UNSOLVED CASE

.

.

Disclaimer : Tokoh-tokoh yang muncul dalam fanfiction ini original by mr. Masashi Kishimoto sementara ceritanya sendiri murni dari hasil pemikiran autor.

Warning : Typo, AU, Sasuke/Sakura/Naruto/Sasori/Hinata, Rated M, OOC, Mengandung unsur kekerasan dan Gore.

.

.

CHAPTER 1.

.

.

Dua orang perempuan memasuki sebuah butik dibilangan Konoha yang selalu ramai pengunjung. Bahkan jalanan depan butik terlihat penuh oleh kendaraan yang lalu lalang tak jarang beberapa saat kendaraan-kendaraan itu sama sekali tidak melaju. Masalahnya klise, macet. Satu kata itu memang sudah menjadi makanan sehari-hari kota ini. Apalagi akhir pekan. Bisa dipastikan jalanan diseluruh kota Konoha akan mengalami kemacetan hampir berjam-jam.

Salah satu dari kedua perempuan itu menyeka keringat yang mulai mengucur dari jidatnya. Ia melirik wanita di sebelahnya yang terlihat lebih tua beberapa tahun darinya. Beberapa orang lalu lalang melewati mereka berdua dengan tangan yang penuh dengan barang belanjaan. Bahkan beberapa diantaranya masih terdengar membicarakan butik mana lagi yang akan mereka datangi.

Suara gemerisik kerikil yang ia injak dibawah kakinya bahkan tak terdengar tertutup oleh suara bising orang-orang yang terus berbicara bahkan mereka tidak memperdulikan daun-daun kering yang berjatuhan memasuki kantong belanjaan mereka yang terbuka.

Perempuan itu menarik tangan wanita disebelahnya. Mengajaknya berjalan lebih cepat demi menghindari orang-orang yang mulai ramai meski terik matahari sangat menyengat di atas mereka.

"Apa Sakura Nee-chan tidak bisa jalan lebih cepat sedikit? Kita akan kehabisan pakaian kalau nee-chan berjalan seperti siput."

"Aku tidak terbiasa dengan sepatu hak tinggi yang kupakai sekarang Hinata. Jadi maaf saja ya." Sakura mendelik ke arah adiknya tapi tetap menurut saat Hinata terus menarik tangannya.

"Lalu kenapa nee-chan masih memakainya?" Hinata menarik tangan Sakura mendekati etalase yang dipenuhi gaun-gaun malam yang indah.

"Aku hanya ingin mencoba kembali sepatu-sepatu yang biasa aku kenakan sebelum masuk kedalam tempat mengerikan itu." pandangan mata Sakura sedikit menerawang namun sedetik kemudian dia menggelengkan kepalanya dan tersenyum seraya melepaskan pegangan Hinata dan maju beberapa langkah. Tangannya terulur memilah-milah pakaian yang ada di hadapannya. Hinata memperhatikan kakaknya sekilas sebelum ikut maju dan menyenggol pundak kiri Sakura.

"Aih, Sakura nee-chan sudah berumur 23 tahun. Tidak cocok untuk bergalau ria mengenang masa lalu." Hinata mendengus geli dengan ucapannya sendiri. Ia bahkan tidak peduli meskipun kakaknya melayangkan tatapan tidak suka padanya.

"Memang berapa umurmu?" Suara bariton seseorang terdengar menyela obrolan mereka.

"19 tahun. Eh?" Tanpa sadar Hinata menjawab pertanyaan pria asing tersebut. Setelah sadar apa yang tengah dilakukannya Hinata dan Sakura memandang arah suara itu bersamaan.

Dihadapan mereka berdiri seorang laki-laki tampan dengan senyuman ramah terpampang diwajahnya. Pria itu terlihat begitu matang dengan penampilan berjas meskipun ia memiliki warna rambut yang mencolok yakni merah tapi ia memotongnya dengan rapi. Untuk beberapa saat kedua wanita itu hanya terbengong memandang pria dihadapan mereka sementara pria itu sendiri justru malah menyodorkan sebuah gaun berwarna merah cerah pada Hinata.

"Gaun ini sepertinya sangat cocok untukmu. Warnanya sangat berani penuh dengan semangat muda dan terlihat cukup sexy." Pria itu kembali mengembangkan senyumnya.

"Ah! Bukankah anda adalah Sasori?" Hinata mengacungkan salah satu jarinya menunjuk wajah pria dihadapannya yang langsung ditangkap Sakura dan menurunkannya.

"Pengusaha sukses yang sering berganti-ganti wanita itu? Bagus. Jadi sekarang anda sedang menggoda adikku? Tidak terima kasih sebaiknya anda simpan saja gaun itu untuk wanita lainnya." Sakura segera menarik tangan adiknya keluar dari butik beracat biru tersebut sementara Hinata hanya bersungut-sungut tidak jelas di belakangnya.

Tidak jauh dari mereka terlihat Sasori sedang memperhatikan kepergian kedua nee-chan beradik itu hingga mereka menghilang terhalang oleh orang-orang yang berlalu lalang. Ia kembali memperhatikan gaun yang ada ditangannya.

"Aku sudah memilihkannya untuknya tidak mungkin kuberikan pada wanita lain." Senyum kembali terkembang diwajahnya. Tapi kini senyumnya berbeda dengan senyum ramah yang sebelumnya ia tunjukan. Kali ini senyumnya sangat berbeda.

...

Kriing kriing

Suara telepon berdering dengan sangat nyaring pada salah satu rumah sederhana. Hinata tengah terduduk santai diatas sofa ruang keluarga menyaksikan sebuah ulasan tentang putra walikota kota Konoha tempat tinggalnya. Usia putra walikota itu masih relatif muda dan tampan, usianya mungkin baru menginjak sekitar duapuluh tujuh tahun. Dia terkenal karena prestasinya yang sangat luar biasa bahkan mampu menjadi salah satu pengusaha paling berhasil di Konoha. Tapi ia juga terkenal dengan julukan playboy yang melekat padanya.

Wanita bersurai hitam itu tampak mengacuhkan suara deringan telfon yang terus berdering. Dengan sedikit kesal akhirnya Hinata bangkit dari duduknya dan mengangkat telpon.

"Hallo?"

"Dengan Hinata?" suara seorang pria jelas terdengar menanyakan kepemilikan dari nomor yang ia hubungi.

"Benar, dengan siapa saya berbicara?"

"Saya Kaito, dari majalah Cosmopolitan. Saya menawarkan pekerjaan pada anda. Bukankah anda seorang model freelance?"

"Ya, saya memang melakukan pekerjaan sebagai model freelance. Dari mana anda tahu nomor telfon rumah saya?"

"Saya mendapatkannya dari majalah yang terakhir kali memakai jasa anda. Dan saya merasa sangat tertarik untuk bekerja sama dengan anda. Apakah anda bersedia?"

"Oh, tentu saja bersedia. Rasanya sudah lama sekali saya menganggur." Hinata tersenyum lebar mendengar tawaran kerja yang ia sudah tunggu sejak lama.

"Kapan kita bisa memulai kerja sama kita?" Hinata bertanya dengan semangat.

"Bagaimana kalau sore ini pukul 03.00? kami akan menjemput anda. Kebetulan kami akan melakukan pemotretan diluar."

"Tentu. Anda bisa menjemput saya didepan Konoha mart?" jawab Hinata mantap.

"Tentu."

"Baiklah, sampai nanti" Hinata mengakiri pembicaraan mereka.

Hinata berlari riang menuju kamarnya. Ia terus tersenyum cerah seraya mempersiapkan segala keperluan yang mungkin ia butuhkan nanti. Tanpa ia sadari telah berdiri Sakura diambang pintu kamarnya yang memang tak ia tutup.

"Kau mau kemana?" tanya wanita itu.

"Aku ada pemotretan." Hinata menolehkan kepalanya.

"Akhirnya." Ia sedikit memekik karena girang. Wajah Hinata jelas memancarkan kebahagiaan. Sudah sejak lama ia menantikan saat-saat ini.

"Aku harus bergegas, mereka akan menjemputku beberapa jam lagi."

Hinata segera melanjutkan kembali pekerjaannya membereskan barang-barang keperluannya. Dibelakangnya Sakura hanya mengangkat bahunya tak acuh namun sebelum meninggalkan kamar Hinata, Sakura kembali memandang adiknya.

"Hari ini aku ada operasi di rumah sakit. Bukan operasi besar mengingat ini adalah operasi pertamaku setelah sekian lama jadi mungkin tengah malam nanti aku sudah pulang. Apa kau akan menginap?"

"Aku tidak tahu. Tapi kuusahakan untuk pulang jika nee-chan takut dirumah sendirian." Cengiran jahil terpatri diwajah cantiknya sebelum terdengar suara bantingan keras pintu.

Sakura membanting pintu kamar adiknya dengan kesal. Ia bukan takut untuk tinggal sendiri dirumah tapi ia takut bahwa ia akan kembali seperti keadaannya beberapa tahun lalu dan tidak ada orang yang akan menghentikannya.

Sakura mendesah pelan dan melangkahkan kakinya menuju pintu depan. Dibelakangnya ia masih bisa mendengar adiknya tertawa keras.

"Dasar." Ia memijit kepalanya yang terasa sedikit pusing.

Inilah salah satu alasannya menanyakan kepulangan adiknya karena setiap kali kepalanya terasa berdenyut seperti sekarang ini selalu ada potongan ingatannya yang hilang. Ia tidak ingat apa yang ia lakukan beberapa waktu sebelum ia tersadar dan sudah berada ditempat berbeda dengan ingatannya yang paling akhir. Tapi ia segera menenangkan diri ia tidak mau merusak momen yang paling ditunggu adiknya itu dan menghancurkan karirnya sendiri sebagai dokter bedah. Ia segera melangkahkan kakinya kehalaman rumah mereka dan berjalan menuju mobil VW Battle kesayangannya.


Seorang pria tampak sibuk dibalik meja kerjanya. Bertumpuk-tumpuk kertas kelihatan berserakan. Pria itu mengusap rambutnya yang terlihat seperti pantat ayam dengan frustasi. Pria itu bahkan terdengar mengumpat beberapa kali memandangi kertas-kertas dihadapannya. Ia sesekali memandangi beberapa lembar foto berisikan potret wanita cantik dan beberapa potret mengerikan dari tubuh-tubuh yang sudah tak menentu lagi bentuknya. Entah karna membusuk atau karena sebab lainnya. Beberapa bahkan sudah tak memiliki bentuk utuh lagi.

Pria itu tampak sedikit terkejut saat seseorang menepuk pundaknya.

"Istirahatlah barang sebentar, Sasuke." pria berambut pirang jabrik itu memberikan secangkir kopi yang masih mengepulkan asap.

"Dikantor ANBU ini tidak hanya kau saja yang mengurusi kasus ini." ia menunjuk dengan tangan yang memegang cangkir kopi miliknya sendiri pada seorang detektif wanita berparas cantik dengan cepol dikedua sisi kepalanya yang baru bekerja beberapa bulan dikantor mereka.

"Dan seorang lagi pria muda yang entah sedang berada dimana." Pria itu menyesap kopinya.

"Benar-benar buntu." Pria yang dipanggil Sasuke itu menerima kopi yang diberikan rekannya. Ia kemudian menyecap kopinya.

"Aku bahkan tidak bisa menemukan bukti baru tentang kasus ini kecuali bahwa sang pembunuh selalu mencari korban wanita muda yang berprofesi sebagai model dan kenyataan bahwa ia telah melukai mereka dengan sayatan-sayatan yang sangat rapi." Ia menggeleng putus asa.

"Mungkinkah dia seorang dokter bedah?" pria yang membawakannya kopi memberinya sedikit opini tentang identitas pelaku.

"Demi Tuhan!" nada suara Sasuke meninggi menyebabkan wanita muda diseberangnya memandang heran padanya.

"Aku bahkan sudah hampir berbusa mengatakan hal yang sama berulang-ulang, Naruto" Sasuke menatap rekannya itu dengan tatapan tidak percaya. Ia tidak perduli jika sekarang ia menjadi bahan tontonan bawahannya sendiri.

"Maaf," Naruto atau rekan kerjanya mengangkat sebelah tanngannya yang tak memegang gelas.

"kau tahu terlalu banyak berfikir membuatku justru menjadi seorang pelupa." Naruto menggidikkan bahunya tak perduli.

Sasuke tak memperdulikan ucapan rekannya itu dan langsung kembali berkutat dengan setumpuk bukti-bukti diatas mejanya. Sementara naruto beralih pada meja disebelah Sasuke tempat detektif wanita yang sedari tadi memperhatikan tingkah laku kedua atasannya tersebut. Mereka berdua, Naruto dan wanita itu terlihat bercakap-cakap.


Tepat didepan sebuah minimarket berinisial KM. Hinata menunggu dengan tak sabar orang yang akan menjemputnya untuk melakukan pemotretan. Sesekali ia memandang arloji Baby G miliknya. Sesekali ia berdecak kesal. Orang-orang yang berlalu lalang sesekali memandang kearahnya. Apalagi para pria.

"Kapan mereka akan datang. Ini bahkan sudah jam tiga lima belas." Hinata menendang kerikil yang berserakan disekitarnya dengan kesal.

Ia memperhatikan sebuah mobil yang sangat mirip dengan mobil kakaknya melaju kearahnya. Ia sempat berfikir kalau itu adalah kakaknya.

Tapi saat mobil itu berhenti tepat dihadapan Hinata dan sang pengemudi menurunkan kaca mobil depan untuk melongokkan kepalanya ia yakin kalau itu bukan kakakknya. Orang yang berada dalam mobil itu terlihat memakai jaket cukup tebal, masker berwarna abu-abu, dan sebuah kaca mata hitam. Tidak sesuai dengan keadaan kota yang masih cukup panas sore itu.

"Hinata?" Hinata tidak yakin apa yang sedang berbicara dengan saat ini wanita atau laki-laki.

Suara orang terdengar serak dan samar saat menanyakan namanya. Hinata hanya mengangguk sebagai balasan.

"Masuklah." Orang itu lantas membukakan pintu mobil dari dalam untuk Hinata.

"Anda Kaito?" Hinata bertanya sembari masuk kedalam mobil. Ia segera menutup kembali pintu mobil.

"ya." Orang itu berkata dengan singkat.

Hinata masih memandang penuh selidik pada orang disampingnya. Matanya tidak sengaja melirik ke arah bawah dan menyadari sesuatu. Jika orang ini adalah Kaito mengapa ia mengenakan sepasang selop wanita? Kaito itu nama laki-laki bukan?

"Akan kemana kita?" Hinata memperhatikan pakaian yang dipakai Kaito sebelum melanjutkan.

"Kau berpakaian seakan kita akan pergi kepegunungan. Benarkah?" orang itu hanya diam. Fokus pada kegiatannya mengemudi. Merasa perkataannya diacuhkan, Hinata kemudian menyilangkan tangannya didepan dada. Ia memandang keluar jendela. Mencoba menghilangkan rasa jengkelnya dan juga rasa penasaran yang terus bergelayut didalam dadanya perasaannya sedikit tak enak.

...

Sakura mencoba menghubungi adiknya melalui ponsel saat ia sadar adiknya masih belum pulang padahal waktu sudah menunjukkan pukul 01.11 pagi. Namun sepertinya ia harus kecewa karna tak kunjung mendapatkan jawaban.

"Hinata, apa yang kau lakukan sampai tak bisa mengangkat telfon dari kakakmu sendiri." Wanita itu kemudian mencoba kembali menghubungi nomer adiknya tersebut. Hingga akhirnya terdengar suara seseorang mengangkat ponsel.

"Hallo?" wanita itu terdiam sesaat. Itu bukan suara Hinata. Ia tidak yakin tapi sepertinya itu suara seorang pria.

"Hallo, aku rasa ini adalah ponsel milik adikku Hinata." Wanita itu mengernyitkan alis matanya bingung.

"Oh." Jeda beberapa saat tapi suara diseberang sana sama sekali tidak melanjutkan kata-katanya. Sakura semakin bingung.

"Dengan siapa aku berbicara sekarang?"

"Aku Sakura, kakak Hinata." Sakura melirik kearah televisi yang sedang menayangkan acara dokumter kejahatan disalah satu stasiun televisi.

"Dan bukankah seharusnya aku yang bertanya seperti itu padamu? Siapa kau? Kenapa kau bisa mengangkat ponsel Hinata?" dengan kesal Sakura bertanya bertubi-tubi pada pria yang mengengkat ponsel milik adiknya tersebut.

"Hinata sedang sibuk sekarang. dia tidak bisa berbicara denganmu. Maaf." Kemudian pria itu menutup ponsel. Sakura hanya menatap ponsel miliknya tak percaya.

"Apa-apaan pria ini!" Kesal. Ia melemparkan ponsel miliknya kesembarang tempat. Ia lantas mematikan televisi dan berjalan kearah dapur untuk membasahi tenggorokannya yang terasa mengganjal karena kesal.

...

Hinata memandang sebuah gaun ditangannya. Rasanya ia pernah melihat gaun ini sebelumnya. Gaun linen berwarna merah menyala ini rasanya pernah dilihatnya disuatu tempat.

Mengacuhkan pikirannya ia segera memakai gaun itu dan berjalan keluar dari balik ruang ganti dan mendapati orang yang menjemputnya tengah berdiri tak jauh darinya.

"Aku kira kita akan melakukan pemotretan dialam terbuka." Hinata menghampiri Kaito. Orang itu sama sekali tidak menanggalkan luarnya padahal mereka sudah berada dialam ruangan.

"Yah, melihat pakaian yang kau pakai." Kaito hanya memandang Hinata dan berjalan mendahului Hinata masuk kedalam sebuah ruangan yang lebih terlihat sebagai tempat koleksi.

"Kenapa kau masih memakai pakaian itu?" Hinata bertanya pada pria dihadapannya. Kembali tak mendapat jawaban ia kemudian meneruskan.

"Dimana yang lainnya? Tidak mungkin kan kalau kita memulai pemotretan hanya berdua seperti ini?" Hinata berjalan mendahului Kaito dan menghadang jalan pria itu.

"Sebentar lagi mereka akan datang." Kaito mendorong bahu Hinata kesamping, menyingkirkan wanita itu dari jalannya. Hinata hanya mendengus mendapatkan perlakuan seperti itu.

Hinata mencoba mengalihkan kekesalannya memandangi apapun yang ada didalam ruangan itu. Dia cukup tertarik, pasalnya ia belum pernah melihat koleksi senjata sebanyak ini sebelumnya. Kecuali di dalam Museum.

"Waw, kau punya koleksi barang-barang yang tidak biasa." Kendati merasa takjub.

Ia juga merasa ngeri melihat betapa banyaknya senjata-senjata tajam yang ia yakini masih dapat berfungsi dengan baik disepanjang dinding. Baik yang hanya digantung maupun dimasukkan kedalam sebuah figura-figura kayu.

Hinata menghentikan langkahnya saat ia melihat banyaknya gaun-gaun yang terpasang dengan rapih pada manekin-manekin yang juga terdapat disana.

"Kau juga mengoleksi hal semacam ini?" Hinata menolehkan kepalanya pada Kaito yang terlihat sedang membersihkan sebuah palu besar dibelakangnya. Kaito hanya menoleh sebentar sebelum kembali melanjutkan pekerjaannya.

"Kau benar-benar sangat aneh." Hinata menggedikkan bahunya sebelum kembali memperhatikan manekin-manekin yang berada disana.

Ia menyentuh beberapa gaun yang sangat indah tersebut. Namun ia juga merasa heran karena melihat begitu banyaknya bercak-bercak kecoklatan dan juga robekan pada gaun tersebut. Beberapa ia yakin masih baru.

"Apa ini?" Hinata menyentuh sebuah gaun satin berwarna merah muda yang terdapat noda kecoklatan yang kelihatannya sudah mengering. Hinata mencoba mencium bau noda pada gaun itu. Tercium bau anyir dari noda itu.

"Darah?" ia mengerutkan alisnya tak mengerti. Kenapa ada noda darah pada gaun-gaun itu. Ia mengedarkan pandangannya memperhatikan gaun-gaun yang juga memiliki noda yang sama.

Matanya lantas memandang sebuah menekin yang tak terdapat gaun padanya. Ia merasakan firasat buruk dalam hatinya semakin menjadi. Ia ingin profesional dengan pekerjaannya tapi ini sudah diluar batas. Semuanya terlalu samar dan mencurigakan. Ia merutuki kebodohannya yang langsung mengiyakan tawaran kerjasama ini.

Hinata memundurkan kakinya beberapa langkah. Mencoba menjauh dari manekin-manekin yang sekarang terlihat mengerikan dimatanya.

"Kenapa manekin yang ini masih kosong?" matanya lekat memandang manekin telanjang dihadapannya.

Firasatnya semakin memburuk. Ia ingin segera mengakhiri sesi kerjanya hari ini. Ia mulai merasa tak nyaman berada disana. Saat ia akan berbalik, Hinata merasakan sesuatu menghantam kepala bagian belakangnya dengan keras. Terasa dingin dan menyakitkan. Ia ingin berteriak, tapi suaranya terjerat dalam tenggorokan. Ia tak dapat menyeruakan suaranya. Dan sebelum pandangannya mengabur dan kehilangan fokus ia dapat melihat Kaito disana. Berdiri dengan angkuh. Tak lagi memakai masker dan kacamata hitam. Pria itu ah bukan wanita? Dia memakai sebuah gaun berwarna hijau gelap dan ia bersumpah bahwa ia mengenali wajah itu. wajah itu tak asing. Seketika pandangannya menjadi gelap. Dan ia tak tahu lagi apa yang terjadi selanjutnya.

"Sebentar lagi manekin itu akan terisi. Bersabarlah." Kaito berdiri dengan sebuah palu berukuran sedang berlumur sedikit darah ditangannya.

TO BE CONTINUED


Autor Note: ini adalah chap pertama dari unsolved case. yang kemarin masih merupakan prolog. apakah kalian menyukainya? tolong tinggalkan jejak kalian berupa review ya agar saya bisa tahu dimana kesalahan saya supaya bisa saya perbaiki lagi dikedepannya. review dari kalian sangat berharga bagi saya.

akhir kata, saya sangat mencintai kalian semua 3