Heho semua! Bertemu lagi dengan saia! Saia minta maaf buat keterlambatan saia dalam meng-update fict saia, baik cerita yg ini maupun yang lain. Soalnya, komputer saia tuh rusak! Mau ngetik jadi gak bisa! Kalo di warnet kelamaan! Ya inilah akibatnya! Saia jadi terlambat dan terlalu lama meng-update. Okelah! Dari pada banyak omong, langsung aja ya! Happy reading!

(Sobat, kalo gak suka ma ceritanya, jangan dilanjutin baca ya! Takutnya nanti kecewa)

Why You Must Do It For Me?

Naruto by: Masashi Kishimoto

Warning: AU, OOC, gaje, cerita gak nyambung

-Chapter 2-

-Normal POV-

Pagi ini bukanlah pagi yang biasa untuknya. Pagi yang indah tapi tak seindah hatinya. Pagi yang cerah tapi tak secerah perasaannya. Suasana yang tenang dan damai tapi hatinya tak tentram. Langkahnya gontai di antara tembok-tembok sekolah yang berdiri kokoh itu. Ekspresi wajahnya tak seperti biasa. Pikirannya sedang runyam. Mengingat semua kesalahan yang dilakukannya pada gadis berambut pink yang amat dicintainya itu. Rasa bersalah yang amat sangat mendalam. Rasa bersalah yang mungkin tak dapat dimaafkan olehnya. Hm… Mungkin, ya?

"Sasuke-kun!"

Panggilan seorang perempuan dengan nada aneh yang sama sekali tidak ingin dia dengar membuat langkahnya terhenti. Perempuan berkacamata dengan rambut panjang warna merah semerah darah yang memanggilnya berjalan mendekatinya. Perempuan itu lalu meraih lengan kekar seorang pria bernama Sasuke itu dan memeluknya. Ingin sekali rasanya Sasuke menghajar perempuan itu. Karena perempuan itulah yang membuat hubungannya dengan Sakura hancur berantakan.

"Sasuke-kun kenapa? Kok wajahnya suntuk begitu sih? Tidak seperti biasanya. Ada apa sih?" kata perempuan itu manja sambil mencolek pipi Sasuke dengan sembarangan.

'Cih! Kurang ajar sekali perempuan gila itu! Tidak tahu malu!' batin Sasuke. Sasuke pun mendengus kesal. Sementara gadis bernama Karin itu malah tersenyum lebar.

Sasuke tidak menanggapi apa yang dikatakan Karin. Ia tidak peduli Karin mau bicara ini itu dan sebagainya. Ia memalingkan pandangannya ke arah sekitar karena ia jijik melihat wajah Karin. Tetapi, secara tiba-tiba mata onyx-nya berhenti bergerak ketika didapatinya sesosok gadis cantik tengah berdiri di depannya. Seketika, ekspresi wajah Sasuke berubah (terkejut-terkejut gi mana gitu…). Karin yang juga menyadarinya semakin mengeratkan pelukannya pada lengan Sasuke. Memperlihatkan pada gadis itu betapa mesranya ia dengan Sasuke. Tetapi gadis itu, Sakura, tidak terpancing sama sekali oleh umpan Karin. Tidak ada perasaan cemburu atau pun amarah yang membara di hatinya. Tetapi yang ada malah seringai kecil yang terukir di bibirnya.

Sakura melangkahkan kakinya pelan. Ia berjalan mendekati Sasuke dan Karin, dengan membawa beberapa buah buku di depan dadanya. Mata emerald-nya menatap mata onyx Sasuke sambil tersenyum. Tapi itu bukan senyuman yang selama ini disukai Sasuke. Bukan senyuman yang membuat hati Sasuke itkut tersenyum. Tetapi senyum sinis Sakura yang sebenarnya tak ingin dilihatnya.

Mata emerald Sakura kembali bergerak. Kali ini ia menangkap sepasang bola mata yang ada di balik kacamata Karin. Kakinya berhenti melangkah. Ia berdiri tepat di depan Karin. Ia pun membuka mulutnya dan mulai berbicara.

"Selamat, ya, Karin. Kalian berdua memang terlihat sangat cocok. Hah… Ternyata aku ini memang bukanlah perempuan yang pintar merayu. Aku kalah darimu," puji Sakura masih sambil menyeringai. Karin yang dipuji seperti itu ikut tersenyum. Kedua tangannnya melepaskan diri dari lengan Sasuke. Sementara Sasuke, ia malah memasang wajah kebingungan.

"Arigatou gozimasu, Sakura-chan. Aku senang sekali waktu kau bilang kalau kami berdua terlihat sangat cocok. Ya tentu saja. Karin dan Sasuke akan selalu terlihat cocok. Sekali lagi, terima kasih, ya?" balas Karin.

"Hm. Douitashimashite. Jaga Sasuke, ya? Jangan kecewakan dia. Sasuke kan anak baik. Selain itu dia juga pintar. Tampan pula. Gadis mana sih yang tidak mau jadi milik Sasuke? Iya kan, Sasuke?" kata Sakura sinis. Sasuke yang ditanya seperti itu pada Sakura malah terdiam dan menundukkan kepalanya.

"Tentu saja. Aku tidak akan mengecewakannya. Aku akan menjaga Sasuke selamanya," jawab Karin pe-de.

"Dan kau juga, Sasuke. Jaga Karin dengan baik sama seperti kau menjagaku. Dan jangan sakiti dia sama seperti kau menyakiti perasaanku," lanjut Sakura. Tak lama, kakinya kembali melangkah. Ia pergi menjauhi Sasuke maupun Karin. Karin pun kembali tersenyum sinis.

"Sakura, tunggu!" panggil Sasuke. Sasuke yang baru akan melangkah tangan kanannya berhasil diraih oleh Karin. Sasuke menatap Karin dengan dipenuhi perasaan amarah.

"Lepaskan aku!" perintah Sasuke. Karin yang diperintah seperti itu bukannya takut malah tersenyum dan tertawa kecil. Ia menatap mata onyx Sasuke dan berbicara padanya.

"Hei, hei, hei. Apa yang mau kau lakukan, sayang? Apa kau sudah lupa dengan perjanjian kita?" tanya Karin serius. Seketika, ekspresi Sasuke kembali berubah. Ia mengurungkan niatnya untuk menyusul dan berbicara dengan Sakura.

"Sasuke, jangan sampai kau lupa dengan perjanjiannya, ya? Kalau lupa dan kau melanggarnya, kau akan tahu apa akibatnya. Dan resiko harus tetap dijalankan. Aku serius. Aku tidak bercanda. Keputusan ada di tanganmu," lanjut Karin mengingatkan Sasuke pada perjanjian antara dia dan Karin.

Karin pun menyeringai tipis. Ia senang bahwa rencananya untuk merebut Sasuke telah berhasil. Ia sangat bangga karena ia menang dari Sakura. Menang untuk memperebutkan Sasuke yang bak piala yang diperebutkan olehnya juga Sakura. Tapi sayang. Piala itu jatuh di tangan Karin. Sakura sedih dan kecewa karena ia tak dapat mempertahankan pialanya itu. Tetapi kesedihan itu hanya sebentar. Kesedihan itu pun hilang ganti senyuman. Ia tak perlu lagi memperebutkan piala itu dari Karin. Karena ia yakin, bahwa piala itu akan aman bersama dengan Karin. Dan Sakura, tak akan pernah mengharapkan piala itu lagi.

"Kau…. Dasar perempuan brengsek! Kau gila! Tidak tahu diri! Yang hanya bisa mengambil sesuatu yang dimiliki orang lain!" amarah Sasuke kembali memuncak. Sedangkan Karin, ia yang dikatai seperti itu malah tersenyum lebar.

"Khu…khu…khu… Kalau bukan perempuan brengsek, itu namanya bukan Karin," kata Karin enteng. Karin menghela nafas panjang. Kemudian ia meraih pipi kanan Sasuke. Menyentuhnya dan mengusapnya dengan lembut.

"Aku bangga menjadi Karin. Kau seharusnya juga bangga bisa menjadi memiliki Karin. Kau adalah raja. Dan Karin adalah pelayannya. Karin akan melakukan apa pun untuk raja. Apakah Sakura juga melakukan apa pun untuk raja? Tidak kan? Banggalah punya pelayan sepertiku. Aku akan selalu memenuhi apa pun yang raja minta. Apa pun itu, tuanku," kata Karin lagi-lagi dengan sinis. Kemudian ia beranjak pergi menjauhi Sasuke.

'Huh! Tidak Sakura tidak Sasuke, semuanya sama-sama bodoh! Tapi dengan sekali rayuan Karin, semua rencana akan berjalan dengan lancar,' batin Karin sambil tersenyum.

"Sakura!" panggil Sasuke pada Sakura saat ia sedang berjalan menuju perpustakaan sekolah. Ia hentikan langkahnya dan menolehkan kepalanya pada lelaki yang memanggilnya. Mengetahui yang memanggil adalah Sasuke, Sakura kembali berjalan menjauhi Sasuke.

"Sakura, tunggu dulu," panggil Sasuke lagi, meraih pergelangan tangan kanan Sakura. Tetapi dengan cepat Sakura melepaskannya.

"Sakura dengarkan aku dulu!" pinta Sasuke.

"Cukup, Sasuke! Jangan ganggu aku lagi! Apa lagi yang bisa kudengarkan? Kau sudah bahagia bersama Karin kan? Tinggalkan aku sendiri!" ucap Sakura kesal.

"Tidak, Sakura! Kumohon! Semua yang terjadi tidak seperti yang kau pikirkan! Kuberi tahu padamu, aku tidak mencintai Karin. Sama sekali tidak. Aku hanya mencintaimu. Dan tidak akan pernah mencintai yang lain. Aku sudah berjanji padamu, kan, Sakura? Aku tidak akan mengingkarinya. Aku bukanlah orang yang suka berbohong. Sebenarnya…"

"Sasuke. Cukup. Simpan saja semua omong kosongmu itu. Aku tidak mau mendengarnya lagi. Kalau kau memang masih mencintaiku, kenapa beberapa waktu yang lalu kau malah berduan dan bermesraan dengan Karin. Kau masih mau bilang kalau kau masih mencintaiku? Maaf, Sasuke, tapi aku tidak bisa. Aku tidak mau hatiku terluka untuk yang kedua kalinya. Jangan pernah meminta maaf lagi padaku. Percuma saja, Sasuke. Aku juga tidak akan memaafkanmu. Simpan saja maafmu itu. Kau mengerti, kan?" kata Sakura panjang lebar memotong ucapan Sasuke. Sasuke terdiam. Ia meraih kedua tangan Sakura. Ia menggenggamnya dengan erat. Kemudian ia berkata,

"Tolong berikan aku satu kali lagi kesempatan untuk menjadi satu-satunya orang terpenting di hatimu. Tolong beri aku satu kali lagi kesempatan untuk mencintaimu. Tolong beri aku satu kali lagi kesempatan untuk menghabiskan waktu-waktuku bersamamu kembali. Sama seperti dulu. Tidak banyak yang kuminta darimu. Aku hanya butuh maafmu. Dan bukan yang lain. Aku mohon," pinta Sasuke lagi.

'PLAK!'

Satu tamparan keras mendarat di pipi mulus dan putih Sasuke. Sehingga terdapat bekas merah di sana. Sasuke memegang pipinya yang memerah itu. Kemudian ia melihat Sakura dengan matanya yang sayu. Terlihat butiran-butiran air menetes setitik demi setitik dari kelopak mata Sakura. Suatu perasaan seperti perasaan bersalah muncul di hati Sasuke.

"Kenapa, Sasuke? Kenapa kau sepengecut ini? Kenapa kau masih saja mengharapkan aku? Tidak cukupkah kau menyakitiku? Tolong jangan paksa aku! Jangan pernah paksa aku. Aku sudah tidak mau lagi, Sasuke," kata Sakura ditengah isak tangisnya. Ia menghapus air mata yang telah membanjiri pipinya. Kemudian ia kembali berjalan dan meninggalkan Sasuke yang telah berdiri mematung.

'Kenapa Sakura? Kenapa kau sangat membenciku?' tanya Sasuke dalam hati.

"Wah, wah, wah…. Kasihan sekali kau?" kata seseorang pada Sasuke secara tiba-tiba. Sasuke menolahkan kepalanya pada orang yang berkata padanya itu. Matanya pun terbelalak seketika.

"Sepertinya, rencanaku harus segera dilaksanakan," kata orang itu lagi.

"Ka… Karin?"

Benar. Karin. Karin yang bicara pada Sasuke. Bicara padanya secara tiba-tiba. Datang tanpa diundang. Membuat pria yang ada di depannya itu terkejut. Karin melipat kedua tangannya di depan dada. Tersenyum sinis pada Sasuke yang ketahuan tengah memohon pada Sakura untuk memberikan satu kali lagi kesempatan padanya. Karin menghela nafasnya cukup panjang.

"Sayang sekali, Sasuke. Kau mengkhianati perjanjian yang telah kita buat. Dengan sangat terpaksa aku harus menjalankan resikonya. Gomenasai, Sasuke-kun," ucap Karin.

"Tidak! Jangan! Aku mohon! Jangan lakukan itu! A… Aku minta maaf. Aku…Aku…Tolong beri aku kesempatan! Tolong jangan sakiti dia! Aku tidak mau! Tolong jangan lakukan itu, Karin! Aku mohon," pinta Sasuke dengan suara lirih. Karin yang melihatnya menjadi iba. Tapi bukan iba yang seperti biasa kalian lihat. Ia menaikkan sebelah alisnya. Kemudian kembali menghela nafasnya.

"Ok, fine! Aku beri kau satu kesempatan lagi. Tapi ingat, jangan sampai kau melakukan hal itu lagi. Paham, Sasuke ku tercinta? Kau lemah sekali dengan ancamanku itu," kata Karin sembari beranjak pergi dari pemuda Uchiha itu.

Sasue duduk di atas ranjangnya di dalam kamarnya yang hanya diterangi oleh cahaya lampu pijar. Kedua tangannya meremas kepalanya. Kata setiap kata yang dilontarkan oleh Sakura maupun Karin terus terngiang di telinganya. Kata-kata amarah Sakura, tamparan Sakura, sampai ancaman Karin yang sangat serius. Semuanya tersimpan secara baik dan benar di memori otak Sasuke. Tak ada satu patah kata pun yang tertinggal.

"Kami-sama… Apa yang seharusnya aku lakukan? Sebenarnya apa kesalahan besar yang selama ini aku buat? Sampai hati Sakura sudah beku dan tak mau memaafkanku. Dan kenapa harus ada Karin? Karinlah yang membuat semua ini hancur berantakan. Wanita itu gila! Tidak tahu diri! Apa yang harus aku lakukan? Jawab aku, Kami-sama!" gumam Sasuke.

"Tok! Tok! Tok!" pintu kamar Sasuke diketuk. Sasuke yang sebenarnya mendengar ketukan itu, tidak meresponnya. Bergerak satu senti pun tidak.

"Sasuke," panggil si pengetuk pintu itu. Masih sama. Sasuke tidak merespon panggilan itu. Ia masih bertahan dalam posisinya.

"Sasuke," panggil suara itu lagi. Lagi-lagi Sasuke tidak menjawab panggilan itu. Akhirnya, si pengetuk pintu itu membuka pintu kamar Sasuke dan masuk ke dalamnya. Mata onyx Sasuke bergerak ke arah orang yang memasuki kamarnya itu. Seorang wanita paruh baya berambut panjang mendekatinya.

"Hei, kenapa kau lesu begitu?" tanya wanita itu lembut. Sasuke tidak menjawab pertanyaan wanita yang merupakan ibunya itu. Sebut saja namanya Mikoto. Ia hanya menggeleng pelan. Mikoto tersenyum tipis.

"Ayolah, kau dapat masalah? Mau cerita pada ibu?" tawar Mikoto. Sasuke memandang ibunya itu dengan mata sayu. Ia mengangkat kepalanya yang sejak tadi tertunduk. Ia pun membuka mulutnya dan mulai berbicara.

"Kaa-san, apa kaa-san pernah diputuskan orang yang paling kaa-san cintai?" tanya Sasuke.

"Mm…Belum pernah, sih. Memangnya kenapa? Kau putus dengan Sakura?" Mikoto balik bertanya. Sasuke mengangguk pelan. Mikoto kembali tersenyum.

"Kalau kau diputuskan, itu sudah biasa. Namanya juga anak muda," kata Mikoto enteng.

"Tapi kaa-san tidak mengerti. Ini masalah yang sangat serius. Ini sangat rumit. Yang menyebabkan semua ini terjadi adalah Karin. Wanita menyebalkan!" gerutu Sasuke.

"Memangnya kenapa?" tanya Mikoto.

Mata onyx Sasuke menatap Mikoto dalam-dalam. Raut wajahnya terlihat serius. Tak lama, ia pun membuka mulutnya. Menceritakan semua yang terjadi atas hubungannya dengan Sakura. Mengatakan semua ancaman yang akan dilakukan oleh Karin jika ia mencoba kembali pada Sakura. Semuanya ia ceritakan. Tetapi, Mikoto yang mendengarkan cerita Sasuke itu hanya tersenyum simpul. Kemudian ia mengusap-usap dahi Sasuke yang tertutupi oleh poni rambut emo-nya.

"Dan kau takut pada ancaman itu?" tanya Mikoto lagi.

"Kaa-san, ancaman itu serius. Ancaman itu ditujukan pada Sakura. Bukan aku! Kalau Sakura sampai celaka, aku tidak akan pernah bisa memaafkan diriku sendiri! Tidak akan," kata Sasuke.

"Jadi, kau akan tetap berhubungan dengan Karin?"

"Entahlah. Aku tidak tahu sampai kapan aku betah dengan wanita itu. Ya sudah, aku mau pergi dulu. Aku bosan di rumah. Aku pergi hanya sebentar. Selamat malam," kata Sasuke sambil beranjak pergi dan berpamitan pada Mikoto.

"Ting… Tong…"

Sasuke menekan tombol atau sebut saja bel salah satu rumah di antara berpuluh-puluh rumah yang ada di daerah di mana ia berada. Rumahnya cukup besar. Tidak terlalu mewah. Tapi sederhana. Ia kembali menekan bel rumah itu karena tak ada jawaban. Tetapi beberapa saat kemudian seseorang bersuara menjawab panggilan dari bel itu.

"Iya, sebentar!"

'CKLEK!'

Pintu rumah itu terbuka. Sasuke yang sudah menunggu beberapa menit membalikkan badannya pada orang yang membuka pintu rumah itu. Sang pembuka pintu itu membelalakkan matanya terkejut atas kedatangan Sasuke itu.

"Kau…."

-To Be Continued-

Nah, selesailah chapter ! Maaf ya kalo nggantung. Trus gaje pula! Hehehe…

Saia setuju banget tuh ma Sasuke! Kenapa harus ada Karin? Dia itu perusak segalanya! Awas loe Karin! Semua setuju kan kalo Karin lebih baik gak ada? Kalo saia setuju banget! Udah gitu, ngrebut pacar orang lagi! Gak tau diri banget! Nyari yang laen geto napa? Gak modal banget! Ugh…! Nyebelient! Ok! Review reader aku tunggu! Review ya! Review! Review! Review! Review! Review!