Keheningan tercipta di dalam mobil yang dikemudikan JungMo. Setelah mendapat telepon—dan juga permintaan—dari sahabat lamanya, HeeChul, namja berkewarganegaraan asli Korea yang sudah 3 tahun lebih tinggal di Bora-bora itu langsung menuju bandara.

Selepas keluar dari bandara, JungMo berusaha mengajak bicara KiBum yang hanya menjawab secukupnya. Melihat namja yang lebih muda beberapa tahun darinya itu seperti menahan marah, JungMo memilih tidak bersuara lagi. Pasti adiknya HeeChul ini marah karena ditinggalkan sendirian di pulau Bora-bora ini, begitu pikirnya.

Setelah menempuh perjalanan tidak sampai setengah jam, akhirnya mobil JungMo berhenti di area tempat parkir sebuah resort. "Kita sudah sampai," katanya begitu menoleh ke arah KiBum.

Keduanya lalu berjalan beriringan tanpa bicara apa-apa. Dengan salah satu teman namjanya—yang bekerja sebagai salah satu pengurus resort—yang telah menunggu dari tadi di atas jembatan kayu yang menghubungkan semua bungalow, ketiganya lalu berjalan menuju bungalow yang telah dipesan oleh HanGeng untuk KiBum.

Raut wajah KiBum yang terlihat marah sejak dari bandara tadi perlahan berubah begitu melihat laut biru bening yang terhampar di sepanjang matanya melihat. Bungalow-bungalow yang dirancang dengan sangat unik—sesuai dengan rumah adat masyarakat Polinesia—juga menarik perhatiannya karena atap bungalow-bungalow itu tersusun dari daun palma, hingga membuatnya terasa menyatu dengan alam.

"Kepulauan Bora-bora ini merupakan salah satu tujuan objek wisata dunia," KiBum menoleh pada namja yang berdiri di samping kirinya—yang sejak tadi menjelaskan sejarah dan keindahan pulau ini. Merasa tertarik, KiBum akhirnya mendengarkan dengan seksama. "Di tengah pulau ini terdapat dua gunung berapi yang sudah tidak aktif lagi yaitu Gunung Pahia dan Gunung Otemanu," namja itu menunjuk gunung yang dimaksud secara bergiliran. "Di pulau ini ombaknya juga sangat bersahabat dan tenang."

Ketiganya akhirnya sampai di salah satu bungalow di paling ujung dengan tiga bungalow di sekitarnya. Teman namja JungMo menjelaskan fasilitas yang disediakan resort, sebelum akhirnya ia pamit pergi lebih dulu karena masih ada pekerjaan lain yang menunggunya.

"Aku juga akan pamit pulang, KiBum-ah," JungMo akhirnya bersuara sambil meletakkan tas KiBum yang dibawanya sejak turun dari mobil di samping tempat tidur. "Kalau kau ada perlu sesuatu, bisa meneleponku atau temanku tadi."

KiBum mengangguk. "Ne. Kamsahamnida, JungMo-hyung. Mianhae, karena di bandara tadi aku habis mendapat kejadian tidak terduga. Makanya saat kau mengajak bicara di mobil tadi aku tidak terlalu menanggapimu."

JungMo tersenyum. "Gwenchana. Kalau begitu aku pamit dulu ya. Bye!"

KiBum kembali mengangguk dan mengikuti punggung namja itu hingga hilang dari pandangannya. Setelah menutup pintu bungalow-nya, KiBum berjalan menuju tempat tidur dan menghempaskan tubuhnya. Perjalanan lewat udara dari Seoul hingga ia ditinggalkan di pulau Bora-bora ini oleh hyungnya membuatnya baru merasakan kelelahan dan ia akhirnya tertidur.

_oOoOoOo_

Pancaran sinar oranye dari matahari tenggelam yang menembus kaca balkon membuat KiBum akhirnya terbangun. Ia bergerak bangun dari posisi tidurnya sambil meregangkan otot tubuhnya yang kaku karena tidur siang, sebelum akhirnya bergerak turun dan menuju balkon. Sepasang matanya menatap kagum ciptaan Tuhan yang sudah hampir menghilang di ufuk barat sana. Teringat sesuatu, ia menjauh dari pagar pembatas balkon dan berjalan masuk kembali untuk meraih tas ranselnya. Mengeluarkan kamera tipe Canon Eos 650D miliknya—hadiah ulang tahun ke-22 dari sang umma, yang selalu memanjakannya. Dengan segera KiBum mengambil foto matahari tenggelam itu dari beberapa angle. Ia tersenyum puas begitu melihat hasilnya di layar kameranya.

Sepasang mata KiBum kembali menyapu sekelilingnya. Rasanya ia tidak pernah bosan menatap semua hal yang bisa dilihatnya. Tempat ini benar-benar menakjubkan. Karena sanggup membuat rasa kesalnya pada hyungnya menguap hilang. Seandainya kekasihnya yang ada di Seoul juga di tempat ini. Pasti mereka bisa menghabiskan waktu berdua di tempat yang seperti surga dunia ini.

Langit akhirnya berubah menjadi gelap. KiBum memilih untuk masuk kembali ke kamarnya dan menutup pintu balkon. Setelah menyalakan lampu, ia meraih ponselnya untuk menelepon sang kekasih, namun nomor yang ia telepon tidak aktif. Apa dia masih marah ya? KiBum bertanya dalam hati.

Selama beberapa menit KiBum berkutat mengetik text untuk kekasihnya, hingga perutnya—yang sejak siang tadi memang tidak memakan apa-apa—menjerit minta diisi. KiBum berdiri dari pinggiran tempat tidurnya dan berjalan menuju pintu, meraih jaket hoodie tanpa lengannya, kemudian berjalan keluar.

Restoran yang ia masuki terlihat ramai dengan para turis. Setelah mengambil makanan yang sudah disediakan di atas meja panjang, KiBum berjalan menuju salah satu meja makan yang terletak di bagian sudut dan mulai menyantap makanan di piringnya.

Dan sang takdir kembali mempertemukan keduanya…

SiWon yang baru melangkah masuk ke dalam restoran langsung mengedarkan pandangannya untuk mencari meja makan yang diinginkannya. Sesaat begitu sepasang matanya melihat sosok namja berambut hitam—yang telah memukulnya tadi di bandara—membuat SiWon terdiam. Lalu tiba-tiba bibirnya menyeringai.

"Ambilkan satu gelas jus strawberry untukku," perintahnya pada seorang namja bersetelan jam hitam yang berdiri di sampingnya. Namja itu mengangguk dan berlalu. Tak lama kemudian ia sudah kembali dengan satu gelas jus strawberry di tangannya. "Ambilkan salad dan daging juga untukku," katanya, sembari berlalu. Namja bersetelan jas itu kembali mengangguk dan kembali mengambil makanan yang diminta Tuannya.

Dengan langkah tenang SiWon berjalan menuju meja makan dimana KiBum duduk. KiBum tidak menyadari kehadiran SiWon, karena sedang berkonsentrasi memotong daging bakar di piringnya. Dan tepat satu meter sebelum mencapai meja makan namja itu, SiWon pura-pura terantuk kakinya sendiri, hingga tangan kanannya yang memegang gelas berisi jus strawberry langsung diarahkannya ke bagian depan baju KiBum. KiBum tersentak dan seketika berdiri. Baju bergaris hitam putihnya yang dipakainya basah dibagian depan dengan cairan berwarna merah muda—yang dari aromanya bisa ia cium kalau itu jus strawberry. Tangan kanannya langsung menyambar serbet di atas meja dan membersihkan baju bagian depannya yang basah.

"Oops! Sorry…" Sontak gerakan tangan KiBum berhenti dan ia mengangkat wajahnya karena mendengar suara yang sudah tidak familiar itu lagi. SiWon tersenyum dengan kedua alis terangkat. "Aku memang sengaja menumpahkannya di bajumu."

"Kau—" desis KiBum. "Brengsek!" Dengan gerakan tiba-tiba, KiBum menghampiri SiWon, bersiap melayangkan pukulannya lagi. Namun dengan cepat namja bersetelan jas hitam yang baru datang membawakan makanan yang diminta SiWon tadi langsung menahan tangannya yang sudah terkepal di udara dan mencekalnya dibelakang punggung.

Semua mata yang ada di restoran itu sontak menatap ke arah mereka. SiWon yang menyadari hal itu lebih dulu langsung memerintahkan salah satu anak buah appa-nya itu. "Usir dia keluar. Aku akan kehilangan selera makan jika melihat wajahnya di dalam restoran ini." Dengan gerakan dagu, SiWon menunjuk pintu. Pengawal itu langsung mengangguk patuh dan menyeret KiBum tanpa banyak bicara.

"Yah! Yah! Lepaskan aku!" KiBum meronta-ronta agar bisa lepas. Namun sayangnya namja bersetelan jas hitam itu memiliki tenaga yang lebih besar dari KiBum.

"Jangan biarkan ia masuk ke dalam lagi. Ia telah membuat kegaduhan," kata namja bersetelan jas itu pada dua security yang berdiri di samping pintu masuk restoran setelah ia mendorong KiBum keluar.

Mendengar hal itu, kedua tangan KiBum yang terkepal di kedua sisi tubuhnya mengepal keras. Membuat kegaduhan? Apa ia tidak salah dengar? Bukannya namja Choi brengsek itu yang lebih dulu cari gara-gara dengannya?

Sebelum berbalik pergi dari tempat itu, KiBum memberikan pandangan sengit pada pengawal SiWon tersebut.

"Sialan!" maki KiBum untuk yang kesekian kalinya. Choi SiWon benar-benar perusak mood-nya yang baru saja kembali membaik. Ingin sekali ia menghajar muka itu hingga lebih lebam dari 'hadiah' yang diberikannya di pipi kiri namja itu.

Dengan kaki menghentak-hentak, KiBum menelusuri jembatan kayu yang menuju bungalow-nya. Lalu tiba-tiba hentakan kakinya berhenti karena perutnya yang kembali berbunyi. KiBum segera mendekati pagar jembatan terdekat dengan satu tangannya yang memegang perutnya.

"Aku masih lapar…" keluhnya pelan. "Karena Choi brengsek itu aku hanya memakan setengah makananku di restoran tadi. Ugh…"

KiBum menarik napas panjang dan berbalik. Mungkin di luar resort ini ada tempat makan, katanya pada diri sendiri.

_oOoOoOo_

Dengan langkah-langkah ringan, KiBum berjalan menuju area resort yang hampir sejam lebih ditinggalkannya untuk mencari tempat makan diluar. Perutnya sudah terisi kenyang. Satu tangannya yang memegang tas plastik—yang berisi snack—terayun mengikuti gerak tubuhnya. Senyum lebar terus mengembang di wajah manisnya setelah keluar dari tempat makan yang dimasukinya tadi. KiBum sudah memutuskan kalau mulai besok ia akan makan di tempat makan itu lagi. Meski tempat makan itu tidak besar, ia bisa mendapat ketenangan dan keramahan pemiliknya.

Tiba-tiba langkah kaki KiBum berhenti. Senyum lebarnya juga ikut menghilang. Sosok yang sangat dibencinya—begitu tiba di pulau ini—duduk di dekat pantai dengan satu tangan menopang tubuhnya, sementara satu tangan yang lain sibuk dengan ponselnya.

Sepasang mata SiWon yang sejak tadi terfokus di layar ponselnya tidak menyadari kehadiran KiBum yang berdiri lima meter dari tempatnya. Sepertinya ia sedang asyik chatting dengan teman-temannya di Seoul.

KiBum yang berniat mengambil jalan putar—agar tidak bertemu lagi dengan namja itu—tiba-tiba mematung karena sebuah ide yang terlintas di otaknya. Dengan bibir menyeringai, KiBum berbalik menuju pos security yang terletak di depan gerbang resort. Tapi sebelum ia mencapai tempat itu, KiBum membuat tubuhnya berantakan seolah dia habis dihajar seseorang. Rambut hitam berponinya dibuat acak-acakan, bajunya dibuat kusut dan robek di bagian tertentu. Setelah semua itu selesai, ia berjalan tertatih-tatih ke arah pos security.

Salah satu security yang lebih dulu melihat ke arah KiBum, segera berdiri dari tempat duduknya dan menghampiri namja itu. Menanyakan kenapa namja itu bisa dalam kondisi nyaris mengenaskan seperti itu. KiBum—dengan cerita kebohongan yang diciptakannya—segera menjelaskan keadaannya. Satu security lain juga menghampiri KiBum dan menatap khawatir sambil mendengarkan penjelasan KiBum. Kedua security itu akhirnya mengikuti KiBum untuk mencari orang yang telah memberikan kekerasan pada namja itu.

"Itu orangnya. Dia langsung tiba-tiba menghajarku begitu aku hanya bertanya di mana letak restoran resort ini," KiBum menunjuk sosok SiWon—yang masih sibuk dengan ponselnya—begitu ia dan kedua security itu telah sampai.

Kedua security itu saling pandang, kemudian mengangguk. Dan berjalan menuju ke arah SiWon. Dengan tiba-tiba keduanya menahan kedua lengan SiWon di sisi kiri dan kanan, dan menariknya hingga berdiri.

"Yah! Apa-apaan ini?" Terkejut, SiWon mencoba melepaskan diri.

"Lebih baik anda menjelaskan semuanya di pos nanti," kata salah satu security yang berbadan tinggi besar dan kekar. Kedua alis SiWon mengernyit.

"Apa? Menjelaskan semuanya di pos? Memang apa yang kulakukan?" tanyanya bingung.

"Kami mendapat laporan dari pemuda di sana itu bahwa anda telah menghajarnya," salah satu security langsung menjawab pertanyaan SiWon sambil menunjuk KiBum.

SiWon menoleh dan menatap namja yang dimaksud. Seketika kedua matanya membelalak begitu melihat KiBum. "Kau—!"

KiBum yang melihat reaksi SiWon termundur beberapa langkah ke belakang sambil memeluk tubuhnya sendiri. Ekspresi wajahnya dibuat ketakutan.

"Yah! Lepaskan! Dia telah menghasut kalian berdua dengan cerita bohongannya! Aku tidak pernah memukulnya!" SiWon berteriak sambil meronta-ronta begitu akhirnya sadar bahwa KiBum telah menceritakan kebohongan pada dua security yang menahannya di kedua sisi tubuhnya. Sayangnya, kedua security—yang telah termakan kebohongan cerita KiBum—tidak percaya dengan SiWon dan terus menyeretnya pergi.

SiWon akhirnya berhenti meronta. Kepalanya ia tolehkan ke belakang untuk melihat KiBum. KiBum yang juga belum melepas pandangannya dari sosok SiWon kontan menjulurkan lidahnya ke arah namja itu, lalu dengan jari telunjuknya ia memalingkan wajahnya dari sepasang mata tajam itu. Dan berjalan dengan bibir tersenyum penuh kemenangan.

Kedua bahu SiWon bergetar dengan rahang mengatup keras. "Dia itu…!"

Tbc

Sangkyu udah revieww :DD aq updte asap nieh ! yg sider jgn mls ningglin jejak donk ! entar aq jd mls updte :P

ff nieh murni buatan aq ! yg blng aq plagiat jgn asal nuduh yya ! pasti klian iri gga bisa buat ff mka.a nuduh ! emang.a yg blng aq plagiat ada bukti.a ? ksh link ff asli.a kalo klian gga asal ngomong donk :P