Restu Calon Mertua
Warning : Abal, Typo(s), OOC, Canon maybe? Or Semi-Canon?, gaje
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku slight NejiSaku
.
.
.
.
.
HAPPY READING^^
Sasuke berjalan pelan setelah keluar dari kantor Hokage, topeng ANBU nya ia gantungkan di atas kantung kunai. Pikirannya terus berputar mengingat perkataan teman Hokagenya itu. Haruskah ia menarik perhatian keluarga Sakura agar ia bisa diterima? Sasuke baru sadar bahwa sebuah hubungan yang akan dijalani dengan serius itu prosesnya tidak terlalu mudah, banyak tahap-tahap yang mesti ia lakukan.
Sasuke menghela napas berat untuk kesekian kalinya. Meski ini akan terasa berat dan merepotkan, tapi ia bertekad untuk mencobanya. Ia tidak ingin mimpinya itu menjadi nyata, sungguh ia tak ingin.
Langkahnya tiba-tiba terhenti saat ia menyadari, kini dirinya berada di tempat orang itu bekerja. Rumah sakit konoha. Tentu ia masih berada di sana, mengobati para ninja maupun warga sipil yang memerlukan bantuannya agar cepat sembuh. Sasuke mengerling kedua lengannya, ternyata banyak luka gores di sana akibat pertarungannya dengan musuh di misi kemarin. Maka dari itu, Sasuke berniat menemuinya untuk menyembuhkan lukanya dan mungkin berbicara sedikit dengannya –lebih tepatnya melepas rasa rindu setelah seminggu ini ia tidak bertemu dengannya.
.
.
.
Seperti biasa, rumah sakit Konoha terdapat banyak perawat yang sibuk kesana kemari untuk menangani pasien yang membutuhkan pertolongan. Sasuke sesekali menganggukkan kepalanya sopan saat ada seorang perawat yang menyapanya. Ah… ternyata masih ada orang yang peduli dengannya selain teman-temannya di Rokkie 9.
"Sasuke!" langkah Sasuke terhenti saat sebuah suara yang dikenalinya memanggil namanya dilorong rumah sakit itu. Sasuke membalikkan badannya, dan melihat gadis berambut pirang panjang yang menggunakan pakaian kerjanya sedang berlari kearahnya sambil memamerkan senyumannya.
"Kau pasti mencari Sakura 'kan?"
"Hn."
Ino, gadis berambut pirang itu mengerucutkan bibirnya sebal –dia sangat benci jika Sasuke masih bersikap dingin padanya –"Kau tetap saja dingin seperti biasa ya?"
"Hn."
"Yah…itukan sudah bawaan sejak kau lahir –oh! Sakura sedang ada di ruangannya. Kau habis pulang misi 'kan? Pasti merindukannya."
Sasuke mendengus sebal. Mulai lagi 'kan dia? –pikir Sasuke. Memang sejak Sasuke menjalin hubungan –sebagai sepasang kekasih –dengan Sakura, Ino yang notabene adalah sahabat Sakura rutin menggodanya. Apalagi setelah Sasuke lama tidak bertemu dengan Sakura, itu menjadi bahan empuk untuk menggodanya –Sasuke berpikir, mungkin dia akan berhenti menggodanya jika Sasuke mengaktifkan saringannya –yang pasti ia tidak akan melakukannya hanya karena masalah sepele seperti ini –.
"Aku memang akan kesana, Yamanaka."
"Oh, baiklah. Aku harus bekerja lagi. Jaa ne~"
Tanpa membuang waktu lagi, Sasuke melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda tadi.
Sasuke berhenti tepat dipintu yang bertuliskan 'Haruno Sakura'. Sasuke mengetahui bahwa sekarang pasti sakura sedang istirahat mengetahui sekarang ia ada diruangannya, namun Sasuke terlampau ingin bertemu dengannya, jadi ia membuka pintu tersebut tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu. Namun, pemikirannya salah, Sakura sedang membaca beberapa dokumen yang ada dimeja kerjanya.
"Apa kau akan terus berdiri disana sambil terus menatapku yang sedang membaca dokumen-dokumen ini?"
Sasuke sedikit terperanjat tapi ia segera menguasai dirinya. Tentu Sakura bisa mengetahui ia ada diruangannya meskipun Sakura tidak melihatnya karena masih sibuk dengan dokumen-dokumennya. Akhirnya Sasuke memutuskan untuk masuk dan menutup pintunya.
"Sibuk, eh?"
Sakura mendongak, kemudian ia rapikan dokumen-dokumen itu ketempatnya semula.
"Tidak, hanya membaca catatan kesehatan beberapa pasien yang sedang kurawat."
"Kau juga harus merawat pasien yang satu ini, segera."
Sakura tersenyum "Baiklah. Kau duduk saja di sana."
Sasuke menurut perkataan Sakura, ia mendudukan dirinya disebuah kursi pasien kemudian Sakura berjalan mendekatinya. Cahaya kehijauan kini berpendar untuk menyembuhkan luka sayatan di beberapa tempat yang sakura lihat untuk menutup luka tersebut, Sasuke sedikit meringis menahan sakit tatkala proses penyembuhan itu masih berlangsung.
"Tadi Neji juga kesini –untuk menyembuhkan lukanya."
Sasuke menaikkan sebelah alisnya, tampak tidak suka sang kekasih menyebut nama itu.
"Dan kau menyembuhkannya?"
"Tentu. Karena yang lain sedang sibuk, jadi aku yang turun tangan."
Sasuke memalingkan pandangannya. Perasaan itu muncul lagi. Perasaan yang sangat tidak suka bila Neji berada dekat-dekat dengannya. Meski Neji tahu, Sakura telah menjadi milik Sasuke. Tapi tidak menutup kemungkinan bukan jika ia berusaha merebut Sakura dari tangannya? –hal itu tidak akan Sasuke biarkan.
"Jadi kau menyembuhkan dia lebih dulu dari pada aku? Cih!"
"Kau terlalu lama datangnya Sasuke –oh ayolah… jangan ngambek begitu."
"Aku tidak ngambek." Sasuke sedikit merutuki kebodohan Naruto tersebut yang menahannya di kantor Hokage –dasar Naruto baka!
"Nah, selesai. Aku akan memberikan vitamin untukmu. Sebentar –"
Sakura hendak berjalan untuk mengambil vitamin yang tadi ia sebutkan, namun niatnya terhenti saat sebuah tangan kekar menahan lengannya untuk menghentikan langkahnya dan mengharuskan Sakura kembali membalikkan badannya "Nande?"
Untuk sejenak, mereka terdiam, Sasuke belum menjawab pertanyaan Sakura. Ia masih terdiam sambil terus memegang pergelangan tangan Sakura dan memandanginya.
"Sasuke-kun?"
"Bisakah kita terus bersama seperti ini?"
"Eh?" Sakura memasang ekspresi bingung dengan kekasihnya ini –mengapa ia tiba-tiba berkata seperti ini? Ada yang aneh dengan Sasuke –pikir Sakura.
" –maksudku, kau pernah berjanji bukan? Akan meramaikan rumah Uchiha yang sepi dengan Uchiha-Uchiha kecil dimasa depan nanti."
Sakura tersenyum manis mendengar itu. Ah…mungkin Sasuke takut Sakura akan berpaling darinya mengingat Sakura sebelum menjalin hubungan dengan Sasuke, banyak beberapa pemuda yang dekat dengannya. Sakura sangat cantik dan berbakat, apalagi dia adalah mantan murid sang Godaime Hokage. Tentu banyak pemuda yang berkeinginan ia menjadi istrinya. Tidak menutup kemungkinan, Sakura akan berpaling jika ada pemuda yang melebihi dirinya –seperti Neji mungkin?
Sakura mengangkat sebelah tangannya dan berhenti pada pipi putih Sasuke kemudian ia usap dengan penuh kasih sayang. "Dengar, aku berjanji. Aku tidak akan pergi darimu. Jika Kami-sama sudah berkehendak, tidak ada satupun orang yang dapat memisahkan kita, mengerti?"
Untuk beberapa saat, mereka saling berpandangan, kemudian Sasuke mengangguk untuk merespon ucapan Sakura tadi. Sakura yang berdiri, memeluk Sasuke yang masih terduduk dikursi sehingga kepala Sasuke yang Sakura peluk. Mengingat sesuatu, Sakura segera melepaskan pelukannya dan mengambil vitamin yang tadi hendak ia berikan pada Sasuke. "Ini diminum. Jangan disia-siakan. Mengerti Sasuke-kun?"
"Hn."
"Beristirahatlah dihari liburmu."
.
.
.
Sasuke masih belum ingin pulang ke rumah setelah ia keluar dari rumah sakit. Sepertinya di rumah tidak ada bahan makanan tersisa –ia berniat untuk membeli beberapa bahan makanan, atau mungkin makanan yang telah jadi agar ia tidak repot-repot memasak. Jangan salah, Sasuke sedikit bisa mengolah beberapa bahan makanan untuk dijadikan makanan yang lumayan enak. Yah.. pergi dari desa sejak umur 12 tahun mengharuskan ia hidup mandiri dimanapun dan kapanpun.
Sasuke melihat beberapa kios sayur yang menjual beberapa jenis sayur, dan tentu saja tujuannya untuk membeli makanan kesukaannya –tomat –tentu saja. Kakinya akan menuju salah satu kios yang sedari tadi Sasuke ingin datangi, namun matanya telah terpancang pada sesosok yang sangat ia kenali. Sosok wanita paruh baya berambut kuning pucat yang sedang berjalan kerepotan dengan bahan belanjaan yang memenuhi kedua tangannya. Sasuke berpikir, inikan kesempatannya untuk menunjukkan bahwa ia kini telah berubah dan ingin mengenal lebih lanjut keluarga Sakura?
"Oh.. ya ampun, tulang-tulang tuaku sekarang tidak bisa berkompromi lagi untuk membawa barang-barang berat seperti ini."
Mebuki, sosok wanita paruh baya itu berjalan tidak seimbang dengan beban berat yang sedang ia emban. "Oh…andai sakura tidak sedang sibuk di rumah sakit, sudah kupastikan ia yang akan berbelanja." Keluhnya pada diri sendiri.
"Perlu bantuan?"
Mebuki menoleh kearah sumber suara, dimana ia lihat pemuda dengan wajah tampan yang sangat ia kenali sedang berdiri dihadapannya.
"Oh… Uchiha-san."
Sasuke tidak menunggu persetujuan dari Mebuki, ia langsung merebut barang-barang belanjaan wanita paruh baya itu –yang diketahui ibu sakura –untuk Sasuke bawa.
"Ah, maaf Uchiha-san, jadi merepotkanmu."
Sasuke mencoba tersenyum –namun hanya sedikit sekali sehingga Mebuki tak melihat senyum itu "Tak
apa. Dan panggil Sasuke saja, nyonya."
Wanita itu tertawa ramah, tentu saja sebutan 'Uchiha-san' terdengar tidak enak di dengar olehnya. "Baiklah, tapi kau juga jangan memanggilku nyonya."
"Baiklah, baa-san."
"Begitu lebih baik. Kau baru pulang misi, nak?" Mebuki memperhatikan baju seragam ANBU yang dikenakan Sasuke. Ia pikir pasti Sasuke baru pulang misi, dan ada perban yang melilit di lengannya –menandakan itu 'hadiah' yang dibawa sepulang misi.
"Ya."
Jawab Sasuke singkat, ia memang tidak suka berbasa-basi dengan orang lain, meski kini ia sedang berbicara dengan ibu kekasihnya –salah satu orang yang ingin Sasuke dekati agar hubungannya dengan Sakura terus berjalan. Yah.. dia juga menuruti nasihat teman pirangnya itu.
"Nah, nak Sasuke, kita sudah sampai." Sasuke berhenti didepan pintu rumah minimalis yang diketahui rumah milik keluarga Haruno, disana ada pria paruh baya yang sedang memperbaiki pagar kayu yang ada dihalaman rumahnya – Haruno Kizashi. Sasuke sedikit was-was mengingat mimpinya kemarin malam –apakah nanti beliau mau menerimanya seperti ibu Sakura yang mau menerima dan baik padanya?
"Oh, istriku sudah pulang –Sasuke?"
Sasuke sedikit membungkukkan badannya saat namanya dipanggil oleh Kizashi, berbeda dengan ibunya Sakura, ayah Sakura memang sudah memanggil Sasuke dengan nama kecilnya sejak pertama mereka bertemu –itupun waktu itu dirinya masih genin. "Selamat sore, tuan Haruno."
"Kau masih saja memanggilku seperti itu, bukankah kau kekasih putriku?"
Sasuke sedikit menundukkan wajahnya. Mendengar pertanyaan itu, Sasuke sedikit malu dan menyembunyikan rona kemerahan yang tiba-tiba muncul. Tapi pada akhirnya Sasuke mengangguk.
"Panggil aku jii-san seperti Naruto. Atau kau ingin memanggilku Tou-san?"
Sasuke membelalakkan matanya mendengar itu. Kizashi tertawa mendengar penuturannya sendiri. Tou-san? Bukankah itu berarti ia menyetujui hubungannya dengan Sakura. Oh ayolah, Uchiha Sasuke itu cerdas, mana mungkin ia masih terpikir akan mimpi tersebut. Nyatanya sekarang kepala keluarga Haruno itu pun bersikap ramah padanya.
"Suamiku, kau terlalu berlebihan hingga membuat nak Sasuke canggung seperti itu."
"Ah! Benarkah? Bukankah itu wajar diucapkan untuk calon menantu?"
Kini Sasuke kembali merona –tidak bisakah ia cepat-cepat pergi dari sini?
"Kalau begitu, saya pamit dulu –"
"Eh? Tunggu dulu Sasuke."
Kizashi berjalan kearah Sasuke, memegang pergelangan Sasuke untuk kemudian ia menariknya untuk masuk kedalam rumah –membuat Sasuke sedikit terkejut.
"Tinggalah untuk makan malam. Sakura pasti sebentar lagi pulang. Dia bilang nanti tidak akan lembur kerja."
Sebenarnya sasuke ingin menolak, namun ajakan yang sepertinya sangat dari Kizashi harapkan itu membuat Sasuke tidak tega menolaknya –meski tubuhnya sudah sangat capek karena ia belum sama sekali beristirahat. "Baiklah."
.
.
.
"Sasuke, bagaimana bisa kau jatuh cinta dengan putriku itu? Kudengar dia sangat galak pada teman-temannya hahaha…"
Sasuke semakin bingung, pertanyaan-pertanyaan yang menurutnya kurang penting itu membuat Sasuke sedikit risih sebenarnya. Yah…sembari menunggu Sakura pulang, dan masakannya semuanya selesai, Sasuke dan Kizashi duduk berdua di beranda rumah sembari meminum sake.
"Bagaiman ya?" bukannya menjawab,Sasuke malah bingung sendiri seraya menggaruk rambut model ravennya.
"Tadaima~"
Sasuke sedikit lega mendengar orang yang ditunggunya telah pulang. "Ojii-san, sepertinya Sakura telah pulang."
"Oh… sepertinya kita segera ke ruang makan." Sasuke membantu kizashi berdiri dari duduknya.
"Sasuke-kun?!"
Dan dugaan Sasuke benar, Sakura pasti sangat terkejut melihatnya berada disini dengan seragam ANBU nya.
"Kaa-san, Tou-san. Kalian memaksa Sasuke kesini?"
"Oh, itu Tou-san mu yang memaksa, padahal Sasuke pasti lelah setelah pulang dari misi." Jawab Mebuki yang masih berada di dapur. Sakura mengerling Sasuke yang balas dengan menatap sakura.
"Sakura, kau lebih baik membersihkan diri dulu setelah itu kita makan bersama-sama." Tambah Mebuki lagi. Sakura hanya menjawab dengan gerutuan dan berjalan menuju kamar mandi.
"Sakura jaga sikapmu! Kau tidak malu pada kekasihmu ini?!" tutur Kizashi dan kemudian ia berbalik memandang Sasuke "Ah, maaf Sasuke. Sakura mungkin terlalu capek bekerja."
Sasuke hanya tersenyum. Tentu saja Sasuke sudah biasa menghadapi sikap angin-anginan Sakura yang kadang-kadang cepat berubah. Tentu ia sangat memaklumi.
Beberapa menit kemudian, Sakura kembali ke meja makan dengan baju santainya yang biasa ia kenakan –baju lengan pendek merah maroon dan dipadukan dengan rok mini –dan terlihat lebih segar dari sebelumnya. Suasana makan di sana sangat hangat, apalagi sesekali, kizashi menggoda kedua pasangan muda itu –Sasuke dan Sakura –membuat keduanya menahan rasa malu.
"Sasuke, kapan kau berniat melamar putriku ini, eh?"
"TOU-SAN!"
Sakura mendelik tajam pada ayahnya saat disinggung seperti itu. Ia tidak enak hati pada Sasuke yang kini memudarkan senyumannya setelah mendengar itu. Sakura jadi berpikir –apakah Sasuke belum pernah memikirkan ini sebelumnya?
Selain sakura yang sedikit berdebar menunggu reaksi Sasuke, kedua orang tua Sakura pun juga sama halnya dengan Sakura. Mereka berdua yakin, Sakura kan mendapatkan kebahagiaan dengan keturunan terakhir Uchiha itu, maka dar itu mereka ingin cepat-cepat menikahkan Sakura dengan Sasuke –mengingat umur mereka sudah 23 tahun. Umur yang matang bukan untuk melaksanakan upacara sacral tersebut?
Sedangkan Sasuke menurunkan tangannya, sebenarnya dia sudah memikirkan jauh-jauh hari mengenai ini. Ia memegang kantung kunai yang ada disamping kanan celananya –lebih tepatnya isi yang ada didalam selain kunai tentu saja. Namun tekadnya sudah bulat, Naruto saja yang bodoh itu belum lama ini berhasil melangsungkan pertunangannya dengan Hinata, tapi dirinya malah baru selangkah dibelakang Naruto. "Sebenarnya aku…" Sasuke mengambil sesuatu yang ada dikantong kunainya dan menaruhnya di meja makan stelah sebelumnya membukanya terlebih dahulu. Kotak cincin bewarna biru tua dengan lambang Uchiha diatas penutup kotak itu, dan didalamnya terdapat cincin putih sederhana dengan ukiran lambang Uchiha dan berlian kecil sebagai mata dari cincin itu –sederhana namun terkesan elegan jika terpasang dijari lentik Sakura.
"Sasuke-kun?" Sakura membelalakkan matanya sambil menutup mulutnya –belum percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Aku sudah lama ingin melakukan ini, tapi aku terlalu takut jika nanti semuanya akan gagal." Sasuke mengambil cincin itu dari dalam kotak dan kemudian memandang Sakura. "Sakura, maukah kau menjadi ibu untuk calon anak-anakku?"
Lelehan air mata kini telah jatuh dari mata emerald Sakura, tanpa bisa berkata apa-apa lagi, Sakura pun mengangguk, membuat Sasuke tersenyum dan langsung memakaikan cincin itu dijari manis Sakura. Tanpa aba-aba Sakura memeluk Sasuke dengan penuh kasih sayang "Arigatou Sasuke-kun…"
"Aa.."
Sedangkan kedua orangtua Sakura tersenyum melihat pemandangan itu seraya saling berpegangan tangan, Mebuki sedikit berkaca-kaca melihat pemandangan itu "Sebaiknya kita tinggalkan mereka berdua." Mebuki mengangguk, dan meninggalkan Sasuke dan sakura yang tenggelam dalam kebahagiannya.
"Bodoh!" sakura memukul bahu Sasuke main-main setelah mereka melepaskan pelukannya. "Dimana-mana orang melamar itu berkata 'maukah kau menikah denganku?' kau salah memilih kata-kata tuan Uchiha."
Sasuke menyeringai "Aku ingin lain dari yang orang lain lakukan, Sakura."
Sakura tersenyum, yah…itu memang cirikhas Sasuke bukan? Sakura kembali memajukan dirinya untuk mengecup bibir lembut Sasuke. Dengan senang hati tentu Sasuke menyambutnya. Pagutan yang dalam dan basah membuat mereka kehabisan oksigen, segera saja Sakura mendorong tubuh Sasuke.
"Aishiteru Sasuke-kun."
"Hn."
.
.
.
END
KYaaaaaa! Ini apaan yak? Kkkkk gomen kalau ceritanya jadi amburadul kayak gini. Ni updatenya gk lama 'kan? Beneran, saya mintaaaa maaf kalo hasilnya kyk gini *bow* makasih buat readers yang dah baca, ngefav, alert, dan tentunya meriview. Yosh! Saatnya bales review dari readers
Mayurahime : hahaha benarkah baru pertama baca? Syukurlah, berarti aku gk dituduh niru siapapun XD ini dah update! Review lagi ya?
Neko Darkblue : iya bpknya saku galak, cz itu imajinasi sasu *plaakk
Ah, ia makasih ya dah diingetin ^^ dah aku edit kok, oh, mungkin aku salah nempatin settingnya ya? Mungkin mksudku semi canon hahaha *dibantai* tenang, aku gk tersinggung kok ^^ aku orangnya enakan, tenang aja. Review lagi ya?
Lita7Cloud13 : hahaha mkasih. Iya nih da update ^^ review lagi ya?
akasuna no ei-chan : iyaa… nih dah lanjut. Review lagi ok? ^^
Yumiko Hiroshi : hahaha Sasuke OOC ya? Gpp lah, sekali-kali *plaakk* ni dah update ^^ review lagi ok?
Javanese konoha : iya ini dah lanjut ^^ review lagi ya? Ya?
Mako-chan : AAAAA~~ ini mako hyung bukan yak? Kkkkk makasih hyung dah review ff2ku di fandom naruto juga hheee… oiya, aku juga dah update ffku di FTI loh hyung di fb, gk baca hyung? *promosi* #modus. Review lagi ya hyung? ^^
Dan para silent readers juga makasih banyaaaakkk~~~ review lagi yaaaa? *bawa asahan*
