...
Dan benar saja dugaan Jungkook. Hari ini hujan, dan amat sangat deras. Hatinya terus saja mendongkol sembari meloncati genangan-genangan air yang mulai terbentuk. Merutuki kesialan dirinya yang sama sekali tidak membawa pelindung apapun; seperti jaket ataupun payung. Setelah dirasa sia-sia melakukan aktifitas berlindung-dari-hujan akhirnya ia menghentikan langkahnya. Seperkian detik diam dipinggir jalan, mengabaikan bagaimana tatapan para pejalan kaki yang berlalu lalang dengan menganggap dirinya yang gila karena membiarkan diri terguyur oleh derasnya hujan, ia tetap tidak peduli.
Yang ia tahu sekarang adalah bahwa dirinya benar-benar terasa lemas, begitupula dengan hatinya yang entah kenapa terus berdegup kencang— diluar batas. Ia menarik kaosnya sendiri, meremat tepat dibagian dadanya berharap jika rasa entah apa itu dapat pergi dari tubuhnya. Membiarkan bagaimana tetesan hujan yang mengalir didalam tubuhnya.
Kepalanya menggeleng seketika saat kejadian tadi tiba-tiba kembali muncul dan seakan menghantui, ada apa dengan ini semua, bagaimana bisa sebuah ciuman dari Kim Taehyung membuatnya sedemikian rumit. Bahkan didalam bibirnya yang mulai bergetar karena dinginnya hujan sama sekali tidak menghilangkan bekas dari jejak sosok Taehyung. Betapa bodohnya Jungkook saat ini; ia benar-benar meyakini jika dirinya adalah pemuda normal namun sekali lagi Jungkook tak bisa menampik jika Taehyung memberikan pengaruh bagi Jungkook.
"Berpikirlah dengan jernih, Jeon Jungkook." Rapalnya berulang, berharap bahwa ucapannya kali ini dapat mempengaruhi pikirannya untuk menghilangkan sosok seorang Kim Taehyung menghilang dari kepalanya. Dan sejujurnya Jungkook tidak cukup gila untuk mengakui jika ciuman dari Taehyung adalah ciuman pertamanya.
Him
TaeHyung Kim; JungKook Jeon
(TaeKook; Vkook)
Park Jimin
Min Yoongi
Kim Seokjin
Jung Hoseok
Kim Namjoon
Bangtan Senyondan; Bangtan Boys; BTS
Proudly present a fanfic which is dedicated to our beloved bias
kaisooexo
Yoongi terus saja mengomel, menanti penjelasan Jungkook yang tiba-tiba berdiri didepan rumahnya dalam keadaan bodoh dan basah kuyub. Kedua tangannya masih mengeringkan rambut Jungkook, setelah membersihkan adik sepupunya yang tiba-tiba diam seperti tak bernyawa.
Jungkook memejamkan matanya, menikmati segala perlakuan Yoongi terhadap kepalanya namun belum lama kedua matanya kembali terbuka setelah ia merasakan pijatan Yoongi yang semakin keras. Yoongi mencampakkan handuk yang ia pakai untuk Jungkook, setelah itu mendaratkan bokongnya tepat disamping Jungkook; tepat diatas tempat tidurnya.
Ia menatap Jungkook jengah, kedua tangannya melipat meminta penjelasan. "Dan sekarang jelaskan, ada apa denganmu, Jeon Jungkook."
Harus menjawab apa, rasanya terlalu tidak mungkin jika Jungkook memberi tahu hal yang sebenarnya pada Yoongi, it's too risky. Akhirnya ia membalas pandangan Yoongi, sesudah mengambil napas dalam-dalam. "Aku tidak ingin Taehyung menjadi guru Privatku." Jawabnya sekenanya.
Sesaat Yoongi membulatkan kedua matanya; terkejut namun kembali normal, sama halnya seperti Jungkook sebelumnya ia juga sempat mengambil napas dalam hanya sekedar untuk menetralisikan rasa kesalnya terhadap sang adik. "Berikan aku alasan yang tepat, sehingga aku dapat memberikan keputusan," Sejujurnya Yoongi benar-benar tak habis pikir dengan sikap adik sepupunya sekarang, ia benar-benar menyayangi Jungkook layaknya seperti saudara kandung sendiri tapi sepertinya adiknya ini terlalu manja dan bodoh untuk diperlakukansecara baik.
"Aku malas, ia membosankan. Dan aku muak." Kalimat itu terlontar saja dari bibir Jungkook, tak mengindahkan bagaimana hatinya yang bergejolak; karena itu semua alasan yang tidak benar.
Yoongi memejamkan kedua matanya, tetap saja mau bagaimanapun Jungkook itu tetap adik kesayangannya. Sekian kalipun Jungkook berbuat onar dan dirinya yang akan terus mengomel, tetap saja Yoongi tak bisa berbuat lebih dari sekedar memukul kepala adik kecilnya itu. Ia tersenyum, cukup tulus sampai Jungkook rasanya benar-benar tak percaya. Kepala Yoongi menggeleng. "Itu tidak benar, Taehyung itu orang yang cukup menyenangkan. Dan dia sangat baik, ia tidak pernah sungkan membantu orang lain. Termasuk Aku." Tutur Yoongi, tatapannya kian melembut seakan memberikan pengertian terhadap adiknya. Sudah cukup lelah ia melihat tingkah adiknya yang semakin buruk, ditambah nilainya yang semakin menurun membuat Yoongi ingin saja menggelindingkan kepala Jungkook dari tubuhnya.
Tapi tetap saja, Jungkook itu keras kepala— "Tidak, Hyung tidak tau saja bagaimana sih Taehyung itu, dan dia tidak baik. Sama sekali tidak," Sanggahnya kali ini penuh emosional dan penekanan.
—Dan keras kepala itu lebih mendominan ke Yoongi, "Tidak Jungkook. Cukup nilaimu yang jelek itu hampir membuat jantungku hampir lepas. Dan sekali lagi, Taehyung adalah orang yang cocok untuk membantumu. Tidak ada penolakan, atau kau akan kutendang dari rumah ini." Jungkook mendesah, hasilnya sama saja seperti sebelumnya. Senakal-nakalnya dia, tetap saja ia tak bisa menyanggah ucapan sih makhluk pucat ini.
"Terserahmu sajalah."
.
.
o0o
Jungkook memperhatikan pemuda yang masih asyik berkutat dengan makanannya, ia benar-benar tak habis pikir bagaimana Taehyung yang dikatakan mencoba kabur hanya karena beralasan ingin keluar membeli makanan. Dan salahnya sendiri, lupa mengunci kembali jeruji sementara dan langsung pergi dengan perasaan yang bercampur aduk.
Kedua matanya menatap Taehyung lamat-lamat, rasanya seperti bukan Taehyung yang dulu; delapan tahun silam yang ia kenal. Taehyung kali ini entah mengapa benar-benar terlihat lemah dan seakan rapuh; Jungkook tak mengerti hanya saja ia merasakan hal seperti itu. Salah satu tangannya menggeser menuman ringan kearah Taehyung, setelah tiba-tiba ia melihat Taehyung yang tersedak.
"Makanlah dengan tenang, Taehyung-shi." Ingatnya kembali, setelah Taehyung yang buru-buru langsung menenggak minumannya kasar. Lidahnya terasa keluh, seketika menyebutkan nama Taehyung dengan embel-embel formal. Taehyung menatap Jungkook, tak lama setelah itu kembali menyendokkan makanannya. " Bagaimana tak tersedak, jika kau terus saja menatapku seperti itu, Jungkook-ah." Jungkook yang mendengarnya langsung menoleh kesamping, mengabaikan bagaimana wajah Taehyung yang menatapnya. Dan sebenarnya Taehyung dapat cukup jelas melihat wajah Jungkook yang tersipu, sama sekali tidak berubah.
"Baiklah, habiskan makananmu sekarang. Dan jangan coba untuk kabur lagi." Terang Jungkook didalam setiap katanya, entahlah hatinya sedikit tergoncang ketika mengucapkan itu. Seperti memiliki dua arti yang berbeda; apakah ia yang memperingatkan Taehyung untuk tidak lagi kabur dari jeruji atau kabur lagi dari dirinya.
Suasana menjadi candung, apa Taehyung memiliki pikiran yang sama sepertinya?
"Maafkan Aku, … Jungkook." Jungkook merindukan itu; bagaimana suara serak Taehyung yang dalam mengelilingi otaknya. Jungkook tertawa canggung, mengabaikan kalimat permintaan maaf yang kian menguap layaknya gas diudara. Ia beranjak bangkit, setelah memperbaiki kemejanya yang sedikit kusut.
"Ah, maafkan Aku Taehyung-shi, sepertinya Aku harus kembali. Makanlah dengan cepat, karena sebentar lagi kita akan melakukan introgasi kembali. Permisi." Menghilangnya Jungkook dihadapannya, dan Taehyung tak bisa memungkiri jika, hatinya benar-benar terasa perih.
…
Jungkook menarik rambutnya frustasi, mengabaikan bagaimana rekan-rekan sepekerjaannya yang menatapnya heran. Ia memang bodoh, dan cukup bodoh jika berhadapan dengan Taehyung. Entah sampai kapan harus seperti ini; namun untuk sekarang ia harus berlaku egois apapun itu keadaannya— ya, … harus.
Jimin yang melihat Jungkook yang terlihat frustasi itupun akhirnya menghampirinya, kedua matanya mengerjab sembari melepas tarikan Jungkook terhadap kepalanya dan digantikan dengan elusan lembut darinya. Jungkook hanya diam, membiarkan Jimin yang seenaknya menenangkannya. Jimin melepaskan elusannya, setelah itu menarik kursi dan memberikan petunjuk untuk Jungkook duduk. Ia kembali menatap Jungkook ibah. "Aku sebenarnya tidak tahu apa masalahmu, Jungkook-ah. Tapi ingat aku akan selalu ada setiap saat untukmu, tak perlu ragu untuk bercerita kepadaku mungkin aku akan membantumu."
Jungkook menatap Jimin diam, benar ada saatnya ia harus bercerita kepada Jimin selaku sahabatnya selama ini. Tapi cukup sulit rasanya jika harus menceritakan ini semua, "Bolehkan aku memelukmu, Jimin-ah." Dan permintaan itu langsung diloloskan oleh Jimin, mereka berpelukan erat. Walaupun tanpa kata, Jimin dengan senang hati memberikan perlakuan terbaiknya terhadap Jungkook. Mungkin memang belum saatnya ia mendengarkan keluh kesah Jungkook, tapi ia akan mencoba menjadi seseorang yang berarti bagi Jungkook.
Cukup lama mereka berpelukan, sampai Jungkook yang melepaskannya. "Kau tahu, aku terlalu malas melihat wajah muram-mu itu. Kau terlalu cantik untuk bermuram ria." Ucap Jimin disela tawanya— mencoba mencairkan suasana. Salah satu tangannya mengambil sapu tangan disakunya, setelah itu mengelapkannya kewajah Jungkook yang berkeringat. Jungkook tak menolak, karna ia sudah cukup terbiasa dengan perlakuan lembut Jimin, yang bahkan sangat diluar dugaan. "Kau tahu Jungkook-ah. Aku harap setelah ini kau tak akan berubah." Ucapan itu diakhiri dengan senyuman Jimin, yang Jungkook sadari jika senyuman itu tampak berbeda; bukan senyum mengejek ataupun senyum tulus seperti biasanya. Jungkook dapat melihat jika senyuman itu seperti terselip rasa kecemasan yang tersirat, dan Ia tak mengerti.
Jungkook tertawa, memukul dada Jimin main-main. Mengabaikan senyuman lain Jimin terhadapnya. "Aku tidak akan pernah berubah jika itu untukmu Jimin-ah." Lidahnya terasa kaku, bahkan tak mengerti kenapa. Akhirnya Jungkook memutuskan untuk mengalihkan pembicaraan, membahas mengenai kasus mereka.
Jimin berdiri, mengambil buku note kecil dibelakang saku celananya, setelah itu kembali duduk. Kedua matanya menatap Jungkook serius, kemudian kembali berpindah terhadap buku notenya. Ia tampak menimbang-nimbang, apa yang harus pertama kali ia bicarakan pada Jungkook. Karena setelah ia melihat Jungkook yang tiba-tiba emosinya cukup labil; akhirnya ia meminta Jungkook untuk bekerja dikantor dan ia beserta yang lain yang melakukan kerja lapangan.
"Aku sudah memeriksa kembali ruangan apartement Irene, seperti yang kita duga sebelumnya jika kematian Irene ini bukan berdasarkan balas dendam, aku rasa."
Jungkook mengetuk-ketuk jarinya, ia juga cukup berpikir. Sebenarnya ini kasus yang cukup biasa, tapi mengapa untuk saat ini cukup sulit rasanya; terlebih mereka masih mendapatkan beberapa saksi yang sebenarnya memiliki alibi yang cukup lemah. "Jadi apa yang kau temukan?"
"Seperti kukatakan sebelumnya; barang bukti pertama yaitu sudah jelas pisau lalu kue yang belum disentuh. Setelah itu, aku cukup curiga dengan anting yang aku temukan didaerah ruang tamu apartement Irene, sepertinya itu bukan miliknya karena pada saat itu juga Irene mengenakan anting. Aku yakin, jika sebelumnya ada yang berkunjung keapartement Irene."
Jungkook mengangguk-angguk, setelah memperhatikan poto anting yang sudah dicetak oleh Jimin. "Dan untuk mengurangi rasa penasaranku, Aku kembali mengecek kamar Irene, dan ternyata seperti dugaanku sebelumnya. Anting ini pasti bukan milik Irene, karena aku menemukan satu kotak koleksi perhiasan Irene dimana rata-rata anting Irene memiliki bentuk yang besar dan cukup rumit; seperti yang ia pakai saat itu. Dan lihatlah dengan bentuk anting ini, ini bahkan sangat kecil dan hanya berhiaskan berlian putih bulat."
"Kau sudah melihat cctv-nya?" Tanya Jungkook lagi, namun kali ini dibalas dengan anggukan lemas Jimin. "Sudah, dan sialnya apartement Irene tidak memiliki cctv satupun, Aku sempat bertanya kepada manager apartement, dan ia mengatakan jika semenjak Irene membeli apartement itu, Irene meminta untuk melepas cctv karena merasa tak nyaman. Dan kesialan itu semakin bertambah, karena sejak dua hari yang lalu semenjak kematian Irene pihak apartement sedang melakukan perbaikan atap dan kebetulan cctv dipasang tepat disisi atap, jadi mau tidak mau cctv pada saat itu harus dilepas, juga."
Benar-benar kesialan tak berujung sepertinya, "Dan bagaimana dengan para saksi, Jimin-ah? Ada yang lain kau temukan?" Jimin mengagguk, dan kembali membuka lembaran notenya.
"Sebelumnya kita sudah menemukan dua saksi; pertama adalah petugas restoran dan pemilik toko kue tempat Taehyung hyung membeli kue untuk Irene. Untuk saat ini aku menemukan Jang Wooyoung selaku petugas keamanan yang berjaga pada saat itu, kemudian pemuda yang tinggal tepat didepan apartement Irene, Kang Daniel. Dan yang terakhir adik kandung Irene, yang bernama Seulgi. Saat ini masih mereka yang aku temukan, karena pada nyatanya apartement tempat Irene tinggal masih terbilang baru dan penghuninya masih sedikit, ditambah tetangga sebelah apartement Irene kosong— belum tertempati."
"Apa alasanmu menjadikan mereka bertiga saksi, Jimin-ah?" Jungkook menatap lekat Jimin, "Tuan Jang, dia adalah petugas apartement yang kebetulan bertugas saat hari dimana Irene meninggal, dan dia mengaku melihat Irene saat itu. Kalau untuk Kang Daniel, dia mengaku jika ia melihat Irene pulang, karena kebetulan ia juga habis pulang dari urusannya dan melihat Irene didalam apartementnya entah bicara pada siapa, terdengar seperti marah-marah karena pada saat itu pintu apartemen Irene terbuka sedikit, namun sejujurnya ia tidak tahu siapa lawan bicara Irene karena ia tidak dapat melihatnya dan sayangnya ia juga tidak terlalu jelas mendengar apa yang mereka bicarakan saat itu. Dan yang terakhir untuk Seulgi, adik kandung Irene. Aku menjadikannya saksi, karena untuk saat ini keluarga satu-satunya Irene di Korea hanyalah Seulgi, Ayah dan Ibu mereka pindah ke Amerika dua tahun yang lalu. Dan pada hari yang sama Seulgi juga sempat mampir ke apartement Irene untuk sekedar berkunjung, untuk masalah kapan waktu mereka melihat Irene belum kutanyakan."
"Baiklah, Jimin-ah aku rasa sampai sini saja bahasan kita. Kita harus melapor kepada Namjoon Hyung, Aku tidak mau mendengar ketua Inspektur itu mengomeli kita terus." Keluh Jungkook, yang hanya disambut oleh tertawaan Jimin. Ia kembali mendapatkan Jimin yang mengacak rambutnya kesal.
"Baiklah, ayo kita temui sih Namjoon Hyung itu." Tarik Jimin, setelah itu mengajak Jungkook keluar dari ruangan mereka.
Disisi lain, Jungkook merasakan suatu kekhawatiran jika kasus ini selesai.
.
.
o0o
Hari ini hari rabu, tepat dua hari setelah kejadian itu berlangsung. Yang seharusnya setiap hari ia harus datang kerumah Taehyung, akhirnya dengan permohonan yang sangat terhadap Yoongi— dengan alasan jika Jungkook harus mengikuti ekstrakulikuler basket dan musik— maka Yoongi dengan berat hati mengijinkan Jungkook untuk datang kerumah Taehyung untuk tiga hari dalam seminggu. Menyebut nama Taehyung saja rasanya sudah malas sekali, sejujurnya.
Dan berakhirlah Jungkook disini, tepat seperti kemarin berada ditempat yang sama bahkan diposisi duduk yang sama. Dari kejauhan ia dapat melihat Taehyung yang sedang mencari entah apa didalam almarinya. Ia menatap bosan balpoint ditangannya, mencoret-core lembar buku belakangnya dengan kalimat tak jelas atau jika mau tahu itu adalah kalimat sumpah serapah Jungkook terhadap mahkluk tampan dihadapannya itu.
"Hei, Taehyung! Apa yang sedang kau lakukan? Ini sudah hampir sepuluh menit Aku menunggumu. Sungguh membosankan." Cercah Jungkook, semakin mencoret-coret bukunya dengan kesal. Tidak bisa apa, untuk mempercepat tugasnya dan berlaku normal. Dasar alien.
Taehyung berbalik, sambil membawa satu buku digenggamannya. Tatapan mereka sekilas bertemu, namun Jungkook membuang muka—menolaknya. Untuk menghindari degup Jantungnya yang tak beres, jika bersama Taehyung.
"Hari ini Aku tak bisa menemanimu belajar, maka dari itu kau harus belajar mandiri sendiri disini. Aku harus bertemu dengan kakak sepupuku. Hanya sebentar, dan jangan mencoba untuk kabur." Kalimat terpanjang yang pernah Taehyung lontarkan padanya. Jungkook hanya diam, perhatiannya tidak lagi terhadap kalimat bodoh Taehyung. Melainkan belah bibir yang terus bergerak dihadapannya.
Ia menggoyangkan kepalanya, berharap segala pikiran bodohnya dapat membuyar dengan seketika. "Ya sudah pergi saja, Aku malah senang." Jawabnya asal, Taehyung yang mendengarnya hanya mendengus sembari menarik helai jaketnya yang ia sangkutkan di headbed, memakainya secara kasual.
"Tidak boleh pergi, sebelum aku memeriksa hasilnya." Ia berlenggak pergi, tanpa mau tahu bagaimana kesalnya Jungkook yang mendengar tuturan sang kakak kelas. Ingin saja rasanya membakar rumah ini, kalau bisa.
Taehyung sudah pergi, dan tinggallah Jungkook sendiri. Yang ia tahu Taehyung itu anak tunggal, dan orang tuanya jarang berada dirumah itulah yang ia dengar dari Yoongi. Tapi tak apa, toh ia dapat bebas dan melakukan sesukanya. Peduli setan dengan kemarahan Taehyung, hari ini ia benar-benar lelah dan rasanya cukup membosankan jika ia harus mengerjakan materi aljabar yang diberikan Taehyung saat ini.
Pandangannya mengedar, sama seperti dua hari yang lalu kala ia menginjakkan kedua kakinya diruangan ini. Ruangan ini sangat besar sebenarnya untuk dikatakan sebuah kamar, namun cukup sempit juga karena diisi dengan barang-barang Taehyung yang memuakkan.
Ia beranjak dari duduknya, tak habis pikir seberapa kayanya sih Taehyung ini, sepertinya semua terlihat lengkap. Bahkan ia tak menyangka jika terdapat kulkas didalam sini. "Apa ada Soju disini?" tanyanya sendiri, kedua tangannya sibuk mencari-cari apa saja yang terdapat didalam isi kulkas Taehyung. Biarkan saja dikatakan tak tahu malu, Jungkook malah berharap jika Taehyung segera menendangnya dari sini dan itu berarti jika kontrak belajar bodohnya itu telah berakhir, tapi rasanya mustahil. Akhirnya, ia hanya mengambil sekotak soft drink rasa jeruk karena tak mungkin juga jika sih Taehyung itu menyimpan minuman beralkohol, walaupun Soju bisa dikatakan kadar yang rendah.
"Apa lebih baik aku pulang saja, ya?" Kembali ia bertanya, cukup ragu sebenarnya karena sejujurnya ia cukup malas jika harus berurusan dengan kakak sepupunya itu karena Jungkook yakin jika Taehyung tidak menemukannya disini, maka bibirnya itu akan segera mengadu pada Yoongi.
Ia menggeleng, memutuskan untuk tidak pulang sembari melihat-lihat kamar Taehyung, benar-benar sangat lasak* sekali. Jungkook dapat melihat, bagaimana tumpukan buku entah apa tersusun rapi dirak, sekilas ia dapat melihat rasi bintang disampulnya, dan rata-rata seperti itu; kemudian dilanjutkan dengan buku mipa yang Jungkook sadar diri jika ia sama sekali tidak tertariki.
Namun pandangannya terhenti saat melihat, satu buku; pastinya tidak bersampul rasi bintang atapun ensiklopedia yang tergeletak diantara buku yang tersusun. Jangan salahkan dengan rasa penasaran Jungkook, tangan panjangnya lekas mengambil dan mulai mengamati. Akhirnya ia membawa dirinya kesisi tempat tidur Taehyung dan mulai duduk. Memperhatikan lama-lama buku berwarna biru muda itu; yang sama sekali tidak memiliki motif kecuali kotak kolom yang berisi nama Kim Taehyung.
Yang ia dapati sekarang adalah; Kim Taehyung memiliki tulisan seperti perempuan— terlalu malas mengakui betapa bagusnya tulisan tangan Taehyung. Jungkook membukanya perlahan, cukup mencengangkan bagi Jungkook karena ia tak menyangka jika manusia seperti Kim Taehyung memiliki buku harian—bodoh— seperti ini, dasar lelaki kolot.
Ia tak bisa menahan, jika dirinya sudah seperti seorang penguntit sekarang. Tapi Jungkook tidak peduli, sekarang didalam otak kecilnya itu setidaknya ia harus mendapatkan informasi memalukan Kim Taehyung setelah itu memotretnya dan menjadikan tulisan Taehyung ini menjadi senjata kala diperlukan.
"Apa-apaan ini, seperti wanita saja," Racaunya saat melihat bagaimana Kim Taehyung yang menempeli poto-poto masa kecilnya dilembar awal, dengan ditorehkan tanggal dan tempat kejadian. Jungkook geleng-geleng kepala setelah sempat memuji bahwa Taehyung sedari kecil sudah sangat tampan, ternyata. Kemudian ia membuka lembar selanjutnya; hanya dipenuhi dengan curhatan tak penting Taehyung, dan rasanya Jungkook ingin muntah saja, Taehyung benar-benar seorang melankolis rupanya.
Hingga akhirnya dilembar lain, ia mendapatkan suatu pernyataan—tak penting sebenarnya— Taehyung, jika selama ini ia tidak pernah memiliki seorang kekasih. Bibirnya tertarik, membentuk seringaian tipis. Setelah itu lekas merogoh saku celananya dan mengambil ponselnya. " Mungkin ini cukup mempermalukan dirinya nanti." Ia segera mengarahkan ponselnya kearah buku harian Taehyung, membidiknya perlahan agar tidak terjadi pengebluran. Kemudian melanjutkan lagi dengan lembar selanjutnya. Sama seperti lembar-lembar sebelumnya; tidak terlalu penting— tapi Jungkook sedikit mengetahui kebiasaan Taehyung selama ini. Hingga akhirnya kedua tangannya terhenti dipertengahan,
Kedua bola matanya melebar, cukup terkejut dengan apa yang ia lihat. Setelah itu kembali membuka lembar-lembar selanjutnya dan semakin membuatnya terkejut adalah isi yang hampir rata-rata adalah sama. Entah mengapa Jungkook dapat merasakan detakan jantungnya yang serasa lebih cepat dari biasanya, tubuhnya seketika melemas saat kembali membaca sebuah kalimat yang tersemat dikiri bawah lembar terakhir Taehyung.
" Taehyung, Kim Taehyung. Kau benar-benar gila."
Yang Jungkook ingin sekarang adalah lari dan keluar dari ruangan ini. Ia tidak peduli lagi dengan kakak sepupunya yang akan memberikannya omelan atau apapun itu. Jungkook hanya ingin lari, karena Kim Taehyung benar-benar bisa membuatnya gila, saat ini.
.
.
o0o
Jungkook menatap lekat beberapa orang dihadapannya saat ini. Kali ini ia tidak sendiri, melainkan bertiga dengan ditemani oleh Jimin selaku penanggung jawab kasus ini beserta rekan mereka yang lain Do Kyungsoo. Jungkook melihat arlojinya, hitung-hitung untuk mengingat kapan ia melakukan sesi pertanyaan— jika tidak mau disebut pengintrogasian— terhadap para saksi dihadapannya. Ia menghela napas, saat mengetahui ternyata waktu sudah cukup siang, pukul sebelas lewat delapan belas menit.
Kemudian kembali memperhatikan para rekannya; dimana Jimin yang sedang mempersiapkan catatannya dan disampingnya mantan kakak kelasnya yang sedang mempersiapkan alat rekam. Ia juga sebenarnya cukup bingung mengapa kegiatan introgasi ini harus dilakukan sampai tiga orang petugas terlebih lagi Kyungsoo tidak bekerja dibidang ini melainkan dibidang informasi yang seharusnya hanya berkutat dibalik layar komputer saja.
Kedua matanya terpejam sesaat, setelah itu mengambil napas dalam dan membuangnya perlahan. "Baiklah kita akan mulai, sebelumnya terimakasih kepada para saksi yang sudi memenuhi panggilan kami." Jungkook dapat melihat dari ekor matanya bagaimana Seulgi yang tampaknya tak senang.
"Baiklah kita mulai saja, saya akan mulai dari Kang Daniel." Yang disebut hanya diam, tanpa memberikan perlakuan yang lebih. Jungkook kembali melanjutkan, "Kapan kau melihat Irene saat itu?"
Daniel tampak berpikir, mencoba mengingat-ingat karena sejujurnya ia lupa kapan saat ia melihat Irene. "Sebenarnya aku sedikit lupa, tapi aku perkirakan itu sekitar pukul sebelas malam." Kali ini Jungkook mengangguk-angguk ragu; ia hanya sedang mengalkulasikan dengan pernyataan Taehyung dua hari silam.
"Mengapa kau pulang selarut itu, apa itu jam kerjamu pulang selarut itu, ah maaf Aku maksud kau hanya seorang pelajar, jadi tidak mungkin pulang hingga pukul sebelas malam." Kali ini Daniel mengangguk tanpa ragu, kedua tangannya saling memilin tampak gugup. "Kau benar, Jungkook-shi. Saat itu, aku pulang dari latihan Trainingku. Karena selain pelajar, aku juga adalah seorang Trainer. Kau bisa menghubungi pihak agensi jika tidak percaya," aku Daniel, sepertinya ia tidak sedang berbohong saat ini.
"Baiklah aku percaya itu, sekarang ceritakan bagaimana kronologi kau bertemu dengan Irene, bisa?" Daniel mengangguk, sebelum ucapannya yang tiba-tiba diganggu oleh keluhan Seulgi yang meminta gilirannya dengan cepat karena sedang memiliki janji. Jungkook mendengus, cukup malas berurusan dengan wanita. Tapi, akhirnya ia kembali mempersilahkan Daniel untuk melanjutkan kalimatnya.
" Jangan gugup Daniel-shi, kau tidak perlu takut dengan kami." Itu Kyungsoo, Jungkook dapat melihat bagaimana lembutnya Kyungsoo berbicara sembari tersenyum lebar— yang menggemaskan. Berharap pemuda dihadapan mereka cukup tenang. "A-aku, saat itu pulang bersama temanku Lee Jihoon. Namun karena kami berbeda arah diperempatan Jalan, akhirnya kami memutuskan untuk berpisah setelah itu Aku pulang sendirian. Saat ingin memasuki apartementku, aku tiba-tiba melihat pintu Irene noona sedikit terbuka. Tak biasanya ia seperti itu, maka dari itu aku berniat ingin memanggilnya agar menutup pintunya. Namun langkahku terhenti ketika aku mendengar suara noona yang sedang berbicara pada siapa, aku tidak tahu siapa lawan bicaranya. Dan juga Aku tidak tahu, apa yang sedang mereka bicarakan saat itu karena aku langsung masuk ke apartementku." Cukup jelas sebenarnya, Jungkook menimang-nimang apa lagi yang harus ditanya-nya.
Jimin menatap Jungkook sebentar, kali ini meminta ijin agar ia dikenakan untuk memberi pertanyaan. Jungkook mengangguk. "Ah, sebelumnya berapa umurmu, Daniel?" Jungkook hampir saja membenturkan kepalanya dimeja, mengapa ia lupa dengan pertanyaan dasar itu.
"Dua puluh empat tahun." Jimin mengangguk, kemudian mencatatnya dibuku notenya. "Baiklah, bisakah kau beritahu kami, hubungan antara kau dan Irene?"
Daniel tampak hening, sepertinya sedikit ragu. Namu ia kembali melanjutkan. "Aku dan Irene noona cukup baik, dia merupakan kakak yang baik, aku rasa. Aku pernah dipinjaminya uang saat orang tuaku belum mengirim biaya kuliahku. Dan Dia juga sangat ramah kepada siapapun. Tapi sejujurnya kami tidak dekat, karena Irene noona jarang sekali pulang cepat, dan Aku yang juga sebagai seorang Trainer akhirnya tidak bisa menyapanya setiap hari, bahkan jarang sekali."
"Apa kau mengenal Taehyung-shi?" Itu Kyungsoo yang bertanya. Daniel kembali mengingat-ingat, menatap Taehyung yang berada disampingnya. "Ia, aku mengenal Taehyung hyung, Taehyung hyung kekasih Irene noona."
"Hanya itu?" Sekejab Jungkook dapat melihat Daniel dan Taehyung yang mengangguk kecil bersamaan. "Aku jarang sekali melihat Taehyung hyung diapartement Irene nonna, jadi jarang bertemu."
Jungkook memotong, setelah Jimin yang memberi aba-aba selesai. " Baiklah terimakasih Daniel-shi, baiklah selanjutnya dengan Jang Wooyoung-shi, sebelumnya berapa umurmu sekarang?"
Kali ini Jang Wooyoung tampak lebih santai dan tenang. "Dua puluh enam." Seumuran dengan Taehyung, Jungkook menggeleng kepalanya pelan. Sempat-sempatnya ia memikirkan pemuda dihadapannya itu. "Baiklah, kapan kau melihat Irene saat itu?"
Wooyoung menatap Jungkook, ia sedikit ragu sepertinya, "Apa aku harus memberikanmu catatan kecil kapan nona Irene keluar dalam sehari itu?" Jungkook sedikit terperangah, apa benar Wooyoung mencatat itu semua. Wooyoung sedikit tertawa, mungkin mengerti dengan tatapan Jungkook terhadapnya. "Sebagai ketua petugas keamanan diapartement ini, Aku memang harus mencatat kapan jadwal penghuni keluar setiap saat."
"Baiklah aku rasa itu tidak perlu, aku hanya butuh keteranganmu saat melihat Irene saja." Wooyoung mengangguk. " Saat itu melihat nona Irene keluar bersama Tuan Taehyung sekitar pukul sepuluh, setelah itu satu jam kurang kemudian aku melihat nona Irene pulang sendirian, setelah itu nona Irene tidak keluar lagi."
Cukup menarik ternyata. "Dapat kau jelaskan waktunya secara rinci?" Wooyoung kembali mengangguk dan membuka catatan yang ia bawa. "Ketika bersama tuan Taehyung sekitar pukul sembilan lewat empat puluh delapan menit malam, setelah itu pulang sendirian sekitar pukul sepuluh lewat tiga puluh enam menit malam."
Taehyung tidak berbohong,
"Bisa kau jelaskan bagaimana kondisi Irene pada saat itu?" Jimin masih saja menulis keterangan demi keterangan yang dilontarkan, sedangkan Kyungsoo hanya diam. Jungkook kembali menghela napas, entah rasanya sudah berapa kali ia melakukan kegiatan bodoh itu, cukup membosankan dan sejujurnya ia benci melakukan kegiatan ini, kalau bisa memilih ia lebih senang melakukan kerja lapangan daripada hanya duduk dan menanyakan hal-hal yang membosankan.
Namun, pikirannya kembali membuyar ketika menemukan Taehyung yang hampir memejamkan kedua matanya. Jungkook meringis, ketika mengingat betapa buruknya malam Taehyung semalam. Sejujurnya, Jungkook merasa tak tega melihat keadaan Taehyung sekarang, tapi kembali ia tepis jauh-jauh pemikiran seperti itu.
"Nona Irene sepertinya dalam keadaan sedikit mabuk, tapi ia cukup sadar kok. Hanya itu yang aku lihat, karena setelah itu aku sibuk dengan urusanku yang lain." Jungkook kembali melihat arlojinya, tak disangka sudah hampir empat puluh menit mereka melakukan ini. Dan begitu memuakkannya melihat Seulgi yang menatap mereka bosan dan kesal.
"Baiklah terimakasih Jang Wooyoung-shi, dan yang terakhir untuk nona Seulgi. Untuk Taehyung-shi Aku akan mengintrogasimu secara personal." Dan kali ini Jungkook dapat melihat Taehyung yang mengangguk pelan, dan suara dengusan tak suka Seulgi.
"Berapa umurmu Seulgi-shi," Ia tak mau basa-basi. "Dua puluh dua tahun. Dan jika kau ingin bertanya bagaimana kronologi aku bertemu dengan kakakku, aku akan menceritakannya. Kalian cukup menyita waktuku."
Bisakah Jungkook menyumpal mulut pedas Seulgi itu? Sedangkan Jimin dan Kyungsoo hanya geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan wanita arogan ini.
"Aku datang kerumah Irene Eonni sekitar pukul lima petang, hanya sekedar ingin berkunjung saja. Setelah itu aku pulang Sekitar pukul delapan. Dan jika kau tanya aku bertemu dengan Taehyung Oppa atau tidak jawabannya adalah tidak. Kau bisa tanya sendiri dengan Taehyung Oppa. " dan dibarengi dengan anggukan pelan Taehyung. "Lagian saat itu aku sedang tidak enak badan, karena biasanya Aku akan menginap ditempat Eonni. Tapi karena tidak ingin merepotkannya yang sedang ingin berkencan dengan Oppa aku akhirnya pulang."
"Apa saat itu hubungan kalian baik-baik saja?" Seulgi terdiam, cukup lama sebenarnya. Wajahnya tiba-tiba mengeras. "Y-ya, bisa dikatakan seperti itu.— ia mengambil napas dalam, cukup emosional— kami baik-baik saja."
Sepertinya ia menemukan beberapa dugaan terhadap kesaksian Seulgi, tapi coba ia simpan dulu. Tidak mungkin ia langsung menyudutkan Seulgi dengan pertanyaan tanpa bukti. Itu diluar peraturan. " Baiklah Seulgi-shi. Terimakasih, omong-omong. Ah ya, Jang Wooyoung-shi, boleh Aku bertanya satu hal lagi?" Jungkook sangat jelas dapat melihat raut wajah Seulgi yang kian berubah,
"Apa kau tahu kapan Seulgi-shi keluar dari apartement?" Onyx matanya terus saja memperhatikan gerak-gerik Seulgi, sayangnya Wooyoung menggeleng. "Tidak Jungkook-shi, Saat itu aku masih ada keperluan lain dan temanku yang bertugas. Namun, sebagai petugas kami hanya dikenankan mencatat pukul berapa saja pemilik apartement keluar atau masuk, bukan rekan ataupun kerabat mereka." Jungkook mengangguk, setelah melihat Seulgi yang seketika menenang.
...
[Note:]
*Lasak= Seseorang yang dikatakan terlalu banyak bergerak ataupun melakukakan kegiatan yang berlebihan yang menjurus kesesuatu yang tidak penting.
Akhirnya selesai juga The second chapter, sepertinya fanfic ini kok jadi ngeboseni ya? *baru juga chp 2* Maaf, kalau ia T.T sebenarnya Aku cuma mau buat ini berjalan begitu semestinya; alias gak terlalu lambat gak terlalu cepat tapi kok kayaknya terlalu lambat ya, jadi bosankan? T.T
Untuk pertemuan TaeKook aku memang sengaja ngebuat ini diulur, tapi tenang kok tinggal menunggu beberapa scene lagi mereka bakal akrab, ia beberapa scene lagi hahaha.
Untuk kasusnya, memang juga ini kasusnya ringan, jadi memang aku perlambat aja. Dan ta-da, muncul karakter-karakter baru, tapi hanya akan ada satu karakter yang bakal netap di chapter selanjutnya, mungkin. Dan untuk yang menebak siapa pembunuhnya (kayaknya belum bisa ditebak sih, kan masih absurd *heleh* mudah-mudahan ajah tebakannya benar. Hehehe,)
Terimakasih bagi yang udah follow dan koment. Terimakasih sudah menyempatkan dan sekedar menghargai saya, dan bagi para sider, please sadar dong xD setidaknya hinaan juga bolehlah hehehe. Yuk diriview lagi hehehe.
Salam Fanboy,
kaisooexo
