Yaoi Area

Chanbaek

Chanyeol-Baekhyun

Sky of Love by : pcy-bee

Mpreg

Sorry for typo

Cast Bertambah Sesuai Kebutuhan

.

.

.

.

" C-chanyeol-ah_"

Yang merasa namanya sedang dipanggil mengernyit bingung. Apalagi dengan sepasang tangan lembut yang tiba-tiba menagkup wajahnya. Ia menatap aneh pada sosok lelaki cantik dengan mata basah di hadapannya.

" Apa paman mengenal ku? Kenapa bisa tahu namaku?" tanya si pemuda tinggi, jika ia tidak salah ini adalah pertama kali mereka bertemu muka dan mengapa orang di depannya ini bertingkah seolah mereka sudah saling kenal. Bagaimana paman ini tahu jika namanya adalah Chanyeol? juga ada apa dengan air mata itu.

Yang lebih kecil masih menatap sendu seolah menunjukan seberapa banyak kerinduan yang ia pendam melalui manik sipitnya. "A-apa maksudmu, Chan? Kau tak mengingat ku? Aku Baekhyun sua_"

" Mom~" kalimat Baekhyun terpotong saat suara rengekan anaknya terdengar.

Baekhyun tersadar dan detik berikutnya ia melepaskan tangannya dari wajah tampan Chanyeol, badannya ia bawa berbalik dan melangkah mendekati sang putra yang telah menatap manja padanya. Lelaki cantik tiga puluh enam tahun itu akhirnya bisa membuang nafas lega saat melihat kesayangannya telah membuka mata.

" Oh, sayang... Syukurlah kau sudah sadar. Bagian mana yang terasa sakit, hum? apa perlu mommy panggilkan dokter untuk memeriksamu?" si Ibu berbicara sembari membelai sayang wajah putranya.

" Tenanglah mom, Tae baik-baik saja." senyuman kotaknya mengembang.

" Taukah seberapa takutnya mommy saat mendengar buah hati mommy mengalami kecelakaan? mommy bahkan sampai lupa bagaimana caranya bernafas." kalimat yang terlontar dari bibir tipis sang ibu membuat si anak menundukkan kepalanya merasa bersalah.

Taehyung tahu, sangat tahu seberapa besar cinta sang ibu untuk dirinya. Itu bahkan lebih besar dari langit yang melingkupi bumi dan segala isinya.

" Lihat mommy!" Baekhyun mengangkat kepala anaknya yang tertunduk agar mau menatap padanya. "Jangan lakukan lagi, hum."

Taehyung mengangguk berkali-kali, ia membawa tubuhnya untuk duduk dan memeluk sayang ibunya. " Maafkan Tae, mom."

" Itu_ maaf karena menyela." Suasana haru didalam ruangan terpecah kala suara lain tiba-tiba saja terdengar dan membuat pasangan ibu anak yang masih berpelukan itu segera menyadari bahwa masih ada orang lain di dalam ruangan selain mereka.

" Tapi sepertinya paman perlu tahu tentang keadaan Taehyung." Chanyeol membuka suara lagi.

Baekhyun masih di sana, tapi nyatanya lelaki cantik itu tak terfokus pada setiap kata yang Chanyeol lontarkan. Pandangannya sekali lagi terkunci pada satu titik, Ia kira tadi hanya sedang berhalusinasi melihat Chanyeolnya kembali, tapi kala sosok yang ia pikir adalah suaminya itu benar-benar ada dan berdiri tepat di depannya. Baekhyun sadar bahwa ini memang nyata dan dia tidak sedang berhalusinasi.

Sementara itu, entah karena alasan apa Chanyeol malah merasa terseret ke dalam tatapan sayu yang lebih tua. Dua orang asing itu saling tatap satu sama lain dalam diam. Tak tahu saja seseorang lainnya tengah memperhatikan dengan menyungingkan seringaian licik di wajah tampannya, tak peduli pada kakinya sendiri yang tengah terluka.

" Mom, kenal kan dia adalah senior Tae di sekolah, Park Chanyeol." suara Taehyung membuat dua orang lainnya tersadar dari acara -mari saling menatap-.

" Se-senior?" Baekhyun tergagap, manik sipitnya ia bawa untuk menelusuri sosok tinggi itu dari atas sampai bawah. Apa ia tak salah dengar? anaknya baru saja mengatakan jika sosok yang Baekhyun pikir sebagai suaminya itu adalah senior putranya.

" Ah, ternyata dia memang bukan suamiku. Kau sangat bodoh, Baek! berpikir bahwa Chanyeolmu hidup kembali. Mati saja, Baek ! kau membuat malu dirimu sendiri." Baekhyun merutuki kebodohannya dalam hati.

Sebenarnya itu bukan sepenuhnya kesalahan Baekhyun. Salahkan saja pemuda tiang yang menduplikat segala sesuatu yang ada pada Chanyeolnya. Wajahnya yang tampan, tubuhnya yang tinggi, suara beratnya dan bahkan namanya saja sama. Tapi satu hal yang membuatnya berbeda adalah pakaian yang pemuda itu kenakan, itu seragam yang sama dengan seragam sekolah anaknya. Dan hal itu lah yang tadi membuat Baekhyun merutuki dirinya sendiri.

" Oh, Taehyung benar paman. Park Chanyeol, siswa tingkat akhir dan kakak kelas Taehyung ." Chanyeol membungkukkan badannya memberi salam hormat pada yang lebih tua.

Sebenarnya bukan gayanya memperkenalkan diri sesopan ini mengingat hubungan buruk antaranya dan Taehyung di masa lalu. Tapi tak apalah, anggap saja pengecualian untuk lelaki cantik di depannya ini.

" A-aku B-Baekhyun, Byun Baekhyun...ibunya Taehyung." Baekhyun tersenyum kaku.

" Kau tadi ingin mengatakan apa? maksudku tentang keadaan Taehyung, apa dokter mengatakan sesuatu?" Baekhyun bertanya, matanya terlihat sedikit bergerak gelisah dan masih berusaha mencoba menenangkan jantung sialannya.

" Oh... benar ! Dokter mengatakan tak ada cidera serius, Taehyung hanya keseleo dan mendapatkan perban pada kaki kirinya. Tapi untuk sementara dia harus menggunakan kruk untuk membantunya berjalan."

Baekhyun tersenyum lega, untung saja dokter mengatakan bahwa sang putra hanya keseleo dan bukan patah tulang atau amputasi. Oh, itu mengerikan! membayangkannya saja Baekhyun tak mampu.

Sementara itu, dalam hati Taehyung bergumam memuji pada dirinya sendiri dengan segala otak cerdasnya yang telah berhasil mempertemukan dua orang ini meski harus masuk rumah sakit terlebih dulu. Sebenarnya itu di luar rencana, dan jika tahu akan berakhir seperti ini, harusnya sedari lama saja ia menabrakkan diri tanpa perlu repot-repot mengejar dan memohon pada seniornya seperti yang ia lakukan selama ini. Bocah gila, sebenarnya kau sayang nyawa tidak sih, tae?

" Jadi sunbae yang membawaku ke rumah sakit saat aku pingsan?" Taehyung mengajukan pertanyaan pada sosok tinggi yang kini telah duduk di sofa yang memang tersedia diruang rawatnya.

" Tentu saja, setidaknya aku masih tahu diri tak seperti seseorang yang dengan sengaja melompat kearah mobilku." Chanyeol menyindir.

" Maaf." Lirih Taehyung namun masih bisa terdengar oleh telinga lebar Chanyeol.

Chanyeol mendengus pelan. " Sudahlah, lagi pula temanmu juga ikut membantuku saat membawamu kemari."

" Teman?"

Chanyeol mengangguk," Iya, temanmu yang pendek itu."

" Ah, Jimin? lalu dimana dia sekarang?" Taehyung bertanya karena sedari tadi tak menemukan keberadaan sepupunya di dalam ruangan.

" Dia pamit pulang sebentar setelah sempat meghubungi ibumu, dia bilang akan ganti baju dan menjemput ibunya." jawab Chanyeol.

" Jadi Jimin yang telah menelepon mommy?" Taehyung beralih bertanya pada sang ibu yang sedang sibuk dengan buah dan pisau ditangannya. Dan Baekhyun hanya mengangguk kecil sebagai jawaban, tak mau repot-repot mengeluarkan sepatah dua patah kata pun, karena di dalam hati ia sedang sibuk menenangkan perasaannya sendiri yang masih tak karuan meskipun sudah tak sekacau tadi.

" Oh, jadi begini paman_." Lagi, suara itu berhasil membuat persendian Baekhyun melemah disertai debar tak nyaman kala manik sipitnya bertemu tatap dengan mata lebar Chanyeol muda.

" Sebelumnya saya ingin meminta maaf karena telah menyebabkan putra paman terluka. Dan karenanya, saya akan bertanggung jawab penuh untuk menanggung biaya perawatan Taehyung sampai benar-benar sembuh. Yah, meskipun bisa dikatakan bahwa kejadian ini bukan sepenuhnya salah saya. Karena putra anda sendiri yang melompat ke arah mobil yang sedang saya kendarai." Chanyeol melirik malas pada bocah di sana yang juga sedang menatapnya dengan memasang wajah sok polos.

Baekhyun terkejut tentu saja. " A-apa? tunggu, jadi maksudmu Taehyungku yang dengan sengaja menabrakkan dirinya pada mobilmu?" tanyanya dan langsung mendapat anggukkan dari Chanyeol.

Dan menit berikutnya hanya di isi dengan Chanyeol yang berakhir menceritakan bagaimana kronologi kecelakaan itu bisa terjadi.

Saat Chanyeol selesai bercerita, saat itu pula Baekhyun melirik marah pada buah hatinya. Bagaimana bisa anaknya itu nekat menabrakkan diri. Apa dia sudah bosan hidup? untung saja hanya keseleo, jika sampai terjadi apa-apa padanya bagaimana hidup Baekhyun nanti. Oh Tuhan, ini benar-benar gila! teriak Baekhyun dalam hati.

" Yakk, anak nakal ! kau mau mati atau apa, huh !" Baekhyun menyalak, bukan suara amarah yang keluar, itu terdengar lebih kepada rasa takut dan khawatir yang berlebih.

"Kau tak sayang nyawa dan tak sayang pada mommymu lagi? kenapa Tae tega sekali...hiks? bagaimana jika terjadi sesuatu padamu? hiks... " Baekhyun memukul pelan bahu anaknya suaranya menurun dan tergantikan dengan isakan samar.

" Hei mom! maafkan tae, oke?" Taehyung mengenggam lembut tangan halus yang memukul pelan bahunya.

" Mommy lihat sendiri kan Tae baik-baik saja? jangan menangis, tae kan sudah janji tak akan mengulanginya lagi." Taehyung menghapus air mata yang meleleh membasahi wajah cantik ibunya.

" Benarkah?"

Si anak mengangguk dua kali. "Janji. Jadi berhenti menangis, apa mommy tak malu di lihat Chanyeol sunbae?"

" Aish, memangnya kenapa harus malu?"

Disisi lain Chanyeol tersenyum hangat melihat interaksi dua orang yang kini telah sibuk berpelukan dan malah melupakan eksistensinya, tapi ia tak masalah dan tak merasa terganggu dengan hal itu. Suasana haru dalam ruangan membuat mereka tak sempat menyadari bahwa ada orang lain yang tengah membuka pintu rawat dari luar.

" Yo, tae ! kau sudah sadar?" Jimin tiba-tiba saja masuk ke dalam ruang itu dengan mengandeng seorang pria cantik untuk ikut masuk ke dalam.

" Oh, Jimin-ah kau datang bersama bunda Lu?" Taehyung tersenyum pada pasangan ibu anak yang baru masuk itu.

" Hai, Baek...Jimin bilang Taehyung mengalami kecelakaan, jadi aku ikut kemari saat Jimin mengatakan akan pergi menjenguk Taehyung." Luhan terlebih dulu menyapa pada yang lebih muda.

" Hm, hyung...untung saja dia hanya keseleo." Ujar Baekhyun.

Xi Luhan, pria cantik berdarah China itu melangkahkan kakinya mendekati ranjang Taehyung yang sedang sibuk berceloteh dengan anaknya.

" Bagaimana keadaanmu, sayang?" Luhan membelai sayang kepala Taehyung. "Kenapa bisa sampai tertabrak? harusnya tae lebih berhati-hati, tae tahukan jika tae sakit mommymu juga merasakan sakit, begitu juga dengan bunda."

Luhan itu sudah seperti ibu kedua untuk Taehyung, begitu juga dengan Jimin yang juga menganggap Baekhyun sebagai mommynya. Pada intinya orang tua Taehyung juga orang tua Jimin dan begitu pula sebaliknya.

" Tae baik, bunda. Tae juga sudah minta maaf kok sama mommy, maaf juga sudah membuat bunda Lulu khawatir." Taehyung tersenyum bocah, meyakinkan pada lelaki cantik itu untuk tak terlalu mencemaskan keadaanya.

" Syukurlah kalau begitu." Luhan tersenyum lega. "Jadi, katakan pada bunda siapa bajingan kurang ajar yang telah menabrak kesayangan bunda ini? Bunda akan mencincangnya dan menjadikannya makanan singa. Bagaimana bisa setelah menabrakmu dia malah lari dari tanggung jawab."

" Bunda..." Jimin menyela omelan ibunya. "Orang yang bunda maksud sedang duduk di belakang bunda." Jimin mengedikkan kepalannya menunjuk pada seseorang yang tengah duduk di sofa dan sedang menatap ngeri pada Luhan.

Luhan membalikkan badannya bermaksud memaki orang yang telah membuat kesayangannya terluka. "Oh, Jadi kau yang T-tel_ Chan-Chanyeol?" Luhan tak sempat melanjutkan kalimatnya saat mata rusanya menangkap sosok pemuda tinggi yang tengah berdiri dari duduknya dan berjalan mendekat ke arahnya. Tubuhnya seolah tak bisa bergerak, dan matanya melotot tak percaya.

Tatapan itu lagi, batin Chanyeol.

" Halo paman, saya Park Chanyeol orang yang bertanggung jawab atas kekacauan ini." yang lebih tinggi menundukkan badan memberi salam perkenalan.

" Tapi sebelum anda menjadikan saya makanan singa, alangkah baiknya jika kesayangan anda itu menjelaskan kejadian yang sebenarnya terlebih dulu." Chanyeol melirik kesal pada Taehyung, kenapa dia yang malah kena omelan, sih.

" Hyung, sebaiknya kita bicara di luar. Biarkan Tae istirahat dulu. " Baekhyun menengahi, Ia tahu Luhan pasti sangat terkejut dengan apa yang di lihatnya saat ini, itu pasti tak berbeda jauh dengan apa yang ia rasakan tadi. Jadi Baekhyun berinisiatif menyeret lembut tangan yang lebih tua untuk keluar ruangan. Luhan hanya pasrah saja, karena sedari tadi ia masih menatap Chanyeol dengan wajah cengo.

.

.

.

.

" Hei, Bocah tengik... ini semua gara-gara dirimu hingga aku terjebak dalam situasi seperti sekarang ini." Chanyeol menyalak pada Taehyung.

" Maaf" yang dimarahi hanya berucap lirih sambil menundukkan kepalanya merasa bersalah.

" Sunbae, jangan marah-marah pada orang sakit! bagaimana jika penyakit jantung taehyung kambuh?" Bela Jimin yang tengah duduk di tepi ranjang sepupunya.

" Apa dia memiliki riwayat penyakit jantung?" kini suara Chanyeol tak lagi tinggi.

" Tidak, sih...tapi jika sunbae terus memarahinya, mungkin sebentar lagi taehyung akan memilikinya." Jimin berujar dengan polosnya.

" Yak, Park Jimin ... kau menyumpahi ku jantungan?" Taehyung memukul kepala Jimin tak terima.

" Akh, sakit Tae...aku kan hanya bercanda." Jimin mengelus kepalanya yang terkena pukulan.

Sementara itu Chanyeol hanya memandang malas pada dua bocah ingusan yang malah sibuk bertengkar tak jelas. Niatnya yang akan memarahi adik kelasnya itu hilang sudah. Emosinya yang tadi sempat meluap-luap diatas ubun-ubun kini telah menguap entah kemana.

Pemuda tampan nan tinggi itu kembali mendudukkan pantatnya di sofa. Pikirannya melayang pada kesialan yang ia alami hari ini. Kejadian beberapa hari terakhir ini juga tergiang di kepalanya. Dirinya yang selalu di kejar-kejar junior yang bahkan tak ia kenal, dan kini malah berakhir duduk pasrah di rumah sakit menunggui adik kelas korban penabrakannya.

Chanyeol menatap Taehyung yang masih sibuk berceloteh dengan sepupunya, dalam hati pemuda tampan itu mencoba menebak sebenarnya ada alasan apa dibalik Taehyung yang bersih keras untuk mengenalkannya pada sang ibu? dan sekarang mereka sudah saling bertemu, tapi anehnya darimana ibu Taehyung tahu namanya bahkan sebelum ia memperkenalkan diri. Begitu pula dengan seseorang lelaki cantik lainnya yang Chanyeol yakini adalah ibunya Jimin. Satu lagi yang membuatnya merasa risih, ada apa dengan tatapan yang mereka berikan padanya tadi.

" Hei, Bocah ! apa kalian menceritakan tentangku pada ibu kalian?" Chanyeol bertanya pada dua manusia yang kini telah menatapnya aneh.

" Kenapa kami harus?" Jimin balik bertanya dengan nada yang terdengar sangat menyebalkan di telinga lebar Chanyeol.

" Lalu dari mana ibu kalian tahu namaku, bahkan sebelum aku sempat memperkenalkan diri? aku yakin kami baru pertama kali ini bertemu."

" Mana kami tahu." Jawab Jimin lagi, masih dengan intonasi yang sama.

Jimin berbohong, tentu saja ia tahu. tapi Jimin tak mungkin menceritakan yang sebenarnya, itu akan merusak rencana yang telah di susun oleh sepupu sebajingannya, jadi ia pikir bahwa pura-pura tak tahu adalah pilihan terbaik.

" Aish, sudahlah ! percuma bicara dengan kalian. Buang waktu saja, aku akan pulang sekarang." Chanyeol kesal karena tak mendapatkan jawaban atas rasa penasarannya, ia lalu bangkit dari acara duduknya.

" Oh satu lagi, aku sudah mengurus biaya rumah sakit, dokter bilang kau sudah boleh pulang karena lukamu tidak parah." Chanyeol menunjuk pada Taehyung.

" Dokter juga mengatakan jika kau hanya perlu melakukan pemeriksaan rutin, dan akan memberikan jadwal pemeriksaan saat kau pulang nanti." Chanyeol berbicara panjang lebar pada Taehyung dan hanya di angguki oleh yang lebih muda.

" Terima kasih, sunbae."

" Tentu, kau memang seharusnya berterima kasih pada orang baik sepertiku." Chanyeol menyindir halus, ia lalu membawa kaki panjangnya untuk keluar ruangan tanpa repot-repot menunggu jawaban.

" Cih, baik apanya." Jimin mengomel pada sosok Chanyeol yang telah hilang di balik pintu.

.

.

.

.

" Baekhyun-ah, kau baik-baik saja kan?" Luhan bertanya pada yang lebih muda, badannya saja masih bergetar tak percaya lalu apa kabar dengan Baekhyun. Kini keduanya tengah duduk berdampingan pada kursi panjang rumah sakit yang tersedia di depan kamar rawat Taehyung.

" Harusnya aku yang bertanya seperti itu, hyung."

" Aku serius, kau tampak pucat."

" Tentang pemuda itu_" Baekhyun menjeda. " Awalnya aku memang sempat shock sama sepertimu, tapi sekarang aku sudah baik-baik saja, hyung."

" Aish, ku pikir tadi aku sedang melihat Chanyeolmu. Bagaimana mungkin bisa begitu mirip? aku tak bisa percaya ini. Wajahnya, badannya, suaranya, bahkan nama dan marganya juga sama. Apa mungkin Chanyeolmu memiliki adik kembar?" Luhan bertanya-tanya.

" Adik apanya, kau dan aku sama-sama tahu adik Chanyeol hanya Sehun suamimu, hyung. Lagi pula umur mereka juga berbeda jauh untuk bisa di katakan kakak adik."

" Kau benar, apa mungkin dia anak Chanyeol dengan orang lain?" Luhan menebak-nebak lagi.

" Yang benar saja. Chanyeolku bukan orang yang seperti itu. Dia hanya mencintaiku, mana mungkin ia tega berselingkuh sampai memiliki anak yang bahkan lebih tua dari Taehyung kami."

" Bisa saja Chanyeol menghamili orang lain sebelum menikah denganmu." Luhan ngotot dengan pendapatnya yang bahkan tak berdasar.

" Hyung, berhentilah ! kenapa kau malah menuduh suamiku yang tidak-tidak? aku percaya padanya dan aku tak mau dengar apapun lagi."

" Baiklah aku mengerti, tapi aku penasaran... bagaimana perasaanmu saat pertama kali bertemu dengan pemuda yang sangat mirip dengan suamimu itu? apa kau merasa berdebar? kau tahu kan apa maksudku?" Luhan tersenyum jahil dan menyikut lembut iparnya.

" Aku tidak !" Baekhyun berbohong, nyatanya jantungnya memang berdebar karena pemuda itu. Entahlah, itu seperti ia bertemu dengan Chanyeolnya lagi.

" Eiiy, kau bohong kan? lihatlah pipimu sedang merona." Luhan terkekeh geli, jarinya menunjuk pada semburat merah yang tercetak samar pada pipi mulus Baekhyun.

" Ku bilang tidak ya tidak ! kenapa hyung mengodaku." Baekhyun mengalihkan pandangannya kemana saja asal tidak bertatapan dengan Luhan.

" Ehkemm." Suara deheman menghentikan kegiatan dua orang yang tengah duduk berbincang di depan kamar rawat Taehyung.

" Oh, Chanyeol-ah... apa kau akan pulang?" Baekhyun bertanya dan berdiri dari duduknya.

" Iya paman, aku akan pulang sekarang. Ibuku sudah menunggu di rumah, jadi maaf jika aku tak bisa menemani Taehyung lebih lama."

" Tunggu, kau tadi memanggil Baekhyun apa? Paman?" Luhan menyela.

" Memangnya aku harus memanggil apa? Bibi?" Chanyeol menatap tak suka pada Luhan, omong-omong dia masih menaruh dendam pada lelaki cantik itu atas kata-kata pedas yang ia dapat di dalam kamar rawat tadi.

" Hey, kau harus memanggil Baby pada Baekhyun kami."

" Hyung...!" Baekhyun memperingati Luhan melalu matanya agar tak mengatakan yang macam-macam.

" Baby?" Chanyeol mengernyitkan dahi tanda tak mengerti.

" Hm, Baby Baek. Kau kan biasa memanggilnya begitu." Nyatanya peringatan Baekhyun tak mempan pada Luhan dan mulut besarnya.

" Biasanya?" Chanyeol tambah bingung.

" Tidak Chan, jangan pedulikan dia." Baekhyun berusaha mengalihkan pembicaraan sebelum mulut ember Luhan menjadi-jadi.

" Oh, bukankah kau harus segera pulang? dan lagi terima kasih untuk pertolonganmu, Chan. Maafkan juga Taehyungku atas apa yang telah ia lakukan padamu hari ini." Baekhyun tersenyum ramah, mata sipitnya menatap lembut pada yang lebih muda, dan Chanyeol mau tak mau harus kembali tenggelam dalam manik indah itu.

" Ehemm..." Kali ini Luhan yang berdehem untuk menyadarkan kedua anak manusia yang malah sibuk saling bertatapan.

" A-Ah, boleh kah aku pinjam ponsel paman sebentar." Chanyeol yang pertama kali tersadar.

" P-ponsel?" Baekhyun bertanya dengan nada gugup yang ketara. Tubuh dan jantungnya masih belum terbiasa dengan adanya duplikat suaminya itu.

" Hm, ku pikir aku perlu menyimpan nomor ku di ponsel paman untuk berjaga-jaga jika terjadi sesuatu pada Taehyung, jadi paman bisa lebih mudah menghubungiku. Oh, Taehyung juga sudah boleh pulang hari ini juga."

Baekhyun tak sadar telah memberikan ponselnya pada Chanyeol. Dalam hitungan detik ponsel itu telah berpindah tangan dengan Chanyeol yang mengetikkan nomornya dan menit berikutnya Chanyeol memberikan ponsel itu kembali pada si pemilik.

" Nah, aku pergi dulu paman. Jika ada apa-apa jangan sungkan untuk menghubungiku." Chanyeol berpamitan dengan menyunggingkan senyum hangatnya lalu membungkuk hormat pada dua orang yang lebih tua. Langkahnya mulai mengayun untuk berlalu.

" Tentu, Baekhyun pasti akan menghubungmu !" Luhan berteriak heboh pada Chanyeol yang sudah mulai menjauh. Tangannya melambai-lambai riang seolah mengucapkan sampai jumpa lagi, meski nyatanya orang yang dimaksud tak dapat melihat hal tersebut.

" Hyung !" Baekhyun menatap kesal pada Luhan. Apa-apaan hyungnya ini, membuat malu saja.

.

.

.

.

" Aku tak habis pikir kau bisa senekat itu tae." Jimin berceloteh sambil mengupaskan apel untuk sepupu sialannya.

" Mau bagaimana lagi, tapi setidaknya sekarang aku bisa mempertemukan mereka berdua." Taehyung tersenyum konyol. Ia masih ingat bagaimana salah tingkahnya sang ibu saat pertama kali bertemu dengan sunbaenya tadi.

" Jangan bilang kau berniat menjadikan Chanyeol sunbae sebagai daddy barumu?" Jimin menatap Taehyung dengan penuh curiga.

" Kau memang yang terbaik, Jim." Taehyung mengacungkan dua jempol tangannya pada Jimin ditambah senyum kotak yang menjadi kebanggaannya.

" Kau gila? kau tak malu memiliki daddy yang bahkan berusia dua tahun di atasmu?"

" Kenapa harus? asal mommy bisa bahagia apapun tak masalah untukku."

" Bahagia kepalamu ! Sunbae itu lebih pantas menjadi kakakmu. Dan lagi, kau tahu sendirikan bagaimana sifat Chanyeol sunbae? ku akui dia memang tampan dan pintar! Ah, aku hampir melupakan jika dia juga kaya raya. Tapi demi Tuhan, ingatlah dengan sifatnya yang begitu arogan, sombong, kasar dan urakan. Itu sama saja menjerumuskan mommymu ke dalam kandang singa." Jimin berucap dengan berapi-api, tak perlu diragukan lagi seberapa kental darah Luhan yang mengalir dalam tubuh putranya, lihat saja ocehannya yang tak kenal lelah itu.

" Aku hanya perlu sedikit menjinakannya," Taehyung berujar santai seolah menjinakkan Chanyeol itu semudah membalikkan telapak tangan.

" Kau pikir Chanyeol sunbae binatang buas?" Jimin mendengus pasrah, taehyung itu kalau sudah ada maunya tak akan bisa di bantah. Salahkan saja pada mommy Baek yang terlalu memanjakannya. Penasaran juga sebenarnya apa yang sedang sepupu beserta otak laknatnya itu rencanakan.

" Ya, anggap saja seperti itu. Yang perlu kau lakukan hanyalah mendukungku, oke. Apa kau tak senang sepupumu yang tampan ini memiliki daddy lagi?"

" Seperti aku tak punya pekerjaan lain saja. Cih, terserah padamu sialan." Jimin mengumpat, tapi walaupun begitu tangannya sibuk menyuapi apel yang telah selesai ia kupas untuk dimakan Taehyung. Benar-benar sepupu yang perhatian, bukan?

Jika boleh jujur jauh di sudut hati Taehyung, bocah itu masih merasa tak yakin dengan apa yang ia lakukan saat ini. Beberapa pertanyaan melintas didalam benaknya. Mungkinkah ibunya akan bahagia? akankah dua orang yang ingin ia satukan juga bisa bahagia? lalu bagaimana dengan daddynya di surga sana, apa daddynya juga akan ikut tersenyum bahagia?

Meski tak sepatutnya bocah seusianya memikirkan hal-hal semacam itu, tapi apa mau dikata demi sayangnya untuk sang ibu nyawapun akan ia berikan jika memang diperlukan. Remaja enam belas tahun itu menatap langit biru melalui jendela kamar rawatnya. Hal yang selalu ia lakukan lima tahun terakhir ini jika sedang dalam suasana hati bimbang.

" Daddy, bolehkah tae melangkah maju?" lirihnya dalam hati.

.

.

.

.

Tbc

Hayo maunya si tetet maju atau mundur? kalau mundur, abis dong ceritanya...hehe

Sebenarnya gk begitu yakin mau lanjutin ff ini atau tidak, karena memang aku baru pertama kali nulis dan masih sangat amatiran.

Tapi karena dukungan dan semangat dari yang baca, aku putuskan untuk tetap lanjut. Seperti usaha Tetet yang berjuang mempersatukan ChanBaek, maka aku juga usahakan buat cepet-cepet apdet.

Jadi terima kasih banyak buat kalian yang masih sempat-sempatin baca, ngereview, ngefavoritin dan ngefollow cerita aku :)

Salam ChanBaek is REAL !