Me, You and the Child
Rated: T
Pairing: Uchiha Sasuke X Namikaze Naruto,
Disclaimer: Naruto milik Masashi Kishimoto,
Genre: Romance,Hurt/Comfort, Family maybe…
Warning: Shounen Ai, BL, Yaoi, Slash, Non-Canon, AU, OOC sangat, Badfic, Many Typo (s) maybe, Two-shot, dll….
Summary:
Perlakuan yang selama ini diterima dari orang yang kita cintai tapi tak sesuai dengan bayangan kita, lalu apakah kita masih bisa untuk mencintai orang tersebut?
pppppppppppppppppppppppppppp pppppppppppppppppppppppppppp ppppppppppppppppppp
Beberapa jam berlalu, langit telah berganti warna, mulanya berwarna biru cerah namun kini sudah mulai menguning, pertanda sang matahari akan berlabuh kembali menuju keperaduannya.
Disebuah taman terlihat dua orang sedang duduk dibangku sebuah taman, sepertinya sedang menunggu seseorang.
"Tsk, kenapa si Dobe itu lama sekali? Lihat, hari sudah mulai senja," ujar Sasuke sambil menatap langit diatasnya yang kini sudah berwarna sedikit orange, warna kesukaan sang kekasih.
"Niichan? Naru niican kok lama ya? Chichui bocan, dicini juga udah mulai cepi," ujar bocah itu menatap Sasuke yang duduk didepannya.
"Tunggulah sebentar lagi, bocah. Kita harus menunggunya, tak mungkin jika Niichanmu ini meninggalkan orang bodoh seperti dia," ujar Sasuke menjelaskan pada bocah yang masih menatapnya dengan sebuah permen ditangannya.
"Siapa yang kau sebut bodoh hah?!" seru seorang pemuda berambut pirang pada Sasuke.
Naruto POV
"Hah..hha..haa.. Sial hari sudah semakin sore, tapi sampai saat ini aku tak juga menemukan mereka." ujarku yang kali ini terlihat sangat lelah dan kacau, lihat saja penampilanku yang acak-acakan, baju terusan yang tadinya rapi kini melorot sedikit dibagian bahu kananku, kaos orange ku basah oleh keringatku, celana jins hitamku basah karena tadi aku sempat menginjak genangan air, dan rambut pirangku yang sudah berantakan kini semakin berantakan. Kali ini aku benar-benar ingin menangis.
Saat ini aku tengah berada dijalan yang menuju sebuah taman yang cukup besar, perlahan kulangkahkan kakiku tak lagi berlari karena lelah yang cukup membuat kedua kakiku hampir lemas. Akupun berjalan menuju ketengah taman.
'Deg'
Dadaku berdebar, disana kulihat orang yang kucari sejak tadi, tengah duduk bersandar pada sebuah bangku yang cukup luas bersama seorang bocah yang menjilati permen lollipop yang ia pegang ditangannya.
'Ternyata dari tadi mereka disini' pikirku sedikit kecewa, kukira setidaknya mereka mencariku dan bukannya berdiam diri ditaman ini.
Kulangkahkan kakiku mendekat kearah mereka, sayup-sayup kudengar pembicaraan yang tengah mereka perbincangkan.
Langkahku kini terhenti, terhenti akibat ucapan yang keluar dari mulutnya tentangku yang kurasa menusuk hatiku saat ini.
"Siapa yang kau sebut bodoh hah?!" seruku kearah mereka. Sontak saja mereka mengalihkan pandangannya menatapku. Kutatap balik mereka ada perasaan sakit didaaku saat ini. Kalau begini lebih baik kalau aku tadi langsung pulang saja dan mengerjakan sisa deadline yang harus kukerjakan daripada berlari kesana kemari untuk orang-orang dihadapanku dengan panik dan saat ini mereka tengah mengatai aku bodoh. Sakit…
"Siapa yang kau sebut bodoh?!" seruku lagi padanya, pada mereka.
"Dobe, dari mana saja kau? Tiba-tiba menghilang ditengah jalan. Kami khawatir tau." ujarnya padaku sembari berdiri dari bangku itu dan menuju kearahku, namun aku lebih memilih mundur.
"Dan kau tak mencariku." ujarku tegas padanya. Ia hanya memandangku kini heran.
'Rupanya seorang Uchiha Sasuke tak mengerti ucapanku' batinku saat ini. Kecewa, sangat-sangat kecewa akan sikapnya.
"Apa maksudmu? Hei, dan apa-apaan penampilanmu ini? Sebenarnya kau dari mana saja?" tanyanya sambil mengamati penampilanku yang acak-acakan. Sakit, Hatiku sakit kali ini.
"Ya, Nalu niican dalimana caja? Chichui dan Niichan menunggu Nalu niican dicini, tapi Nalu niican lama cekali, jadinya tadi Chichui main duluan cambil menunggu Nalu niican," ujar bocah itu polos padaku maih sambil menjilati permennya.
'Che, sempat bermain katanya? Sementara aku panik dan pusing berlari kesana- kemari mencari kalian, dan lihat ternyata kalian hanya berdiam diri disini, hanya menunggu kedatanganku tanpa berusaha mencariku? Hahaha.. lucu.. lucu.. lucu sekali.' ujarku dalam hati menertawakan nasib dan juga kebodohanku. Kebodohanku yang sampai saat ini masih sama. Kabodohan karena sebuah cinta. Che, dengusku pelan.
"Hmmppp….? HAHAHA…" tawaku tiba-tiba, lebih tepatnya menertawakan nasibku.
"Hoi! Ada apa denganmu, Dobe?"
"Ya, kenapa Nalu niican ketawa? Apanya yang lucu?" ujar mereka berdua yang melihatku tiba-tiba tertawa tanpa alasan yang jelas.
Sedikit air mata keluar dari pinggir belahan mataku, kuusap perlahan, kali ini kutatap mereka, lebih tepatnya kearah kekasihku Sasuke.
"Hmm… tak ada, tak ada yang lucu, aku hany ingin tertawa saja." ujarku pada mereka.
"Nah, karena kalian sudah menikmati hari ini sebaiknya kalian pulang. Toh hari juga sudah semakin gelap." ujarku lagi pada mereka, mereka hanya memberikan pandangan bingung padaku. Kulihat Sasuke akan bersuara namun kupotong duluan.
"Oh ya, Uchiha san, sebaiknya kita akhiri saja ya. Hehe. ya sudah aku pergi dulu. Sayounara.." ujarku cepat kemudian kubalikkan badanku berjalan lebih tepatnya akan berlari dari tempat itu, namun sebuah tangan mencengkram lenganku.
"Apa maksudmu Dobe?" tanyanya kali ini menatapku semakin bingung. Dan sedikit kulihat ekspresi diwajahnya yang menandakan sebuah keterkejutan.
"Yang mana?" ujarku sambil tersenyum menanggapi pertanyaannya.
"Jangan main-main. Ada apa denganmu? Hari ini kau aneh," ujarnya tak sabar padaku.
"Hahaha, mungkin hanya perasaanmu saja Uchiha san." ujarku kali ini melepaskan cengkraman tangannya padaku.
"Berhenti memanggilku seperti itu!" kali ini suaranya sedikit tinggi dari yang tadi. Menatapku tajam, membutuhkan penjelasan lebih dariku. Tapi, ia tak akan mendapatkannya.
"Kenapa? Bukankah itu namamu, jadi wajar sajakan aku memanggilmu Uchiha san." jawabku.
"BRENGSEK! BERHENTI BERSIKAP SEOLAH_OLAH KAU TAK MENGENALKU DOBE!" bentaknya kali ini padaku.
"Niichan, Niichan kok ngebentak Nalu niican?" ujar bocah itu yang sedikit ketakutan akibat bentakan Sasuke.
"Bocah, duduklah disana nanti Niichan akan menjemputnya. Sekarang Niichan ingin bicara dengan Naruto, kau mengerti bocah? " ujarnya sedikit merendahkan nada suaranya pada keponakannya itu. Aku yang memandang mereka hanya mendengus geli. Hatiku semakin sakit.
"Sudahlah Uchiha san, ajak pulanglah keponakanmu itu. Bukankah kasian dia, sejak tadi hanya menunggu orang bodoh seperti ku, huh?" sindirku padanya. Ia lagi-lagi hanya menatapku.
"Haahh… Aku lelah sebaiknya aku pulang. Sebaiknya kau juga pulang Uchiha san." ujarku kini melangkahkan kaki pergi dari tempat itu.
"Dari tadi kau hanya memanggilku Uchiha! Uchiha! dan Uchiha! Kau marah hah? Marah karena kau tak mencarimu dan menyebutmu bodoh? " serunya padaku.
"…." tak kuhiraukan pertanyaan yang bagiku jawabannya sudah jelas, ku langkahkan kakiku semakin cepat dari sana.
"BERHENTI DISANA DOBE!" teriaknya padaku.
"Apa?" ujarku tenang, tak lagi ada emosi didalamnya, kosong. Kata-kata yang kosong, tak ada makna sama sekali menurutku.
"Kau marah? Marah padaku? Bukankah aku kekasihmu? Mengapa kau memanggilku seperti itu?" kali ini nada suaranya kembali tak ada lagi bentakan disana. Tapi itu semua tak akan merubah apapun kali ini. Aku sudah terlalu lelah, yang kuinginkan sekarang adalah pulang dan mengistirahatkan tubuhku.
"Maaf? Bukankah tadi aku sudah cukup jelas mengatakan bahwa kita sudah selesai Uchiha san, mungkin pendengaran anda perlu diperbaiki. Nah, percakapan kita sampai disini saja, aku harus pulang. Selamat tinggal, Uchiha san" ujarku padanya meneruskan langkah kakiku yang tadi berhenti.
"BERHENTI! BERHENTI DOBE! KUBILANG BERHENTI!" lagi, kali ini ia berteriak tak kupedulikan, kulangkahkan kakiku semakin cepat, tak ingin lagi mendengar ocehannya.
BRUKK
tiba-tiba ada yang menubruk tubuhku, tapi untungnya aku tak oleng dan jatuh ketanah, karena tersangka yang menubrukku tadilah yang dengan erat memeluk pinggangku yang otomatis menghadapkan aku kearahnya.
"Apa lagi maumu hah?! Kau tak dengar tadi kita sudah selesai tuan Uchiha yang terhormat. Jadi sekarang lepaskan aku! Lepaskan! Brengsek!" teriakku sambil memukul mukul tubuhnya, memberontak sekuat tenaga, berusaha lepas darinya. Kali ini kesabaranku menipis. Amarah yang sejak tadi kutahan kini memberontak ingin keluar.
"TIDAK! Sebelum kau menjelaskan alasanmu minta putus dariku, Dobe!" serunya padaku.
"Hah?! Alasan apa lagi, brengsek! Kau tahu, aku sudah sangat lelah menghdapi semua sikapmu. Kau selalu saja mengacuhkanku, seolah-olah tak perduli padaku, padahal aku kekasihmu hah!, tapi perhatianmu sedikitpun tak pernah kau tunjukkan padaku. Inikah yang kau sebut cinta hah?! Kau tahu, berhari hari aku sudah merencanakan semua ini. Berharap hari ini akan menjadi hari yang berkesan bagi kita, tapi apa?! Kau malah membawa keponakanmu hari ini, setidaknya kau bisa kan menitipkannya pada saudaramu yang lain, dan tak harus hanya padamukan? Dan kau tahu? Aku meninggalkan pekerjaanku yang dikejar deadline hari ini hanya untuk bisa bertemu denganmu, sekedar melepas rindu padamu. Tapi, kau juga tak memperhatikanku, kau pikir kita sudah berapa lama menjalin hubungan hah? bukan sehari apalagi sebulan, lama. Hubungan kita sudah lama. Pernahkah kau berpikir untuk memberiku perhatian yang lebih? Memperlakukanku sebagai pasanganmu? Jawabannya tidak. Kau tak pernah sekalipun menganggapku pasanganmu. Sikapmu masih sama seperti sebelum aku mengatakan perasaanku padamu. Lalu untuk apa hah?! Untuk apa aku merusak hidupku hanya untuk orang sepertimu, yang entah mencintaiku atau tidak. Percuma. Jadi, aku lebih memilih meninggalkanmu dari pada terus tersiksa. Sudah cukup bagiku. Tak ada lagi yang dapat kuberikan padamu, Uchiha. Sasuke. san." bentakku padanya memberikan penekanan pada kata-kata terakhirku padanya. Dan tanpa kusadari ternyata air mataku jatuh, mengalir membasahi kedua pipiku, sungguh kali ini aku benar-benar sangat lelah. Kurasakan rangkulan tangannya dipinggangku mengendur, tak kusia-siakan lagi kesempatan itu. Kali ini kudorong tubuhnya menjauh dariku.
"Jangan. pernah. mendekatiku. lagi," ujarku.
"Sebaiknya kau cari pengganti diriku yang mungkin bisa membahagiakan dirimu. Mulai sekarang lupakan aku. Anggap saja aku tak pernah ada. Selamat tinggal." ujarku kemudian pergi meninggalkannya disana. Aku tak ingin melihat ekspresinya lagi saat ini. Bagiku semua sudah benar-benar berakhir.
Sasuke POV
Aku hanya bisa terdiam mendengar semua yang ia ucapkan. Rupanya ini semua karena salahku. Salahku yang tidak menunjukkan padanya bahwa aku benar-benar mencintainya.
Ia pergi begitu saja, berlari menjauh dari hadapanku. Sakit, hatiku seperti dirajam beribu-ribu pisau. Kuremas dadaku berusaha mengurangi rasa sakitnya. Lebih sakit dari pada saat wanita itu meninggalkanku.
Ternyata yang lebih bodoh selama ini adalah diriku. Dia adalah orang yang benar-benar membuatku terlihat sangat lemah saat ini. Seorang Uchiha pantang untuk memperlihatkan kelemahannya dimuka umum, itulah yang sering ayahku ucapkan, tapi kali ini itu tak mempan, Uchiha juga seorang manusia yang mempunyai hati dan perasaan, kadangkala juga akan merasakan saat- saat terlemah mereka. Dan bagitu inilah saat-saat terlemah dalam hidupku, ditinggalkan oleh orang yang sangat kucintai seumur hidupku. Hanya karena kebodohan diriku semata.
Hahaha.. ingin rasanya aku yang menertawakan diriku, namun tak bisa. Aku hanya memandang kedepan yang hanya ada hembusan angin dan langit yang mulai menghitam. Tak ada air mata, tak juga ada teriakan histeris yang keluar. Namun rasa sakit yang kini mendera semakin terasa mengoyak hati dan juga perasaanku.
Tak adakah kesempatan untukku kali ini?
Apakah kali ini aku harus kehilangan orang yang sangat berharga melebihi nyawaku itu lagi?
Pertanyaan yang entah dimana aku bisa mendapatkan jawabannya keluar dibenakku..
End Sasuke POV
"Ne, Niichan.. Kenapa Nalu niican pelgi?" ujar Shishui yang ternyata telah berada di dekat kaki Sasuke tanpa disadarinya.
"…" diam.
"Niichan.. Niichan kok diem aja? Nalu niican kok pelgi?" ujarnya lagi pada Sasuke.
"Entahlah, Niichan juga tak mengerti." ujar Sasuke lemah.
"Haa… padahal chichui pengen ngajak Nalu niican maen ke lumah," ujarnya.
"Niichan rasa sudah tak bisa lagi, ia tak ingin melihat Niichan lagi, Niichan bodoh sudah membuatnya kecewa," ujarnya lirih.
Mendengar itu si bocah hany terdiam, ia tahu bahwa ada yang aneh dengan Sasuke saat ini, ia tak ingin mengganggu apa yang sedang Sasuke pikirkan. Ia tak ingin menambah beban Sasuke dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin akan membuatnya semakin murung.
Hari sudah semakin gelap, malam telah tiba, begitu juga dihati keduanya.
Mencintai dan dicintai, manakah yang lebih baik?
Mencintai dengan seluruh jiwa dan raga, namun tanpa adanya sebuah balasan, ataukah Dicintai, yang hanya menerima tanpa harus memberi?
Namun jika hanya akan menerima luka terus menerus masih bisakah kita untuk mencintai seseorang dan dicintai seseorang?
Entahlah, mungkin tak ada yang tahu jawaban pasti dari itu semua…
=END=
Ngegantung? xxeexexxe
Read and review please? (^o^)
Yomu to ribiu onegaishimasu….
