5016
Author POV
Ada seekor kucing berwarna abu-abu sedang asyik bermain dengan teman sesama kucingnya yang berwarna putih. Mereka memainkan boneka-boneka yang sudah tidak berbentuk lagi rupanya dan saat ini mereka berada di sebuah rumah yang bisa dibilang sudah tidak seperti rumah. Banyak lumut di bagian atapnya, bahkan di bagian temboknya juga sudah tumbuh makhluk hidup baru, yaitu tanaman liar. Banyak debu dimana-mana. Atapnya juga sudah jebol. Sepertinya rumah ini habis di terpa angin topan. Jika kita lihat dari luar, mungkin orang-orang tidak akan tahu disini ada sebuah rumah. Tanaman liar, juga pohon-pohon yang menjulang tinggi berhasil menyembunyikan rumah ini dengan baik.
"MEEEOOOOOWWW!"
Terdengar teriakan 2 kucing yang tadi bermain boneka. Kucing-kucing itu berlari serampangan keluar rumah. Ada cahaya yang menyeruak dari sebuah ruangan. Apakah itu yang mereka takutkan? Cahaya itu lama-lama meredup. Dan mari kita buka pintunya. Terlihat ada sebuah tempat telepon umum disana. Dan sepertinya benda itulah yang tadi bercahaya. Pintu tempat telepon itu terbuka, memperlihatkan seorang gadis yang tidak sadarkan diri tergeletak di lantai.
"meow"
Seekor kucing berwarna abu-abu kembali. Sepertinya kucing itu penasaran dengan apa yang terjadi. Kucing itu berjalan dengan perlahan mendekati gadis itu. Gadis itu Eunhyuk, kalian masih ingatkan? Gadis yang berminggu-minggu berusaha untuk menciptakan bagian yang hilang dari mesin waktu yang berupa telepon umum itu. Sekarang dia disini, di tahun 5016.
EUNHYUK POV
Basah. Apa ini? Kenapa wajahku seperti diolesi air?
Kubuka mataku perlahan-lahan menyesuaikan penglihatanku di tempat yang pencahayaannya minim sekali ini. Setelah kulihat-lihat, ada dua mata yang sedang memperhatikanku dari dekat. Mata kucing?
Aku berusaha mendudukan diriku yang semula berbaring. Aku masih berada di mesin waktu sepertinya. Tapi kenapa gelap sekali disini? Ah, Eunhyuk bodoh. Ruangan ini kan memang sangat gelap. Aku berdiri dari sikap dudukku, lalu melangkah keluar dari mesin waktu ini dan membuka pintu ruangan khusus mesin waktu dan menuju ke ruang tengah.
'Crieeeettt'
Pintu terbuka. Dan
"Apa-apaan ini? RUMAAAAAAHKUUUU ?" *zudah makan dulu zana #iklan XD*
Kenapa jadi seperti ini? Rumahku benar-benar rusak, atap berjatuhan dimana-mana. Bahkan sekarang penyinaran ruangan ini tidak menggunakan lampu lagi, sekarang langsung dari sumber cahaya bumi, yaitu matahari. Bagaimana bisa? Aku pergi ke kamarku. Dan yang kutemukan tidak beda jauh dengan apa yang kutemukan di ruang sebelumnya.
Tunggu sebentar.
Bukankah aku ada di masa depan sekarang? Dan ini adalah rumahku yang ada di masa depan? Lalu aku tinggal dimana? Dan, kenapa aku ke masa depan? Apakah ada sesuatu yang kucari? Kenapa mendadak aku jadi pikun begini.
Aku keluar dari kamarku dan mencoba meneliti satu persatu bagian dari rumahku. Aku berjalan pelan kearah pojok ruang tengah ini. Ada kerangka jam pasir disini, seperti biasa. Tapi, kemana perginya 3 cahaya yang berputar itu? Dan disini juga ada sebuah tempat tidur. Bantal dan seprei yang semula berwarna putih sekarang telah menjadi sangat kotor. Dan ada yang ganjil. Dulu sepertinya ada seseorang yang akan selalu berbaring disini. Kemana perginya dia?
Seseorang?
"PANGERANKU HILANG" jeritku frustasi.
Aku ingat! Aku ke masa depan untuk bertemu dengan 'pangeran'ku. Tapi dimana dia sekarang? Oh, sial! Dimana aku harus mencarinya? Kota ini sangat besar!
Dan
Bagaimana dengan rupanya? Kenapa tiba-tiba aku melupakan wajah yang tidak mungkin kulupakan? Kupejamkan mataku, mencoba mengingat-ingat wajahnya. Wajah yang selalu kukagumi. Wajah yang selalu bisa menghilangkan penatku dengan hanya melihat wajahnya. Wajah yang ingin sekali kulihat menampilkan senyuman di bibirnya dan kedua kelopak mata yang terbuka, menatapku.
Aku mendudukan tubuhku pasrah di atas tempat tidur. Rasanya seperti ingin menangis jika aku mengetahui aku tidak punya siapa-siapa di masa ini. Di masa yang lalupun aku tidak punya kenalan sama sekali. Yang kulakukan hanya membaca dan membaca hanya untuk menciptakan kembali bagian yang hilang dari mesin waktu itu.
Aku menutup kedua wajahku, dan mulai terisak pelan. Aku takut, aku benar-benar takut jika harus sendirian di dunia ini.
"Meow"
Kudengar suara kucing dan bersamaan dengan itu kurasakan juga bulu-bulu yang mengelus-elus kakiku. Ku turunkan kedua tanganku. Terlihat kucing berwarna abu-abu sedang bermanja-manja di kakiku. Lalu dia mendongakkan kepalanya, menatapku dan mengucapkan "meow" berkali-kali. Matanya seperti memberitahuku, bahwa semua akan baik-baik saja.
Apalagi sekarang? Aku sudah mulai gila dengan mengartikan tatapan kucing ini. Tapi, mungkin kucing ini akan menjadi teman pertamaku di masa ini. Jadi tidak apa-apa. Aku menekuk lututku lalu mulai mengelus bagian dagu kucing abu-abu ini. Dia hanya mendongak dan memejamkan matanya.
"Hai, manis. Kenapa kau bisa ada disini?" tanyaku pada sang kucing walaupun aku tau dia tidak akan menjawabnya. Kalaupun dia menjawab sudah pasti aku akan segera pergi menjauh darinya. Dia tidak menjawab dengan kata "meow" melainkan dengan suara dengkurannya.
"Biarkan aku memberikan nama untukmu." Ucapku lagi dan menghentikan elusanku pada dagunya.
Dia membuka matanya menatapku dan membalas perkataanku dengan kata "meow"nya.
"Heebum. Bagaimana?"
"Hee itu ibuku, Kim Heechul. Dan Bum itu ayahku, Kim Kibum." Aku memberinya nama dengan wajah sumringah. Aku jadi ingat ayah dan ibu.
Ibuku adalah seorang ibu rumah tangga biasa. Yang selalu ada saat aku pulang bermain, pulang sekolah, Ibu akan selalu ada. Tapi, ibu meninggal saat aku berusia 13 tahun karena kecelakaan. Waktu itu aku sangat sedih, hampir seminggu aku tidak mau makan, tidak mau keluar rumah, dan sering marah-marah pada orang-orang disekitarku. Ayahku yang selalu berusaha menenangkanku, membuatku kembali ceria dan yang membuatku percaya bahwa sebenarnya ibu tidak pergi. Dia akan selalu ada dipikiranku, dihatiku dan pastinya dia juga kan selalu menjagaku dari jauh sana.
Ayahku adalah seorang penemu mesin waktu yang baru saja aku gunakan. Dia ayah yang hebat. Aku sangat menyayanginya. Dia akan selalu ada saat aku berulang tahun dan selalu akan memberikan aku banyak kejutan. Dan kejutan yang sangat membuatku terkejut dan sangat membuatku kehilangan yang sangat amat besar untuk kedua kalinya.
FLASH BACK ON: 8 YEARS AGO*Disini umurnya Eunhyuk udah 25 ya jadi kalo di flashback jadi 17 tahun*
"Ayah mau kemana?" tanyaku pada ayahku yang hendak memasuki ruang kerjanya dengan membawa koper kecil di tangannya.
"Ayah ingin mencoba mesin waktu ayah, hyukkie. Bagaimana? Ayah hebatkan? Ayah bisa menciptakan mesin waktu yang ayah impikan dari kecil." Ayahku bersorak ria dengan mata berbinar binar. Jarang sekali aku melihat ayah sangat senang seperti ini. Aku jadi ikut senang.
Ayah melanjutkan jalannya memasuki ruang kerjanya. Dan aku mengikuti dari belakang.
"Boleh aku ikut ayah?" tanyaku lagi
"Tidak." Tolak ayahku seketika. "Ayah masih takut dengan keselamatan mesin waktu ini. Daripada memakan 2 korban, lebih baik satu saja." Lanjut ayahku yang mulai berubah serius dengan membolak balik kertas yang berada di tangannya setelah menaruh kopernya di dekat mesin waktu.
"Lebih baik tidak ada korban sama sekali ayah!" Jawabku dengan nada yang sedikit di tinggikan. Mana bisa ayah mengatakan seperti itu?
"Ayah juga ingin meninggalkanku? Ayah ingin aku sendirian di dunia ini? Kenapa ayah tega sekali!" aku mulai terisak pelan dan ayah hanya bisa menatapku dengan wajah sendu.
"Bukan begitu hyukkie." Ayah berjalan mendekatiku lalu dia memelukku dan mengelus punggungku. Mungkin dia ingin aku lebih tenang. "Ayah ingin…... ingin sekali membuat mesin waktu ini dan mencobanya sendiri dulu. Kau kan tahu butuh berapa tahun ayah menyelesaikan ini. Dan tentu saja kau boleh menggunakannya, tapi ini masih uji coba hyukkie. Dan ayah akan menuntaskan hasil uji coba ini dengan mencobanya dulu. Dan ayah janji ayah pasti akan kembali." Ayah melepaskan pelukannya padaku. Dan menghapus air mata yang masih mengalir di pipiku.
"Ayah janji?" aku mengacungkan jari kelingkingku pada ayah. Ayah terkekeh pelan lalu mengaitkan kelingkingnya di kelingkingku.
"Ayah janji." Ujarnya.
"Ayah tidak akan meninggalkanku kan?"
"Ayah tidak akan meninggalkanmu."
"Aku tidak akan sendirian kan?"
"Mungkin, untuk 2 hari ke depan kau akan sendirian." Ayah mencoba untuk sedikit bercanda yang ku tanggapi dengan wajah masam. "Tapi pasti seterusnya tidak akan sendirian" lanjutnya.
"Tapi 2 hari lagi aku berulang tahun yang ke 17. Ayah berjanji untuk selalu ada saat aku berulang tahun" jawabku tidak terima karena akan ditinggal selama 2 hari, apalagi hari itu adalah hari ulangtahunku.
"Ah benar juga. Kau akan berulang tahun." Kata ayah membenarkan.
Ayah mulai berpikir. Mungkin dia berpikir untuk membatalkan perjalanannya atau malah akan mengajakku.
"Ayah tidak mungkin membatalkan percobaan ini. Karena ayah sudah merencanakannya jauh-jauh hari. Dan ayah masih tidak bisa membawamu ikut walau itu permintaanmu sebagai hadiah ulangtahun, ayah tidak bisa" aku memajukan mulutku kesal. Semua pikiranku tentang keputusan yang akan ayah ambil semuannya salah besar.
"Ah, ayah akan kembali sebelum hari ulangtahunmu usai. Dan seperti biasa, ayah akan membawakanmu kejutan. Bagaimana?" aku mengelus daguku, berusaha untuk mempertimbangkan.
"Baiklah ayah ku izinkan untuk pergi walau aku tidak rela. Tapi ayah harus menepati semua janji ayah. Dan jika ayah tidak menepati satu saja dari janji-janji ayah barusan. Sudah kupastikan ayah akan mendapatkan hukuman" jelasku.
Ayahku mengacungkan jempolnya dan mulai berbenah. Aku hanya bisa berdiri di depan pintu ruang kerja sambil memperhatikan ayahku yang mulai selesai berbenah. Ayah menghampiriku dan mengecup pelan keningku.
"Ayah pergi dulu. Jaga rumah baik-baik ya. Ayah pasti kembali." Ayah berjalan menuju ke mesin waktu. Ada perasaan tidak rela saat ayah mulai menjauh dariku. Dan tanpa kusadari aku mulai terisak lagi.
Ayah memasuki mesin waktu dan mulai menekan tombol-tombol yang ada disana. Setelah itu mesin waktu itu berputar lambat. Dari mesin waktu ayah melihatku, dia melambaikan tangannya lalu seperti mengusap-usap matanya menggunakan kedua tangannya. Aku menegerti. Dia menyuruhku untuk tidak menangis. Kulakukan hal yang sama, mengusap air mataku dan ikut melambaikan tanganku. Aku harus percaya pada ayah, bukan? Lagipula ayah bukan orang yang suka berbohong. Jadi aku hanya harus percaya
FLASH BACK OFF
Dan seperti yang sudah kalian duga, ayah mengingkari janjinya. Dia tak kembali dan dia meninggalkanku sendirian di dunia ini. Setelah ayah pergi, aku hidup sendiri. Kalian tanya kenapa aku tidak tinggal dengan bibi atau pamanku? Karena ayah adalah orang yang 'Workaholic', ayah sangat jarang berkomunikasi dengan sanak saudaranya dan menyebabkan aku sama sekali tidak dekat dengan sepupu-sepupuku yang membuatku terpaksa hidup sendirian diumurku yang 17 tahun.
Ah, tapi ayah tidak benar-benar meninggalkanku sendiri.
Tepat 5 menit sebelum hari ulangtahun ku usai
Ayah kembali
FLASH BACK ON
22:45
"Apa-apaan ini? Kenapa ayah belum pulang juga? Hari ulang tahunku hampir usai."
Sudah selama 2 jam aku mondar-mandir di depan mesin waktu. Berharap bahwa mesin waktu itu bersinar atau berputar atau terserah apa yang akan dilakukan mesin waktu itu yang penting dia membawa ayah dengan selamat.
23:54
"Kau membuatku khawatir ayah"
Aku berhenti mondar-mandir dan hanya bisa menatap nanar pada mesin waktu itu. Bahkan air mata sudah menggenang di pelupuk mataku
23:55
Tiba-tiba mesin waktu itu bersinar. Aku tersenyum senang melihatnya, ternyata doaku dikabulkan. Aku berusaha tetap membuka mataku untuk melihat sosok ayahku yang sudah tak terlihat selama 2 hari ini. Tapi cahaya itu terlalu silau. Dengan terpaksa aku menutup mataku.
Saat dirasa cahaya itu tidak terlalu silau, aku membuka mataku perlahan. Senyumku memudar begitu saja tergantikan dengan rasa khawatir saat melihat ayah terjatuh di dalam mesin waktu.
"Ayaaah! Ada apa dengan ayah?" aku berteriak histeris dan membuka pintu mesin waktu.
Air mata lolos begitu saja dari mataku saat melihat ayah, ayahku bersimbah darah. Bajunya yang putih seperti di beri pewarna pakaian yang berwarna merah pekat. Lukanya ada dimana-mana. Wajah, tangan, kaki, perut hampir diseluruh tubuhnya terdapat luka. Kacamata yang ia gunakanpun sudah pecah bagian kaca kanannya.
"Ayah." Aku mendekati ayahku. Merangkak dan memegang kedua tangannya.
"Kenapa ayah begini?" aku terus menangis tanpa ada keinginan untuk berhenti. Aku tidak berharap ayah kembali dengan keadaan seperti ini.
"Ke..napa? Aya..h sudah.. hah.. kemb…bali. Jangan menang..is" kata ayah dengan nafas yang putus-putus dengan sebelah tangannya yang mengusap air mataku yang terus mengalir.
"Ayah berjanji untuk tidak meninggalkanku. Ayah harus bertahan!" aku menggengam tangan ayah yang berada di wajahku.
"Aku akan mencari bantuan. Ayah disini, jangan pergi ayah." Aku segera berdiri dan berencana untuk keluar untuk mencari bantuan.
"Tidak perlu." Ayah menatapku dengan tatapan lembutnya yang membuatku malah tambah gencar menambah debit air mataku. Dia menarik lenganku pelan. Aku kembali duduk dihadapannya.
"Ayah, membawa kejutan." Suara ayah sudah mulai sedikit menenang. Mudah-mudahan bertanda baik.
"Aku tidak perlu kejutan. Ini sudah sangat mengejutkanku ayah!" tolakku dengan masih terus menangis.
Ayah menanggapinya dengan senyum kecil di bibirnya lalu melirikkan matanya ke sebelah kanannya. Aku ikut menolehkan kepalaku. Ada seorang pria mungkin seumuran denganku, dia terlihat sama mengenaskannya dengan ayahku. Tapi luka yang diderita ayah masih banyak daripada pria ini. Dia menutup matanya, sepertinya dia tertidur atau mati? Tapi bagaimana bisa aku tidak menyadarinya yang berada di dalam mesin waktu ini juga?
"Ayah mau-" aku kembali menghadapkan kepalaku ke ayah saat mendengar ayah mulai berbicara lagi.
"Ayah mau kau menjaganya." Ayah menatapku sangat dalam. "Ayah membawa hadiah untukmu dengan membawa jodohmu untuk selalu menjagamu. Sangat mengejutkan bukan." Bibir ayah tertarik keatas membentuk sebuah cengiran. Cengiran bercanda atau kesakitan?
"Ini tidak lucu ayah." Aku benci melihat ini. Melihat ayah kesakitan. Walau ayah berusaha menyembunyikannya, itu semua sia-sia karena terlalu terlihat jelas.
"Pria ini hanya akan bangun-" ayah mengambil nafas panjang lalu meneruskan "saat kau sudah beranjak dewasa."
Aku mengerutkan keningku bertanda aku bingung. Apa maksud ayah?
"Berjanjilah untuk menjaganya." Aku menganggukkan kepalaku.
"Dan-"
"Berhentilah bicara ayah. Kau sedang sekarat! Biarkan aku mencari bantuan." Interupsiku memotong perkataan ayah.
Ayah menjulurkan kedua tangannya dan menangkup wajahku. Mengelusnya perlahan, seakan-akan tidak ada tenaga yang tersisa.
"Selamat ulang tahun, hyukkie" dia memberikan senyuman yang sangat tulus, dan tanpa beban sama sekali. Tiba-tiba tangan yang menangkup wajahku terjatuh, dan perlahan ayah menutup kedua matanya.
"Ayah! Jangan membuatku takut! Ayah bangun!" aku mulai menggerakkan tubuhnya agar ia terbangun. Tapi apa yang kudapat, nihil. Ayah tidak akan pernah bangun lagi.
"Ayah"
FLASH BACK OFF
Dan aku tidak benar-benar sendiri di dunia ini. Karena dia, 'pangeran'ku selalu ada di rumahku. Dengan tanda-tanda yang tidak jelas dia akan terbangun atau tidak.
"Meow"
Suara Heebum membuatku tersadar dari lamunanku.
"Ah, kenapa aku jadi mengingat masa lalu begini? Yang lalu biarlah berlalu." Aku memukul pelan kepalaku. Heebum memperhatikanku dengan tatapan yang lucu. Aku tersenyum melihat tingkahnya
"Sekarang apa yang harus aku lakukan? Aku tidak punya siapa-siapa di dunia ini. Jadi aku tidak punya tujuan kemana-mana selain ke rumah ini" Aku berbicara pada Heebum atau lebih tepatnya pada diriku sendiri? Ah biarlah
Seperti mengerti maksudku Heebum berjalan menuju pintu utama rumah ini, lalu berhenti di depan pintu dan mengeong-ngeong. Aku hanya bisa berdiri dan berjalan menuju ke arahnya. Tapi setiap kali aku berjalan kearahnya, dia akan melangkah maju lagi. Berarti kucing ini ingin aku tuk mengikutinya.
.
.
Dan disinilah aku, di jalanan kota yang sangat padat masih dengan mengikuti Heebum yang masih berjalan didepanku. Kotaku banyak berubah. Banyak sekali gedung-gedung pencakar langit di sekitarku tapi disekitarnya masih tampak banyak pohon-pohon yang mengelilingi jadi masih sedikit tampak asri. Banyak orang lalu lalang disekitarku juga. Sepertinya kotaku sudah menjadi kota yang sangat padat.
Aku masih mengamati sekitarku, gedung-gedung berwarna-warni ini menarik perhatianku untuk melihat kearah mereka, sampai aku tertuju pada sebuah gedung yang terlihat sangat tua dan terlihat sangat kontras dari gedung-gedung disekitarnya. Aku berhenti berjalan. Tanpa sadar aku melangkahkan kakiku menuju gedung tua itu. Kenapa perasaanku mengatakan bahwa aku sudah pernah ke gedung tua ini?
Kuhentikan langkahku tepat di depan pintu besar nan berat yang mempunyai tinggi kira-kira 4 meter itu. Pintu ini juga sangat familiar. Aku mulai mendorong pintu itu dengan sepenuh tenaga. Hei, aku sudah bilang pintu ini berat kan. Setelah berhasil kubuka, berderet-deret rak bukulah yang menyapaku. Tempat ini, Perpustakaan?
"Nona, apa yang dibelakang itu kucing anda?" ucap seorang pria dibalik meja bertanya padaku.
Kucing?
Heebum!
Kubalikkan badanku dan benar saja Heebum ada dibelakangku. Kutepuk jidatku pelan. Kenapa aku bisa lupa kalau tadi aku sedang mengikuti Heebum dan tanpa sadar berjalan meninggalkannya.
"Tapi maaf nona, anda tidak diperbolehkan membawa hewan peliharaan ke dalam perpustakaan." Tegur wanita yang tadi ada disebelah pria itu.
Kubalikkan tubuhku lagi menghadap 2 orang itu dan membungkuk untuk meminta maaf.
"Maafkan saya. Saya tidak tahu kalau kucing saya mengikuti saya sampai kemari. Sekali lagi maafkan saya. Permisi" aku menundukkan kepalaku lagi lalu keluar dari perpustakaan ini.
"Haaah…" aku menghela nafasku panjang. Kulihat kucing itu memandangku dengan tatapan bertanya dan mengeong-ngeong seolah-olah sedang bertanya.
Aku masih di perpustakaan tapi tidak didalam melainkan di luar dan tepat di depan pintu masuknya sekarang. Aku berjongkok agar aku bisa melihat Heebum lebih dekat. Kuelus bagian puncak kepala Heebum pelan.
"Kenapa kau mengikutiku? Seharusnya kau kan bermain dengan teman-temanmu sesama kucing jalanan." Aku berbicara dengan Heebum dan Heebum mengeong tidak suka.
"Benar juga. Jika kau bermain dengan temanmu malah aku yang tidak punya teman." Heebum mengeong senang membuatku tersenyum melihatnya. Biarlah orang mau berkata apa, yang penting aku punya 'seseorang' yang bisa kuajak bicara.
Kryuuuuk
"Aggh…." Perutku berbunyi keras. Lapar sekali rasanya. Sepertinya aku belum makan dari 2 hari yang lalu. Karena terlalu sibuk menyelesaikan mesin waktu aku lupa makan. Aggh ini sangat menyiksaku.
Aku merogoh kedua kantong celanaku. Tidak ada uang. Aku meraih dan membobol isi tasku. Pasti aku bawa dompetkan. Ah ketemu. Kubuka isinya cepat. Dan hanya selembar 5000 won yang kutemukan. Apa apaan ini, kenapa hanya ada satu? Bagaimana aku bisa hidup dengan selembar uang 5000 won? Apa-apaan ini?
"Meeong?" Heebum kembali mengeong dengan tatapan bertanya. Dan sebagai 'teman' yang baik aku harus menjawab pertanyaannya.
"Lihat, aku hanya punya uang 5000 won." Jawabku lesu. "Apalagi sekarang adalah jaman yang sudah maju pasti banyak barang sekaligus makanan yang sudah naik harganya, Heebum. Apa kau punya uang?" aku mengedahkan tanganku padanya. Aku benar-benar gila sekarang. Aku minta uang pada kucing!
"Boleh saja berbicara. Tapi kau benar-benar tidak waras jika meminta uang kepada kucing." Ada sebuah suara yang menginterupsiku. Kulihat kedepan, samping kanan kiri tidak ada siapa-siapa. Atau jangan-jangan
"HEEBUM KAU BICARA!" Aku kaget. Seperti yang sudah kukatakan jika dia menjawab perkataanku aku akan pergi menjauh.
"Meeoow?" heebum memiringkan kepalanya bingung. Sedangkan aku hanya memandangnya ngeri.
Sebelum aku benar-benar berjalan mundur dari hadapannya, aku menabrak sesuatu di belakangku. Ah iya, belakangku kan pintu. Tapi, sepertinya ini bukan pintu. Aku merabanya. Ini, kaki?
"Apa yang kau lakukan?" ucap suara yang tadi. Aku mendongakkan kepalaku. Ada wajah seorang pria yang sedang menundukkan kepalanya menatapku kaget. OMMO!
"Mianhamnida. Aku benar-benar tidak tahu, sungguh! Maafkan aku." Aku segera bangkit dan menundukkan kepalaku berkali-kali. Kenapa setiap kali bertemu dengan 'manusia' aku harus meminta maaf begini?
"Eunhyuk?" tanya pria itu pelan.
Eh? Dia tahu namaku? Bagaimana bisa? Aku kembali mendongakkan kepalaku dan menatapnya heran. Tapi dia malah memasang tampang yang sangat terkejut dan tak peracaya bahwa aku akan bisa berada disini, dihadapannya.
BRUUK
"Eggh.." Pria itu berlari kearahku dan langsung memelukku yang membuatku bertambah sangat heran. Apa-apaan pria ini?
"Akhirnya kau datang juga." Kata pria itu samar-samar masih dengan memelukku.
Apa maksud perkataannya barusan? Apakah dia menungguku? Tapi, kenapa menungguku? Apakah mungkin dia temanku di masa lampau? Kalau memang iya, bagaimana aku tidak bisa mengingatnya? Ini tidak mungkin. Aku berusaha melepaskan pelukannya. Atau mungkin dia adalah
'PANGERAN'ku ?
"Nuguseyo?" tanyaku penasaran saat aku sudah berhasil lepas dari pelukkannya. Tapi apa yang kudapatkan? Dia hanya memamerkan senyumannya yang sumringah.
"Aku Cho Kyuhyun, temanmu dari 6 tahun yang lalu. Dan yang telah membantumu menyelesaikan mesin waktumu sampai kau sudah berada disini di umurmu yang sudah 25 tahun." Jelasnya tanpa perlu aku memintanya.
Ternyata bukan pangeran. Sudah kuduga karena wajahnya benar-benar asing. Tapi. Temanku? Aku punya teman ternyata? Oh, heck! Kenapa aku tidak bisa mengingatnya sama sekali.
"Tidak usah terlalu keras berpikir. Anggap saja kita baru saja berkenalan dan sekarang kita menjadi teman, bagaimana?" interupsinya saat aku masih berusaha untuk mengingatnya.
"Mari ikut aku." Dia menarik tanganku menjauh dari perpustakaan sebelum aku sempat menjawabnya. Dan aku hanya bisa pasrah membiarkannya menarik tanganku.
.
.
"Ya, kau itu lapar atau lapar sih?" tanya Kyuhyun –yang mengaku sebagai temanku di masa lampau– kepadaku yang sedang serius-seriusnya (?) dengan makanan di depanku.
Sekarang kami sedang berada di kafe pinggir jalan menikmati makanan yang sekarang sudah berada di hadapan kami. Aku tidak tahu kenapa dia menarikku kesini. Atau mungkin dia tahu aku lapar? Ah, teman yang baik.
"Aku lapar. Maaf jika mengganggu." Aku nyengir kuda kepadanya dan melanjutkan makanku dengan lebih santai.
"Berhentilah berkata maaf. Itu bukan salahmu, kau tau." Ucapnya sambil masih memperhatikanku.
Dia mengamatiku dari bagian bawah sampai atas. "Kau kotor dan tidak rapi." Ucapnya pelan tapi masih bisa kudengar.
Aku mengamati bajuku yang lusuh dan banyak noda kotoran di beberapa tempat. Lalu aku mengalihkan pandanganku kearah Kyuhyun.
"Rumahku sudah tidak bisa dibilang tempat yang bersih dan dapat di tinggali lagi. Dan baru saja aku menerjang banyak rumput liar di sekitar rumahku. Jadilah aku kotor seperti ini. Kau tau apa yang terjadi pada rumahku?" tanyaku pada Kyuhyun yang masih terus mengamatiku.
"2 tahun lalu, ada bencana alam yang menerjang kota ini. Badai angin topan dan gempa bumi. Banyak dari rumah-rumah yang hancur tidak tersisa. Rumahmu itu masih lebih baik karena hanya atapnya saja yang roboh-"
"Hanya atapnya bagaimana? Dindingnya juga roboh." Selaku
"Tapikan tidak sampai rata dengan tanah. Sedangkan rumah disekitarmu sudah hancur-cur-cur." Jawabnya dengan menekankan kata 'hancur' sambil menatapku sebal karena menyela perkataannya.
Aku hanya membalasnya dengan diam, menunggunya untuk kembali menjelaskan.
"Dan karena rumahmu itu sudah ditinggal oleh pemiliknya, tidak ada yang merenovasinya. Itu juga bukan rumahku, jadi maaf jika aku tidak bisa menjaganya untukmu. Yang hanya bisa kulakukan adalah mengambil barang-barang yang menurutku penting saja ke rumahku. Dan pastinya, aku juga menyelamatkan 'pangeran'mu agar dia tidak akan menjadi gelandangan yang tidak memiliki tempat tinggal." Setelah mengatakan itu, Kyuhyun menyeruput pelan cappuccino yang ia pesan, sedangkan aku hampir tersedak mendengar pernyataannya.
"MWOO? DIMANA DIA SEKARANG? APA DIA SUDAH BANGUN?" Aku yang sangat terkejut dan sekaligus senang karena 'pangeran'ku dapat kutemukan dengan mudah tanpa harus mencari kepenjuru kota.
"Hey, kecilkan sedikit suaramu aku ini tidak tuli atau kau ingin membuatku tuli?" umpatnya kesal.
"Mian, tapi dimana 'pangeran'ku?" tanyaku dengan suara yang ku kecilkan. Aku juga sedikit mencondongkan sedikit tubuhku kearahnya.
"Tenang dia baik-baik saja." Jawbnya masih dengan santai menyeruput minumannya.
"Aish, bukan itu yang kumaksud. Tapi syukurlah kalau dia baik-baik saja. Sekarang dimana dia?" tanyaku lagi.
"Apa keuntungannya aku memberi tahumu?" dia balik Tanya dengan evil smirk yang tersungging di bibirnya.
"Ya! Katanya kau temanku, mana ada teman yang menuntut imbalan sepertimu?" kataku sedikit kesal. Tentu saja kesal, seharusnya sebagai teman yang baik dia harus membantu temannya yang sedang kesusahan.
"Bukannya kau lupa kalau kau pernah berteman denganku?" tanyanya tajam.
BINGOOO. Dia benar sekali, bahkan aku melupakannya.
"Mianhae, aku juga tidak tau kalau aku bisa melupakanmu." Jawabku menundukkan kepalaku, merasa bersalah.
"Ah sudahlah, jangan meminta maaf terus sudah kubilang ini bukan salahmu." Katanya sedikit jengah dengan perkataanku.
Aku melanjutkan makanku begitu juga dengan dia yang baru menyentuh roti panggangnya. Suasananya jadi sedikit canggung setelah pertengkaran kecil tadi.
"Kyuhyun-ssi -."
"Kyuhyun saja." Selanya.
"Ah, Kyuhyun sebenarnya aku sedikit penasaran." Kataku sedikit mencairkan suasana
"Apa itu?" tanyanya
"Dulu kita adalah teman, tapi aku tidak pernah mengingatnya. Bukannya kalau aku melupakan kau yang merupakan temanku dulu, seharusnya kau akan sedikit sedih saat mendengar kalau aku melupakanmu. Saat aku berusaha mengingatmu, tapi dengan santainya kau mengatakan 'anggap saja kita baru berkenalan'. Kenapa bisa begitu?" jelasku panjang lebar karena merasa sedikit ganjil dengannya.
"Oh itu. Karena aku tahu kau melupakanku." Jawabnya santai dan yang mebuatku tambah bingung menghadapi orang ini.
"Kau mengetahuinya?" tanyaku tidak percaya yang hanya dijawab dengan anggukan olehnya.
"Bagaimana bisa?" tanyaku lagi karena tidak puas dengan jawabannya.
"Biar kuceritakan dari awal saja ya. Dari pertama kali aku bertemu dengan 'pangeran'mu"
TBC
Pangeran? Sebenarnya darimana pangeran ini berasal? Dari masa lalu? Masa depan? Masih bingung ya?
Hehe, masih sama seperti kemarin apa tadi pagi ya? Tolong di review ya. Cepet kaaan? Makanya ayoo review. Makasih buat Lee Hyuka, cho ara-ssi, acipa calange unyuk-nya donge for the review ya
