Masturbation

.

present by Indukcupang

.

Hun to the Han

Oh Sehun

Xi Luhan

.

Mature

.

Romance with lil hurt.

.

Chapter pertama untuk pembukaan fanfic yang telah lama berkarat. Hope u enjoy with my fiction, gals!

.

"Semenjak menjabat menjadi sekretaris, Luhan sering melakukan masturbasi. Hingga akhirnya sang Bos membantunya untuk mencapai orgasme."

.

Warn. Story dengan rating Mature. Sexual content. Typo. Penulisan yang tidak sesuai EYD.

.

Bagi yang tidak menyukai sexual content agar segera menutup tab. Karena ini bukan untuk kalian yang suci dan apalah dayaku yang penuh dosa.

.

Enjoy.

.


.

Hh. kenapa dia harus memakai kemeja baby blue sih. Stop Lu. Control Your Hormon.

Luhan membatin kesal dalam hatinya. Pasalnya, atasan sialan—sexy itu mengganggu pemandangnya lagi.

Bagaimana tidak mengganggu, lihat saja tubuh sempurnanya. Sudah tinggi, putih, rambut caramel yang benar-benar membuat Luhan ingin mengacaknya. Tampan, mapan. Ayolah, setiap wanita yang melihatnya, pasti dengan senang hati melemparkan tubuh telanjang mereka dihadapan Bos besarnya itu. Luhan tahu, bahwa atasannya itu tidak suka main wanita. Tentu, atasannya itu orang berpendidikan.

Mana mungkin mau dengan wanita murahan.

Apa? Murahan? Tidak, aku bukan wanita murahan. Stop Luhan.

Luhan menggeleng-geleng kepalanya dengan cepat. Sesekali menepuk kedua pipinya pelan untuk menambahkan kesadarannya, bahwa dia bukan wanita murahan.

Tapi...

Aku termasuk wanita murahan itu.

Luhan mengingat semua apa yang sudah ia lakukan selama ia menjadi sekretaris di Oh Corp Magazine. Memori ingatannya berputar memenuhi relung otaknya.

Dia sering horny saat melihat atasannya membenarkan, melonggarkan, atau memasang dasinya. Ia sering melakukan onani dikamar mandi atau diruangannya saat jam makan siang. Kerap kali orgasme dengan meneriakkan nama Oh Sehun.

Ya. Oh Sehun.

Atasannya yang sering membuatnya lupa diri. Atasan yang sering kali membuatnya melepaskan cairannya dimana pun ia melihat atasannya, Oh Sehun.

"Hei. Lu." Seseorang mengintrupsinya.

Apa? Seseorang? Sehun?

"Astaga. Maaf, Presdir." Luhan bangkit dari duduknya secara tiba-tiba. Hingga..

"Akh. Shit." Sehun mengumpat. Bagaimana tidak, Hacienda La Esmeralda yang tengah dipegangnya, tumpah mengenai kemejanya. Hitamnya kopi itu mengotori sebagian kemeja Sehun.

Luhan gelagapan seketika. Tangannya lansung menyentuh dada dan perut Sehun secara refleks. Mengusapnya, berusaha agar kopi itu hilang. Sehun berusaha menjauhkan tubuhnya dari Luhan, karena Luhan menyentuh tubuhnya terlalu cepat, hingga Sehun melihat sapu tangan didalam tas sandang Prada milik Luhan, dengan cepat ia menjangkau sapu tangan itu. Lalu benar-benar menjauhkan tubuhnya dari Luhan.

"Wanita macam apa dia, kasar sekali." Sehun bergumam sendiri saat membersihkan sisa-sisa kopi dikemejanya. Luhan terdiam kaku.

Aku baru saja menyentuhnya. AKU MENYENTUHNYA.

Bukan meminta maaf kembali, Luhan malah memegangi telapak tangannya sendiri. Menjerit parah dalam hati, tanpa memperdulikan tatapan atasannya yang mungkin sekarang tengah menganggapnya gila.

Persetan. aku merasakan tubuhnya. Uh, andai saja tanpa kemeja keparat itu.

"Luhan, 10 menit lagi keruanganku."

Setelah mengucapkan kalimat itu, Sehun melenggang pergi meninggalkan Luhan. Luhan mendadak membeku.

Apa? Keruangannya? Aku?

Luhan blank seketika.

TIDAK. JANGAN SAMPAI AKU DIPECAT!

Mata Luhan membola seketika. Luhan merasa kakinya melemas. Tidak mampu menahan berat badannya. Tubuhnya jatuh seketika. Luhan duduk bersimpuh, mulai mengutuk segala sikapnya. Memukul beberapa kali kepalanya.

Luhan bodoh. Kenapa kau begitu bodoh Luhan. KENAPA?! pelupuk matanya mulai berair. Luhan menangis. Ia menutup mulutnya agar tangisnya tidak pecah. Luhan tidak mampu membayangkan jika ia memang benar dipecat oleh atasannya langsung. Bagaimana bisa ini terjadi. Luhan tidak sanggup menahan tangisnya.

.

.

.

Luhan mengusap wajahnya yang basah. Setelah menangis beberapa menit, Luhan melarikan diri ke toilet. Wajahnya sembab, matanya yang terlihat membengkak membuatnya lelah. Sesekali Luhan menepuk kedua pipinya.

"Tak apa, Lu. Jangan negative thinking. Mungkin dia han—"

"Disini kau rupanya. Presdir Oh memanggilmu keruangannya sekarang, ia terlihat sangat menyeramkan." Seorang gadis cantik dengan rambut dikucir mengintrupsi ucapan luhan. Air muka Luhan mendadak berubah. Ia mendadak takut lagi. Jantungnya berkerja dua kali lebih cepat sekarang.

Darahnya berdesir cepat membuatnya kembali lemas.

"Apa kau membuat masalah dengannya?" Luhan mendongak. Menatap gadis itu. Lalu Luhan menghela nafas pelan. Harap-harap ia tak dipecat.

"Entahlah. Solji, apa yang dikatakan Sehun padamu?" Tanya Luhan sambil berusaha menetral detak jantung dan nafasnya. Gadis yang dipanggil Solji menelengkan kepalanya. Mengisyaratkan Kau. Tidak. Pantas. Memanggilnya. Sehun. Luhan tertawa pelan. "Maksudku, presdir Oh." Luhan cepat-cepat memperbaiki kesalahannya.

"Tidak banyak, hanya menyuruhmu menemuinya." Solji mengangkat kedua bahunya secara bersamaan.
Lagi-lagi Luhan menghela nafas pelan. Rasanya semua harapannya memanglah sekedar harapan. "Sudah, temui saja dia. Kau ini, hanya menemui Presdir tampan saja malu-malu begitu. Yaah, walaupun kalau aku jadi kau, aku akan malu juga. Yaampun, apa yang akan terjadi jika aku berada tepat didekatnya. Aduh, bagai—"

"Hei, diamlah." Luhan membentak Solji. Gadis itu benar-benar menyebalkan. Malu apanya. Dia tidak tahu saja, ini hidup matiku. Sialan.

"Terserah, aku pergi dulu." Tanpa memperdulikan kemarahan Luhan, Solji melenggang meninggalkan Luhan. Dan Luhan pun hanya mampu mendengus kesal sambil mengambil tissue.

.

.

"Masuk."

Intrupsi datar dan dingin memasuki relung telinga Luhan setelah mengetuk pintu besar yang ada dihadapannya.

Luhan membuka pintu besar berkaca hitam gelap itu secara perlahan. Design ruangan yang sangat elegan benar-benar memanjakan mata bagi orang-orang yang melihatnya. Perpaduan cat merah hitam begitu indah, putihnya gordyn membuat piasan cahaya menambah kesan angkuh dalam ruangan ini. Pahatan furniture membuat ruangan besar itu sangat mewah. Beberapa miniatur tampak memenuhi setiap sudut ruangan. Sofa putih membatasi antara pintu dan kursi kebesaran sang pemimpin.

Oh Sehun.

Table name tertulis apik dimeja kaca hitam transparan.

Walau bukan sekali Luhan memasuki ruangan itu, tapi tetap saja Luhan sering kali terpana akan kemegahan ruangan ini. Apalagi ditambah dengan hadirnya sang pemimpin. Duduk angkuh di kursi kebesarannya. Rambut acakan tidak mengurangin pesona ketampanannya. Dasi yang sudah terlepas namun masih melilit pada leher dan kemeja putih dengan dua kancing atas yang terbuka.

Apa? Kemeja putih? Dua kacing terbuka?

"Astaga." Luhan tersadar dengan apa yang telah diperhatikannya.

Surgaku! Dewi fortuna. Dia seksi sekali. Yaampun, kulit dadanya.

Luhan kembali terpana pada objek yang dilihatnya. Matanya membola. Tak sekalipun berkedip. Barang sedetik, mata rusa itu tidak berkedip. Luhan merasa darahnya terbagi dua dalam peredarannya.
Hanya pada pipi dan selangkangannya. Panas pada pipinya, membuatnya malu. Daerah kewanitaan yang memanas membuatnya pening sekaligus limbung. Hampir saja Luhan kehilangan keseimbangannya, kalau saja Sehun tidak menegurnya.

"Duduk Luhan." Suara Sehun yang parau membuat Luhan berfikiran yang tidak-tidak. Suara itu terkesan seksi memenuhi relung telinganya. "Duduk atau kau tahu akibatnya." Baiklah, ancaman Sehun membuat Luhan benar-benar sadar dari lamunan fantasi liarnya.

Gerakan refleks, Luhan langsung duduk disofa putih yang mewah itu. Luhan seketika menundukkan kepalanya. Takut untuk menatap Sehun. Derap langkah kaki yang mendekat, membuat darah Luhan lagi-lagi berdesir cepat. Luhan meremas ujung dress berwarna peach itu dengan kuat. Keringat dinginnya bercucuran ditubuh Luhan. Luhan benar-benar gugup.

Sialan.

Apalagi langkah kaki Sehun yang terasa sangat lambat, membuat laju darah Luhan yang cepat juga terasa lama bergerak. Alhasil membuat Luhan lemas duluan.

"Tidak bisakah kau rileks saja? Kau sering bertemu denganku. Kenapa kau terlihat takut begitu."

Astaga. Sehun baru saja membentak Luhan. Bukan. Bukan membentak sebenarnya, hanya saja sedikit keras. Karena Luhan terlalu tegang. Ayolah, bagaiman tidak tegang. Kau pamer dada Oh Sehun.

"Maaf." Gumam Luhan.

Baik. Setidaknya pendengaran si tampan tidak bermasalah, sehingga masih bisa mendengar bisikan Luhan.

"Hng, ada apa anda memanggil saya, presdir?" Ujar Luhan.

Asal kalian tahu saja, kalimat itu adalah kalimat yang mengerikan saat ini. Haha. Bagaimana tidak, itu adalah kalimat hidup matinya seorang Xi Luhan. Kau mendekati kematian, deer.

"Kau pulanglah hari ini."

Singkat.

Padat.

Jelas.

Mati.

Rasanya kata 'pulanglah' itu adalah kata yang meninju ulu hati Luhan telak. Tidak. Tidak. Tidak. Kau mungkin saja dipecat Luhan. Ya, mungkin. Ya Tuhan. Luhan ingin menangis rasanya.

"Maksud Anda? Apakah saya dipecat? Tapi—"

"Apa? Dipecat? Kata siapa? Aku membutuhkanmu. Mana mungkin aku memecatmu."

Apa? Tunggu! Membutuhkanmu. Sepertinya Luhan berfikir jauh. Berfikir yang lain. Benar, Membutuhkan dalam hal lain. Oh sial. Luhan merasa basah.

"Apa?" Ish. Luhan ini memang bodoh. Apa? Okay. Maaf.

"Kita akan ke Tongyeong malam ini. Jadi kau pulang lebih awal. Agar bisa membereskan barang-barangmu. Kita akan berhari-hari disana. Jadi aku rasa kau mungkin akan membutuhkan banyak pakaian dan lainnya."

Ah. Lainnya ya. Apa maksudmu, underwear? Bra? Ataukah Luhan harus membawa Lingerie untuk bergoyang strippis ditiang pole dance?

Okay. Itu kejauhan.

"Kau tidak mendengarkanku lagi, nona Lu."

Haha. Luhan kena lagi. Bagaimana tidak. Luhan malah mengangakan mulutnya dengan tidak elitnya. Ih. Rasanya aku ingin menyumbat mulut manis-sialan-menggoda itu.

"Tidak!" Luhan bersuara lantang. Ia sadar ternyata.

"Saya mendengarkannya, presdir. Maaf." Ucap Luhan sambil menundukkan kepalanya "Saya hanya kaget. Saya kira saya dipanggil untuk dipecat." Lanjut nya lagi dengan suara pelan. Oh ayolah. Dia tidak memecatmu. Kenapa harus dibahas.

"Kenapa harus aku memecatmu, Lu?" Tanya Sehun. Alih-alih melipat tangannya didepan dada, Sehun menelengkan kepalanya. Astaga. Tuan besar punya sisi menggemaskan rupanya.

"Hng, tadi itu—"

"Ah. Kopi. Tak apa. Aku bukan orang yang akan memecatmu hanya karena hal itu. Tapi lain-lain kali berhati-hatilah."

Huh. Apa Sehun tidak diajarkan tata krama berbicara? Daritadi memotong ucapan Luhan saja. Menyebalkan. Haha. Iyalah. Dia itu Bos. BOS BESAR. Jangan lupakan yang satu itu, okay?

"Jadi, kau pulanglah." Lanjut Sehun. Ia memutar tubuhnya menjauhi tempat Luhan, menuju kursi kebesarannya.

Kemudian Sehun mengancingkan kedua buah kemejanya, lalu memasang dasinya. Dan entahlah. Entah ini hanya angan-angan si wanita, rasanya Sehun memakai dasi sialan itu begitu lambat sekali. Membuat Luhan ingin rasanya menggunakan dasi itu untuk mengikat Sehun dan membuat Sehun mendesah diatasnya. Iyalah diatas. Asal kalian tahu saja, ia lebih suka dimanja. Haha.

"Hm, baik. Saya permisi dulu, presdir." Ucap Luhan sambil beranjak dari duduknya.
Memutar tubuhnya untuk segera meninggalkan surga dunianya. Ah. Berjalan perlahan hingga pintu. Saat ia akan memutar knop pintu, Sehun memanggilnya.

"Lu."

"Ya?"

"Nanti saat di Tongyeong, jangan memanggilku presdir, okay?"

"Maaf?"

"Lakukan saja."

"Ba-baiklah."

"Hn."

"Permisi."

Huh. kaku sekali mereka ini.

.

.

Setelah melihat atasannya, maka tujuan Luhan adalah toilet. Ya tentu. Untuk berkhayal yang tidak-tidak. Apalagi. Bukannya langsung pulang untuk menyiapkan persiapan yang akan dibawa, malah ketoilet.

Yes. Yes. Yes. Berduaan dengan objek surga dunianya. Yes. Akhirnya. Rasanya menyenangkan sekali. Apalagi akan ke Tongyeong.

'Ya Tuhan, kalau ini mimpi, jangan biarkan aku bangun. Aku benar-benar tidak ingin.'
Luhan berdo'a sambil memukul kedua pipinya. Lalu ia mengusapkan wajahnya yang basah oleh air. Walaupun ia tak ingin bangun kalau ini adalah mimpi, tapi tetap saja ia ingin menyadarkan dirinya bahwa ini memanglah nyata. NO DREAM! Ya. Itu ucapan Sehun. Stop Dreaming. Haha. Lupakan ini.

Sehun? Astaga. Tadi dia tampan sekali. Dengan balutan kemeja putih. Entahlah, rasanya kemeja itu tidak ada. Luhan dapat membayangkan bagaimana postur tubuh Sehun sesungguhnya. Entah lebih baik atau lebih buruk dari itu, Luhan tidak tahu. Hanya saja ia punya imajinasi tersendiri untuk gambaran tubuh Sehun. Kulit putih susu.

Dada yang begitu bidang. Rambut yang berantakan menambahkan kadar ketampanannya. Tatapan yang begitu mengintimidasi. Hanya dengan tatapan rasanya, Luhan sedang ditelanjangi. Rahang yang tegas benar-benar menyempurnakan ke-sexy-an si Bos besar ini. Kaki begitu jenjang, bila melangkah sangat memperlihat sisi pemimpinnya. Bila tersenyum, maka itulah mimpimu. Dia tidak pernah terlihat tersenyum. Entahlah. Hidupnya terlalu serius. Berbicara tentang senyuman, tentu kau akan terbayang dengan bibirnya. Bibir Sehun itu tipis. Berwarna pink pucat. Seperti perempuan, tapi tetap sexy untuk laki-laki.

Ngomong-ngomong, kita membicarakan tentang Sehun, lihatlah Luhan ia malah lari kedalam salah satu ruangan ditoilet.

Luhan telah basah. Beruntung sekarang jam makan siang. Orang-orang akan pergi ke cafetaria menghabiskan semua makanan yang ada atau bergosip dengan teman-teman sejawat mereka. Dan itu artinya Luhan aman. Entah kebetulan atau tidak, orang-orang benar-benar berbaik hati untuk memberikan kesempatan Luhan melepaskan gairahnya dikamar mandi ini.

Luhan tampak menutup kedua matanya dan mulai meraba selangkangannya yang sudah basah oleh cairannya sendiri. Luhan mengusapnya dari luar underwear yang digunakan. Sensasi yang ia dapatkan begitu memabukkan.

Bayangkan. Sehun tengah melangkah kearahmu sambil melonggarkan dasi abu-abu yang ia pakai saat ini. Luhan dengan tergesa-gesa melepas kemeja dari rok span pendek yang dipakainya.

Saat Sehun tepat dihadapanmu, ia mengurungmu. Mengunci gerakanmu agar kau tidak menolaknya.

Oh, come on. Luhan tidak akan pernah menolak untuk disentuh oleh Sehun.

Lalu Sehun membelai pipimu dengan jarinya yang panjang. Belaian yang benar-benar lembut.

Luhan menadahkan kepalanya keatas. Berusaha membayangkan dan merasakan sentuhan yang sebenarnya tidak ada. Luhan mendesah pendek.

Jari panjang itu menyentuh seluruh permukaan wajahmu.

Luhan membelai seluruh permukaan wajahnya. Jari lentik Luhan berakhir pada mulutnya. Jari telunjuk Luhan masuk menggagahi rongga mulutnya. Bibir Luhan berwarna pink itu, tampak indah mengulumi jari telunjuknya sendiri. Jari lentik itu perlahan keluar. Lidah Luhan mengikuti pergerakan jarinya. Perlahan menjilati jarinya sendiri.

Sebelah tangannya berusaha mengangkat rok span-nya keatas. Setelah rok sialan itu terangkat hingga batas pinggang, Luhan menariknya tangan keatas menuju payudaranya.

Jari-jari itu turun, membelai payudaramu. Gerakan tangan yang memutar. Telapak tangan itu menangkup payudaramu pelan.

Luhan menjamah payudaranya sendiri. Memijatnya perlahan.

Dengan tempo yang teratur telapak tangan itu mengitari payudaramu. Dan dengan tempo lambat pula tangan itu meremas payudaramu.

"Enghh.." Luhan mendesah akibat ibu jarinya berhasil menyentuh putingnya dari luar. "Sehunaah.."

Astaga. Ia mendesahkan nama Sehun.

Tangan Luhan berusaha membuka tiap-tiap kancing kemejanya secara perlahan. Menarik ikatan simpul tali bra-nya saat kemeja itu terbuka sempurna, dan menunjukkan Bra imut berwarna Pink yang tengah ia gunakan saat ini.

Dengan sangat hati-hati tangan itu menggoda payudaramu. Memijatnya dengan pelan. Penuh cinta. Luhan meremas payudaranya sendiri. Melenguh pelan akibatnya. Remasan telapak tangannya terasa begitu nikmati. Terasa sangat nyata. Membuat Luhan mendesah ribut.

Luhan bernafas pendek-pendek. Sesekali-kali menghela nafas berat. Suaranya terasa tersangkut pada tenggorokan membuatnya menggeram rendah.

Bibir indah itu mengambil andil untuk menjamah disetiap jengkal kulit tubuhnya. Mencumbunya tanpa ada bagian manapun yang terlewatkan.

"Yatuhan.. Oohhh.." Luhan mendesah ribut. "S-sehun.. Yaampun hnnn."

Luhan membayangkan bahwa kini Sehun berada dipayudaranya dan entah sejak kapan, payudara indah itu menyembul dibalik bra pink yang digunakannya, dan menampakkan puting yang senada dengan bra imutnya. Berwarna pink menggoda. Luhan memelintir putingnya.

Tangan yang tadi menjamah dadamu, kini merosot turun membelai perutmu dan terus turun menuju pusat kenikmatanmu berada.

"Umhh. ahhh." Desahannya mengalun indah dibalik pintu. Desahan semakin ribut saat jarinya menyentuh tubuhnya sendiri. Menjamah kewanitaannya dari luar terasa begitu nyata. Membuatnya gila.

Tak selang beberapa lama setelah menjamah daerah kewanitaannya sendiri, Luhan merasakan kenikmatan getaran pada tubuhnya.

Ia akan meledak sebentar lagi. Luhan semakin mempercepat gosokan jarinya pada kewanitaannya sambil membayang hal itu dilakukan oleh Oh Sehun.

"Yah-yes. Ahhh." Luhan mendesah ribut namun tertahan ketika sensasi menyenangkan semakin melanda tubuhnya. Tubuhnya bergetar hebat. "Yaaah, sehuuun—Ohh." Luhan orgasme dengan meneriakkan nama atasannya.

Luhan melepaskan pelepasan hebatnya. Deru nafasnya begitu cepat. Dadanya naik turun karenanya. Luhan menyandarkan tubuhnya kebelakang. Menarik nafas lalu membuangnya. Tadi itu sangat hebat.
Luhan terkekeh. Bisa-bisanya ia bermasturbasi lagi. Dan lagi-lagi objek fantasinya adalah Oh Sehun atasannya.

Tanpa gadis itu sadari.

Seseorang telah mendengarkan gadis itu saat meneriaki nama Oh Sehun.

.


.

Saat malam menjelang, Luhan mengangkat tas berukuran sedang menuju pintu arah keluar. Lalu ia kembali kekamar dan melihat dirinya sendiri didepan cermin.

Perfect.

Luhan mengenakan dress longgar berwarna peach. Tali yang dipilin rapi menjadi ikat pinggang untuk mempermanis dressnya. Dress tanpa lengan itu membuat Luhan tampak manis menggemaskan dan seksi dalam satu waktu. Rambut panjang dibawah bahu yang bergelombang dibawah dibiarkannya terurai. Luhan telah memilih flat shoes berwarna cream dan tas sandang satu panjang dengan warna senada dengan sepatunya.

"Kenapa gayaku seperti orang mau kencan saja?" Luhan berkata sambil membolak-balik badannya didepan cermin. Luhan terkekeh, "memang mau kencang." Lalu ia tertawa keras.

Kini gadis itu tengah menunggu Sehun. Tadi atasannya menghubunginya mengatakan bahwa ia akan dijemput. Dan Luhan telah mengirimkan alamat tempat tinggalnya.

Yaa begitulah. Luhan tinggal dirumah yang telah diberikan oleh orang tuanya saat ia hijrah ke Korea untuk bekerja.

Luhan itu termasuk didalam keluarga yang berada. Namun ia lebih memilih merantau, dari pada menjadi anak mama seperti anak orang kaya pada umumnya. Tapi, alasan yang lebih kuat adalah, ia ingin bebas. Bebas dalam artian yang sesungguhnya. Tidak dikekang.

Tiin tiin..

Suara klakson mengintruksi kegiatan Luhan. Gadis itu buru-buru keluar dan melihat siapa yang dating. Benar saja. Sehun. Oh Sehun. Atasannya yang sialan panas.

Dan ia semakin dengan style yang begitu simpel. Jeans hitam dipadukan dengan kemeja hitam. Walaupun style yang begitu gelap, Sehun begitu tampak memukau. Sangat memukau.

Ditambah kulit putih pucat yang begitu kontras dengan style-nya. Style rambut layered short. Sial. Dia memotong rambutnya.

Sehun datang dengan mengendarai Bugatti berwarna Navy. Sehun semakin tampan dengan mengendarai itu.

Luhan mendekati Sehun ragu. "Masuk dulu, presdir?" Tawar Luhan ragu-ragu.

Lelaki itu menggeleng. "Kita langsung saja, Lu." Ujar Sehun sambil tersenyum.

Ingin rasanya Luhan meleleh saat itu juga. Ingin menjerit layaknya fangirl yang bertemu dengan idol prianya. Namun, sangat tidak mungkin. Mau diletak dimana wajahnya.

"Aku ambil tas dulu. Permisi."

.

.

.

Kedua sampai saat jam menunjukkan pukul 01:25 A.M

Mobil Sehun memasuki perkarangan rumah yang sederhana namun elegan. Oh. Pantas saja Sehun tidak menyuruh Luhan untuk melakukan reservasi hotel terlebih dahulu. Dia sudah punya tempat sendiri disini rupanya.

Luhan sudah bangun dari tidur panjangnya tadi. Saat mobil sehun melambat gadis itu baru bangun. Ia memperhatikan perkarangan yang cukup luas dengan lampu-lampu yang menerangi perkarangan. Rumah ini modelnya meluas. Tidak ada tingkat dua-nya.

Luhan menoleh saat seorang wanita tua datang.

"Ayo turun. halmeoni sudah menunggu."

"Yaa?"

"Ayo."

Sehun turun duluan setelah mengatakan itu. Luhan yang masih bingung hanya mengikuti Sehun. Ia turun dari bugatti mewah Sehun.

Gadis itu melihat Sehun tengah memeluk wanita tua yang sepertinya itu adalah nenek Sehun. Luhan mendekati keduanya. Lalu gadis itu membungkuk saat Sehun melepaskan pelukannya dari neneknya. Luhan membungkuk hormat pada wanita tua itu.

"Halo, halmeoni." Ujar Luhan dan membungkuk lagi. Wanita tua yang dipanggil halmeoni itu tersenyum dan mengangguk. Lalu dia meraih Luhan untuk dipeluknya. Luhan mendekati membalas pelukan sang nenek.

"Halmeoni kenapa tidak tidur? Aku 'kan ingat sandi rumah ini." Ujar Sehun saat kedua perempuan itu melepaskan pelukannya.

"Aku tidak mau terlihat berantakan didepan cucuku, Hun." Sang nenek berkata lalu tersenyumnya pada Luhan.

Sehun berjalan mengambil tas-nya. Dan ia juga membawa tas Luhan. Gadis itu menoleh. Sehun membawa tas-nya.

"Oh? Biar saya saja, pres—"

"Sstt! Se—Hun." Bisik Sehun jelas memotong ucapan Luhan. Luhan molotot. Lalu mengangguk.

Nanti saat di Tongyeong, jangan memanggilku presdir, okay?

Luhan ingat dengan ucapan Sehun. Jangan memanggilnya presdir. Okay.

Luhan semakin bingung. Apa yang sedang direncanakan Sehun? Ini semakin aneh. Aneh. Tapi Luhan senang.

"Hun-ah. Apa ini perempuan yang kau maksud?"

"Yaa, halmeoni. Jadi jangan menjodohkanku lagi ya?"

Apa? Sehun di jodohkan? Kenapa Sehun membawanya? Ia dijodoh—Apa? Sehun membawanya agar Sehun tidak di jodohkan lagi? Tapi kenapa?

"Jangan termenung, Lu. Nenek bisa curiga." Bisik Sehun tepat ditelinganya. Luhan bergidik ngeri. Suara Sehun tadi sangat berat.

"Ayo masuk dulu."

Nenek Sehun menuntun Luhan untuk masuk kedalam. Sebelum mengikuti nenek Sehun, Luhan menoleh pada Sehun. Lelaki itu mengangguk. Mengatakan, tak apa-apa pada Luhan. Gadis itu pasrah mengikuti langkah sang nenek.

.

.

"Nah, kau tidur disini ya gadis cantik.." Nenek Sehun membawa Luhan kesebuah kamar megah dirumah itu. Kamar tamu sepertinya.

"Sehun dimana tidurnya, halmeoni?"

"Eih. Kalian ini. Tidak baik tidur berdua kalau belum menikah. Dia akan tidur dikamar sebelah." Nenek Sehun menggoda Luhan. Jujur. Sebenarnya bukan itu maksud Luhan. Ia hanya bertanya Sehun dimana. Dan jawaban si nenek berhasil membuat wajah Luhan memerah.

"Bu—bukan begitu." Luhan menyangkal. Si nenek tertawa lalu berjalan meninggalkan Luhan.

"Nenek tidurlah. Pagi akan datang."

Itu Sehun. Lelaki itu ada didepan kamar yang akan ditempati Luhan.

"Iya. Ini akan kekamar. Tidur yang nyenyak, cucuku." Lalu nenek Sehun berjalan meninggalkan Sehun sendiri didepan kamar Luhan.

Luhan membisu melihat Sehun datang melangkah kearahnya.

"Maafkan aku, Lu."

"Kenapa meminta maaf?"

"Kau pasti bingung dengan keadaan ini, benar?"

Luhan mengangguk sebagai jawaban. Tentu saja ia bingung.

"Aku terus di jodohkan oleh nenek. Karena dia ingin segera menggendong cicit." Sehun menjeda ketika melihat Luhan mengangguk. "Aku anak tunggal dari kedua orang tuaku. Mereka meninggal saat aku masih berada diumur 5 tahun. Nenek mengurusku hingga aku merantau ke Seoul dan merintis usahaku sendiri." Sehun lagi-lagi menjeda. "Ia selalu berbicara tidak masuk akal. Ia ingin menimang anakku sebelum ia mati. Tapi aku masih belum menemukan wanita yang tepat untukku. Jadi nenek berusaha menjodohkanku." Sehun diam karena Luhan diam.

"Hum. Lalu?"

"Wanita pilihan nenek membuatku pusing. Mereka terlalu materialistis. Dan aku lelah dengan wanita-wanita itu." Dia menjeda. "Hingga aku bertemu denganmu."

Luhan mendongak. Sehun semakin mengeyel menurutnya.

"Begini Luhan.." Sehun tampak bingung.

Lelaki itu tidak seperti ia biasa yang begitu gagah dan percaya diri. Dan lelaki yang ada dihadapan Luhan saat ini adalah lelaki yang bingung dan terlihat linglung yang tidak lain adalah Bos besarnya. Pemilik perusahaan ditempat ia bekerja.

"Intinya aku membutuhkanmu untuk meyakinkan nenek untuk tidak menjodohkanku lagi dengan wanita-wanita pilihannya."

Luhan menjawab dengan anggukan ragu. Sakit sebenarnya. Itu sama saja artinya dia diperalat oleh Sehun. Tapi tampaknya gadis itu sama sekali tidak keberatan.

"Kenapa harus aku?" Luhan bertanya.

"Karena hanya kau yang ada dipikiranku." Sehun mendekati Luhan. Gadis itu mematung. Tidak mundur saat Sehun sudah ada dihadapannya.

Sehun begitu dekat dengannya. Luhan dapat menghirup aroma tubuh Sehun yang begitu memanjakan hidungnya.

"Katakan aku brengsek saat ini."

"Apa?"

"Aku ingin memasukimu, Lu."

Luhan menganga. Apa? Memasuki? Sial.

"Anda bercanda, presdir."

"Ssstt. Don't call me like that, Lu." Sehun menaikkan jari telunjuknya tepat dibibir Luhan. Menyuruh gadis itu diam. Bagaikan sihir. Luhan diam. "Aku sudah sangat ingin memasukimu dari tadi siang, Lu."

"Apa?"

"Sejak tadi siang. Sejak kau menjadikanku sebagai objek masturbasimu ditoilet perusahaan."

"Sehun. Itu—itu aku bisa jelaskan."

"Kau harusnya dipecat. Tapi, kau sangat menarik, Lu." Sehun menarik Luhan kepelukannya. "Dan aku tertarik untuk membantumu melepaskan cairanmu lagi dengan bantuanku."

"Sehun.."

.


To be Continued…


.

HIYAAAAA! GUE HIATUSIN INI FANFIC SETAHUN LEBIH NAMANYA. DAN KEMBALI MEMBUAT TBC DISAAT YANG MAAF AGAK NGANU. TAPI KALI INI AKU TIDAK AKAN MEMBUAT KALIAN MENUNGGU LAMA LAGI. FEEL MENULIS KU KEMBALI SAAT AKU MULAI MENULIS FANFIC SEVENTEEN YANG BARU.

GUE MINTA MAAF SUDAH MENGGANTUNG.

but, seriously. Gue bahagia bisa lanjutin fanfic ini lagi. Couple lain akan cepat update kalau seseorang yang lagi ngediemin gue balik lagi nyapa gue. Haha.

Trims sudah membaca.

Kritik dan saran dibutuhkan untuk melengkapi kekurangan fiksi ini.

See you next chapter.

Bye.