Sebuah fiksi untuk meramaikan #NijiAkaWeek2K16

Day 2Captain / Family.

Note: 23y.o!Nijimura, 22y.o!Akashi. Kuroko Setsuna dalam fiksi ini adalah anak dari Kuroko (22y.o) dan Momoi (22y.o). Dan di fiksi ini, Kuroko dan Seishina adalah saudara sepupu.

Enjoy the story!

Maksud hati ingin berkencan, apa daya keponakan sang pacar menghadang.

Shuuzo mendengus jengkel. Bibirnya maju beberapa senti melihat sang kekasih, Akashi Seishina, mengabaikannya. Gadis berambut merah itu malah asik bermain dengan makhluk mungil bermata besar yang berisik menggumamkan sesuatu yang tak jelas. Oh, maksud Shuuzo, keponakan Seishina yang bernama Kuroko Setsuna.

Berbagai macam cara sudah dicobanya untuk menarik perhatian sang kekasih. Namun tak ada satupun yang berhasil. Perhatian Seishina benar-benar hanya tertuju pada keponakannya seorang. Memang, terdengar tak masuk akal jika ia merasa tersisih hanya karena Seishina jauh lebih memperhatikan Setsuna. Setsuna baru menginjak usia satu tahun bulan Januari lalu, jelas membutuhkan perhatian lebih ketimbang Shuuzo yang sudah berusia kepala dua.

"Nijimura-san, bisa tolong jaga Setsuna sebentar? Aku mau membuatkan susu untuknya, sepertinya dia haus."

"Oke."

Tanpa protes, Shuuzo beranjak dari sofa ruang tamu apartemen Seishina, lalu mendudukkan diri di dekat tubuh gembul Setsuna. Mata besar Setsuna menatapnya saat menyadari ada orang lain yang menggantikan Seishina di dekatnya. Shuuzo balas menatapnya dengan kening berkerut, mulai merasa was-was. Makhluk sekecil ini biasanya menangis saat ada orang asing muncul didekatnya. Dan kalau sampai Setsuna menangis karenanya, Seishina pasti marah padanya.

Sudah batal kencan, kena marah pula. Pasti menyebalkan.

Shuuzo lalu mengedarkan pandang ke sekeliling, lalu menyambar bola karet yang tergeletak tak jauh darinya dan menunjukkannya pada Setsuna. "Err—mau main?" tanyanya, ekstra hati-hati. Setsuna kecil mengerjapkan mata selama beberapa saat, lalu melonjak kecil sambil tertawa dengan kedua tangan terangkat. "Ain!"

Sebuah cengiran muncul di wajah Shuuzo. Agaknya, respon Setsuna barusan membuatnya luar biasa senang. Setidaknya, itu pertanda bahwa Setsuna tidak takut padanya, kan?

Digulirkannya bola karet itu pada Setsuna. Mata Setsuna tampak berbinar senang saat bola karetnya bergulir menghampirinya. Tangannya yang kecil dan gemuk berusaha meraih bola tersebut—Shuuzo lalu dibuat kaget saat Setsuna tiba-tiba saja melempar bolanya dengan asal hingga bergulir ke arah dapur. Shuuzo lalu beranjak, bermaksud mengambilkan bola tersebut. Namun diurungkannya saat ia melihat Setsuna merangkak cepat menyusulnya. Jadilah ia berjongkok di depan pintu menuju dapur sembari menunggu Setsuna kecil sampai di depannya.

"Wah—kalian sedang bermain?"

Shuuzo dan Setsuna sama-sama mendongak saat keduanya mendengar suara Seishina. Shuuzo tampak menggaruk belakang kepalanya sambil nyengir, sementara Setsuna kembali melonjak senang sambil meneriakkan kata 'ain!'.

Seishina tertawa kecil, lalu membungkuk untuk menggendong Setsuna, yang dengan senang hati mengulurkan kedua tangannya ke atas—pertanda minta digendong. "Oke, mainnya sudah dulu, ya? Setsuna harus minum susu lalu tidur."

Shuuzo lalu beranjak berdiri dan mengacak rambut Setsuna lembut—sementara si balita tertawa-tawa ceria entah karena apa. Ia lalu beralih menatap Seishina, "Kutunggu di ruang tengah, oke?" katanya sambil mengedikkan dagu ke arah ruang tengah. Seishina mengangguk untuk mengiyakan, sebelum beranjak menuju kamarnya.

Shuuzo kembali mendudukkan dirinya di sofa. Pandangannya tertuju pada layar televisi, namun sepertinya pikirannya melayang ke hal yang lain. Bermain bersama Setsuna membuatnya berpikir tentang susuatu yang tak pernah dipikirkannya sebelumnya; kira-kira, bagaimana rasanya menikah dan mengurus darah dagingnya sendiri?

"Setsuna sudah tidur?"

Seishina mengangguk, lalu mendudukkan dirinya di samping Shuuzo. "Nijimura-san sedang menonton apa?"

"Baby's Day Out—eh, maaf aku mengobrak-abrik rak kasetmu."

"Tidak masalah." Gumamnya singkat, sementara ia menyandarkan kepalanya pada pundak Shuuzo. "Aku tidak tahu Nijimura-san suka film seperti ini?"

Shuuzo beralih menatap gadisnya. Iseng mendaratkan sebuah kecupan ringan di pelipisnya sebelum menjawab. "Baru saja tertarik setelah melihat Setsuna, sejujurnya." Ujarnya sambil nyengir. Seishina mendengus geli mendengarnya. "Kenapa? Nijimura-san ingin punya anak?"

"Hanya membayangkan." Shuuzo meralat kalimat Seishina. Matanya masih mengamati bayi kecil yang berkeliaran di tengah kota dalam film tersebut. "Bagaimana ya, anak kita di masa depan?"

Mendengar kata 'anak kita' dalam kalimat Shuuzo, membuat Seishina merona. Fakta bahwa Shuuzo membayangkan adanya Seishina dalam bayangan masa depannya membuatnya senang. "Entahlah. Mungkin nakal seperti Nijimura-san?"

"Aku nakal? Enak saja." Shuuzo mendengus, tak terima dikatai nakal. "Anak kita nanti pasti pemimpin yang hebat. Seperti ayahnya."

"Hmm. Pemimpin yang hebat tidak memukuli anggota timnya, Nijimura-san."

"Haizaki membutuhkan perlakuan khusus agar tahu yang namanya disiplin."

"Oke, oke." Seishina terkekeh pelan, memutuskan untuk mengalah karena memang yang dikatakan Shuuzo itu benar adanya. "Kapten Nijimura memang yang terbaik."

"Tunggu saja." Nijimura merengkuh Seishina dalam sebuah pelukan, menatap mata sang kekasih dengan kilat antusias yang nyata. "Sebut aku hebat kalau aku berhasil memimpin keluarga kecil kita suatu hari nanti, Akashi."

Seishina lagi-lagi merona, merasa sangat bahagia mendengar kalimat kekasihnya. Dipeluknya tubuh Shuuzo erat-erat. "Ya, Kaptenku."

[END]