MONSTER
(SASUKE VERSION)
.
.
Disclaimer : Tokoh-tokoh yang muncul dalam fanfiction ini original by mr. Masashi Kishimoto sementara ceritanya sendiri murni dari hasil pemikiran autor.
Warning : Typo, AU, Sasuke/Sakura/Sai/Itachi, Rated M, OOC, Mengandung unsur sex.
.
.
CHAPTER 2.
.
.
"Haah, rasanya segar berada diluar sini." Sasuke memandang Sakura yang tengah merentangkan tangannya menghirup udara segar diatas bukit kecil dibelakang galeri seni milik Sai.
"Karya-karyanya benar-benar menyeramkan. Aku tidak tahu ada orang yang bisa membuat karya seperti itu." Sakura menurunkan tangannya yang terlentang. Sasuke hanya tersenyum simpul disampingnya.
"Rasanya seperti memandang sesuatu yang awalnya terasa indah tapi ternyata terdapat hal yang menakutkan dibaliknya, membuat kita tidak tahan dan perlahan mati." Sakura bergumam saat ingatannya menangkap rekaman bayangan burung merak berekor tulang berdarah.
"Bukankah semuanya memang seperti itu?" Sakura memandang wajah Sasuke. Ia mengerutkan alis matanya. Bingung.
"Terkadang kita terlalu terpaku pada halaman luar seseorang. Sesuatu yang indah di luar tidak selalu harus indah juga dari dalam." Sama sepertiku. Sasuke memandang pemandangan dihadapanya dengan tatapan kosong.
"Yang terlihat buruk pun tak selalu buruk juga." Sasuke memandang Sakura di sampingnya. Wanita itu tersenyum. Melanjutkan perkataannya,
"Seperti kerbau yang berlumuran darah itu. Dia terlihat begitu mengerikan. Tapi kebusukkannya justru memberikan kehidupan untuk belatung-belatung dan lalat-lalat yang semakin hari semakin banyak mengelilinginya." Sekali lagi wanita itu tersenyum padanya. Sasuke mengalihkan pandangannya. Rasa hangat perlahan menghampiri relung hatinya.
...
Sasuke terlihat begitu serius memandangi halaman-halaman dalam laptop miliknya. Tangan kanannya menopang dagu. Dahinya sedikit berkerut. Berusaha keras mempelajari materi di hadapannya. Ia mendongakkan kepala ketika telinganya yang tajam menangkap suara gaduh diluar apartemen. Sasuke semakin menajamkan pendengaran saat didengarnya seseorang membanting pintu. Seperti teringat sesuatu ia segera berlari keluar dari apartemen dan saat ia membuka pintu seorang wanita berambut merah muda tengah berdiri di depan pintu apartemen miliknya sendiri, ditangannya terdapat botol pengharum ruangan dan dengan sibuk ia terus menyemprotkan pengaharum ruangan itu.
Sasuke sedikit mengernyitkan alis. Ia sedikit melongo kedalam apartemen wanita itu dan mendapati seekor kecoa tengah bertengger dengan manis di atas gorden salah satu jendela yang kira-kira berjarak tiga meter dari wanita itu berdiri.
Sasuke menangkap tangan wanita itu dan melepaskan pengharum ruangan dari tangannya. Pekikan kaget dapat Sasuke dengar dari sakura.
"Sasuke!" Sakura melotot kaget kearahnya.
"Kau tidak akan bisa membunuh serangga dengan pengharum ruangan, Sakura." Sasuke lalu menunjuk pada kecoa itu dan berujar lagi,
"Apalagi dengan jarak sejauh ini." Tanpa permisi Sasuke memasuki apartemen Sakura dan langsung menangkap kecoa itu. Sasuke membuka jendela apartemen Sakura dan melepaskan kecoa itu sebelum ia kembali menutupnya.
Dan saat Sasuke berbalik, giliran ia yang kaget. Sakura telah berada dibelakangnya dengan wajah yang masih was-was.
"Sudah selesai." Sasuke berniat beranjak dari sana. Namun, Sakura segera menangkap pergelangan tangan Sasuke yang tadi memegang kecoa.
"Kau belum mencuci tanganmu." Sasuke mengernyitkan kening.
"Lalu?" Sakura segera menarik tangan Sasuke, menuntunnya ke wastafel dan menyalakan air dari sana kemudian mencuci tangan Sasuke. Seharusnya Sasuke tidak membiarkan Sakura melakukannya. Ia bisa berdalih bahwa ia bisa melakukannya sendiri. Tapi, ia tidak melakukannya. Sasuke lebih suka jika wanita itu mencucikan tangannya. Sedikit memanjakannya.
"Nah, sudah selesai." Sakura melepaskan tangan Sasuke dan mematikan keran air. Sasuke bersandar pada wastafel dan menyodorkan tangannya pada Sakura.
"Kau belum mengeringkanya."
"Apa?" Sakura memandang wajah Sasuke. Begitu sadar, semburat merah menjalari pipi ranum wanita itu.
"Maaf, aku seharusnya tidak seperti itu. Aku selalu melakukannya pada pasienku." Terlalu sering bergaul dengan anak-anak rupanya membuat Sakura lupa bahwa Sasuke bukan lagi seorang anak kecil. Laki-laki itu bisa melakukannya sendiri.
"Kau sudah terlanjur melakukannya. Maka lakukanlah sampai akhir." Sakura mendengus menahan malu mendengar ucapan Sasuke. Ia berniat berlalu dari sana Saat Sasuke menarik lengannya dan mendorongnya pelan kearah dinding. Tangan Sakura yang Sasuke genggam ia taruh di samping tubuh Sakura, sebelah tangannya menahan tubuhnya pada dinding di belakang tubuh Sakura.
Terlalu dekat. Sakura merasa wajah mereka terlalu dekat. Ia takut pria di hadapannya ini akan mendengar degup jantungnya yang berpacu lebih cepat.
"Ta-tanganmu basah." Sakura mencoba mengusir rasa gugupnya dengan berbicara. Tapi suaranya justru tedengar bergetar.
"Tidak masalah." Gerakan Sasuke justru membuat jarak dianatara keduanya semakin menyempit.
Melihat wanita itu gugup dengan wajah yang memerah membuat seluruh adrenalinnya berkumpul disatu tempat. Dan ia rasa sekarang ia sudah berada diambang kesabarannya. Ia sudah tidak bisa membendungnya. Perlahan tapi pasti, jarak diantara mereka telah hilang sama sekali.
Sakura bisa merasakan sesuatu yang lembut menyentuh bibirnya. Perlahan ciuman itu telah berubah menjadi sesuatu yang lain. Sesuatu yang lebih berbahaya. Lebih panas, dan lebih menggeirahkan.
...
Sasuke membuka matanya perlahan. Dalam rengkuhan tangan kekarnya Sakura tengah berbaring dengan nyaman. Sasuke mendengus. Namun senyumnya sama sekali tidak bisa hilang dari bibirnya. Ia bahkan tidak tahu apa yang tengah dilakukannya sekarang. Semuanya terasa begitu cepat. Ia bahkan tidak tahu dari mana datangnnya keberanian itu. Yang bisa ia ingat adalah hasratnya pada Sakura yang selama ini selalu ia pendam dan ingkari begitu saja menyeruak kepermukaan tanpa bisa ia tahan.
Dan sialnya Sakura bahkan menerimanya begitu saja tanpa perlawanan yang berarti, mungkin hanya pada saat Sasuke mencoba memasuki kotak pandora Sakura yang belum terjamah. Wanita itu sedikit melawan dan sempat menangis bahkan merintih. Tapi, hanya beberapa saat. Setelahnya ia bahkan ingat justru wanita itulah yang memintanya berbuat lebih dan lebih. Senyuman kembali terpatri di bibir tipisnya saat bayangan itu kembali menghampirinya.
"Nggh~" Sasuke bisa merasakan Sakura menggeliat dalam rengkuhannya. Perlahan mata indah itu terbuka. Memperlihatkan manik hijau yang selalu menyihir Sasuke untuk terus terjerat padanya.
Sakura mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali saat memandang wajah Sasuke yang juga tengah memandang padanya. Secara perlahan Sakura menarik selimut yang menutupi tubuhnya sampai menutupi kepalanya. Rasa malu benar-benar menyergapnya saat ini. Apalagi jika mengingat desahan dan jeritan yang ia keluarkan beberapa saat lalu. Benar-benar memalukan.
"Ini masih malam." Sasuke mengeratkan rengkuhannya dan mencium puncak kepala Sakura yang tertutup selimut. Sakura hanya mengangguk tanpa berani bertatapan langsung dengan Sasuke.
"Hn." Sasuke sedikit bergumam sebelum akhirnya menyamankan kembali tidurnya sambil masih merengkuh Sakura yang masih berbalut selimut dalam pelukannya.
...
Saat Sakura membuka matanya matahari telah bersinar dengan sangat terang. Ia memperhatikan sekeliling kamarnya dan tak lagi melihat Sasuke disana. Ada rasa kosong menyergap relung hatinya. Sakura duduk bersandar pada sandaran tempat tidur, tangannya terulur memeluk lutut. Ia tidak tahu jika ia bisa candu pada pria itu hanya dengan sekali bersentuhan dengannya. Pria itu bahkan tidak perlu mengucapkan rayuan-rayuan murahan untuk membuatnya jatuh kedalam pesonanya. Pria itu hanya perlu menatapnya dan huplah!.. dengan senang hati ia menyerahkan dirinya.
Ujung matanya menangkap secarik kertas kecil pada meja lampu. Ia mengulurkan tangan dan perlahan senyuman terkembang dari bibir ranumnya. Ia peluk kertas itu dalam dadanya. Sakura kembali mengulat dalam selimut. Kikikan geli keluar dari bibirnya. Sepertinya ia harus tidur lagi, berharap memimpikan Sasuke mengatakan apa yang pria itu tulis dalam kertas itu langsung padanya. Mengatakan, "Let's make other beautiful memory until we pass away."
Bukankah itu bisa dikatakan sebuah lamaran?
...
Sasuke mengendap keluar dari apartemen Sakura, mencoba untuk tidak membangunkan wanita itu. Pesan sialan dari kakaknya membuatnya harus beranjak dari peraduan nyamannya. Memeluk wanitanya. Ya wanita miliknya. Ia tersenyum menyadari pikirannya sendiri. Ia bersiul riang saat mengemasi seluruh peralatan yang ia butuhkan untuk rencananya malam ini. Ia harus cepat. Sebelum matahari terbit, ia harus sudah memasang peralatan bom yang ia rancang di tempat seharusnya.
Sasuke memakirkan mobil miliknya begitu ia sampai dirumah sakit, beberapa suster menyapanya dan hanya ia balas dengan anggukan pelan. Ia bergegas menelusuri lorong-lorong rumah sakit yang semakin sepi seiiring langkahnya menuju gudang tak terpakai dibangsal anak. Ia memutar kenop pintu dan memperhatikan keadaan sekitar sebelum memasuki ruangan. Memastikan tak ada orang lain yang melihatnya.
Ia mencari ke sekeliling ruangan, mencari tempat yang aman untuk menaruh bom miliknya. Matanya memandang sebuah kotak mainan usang disudut ruangan. Ia segera meraih kotak itu dan memasukan bom kedalamnya, ia bersyukur telah menciptakan bom dengan ukuran yang kecil jadi ia bisa menaruh bom itu ditempat manapun yang ia mau.
Ia tersenyum puas sebelum akhirnya kembali menyimpan kotak itu ketempatnya semula dan bergegas keluar dari ruangan. Sepertinya sebentar lagi matahari akan terbit dan Sakura akan berada dirumah sakit beberapa jam lagi. Sasuke membuka kenop dan membuka pintu ruangan dengan pelan mencoba tidak mengeluarkan bunyi sedikitpun. Ia segera menjauhi tempat itu ketika ditikungan ia bertemu dengan suster Anko.
"Dokter Sasuke? Apa yang anda lakukan disini? Bukankah shif anda masih lama? Dan sedang apa anda disini?" Anko memandang Sasuke dengan penuh curiga. Keingin tahuan suster itu sedikit mengganggunya.
"Aku hanya sedang memeriksa tempat-tempat yang mungkin bisa dijadikan persembunyian para pasien. Anda tahu? Anak-anak." Sasuke mencoba menhentakkan bahunya tak acuh. Suster Anko jelas tidak puas dengan jawaban Sasuke. Namun ia cukup tahu diri untuk tidak bertanya lebih jauh.
"Aku harus pergi sekarang." Sasuke melangkah melewati suster Anko dan bergegas pergi dari sana secepat mungkin. Sementara suster Anko masih memandanginya.
...
Sakura melangkahkan kakinya memasuki rumah sakit dengan langkah riang. Hatinya tengah diliputi perasaan bahagia saat ini. Masih bisa Sakura ingat isi notes yang ditulis Sasuke pagi tadi. Sakura bahkan memasuki bangsal anak tempatnya bekerja dengan senyuman yang lebih ceria dari biasanya. Dihadapannya bisa ia lihat Sasuke tengah memeriksa seorang anak kecil penderita leukimia. Pria itu pun tidak seperti biasanya, senyuman tak pernah pergi dari bibir tipisnya.
"Hallo, Shila. Bagaimana keadaanmu pagi ini?" Sakura mendekati ranjang tempat seorang gadis kecil korban tabrak lari kemarin sore.
"Sangat sehat, doker. Aku bahkan sudah bisa menggerakan tanganku yang diperban ini. Hebat bukan?" Gadis kecil itu tersenyum riang kearahnya.
Dibelakang Sakura berdiri seorang suster yang bertugas membantunya siang ini. Sakura dengan serius memeriksa keadaan pasien ciliknya ketika tiba-tiba gadis kecil itu menunjuk tengkuk Sakura yang terlihat saat ia membungkuk.
"Dokter. Tengkuk dokter luka ya? Banyak bercak merahnya." Sakura yang mendengar perkataan gadis itu kontan langsung berdiri kaku sambil memegangi tengkuknya. Sementara suster disampingnya tengah berusaha mencuri-curi pandang padanya.
Sasuke yang juga mendengar saat gadis kecil itu berseru juga ikut menolehkan kepala. Seulas senyum terkembang dibibirnya. Ia lalu menyerahkan kembali catatan medis pasien yang ia tangani pada suster pendampingnya. Sasuke lantas menghampiri Sakura, ia menjulurkan lehernya diantara lengkungan leher Sakura dan mencoba melihat tengkuk yang Sakura sentuh.
"Ah, mungkin dirumahnya berkeliaran nyamuk tadi malam." Sasuke lantas tersenyum kearah Gadis bernama Shila itu. Sakura yang menyadari kehadiran Sasuke sontak langsung menjauh. Matanya menatap Sasuke dengan sedikit geram yang dibalas dengan tatapan menantang dari Sasuke.
"Nyamuk?" Gadis itu memiringkan kepalanya. Mencoba membayangkan nyamuk seperti apa yang bisa meninggalkan bekas luka seperti itu.
"Ya, nyamuk. Nyamuk yang sangat besar dan nakal." Sakura menyikut perut Sasuke dibelakangnya. Mencoba menghentikan pria itu yang terus mengoceh. Sasuke sedikit meringis.
"Ah, sepertinya sudah waktunya makan siang. Saya permisi dulu." Sasuke tersenyum lembut pada Shila dan berlalu dari sana, sebelum ia berlalu Sasuke memasukan sesuatu kedalam Saku jas Sakura dan sedikit menyentuh bokong wanita itu. Sakura yang merasakan gerakan Sasuke kontan kembali terkejut dan memandang Sasuke lebih geram.
"Dokter, dokter tampan itu pacar dokter ya?" Shila bertanya pada Sakura dengan ekspresi polosnya. Sementara lagi-lagi suster pendamping Sakura mencoba mencuri-curi pandang padanya.
"Itu... ah. Bukankah ini waktumu untuk minum obat Shila?" Sakura lantas berpaling pada suster pendampingnya.
"Suster Matsuri, bisa anda bantu Shila meminum obatnya?" setelah mendapat balasan anggukan dari suster Matsuri, Sakura bergegas keluar dari bangsal anak dan berjalan dengan tergesa. Wajahnya sudah memerah dengan sempurna.
"Sasuke, sialan."
...
Sasuke tengah duduk dimejanya. Menunggu Sakura. Wajahnya tidak pernah lepas dari senyuman. Saat pintu terbuka ia segera berbalik.
"Sakura, kau datang juga akhirnya-" Sasuke langsung terdiam begitu tahu siapa yang tengah berdiri diambang pintu itu sekarang. Bukan Sakura, melainkan seseorang yang lain. Orang yang saat ini tidak ingin ia temui.
"Itachi, apa yang membawamu kemari?"
"Sepertinya kau sudah akrab dengan dokter Haruno itu. Kuharap kau tidak melupakan tugas utamamu daripada hanya sekedar bermain-main dengan wanita yang kau tiduri." Itachi melangkahkan kakinya memasuki ruang kerja Sasuke. Entah kenapa ia tidak suka mendengar perkataan kakaknya tentang Sakura.
"Itu tidak penting. Apa yang membawamu kemari? Hanya untuk memastikan kerjaku? Kau tidak perlu khawatir, aku sudah mengerjakannya sesuai rencana." Sasuke mencoba mengatur ekspresi wajahnya yang jelas-jelas merasa sangat jengkel.
"Baguslah, tapi bukan karena itu aku datang kemari. Aku tahu kau tidak akan mengecawakan ku."
"Lalu?"
"Sasuke Hatake yang asli sudah tiba di Konoha. Kau harus meninggalkan tempat ini sekarang juga." Sasuke bisa merasakan detak jantungnya berdebar dengan sangat kencang. Ia tahu cepat atau lambat hari ini akan tiba, tapi Sasuke tidak pernah membayangkan bahwa akan secepat ini. Tidak sampai ia bertemu dengan Sakura.
"Aku harus membereskan urusanku dulu. Selain itu barang-barangku diapartemen-"
"Kiba sudah membereskan semua barang-barang mu."
Habis sudah, tidak ada lagi alasan baginya untuk mengulur waktu. Ia tahu kakaknya itu tidak akan suka jika dia membangkang.
"Hm." Hanya itu yang bisa Sasuke katakan saat ini.
Itachi segera keluar dari ruangan Sasuke diikuti oleh Sasuke dibelakangnya. Mereka berdua berjalan dengan santai menyusuri setiap lorong rumah sakit. Tanpa mereka sadari seseorang tengah memperhatikan kepergian mereka berdua.
...
"Sasuke?" Sakura memperhatikan Sasuke saat pria itu berjalan keluar dari rumah sakit bersama dengan seorang pria yang berwajah hampir mirip dengan Sasuke.
"Kemana dia pergi? Bukankah dia menyuruhku menemuinya diruangannya?" Sakura terus memperhatikan kepergian mereka berdua hingga keduanya menghilang memasuki halaman parkir.
Sakura terus berdiri disana sampai seorang suster menepuk bahunya.
"Dr. Sakura, dokter kepala memanggil anda." Sakura menoleh sekilas pada suster Anko sebelum kembali memperhatikan jejak kepergian Sasuke. Entah kenapa dadanya terasa begitu sesak.
"Siapa yang bersama Sasuke itu?" Sakura bertanya pada suster Anko. Berharap mendapatkan sedikit jawaban.
"Entahlah, tapi aku rasa mereka cukup akrab. Lagi pula mau kemana mereka? Waktu prakteknya kan belum habis." Sakura memandangi kepergian mereka dengan perasaan tak nyaman. Ia merasa sesuatu pasti sedang terjadi.
Sakura bahkan tidak terlalu fokus saat ia berjalan menyusuri lorong menuju ruangan dokter kepala. Dan saat ia memasuki ruangan itu, disana ia tidak sendiri. Seorang pria berambut pendek dan berbadan tambun juga ada disana.
"Sakura, kemarilah. Aku ingin memperkenalkan seseorang padamu." Sakura menghampiri kedua orang itu yang juga tengah berdiri menantinya.
"Sakura, pria ini adalah Dr. Sasuke Hatake, dokter yang waktu itu aku janjikan padamu." Sakura merasa tubuhnya begitu lemas, Sakura sedikit menggelengkan kepalanya. Bingung.
"Tidak mungkin, bagaimana mungkin Dr. Sasuke ada dua?"
"Aku juga sedikit bingung awalnya. Tapi tadi pagi ada surat dimejaku dan mengatakan kalau dokter tampan yang bernama sama seperti dia ternyata memasuki rumah sakit yang keliru. Apa dia sudah pergi sekarang? tidak ada yang mengangkat interkom dariku. Dia bahkan belum mengatakan apapun." Dokter kepala menghembuskan nafasnya pelan. Dihadapannya Sakura memandang atasan sekaligus gurunya itu dengan bingung. Perutnya mengencang. Ia tidak suka ini, sangat tidak suka.
"Dan ngomong-ngomong ini Dr. Sasuke yang asli, dan dia baru saja tiba beberapa jam yang lalu dari Suna." Dokter kepala memperkenalkan mereka berdua. Dokter Sasuke bahkan mengulurkan tangannya yang bahkan tidak disamput sama sekali olehnya.
"Anda pasti bukan Dr. Sasuke. Dr. Sasuke sudah tiba disini beberapa hari lalu dan ia juga sudah mulai bekerja disini. Pastilah anda yang salah memasuki rumah sakit."
"Sakura, apa yang kau bicarakan? Apa kau sama sekali tidak mendengarkan apa yang baru saja aku katakan padamu?"
"Tapi dia bilang..." Suara sakura melemah, ia yakin sekali ada kesalahan disini.
Sakura segera berlari keluar dari ruangan tanpa mengatakan sepatah katapun. Bahkan ia tidak perduli pada panggilan dibelakangnya. Ia hanya ingin bertemu dengan Sasuke dan memastikannya sendiri. Ia harus bertemu dengannya.
"Apartemen. Ya, aku harus pergi kesana." Sakura segera berlari menuju mobilnya dan mengendarainya dengan kecepatan tinggi.
Kakinya berpacu dengan cepat begitu Sakura sampai diapartemen, ia bahkan tidak perduli saat orang-orang sudah mengerutu padanya ketika ia menabrak mereka dan berlalu begitu saja. Yang ada dalam otaknya saat ini adalah bertenu dengan Sasuke. Setidaknya dia harus berpamitan padanya kan? Atau lebih baik lagi ia tetap bersamanya. Setidaknya mereka sudah menghabiskan malam bersama kan? Semuanya bukan hanya percintaan satu malam saja kan? perasaannya perlahan hancur saat ia menggedor pintu apartemen Sasuke yang ia dapati disana bukanlah Sasuke, melainkan pemilik apartemen.
"Pria yang tinggal disini sudah meninggalkan apartemen beberapa jam yang lalu." Sakura ingin menangis, tentu saja.
Perasaannya benar-benar kesal dan hancur. Ia bahkan tidak mendengar perkataan pemilik apartemen itu lagi saat ia pergi meninggalkan Sakura yang terpaku ditempatnya berdiri. Tubuhnya merosot kelantai, tangisnya pecah. Ia merasa terbodohi, terbohongi. Dan yang membuatnya merasa semakin terpuruk adalah bahwa ia justru telah jatuh dalam pelukan orang itu dengan mudahnya. Ia telah terpuruk terlalu dalam hingga ia tidak bisa lagi bangkit.
Dadanya terasa begitu sesak. Ia tidak percaya semua yang Sasuke katakan hanyalah untuk menariknya keatas ranjang dan menjadikannya pelampiasan sesaat. Ia yakin Sasuke tidak seperti itu. Tapi kenyataan lainlah yang justru sedang tampil dihadapannya sekarang.
Sakura menepuk-nepuk dadanya dengan sebelah tangan. Mencoba menghilangkan rasa sesak yang menekan dadanya.
TO BE CONTINUED
Autor Note:
Hai Mina-san~~ gak kerasa udah chap.2 nih terlalu cepat updatekah? hehehe
saya mau mengucapkan terimakasih buat yang sudah review kalian benar-benar baik hati /flying kiss/
special thx : jelitapyordova, hanazono yuri, eysha cherryblossom, anisha ryuzaki dan para silence reader (plis tinggalkan jejak kalian ya supaya saya bisa tahu apa kalian menyukai ff saya atau tidak ^^).
akhir kata saya sangat mencintai kalian semua 3
