Secret of Black Vow

Genre: Hurt, Romance

Disclaimer : Detective Conan © Aoyama Gosho

Secret of Black Vow © Toge Hattori

Pairing : ShinRan

Warning : Abal, OOC, Typo, story from Vocaloid, Alur kecepetan untuk chapter ini T^T


Author space's :

Kyaaaa!

Yosh!
Aku balik dengan chappie 2 :3 gimana? oke, aku tau ini bukan tergolong asap. lagi pula kegiatan RL-ku banyaakkkkkk banget. Di greja lagi pada sibuk buat ibadah gabungan, fragmen juga. Aku pemeran utama loh difragmen ini /plok /gaditanya~

Trus, aku juga mau ikutan lomba band ^o^/ doakan ya minna! Aku juga mau uas yang menyiksa :''')

Oh ya sekaligus promosi nih. Readers ada yang domisili Bali? Yap! Nanti tanggal 5-6 juli ada event jepang terbesar di bali lohhh! BALI JAPAN EXPO 2nd! Aku panitia nyaa! Mampir ke stand Yukatta juga yooowww :3 /plok kalo mau ikut lomba, bisa PM aku deh buat info xD

Oke, ini OOT. sekarang mau bales ripiu, gilaaaa aku seneng ada yang ngeripiu ff-ku ^^ plus, jadi semangat nulisnya! Arigatou minna!

Hakemi-chan 3 : aku udah lama pengen buat tokoh tokoh malaikat kayak gini, dan imajinasiku pengen Shinichi yang jadi malaikat :3 /karenaceweksudahmainstream plus, gegara rp di twitter juga sih, rp Shin di twitter dibully jadi cewek mulu, jadi ya gini deh /plok Ohya, alasan utamanya sih karena aku juga pengen ada karakter cewek psikopat di ff-ku, jadi malaikatnya aku kasih ke Shinichi :33 Trus, Shinichi gak nyembunyiin sayapnya kok ^^ Arigatou! Review lagi yaaaa

reiei : mamahhhhhh *peluk* udah lama yaaaa! Aku masih lemah ya di eyd, hihi makasih sarannya mah! aku udah coba perbaiki :3 ini udah di update, gak asap kan yaaa :( gimana sama Shin fallen angel-nya? ;) review lagi yaaa!


Gadis itu terdiam, airmatanya tetap mengalir terus dan terus. Seakan tak ada suatu hal yang dapat membuat ia berhenti menangis. Pemuda bersayap dihadapannya hanya memandang sayu pada gadis, pandangan yang dilemparkan pada gadis itu seperti bercerita bahwa ia ingin sekali merengkuh gadis yang sedang rapuh ini.

Namun, itu tak mungkin … atau, kalau saja ia memaksa untuk menyentuh gadis ini. Si gadis akan meninggalkannya.

…..

Gadis yang sedang menangis itu, kini hanya menatap punggung pemuda yang sebenarnya ia cintai itu menjauh dan akhirnya menghilang di balik pintu, ia semakin terisak, linangan dipelupuk matanya semakin menjadi. Baru saja, ia membuat pemuda yang ia cintai semakin jauh dan semakin tak tergapai

"Shin … Shinichi … Jangan pergi …" nama pemuda itu terlontar terus menerus bersama deruan nafasnya …

"Shinichi … Aku mencintaimu" gadis itu menatap ke arah kepergian Shinichi—pemuda itu .. jelas saja, sosok pemuda bernama Shinichi itu sudah tak tertangkap oleh mata gadis itu

"Ran, ada apa? " suara baritone menyapa si gadis. Pemuda itu muncul secara tiba – tiba di depannya. Dengan cepat, jari lentik itu mengusap pelan kelopak matanya hingga ia k menghadap pemuda berambut pirang didepannya.

"Nandemonai!"

.

Ran's POV

1 Oktober 2013 ….

Aku pergi ke sebuah butik yang … yaahh sudah menjadi langganan keluargaku. Aiko's Fashion. Sebuah butik ditengah Akihabara yang padat pertokoan dengan suasana musim semi … wallpaper bertemakan sakura yang mekar dengan cantiknya … Ah, indahnya.

Aiko's Fashion memang selalu berganti – ganti tema setiap musimnya, mungkin karena kesenangan pribadi mungkin? Ah, entah. Yang penting, aku suka dengan konsep mereka pada musim ini. Kenapa? Karena aku suka bunga sakura. Cukup jelas kan?

Tulisan "push" dan "pull" menyambut mataku. Mungkin bukan hanya diriku saja yang lebih memilih push daripada pull. Aku tak mengerti alasannya, dan – ah sudahlah, lupakan saja.

Pemuda didepanku kembali menarikku dengan semangat, ya ya, ini sebuah pemilihan baju untuk penikahanku bulan depan. Kau tahu kan aku tak menginginkan ini? Aku hanya mengikuti arus saja, aku dan dia yang sedang menungguku ini adalah sepasang kekasih sejak bangku sekolah dasar. Aku tak memaksamu percaya, karena hubungan kami juga tak masuk akal.

Lebih dari 10 tahun kami menjalin sebuah hubungan yang dulunya hanya serajut cinta monyet, dan kini akan berakhir di jenjang pernikahan kurang dari 30 hari nanti …. Dengan mudahnya perasaanku berpaling pada 'dia' yang ku temui setahun lalu. Apa ini memang sudah dikodratkan?

Normal's POV

Aiko sibuk memilihkan baju yang cocok untuk si gadis yang akan menjadi ratu pada pesta pernikahannya nanti. Sementara, diluar butiknya—lebih tepatnya di sebelah kiri pintu keluar, mencuat aura hitam pekat menandakan sebuah kebencian yang tertahankan dari seorang pemuda dengan blazer hitamnya.

"Ah, Aku suka yang ini" si gadis dengan rambut bagian depannya sedikit mencuat itu mengelus baju yang ia maksud. Pemuda—Tunangan disampingnya pun hanya tersenyum senang dengan pilihan si gadis.

"Ran …" si gadis yang masih terpana dengan bajunya ini sedikit terkejut ketika namanya dipanggil oleh suara yang begitu familiar baginya. Bukan, ini bukan suara tunangannya.

"Ha/? Shin-Shinichi! Kenap—" gadis—Ran begitu kaget ketika ia mendapati apa yang ia dapat, sebuah pemuda dengan rambut spike bagian depan yang memberinya little kiss di depan tunangannya yang tercengang melihat gadisnya diberi 'kejutan' itu.

"Hey-! APA MAKSUDMU?" pemuda yang menggelar status tunangan Ran ini sudah menujukan sebuah gepalan tangan menuju Shinichi.

"Gomen, Ran bukan milikmu" ditangkisnya pukulan itu kemudian berlari keluar. Bersama Ran tentunya.

-Skip Time-

"Shin… Apa yang terjadi?" tangan mungil putih pucat masih saja diseret tak tentu arah.

"Shin … SHINICHI-KUN!" Ran mengarahkan seluruh tenaganya untuk membuatnya terdiam dan menahan tarikan dari Shinichi.

Seolah terkena hiptonis yang ampuh, Shinichi berhenti seketika. Ia berbalik, melempar sepasang tatapan sendu. Perasaan sedih, bahagia, atau kecewa? Tak ada yang tau pasti apa yang Shinichi rasakan.

"Kau .. tak suka aku kembali? Kau … tak bahagia?" Sedetik kemudian, pergerakan kepala Ran menuju kiri dan kanan menandakan ia menolak pernyataan Shinichi. Apa ini aneh? Ketika kau menolak sesorang yang kau cintai, dia pergi meninggalkanmu. Kemudian, ia kembali dengan segala perubahan drastis, ya perubahan yang ia lakukan hanya untukmu.

Ran masih terdiam. Bukan karena ia tak mau bicara, hanya saja ia bingung memulai darimana semenjak penolakan kemarin. Ia sudah cukup menyakiti Shinichi 'kan?

"A-apa yang terjadi pada sayapmu?" ya, topic yang bagus, Ran.

"Aku memotongnya. Sayap itu menganggu" Shinichi hanya memutar matanya bosan. Ran hanya menelengkan kepalanya. Mengirimkan sinyal bahwa ia bingung.

"Aku tak bisa bersamamu dengan itu" Shinichi menekankan setiap kata demi kata. Senyuman bahagia milik Ran yang Shinichi dapatkan setelah itu.

"Yak! Sabtu ini kau harus bersamaku seharian. Jam 10 pagi ku jemput" Shinichi pun bergegas menuju sebuah taksi dan pergi ..

..

.

.

Rambut ponytail. Baju berwarna soft pink tanpa lengan dengan sedikit renda putih disisi. Rok putih selutut. Wedges 6cm yang di dominasi warna pink daripada putih. Ran segera berlari turun menuju Shinichi yang datang 30 menit lebih cepat.

"Ayo!" Shinichi segera menarik Ran tanpa memperdulikan Ran yang sedikit terengah – engah.

"Itekimasu!" Ucapnya setelah itu.

*Shinichi POV

DAMN! Dia begitu cantik! Bukan, 2 kali lipat cantiknya daripada biasanya. Ah, ingin rasanya dengan cepat ku tunjukan 'sesuatu' pada akhir nanti. Oh, ayo cepatlah Ran, berapa lama waktu yang kau perlukan untuk menuruni tangga saja?

"Ayo!" Terlihat jelas memang bahwa aku begitu semangat mengajaknya kencan hari ini. Yah, saking semangatnya—

CTAK!

BRUKK!
"Ah! I-itai naa~" sudah sewajarnya jadi begini. Aku. Lupa. Ran. Memakai. Wedges. 6cm.

"Gomen Ran …" Aku hanya bisa menggaruk kepalaku dengan gelisah karena rasa bersalah seutuhnya.

"…." Ran hanya terdiam. Ia masih berkutat pada pergelangan kakinya. Aku rasa ia sedikit kesakitan di situ.

"Ran, you got to forgive me just with taking my hand …" Aku melutut, menyamakan tinggiku dengannya yang masih terduduk ditanah. Menyodorkan tanganku didepannya. Perlahan namun pasti, ia mengenggam tanganku dengan erat.

"Aku gendong ya," tanpa persetujuan yang berarti aku membawa Ran menuju punggungku.

…..

Damn, nafasnya begitu terdengar, detak jantungnya begitu terasa.. Kami-sama …She is so cute, but I just don't say it …

"Ran … Aku pikir kamu .." Damn, apa yang aku katakan—

"Apa?" Ah, ini akan semakin sulit untuk mengungkapkannya ..

"Etto—.. Turun bentar ya, aku mau liat keadaan kakimu, kau juga berat." Shit, kenapa aku malah menghinanya …

"Kalau aku berat, bilang saja, tak perlu alasan mau melihat kakiku" Ran mengerucutkan bibirnya .. Ah … semakin cantik.

Ran turun dari gendonganku menuju sebuah bangku kayu dibawah pohon yang super rindang. Kemudian, meluruskan kakinya tepat didepan kakiku.

"Nih.." Ujarnya. Memang sih, pergelangannya sedikit memerah.
"Bawa alat P3K?" Ran langsung memberiku sebuah kotak putih dengan symbol + berwarna merah. Sebotol air dingin yang selalu ku bawa, ku arahkan menuju pergelangan kaki miliknya, berputar berkali – kali hingga basah, kemudian pergelangan yang basah itu dibalutkan dengan perban.

"Yosh, aku harap ini bisa mengatasi selama kita kencan"

"Arigatou, Shin-kun" Ia kembali tersenyum. Ran tersenyum. Satu hal yang paling ku cintai di dunia.

GROOWLS ~

"Pfftt… BUAHAHAA—" Aku tau, pipi Ran mulai memerah. Bukan, ia tak terserang demam atau apa. Ia hanya malu. Membuatku ingin tertawa saja.

"JANGAN MENERTAWAIKU BAKA!" Ia memotong tertawaku dengan cepat. Semburat pada pipinya makin merah saja. Sungguh, tingkahnya ini menggodaku untuk mengacak – acak rambutnya. Bukan hanya tergoda saja sih. Aku telah mengacak rambutnya membuatnya semakin mengerucutkan bibirnya sebal.

"Tunggu disini." Ujarku sambil masih mengacak rambutnya

"Eh—"

Sambil berlari kecil, aku meninggalkan Ran yang tampaknya masih memandangi kepergianku dengan bingung.

Tempo berlariku makin pelan hingga akhirnya menjadi berjalan. Aku masih menoleh kiri dan kanan untuk mencari sesuatu yang menarik. Dan akhirnya, aku menemukannya. Lemon.

….

..

.

"Kore." Aku menyodorkan seporsi makanan—crepes.

"Lemon crepes, eh?" Ia mengambilnya ragu …

"Arigatou~" lanjutnya segera melahap gigitan pertama.

"Daisukidayo…"

"Eh?" Ran melemparkan tatapan bingung padaku.

"Ah, crepe… Maksudku, aku suka crepe rasa lemon!" sergahku dengan cepat

"Oh ya, Shinichi kan suka lemon …" Ran kembali melanjutkan aktivitas makannya.

"Grr …" Oke, Ran sama sekali tidak peka.

"Nani?" Ia kembali menatapku

"Nandemonai" Aku menghindari tatapannya. "Ayo kita jalan lagi"

Ran kembali berdiri, menyamakan langkahku yang lebih dulu darinya. Toko – toko berderet dengan rapi di pinggiran jalan yang kita lalui. Toko baju, accecoris, sepatu, rental DVD. Satu persatu kita lewati, dan aku menunggu Ran untuk mengajakku berhenti. Tapi hal itu tak kunjung datang. Ia trus bersenandung disepanjang jalan, dan tak menggubrisku. Beberapa senyum innoncent juga ku dapat ketika aku menegurnya. Hah …

"Shinichi! Kita kesini …" Aku memperhatikan jari Ran yang mengarah ke sebuah toko dengan poster road-roaller sebagai wallpaper. Ran bergegas masuk menuju toko tersebut, dan benar saja. Sebuah tokoh yang bernama—entahlah aku tak tahu namanya, dengan nuansa road-roaller. Dari mainan sampai replika road-roaller ada di toko ini. Aku tak mengerti dengan jalan pikiran pembuat toko ini.

"Ah, aku ingin menaiki road-roaller dengan pakaian ini" gunamnya

"Hah? Bodoh, itu gak mungkin." Jawabku acuh seperti biasa.

"Shinichi-kun~~! Cepat kesini~!" Ia melambai kearahku dengan wajah tak sabaran

"Iya.." Aku berlari kecil menuju kearahnya, Ran langsung menuju ke arah replika road-roaller yang cukup besar. Ia menatapku sebentar seakan memberi isyarat ikuti-aku. Yah, aku hanya pasrah untuk mengikutinya.

Aku pikir, Ran akan duduk disamping kemudi road-roaller. Tapi …

"Shinichi! Disini enak sekali!" Well, Ran malah duduk diatap road-roaller. Konyol.


Jangan ganggu aku!

Tinggalin aku sendiri!

Diam!

Yah, Ran memang sering berkata itu padaku, tetap saja, aku tak pernah berpikir dia itu egois. Ran itu cantik sih, tapi seringkali terbesit dibenakku. Dia bisa gak sih sedikit aja baik padaku? Ya ya, apa pun itu dia tetap saja yang pertama di duniaku sendiri. Dia berharga dari siapa pun dan aku takkan pernah rela ia terluka.

Aku tetap berjalan menuju tempat selanjutnya yang akan Ran tuju. Ran tiba – tiba saja terdiam dan menatap ingin pada sepasang kekasih sekitar 10 meter dari kami. Pemuda dengan rambut berantakan dengan kaos biru dengan jeans, lengkap dengan sepatu cats berwarna biru. Pemuda itu bersama seorang gadis yang cantik dengan seragam sekolahnya sedang bercanda tawa, si gadis terlihat sangat gembira. Aku rasa pemuda itu jago sulap dilihat dari permainan yang ia tunjukan pada—pacarnya mungkin, eh? Lalu, kenapa Ran segitu seriusnya mengamati mereka?

"Ran, Kau tak puas jika hanya denganku, hm?" Kalimatku mengacaukan pandangan intens-nya pada pasangan itu.

"Eh? Shin-kun? Kau cemburu?" Ia kembali menatapku innoncent.

"Aku …bercanda kok, kau mau memperhatikan siapa saja aku tak peduli," Oh, aku tau apa reaksi Ran setelah ini.

"OK!" Yak, Ran pergi berlari dari sisiku.

"Ran! Aku bercanda! Serius!" Mau tak mau aku mengejarnya, meski Ran tak berhenti.

"Ran! Tunggu!" Ran terdiam, kemudian berbalik kearahku. Dengan wajah yang masih saja tertekuk. Ran mengayunkan tangannya ….

PLAK

"Aw! Ran, apa yang kau lakukan?" Aku tak bisa terima dengan tamparan ini.
"Huh!" Hanya itu responnya. Sepertinya aku harus mengalah kali ini.

"Ran, kau tak mengerti ya kalau aku hanya bercanda .." ucapku dengan tenang. Ran kembali menatapku bingung. Entah sudah berapa kali aku membuat Ran bingung dengan kalimatku.

"Kau ingat tidak, kapan kau bertemu denganku?" tanyanya.

"10 Oktober, setahun lalu. Saat kau sedang melukis diriku, eh?" Ku dapati Ran kembali tersenyum.

"Aku tak mungkin lupa. Semuanya. Aku tak pernah terbesit untuk melupakannya. Semua kenangan bersamamu. Jadi, jangan pernah bertanya 'Kau ingat?' padaku lagi. Karena kamu juga mengingatnya, maka aku akan mengingatnya." Ran semakin tersenyum. Kami-sama … Dia sangat cantik. Aku secara spontan mencium puncak kepalanya dengan lembut dan sedikit menurun menuju keningnya.

BLUSH!
Wajah Ran sangat merah.

"Aku selalu memperhatikanmu dari awal. Jadi, kamu bisa menjadi dirimu sendiri, Ran" Ku lepas ikatan rambut Ran yang membuatnya tergerai indah, dan memberikannya sebuah flat shoes yang iseng ku beli saat membeli crepes tadi. Kemudian, mengambil tangannya dan menyisipkan cincin berwarna silver yang terukir sebuah tanggal, 10-10. Tanggal pertemuan kami.

"Anggap saja dengan ini kita sudah tunangan." Aku masih menatap cincin yang telah tersemat. Yak, sudah cocok dengannya.

"Arigatou~!" Dia mengahambur kepelukanku. Aku hanya mengelus kepalanya sejenak dan mengajaknya pulang. Hari sudah malam dan aku enggan mendengar ocehan Paman Kogoro.

Tanganku mentautkan tangannya. Gerakan spontan yang tak ada ijin dari otakku. Dan lagi – lagi, Ran menatapku seolah ingin bertanya.

"Aku hanya ingin saja!" jawabku malu. Dan ku pikir ia akan melepaskan genggamanku. Ah tapi, ketika aku sadar, Ran malah mengenggamku balik.

Kami-sama … Ran memanglah gadisku yang terbaik!

T.B.C


Gimana?

Pendek?

Gaje?

Aneh?

Review ya minna, onegai! makin banyak reviewnya, aku makin semangat buat update! Jaa nee!

Rise

and

Shine

TogeHattori