Elizaveta membelakak ke arah orang yang mengulurkan tangannya kepadanya tersebut. Orang itu melihat Elizaveta dengan tampang kebingungan. Orang itu akhirnya angkat bicara. "Hoi? Eliza? Kenapa bengong?"
"Gilbert.."
"Hah?"
"Kau benar-benar Gilbert?" Eliza mengguncang bahu Gilbert. "Ka—kau kenapa sih? Tentu saja aku Gilbert yang hebat!" katanya sambil menepis tangan Elizaveta. "Gilbert… kau masih hidup?" tanya Eliza di tengah isaknya. Gilbert melihat Eliza dengan tampang bingung, tetapi kasihan. "Apa? memang aku terlihat sudah mati? Kau ini kenapa sih? Kepalamu terbentur ya? Makanya, kalau lari lihat-li—" belum sempat Gilbert menyelesaikan kata-katanya, Elizaveta melingkarkan tangannya di leher Gilbert dengan erat, dan menangis. "Gilbert.. syukurlah…". Di muka Gilbert terlihat sirat-sirat merah. Tangannya ingin memeluk Eliza kembali, tetapi dia ragu-ragu.
Elizaveta mengangkat wajahnya, dan melihat sekeliling. Dia merasa pernah mengalami ini sebelumnya. Rasanya baru-baru ini terjadi.. "Gilbert, ini tanggal berapa? Hari apa?" tanya Elizaveta dengan muka cemas. "Eh? Sekarang.. tanggal 18 April" jawabnya sambil melihat ke layar handphone nya. Eliza terkejut. "De—18?" katanya dengan muka pucat. "Iya. Kenapa kau jadi takut begitu sih?" Eliza tidak menjawab. Dia menggigit jarinya. '18… berarti seminggu sebelum kematian Gilbert. Berarti.. apa aku memutar waktu..? kalau iya.. aku harus mengubah semua yang terjadi di masa depan!'
Taman sudah sepi. Hari sudah memasuki sore, tetapi Gilbert dan Elizaveta masih disitu. Terdiam. Elizaveta ingin bicara sesuatu, tapi dia tidak tahu apa. Sambil merenung di ayunan, dia berpikir. Dia ingin membicarakan tentang apa yang terjadi seminggu kemudian. Dia ingin memberitahu kalau akan ada truk yang menabraknya pukul 15.15 tanggal 25 April. Dia ingin memberitahu tentang kematiannya.. tentang semua orang yang menangis di depan petinya. Dan juga, dia ingin menyatakan tentang perasaannya selama ini yang disesali olehnya setelah kematian Gilbert.
"Gilbert.." katanya dengan nada halus. Gilbert menengok ke arahnya. 'aku harus mengatakannya.. aku harus memberitahu kepadanya tentang perasaanku.. sebelum terlambat.' gumamnya dalam hati. "Gilbert aku-" "Eliza… aku menyukaimu"
Elizaveta kaget akan perkataan Gilbert. Gilbert menatap tajam kepadanya. Mata Rubi nya menembus mata Emerald Elizaveta. "… eh?"
"Iya, itu… aku menyukaimu. Sebenarnya sih, dari dulu. Tapi kurasa ada orang lain yang kau sukai, jadi—" Gilbert menggaruk kepalanya. Muka pucatnya terlihat merah.
"aku… yang sebenarnya ku sukai itu kau! Tapi aku tidak berani mengatakannya, karena kukira kau hanya akan menganggapku sebagai teman.." Elizaveta menggenggam rantai ayunan dengan kuat. Dia merasakan seluruh badannya gemetar. Mata tajam Gilbert makin menusuknya.
Tiba-tiba Gilbert membuat pergerakan. Dia berjalan ke arah Eliza, menggenggam tangannya yang sedang memegang rantai ayunan, dan mendekatkan wajahnya. "Gilbert..?". Gilbert menempelkan bibirnya ke Eliza. Sebentar, namun sangat lembut.
'Sekarang,' katanya dalam hati. 'Aku harus benar-benar mengubah semuanya. Harus.'
