Chapter 2: A Plan

Cena's on

Seharusnya saya berkutat dgn tugas KI yg dikasih guru bindo yg tenggat waktunya cuma SEMINGGU! SEMINGGU! TEGAAA! KELAS LAIN AJA 3 BULAN , KENAPA 9A DIKASIHNYA CUMA SEMINGGU? KDRKKKK! DX

Ah, abaikan aja deh. Masih bingung mau ngambil bahan apa buat KI ntar. Dan semalem juga keasikan nyari-nyari sumber ttg dorama Bloody Monday. Ah! Itu dorama keren sangat! Ttg hacker gitu deh! Mana ada Takeru lagi! Kesengsem gegara Minggu kemaren saya nyari gambar-gambar Takeru, eh, ada Haruma nyelip, mana Takeru-nya lagi lelendotan di tangan Haruma lagi! Gyaa! *otak fujo on* yg punya dorama-nya, minta link-nya dong? Hehe. #plak

Ih, banyak bacot sendiri deh. Yaudah, yuk mulai aja fict abal ini.

Disclaimer: APH asli punya Hidekaz Himaruya. ayang Takeru Sato itu punya saya! XD eh, bagi dua ama bang Haruma ding, ehehe. Lonewolf sama Desert Eagle punya Ken sama Dylan Blazing Teens 3.

Warning: yang pasti gagal jaim chara a.k.a OOC, dan ada GORE-nya. jangan lupa, sho-ai nya juga. Dan segala konten abal yg ada.

Filming: Semua film Jackie Chan yang tayang pas imlek kemaren! XD sama Jumanji juga, hoho~

Musicing: As I Am by Dream Theater sama Real Action by Takeru Sato. Kok ini dua kayaknya pas buat jadi ost. Fict ini ya? #dor

Oke, bagi yang nggak suka, dipersilahkan mundur dengan lapang dada dan tanpa beban di punggung. ;D

Happy Reading All~ :D

.

.

"Aku Putra Satriana! Salam kenal!"

"Pieter van Houten! Salam kenal juga!"

Tangan mereka saling berjabat, tanda perkenalan. Mata hijau Pieter dan hitam kelam Putra saling memandang satu sama lain.

"Err… Pieter? Bisa lepaskan tanganku?"

Satu suara berhasil membuyarkan lamunan Pieter yang sedari tadi tampak menikmati sentuhan kulitnya dengan kulit Putra. Memang agak kasar, mengingat aktivitas Putra yang hanya berlatih membunuh dan sejawatnya, tapi tidak mengurangi kelembutannya.

"Eh? Ah, emm… maaf, Putra," kata Pieter gelagapan.

"Tidak apa," jawab Putra sambil tersenyum. Ah, senyummu memang manis, Putra. Tampaknya Pieter sedikit merona, sayang kau tak melihatnya.

"Ohya, Pieter. Kau orang Belanda kan? Tahu Mr. van Oldebarnevelt?"

"Tidak. Memangnya kenapa?"

"Ah, bukan apa-apa. Beliau teman perusahaan ayahku. Dulu waktu umurku sekitar 12 tahun, beliau sering sekali main ke rumahku dan membawa berbagai macam oleh-oleh. Sekarang beliau jarang main ke rumah, karena kesibukan pekerjaannya. Aku… bermaksud titip salam untuknya melalui kau, tapi, karena kau tidak kenal dia, lupakan saja," ujar Putra panjang lebar. Seulas senyum masih menghiasi wajahnya yang rupawan.

"Oh, begitu. Maaf ya, aku tidak mengenalnya," sesal Pieter.

"Tidak apa, jangan dipikirkan."

'Hmm… kukira dia anak orang itu. Wajahnya mirip sekali dengan dia. Tapi aku tidak boleh gegabah dan ceroboh. Aku harus tetap merahasiakan identitasku!'

"Putra?" sahut Pieter setelah beberapa saat terdiam.

"Ah, ya?" Putra mendongak ke arah Pieter.

"Ini hari pertamamu masuk sekolah ini kan? Kalau kau butuh bantuan bilang saja aku, oke?" tawar Pieter.

"Tentu! Terima kasih bantuannya, Pieter!"

"Sama-sama!"

Seorang guru datang, menyebabkan kelas yang tadinya ramai jadi sunyi, pertanda mereka siap menerima pelajaran walau sebagian dari mereka ada yang mengeluh.

"Putra, ada yang susah? Mau kuajari?" tawar Pieter saat dia melihat teman barunya nampak kebingungan mengerjakan soal.

"Ah, tidak usah. Aku bisa kok mengerjakannya," tolak Putra dengan halus.

"Oh. Tapi kalau ada yang tidak kau bisa, kau bisa tanya padaku."

"Iya, terima kasih bantuannya, Pieter!"

Memang mengagumkan sekali kemampuan Putra. Dalam sehari saja dia sudah bisa mengerti apa yang diterangkan gurunya itu. Kecerdasannya memang diatas anak-anak seumurnya. Dia juga anak yang pandai bersosialisasi. Dalam beberapa menit saja dia sudah tampak akrab dengan teman-teman barunya itu.

Tak terasa bel istirahat berbunyi. Murid-murid berhamburan keluar kelas, menuju tempat favorit seluruh murid di sekolah itu. Yap, kantin.

"Putra, kau tidak ke kantin?" tanya Pieter.

"Eh? Tentu saja, hanya… dengan siapa aku kesana?" kata Putra. "Aku belum terlalu hafal denah sekolah ini."

"Bagaimana kalau kau ke kantin bersamaku?"

"Oh, boleh saja."

Putra dan Pieter pergi ke kantin bersama. Disana mereka bertemu dengan Bad Trio.

"Yo, Putra! Aku Gilbert Beilschmidt yang paling awesome! Kau bisa panggil aku Gilbert! Senang bertemu denganmu!" sapa Gilbert.

"Aku Antonio, Antonio Fernandez Carriedo! Senang bertemu denganmu!" sahut Antonio.

"Dan aku Francis, Francis Bonnefoy! Senang bertemu denganmu juga, mon cheri Putra~!" timpal Francis.

"Ah, aku Putra Satriana, senang bertemu dengan kalian semua!" kata Putra sambil tersenyum.

"Apa yang kau lakukan disini, Pieter? Bodyguard-nya Putra ya?" ledek Gilbert. "Setahuku kau kan tidak pernah membeli makanan maupun minuman disini."

"Minta ditraktir Putra mungkin?" timpal Antonio, membuat kedua sahabatnya tertawa. Putra hanya tersenyum melihat kelakuan teman-teman barunya.

"Enak saja kalian bicara, aku kesini hanya untuk mengantarkan Putra. Dia kan murid baru, pastinya belum kenal betul denah sekolah ini. Kalau dia tersesat bagaimana? Mau tanggung jawab, hah?" ujar Pieter kesal. Terlihat empat sudut siku-siku bertengger di dahi Pieter, pertanda menahan amarah.

"Oh, ayolah mon cheri Pieter, santai saja! Kami kan cuma bercanda, jangan marah begitu ah," kata Francis menengahi.

"Ya, ya. Terserah kalian saja," kata Pieter mengalah. "Putra, kau mau apa?" tanya Pieter sambil duduk di kursi kantin di sebelah Putra.

"Ah, aku mau makan roti panggang saja," jawab Putra setelah beberapa saat terdiam memilih menu. "Minumnya cukup es teh saja," tambahnya.

"Baiklah, tunggu disini ya." dan Pieter pergi menuju kedai yang ada di kantin itu. Sambil menunggu Pieter pergi, Putra bercengkrama dengan Bad Trio.

"Jadi, Putra, dimana rumahmu?" tanya Gilbert.

"Rumahku? Di Jalan Sunny Roses no. 4. Kenapa memangnya?"

"Yah, hanya sekedar bertanya, siapa tahu saat kami sedang kehausan atau apa kami bisa menumpang makan atau minum di rumahmu. Ya kan, Gil, 'Tonio?" sahut Francis.

"Iya, betul itu! Atau mungkin saat aku panen tomat, aku bisa membagi tomat hasil panen di ladangku padamu," timpal Antonio.

"Oh, begitu, ahaha! Lalu dimana rumah kalian?"

Mereka asyik berbincang-bincang ini-itu, sampai Pieter datang.

"Wah, curang sekali kalian. Aku sibuk mengantri, kalian malah asyik-asyikan ngobrol. Panas tahu, mengantri," kata Pieter sebal. Bad Trio dan Putra tertawa.

"Ah, maaf Pieter, kalau begitu seharusnya biar aku saja yang mengantri tadi," ucap Putra, merasa bersalah.

"Ah, tidak. Tidak apa-apa kok, santai saja!" Pieter cepat-cepat menarik kata-katanya, takut Putra tersinggung. "Ini, roti panggang dan es tehmu." Pieter meletakkan pesanan Putra di meja kantin.

"Terima kasih, Pieter. Kau banyak membantuku hari ini. Maaf membuatmu kerepotan."

"Sama-sama! Tidak, kau tidak membuatku repot kok. Santai saja! Kan sudah kubilang kalau kau butuh bantuan katakan saja padaku!"

"Ciee… mon cheri Pieter! Mesra ya, sama anak baru!" ledek Francis tiba-tiba. Spontan Gilbert dan Antonio tertawa. Putra hanya tersenyum, sedangkan Pieter sendiri merona merah.

"Apa sih, kalian?" sungut Pieter, gagal menyembunyikan rona merahnya. Bad Trio makin gencar meledeknya.

Ah, sungguh masa-masa SMA yang menyenangkan, bukan begitu, Pieter?

.

.

~X~

.

.

Bel pulang sekolah berbunyi. Sungguh tidak terasa, padahal mereka seperti baru saja selesai istirahat. Mungkin karena menikmati hari, jadi tidak terasa. Putra membereskan perlengkapan sekolahnya dan bergegas pulang.

"Mau pulang bersama, Putra? Biar kuantar sampai rumahmu," lagi, Pieter menawarkan diri.

"Eh, apa tidak merepotkanmu? Nanti kau pulang telat, dimarahi deh sama keluargamu?" tanya Putra canggung.

"Kau jangan mengkhawatirkan aku, oke? Masuk ke mobilku, dan tunjukkan jalan menuju rumahmu," Pieter mendorong Putra masuk ke dalam mobil. Putra hanya pasrah didorong begitu oleh Pieter.

"Nah, sekarang, dimana rumahmu?" Pieter bertanya sambil menyalakan mesin mobil.

"Di Jalan Sunny Roses nomor 4. Kau tahu kan?"

"Tentu. Mari kita ke rumahmu!"

Pieter memacu mobilnya dengan kecepatan agak tinggi, membuat Putra sedikit was-was.

"Pieter, aku tahu kalau kau ingin cepat sampai di rumahku, tapi tak perlu sampai seperti ini kan? Mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi itu kan berbahaya! Kau ini mau cari mati ya, bodoh?" Ah, bahkan Putra sudah mengeluarkan kata-kata 'manis'nya.

"Santai saja! Aku ini sudah ahli dalam hal kebut-kebutan seperti ini! Kau tenang saja! Hahaha! Yuhuu~!" kata Pieter sambil tertawa. Jika kau menganggapnya sudah gila, itu tepat sekali.

"Tapi kita masih SMA, bodoh! Bagaimana kalau ada polantas yang melihat kita? Bagaimana jika ada lampu merah menyala? Bagaimana kalau—gyaa!"

Di depan mereka ada pohon yang besar sekali, dan mobil Pieter akan menghantamnya. Putra menutup matanya saking takutnya.

"Ah, ini dia! Pohon besar kesukaanku! Kita akan menabraknya, Putra!"

"TURUNKAN KECEPATANMU, BODOH!"

Ckiitt!

Beruntung Pieter membelokkan mobilnya dengan segera sebelum menabrak si pohon besar.

Ah, kau lolos dari mautmu, Putra.

"Hah, hah, KAU INI BODOH ATAU APA SIH? SUDAH KUBILANG TURUNKAN KECEPATANMU TAPI KAU MALAH MENAMBAHNYA! KAU MAU MEMBUNUHKU YA?" omel Putra sambil mengatur napasnya yang masih terengah-engah. Pieter nyengir, memamerkan gigi-giginya yang putih.

"Kan sudah kubilang kalau kau harusnya tenang saja. Kau tahu, aku ini penerus Michael Schumacher!" kata Pieter tanpa merasa bersalah sedikit pun.

Putra mendelik ke arah Pieter. "Sudah, aku mau turun saja! Bisa gila aku disini denganmu!"

Putra baru saja mau membuka pintu mobil, tapi tangan besar Pieter mencegahnya. Tanpa sengaja kulit mereka lagi-lagi bersentuhan. Mata mereka bertatapan satu sama lain. Refleks, tangan kanan Pieter membelai lembut pipi sang pemuda Indonesia itu.

"Pie… Pieter?" suara Putra menginterupsi kegiatan Pieter.

"Ah! Ma.. maaf, Putra! Tidak sengaja!" Pieter menarik tangannya yang tadi sempat membelai pipi Putra. Kini dia kembali fokus pada kemudinya dan mulai menyetir. Tak ada yang memulai pembicaraan setelah kejadian tadi. Sepanjang perjalanan yang terdengar hanyalah deru mesin mobil.

"Ah, tiba juga kita di rumahmu, Putra," kata Pieter memecah keheningan. Putra membuka pintu mobil dan turun.

"Terima kasih banyak untuk hari ini, Pieter. Besok-besok aku tak mau lagi naik mobil gilamu itu!" ujar Putra.

"Ahaha, maaf ya? Aku janji tak akan mengebut lagi!"

"Terserah. Sudah ya, aku mau masuk. Sampai jumpa besok pagi, Pieter!" dan Putra sudah melenggang masuk ke rumahnya.

"Sampai jumpa besok, Putra!" balas Pieter, lalu memacu mobilnya untuk pergi dari rumah Putra.

Putra mengintip dari balik jendela tanpa diketahui Pieter.

'Jangan terlalu dekat padaku, atau aku akan membunuhmu.'

.

.

~X~

.

.

"Bagaimana harimu di sekolah, da?" tanya Ivan pada Putra yang sedang melepas sepatunya.

"Baik, Master," jawab Putra sambil tersenyum.

"Bagus. Apa ada yang mencurigakan di sekolah?"

"Kurasa tidak. Hanya saja ada seorang Belanda yang membuatku sempat berspekulasi kalau dia punya hubungan dengan orang itu."

"Lalu?"

"Setelah kutanya, dia tidak mengenalnya."

"Kau tidak bilang kalau kau anggota Lonewolf kan, da?"

"Tidak. Tenang saja, Master. Kau bisa mengandalkanku."

Putra berjalan menuju kamarnya. Sesampainya dia menaruh tasnya dan merebahkan dirinya di kasur tanpa mengganti bajunya terlebih dahulu. Mata hitamnya menatap langit-langit kamar.

'Apa maksudnya tadi itu?' batinnya.

Tangannya menyentuh pipi yang dibelai lembut oleh Pieter tadi.

'Kenapa aku merasa aku pernah melihatnya di suatu tempat? Apa dia memang ada hubungan darah dengan orang itu?'

Pikiran Putra terus saja melontarkan pertanyaan-pertanyaan yang dirinya sendiri tidak bisa menjawabnya hingga dia jatuh tertidur.

"Putra? Bangun, da, sudah sore," Ivan mengguncang-guncang tubuh anak asuhnya yang masih berada di alam mimpi, membangunkannya.

"Ngghh…" desah Putra sambil menggeliat di tempat tidurnya. "Ah, Master. Aku ketiduran ya?"

"Iya, da. Bahkan kau belum makan siang. Ayo bangun," Ivan menjulurkan tangannya supaya Putra meraih tangannya. Putra menyambutnya.

"Bangun, mandi, setelah itu makan. Lalu latihan. Kumajukan jadwalnya agar tidak mengganggu sekolahmu."

"Baik, Master." Putra beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju kamar mandi.

"Ah, mandi yang menyegarkan," gumam si pemuda sambil menggosok-gosok rambutnya yang basah dengan handuk. Setelah itu dia memakai baju dan menyisir rambut ravennya. Selesai dengan penampilannya, dia pergi menuju ruang bawah tanah.

"Menunggu lama, Master?" tanya Putra.

"Tidak juga. Kau sudah makan, da?"

"Belum. Aku belum lapar."

Hening menyeruak.

"Emm… Master, aku tidak ingin latihan dulu hari ini," ucap Putra setelah hening sesaat.

"Kenapa?" Ivan mengerutkan keningnya, heran dengan tingkah laku muridnya hari ini.

Putra berjalan menuju mayat yang bergelimpangan di ruangan itu. Mayat yang sudah agak membusuk dan menyebarkan bau yang ingin membuat perutmu mengeluarkan isinya.

"Entahlah, Master. Aku… hanya sedang malas," katanya sambil berjongkok di dekat si mayat dan mematahkan tulang pergelangan tangannya.

'KRAK!'

"Malas? Tumben sekali, seperti bukan muridku saja, da."

"Maaf, Master. Aku tidak bermaksud mengecewakanmu."

Putra mengambil cutter yang ada di dekat si mayat dan membuat garis melintang di sekitar pembuluh nadi yang sudah tak berdenyut lagi itu. Darah mengucur dari tangan malang itu.

Ivan duduk di sofa sambil melihat kegiatan anak kesayangannya itu. Senyum khas psikopatnya menghiasi bibirnya.

"Sekarang kau pintar sekali memutilasi mayat, da."

"Berkat didikanmu," jawab Putra sambil menolehkan wajahnya ke arah Ivan, tersenyum. Dia melanjutkan pekerjaannya yang sempat tertunda. Putra mulai mensayat tangan bagian kiri si mayat.

Ivan beranjak dari sofa, berjalan mendekati Putra.

"Bagus, da. Potongan dan sayatannya tampak rapi, indah sekali," komentar Ivan.

"Terima kasih, Master."

Setelah puas mensayat-sayat tangan, Putra bangkit dan berjalan menuju lemari, mengambil pisau besar yang biasa digunakan untuk memotong daging. Lalu dia kembali ke tempat tadi.

Putra memotong bagian dada si mayat. Ada bekas tusukan di dekat jantung, hasil karya Putra minggu lalu saat berlatih disini. Biasanya Putra berlatih di ruang yang paling atas. Ya, ruang latihan di rumah ini ada dua. Satu dibawah tanah, satunya lagi diatas.

"Ah, jantung. Bagian yang paling kusuka saat membedah!" seru Putra kegirangan.

"Sama sepertiku," sahut Ivan, tersenyum.

"Ini," Putra memberikan salah satu pisau untuk Ivan. "Kita membedah bersama, Master."

"Tawaran yang menarik. Kuterima, muridku."

.

.

~X~

.

.

Pagi yang cerah. Putra sedang bersiap-siap untuk berangkat sekolah. Tak terasa sudah seminggu Putra bersekolah di SMA barunya itu. Putra juga sudah akrab dengan teman-teman sekelasnya. Bahkan terkadang Putra ikut berpartisipasi bersama Bad Trio menjahili teman-temannya. Di mata teman-temannya, Putra dikenal sebagai anak yang periang, baik, ramah, dan tentu saja cerdas. Tapi itu hanyalah topeng belaka. Supaya tidak ada seorang pun di dunia ini yang tahu bahwa ia hanyalah seorang pembunuh berdarah dingin.

"Rambut oke, penampilan sip. Saatnya berangkat!"

"Berangkat, da? Sudah sarapan?" tanya Ivan sambil memanaskan mesin mobil. Putra sedang mengikat tali sepatunya.

"Iya. Sudah, Master. Ayo berangkat!" sahut Putra ceria.

"Ceria sekali hari ini, da."

"Ahaha, iya, Master. Entah kenapa hari ini aku merasa bersemangat."

"Syukurlah kalau begitu."

Sepanjang perjalanan guru-murid itu mengobrol santai. Membahas kehidupan baru Putra di sekolah. Tanpa terasa mereka tiba di sekolah Putra.

"Aku pulang dulu, da. Belajarlah yang baik, Putra," pesan Ivan.

"Baik, Master. Hati-hati di jalan!"

Sepeninggal Ivan, Putra berjalan masuk ke kelas dengan ceria. Melangkahkan kakinya cepat, tak sabar bertemu wajah-wajah ramah teman-temannya di kelas.

.

.

~X~

.

.

"Jadi, anak itu yang bernama Putra?"

"Iya. Putra Satriana, anak kesayangan ketua kelompok Lonewolf."

"Hmm. Baiklah, aku akan memancing si bodoh dari Rusia itu untuk bertemu aku, sang pemimpin Desert Eagle. Hahaha!"

.

TBC

.

Tuh kan, kependekan lagi ya? maaf, abis saya keasikan nonton tv sih. Ini film Jackie Chan lagi banyak-banyaknya, senangnya dalam hati~~ X3 #plak action-nya bro, aah~ saya melting! Wew! XDD

Terusan, saya juga mau ngumpulin bahan-bahan buat tugas KI, takut nggak keburu, huhu.. TTToTTT sama nyari trailer-nya Bloody Monday, hoho~! #bletak

Yakin, chappie ini pasti lebih abal dari yang kemaren. Hau hau… T.T maaf ya, kepala saya isinya tugas KI semua sih. Typo juga, aduh.. maaf kalo ada! DX

Oke, timing is review replies~~ XDD

Chachaku felice: Chacha~~! XDD kok kudo nge-pm mudo nggak bisa ya? kenapa? PM-mudo nggak diaktifin ya? O.o kudo bales disini aja ya, nyehehehe~ nggak kok, mudo nggak telat ripiu. Haha, emang asli psycho si Ivan! XD ya lah, promosi gitu, biar Van Houten makin banyak peminatnya, hehe~ #bletak lemon? Lemon? Err… #kabur #dor tahan keinginan mesummu itu ya, kudo nggak bakat :P tararengkyu review-nya! XD ini udah update, sista~~

Ayano ezakiya males log in: lemon? Ah… itu di pasar banyak kan? ;PP #duagh ahaha, iya nih. Tararengkyu review-nya, ini udah update~ ^^

Jeevas Revolution: Meth~ XD akhirnya kamu review juga! XDD btw, pm-mu kok nggak diaktifin juga ya, macem Chacha? Ah, nggak apa, haha. Lemon? Yg jago bikin kan kamu, mungkin! Iya, gore dong~ *kena karma* makasih! XD tarengks review-nya, dan ini update-annya! ^^

Zippy, udah semua ini. Tararengkyu yg udah mau baca, dan taratararengkyu yg mau review fict abal ini.. 8'DD

Would you mind to review this (weirdos) fict? *wink wink*

Cena's off