahun ini.
Gotcha!
Aku melihatnya tengah berjalan sambil membaca sebuah buku di tangannya, kebiasaannya sejak dulu. Aku berjalan semakin dekat ke arahnya. Mataku kualihkan pada temanku yang tengah berbicara, agar tidak tertangkap basah tengah memperhatikannya. Namun rasa penasaranku semakin memuncak, aku menoleh ke arahnya dan pandangan kami bertemu.
Manik coklat caramel yang memancarkan kelembutan itu kembali menghisapku dalam pesonanya.
"Kyuhyun!" seorang namja memeluknya dari belakang. Gadis itu kini mengalihkan perhatiannya pada kurungan lengan yang tengah melingkarinya.
"Oppa~," sejak kapan ia suka merengek manja seperti itu? Bukan berarti aku tak menyukainya hanya saja aku sedikit... mungkin sedikit kesal karena rengekan itu ditujukan untuk namja tadi.
"Siwon?" tak kudengar panggilan teman-temanku.
Masih kuperhatikan namja tadi yang masih enggan melepas pelukannya. Lagi-lagi ia hanya terdiam, bahkan ketika namja itu mengacak rambutnya. Tak sadar, tanganku mengepal erat.
Ingin rasanya aku segera menariknya dan memeluknya erat, mengahapus bekas pelukan namja itu di tubuhnya. Aku ingin beranjak dari sini, mendekatinya atau setidaknya berdiri tak jauh darinya agar aku dapat melihat dan mendengar suaranya.
Tapi, aku menyesal menginginkan sedikit ketenangan karena dalam beberapa detik keterdiaman yang terciptakan, indera pendengarku menangkap suara namja itu…"But you always be my baby," dan indera pendengarku melihat jelas rona merah yang menjalar di pipi putih pucatnya. Rahangku mengeras, senyumku entah sudah pergi kemana.
"Siwon?!" aku terkejut ketika sebuah tangan menepukku cukup kencang, temanku rupanya.
"Ah, ne? Ada apa?"
"Kau melihat siapa sedari tadi tidak menjawab kupanggil,"
"Ah itu, tidak...hanya...," aku mencoba mengelak.
"Ah, Kyuhyun? Kau pasti melihat ke arah sana kan?" ia menunjuk ke 3 orang yang tak jauh dari kami. "Kau pasti bertanya-tanya tentang namjaberkulit putih itu kan?"
"Memang, dia siapa?"
"Dia Kim Kibum... bisa dibilang pangeran di universitas ini. Julukannya snow white, dan sejak tahun pertama Kyuhyun masuk mereka memang sudah dekat,"
"Mereka berpacaran?"
"Entahlah, kalau dibilang berpacaran, mereka mengelak tapi jika dilihat tingkah mereka hampir selalu seperti sepasang kekasih. Karena itulah tadi pagi kukatakan akan sedikit kacau, kau punya saingan yang kuat, kawan. Ayo kita hampiri mereka, kau sudah lama tidak menyapanya juga kan? Siapa tahu ini kesempatanmu," ia mendorongku untuk berjalan di depan ke arahnya.
Namun baru beberapa langkah, kakiku terasa lumpuh ketika namja itu menyerahkan sebuah kotak merah kecil yang hampir semua orang pasti tahu isinya, cincin.
Apakah aku datang untuk melihat sebuah kekalahan?
Tidak, aku harus memastikannya terlebih dahulu.
"Oh iya, bagaimana keadaan umma?"
Dan aku serasa terhempas jatuh untuk kedua kalinya ketika kudengar dirinya menyebut ibu namja itu dengan panggilan umma juga. Sejauh itukah hubungan kalian?
Sementara langkahku -yang sudah seperti mayat berjalan karena shock- semakin dekat ke arahnya, namja tadi sudah menyingkir. Percuma rasanya aku berbalik dan mencoba menutupi kekecewaanku karena semua itu tidak akan mengubah apapun. Kau juga tidak akan mengejarku kan?
Jadi, kulanjutkan langkahku ke arahnya. Mulutku benar-benar terkunci, sapaan yang tadi sudah kususun berhenti hingga, tercekat di tenggorokan.
Dan tanpa sadar, bibirku reflek menyunggingkan sebuah senyum. Entah, mungkin senyumku tadi terlihat amat terpaksakan. Dan mungkin juga kau melihat luka didalamnya, benar kan?
.
.
Lagi-lagi aku menemukannya bersama namja itu lagi. Ia menjemputnya, apakah ini terjadi di tiap hari selama aku tak ada di sampingnya? Dan kini, ia kembali mengacak rambutnya?!
Bukankah kau tak pernah membiarkan seorang namja pun mengacak rambutnya? Bahkan saat dulu aku secara tak sengaja melakukannya, kau langsung menjauh. Tapi mengapa kali ini kau biarkan ia melakukan semua itu? Kau pun sama sekali tak menolaknya, bahkan menyambutnya dengan senyuman.
Ingin rasanya aku menghampirinya, menyingkirkan tangan itu dari puncak kepalanya. Tapi, apa yang harus kulakukan? Mendekat pun aku tak bisa. Aku hanya dapat melihatnya dari jauh dengan tangan terkepal menahan amarah.
.
.
Pengecut.
Itulah diriku saat ini. Hanya berani memandangnya dari jauh, di balik rerimbunan pepohonan dengan kau disana, berbaring di atas rerumputan taman depan perpustakaan.
Kau masih seperti dulu, kutu buku. Lebih memilih menghabiskan uang untuk membeli buku dibanding kosmetik yang beraneka mereknya itu. Lebih memilih menghabiskan waktu dengan membaca buku dibanding menggosip tak jelas. Lebih memilih mengunjungi perpustakaan dibanding kantin yang penuh akan lautan mahasiswa.
Dan rasa itu pun masih seperti yang dulu. Jika berubah, maka rasa itu hanya akan menjadi semakin dalam dan kuat menyiksaku. Hahhh... tidakkah kau dapat melihatnya?
Aku bangkit dari tempatku duduk ketika juga melihatmu bangkit, mencoba menghindari pertemuan dengannya. Kejadian kemarin masih membayangi dalam otakku. Tapi langkahku terhenti ketika melihat sesuatu yang tak beres dari gerak-geriknya. Kau berjalan amat pelan dan sempat terhuyung sebentar.
"Kyuhyun!" tanpa sadar aku berteriak ketika berlari mencoba meraih tubuhnya yang limbung. Kutahan tubuhnya agar tak menghantam kerasnya tanah. Sementara lengan kiriku menahan kepalanya, mataku menyiratkan kekhawatiran melihat wajahnya yang pucat.
"Siwon…" aku masih bisa menangkap suara lembut itu memanggil namaku pelan.
Tanpa menunggu persetujuan Sungmin yang sudah berdiri disampingku, kuangkat tubuhnya. Dan mau tak mau, aroma vanilla yang amat kurindukan itu menyeruak indera penciumanku. Semakin kurapatkan tubuhnya, mencoba memberikan sandaran pada tubuh yang kini benar-benar tak sadarkan diri itu.
.
.
Bisakah waktu berhenti sebentar
Mengizinkanku memandangi wajah cantiknya dalam waktu yang lama?
Aku tersenyum sinis, menertawakan harapanku yang sebenarnya hanya sia belaka itu.
Kusibak poni yang menutupi sebagian dahinya. Kuusap pipi pucat bulatnya. Kupandangi dan kurekam baik-baik wajah itu.
Terakhir, kugenggam dan kukecup tangannya.
Aku rasanya telah benar-benar berubah menjadi pengecut, berani melakukan semua itu ketika dirinya itu sedang tak sadarkan diri, terbaring di ranjang rawat ruang kesehatan.
Tapi biarlah, biarlah kali ini saja aku menjadi pengecut asal aku bisa menggenggam tangan yang sedari dulu ingin kugenggam itu.
.
.
Kulirik jam tangan, 15 menit sudah kuhabiskan dengan terus menggenggam dan mengusap jemari lentiknya. Sesekali, kubelai lembut rambutnya. Sepertinya, waktu kita akan segera berakhir.
Aku beranjak dari kursi tempatku sedari tadi duduk. Kupandangi wajah itu lekat-lekat hingga tanpa sadar jarak itu semakin menipis.
Cup
Segera kujauhkan bibirku dari dahinya ketika mengetahui air mataku jatuh turun. Hah! Bahkan aku menjadi selemah ini.
Apakah setelah ini, kita tidak akan berada dalam jarak sedekat ini lagi?
Aku tidak mendapat kesempatan untuk menggenggam tangannya lagi?
Segera kuhapus air mataku ketika mendengar suara pintu terbuka.
"Apa yang terjadi? Bagaimana keadaan BabiKyu?" namjayang kemarin kulihat bersama Kyuhyun itu itu mendekati ranjang tempat Kyuhyun terbarik.
"Tadi Kyuhyun pingsan, lalu aku membawanya kesini. Sejak tadi ia belum bangun. Dan sekarang, karena kau sudah ada disini jadi kupikir lebih baik aku pergi karena sebentar lagi ada kelas,"
"Ah, terima kasih," sikap namjaitu melunak.
"Siwon?" dan sebuah suara yang terasa pernah kudengar membuatku berbalik.
"Ne?" aku mencoba bersikap biasa, tapi sikapnya yang sedikit melunak tadi berubah menjadi tatapan tajam.
"Kau tau siapa aku?"
"Ehhm, namamu Kim Kibum bukan?"
"Selain itu?" aku menggeleng. Ia mengulurkan tangannya, "Kalau begitu, mungkin sebaiknya kita berkenalan dahulu. Aku Kim Kibum, namjachingudariKyuhyun...,"
Dan duniaku serasa runtuh saat itu juga..
.
.
TBC
Baru setengah jalan cerita tapi mumpung modem bisa diajak kerjasama untuk update (biasanya lemot buat buka akun), langsung update...
Review:
WKS0711 makasih udah review.. :) ditunggu aja ya kelanjutannya .. hhehehe. Siapakah Kibum? Mungkin akan menemukan titik terangnya di chap selanjutnya... hhehe
Anata Chosequel? Hhmmm... saya usahain ya... makasih udah review :)
Rikha-chanhehehe, iya... Salah ketik. Sebenarnya itu pake P.O.V orang ke-dua, cuma ceritanya dilihat dari perasaan kyuhyun... Mian... makasih udah review :)
Choihyun93ini, udah... tapi sebagian.. hehhe :D makasih udah review :)
EveChoend dari sudut pandang kyuhyun. Ini lanjut... :) makasih udah review
FiWonKyu0201Makasih :) saya emang sedikit terobsesi dengan ending gantung.. hehehe :D
makasih semuanya yang udah review. Makasih juga buar SR, mungkin di lain waktu bisa review #ketauan banget mengharap review.. :D
Read and Review Please
